DARK PARADE

.

.

.

Rate M

AU

Dead chara, crime, fiendship, drama, adventure, roman? Maybe -_-, humor :3

Warning: ooc, typo, eyd murat marit :v, bahasa amburgaul :3, dll

Kuroko No Basuke selalu punya FUJIMAKI TADATOSHI

.

.

Chap 3 : Serangan Acak

.

.

.

'A-are…. Kenapa badan ku berat ya….' Dengan mata terpejam Riko membatin, badannya terasa kaku dan tubuhnya lemas. Kedua bola matanya tak mau terbuka untuk sekedar memperlihatkan keadaan sekitar. Dia dapat mencium bau anyir darah, tapi dia tidak tau itu darah milik siapa.

.

.

.

Brak

Kiyoshi memandang Hyuuga heran, "Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menggebrak meja? Apa kopi kalengan mu kepahitan?" Kiyoshi menatap kopi kaleng Hyuuga sebentar sebelum kembali menatap wajah Hyuuga. Alis Hyuuga menekuk dan keningnya berkerut entah mengapa perasaanya sangat tidak enak, "Aku akan menyusul Riko." Dan dengan berakhirnya perkataan tersebut Hyuuga pun pergi meninggalkan Kyoshi sendiri dikantin sekolah. "Are? Aku sendirian yah~." Ditatapnya arah Hyuuga pergi.

"Tak perlu memasang wajah sedih Kyoshi-sensei. Aku akan menemani mu."

Kyoshi memutar kepalanya cepat kesamping. Tak jauh darinya terdapat seorang pemuda yang bersembunyi disisi gelap kantin. Kantin sekolah memang menjadi salah satu tempat seram sekaligus 7 misteri sekolah di KS, bukan tanpa sebab hal itu terjadi melainkan karena suasana yang mendukung serta saat malam hari penerangannya tidak menyeluruh padahal pihak sekolah sudah berulang kali mengganti lampu dikantin.

"Kau siapa?" sebuah kalimat Tanya terlontar dari bibir sensei berjiwa besi, dengan cepat diapun berdiri dan sebelah tangannya diselipkan kebelakang punggung untuk menyentuh peganggang pistolnya.

Siapa tahu si pemuda misterius tersebut berbuat macam-macam, lagipula disituasi seperti ini seseorang cenderung bersikap paranoid. "Santai saja sensei, dan aku yakin kau tau siapa aku." Ujar sang pemuda tanpa beranjak dari tempatnya.

"Apa kau sang pembunuh?" tanpa gentar Kyoshi membuka suara.

"Hahahahahahahha…." Hanya tertawaan renyah dari sang lawan bicaralah yang terdengar, membuat Kiyoshi menyeryitkan alis dalam.

"…Aneh sekali Sensei bertanya seperti itu kepada ku. Bukankah beberapa tahun lalu Sensei adalah pelaku dalam game ini." Sahutan dari pemuda itu membuat Kyoshi terbelalak kaget. 'Bagaimana dia bisa tau? Itu kan rahasia sekolah.' Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis Kiyoshi.

"Tak perlu sekaget itu Sensei. Aku tau semua hal tentang sekolah dan pemerintahan dunia Sensei. Sejarah kelam nan kotor serta menjijikkan tentang dunia. Aku tau semuanya." Kyoshi yakin sang pemuda pasti sedang menyeringai sekarang ini.

Dari tingginya Kyoshi bisa mengikira-kira jika sang pemuda masih lebih pendek atau sejajar dengannya, selain karena factor dia berdiri ditempat gelap sang pemuda juga berjarak cukup jauh dengannya.

"Begitu kah? Lalu apa mau mu sekarang?" Kyoshi masih berusaha untuk bersikap santai. Pemuda ini masih muridnya tidak mungkin dia langsung menembaknya. Hal itu akan dilakukan jika sang pemuda melakukan tindakkan diluar nalar.

"Seperti yang ku katakan Sensei jika aku akan menemani mu."

"Ah begitu ya, terima kasih tapi kurasa aku tidak butuh."

"Uh begitukah? Baiklah sa-yo-na-ra." Jawab sang pemuda sebelum menghilang hawa keberadaanya menghilang.

Perasaan Kyoshi makin tidak enak, "Aku akan menyusul Hyuuga dan Riko!" saat Kyoshi akan melangkahkan kaki pergi dari kantin tiba-tiba ponselnya berbunyi.

"Halo Kyoshi disini…apa? Baik aku kesana." Dengan tergesa Kyoshi pergi dari kantin.

.

.

"Sudah dimulai." Ucap sebuah suara dari pemuda yang sedang bersembunyi dibalik pilar kantin.

.

.

Hyuuga berlari meyusuri jalan yang menurutnya dilewati oleh Riko. 'Kau dimana Riko' dengan tergesa dipacunya kaki miliknya untuk berlari lebih cepat.

Hyuuga berbelok kearah kiri, dilihatnya seorang wanita berrambut pendek berwarna coklat berjas putih. Ditambahnya kecepatan larinya "Ri-" Bruk "Gyaaaaaa~" suaranya tercekat meliahat apa yang terjadi didepannya.

Tap tap tap

Dengan gopoh didekatinya Riko, "Riko hei bertahan lah!" diangkatnya 1/2 tubuh bemandikan darah dari tubuh Riko, 'Korban baru ya.' Hyuuga menatap mayat tersebut miris. Yang tersisa hanya bagian pinggang kebawah sedang bagian atasnya tidak ada. Diangkatnya Riko yang berlumur darah dan dibawanya pergi ke UKS.

"Bertahanlah Riko." Gumamnya pelan.

.

.

Cklek

Kyoshi membuka pintu ruang rapat sepelan mungkin. Dia tidak ingin orang lain tau kegundahan dan kegelisahannya. Siapa tau jika pelaku dalam game ini salah satunya adalah guru disini.

"Ano~ maaf ada apa ya? Kenapa aku dipanggil kemari?"

Semua mata memandang Kyoshi dalam diam. "Bagus kau sudah disini Kyoshi kita perlu berdiskusi sebentar, dan dimana Hyuuga?" alis Imayoshi terangkat melihat Kyoshi datang sendiri.

Jika dia tidak salah ingat tadi dia meminta agar Kyoshi datang bersama Hyuuga karena dia tau Riko akan sibuk mengurus para murid yang sekarat.

Diam

Kyoshi bingung harus menjawab apa. Pasalnya dia tidak tau Hyuuga sekarang ada dimana dengan Riko.

"Eto… kalau tidak salah tadi dia menyusul Riko. Anda tidak perlu khawati, lagi pula dia salah satu dari pelaku game beberapa tahun lalu." Sambil tersenyum Kyoshi berkata. Mencoba membuat dirinya lebih baik tentu saja.

"Ara~ begitukah? Baiklah mari kita mulai rapat ini." Sambil tersenyum rubah Imayoshi berbicara.

Pria bermata biru dan berrambut coklat tua berdiri, sambil memandang sekitar dia berkata "Dari hasil penyelidikan sementara. Cara pembunuhan Kepala Sekolah masih belum diketahui. Banyak yang berkata jika itu perbuatan makhluk lain. Selain tidak adanya jejak dan goresan di cctv pun tak terekam apapun. Kami pernah berfikir jika mungkin saja cctv tersebut telah dimanipulasi, tetapi icon jam di cctv berjalan secara teratur dan tidak ada bagian yang terpotong…." Keadaan menjadi hening sekejap.

"…. Masalah yang kita hadapi sekarang adalah keracunan maasal dan pembunuhan serentak. Dikabarkan 11 siswa hilang tanpa jejak dan belum ditemukan sampai sekarang. Pihak Osis sudah saya perintahkan untuk menyebar secara berkelompok untuk mencari teman mereka yang menghilang. Sedang para siswa yang selamat sedang dikarantina di-GYM untuk penangannan lebih lanjut. Sekian laporan dari saya." Kasamatsu pun duduk kembali setelah melaporkan apa yang terjadi.

Momoi menggigiti bibirnya ganas, sang keponakan belum juga mengangkat telfon darinya. Padahal biasanya langsung diangkat. Karena 'Dai-chan' tau jika sang bibi tidak akan menelfon jika tidak penting. E-mail dan pesan singkat darinya tidak dibalas sedari tadi. Cukup membuat Momoi semakin khawatir.

Srak

Momoi berdiri dari tempat duduknya, "Maaf aku izin kebelakang." Dengan segera Momoi berlari kearah pintu untuk keluar.

"Hati-ha-.." Imayoshi sweetdrop melihat Momoi yang sudah pergi, padahal izinnya belum di'iya'kan. "Hah…dasar anak itu. Semoga saja dia baik-baik saja." gumamnya pelan, selebum kembali focus pada kegiatan mereka yang berputar haluan menjadi mem'bully' Kyoshi.

"…Apa kau tidak berfikir untuk pergi kerumah Riko dan menyanyikannya lagu cinta, dengan sebuket mawar merah berlatarkan guyuran hujan dan petikan giter spanyol?" pertannyaan dari Miyaji mengudara.

Dan dijawab dengan kebisuan Kyoshi. "Bukannya sudah jelas? Dia sudah melakukannya tapi tidak dinotic sama Riko. Salah sendiri suka godain para suster hahahahaha…" Liu Wei lah yang menjawabnya.

Kiyoshi mengerucutkan bibir sebal, "Itu bukan salah ku itu salah susernya cantik." Belanya sambil makin memaukan bibir.

"Entah mengapa melihat mu mengerucutkan bibir membuat ku merasa najis sampai rasanya kerisis ekonomi ini tidak bisa dihentikan hanya dengan ucapan dattebayo atau ttebane! Kitakore… ah itu bagus akan kucatat." Sahutan Izuki yang ngawur membuat keadaan hening sejenak.

"Jadi adakah orang yang kalian curigai?" Fukui membuka pembicaraan baru.

Semuanya terdiam mendengar pernyataan tersebut. "Sebenarnya tadi aku didatangi oleh seorang pemuda. Dia murid disekolah ini dan dia adalah pelaku dari game ini. Aku tidak bisa menembaknya karena keadaan yang tidak memungkinkan. Dan….."

Semua mata memandang Kyoshi penasaran. "…..dia tahu semua rahasia sekolah ini dan pemerintahan dunia."

"?"

Mulut mereka terbuka lebar, "Ba-bagaimana bisa? Ini adalah rahasia pihak sekolah dengan pemerintahan dunia! Jangan bilang dia meretas data kita!" ujar Susa shock.

"Entah aku tidak tau." Kyoshi berkata polos.

"Bisa kau beri tau kami bagaimana ciri-cirinya?" kali ini Imayoshi yang berbicara.

Dengan tidak terlalu yakin Kyoshi mulai mengatakan ciri-cirinya, "Dia…."

.

.

.

Hosh hosh hosh

'Dai-chan kau dimana'

Kaki Momoi terus melangkah menelusuri KS yang luasnya ber hektar-hektar. Sebagai sekolah pelatihan militer untuk calon polisi KS dilengkapi dengan asrama, sekolah dan tempat pelatihan.

Momoi tersentak melihat sesosok bayangan yang dikenalnya, "Ku-kuroko-kun?" nama bernada Tanya itu muncul secara mulus dari bibirnya.

Melihat gerak-gerik Kuroko yang mencurigakan Momoi memutuskan untuk mengikutinya. Momoi berjalan mengendap-endap dengan pelan sambil sesekali bersembunyi ditempat yang tepat.

Zlap

"Ah?" dibungkamnya mulutnya sendiri saat dia hampir berteriak kaget karena listrik tiba-tiba mati. Saat dia kembali memfokuskan pandangannya kearah Kuroko yang dilihatnya hanya udara kosong 'Kurok-kun dia dimana?' tanyanya pada diri sendiri.

"Sebaiknya aku kembali ke tujuan awal ku untuk mencari Dai-chan." Dan Momoi pun mulai melangkahkan kakinya kearah dia datang, tanpa tahu jika Kuroko tengah dibekap oleh seorang pria.

Smirk

.

.

"Sei-chan bagaimana ini~ Aomine-kun masih belum ditemukan. Bisa-bisa kita dihukum pancung oleh Imayoshi-sensei~" tutur Mibuchi pada Akashi dengan nada manja.

Dari sekian banyak orang hanya dialah yang diperbolehkan oleh Akashi memanggilnya dengan nama kecil. Tidak lain dan tidak bukan karena ancamanya yang super najesh. Akashi masih ingat bagaimana Reo berkata "Jika kau tidak mau ku panggil 'Sei-chan' maka kau harus mencium ku desu~" belum lagi wajah mupeng dan liur yang menetes disudut bibirnya. Beruntung Seijuro itu berasal dari keluarga Akashi. Jika bukan pasti dia sudah pingsan dengan mulut berbusa. Bahkan para Kisedai sampai merinding dengan wajah membiru.

Akashi mencoba berpikir logis, sebagai yang maha Absolute dan Mutlak diantara para siswa dan berjabatan sebagai Ketua OSIS dia harus mampu menguasai dan mengkondisikan keadaan. "Pastikan kau menemukannya Reo atau aku akan mengkebiri mu!" ancam Akashi sambil menunjukkan gunting saktinya.

Mibuchi merinding dengan cepat dia berkata,"A-hai Sei-chan" dengan tangan membentuk sikap hormat dan hidung berdarah.

'Huwaaaaaah~ Sei-chan kawai~'

Sementara Hayama dan Ekichi hanya bisa sweeetdrop melihat kelakuan Mibuchi yang setengah sinting.

Kening Hayama berkerut, dengan cepat diputarnya kepalanya kearah sekitar. Dicarinya sesosok pria berambut abu yang menjadi kawannya. "Ano…Mayuzumi dimana ya?" ujarnya dengan telunjuk didagu saat melihat tidak ada bayangan kelabu diantara mereka.

"Mungkin dia latihan untuk otot yeah!"

"Ih itu sih kamu gorilla!" sahut Mibuchi najong. "Selain itu temannya Sei-chan yang dari Kisedai juga belum ditemukan. Si imut berambut biru itu loh~" sambil berusaha mendekat kearah Akashi, Mibuchi berbicara. Sayangnya Emperor Eye Akashi selalu dalam mode aktif jika berdekatan dengannya.

Akashi pun bermanufer dengan cantiknya seolah dia adalah pemeran kapten cebol dari anime titan-titannan, sehingga Mibuchi pun harus bahagia karena nyungsep di tong sampah.

"Lupakan saja dia, kita harus tetap focus pada tujuan utama kita mencari kuroko dan para siswa yang hilang."

"Tapi dia juga hilang kan." Tanya Ekichi tidak mengerti. "Berarti dia juga harus diprioritaskan bukan." Tambahnya.

"Tidak."

"Sekarang kembali bekerja." Perintah Akashi semena-mena. Sementara dia menuju arah lain.

"Sei-chan mau kemana?" Mibuchi sudah bangkit dari keterpurukkannya ditong sampah.

Bukannya menjawab Akashi malah berbelok, meninggalkan tugas OSISnya pada para budak merangkap anggota OSIS.

Wush~

Angina malam berhembus menerpa mereka.

'Dia meninggalkan tanggung jawab.' Jerit batin mereka bersamaan.

.

.

Terlihat dua orang pria bergender sama tapi berfisik berbeda berjalan beriringan dilorong yang sepi dan gelap. Satu-satunya sumber penerangan hanyalah dari cahaya bulan.

"Kita akan berputar-putar disini sampai kapan Shin-chan?"

"Kita tidak berputar-putar Bakao dan entah…mungkin sampai kita menemukan salah satu dari mereka nanodayo." Midorima menaikkan kacamatanya pelan sambil melirik kearah jendela disampingnya yang menampilkan panorama awan mendung.

Takao menoleh untuk melihat Midorima sebentar, sebelum kembali menatapkedepan. Tangannya ditekuk kebelakang kepalanya. "Hah merepotkan sekali yah menjadi Wakil OSIS. Hehe…. Jika kita tidak menemukan mereka dalam keadaan hidup bagaimana Shin-chan? Kan sia-sia sekali kita harus berusaha sekeras ini~" gerutu Takao sambil mengerucutkan bibir.

Midorima melirik Takao sekilas sebelum memasukkan sebelah tangannya kedalam kantung celananya, "Ya mungkin nanodayo." Jawab Midorima sekenanya sambil menyentuh gantungan kunci teletubis yang menjadi lucky itemnya hari ini.

Siaran Oha-Asa memang tidak pernah salah sama seperti Akashi. Bahkan kejadian hari ini juga terbaca oleh sang peramal pujaan Midorima, "Hari yang sanggat buruk bagi kalian para Cancer, musuh mu mengintai mu. Dan dia ada didekat mu. Berhati-hatilah lengah sedikit kau bisa kalah." Sekali lagi Midorima melirik Takao 'Tidak mungkin dia.' Batinnya sebelum kembali melangkah.

.

.

Momoi memeluk lututnya erat, dia sanggat ketakutan. Pasalnya saat sedang asik mencari Dai-chan dia diikuti oleh sesosok bayangan. Sekarang dia bersembunyi dibawah meja guru disalah satu ruang kelas. Momoi berharap Dai-chan atau siapapun akan menolongnya.

Kriet

"?"

Suara pintu terbuka membuat hatinya melencos, ditenggelamkannya surai merah muda sewarna bunga sakura itu dilutut.

Tap

Tap

Tap

Badannya sudah berkeringat dingin. Momoi bahkan dapat merasakan bajunya yang terasa menyatu dengan kulitnya.

Pluk

Tap

Tap

Blam

"Hah~" Momoi menghembuskan nafas lega mendengar pintu tertutup, walaupun dia tidak tau apa yang dilakukan oleh orang itu. Sebab tadi terdengar suara aneh seolah seseorang meletakkan sebuah benda disitu. Merasa sedikit was-was Momoi memberanikan diri untuk bangkit dari persembunyiannya.

Matanya melebar melihat apa yang terpajang ditenggah-tenggah kelas tersebut. Cahaya rembulan membuatnya dapat melihat dengan jelas jika yang terpampang disana adalah sesosok tubuh yang hanya bagian kepala sampai pinggang. Sementara pinggang sampai kaki terpotong.

Smirk

"Karya yang bagus bukan."

Deg

Mata Momoi terbelalak kaget mendengar suara dari sisi samping tubuhnya.

Bluk

"Ugh-" leher belakang Momoi dihantam sesuatu yang keras. Ditenggah kesadarannya yang mulai menurun Momoi mencoba membuka mulutnya pelan untuk mengatakan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar. Saat orang yang memukulnya berjalan kearah pintu membukanya dan mulai berjalan pergi, air mata Momoi menetes.

.

.

.

"….Da-dai-chan."

.

.

TBC

Mohon keritik dan saran desu yang membangun

Sampai jumpa dichap berikutnya

Bye~

*-*)/