~Misunderstand Love~ / PART 8
Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T
"Aku benci mereka menatapmu seperti itu. Menunduklah," kata Naruto sambil menaruh kepala Hyuuga di depan bahunya. Kedua mata Hinata melebar kaget. Naruto benar-benar memeluknya sekarang. Gadis itu bisa merasakan detak jantung Naruto yang cepat. Bukan hanya pemuda itu, Hinata bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Sampai kereta yang membawa Haruno Sakura akhirnya sampai di stasiun, Naruto masih memeluk gadis Hyuuga itu erat sambil terus melihat keadaan disekelilingnya. Sasuke yang sejak tadi berpura-pura serius melihat ke depan hanya tersenyum kecil. Ketika kereta akhirnya benar-benar sampai dan semua pintu kereta membuka, barulah Naruto melepaskan pelukannya dari gadis itu. Namun tangan kanannya berganti menggenggam tangan Hinata, masih tetap menjaga gadis itu sambil berjalan maju dengan Sasuke untuk melihat Sakura.
"Sasuke-kun! Naruto!" sebuah suara menyerukan nama dua pemuda itu. Sasuke langsung tersenyum lebar begitu melihat sosok Haruno Sakura sedang melambai ke arah mereka dengan senyum lebar pula. Naruto yang juga melihat Sakura langsung tersenyum sambil menarik tangan Hinata menuju gadis itu.
Stasiun menjadi cukup lenggang ketika kereta selanjutnya telah berangkat. Sakura langsung memeluk Sasuke dengan erat begitu pemuda Uchiha itu sampai di depannya. Naruto juga memeluk Sakura tanpa melepas genggamannya dari tangan Hyuuga Hinata. Sakura ternyata hanya membawa tas punggung kecil bersamanya. Mereka kira gadis Haruno itu akan membawa cukup banyak barang.
Sakura melihat tangan kanan Naruto yang terus menggenggam tangan gadis berambut indigo panjang disebelahnya. Sakura yakin kalau gadis itu pasti Hyuuga Hinata. Dia memang cantik. Pantas jika Naruto menyukainya meskipun usia mereka berbeda. Dan lagi, wajah gadis Hyuuga itu terlihat menyenangkan. Sakura langsung bersukur kalau Naruto menyukai gadis itu. Setidaknya, dilihat dari sudut manapun, Hyuuga Hinata jelas adalah gadis yang mungkin hampir semua laki-laki ingin mendekatinya dan kepribadian gadis itu yang bisa terlihat hanya dengan melihat cara bicara dan caranya tersenyum.
"Sepertinya tangan seseorang tidak mau melepas tangan gadis itu" goda Sakura dengan wajah berpura-pura khawatir. Mendengar sindiran Sakura membuat Naruto langsung sadar kalau tangannya masih menggenggam tangan Hyuuga Hinata. Bersamaan, dua orang yang sedang berpegangan tangan itu langsung melihat pada tangan mereka dan kaget yang terlalu terlambat langsung membuat Naruto melepas genggamannya dan Hinata menarik tangannya.
"Hinata-neesan, bukan?" tanya Sakura
"I-ya"
"Aku Sakura. Haruno Sakura" kenal Sakura sambil menunduk sedikit memberi salam pada Hinata. Hinata balas menunduk untuk membalas sapaan gadis berambut merah muda itu. Hinata melihat Sakura sebagai gadis yang sedikit bersikap seperti laki-laki. Pakaian pacar Uchiha Sasuke itu bahkan terlihat tidak feminin seperti kebanyakan gadis seusianya. Tetapi, Sakura terlihat menyenangkan. Setidaknya, gadis Haruno itu tidak seperti Sara yang berpura-pura menyukai orang lain padahal dia membencinya.
"Biar aku bawakan tasmu" kata Sasuke
"Hm? Jangan melakukan hal yang tidak perlu" jawab Sakura sambil memeluk lengan Sasuke lalu tersenyum lebar. Sasuke hanya menghela nafas melihat kelakuan Sakura yang selalu seperti itu. Tidak mau menerima bantuan orang lain kalau hal tersebut masih bisa ia lakukan sendiri.
"Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu. Aku juga membawa oleh-oleh untuk kalian" kata Sakura. Hinata langsung melirik jam tangannya. Sementara Naruto melihat ke arah gadis Hyuuga itu.
"Ayolah, kita jarang berkumpul seperti ini, bukan?" Sakura merajuk sambil menatap sedih ke arah Naruto. Melihat Haruno Sakura sampai memohon seperti itu pada Naruto, Hinata akhirnya mengangguk. Gadis Hyuuga itu tahu kalau Naruto pasti merasa tidak enak karena sudah menghabiskan waktunya dengan ikut menjemput Sakura. Pemuda Uzumaki itu berkali-laki terus melihat ke arahnya ketika Sakura mengajak mereka untuk makan.
"H-Hinata-neechan? Tidak apa-apa?" tanya Naruto
"Aku sudah memberitahu kakakku kalau aku akan pulang terlambat. Jadi, tidak apa-apa" jawab Hinata.
"Naruto" ujar Sakura dengan senyum lebarnya. Sambil menghela nafas, Naruto akhirnya mengikuti keinginan gadis Haruno itu.
Mereka akhirnya mencari tempat makan disekitar satsiun. Sakura berjalan sambil menggandeng Sasuke dan saling berbicara tentang apapun yang mereka pikirkan setelah cukup lama tidak bertemu. Hyuuga Hinata berjalan di belakang mereka sambil tersenyum kecil mendengarkan pembicaraan Sasuke dan Sakura. Sementara Naruto berjalan dibelakang Hinata untuk menjaga gadis itu dan masih melihat beberapa pria terus memperhatikan gadis Hyuuga itu.
"Di sini!" seru Sakura ketika menemukan sebuah restaurant kecil berwarna ungu gelap. Gadis itu kemudian menoleh pada Hinata.
"Oneesan, mau makan di sini saja?"
"U-um. Tidak apa-apa" jawab Hinata. Sakura tersenyum kemudian mereka masuk ke dalam restaurant tersebut. Dan sambil menunggu pesanan mereka datang, Sakura mulai menginterogasi Hyuuga Hinata.
"Oneesan, aku minta maaf kalau anak ini membuatmu repot. Dia memang terbiasa mereporkan orang lain" kata Sakura sambil merangkul paksa Naruto yang sejak tadi berawajh murung. Sakura duduk berhadapan dengan Sasuke dan Hinata berhadapan dengan Naruto.
"A-ah, N-Naruto-kun sama sekali tidak merepotkan" sahut Hinata. Sakura kemudian melepas rangkulannya.
"Maaf juga karena telah memaksa Oneesan untuk ikut menjemput. Aku hanya ingin berkenalan karena Naruto sering bercerita tentang Oneesan padaku" ujar Sakura lagi.
"Eh?" kedua alis Hinata mengangkat.
"Sakura-chan!" seru Naruto panik. Pemuda itu menatap kesal pada Sakura. Sasuke hanya tersenyum melihat tingkah Sakura yang blak-blakan. Gadis itu selalu berbicara terus terang dan bisa membuat orang-orang disekitarnya menghela nafas.
"Oneesan, kau teman sekelas Menma-niisan?" tanya Sakura ketika makanan dan minuman mereka akhirnya datang. Hinata yang merasa agak canggung berada diantara tiga orang sahabat itu langsung menganduk-aduk minumannya dan menjawab.
"Iya. Kami juga berada dalam klub yang sama"
Sakura mengangguk-angguk paham kemudian bertanya lagi.
"Apa kalian berpacaran?" tanya Sakura lagi. Mendengar pertanyaan gadis Haruno itu membuat Hinata langsung terabtuk-batuk ketika ia sedang menyeruput minumannya. Gadis Hyuuga itu menatap kaget ke arah Sakura. Lalu melihat sebentar ke arah Naruto yang juga kaget. Kemudian kembali lagi pada wajah Haruno Sakura. Sasuke lagi-lagi hanya tersenyum, menahan tawannya. Kali ini ia membiarkan Sakura untuk membantu membuka pikiran polos Naruto dan Hinata tentang perasaan mereka. Seandainya Sakura datang lebih awal, mungkin keadaan Naruto akan baik-baik saja atau setidaknya, masalahnya tidak akan menjadi semakin rumit.
"H-huh? K-kami? Tidak. Aku dan Menma-kun hanya berteman. Dia memang baik pada siapapun. Orang-orang berpikiran kami berpacaran mungkin karena kami dekat dan selalu pulang dan berangkat bersama ke sekolah" jelas Hinata. Apa memang ia dan Menma terlalu dekat sampai orang lain berpikir kalau mereka pacaran? Mungkinkah Naruto juga berpikiran yang sama? Hinata langsung melihat ke arah pemuda Uzumaki itu. Naruto sedang menatapnya dengan wajah tegang.
"Eeeeh? Kupikir kalian pacaran, iyakan, Sasuke-kun?" seru Sakura pura-pura kaget.
"Iya, kupikir Hinata-neesan berpacaran dengan Menma-niisan" sahut Sasuke. Mereka memang sedang melakukan peran untuk menyadarkan Naruto dan Hinata. Menghilangkan kesalahpahaman dua orang itu. Sakura tahu bagaimana ia harsu memancing Hinata ketika melihat bagaimana cara gadis itu menjawab pertanyaannya. Namun, ia masih belum yakin apakah Hinata menyukai Naruto. Gadis Hyuuga itu terlihat masih ragu pada perasaannya sendiri.
"Sakura-chan, lebih baik kau makan dulu. Jangan terus berbicara. Bukankah tadi kau bilang kalau kau lapar?" suara dingin Naruto mengusik suasana yang sempat tegang tadi. Sakura hanya menghela nafas. Mereka akhirnya mulai makan setelah membiarkan makanan di atas meja menganggur sejak beberapa menit lalu.
Naruto berujung pada mengantar Hinata pulang sekitar hampir pukul tujuh malam. Naruto sebenarnya tidak ingin mengantar gadis itu kalau saja Hinata datang bersama temannya yang lain. Karena Naruto belum bisa berpikir seperti biasa lagi ketika ia hanya berdua saja dengan gadis itu. Namun, karena Sasuke tentu saja harus mengantar Sakura pulang. Akhirnya, Naruto harus menahan dirinya selama mengantar Hyuuga Hinata pulang. Mereka tidak berbicara apapun selama berada di dalam bus. Hinata tidak berbicara karena merasa canggung dan masih cemas ketika pikirannya masih saja mengingat semua perkataan Sara padanya tentang hubungan gadis itu dengan Naruto. Dan ketika ia mengingat semua pembicaraannya dengan Menma, sepertinya, kata-kata kakak Uzumaki Naruto hanya pemikiran sepihak saja. Meskipun Hinata tahu kalau sebenarnya Naruto memang bersikap baik padanya, tetapi, bukan berarti pemuda itu menyukainya. Lagipula, masalah usia mereka memang sangat mengganggu. Perbedaan dua tahun dan kenyataan bahwa Naruto lebih muda darinya. Tentu saja Naruto tidak akan menyukai gadis yang lebih tua darinya.
"Kau sedang berpikir buruk tentangku?" tanya Naruto tiba-tiba. Hinata yang kaget langsung menoleh ke arah pemuda itu.
"Tidak" jawab Hinata
"Aku tidak tahu kalau Sakura-chan ingin bertemu denganmu. Sasuke sialan itu tidak memberitahuku" kata Naruto
"Tidak apa-apa. Aku senang bekenalan dengannya. Dia gadis yang menyenangkan" sahut Hinata dengan senyum kecil.
Suasana kembali sunyi. Tidak ada lagi percakapan sampai akhirnya bus berhenti di halte yang paling dekat dengan rumah Hyuuga Hinata.
"Neechan" panggil Naruto pelan. Hinata yang berjalan di depannya berhenti. Naruto tidak menarik rambutnya, hanya memegangnya pelan namun Hinata bisa merasakan sentuhan tangan pemuda itu pada rambut panjangnya. Hinata menoleh. Naruto menatapnya dengan wajah sedih.
"Ada apa?" tanyanya lembut sambil memegang tangan Naruto yang masih berada di rambutnya. Kemudian melepas tangan itu dari rambutnya perlahan. Namun, Hinata masih belum melepaskan tangan Naruto. Pemuda itu terlihat sangat sedih di matanya.
"...Apa kau...benar-benar menyukai kakakku?". Hinata langsung melepaskan tangan Naruto. Kenapa Naruto tiba-tiba bertanya seperti itu dengan wajah sedih.
"Jangan sedih seperti itu. Kau mengkhawatiran Menma-kun atau aku? Kurasa, aku tidak bisa mengalahkan gadis bernama Shion itu. Lagipula, Menma-kun ternyata tidak menyukaiku" ujar Hinata
"Kenapa dengan Shion-neechan?" tanya Naruto heran ketika Hinata tiba-tiba membawa nama Shion dalam alasannya. Bukankah kakaknya dan Shion hanya berteman? Kenapa Hinata membawa-bawa nama gadis itu sebagai saingannya?
Hinata hanya tersenyum kecil lalu kembali berjalan dan Naruto mengikuti dari belakang.
"Kami menjadi teman yang sangat baik sejak aku akhirnya menyatakan perasaanku padanya. Dia menolakku, kau tahu?"
"Huh?"
Naruto menatap punggung gadis itu heran.
"Oniisan menolakmu?" gumam Naruto tak percaya. Hinata tidak menjawabrasa penasaran Naruto karena ia sudah berbicara terlalu jauh.
"Mau mampir?" tanyanya ketika mereka hampir sampai di depan gerbang rumah Hinata.
"Oneechan kenapa kau tidak terlihat sedih?" tanya Naruto tiba-tiba. Pemuda itu menatap Hinata dengan wajah kesal. Hinata mendadak berhenti. Kaget dengan pertanyaan Naruto. Aah, Hinata baru memikirkan hal itu sekarang. Kenapa dirinya tidak sedih ketika Menma menolaknya? Bukankah ia harus sedih karena pemuda yang ia sukai menolaknya? Tapi, Hinata sama sekali tidak sedih saat itu. Gadis Hyuuga itu lebih mencemaskan tentang perasaannya pada Uzumaki Naruto. Bagaimana mungkin anak SMP itu bisa membuatnya berhenti menyukai Menma? Kenapa Hinata sampai berhenti menyukai Uzumaki Menma dan malah berbalik mencemaskan Uzumaki Naruto?
"Sedih tidak akan mengubah sesuatu yang sudah terjadi" jawab Hinata akhirnya. Gadis itu kemudian menoleh dan tersenyum lebar ke arah Naruto lalu kembali berjalan.
"Oneechan aku menyukaimu" gumam Naruto
"Hah?" Hinata berhenti kemudian menoleh ke arah Naruto dengan wajah heran.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanyanya.
"T-tidak" sahut Naruto ketika ia sadar kalau Hinata hampir saja mendengar gumamannya. Kalau memang kakaknya telah menolak Hyuuga Hinata. Lalu, apa maksud pembicaraan mereka saat itu dan apa yang sudah Sasuke dengar? Sasuke tidak mungkin berbohong padanya. Tapi, kenapa Menma malah menolah Hyuuga Hinata kalau memang kakaknya juga menyukai gadis itu?
"Turnamennya dimulai pukul berapa?" tanya Hinata
"A-ah, p-pukul sembilan pagi" jawab Naruto
"Aku pasti datang melihatmu. Jadi, jangan sampai kalah, mengerti? Kalau kau bisa menang, aku akan memberikanmu hadiah" kata Hinata dengan senyum kecil. Mendengar Hyuuga Hinata menyebutkan tentang hadiah langsung membuat Naruto tersenyum cerah dan mengangguk antusias.
"Oyasumi" ujar Hinata lalu melambaikan tangannya dengan senyum kecil.
"O-oyasumi" sahut Naruto dengan senyum senangnya.
"Naru-chan!" panggil Kushina yang sudah siap dengan pakaian rapi. Minato dan Menma juga sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi mereka. Mereka sudah selesai sarapan sekitar satu jam yang lalu dan menunggu Naruto yang sedang bersiap-siap di kamarnya. Beberapa menit kemudian, Naruto berlari menuruni anak tangga dengan celana sekolahnya dan jaket orange kesukaannya. Sebuah tas punggung kecil menggantung dipunggunya.
Mereka senang melihat Naruto yang sangat bersemangat hari ini. Masih ada waktu sekitar satu setengah jam sampai turnamennya dimulai. Kakashi sensei sudah menunggunya di tempat turnamen.
"Niisan, kau tidak menjemput Hinata-neechan?" tanya Naruto ketika mereka sudah berada dalam mobil yang sedang melaju. Hari ini, mereka memakai mobil pribadi khusus untuk acara penting yang jarang terjadi seperti ini.
"Hinata-san berangkat bersama teman, katanya" jawab Menma.
"Naru-chan, bagaimana perasaanmu?" tanya Kushina cemas sekaligus antusias. Ia merangkul putra bungsunya itu untuk memberi kekuatan atau sekedar membantu menenangkan perasaan Naruto yang mungkin juga sedang tegang.
"Cukup tegang, Bu" jawab Naruto sambil tersenyum lebar
"Kalau kau menang, Ayah akan mengabulkan satu keinginanmu" kata Minato yang sedang menyetir
"Hm? Benarkah?" tanya Naruto
"Tentu saja"
"Apapun?"
"Apapun"
"Oniisan juga" ujar Menma tiba-tiba. Pemuda itu menoleh pada adiknya yang duduk dibelakang bersama Ibu.
"Ibu juga" kata Kushina. Naruto tersenyum semakin lebar dan semakin percaya diri juga. Pagi ini, tiga orang telah berjanji padanya. Dan tadi malam, Hyuuga Hinata juga menjanjikan hadiah padanya. Setelah semua janji itu, bagaimana mungkin Naruto membayangkan kalau dirinya akan dilakalahkan?
Mereka sampai di tempat turnamen dua puluh menit kemudian. Semua orang sudah menunggunya. Kakashi sensei dan beberapa gurunya yang lain. Shion. Anak-anak dari klub karate. Semua teman-teman terdekatnya. Gadis bernama Sara itu juga datang. Namun, Hyuuga Hinata sama sekali belum terlihat. Kakashi sensei kemudian menyuruh Naruto untuk mengganti dengan seragam karate.
"Naruto, kau harus menang" kata Sakura dengan wajah tegang dan kata-katanya yang penuh semangat.
"Tidak ada satu orangpun yang bisa mengalahkanku" timpal Naruto dengan penuh percaya diri.
Sepuluh menit sebelum turnamen dimulai dan hanya tinggal Naruto dan Kakashi sensei yang berada bersama peserta lain. Sementara semua orang menunggu di tempat yang sudah disediakan untuk penonton.
Naruto akhirnya sudah dipanggil dan naik di atas panggung. Pemuda itu masih mencari dimana Hyuuga Hinata. Ketika tiba-tiba kedua matanya melihat sosok Hyuuga Hinata yang baru saja duduk di bangku penonton. Gadis itu sepertinya baru datang. Naruto tersenyum lebar ketika Hinata akhirnya melihat ke arahnya dan gadis itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Namun, senyum Naruto berhenti ketika melihat dengan siapa gadis Hyuuga itu datang. Hinata datang bersama Sabaku Gaara.
Memang belum pernah ada yang bisa mengalahkan Naruto jika pemuda itu sudah mengikuti turnamen karate. Juara turnamen sebelumnya yang ikut lagi sekarang langsung dikalahkan oleh Naruto dengan sangat mudah. Semua orang yang sudah berjanji padanya harus bersiap-siap untuk hadiah yang telah mereka janjikan pada Naruto.
"Aku menang, lagi" katanya sambil mengeringkan rambutnya yang basah karena keringat. Kushina membantu mengeringkan rambut putranya itu setelah Naruto selesai mengganti baju.
"Memang tidak ada yang bisa mengalahkannya" kata Sakura sambil menepuk-nepuk punggung Naruto dengan. Naruto melihat ke arah Hinata duduk tadi. Gadis itu sudah tidak ada lagi.
"Kau melihatnya?" bisik Sasuke pelan pada Sakura. Gadis Haruno itu mengangguk sambil memperhatikan gerak-gerik gadis berambut merah bernama Sara. Sasuke memberitahu Sakura tentang gadis itu. Bahwa gadis bernama Sara terlihat bukan gadis yang baik. Setidaknya, itu yang Sasuke lihat setelah beberapa kali mengamati gadis itu.
"Di mana Hinata-neesan?" tanya Sakura ketika baru menyadari kalau Hyuuga Hinata tidak terlihat sejak tadi. Sasuke juga baru menyadari kalau Hyuuga Hinata tidak terlihat dimanapun.
"Dia sudah pergi" bisik Menma pelan pada Naruto.
"Hah? Hinata-neechan?"
"Sabaku Gaara mungkin sudah membawanya pulang" kata Menma lagi. Naruto merasa kesal. Pemuda bernama Sabaku Gaara itu benar-benar terlihat tidak menyukainya. Hinata hanya datang menontonnya dan langsung pulang bahkan tanpa mengucapkan selamat padanya.
Sara melihat heran ke arah Naruto yang sedang duduk di sampingnya. Sejak pagi suasan hati pemuda itu sepertinya sedang buruk. Apakah karena kemarin Hyuuga Hinata tidak mengucapkan selamat padanya? Ya, setelah pertandingan kemarin selesai. Hyuuga Hinata memang tidak terlihat. Tetapi, gadis Hyuuga itu sempat menonton di bangku penonton bersama orang-orang lainnya. Lalu, menghilang begitu pertandingan usai.
"Naruto-kun, kau tahu? Aku sempat berbicara dengan Hinata-neesan" kata Sara tiba-tiba. Naruto langsung melihat ke arah gadis itu begitu Sara menyebutkan nama Hinata.
"Kapan?"
"Kau ingat? Saat aku menunggumu bersama Hinata-neesan di depan gedung les itu"
"Apa yang kalian bicarakan? Apa dia mengatakan sesuatu tentangku?" tanya Naruto mulai serius. Sara tersenyum kecil. Gadis itu melihat sekelilingnya untuk memastikan kalau Uchiha Sasuke tidak berada di dekat mereka.
"Dia bilang dia menyukaimu" kata Sera
"B-benarkah?"
"Iya. Tapi, hanya sebagai adik"
"Apa?"
"A-aku bertanya padanya apakah dia menyukaimu sebagai perempuan terhadap lak-laki. Tapi, dia hanya mengatakan kalau dia senang dan menyukaimu sebagai adik. Bukankah memang harus seperti itu? Karena kau lebih muda darinya"
Naruto menjadi kesal. Bukan pada Hinata. Tetapi, pada perbedaan usia mereka yang memang menjadi penghalang utama sampai Hinata berhenti pada anggapan bahwa gadis itu hanya menyukainya sebagai adik. Karena ia lebih muda dari Hyuuga Hinata. Kenapa ia harus lebih muda dari gadis yang ia sukai? Kenapa ia tida bisa menjadi seperti kakaknya? Seusia dengan Hinata. Menjadi teman satu kelas. Berada di klub yang sama. Dan yang paling penting adalah, mereka bertemu setiap hari kecuali saat libur.
"Naruto-kun" panggil Sara. Naruto menoleh.
"Aku harus mengatakan ini agar kau sadar. Kalau satu-satunya yang menyukaimu hanya aku, Naruto-kun. Oneesan itu hanya melihatmu sebagai adiknya. Dia menyukai kakakmu meskipun di depan orang lain dia mengatakan tidak"
"Kenapa kau tahu kalau Hinata-neechan menyukai kakakku?"
"Oneesan itu mengatakannya padaku. Dia hanya menganggapmu sebagai adik dan dia menyukai Menma-niisan"
Naruto tidak menyangkal perkataan Sara. Hinata memang menyukai Menma. Dan kalau kakaknya juga menyukai gadis itu...
"Naruto!"
"S-S-Sakura-chan?" seru Naruto kaget ketika melihat Haruno Sakura sedang berjalan menghampiri mereka. Kenapa gadis itu ada di sekolah mereka? Bukan, bukan itu pertanyaannya. Yang benar adalah, bagaimana Sakura bisa ada di sekolahnya? Dan dengan seragam sekolah mereka?
"Aku harus sudah kembali besok. Kau tidak rindu padaku?" tanya Sakura dengan wajah sedih. Sakura sengaja datang ke sekolah karena memang ingin menghabiskan waktunya yang tersisa hari ini bersama Sasuke dan Naruto. Meskipun gadis itu hanya duduk menunggu atau berjalan-jalan melihat tempat sekolah pacar dan sahabatnya itu.
Ketika jam istirahat pertama Sakura datang ke kelas mereka dan tidak menemukan Naruto, Sasuke mengatakan kalau Naruto sedang sitirahat dengan Sara. Sasuke menyuruh Sakura untuk menyusul dan membawa Naruto kembali sebelum pikiran pemuda itu terjajah oleh Sara. Seperti yang Sasuke pernah bilang padanya, Sakura juga merasakan hal yang buruk ketika melihat Sara. Naruto harus menjauhi gadis itu sebelum Sara benar-benar mempengaruhinya.
"Kau Sara?" tanya Sakura setelah menarik Naruto berdiri dan memeluk lengan temannya itu erat. Seolah benar-benar ingin menjauhkan Naruto dari gadis itu.
"Iya"
"Aku harus berbicara hal penting dengan Naruto. Jadi, tidak apa-apa kalau kami meninggalkanmu di sini, kan?" tanya Sakura
"Hah? T-tidak apa-apa" jawab Sara. Gadis itu sebenarnya mengutuk Haruno Sakura dalam hatinya. Jelas sekali kalau gadis Haruno itu sengaja ingin menjauhkan Naruto darinya. Sama seperti Uchiha Sasuke meskipun pemuda Uchiha itu tidak terlalu mencolok dalam usahanya menjauhkan ia dan Naruto.
Menma menutup flip ponselnya. Sakura benar. Sudah banyak waktu yang terbuang karena keraguan...Hyuuga Hinata? Tidak. Naruto sendiri juga sepertinya masih ragu. Bukan pada perasannya terhadap Hyuuga Hinata. Tetapi, ragu apakah gadis Hyuuga itu juga menyukainya. Dan untuk kesekian kalinya, Menma harus memikirkan masalah perbedaan usia yang sangat mengganggunya. Bagaimana Naruto bisa mengatasi perbedaan itu dihadapan Ayah Hyuuga Hinata yang...entah. Hyuuga Hiashi terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata mengingat bahkan putra laki-lakinya, Hyuuga Neji, juga terlihat dingin dan sombong. Sama dengan teman dekat Hinata. Pemuda bernama Sabaku Gaara yang entah kenapa setiap melihat orang lain, seolah-olah mereka adalah musuh.
"Sepertinya, aku harus membuat setidaknya, Hyuuga Neji , bisa menyukai Naruto" pikir Menma. Jika Hyuuga Neji bisa menyukai Naruto. Kakak Hyuuga Hinata itu mungkin bisa membantu Naruto untuk mendekati Ayah mereka.
"Hinata-san" panggil Menma saat gadis itu selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Hinata melihat ke arah Menma yang menatapnya serius.
Pemuda itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Apa kau tidak apa-apa? Naruto sepertinya akan mulai menyukai gadis lain kalau kau terlalu lama memutuskan perasaanmu" kata Menma ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"Menyukai gadis lain?" gumam Hinata dan langkahnya langsung berhenti. Menma kaget dan ikut berhenti.
"Kalau kau tidak benar-benar menyukai adikku. Sore ini adalah kesempatan terakhirmu untuk memutuskan. Beritahu Naruto dan yakinkan padanya bahwa kau tidak menyukainya. Jika seperti itu, aku yakin Naruto akan mundur dengan sendirinya. Dia tidak tahu siapa lawannya. Teman dekatmu bernama Sabaku Gaara. Kakakmu. Dan tentu saja Ayahmu. Kau bertanya padaku apakah Naruto menyukaimu. Dan aku sudah menjawab pertanyaanmu berulang kali. Aku yakin. Adikku menyukaimu. Masalah sekarang ada padamu. Aku hanya memberimu kesempatan hari ini. Kalau kau juga menyukainya. Katakan pada Naruto untuk tidak menyerah terhadapmu"
"T-tunggu...M-Menma-kun..." Hinata tidak tahu bagaimana ia harus menanggapi semua perkataan. Gadis itu menjadi bingung. Kesempatan terakhirnya? Sore ini?
"Ya. Sore ini. Naruto akan berkencan dengan gadis itu untuk...kupikir untuk membuatmu menyadari perasaanmu sendiri"
"Sore ini? Berkencan? Lagi?"
"Lagi?"
"Dengan gadis bernama Sara itu?"
"Sara?". Kening Menma mengerut. Sara? Kencan? Lagi? Jadi Naruto pernah berkencan dengan gadis bernama Sara itu? Kenapa ia tidak pernah tahu? Sepertinya Sasuke dan Sakura juga tidak tahu. Kenapa hanya Hinata yang tahu?
"Aku tidak kenal siapa gadis bernama Sara itu. Tetapi, Sakura-chan mengatakan untuk tidak mempercayai apapun yang dikatakannya" kata Menma.
Hinata mengingat lagi sore itu. Ketika Sara berbicara padanya. Perkataan gadis itu sungguh menyakitkan. Jika semua yang dia katakan bohong. Maka, Hinata mungkin akan mempercayai perkataan Menma. Bahwa Naruto memang menyukainya.
"Pukul lima sore di depan gedung pertunjukan seni Konoha" kata Menma kemudian kembali berjalan dan Hinata langsung menyusul di belakangnya sambil berpikir keras.
"Apa rencana ini akan berhasil?" tanya Sasuke sambil dengan terpaksa menerima es krim yang disodorkan Sakura padanya. Mereka sedang duduk dan melihat Sara dari jauh. Pukul lima sore seperti yang telah ia beritahu pada Naruto.
"Makan es creamnya, Sasuke-kun. Atau aku yang akan menyuapimu" kata Sakura sambil menatap tajam pemuda Uchiha itu. Sasuke tersenyum hambar dan akhirnya menuruti perintah Sakura meskipun memakan es krim membuatnya menjadi seorang anak kecil yang manja.
"Ini usaha terakhirku sebelum aku kembali ke asrama besok pagi. Aku tidak tenang jika meninggalkan Naruto dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini" ujar Sakura.
"Kau harus masuk SMU biasa begitu kita lulus nanti" kata Sasuke
"Kau pikir aku tidak ingin sekolah bersama kalian?" seru Sakura
"Aku sudah bilang padamu, bukan? Jadilah gadis yang sesungguhnya dan orangtuamu akan mengeluarkanmu dari asrama itu"
"Aku tidak bisa menjadi gadis yang biasa saja kalau kau dan Naruto terus membuat masalah" gerutu Sakura. Gadis itu kemudian tersenyum kecil lalu memeluk lengan Sasuke dan melanjutkan memakan es krimnya sambil terus memperhatikan Sara yang sejak tadi menunggu dan Naruto, si pengajak, bahkan belum muncul. Sebenarnya, Sakura sampai harus membuat dirinya tega untuk membanting Naruto agar temannya itu mau melakukan rencana ini. Dengan satu ancaman fatal jika Naruto menolaknya, makan pemuda itu tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk membuat Hyuuga Hinata jatuh cinta padanya.
"Kuharap tulang punggung teman kita itu tidak ada yang patah" sindir Sasuke.
"Naruto datang!" seru Sakura tanpa menghiraukan sindiran Sasuke. Sasuke baru sadar kalau es krimnya sudah habis dan ikut melihat ke arah Naruto yang baru saja datang dan menghampiri Sara.
Hyuuga Neji masuk ke dalam mobil dan duduk dengan wajah tegang. Ia kemudian menyuruh sopirnya untuk segera kembali ke rumah.
Hari ini Hyuuga Neji pulang sekolah agak terlambat. Pemuda Hyuuga itu kaget ketika Uzumaki Menma tiba-tiba memanggilnya tepat sebelum ia membuka pintu mobil. Neji heran kenapa pemuda itu tiba-tiba ingin berbicara dengannya. Namun, saat itu Neji juga berpikir kalau yang ingin dikatakan Menma pasti ada kaitannya dengan Hinata. Awalnya, Neji mengira kalau Menma ingin mengatakan padanya kalau pemuda itu menyukai adiknya. Tetapi, Menma malah mengatakan kalau adiknyalah yang menyukai Hinata. Adiknya yang bernama Uzumaki Naruto. Kelas tiga SMP. Mereka memiliki wajah yang sama persis. Neji hanya tidak habis pikir bagaimana bisa seorang anak laki-laki SMP menyukai gadis SMU yang jelas lebih tua darinya. Dan bagaimana adik Uzumaki Menma itu mengenal Hinata sementara mereka tidak mungkin pernah bertemu karena berbeda sekolah. Tetapi, kemungkinan kalau Uzumaki Naruto mengenal adiknya bisa saja terjadi mengingat Neji sering melihat Hinata kadang berjalan pulang dengan Menma dan mungkin adiknya itu bertemu Naruto saat bersama Menma. Dan yang paling membuat Neji kaget dan marah sampai ingin memukul Menma saat itu juga adalah ketika pemuda Uzumaki itu mengatakan tentang kemungkinan besar bahwa Hyuuga Hinata juga menyukai Naruto. Hinata? Adiknya? Yang dididik begitu keras bersamanya oleh Ayah mereka. Jatuh cinta pada anak SMP yang bahkan tidak tahu apa itu cinta. Anak SMP yang bahkan tidak bisa menghasilkan uang sendiri. Anak SMP yang setiap pagi harus dibangunkan oleh orangtua mereka setiap berangkat sekolah. Mereka hanya anak kecil yang tahu bagaimana caranya bermain game dan bersenang-senang tanpa memikirkan bagaimana masa depan mereka.
"Neji-sama, ponsel anda berdering sejak tadi" suara sopirnya membuyarkan lamunan Neji. Ponselnya ternyata sedang berbunyi sejak tadi. Panggilan masuk dari Gaara.
"Oniisan?" panggil Gaara
"Ada apa?"
"Apa Hinata mengatakan padamu kalau sore ini dia akan pergi?" tanya Gaara
"Dia tidak ada di rumah?"
"Tidak. Bibi dan Hanabi bilang kalau Hinata pergi sejak pukul lima tadi dan tidak memberitahu akan pergi kemana. Kukira dia memberitahu Oniisan"
"Aku akan menghubungi ponselnya"
"Tidak aktif"
Kalau orang-orang di rumah saja tidak Hinata beritahu kemana ia pergi, berarti Ayah mereka juga pasti tidak tahu. Hinata tidak pernah pergi tanpa mengatakan kemana tujuannya. Bahkan jika adiknya itu berbohong dia pasti akan tetap memberitahu kemana ia akan pergi.
Setelah selesai berbicara dengan Gaara, ponsel Neji berbunyi lagi. Panggilan masuk dari Hinata. Pemuda itu langsung menjawab panggilan tersebut dengan suara cemas.
"Kau dimana?"
"Oniisan, maaf. Aku tadi pergi terburu-buru dan batrei ponselku habis. Tolong beritahu Ayah kalau aku akan pulang malam. Tapi tidak terlalu larut. Aku janji. Aku di rumah temanku sekarang dan dia akan mengantarku pulang" jelas Hinata buru-buru. Ia tahu kalau semua orang pasti mencemaskannya. Apalagi kalau sampai Ayahnya tahu. Tapi sepertinya Ayahnya belum tahu kalau ia pergi tanpa memberitahu orang-orang di rumah kemana tujuannya. Karena suara kakaknya terdengar masih bisa dikendalikan.
Neji langsung menghela nafas mendengar suara adiknya yang benar-benar terdengar baik-baik saja.
"Kalau temanmu batal mengantarmu pulang, biar Oniisan yang menjemput"
"Iya"
"Dan juga Hinata, ada sesuatu yang penting yang harus kakak bicarakan denganmu"
"Hah? Baiklah"
Hinata kemudian menutup ponselnya. Neji bahkan tidak tahu, atau berpura-pura tidak tahu asalkan Hinata baik-baik saja. Kalau adik perempuannya itu sedang berbohong tentang pergi ke rumah teman dan batrei ponsel yang habis.
Hinata akhirnya akan mengambil keputusan terakhirnya sore ini. Ia tahu kalau dirinya mulai tertarik pada Uzumaki Naruto. Tidak. Mungkin 'mulai' bukan penjelasan yang tepat. Sejak awal, Hinata memang sudah tertarik pada Uzumaki Naruto sampai perasaanya pada Menma menghilang begitu cepat saat Naruto masuk dalam kehidupannya. Gadis itu hanya tidak begitu menyadarinya sampai akhirnya Naruto benar-benar membuatnya cemburu dan menangis ketika ia tiba-tiba melihat pemuda itu bersama Sara. Namun, ketika Hinata berpikir tentang Ayahnya. Semua harapannya seperti tidak pernah berarti. Bukan karena keluarga Naruto yang tidak lebih kaya dari mereka. Tetapi, Ayahnya pasti akan mempermasalahkan masalah perbedaan usia. Hinata tahu kalau Ayahnya bukan orang yang terlalu perduli dengan masalah status sosial. Yang paling penting baginya dalah tata krama dan kejelasan tentang kehidupan masa siapapun yang ingin mendekati anak-anaknya. Neji pernah mengalaminya. Jatuh cinta pada orang yang salah akhirnya membuat pemuda itu sangat menjaga jarak dengan orang lain. Apa yang Ayah mereka telah katakan dan putuskan adalah mutlak. Baik Neji maupun Hinata, belum pernah melihat Ayah mereka menyerah terhadap sesuatu yang tidak bisa diterima oleh ketetapan keluarga mereka dan tidak ada yang pernah mengalahkan betapa keras kepalanya Hyuuga Hiashi. Dan jatuh cinta pada Naruto sama saja dengan menentang Ayahnya dengan kepala mendongak.
"Sudah mau makan malam?" gumam Hinata lalu melirik jam tangannya yang menunjukan hampir pukul enam. Hinata melihat disekitarnya dan suasana yang gelap sudah diterangi lampu-lampu yang ramai. Mengambil keputusan untuk mengikuti Naruto selama pemuda itu berkencan adalah keputusan yang nekat karena Hinata hanya sendirian dan tidak ditemani siapapun. Hinata tidak pernah berada di luar rumah sendirian saat malam hari. Ayah pasti tidak akan mengizinkannya untuk keluar sendirian. Tentu saja. Kalau Hyuuga Hiashi sampai tahu putrinya berada di luar rumah sekarang. Hinata yakin kalau mulai besok, ia tidak akan dibiarkan berangkat sekolah dengan bus lagi.
Hinata akhirnya hanya duduk dibangku yang berada diseberang jalan tepat di depan tempat Naruto dan Sara makan. Hinata bahkan tidak merasa lapar karena terlalu cemas. Gadis itu baru saja ingin berpikir kalau ia cukup nyaman duduk dan menunggu di tempat yang cukup tentang tersebut ketika sebuah tangan menepuk pundaknya sampai ia refleks berdiri karena sangat kaget. Ketika Hinata menoleh. Gadis itu mendongak dengan jantung yang rasanya hampir saja melompat keluar. Seorang laki-laki dengan tinggi jauh di atasnya sedang menatap padanya. Hinata tidak bisa melihat terlalu jelas karena cahaya lampu disekitar mereka yang memang remang.
Hinata mundur satu langkah ketika laki-laki itu bergerak maju satu langkah pula.
[TBC]
