~Misunderstand Love~ / PART 9
Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)
Judul : Misunderstand Love
Author : Ciel Bocchan a.k.a Febi N Maulida
Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.
Rating : T
Naruto terus menatap gelisah ke luar cafe. Ia sama sekali tidak mendengar kalau sejak tadi Sara sedang bercerita padanya. Entah apa. Tetapi ketika gadis berambut merah itu menanyakan pendapatnya, Naruto berusaha untuk tetap menyahut seolah dia mendengarkan apa saja yang diocehkan gadis itu. Pikir Naruto, apakah rencana Sakura ini berjalan dengan lancar? Kalau Hyuuga Hinata mengikuti mereka, berarti gadis Hyuuga itu memang telah jatuh cinta padanya. Seharusnya itu adalah kesimpulan akhir yang benar-benar tepat ketika nanti terbukti kalau Hyuuga Hinata benar-benar mengikutinya dan Sara. Itu berarti Hinata cemburu, bukan? Seharusnya memang seperti itu.
Ponsel Naruto tiba-tiba berdering. Sara langsung menatap serius ke arah pemuda itu. Kening Naruto mengerut. Kenapa Sakura tiba-tiba menelponnya?
"Moshi-moshi, Sakura-chan?"
"Tadi Hinata-neesan mengikuti kalian..."
"Benarkah?"
"Jangan memotong dulu" kata Sakura cepat
"B-baiklah-baiklah" sahut Naruto. Pemuda itu tersenyum kecil.
"Tapi dia tiba-tiba menghilang...beberapa menit yang lalu. Dia berdiri melihat kalian dari seberang jalan. Kau melihatnya? Sebuah toko tutup yang berada di dekat gang yang gelap" kata Sakura. Naruto langsung menengok ke luar kaca cafe dan melihat sebuah toko diseberang jalan yang memang sudah tutup. Toko tersebut berada paling ujung, di dekat gang gelap. Tepat seperti ciri-ciri yang Sakura katakan.
"Aku sedang berbicara dengan Sasuke sebentar. Dan ketika kami melihat kembali ke arahnya, Hinata-neesan sudah tidak ada."
"Aku melihat seorang pria besar berjalan ke toko itu tadi. Tapi mungkin dia hanya pejalan kaki biasa" Sasuke ikut berbicara.
"Aku akan mencarinya. Kalian juga" ujar Naruto cepat
"Hah? Lalu kencanmu bagaimana?" tanya Sakura
"Apa yang bagaimana? Bukankah semua ini rencanamu? Ini sudah berakhir karena Hinata-neesan menghilang. Aku harus mencarinya" kata Naruto lalu memutuskan sambungan telpon.
Sara menatap Naruto dengan kesal. Namun, gadis itu berusaha untuk tetap tersenyum sambil bertanya dengan sangat pelan seperti yang biasa ia lakukan.
"Ada apa?"
"Aku harus pulang sekarang. Kau bisa pulang sendiri? Ini" kata Naruto buru-buru sambil menaruh beberapa lembar uang di atas meja lalu pergi tanpa mempedulikan Sara.
Naruto keluar dari cafe tersebut dan melihat Sasuke dan Sakura telah menunggunya tidak jauh dari cafe tersebut.
"Aku yakin dia dibawa pergi oleh pria tadi" kata Sasuke. Naruto mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Hyuuga Hinata. Namun, ponsel gadis itu tidak aktif.
"Kita harus mencarinya kemana?" tanya Naruto yang juga bingung. Mereka berjalan sambil melihat-lihat sekitar. Sasuke dan Sakura juga sama bingungnya. Ini sudah malam. Kalau memang Hinata dibawa pergi oleh pria yang sempat dilihat oleh Sasuke, masalahnya, siapa pria itu? Bagaimana jika pria itu...penguntit?
Naruto mencari sampai sekitar pukul sembilan malam. Sasuke dan Sakura juga tidak bisa menemukan gadis Hyuuga itu di manapun. Kemana Hyuuga Hinata?
Hyuuga Hiashi menatap putri pertamanya dengan tatapan dingin. Mereka sekarang berada di ruang keluarga. Hyuuga Hiashi duduk ditemani oleh istrinya di sisinya. Sementara Hyuuga Hinata duduk berhadapan dengan Ayahnya. Hyuuga Neji menemani Hinata dengan duduk di samping adiknya itu. Jarak mereka hanya dibatasi oleh meja kayu kecil. Hinata menoleh pada kakaknya dengan wajah takut dan cemas. Neji balas menatap adiknya itu dengan senyum kecil dan anggukan kepala. Tangan kanannya menggenggam tangan kiri Hinata dengan yakin. Saat ini, Neji hanya ingin membantu adiknya itu meskipun ia harus melihat dulu kondisi pembicaraan ini akan seperti apa. Ketika ia melihat Hinata yang duduk dengan kepala menunduk di depan Ayah mereka. Neji mengingat dirinya. Ketika dahulu ia pernah berada di posisi Hinata. Mencintai orang yang salah menurut Ayah mereka. Meskipun dulu Neji juga masih sangat muda untuk menentukan siapa gadis yang ia sukai. Tetapi, Ayahnya menolak dengan keras. Dengan alasan hanya cinta anak muda biasa atau alasan apapun. Hyuuga Hiashi tak pernah menerima semua alasan tersebut. Karena menurutnya, cinta itu akan menjadi semakin kuat pada akhirnya. Jadi, sebelum cinta itu menjadi lebih kuat, Hyuuga Hiashi memisahkan putra satu-satunya itu dari gadis manapun yang tak sebanding dengan keluarga mereka.
Neji kaget ketika ia sedang berada di kamar sambil membaca buku-buku pelajarannya. Pemuda itu mendengar suara ribut dari lantai pertama rumahnya. Ketika mendengar ada suara Hinata, pemuda itu langsung begegas keluar dari kamarnya.
Hyuuga Hiashi tahu kalau ternyata Hinata keluar rumah dan berbohong masalah ia mengunjungi rumah teman seperti yang Neji laporkan. Neji mengira kalau ia sudah bisa meyakinkan Ayahnya. Tetapi, Ayahnya ternyata tidak mempercayainya dan langsung menyuruh orang-orangnya untuk mencari Hyuuga Hinata. Dan adiknya itu ditemukan dalam waktu yang sangat singkat. Kemudian dibawa pulang dan sampai di rumah sekitar hampir pukul delapan malam.
"Ayah tidak pernah ingat kalau sudah mengizinkanmu keluar sendiran di malam hari. Dan untuk menguntit seseorang" Hyuuga Hiashi memuali pembicaraan. Hinata merasa cemas dan takut. Kalau dirinya juga akan berakhir seperti kakaknya. Tidak lagi ada kepercayaan Ayah padanya. Dan pada akhirnya ia akan seperti Neji. Menjauh dari orang-orang yang bagi Hyuuga Hiashi tak pantas bagi mereka. Benar-benar terkurung.
"Apa kau ingin membela diri?" tanya Hyuuga Hiashi
"...Tidak. Aku tahu kesalahanku. Aku tidak akan keluar seperti itu lagi, Ayah. Tapi..." Hinata berhenti berbicara untuk melihat wajah Ayahnya. Wajah Hyuuga Hiashi tetap datar. Hinata akhirnya melanjutkan syaratnya.
"...Biarkan aku bergaul seperti biasa"
"Siapa yang kau ikuti?" tanya Ayahnya tanpa menyetujui persyaratan Hinata.
Hinata menggenggam tangan Hyuuga Neji semakin erat gadis itu berpikir kalau ia harus mengatakan semuanya pada Ayahnya. Ia harus mengatakan kalau ia sedang jatuh cinta pada seseorang. Neji menoleh sebentar untuk melihat ekspresi adiknya itu lalu kembali pada wajah Ayah mereka. Dalam hatinya, Neji sangat berharap kalau Hinata tidak mengatakan sesuatu yang bodoh yang akan menyiksa dirinya sendiri. Hinata mungkin akan berakhir sepertinya jika mengaku...
"Ayah aku minta maaf. Aku sedang menyukai seseorang"
"Hinata!" seru Neji tertahan sambil menoleh pada adiknya itu. Kening Neji berlipat. Apa yang adiknya itu pikirkan? Mengaku tentang sesuatu yang akan mengganggu Ayah mereka. Neji kemudian beralih pada Ayahnya. Hyuuga Hiashi sekarang menatap Hinata dengan kedua matanya yang sangat kaget. Ia seperti ingin mengurung putrinya itu hanya dengan tatapan matanya.
"Hinata..." gumam Ibunya yangs sejak tadi hanya duduk diam di samping Ayahnya. Ia juga kaget mendengar pengakuan yang sangat berani dari putrinya dalam keadaan yang sedang buruk ini. Ketika masalah Hinata yang keluar malam sendirian bahkan belum selesai. Putinya itu malah mengakui hal tersebut.
"Bawa dia ke sini untuk bertemu Ayah" kata Hyuuga Hiashi. Hinata menatap kaget pada Ayahnya.
"Kau harus ingat apa yang pernah terjadi pada kakakmu, Hinata. Sebelum Ayah melakukan hal yang sama, pastikan pemuda yang kau bawa itu pantas untukmu dan keluarga kita"
Pembicaraan mereka hanya berlangsung sesingkat itu karena Hyuuga Hiashi sudah mengintimidasi Hinata lebih dari yang putrinya itu duga. Ketika bel dari arah pintu utama berbunyi dan menarik perhatian mereka. Kemudian salah satu pembantu mereka datang memberitahu kalau ada tamu. Hyuuga Hiashi memudian beranjak untuk menemui tamu yang datang di malam hari seperti ini. Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.
Naruto menunggu di teras sampai Hyuuga Hiashi akhirnya muncul.
"Eh? Anda paman yang waktu itu, bukan?" seru Naruto ketika melihat Hyuuga Hiashi. Ya. Mereka pernah bertemu satu kali saat Naruto mengantar Hanabi yang saat itu tersasar.
"Oooh, kau yang pernah menolong putriku" Hyuuga Hiashi juga terlihat kaget. Naruto hanya tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dalam hati Naruto merasa heran. Bukankah ini rumah Hyuuga Hinata? Ia tidak mungkin salah karena pernah mengantar gadis itu sampai di depan gerbang rumahnya beberapa hari lalu. Tetapi, kenapa paman yang putrinya ia tolong waktu itu ada di sini? Mereka memang memiliki ciri-ciri yang sama. Naruto semakin kaget ketika akhirnya menebak jangan-jangan paman itu adalah Ayah Hyuuga Hinata?
"Paman apa anda...Ayah Hinata-neechan?" tanya Naruto hati-hati.
"Kau mengenal putriku?" Hyuuga Hiashi lagi-lagi kaget. Naruto langsung merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak sadar? Apa yang harus dilakukannya sekarang? Meksipun paman itu terlihat ramah padanya tapi wajahnya cukup menakutkan.
"Y-yaaa...Hinata-neechan teman kakakku" kata Naruto
"Kakakmu? Masuklah dulu. Ada yang harus kutanyakan padamu" kata Ayah Hinata tiba-tiba. Naruto akhirnya menurut dan ikut masuk. Hyuuga Hiashi menyuruhnya duduk lalu menyuruh pembantunya menyiapkan minuman dan makanan ringan.
"Naruto-kun?"
Naruto langsung mendongak ke arah lantai begitu mendengar suara yang sangat ia kenal itu. Hyuuga Hinata melihatnya dengan wajah kaget. Naruto juga kaget. Ia memang datang ke rumah gadis itu untuk memastikan apakah Hinata sudah pulang. Ternyata gadis itu baik-baik saja.
Hinata kaget melihat ternyata Naruto yang datang bertamu malam-malam seperti ini. Bagaimana dengan kencan pemuda itu? Dan...Ayah sudah mengenalnya? Bagaimana bisa? Ini buruk. Pikir Hinata. Kenapa Naruto muncul di saat yang buruk seperti ini? Ayahnya mungkin akan bertanya macam-macam. Sementara Hyuuga Neji yang juga ikut melihat ke bawah kaget mendapati pemuda berambut kuning sedang duduk berhadapan dengan Ayah mereka. Dia mirip sekali dengan Uzumaki Menma. Itu pasti adiknya. Uzumaki Naruto. Seperti yang Menma katakan, ia dan adiknya sangat mirip. Jadi, pemuda itu yang mungkin Hinata sukai? Pemuda dengan rambut kuning jabrik dan wajahnya yang terlihat bodoh itu? Dia memang mirip dengan Menma. Tapi jelas Uzumaki Menma jauh lebih baik dari adiknya itu. Neji tiba-tiba merasa sangat heran bagaimana bisa anak kecil seperti itu mampu menarik perhatian Hinata.
"Hinata, kemarilah. Sepertinya Uzumaki-san datang untuk menemuimu" kata Hiashi. Neji melongo. Kenapa Ayahnya terlihat biasa saja pada Naruto?
"Y-ya" sahut Hinata heran ketika Ayahnya berbicara biasa saja di depan pemuda yang datang untuk mencari putrinya. Neji hanya berdiri dan melihat dari atas. Pemuda itu ingin mendengar pembicaraan mereka.
"Hinata, kau berteman dengan kakak Uzumaki-san?" tanya Ayahnya
"Hah? A-aaah, ya"
"Tapi paman, karena kami sangat mirip, beberapa orang mungkin akan salah mengenali kami" sela Naruto
"Kalian mirip? Jadi kakakmu itu laki-laki?"
"Ya. Yang berbeda hanya warna rambut kami"
Hyuuga Hiashi menoleh dengan wajah curiga pada putrinya. Hinata balas menatap ke arah Ayahnya.
"Jadi, untuk apa kau datang mencari Hinata?" tanya Hiashi pada Naruto
"...Sebenarnya aku hanya kebetulan lewat. Kupikir, aku mungkin bisa mampir sebentar untuk menyapa Hinata-neechan" jawab Naruto asal. Tidak mungkin kalau ia harus mengatakan kalau tujuannya kemari karena khawatir pada Hyuuga Hinata. Ayahnya biasa saja berpikiran macam-macam tentangnya.
"Apa menurutmu Hinata sangat akrab dengan kakak laki-lakimu itu? Siapa namanya?" tanya Hyuuga Hiashi lagi.
"Ya. Uzumaki Menma" jawab Naruto heran. Kenapa Ayah Hinata tiba-tiba bertanya tentang hubungan Hinata dan kakaknya? Ini buruk. Naruto merasa kalau ada sesuatu yang sedang atau mungkin telah terjadi antara Hinata dan Ayahnya.
"...Paman sepertinya aku harus pulang. Ini sudah malam" kata Naruto tiba-tiba. Ia ingin segera pulang agar bisa menyingkir dari suasana yang mulai tak enak ini. Hyuuga Hinata melihat ke arah Naruto. Berpikir kenapa pemuda itu tiba-tiba datang ke rumahnya malam-malam seperti ini? Apakah benar hanya kebetulan dia melewati rumahnya? Apa yang terjadi padanya dan Sara?
"Lain kali datanglah untuk makan malam bersama kami. Aku belum menepati janji sebagai rasa terima kasih karena telah menolong Hanabi" kata Hiashi
"Iya" sahut Naruto sambil mengangguk.
"...Ayah...apa kau boleh mengantar Naruto-kun sampai halte depan?" tanya Hinata. Hiashi terlihat berpikir sebentar lalu mengiyakan permintaan Hinata. Hyuuga Neji yang melihat dari lantai dua rumah mereka sedikit melongo karena sikap Ayahnya pada Uzumaki Naruto. Kenapa Ayahnya itu terlihat menyukai Naruto? Tapi yang paling penting sekarang adalah Ayahnya jangan sampai tahu kalau kemungkinan besar orang yang Hinata sukai adalah anak SMP berambut kuning itu.
"Oneechan, kau baik-baik saja?" tanya Naruto ketika mereka sudah keluar dari rumah Hinata.
"Y-ya. Tentu saja aku baik. Kenapa kau tiba-tiba datang ke rumahku"
"Aku khawatir karena kata Sasuke dan Sakura, Oneechan tiba-tiba menghilang saat sedang mengikutiku sore tadi." Hinata kaget. Ini sungguh memalukan. Pikirnya. Jadi Naruto tahu kalau ia membuntuti pemuda itu dan Sara?
"Lalu...bagaimana dengan kencan kalian?"
"Bagaimana? Tidak ada apa-apa. Oneechan kau mulai menyukaiku, bukan?"
Langkah Hinata langsung berhenti. Naruto yang berjalan di sampingnya juga ikut berhenti. Gadis Hyuuga itu kaget mendengar pertanyaan Naruto yang mengagetkan seperti itu. Kenapa Naruto tiba-tiba bertanya seperti itu padanya? Bagaimana ia harus memberikan jawaban yang paling tepat?
"Kau berjanji akan memberikanku hadiah kalau aku menang karate, bukan?" tagih Naruto tiba-tiba
"Aaah, iya. Aku hampir lupa. Ngng...aku belum membelikan apapun..."
"Oneechan" suara Naruto yang memanggil namanya menghentikan kata-kata Hinata. Gadis Hyuuga itu menoleh dan kedua matanya melebar sangat keget ketika Uzumaki Naruto tiba-tiba menciumnya.
"Aku menyukaimu. Aku tidak bisa menahannya lagi. Kalau kau masih menganggapku hanya anak kecil. Aku bisa menjadi laki-laki dewasa lebih dari kau bayangkan" bisik Naruto tepat di depan wajah gadis Hyuuga Hinata. Hinata kehilangan suaranya. Tubuhnya menjadi sangat hangat dan jantungnya berdetak sangat cepat. Astaga! Hinata menjadi benar-benar sadar kalau dirinya telah jatuh cinta pada Naruto. Pada anak SMP yang dulu hanya menggodanya.
"...Oneechan...kenapa...kau menangis?" tanya Naruto kaget ketika melihat air mata gadis Hyuuga itu tiba-tiba mengalir di pipinya putihnya. Pemuda itu melongo lalu bergerak menjauh. Naruto bingung. Apa yang telah ia lakukan sampai gadis itu menangis? Apa karena ciuman tadi?
"Hinata..."
"Aku menyedihkan" gumam Hinata sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.
"Hah?"
"Apa menurutmu aku masih waras?"
"Neechan apa yang bicarakan?" tanya Naruto cemas dan bingung.
"Bagaimana aku bisa menyukai anak SMP sepertimu?"
"Tenanglah...Apa yang kau...APA?" terlalu kaget membuat Naruto hampir saja mundur hingga ke jalan raya kalau saja Hinata tak segera menariknya. Gadis Hyuuga itu kemudian menghapus air matanya.
"Apa kau bisa membuktikan perkataanmu tadi di depan Ayahku?" tanya Hinata
"T-tunggu! Aku belum bisa mencerna ini...Jadi Oneechan menyukaiku juga? Lalu bagaimana dengan Oniisan?"
"Sebenarnya ini sangat memalukan karena aku lebih tua darimu. Tapi aku menjadi benar-benar sadar setelah kau menciumku. Aku mencintaimu. Jadi, buktikan padaku apa yang bisa kau lakukan di depan Ayahku" kata Hinata sambil berjalan kembali menuju halte. Naruto segera menyusul dan berjalan di samping gadis itu. Pemuda itu tersenyum sangat lebar sampai orang-orang yang melihanya akan berpikir kalau dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tak pernah memiliki masalah dalam hidupnya. Naruto benar-benar merasa bahagia. Ia ingin memeluk Hinata yang berjalan di sisinya dengan wajah serius. Ia ingin memeluk gadis itu dengan erat dan mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah menyukainya. Terima kasih karena telah mencintai anak SMP bodoh sepertinya.
"Apa kau yakin kau menyukaiku? Kau masih terlalu muda, kau tahu?" tanya Hinata lagi. Mereka hampir mencapai halte.
"Aku sangat yakin. Aku bisa bertanggung jawab. Aku akan mencintai Oneechan lebih dari siapapun yang pernah mencintai Neechan selama ini"
"Kupikir kau menyukai Sara"
"Hah? Aku hanya ingin memancingmu seperti yang Sakura-chan katakan"
"Dan sepertinya itu berhasil" sahut Hinata dengan senyum kecil. Gadis Hyuuga itu juga sebenarnya tak bisa berhenti tersenyum sejak tadi. Tetapi ia tidak ingin Naruto melihatnya terus tersenyum seperti orang gila. Situasi ini memang sangat memalukan membayangkan kenyataan kalau ia lebih tua dari Naruto meskipun hanya dua tahun. Hinata sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan usia mereka. Gadis itu mengkhawatirkan Ayahnya. Kakaknya. Dan sahabat baiknya Sabaku Gaara. Tiga pria itu adalah pria yang dingin menakutkan. Bagaimana kau akan melawan mereka Naruto? Pikir Hinata.
Bus akan datang beberapa menit lagi sementara Naruto dan Hinata sudah sampai di halte yang paling dekat dengan rumah gadis itu. Mereka masih saling diam beberapa saat. Keduanya sama-sama berdebar. Debar yang tak ingin di dengar oleh salah satu yang lain. Mereka merasakan kebahagian masing-masing. Ketika perasaan itu akhirnya meluap dan mereka nekat untuk mengakuinya. Maka, mereka sudah siap untuk menghadapi apa yang menanti di depan. Naruto yakin pada pilihannya meskipun ia memang masih terlalu muda untuk mengerti bagaimana cara mencintai seorang gadis dengan baik. Namun, untuk Hyuuga Hinata, ia berjanji akan mencintai gadis itu dengan cara yang paling baik. Cara yang dewasa dan bertanggung jawab. Karena ketika ia sudah berani jatuh cinta pada gadis yang lebih tau darinya. Maka ia harus tahu bahwa hal itu bukanlah hal yang main-main. Karena Hyuuga Hinata memiliki banyak sekali pengawal dalam hidupnya. Gadis itu takkan mudah didapatkan oleh pria biasa. Menyadari itu membuat Naruto semakin percaya pada dirinya. Bahwa ia akan menjadi satu-satunya pria yang akan Hinata pilih. Satu-satunya pria yang akan bersama gadis itu selamanya. Naruto akan melakukannya. Mendapat persetujuan dari Ayah Hinata atau apapun itu.
"Berhenti tersenyum sendiri" tegur Hinata. Naruto menoleh kaget lalu tersenyum lagi. Pemuda itu berjalan sedikit ke samping untuk mendekat ke arah Hinata. Ia lalu mengambil tangan kiri gadis Hyuuga itu lalu menggenggamnya sangat erat. Hinata langsung menoleh ke arahnya. Kaget. Gadis itu kemudian tersenyum kecil lalu kembali melihat ke depan. Mereka menatap ke arah yang sama sambil menunggu bus. Hinata balas menggenggam tangan Naruto. Rasanya sangat nyaman ketika yang menggenggam tanganmu adalah orang yang kau sukai. Hangat.
"Busnya datang" seru Naruto ketika melihat bus yang datang dari arah kiri semakin mendekat ke halte. Hinata ikut melihat.
"Ah, ya" kata Hinata. Naruto melepas genggamannya tepat saat bus akhirnya berhenti di depan mereka. Hinata tersenyum sambil melambaikan tangan ketika Naruto berdiri di pintu bus sambil menghadapnya. Gadis Hyuuga itu kaget ketika Naruto tiba-tiba turun kembali lalu mencium pipinya.
"Oneechan, Aku mencintaimu" bisiknya. Naruto kemudian menarik pelan rambut Hinata seperti biasanya lalu segera naik kembali ke dalam bus. Hinata tersenyum lalu melambaikan tangannya sampai bus tersebut menghilang di ujung jalan.
"Aku tahu, dasar bodoh" gumam Hinata lalu berjalan pulang dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya. Akhirnya ia juga mengakuinya. Ketika tiba-tiba Naruto menyatakan perasaannya. Hinata juga terpancing. Gadis itu tak ingin lagi ada kesalahpahaman yang kapan saja bisa menjadi semakin serius. Sebelum Naruto benar-benar berpaling darinya, ia harus lebih dulu mendapatkan pemuda itu.
"Aku tidak ingin hadiah apapun. Aku hanya ingin Ayah dan Ibu membantuku" kata Kushina. Ia sedang mengulang kalimat Naruto tersebut. Kening Menma mengerut. Menurut cerita Ibunya. Saat tadi malam Naruto pulang terlambat, adiknya itu tiba-tiba saja mengajak Ayah dan Ibunya berbicara hal yang sepertinya sangat penting. Sementara Menma belum diizinkan untuk tahu dan akhirnya kakaknya itu hanya menunggu di kamar sampai tertidur. Lalu, pagi harinya Minato dan Kushina datang diam-diam ke kamar Menma untuk menceritakan hasil pembicaraan mereka tadi malam bersama Naruto. Sementara putra bungsu mereka itu masih tertidur sangat lelap karena hari ini libur.
"Oniichan, Ibu tidak bisa percaya ini. Apa kau percaya?" seru Kushina tertahan.
"Apa? Ibu belum menceritakan apapun padaku. Naruto meminta bantuan apa?"
"Kushina, hentikan. Biarkan Naru-chan sendiri yang memberitahu Oniichan" kata Minato dengan wajah serius. Menma menoleh heran ke arah Ayahnya.
"Ibu tidak bisa tidur semalaman. Ini pasti mimpi" rengek Kushina. Wajahnya terlihat seperti sedang menangis. Ia lalu memeluk putra sulungnya itu.
"Naru-chan...dia pasti sudah gila karena kepalanya terbentur beberapa kali selama turnamen karate itu..."
"Ayah" panggil Menma sambil memeluk Ibunya yang benar-benar mulai menangis. Minato menggeleng pelan.
"Memangnya ada apa? Apa dia melukai orang lain lagi?" tanya Menma kemudian.
"Dia pasti sudah tidak waras. Oniichan, kau harus bicara dengannya. Ibu yakin dia pasti mengerti kalau kau yang memberitahunya" kata Kushina tegas setelah berhenti menangis dan memegang kedua pundak putra sulungnya itu.
"...Ya, tapi ada apa?"
"Biar Naru-chan sendiri yang memberitahumu nanti" kata Minato
"Ayah juga seperti Ibu? Tidak ingin membantu Naruto?"
"Ayah bukan tidak ingin. Tapi permintaannya terlalu gila untuk anak kelas tiga SMP sepertinya. Oniichan kau harus bicara dengannya"
Pada akhirnya, permintaan Ayah dan Ibunya sama. Berbicara dengan Naruto tentang hal yang belum ia tahu sebelum Naruto sendiri yang memberitahunya. Ibunya sampai menangis dan Ayah juga jelas terlihat cemas. Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Naruto? Jangan sampai anak itu membuat masalah serius lagi.
"Kemana semua orang?" tiba-tiba suara Naruto terdengar. Anak itu pasti baru bangun. Menma langsung mengintip keluar kamarnya sebentar dan melihat Naruto baru saja masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia lalu cepat menyuruh Ayah dan Ibunya untuk segera turun dan melakukan semuanya seperti biasa. Ini masih pagi dan Ibunya bahkan belum membuat sarapan.
"Ohayou" sapa Naruto ketika Hinata melewati rumahnya seperti biasa. Ia dan Menma berangkat bersama.
"O-Ohayou" sahut Hinata.
Mereka berjalan bersama menuju sekolah. Hinata dan Menma berjalan di depan sementara Naruto di belakang mereka. Menma sesekali memperhatikan Naruto dan Hinata. Sikap keduanya terlihat seperti biasa. Naruto menyapa gadis Hyuuga itu seperti biasa. Sementara Hinata juga bersikap biasa namun sedikit terlihat gelisah.
"Oh, Naruto. Kau ingin hadiah apa?" Menma langsung membuka pembiacaraan di tengah suasana yang entah kenapa terasa canggung.
"Um...Aku akan memberitahu Oniisan nanti. Kupikir Ayah dan Ibu sudah berbicara sesuatu" sahut Naruto
"Hinata-san, kau tidak memberi Naruto hadiah?" tanya Menma
"Eh? Aaah, aku belum sempat membelikan apapun" sahut Hinata. Menma melihat pada Naruto ketika Hinata menjawab. Adiknya itu terlihat biasa saja. Maksudnya, ia tidak berisik seperti biasa atau menggoda gadis Hyuuga itu lagi. Pikir Menma pasti sesuatu telah terjadi. Entah berhubungan dengan kecemasan orangtua mereka pagi itu atau tidak.
Hinata tidak tahu bagaimana ia harus bersikap terhadap Naruto setelah kejadian paling memalukan baginya terjadi malam lalu. Pada akhirnya ia juga menyadari kalau dirinya menyukai Naruto. Masalahnya masih tetap sama, yaitu usia mereka. Sementara Naruto, entah apa yang anak itu pikirkan sekarang. Bagaimana anak kecil sepertinya menghadapi Ayahnya? Cinta mereka bahkan bisa dibilang bukan cinta yang sama, mungkin. Karena usia Uzumaki Naruto masih sangat muda. Perasaannya bisa saja hanya bertahan sementara. Sementara Hinata, gadis itu sudah cukup yakin dengan pilihannya. Karena ia bukan tipe yang bisa dengan mudah jatuh cinta berkali-kali. Ia pernah menyukai Uzumaki Menma. Pemuda itu adalah cinta pertamanya. Namun, keberadaan Naruto menghilangkan seluruh perasaannya terhadap Menma. Anak itu perlahan masuk ke dalam hatinya. Cinta pertamanya ia akhiri sendiri karena ia telah beralih menyukai Naruto. Hinata tahu kapan dirinya serius dan tidak. Ketika ia memutuskan untuk mencintai Naruto, maka ia hanya akan mencintai pemuda itu. Tetapi bagi Naruto, jelas akan berbeda. Dia masih terlalu muda. Hinata tak bisa menanggung rasa sakitnya jika suatu saat nanti, atau bisa saja dalam beberapa bulan ke depan, perasaan Naruto berubah. Terlalu banyak resiko yang menanti di depan mereka.
"Oneechan" suara Naruto membuyarkan lamunannya. Hinata melihat ke arah Naruto.
"Lho? Di mana Menma?" tanyanya
"Itu" jawab Naruto sambil menunjuk ke arah Menma dengan kepalanya. Kakaknya itu sudah berjalan cukup jauh di depan. Hinata bahkan tidak sadar kalau mereka tertinggal.
"Aku menyuruh Oniisan berjalan lebih dulu" kata Naruto. Oh, jadi mereka tidak tertinggal.
"Kau cemas padaku, bukan?" tanya Naruto ketika mereka kembali berjalan, namun berjalan sangat pelan.
"...Aku ingin bilang tidak. Tapi kau harus tahu. Akulah satu-satunya di sini yang sangat cemas"
"Kenapa?"
"Karena kau masih sangat muda untuk mencintai seseorang dengan serius. Itu sangat mustahil. Usia sepertimu bisa dengan mudah mencintai siapapun gadis yang menurut kalian menarik "
"Jadi, Oneechan kau tidak percaya padaku?"
"Itulah yang aku cemaskan. Aku takut karena aku belum bisa mempercayaimu sepenuhnya. Aku takut kalau dalam beberapa bulan ke depan perasaanmu akan berubah. Itu wajar. Karena kau masih sangat mudah"
"Naruto, cepat! Aku dan Hinata-san bisa telat!" seru Menma yang berjalan di depan sana.
"Kita perlu berbicara lagi, nanti" kata Naruto serius. Hinata mengangguk kemudian hendak berjalan lebih dulu ketika Naruto tiba-tiba menarik rambutnya.
"Hm? Ada apa?"
"...Tidak" gumam Naruto. Pemuda itu lalu melepas rambut Hinata dengan pelan. Naruto menatap Hinata yang berjalan semakin ke depan. Jelas sekali kalau gadis itu mencemaskannya. Tapi Naruto benar-benar menyukai Hinata. Ia benar-benar mencintai gadis itu. Masalah usia mereka memang menjadi masalah yang paling besar di sini. Naruto mengerti bagaimana kecemasan gadis itu. Ia tahu kalau di usianya, memang mudah bagi mereka untuk jatuh cinta pada gadis manapun yang menurut mereka menarik. Karena mereka masih sangat muda, jadi mereka hanya memikirkan apa yang sekarang mereka jalani. Mereka tidak memikirkan bagaimana ke depannya. Mustahil anak SMP usia empat belas tahun bisa mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh. Itulah kenyataan yang sering terjadi. Tetapi Naruto sudah tahu apa yang dirinya inginkan. Ia sudah memikirkan bagaimana ia akan menghadapi perbedaan usia mereka. Ia sudah siap meyakinkan siapapun yang tidak percaya bahwa ia serius mencintai Hyuuga Hinata. Namun, Hinata sendiri bahkan meragukannya. Naruto tidak akan ragu meskipu usianya memang masih sangat muda. Jika memang tidak ada yang bisa menerima perasaannya terhadap Hyuuga Hinata. Naruto akan melakukannya. Ia bisa melakukan apapun untuk membuktikannya. Bahkan jika ia harus menunggu selama bertahun-tahun untuk bersama gadis itu. Asalkan gadis itu adalah Hyuuga Hinata. Naruto akan mencobanya. Mencoba melakukan hal yang paling baik yang bisa ia lakukan untuk gadis itu.
Hyuuga Neji duduk di ruang keluarga dengan wajah tegang. Ia sedang mempersiapkan dirinya untuk berbicara dengan Ayahnya. Hinata sudah pergi untuk les piano seperti biasa. Ayah mereka akan pulang sebentar lagi. Ia harus berbicara sebelum Ayahnya mengetahui hal ini dengan sendiri. Memberitahu Ayah mereka jauh lebih baik daripada membiarkan beliau mengetahuinya dengan sendiri. Ini semua demi Hinata. Neji tidak ingin Hinata mengalami apa yang pernah ia alami dahulu.
"Neji" panggil Ibunya yang baru saja pulang dari menjemput Hanabi yang juga les namun adik perempuannya yang terakhir itu mengikuti les yang berbeda.
"Kau ingin berbicara dengan Ibu, bukan? Hanabi, naiklah ke kamarmu" kata Ibunya. Hanabi mengangguk lalu berlari kecil menuju kamarnya.
"Ada apa?" tanya Ibunya yang sudah duduk di samping Neji.
"Aku mau Ibu membantuku berbicara dengan Ayah" kata Neji langsung
"Hah? B-berbicara masalah apa? Ibu mohon jangan buat masalah lagi"
"Tidak, Bu. Ini bukan masalahku. Ini tentang pemuda yang Hinata sukai." Ibunya langsung terdiam begitu Neji mengatakan masalahnya. Pemuda yang Hinata sukai. Ibu mereka memiliki firasat yang buruk tentang ini. Entah kenapa. Mungkin akan sama seperti yang pernah terjadi pada Neji. Karena Hyuuga Hiashi bukan pria yang mudah untuk diajak berbicara tentang sesuatu yang sudah jelas tidak ia sukai. Atau membicarakan sesuatu yang sensitif mengenai siapa yang disukai oleh anak-anaknya. Bagi Hiashi, Neji, Hinata, dan Hanabi adalah harta yang tak boleh sembarang orang memiliki mereka. Tak boleh sembarang orang pula bisa melihat dan menatap mereka.
"Sebaiknya kita menunggu Hinata pulang" kata Ibu
"Jangan. Hinata pasti akan berbicara yang membuat suasana hati Ayah memburuk. Aku hanya ingin memberitahu Ayah siapa dan pemuda seperti apa yang Hinata sukai. Ibu akan membantuku berbicara. Seharusnya kita bisa mendapatkan keputusan Ayah sebelum Hinata pulang. Apakah Hinata harus berhenti atau terus menyukai pemuda itu"
"Kau sudah mengenal pemuda yang Hinata sukai?"
"Kami tak pernah berbicara. Tapi aku sudah menyelidikinya, Bu"
"...Pemuda seperti apa dia? Jika dia bisa cocok dengan apa yang Ayahmu inginkan sebagai pendamping Hinata, maka kita tak perlu khawatir"
"Awalnya aku kaget, Bu. Kupikir Ayah pasti akan langsung menolak jika tahu siapa yang Hinata sukai. Tapi, sesuatu yang tak terduga terjadi malam lalu. Jadi, aku ingin memastikan apakah Ayah masih akan menolaknya atau malah sebaliknya"
Jam menunjukan pukul lima sore ketika Hyuuga Hiashi akhirnya pulang. Ia kaget ketika melihat istri dan putranya ternyata sudah menunggunya dengan wajah serius.
"Ada apa ini?" tanyanya sambil melonggarkan dasinya. Sementara istrinya langsung membawakan tas kerjanya kemudian bergegas membawa tas tersebut ke kamar. Istrinya kemudian kembali ke ruang keluarga dengan cepat dengan membawa minuman untuk suaminya.
"Ayah, aku ingin membicarakan masalah pemuda yang Hinata sukai." Kalimat Neji langsung mengurungkan niat Hyuuga Hiashi untuk minum. Ayahnya meletakkan kembali minuman tersebut di atas meja.
"Jika latar belakangnya seperti gadis yang dulu pernah kau sukai itu, kau seharusnya tahu kalau pembicaraan ini akan sia-sia" kata Hiashi. Neji melihat pada Ibunya sebentar lalu kembali pada Ayahnya.
"Keluarganya baik-baik saja"
"Kalau begitu bagus. Lalu, bagaimana dengannya? Apa kau yakin dia bisa menjaga Hinata?"
"...Dia...lebih muda dari Hinata" kata Neji akhirnya. Seketika itu suasana yang tadinya tak terlalu tegang berubah. Hyuuga Hiashi menatap Neji dengan kedua matanya yang membulat kaget. Bukan hanya Ayahnya. Ibunya pun juga kaget. Mereka menatap ke arah putra mereka itu.
Neji tidak merasakan apapun dalam pandangan Ibunya. Hanya ada rasa kaget di sana. Namun, tatapan Ayahnya jelas sekali berbeda. Neji mengingat cara menatap itu. Sama seperti ketika dahulu ia mengaku menyukai gadis yang menurut Ayahnya tak pantas bagi keluarga mereka. Tak pantas baginya pula.
"Siapa?" suara Ayahnya berubah sangat dingin
"...Naruto. Uzumaki Naruto"
Hyuuga Hiashi menatap kaget pada Neji untuk kedua kalinya. Neji melihat reaksi Ayahnya jauh lebih dingin dari yang tadi. Tentu saja Ayahnya kaget. Beliau tidak akan mengira kalau pemuda yang disukai putrinya adalah anak yang ia kenal. Sekarang bagaimana, Ayah? Bukankah Ayah ramah pada Uzumaki Naruto? Apakah Ayah masih bisa ramah dan menerimanya sebagai pemuda yang Hinata cintai? Yang dua tahun lebih muda dari Hinata. Masih terlalu muda bahkan untuk bertanggung jawab pada putrimu yang begitu kau cintai dan kau jaga seumur hidupmu.
"Apa kau yakin Hinata menyukai anak itu?"
"Ya"
"Di mana Hinata?"
"Lesnya akan selesai sebentar lagi"
"Neji"
"Ya"
"Sebelum Hinata pulang, pastikan kau sudah mendapatkan sekolah baru yang baik untuk adikmu dan besok Hinata sudah langsung bisa masuk ke sekolah tersebut"
"Ayah?" Neji berseru sangat kaget. Sementara Ibunya benar-benar terdiam. Ibunya akan menangis sebentar lagi.
"Selesaikan masalah yang Hinata buat malam ini juga"
Naruto tersenyum menatap Hyuuga Hinata yang sedang duduk di sisinya sambil memainkan piano. Ia pergi melihat Hinata latihan piano sore ini. Hanya tinggal mereka berdua di dalam ruang les karena kelas les Hinata telah selesai sejak pukul lima sore tadi. Hinata sedang memainkan satu lagu untuknya. Katanya sebagai hadiah untuk kemenangan turnamen karate waktu lalu. Ia menyukai gadis itu. Ia menyukai caranya bermain pinao. Naruto menyukai semua hal tentang Hyuuga Hinata. Jadi, bagaimana mungkin ia bisa ragu pada perasaannya sendiri bahkan jika usianya lebih muda dari Hinata?
"Hinata" panggil Naruto.
"Hm?" Hinata menyahut sambil terus meminkan piano
"Aku bisa mencintaimu sebagai pria dewasa" ujar Naruto. Hinata langsung berhenti meminkan jari-jarinya di atas piano. Gadis itu menoleh pada Naruto. Kemudian tersenyum.
"Tidak perlu. Kau hanya harus mencintaiku dengan caramu"
"Kau percaya padaku?"
"Jika aku tak percaya semuanya akan berakhir. Kau akan menjadi pria dewasa suatu saat nanti. Aku akan menunggumu"
"...Hinata, apa aku boleh...memelukmu?" tanya Naruto lagi. Kedua kening Hinata terangkat. Gadis itu tertawa kecil. Sejak ia muncul di gedung les pianonya. Naruto tak lagi memanggilnya 'neechan'. Anak itu terlihat ingin bersikap dewasa. Pikirnya, dengan tidak memanggil namanya dengan tambahan 'neechan' akan membuat mereka terlihat seusia.
"Aku tiba-tiba merasa khawatir" gumam Naruto ketika akhirnya Hinata lah yang memeluknya. Pemuda itu memeluk Hinata semakin erat.
"Aku juga khawatir"
"Kau akan tetap di sini, bukan? Bersamaku"
"Tentu saja. Bukankah setiap hari aku melewati rumahmu?"
"Aku hanya takut. Jika tiba-tiba kau tidak lagi berjalan di jalan yang sama ketika berangkat dan pulang sekolah. Aku takut kalau saat pagi hari aku tak melihatmu melewati rumahku"
Hinata melepas pelukannya. Gadis itu menatap Naruto dengan tatapan yakin.
"Kita akan selalu berangkat bersama setidaknya sampai masa SMU-ku berakhir, bukan?" katanya dengan senyum kecil.
"Tentu saja" seru Naruto yang sudah kembali bersemangat.
Hinata kemudian membereskan barang-barangnya karena ia harus segera pulang. Mobil yang menjemputnya sudah ada di depan gedung. Ini sudah pukul setengah enam sore. Naruto mengantar gadis itu sampai Hinata masuk ke dalam mobil.
"Sampai bertemu besok" ujar Hinata dengan senyum lebar
"Neechan." Naruto tiba-tiba memanggil Hinata seperti biasanya lagi. Pemuda itu menunduk tepat di depan Hinata lalu mencium gadis itu tepat pada rambut Hinata yang menutupi telinga kiri gadis Hyuuga itu.
"Aku akan mengirimimu email nanti malam" kata Naruto dengan senyum lebar setelah kembali berdiri. Hinata mengangguk. Gadis itu lalu menutup pintu mobil. Naruto tersenyum lebar ke arahnya sambil melambaikan tangan sampai mobil tersebut menghilang di antara kendaraan-kendaraan lainnya.
[TBC]
