DARK PARADE
.
.
.
Chap 2 : Guru dan Murid adalah MANUSIA
.
.
.
Rate M untuk~ Dead chara, crime
fiendship, drama, adventure, roman? Maybe :v, humor :3
AU
Warning: ooc, typo, eyd murat marit :3, bahasa amburgaul :v, AU, dll yg bikin sakit mata
.
.
.
Kuroko No Basuke selalu punya FUJIMAKI TADATOSHI
.
.
.
.
.
.
Sudah 3 hari semenjak kasus pembunuhan yang terjadi diKS, keadaan para siswa juga sudah mulai tenang. Pihak guru sudah menyelidiki tentang kasus pembunuhan kepala sekolah dan senpai angkatan tahun ke-2, tetapi masih belum membuahkan hasil.
Bukan hanya sidik jari yang tidak dia tinggalkan jejak dan bekas goresan pun tidak nampak. Membuat orang-orang yang percaya tahayul semacam Midorima menganggap jika apa yang terjadi merupakan ulah makhluk gaib.
Walau dia memiliki pemikiran yang cukup realistic seperti Akashi, tapi tetap saja jiwa ke'dukun'annya membuatnya lebih percaya akan ramalan bintang dan Oha asa dari pada Takao Kazunari yang notabene adalah teman sekamarnya.
"Ah menyebalkan, gara-gara permainan konyol ini aku jadi tidak diperbolehkan keluar asrama." gerutu Murasakibara sambil memakan pockynya.
"Sabarlah Atsushi, lagi pula makanan mu kan banyak. Kau juga masih bisa memesan lewat media online kan." jawab sang poni alay yang biasa dipanggil 'Murocin' oleh Murasakibara Astuti eh? Maaf maksud author Atsushi.
"Tapi jika bisa memilih sendiri kan lebih enak dari pada membayangkan didepan computer saat memilih." sahut sang titan ungu bermata selalu sayu itu.
"Kau harus mulai terbiasa ne Murasakibara~." sahut jenaka dari pemilik mata rajawali.
"Mana mungkin bisa Takao." sungut Murasakibara.
"Hemb…berusahalah Murasakibara, jika kau bisa menyelesaikan game ini semua akan berakhir." ujar pria berkacamata dan berrambut hujau, Midorima Shintaro. Rambutnya yang berwarna mencolok tertutup tudung pengantin sedangkan sepatunya adalah sepatu untuk ke sawah. Kalian ingin tertawa saat membayangkannya? Silahkan. Kebetulan tadi 'Bakao' panggilan kesayangan dari Midorima untuk Takao, telah menertawakannya hingga sakit perut.
'Seperti biasa penampilannya sunguh sanggat sesuatu sekali.' batin Himuro berteriak. Bukan karena minta makan loh ya~.
"Clue yang diberikan tidak ada Midochin mana bisa aku memecahkannya. Akachin yang pintar saja tidak bisa apa lagi aku yang tidak terlalu pintar ini." keluh Murasakibara sambil memakan keripiknya.
Saat ini mereka berempat sedang berada diruang istirahat. Ruangan ini adalah ruang khusus untuk bersantai, meski bisa difungsikan sebagai ruang belajar raksasa saat akan ada ujian.
"Ngomong-ngomong teman kalian yang lain dimana?" tanya Takao sambil memakan keripik Murasakibara. Dengan kemampuan mata yang 11-12 dengan doujutsu dia berhasil mencomot sedikit keripik dari cengraman sang buto ungu.
"Benar aku dari tadi pagi juga tidak melihat mereka, terutama Aomine. Dia semakin misterius sekarang." ujar Himuro kalem sambil memandang Murasakibara yang berusaha menyembunyikan harta(keripik) berharganya dari tangan setan semacam Takao.
" Mereka sibuk berlatih di-GYM, dan untuk Aomine….aku tidak tahu." jawaban dari Midorima cukup membuat Murasakibara dan Takao terdiam.
Bila ditenggok selama 3 hari terakhir ini memamng benar sang manusia hitam itu cukup jarang terlihat. Padahal biasanya dia terlihat menggangu Sakurai atau beradu argument dengan Haizaki.
"Bukan hanya Aomine saja yang aneh tapi Haizaki juga, tiba-tiba dia jadi sanggat pendiam. Ada apa ya?" sambil memangu dagu Takao berkata.
"Bukannya sudah jelas ya…." ucapan ambigu dari Murasakibara membuat Midorima, Himuro dan Takao memandangnya. Belum lagi efek berkata tanpa dilanjutkan itu tentu saja sebagai manusia normal mereka penasaran dengan perkataan Murasakibara, karena itu mereka tetap diam seolah itu adalah 'kode' dari mereka agar Murasakibara melanjutkan perkataanya.
Setelah lama menunggu ternyata tidak ada sahutan dari Murasakibara cukup membuat Takao geregetan sendiri. Pasalnya diantara mereka bertiga dia adalah tipe orang yang paling mudah merasa penasaran dan paling mudah berkata jujur jika dia penasaran.
"Jelas apanya Murasakibara? Coba jelaskan." tuntut Takao tidak sabaran
"Sudah jelas jika ada udang dibalik tempura dan ebi fry.", jawab sang small titan dengan tanpa dosa. Sedang Midorima, Himuro dan Takao hanya bisa mengurut dada sabar. Memang susah ngomong sama pemuda ½ oon dan ½ makanan.
.
Ceklek
.
Suara pintu dibuka membuat mereka secara spontan menoleh kearah pintu. Terlihat sesosok pria berambut Blonde dan berwajah cantik disana. "Oh" respon mereka bersamaan sebelum kembali pada aktifitas mereka masing-masing, seolah orang bernama Kise itu hanya butiran upil dimata mereka.
"Ugh respon kalian datar sekali sih-ssu." kata Kise sambil memajukan bibir. Berpose seimut mungkin.
"Berhenti menggunakan wajah itu Kise, kami pria mana mungkin akan berteriak jika kau menawan dan sejenisnya.", ucapan Midorima membuat Kise pundung sejenak.
"Aku membawa kabar gembira untuk kita semua desu~." model bling-bling itu melanjutkan ceritanya yang tadi sempat dipotong karena pundung.
"Jika yang kau maksud adalah kulit manggis yang kini ada extracnya sebaiknya kau tidak usah cerita." balas Himuro kejam.
"Ini bukan tentang itu-ssu, ini tentang Akashi-cchi."mendengar kata 'Aka' membuat ke-empat ah bukan maksud author ke lima pasang mata memandangnya penasaran. Masalahnya yang menjadi topic pembahasan adalah Akashi Seijuro sang anak miliuner di Jepang.
"Percayakah kalian tadi dia dikalahkan oleh Aomine-cchi loh~." jelasnya bersemangat.
"HAH?" teriak mereka berempat berbarengan.
"A-aomine? Maksud mu Aomine Daiki." jabar Takao dengan wajah syok dan setengah tidak terima. Bayangkan Midorima yang digadang-gadang sebagai nomor dua diKS tidak bisa mengalahkannya, tapi si dekil yang doyan oppai itu yang malah menang.
"Aku tidak membaca bagian Virgo tadi pagi.", ujar Midorima sambil mulai mengetik pesan di ponselnya untuk mengucapkan selamat pada Aomine.
"Hehe… tentu saja Aomine-cchi kan hebat, tapi sepertinya memang ada yang aneh sih-ssu." lanjut Kise pelan.
"kenapa Kisechin?" Murasakibara Nampak tertarik dia bahkan menaikkan sebelah aslisnya.
"um entah."nada suara Kise yang terdengar agak takut membuat yang lain terdiam.
.
'Dia ahli berkamuflase dan berbaur'
.
"Apa-"
"Apanya yang apa Takao-san?"
"Eh? Huwah.." ucapan Takao terhenti saat Kuroko tiba-tiba muncul. Disusul dengan pekikan tertahan dari dia dan yang lain.
"Sejak kapan kau ada disini Kuroko-san?" ujar Himuro sambil mencoba menetralkan detak jantungnya.
"Sejak dari tadi.", balas Kuroko singkat padat dan tidak terlalu jelas. Itu hanya membuat mereka yang berada disana sweetdrop berjamaah.
"Uh tidak jadi hehe….", jawab Takao sambil terbata. Sejak saat itu mereka tahu jika Aomine patut untuk diwaspadai.
.
.
.
"Hei kau tahu kemarin Akashi dikalahkan loh."
"Benar oleh Aomine kan."
"Aomine benar-benar keren."
"Monster mengalahkan monster."
Suara para siswa yang memuja Aomine secara berlebihan membuat telinga Haizaki panas. Pasalnya dia cukup benci dengan si kulit remang itu. 'Cih baru juga shogi.' batin Haizaki berteriak tidak terima.
Bruk
Tanpa sengaja Haizaki menabrak seorang pemuda berrambut coklat cerah, "Oi jalan pakai mata." sebagai pihak penabrak Haizaki tidak malah minta maaf tao malah memaki si pemuda pendek tersebut.
"Ma-maaf… kumohon maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf maaf aku memang salah ku mohon maafkhan aku ku, aku mohon maaf." sahut sang tertabrak sambil berojigi-ria didepan prmuda berrambut silver tersebut.
"Hem.", respon Haizaki singkat sambil berlalu.
'Uh ku harap dia memaafkan ku.', batin Sakurai sambil memandang punggung Haizaki dari belakang.
.
.
.
Makan malam sudah tiba, para siswa KS beserta para guru kini berada diaula makan. Aula ini terdiri dari meja panjang yang dipenuhi oleh makanan dan bangku panjang untuk duduk.
"Apa semua sudah berada disini? Apa semua sudah duduk dimeja masing-masing? Bagus, jika begitu kita bisa mulai makan." ucapan dari Imayoshi menjadi awal dari perbutan makanan besar-besaran. Sebut saja Murasakibara yang dengan bringasnya menguasai meja makan.
Topik kekalahan Akashi menjadi tren untuk diperbincangkan disaat makan, untung Akashi tidak ambil pusing dengan hal itu. Tapi tetap saja dia masih tidak percaya bisa dikalahkan dengan mudah. Jika itu Shintaro dia masih bisa paham tapi ini Aomine. Aomine daiki ace Kisedai yang freak akan basket dan suka udang dan fans nomor satu 'Mai-chan'. Entah mengapa kediaman Daiki dan kepintarannya yang tiba-tiba naik membuatnya penasaran. Apa selama ini dia menyembunyikan keahliannya.
Akashi menggertakkan gigi sebal. Jika memang iya kenapa harus saat melawannya kenapa bukan saat melawan orang lain, dia kan benci kalah. Tanpa disadari Kuroko melihat gerak-gerik Aomine yang terlihat cuek dan wajah kesal Akashi sambil tersenyum aneh.
.
.
.
"Oi Sakurai aku minta makanan mu ya." tanpa pamit dan permisi Aomine langsung mengambil lauk milik Sakurai bahkan sebelum sang pemilik sempat menjawab pertanyaanya.
"A-aomine-kun tidak baik mengambil milik orang lain. Aomine-kun kan sudah punya sendiri." ujar Furihata. Matanya yang kecil melihat Aomine takut-takut.
"Kau diam saja." balas Aomine sambil melotot.
"Ugh.." badan Furihata terlihat sedkit bergetar karena takut.
"Aomine-cchi jangan ambil makanan orang-ssu." Kise berkata marah sambil merebut sumpit Sakurai yang dipakai Aomine, untuk dikembalikan pada Sakurai.
"Ka-kalau kau mau… kau bisa ambil milikku Aomine-cchi. Jangan punya dia."tawar Kise sambil melotot kearah Sakurai.
"Tapi aku lebih suka punya dia."ujar Aomine tidak tahu malu.
"Ma-ma-maaf tapi a-aku juga tidak masalah kok." jawab Sakurai pelan.
"Bagi mu memang tidak masalah tapi bagi ku itu masalah." sunggut Kise.
Mengabaikan Kise dan Sakurai yang asik saling mempelototi, Aomine memilih makan milik Furuhata sedang makananya sendiri dimakan Furihata. Semacam bertukar piring. Acara saling mempelototi mereka berakhir ketika suara ribut dari meja guru didepan terdengar.
"O-oi Hayakawa kau bisa mendengar ku?" teriak panic Moriyama. Didekapannya pria bertrenmark 'Lebound'itu. Kejadiannya cukup singkat saat mereka sedang asik makan tiba-tiba Hayakawa pingsan.
"Uugh-huwek…" suara salah satu murid sambil memuntahkan cairan merah pekat dari mulutnya.
"Furuhashi kau kenapa oi? Hei bertahanlah." dengan panic Hara dan Hanamiya segera melarikan temannya ke UKS bersama 2 temannya yang lain. Dengan cepat keadaan berubah menjadi kacau karena ada lebih dari 20 siswa yang tiba-tiba memuntahkan darah.
Bruk
Pluk
Pundak Aomine terasa berat, saat dia menolehkan kepala ke samping dia begitu kaget melihat sesosok pemuda berambut coklat tanah menyender padanya.
"Eh? Furihata? O-oi kau kenapa."Tanya Aomine panic sambil mengguncang tubuh Furihata kasar. Wajahnya membiru dan badannya sanggat dingin.
"Dia tewas." ujar Kise disamping Aomine yang baru selesai plototan dengan Sakurai.
"Apa tewas?" ulang Aomine tidak percaya. Dilihatnya denyut nadi Furihata. Tapi tak tampak adanya tanda-tanda kehidupan. "Bo-bohong.", dengan terbata Aomine berkata.
Deg
Entah mengapa hatinya merasa tidak enak "Sakurai dimana dia Kise?" bentak Aomine sambil mengguncang bahu Kise.
"Eh? Dia tadi keluar sambil menutup mulut." jawab Kise polos. Tanpa berkata apapun Aomine pergi keluar menyusul Sakurai.
.
.
.
"Apa-apaan ini…", Aomine menatap ngeri pemandangan didepannya. Lantai lorong asrama ini dipenuhi oleh darah dan ceceran usus. Mengingat ini bukan Halloween sudah jelas ini ulah pembunuh itu.
.
'Ia profesional'
.
Deg
Dengan segera Aomine pun berlari mencari Sakurai, sepanjang lorong. Sampai dia tiba dipersimpangan menuju ke arah barak tidur dan ruang sekolahan.
Aomine memutuskan untuk pergi kearah barak tidur. Dipacunya kakinya untuk berlari secepat yang dia bisa. 'Ku harap tidak ada hal buruk yang terjadi pada mu Sakurai.', batin Aomine.
.
.
.
Tap
Dibukanya pintu kamar Sakurai dan Hara, kamarnya begitu gelap dan tidak ada penerangan selain lampu lorong. "Oi Sakurai kau didalam?" teriak Aomine sambil menyalakan saklar lampu. Kamar Sakurai tidak seluas kamarnya jadi mudah saja mengetahui dimana letak tombol lampu kamar medium.
Setelah berkeliling kamar Aomine tidak menemukan hasil apapun. "Mungkin Sakurai ke UKS untuk meminta obat." begitulah fikir Aomine.
Saat Aomine akan melangkah keluar kamar matanya terpaku pada sebuah buku berwarnya biru tua diatas meja. Dari yang terlihat tampaknya itu meja Sakurai karena terdapat beberapa fotonya.
"Buku gambar ya?"Tanya Aomine pada dirinya sendiri. "Tampaknya menarik." dibukanya sketch book tersebut.
"Apa? Isinya gambar cowok semua."teriak Aomine najis dan dengan cepat dilemparnya buku tersebut sampai menabrak tembok dan isinya berserakan dilantai.
"Tsk sudahlah toh bukan urusan ku sebaiknya aku bergi saja." ujar Aomine sambil berjalan kearah pintu, tanpa tahu jika diantara lembaran-lembaran itu terdapat gambar dirinya.
.
.
.
Keadaan diluar benar-benar kacau, dari hampir 50 orang yang keracunan 4 diantaranya tewas, 7 orang dinyatakan hilang dan sisanya masih kritis.
"Tempat ini sanggat kacau, seperti waktu itu." Aida Riko namanya sang dokter kesehatan diKS.
"Yang waktu itu tidak separah sekarang. Dia bukan hanya membunuh tapi juga meracuni. Dia mempermainkan kita." guru sejarah Hyuuga ikut angkat bicara.
"Sudah-sudah hal ini tidak akan membuat masalah selesai. Yang harus kita lakukan adalah menangkap pelaku sebenarnya." Kiyoshi sebagai guru olahraga angkat suara. Mereka berada dikantin KS.
"Usahakan untuk selalu membawa shut gun mu Riko dan harap selalu waspada. Dia bisa menjadi siapa saja dan datang dari mana saja."saran Hyuuga. "Hai." jawab Kiyoshi dan Riko berbarengan.
"Nampaknya kita sudah tidak bisa percaya pada makanan siap saji disekolah ini ya hahahahahah…" tertawaan garing Kiyoshi tak mampu melunakkan suasana. Jika biasanya Hyuuga akan mengomel soal itu kini dia diam. Begitu pula dengan Riko yang biasanya melerai mereka.
"Aku akan kembali." ucap Riko sambil berdiri.
.
.
Riko memutuskan kembali melalui jalan memutar, entah mengapa dia merasa butuh belaian angin malam untuk menenagkan pikirannya. Jalan yang dilaluinya beratap sehingga jika sewaktu-waktu hujan para anggota sekolah masih bisa pergi keberbagai tempat tanpa takut terkena hujan air atau salju. Dengan santai dia berjalan sampai 'tes' sesuatu menetes jatuh dipipinya.
"Yare-yare belum hujan dan atapnya sudah bocor." ucap Riko pelan sambil mengusap tetesan tersebut. Tetapi tetesan tersebut bertambah banyak dan deras.
"Ih kok tambah banyak sih. Uh?" setelah membersihkan wajah dan kepala Riko kaget melihat warna tangannya.
Glup. Riko menelan ludah pahit. Diangkatnya kepalanya pelan-pelan untuk melihat keatas.
Srek
Sesosok bayangan hitam tiba-tiba datang dari arah belakang Riko. Saat dia mau melihat ke atas.
Bruk
"Gyaaaaaaaaa~"
.
.
.
TBC
Butuh kritik dan saran yang membangun
