DARK PARADE
.
.
.
Rate M
Dead chara, crime, fiendship, drama, adventure, roman? Maybe -_-, humor :3
Warning : AU , ooc, typo, eyd murat marit :v, bahasa amburgaul :3, dll
Kuroko No Basuke selalu punya FUJIMAKI TADATOSHI
.
.
.
Chap 4:
Tuduhan Manusia
.
.
.
Aomine meremas erat celana bahannya gemas, "Sialan! Aku harusnya aku bisa menjaganya." Sambl menunduk Aomine berujar pelan. Di depannya teronggok sebuah tubuh yang tertidur dengan disanggah oleh infus. Tubuh itu memiliki surai berwarna merah muda. Ya itu Momoi Satsuki, Bibi Aomine sekaligus guru di KS.
Puk
Sebuah tangan berkulit terang menepuk pundak Aomine pelan, "Jangan khawatir Aominecchi. Semua akan baik-baik saja Alex-san pasti akan menyembuhkan Momocchi." Sambil tersenyum pemilik teknik 'copy' itu berbicara.
"Hum terima kasih Kise. Aku akan focus menangkap pelakunya. Akan ku balaskan dendam Satsuki dan Tetsu." Ujar Aomine dengan nada penuh amarah.
"Jangan terbawa emosi Daiki." Akashi yang sejak tadi diam sambil mengamati mulai angkat bicara. "Dia bukan sesuatu yang bisa kau hadapi sendiri, terutama dengan bermodalkan otot." Komentar Akashi bijak.
"Yang dikatakan Akashi benar nanodayo. Kita harus menyusun rencana, dalamwaktu singkat setelah game dimulai dia mampu membuat KS kacau balau. Dari laporan terakhir yang ku terima dari Takao 50 orang mati dan 26 orang luka-luka." Sahutan enteng dari pemilik surai hijau membuat hampir seluruh mata terbelalak.
Tap
"Ini tidak bisa dibiarkan kita harus cepat bertindak." Dengan terpincang Kuroko mencoba berjalan.
"Tentu saja tapi setelah kau sembuh bocah imut~" nada jenaka keluar dari dokter cantik berambut pirang dan bermata hijau, dengan satu tarikan lembut Kuroko sudah kembali di atas kasurnya. "Nah kalian juga sebaiknya bicara seriusnya ditempat lain saja ya jangan disini." Suara dingin dari Alex berkumandang.
"Hai-hai." Sahut mereka sebelum berlariah ke luar ruangan.
.
.
.
"Ternyata Alex-san bisa seram juga ya. Kukira dia Cuma bisa bergaya seperti cabe saja." walau bernada malas Murasakibara tetap pmeneteskan keringat dingin.
"Dia memang bisa seram jika dia mau Atsushi." Himuro menjawab sambil menyeruput kopi kalengannya pelan. Saat ini mereka berada di lapangan indoor KS.
"Kalau tidak salah Alex-san itu kan kenalan mu Muro-chin, benarkan?" Tanya sang raksasa ungu pada Himuro sambil membuka kripik kentangnya.
"Ya begitulah, dan bukan hanya dia tapi Taiga juga. Dia adalah saudara ku yang berharga. Ya… walau kami tidak benar-benar bersaudara sih." Sambil tersenyum Himuro menjelaskan.
"Ah begitu~ tampaknya Muro-chin sangat bahagia ya jika membahas tentang Taiga, Aku jadi ingin bertemu dengannya." Sambil tetap memakan keripiknya Murasakibara berujar. Yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Himuro.
Shut
"Ah.."
Himuro dan Murasakibara terkaget saat sebuah kunai melesat dari arah samping. "Siapa disana!" dengan nada marah Murasakibara berkata. Diabuangnya keripik kentang yang tinggal ½ itu. Padahal sayang sekali makanan dibuang-buang jadi author ambil saja lah~ lumayan buat ganjal perut #plak.
Tap tap tap
Mereka berdua menunjukkan sikap siaga saat mendengar seseorang melangkah mendekat.
Zlap zlap zlap
"?"
Lampu di lapangan indoor itu tiba-tiba mati.
Zing~
Mereka kembali terkaget-kaget saat atap otomatis lapangan indoor itu terbuka. Menunjukkan langit malam yang cerah dengan rembulan yang bersinar terang.
"Nah bagaimana jika kita mulai permainan kita." Sahut siluit hitam yang kini berada beberapa meter didepan mereka. Tubuhnya tinggi tapi lebih pendek dari Murasakibara namun lebih tinggi dari Himuro. Dari suaranya dia sepertinya menggunakan masker.
Tanpa menjawab Himuro mulai melancarkan serangan pertama.
.
.
.
"Jadi ada apa kau disini Nijimura-kun?" sambil tersenyum rubah Imayoshi berkata pada siswa tahun ke-3 dihadapannya.
"Aku ingin anda menyetujuhi surat penangkapan yang telah kami serahkan kepada Anda."
Diam. Imayoshi hanya bisa diam mendengar penuturan Nijimura. "Kita masih perlu bukti lain Nijimura-kun. Saat ini kita masih menunggu Momoi-san sadar dahulu."
"Jadi maksut Anda kita harus menunggu sampai jatuh lebih banyak korban hah?" digebraknya meja kerja Imayoshi dengan penuh amarah. "Jadi hanya begini saja keadilan di sekolah yang katanya nomor satu ini hah? Cuih…" setelah meludah Nijimura segerah membalik badan dan berjalan ke pintu ruangan tersebut.
"Aku membenci mu- " ujar Nijimura saat tangannya menyentuh kenop pintu. Dengan satu tarikan sekarang pintu tersebut terbuka dan dia mulai melangkah keluar, tapi dia berhenti sejenak untuk berkata.
"-Ayah." Dengan pelan.
.
.
.
Momoi membuka matanya pelan. "Ah… kau sudah sadar ya nona cantik." Suara jenaka di sampingnya membuat Momoi melirikkan mata pelan kea rah samping. "Siapa?" hanya itu yang mampu keluar dari dari bibir Momoi.
"Dia dokter baru Momoi-san, namanya Alex-san. Dia adalah bala bantuan dari pemerintahan dunia untuk membantu tugas Riko-san yang sedang tidak terlalu sehat sekarang." Sahut Kuroko dari yang tiba-tiba berada disamping Alex.
"Huwah kau mengagetkan ku nak!" sergah Alex sambil misuh-misuh. Dan bukan hanya Alex saya karena Momoi juga sempat melebarkan mata sesaat.
"Pertama-tama kau harus minum air putih dulu." Alex segera menata posisi Momoi dan meminumkannya dengan air putih.
"Terima kasih Alex-san." Sambil tersenyum Momoi berkata.
Hug. Cup
"Eeeeeh?" kuroko melebarkan matanya saat melihat Alex yang seenak jidatnya memeluk dan mencium bibir Momoi. Benar mencium. Bahkan Momoi pun juga kaget dengan apa yang terjadi.
"Fuah~ gadis Jepang memang yang terbaik hahahahaha….." sambil tertawa Alex berlalu ke arah kursi kerjanya dengan santai tanpa memperdulikan wajah syok Momoi dan wajah marah Kuroko.
Tangan Kuroko terkepal dengan erat 'Dasar bule sinting awas saja kau.' Ikrar Kuroko dalam hati sebelum mendekat kea rah Momoi. "Kuroko-kun ada apa?" sambil menoleh ke samping Momoi berujar.
Cup
"Eng?" iris Momoi melebar saat merasakan bibir kenyal Kuroko menempel pada bibirnya.
'Ufufufufufu~ mudah sekali rupanya membuat bocah panas dingin.' Tanpa diketahui oleh Kuroko dan Momoi, Alex merekam moment ciuman mereka dengan hidung mimisan. 'Jepang memang yang terbaik.' Alex melting di alam mimpinya.
.
.
.
"Kau tidak berhasil huh Shuzo?"
"Yah si tua Bangka itu masih tidak menyetujuinya Shougo."
"Kalian memang tidak bisa diandalkan! Jika kita tidak segera mencari kambing hitam maka cepat atau lambat mereka akan tahu jika kita pelakunya."
"Aku juga tau bangsat! Kau tidak perlu menasehati ku, sebaiknya kalian pikirkan sesuatu Shougo Chihiro."
"Ya/hem."
.
.
.
"Mereka belum kembali ya?" suara Aomine memecah keheningan.
"Ya belum aku juga tidak tahu kenapa mereka lama sekali. Padahalkan hanya latihan basket biasa." Takao menjawab pertanyaan Aomine sambil berguling-guling dilantai ruang santai KS.
"Mungkin mereka bukan hanya latihan biasa tapi nonton video porno juga-ssu." Sambar Kise ngawur.
"Hah video porno? Kenapa mereka tidak bilang pada ku? Kenapa tidak mengabari ku? Kurang ajar! Jika mereka bisa lihat situs 'anu-anu' tanpa kena Ipo-chan harusnya kan mengajak ku." Teriak Aomine dengan marah membuat banyak mata memandang kearah mereka dengan pandangan aneh.
Cklek. Blam.
"Eh?" mereka yang semula focus pada Aomine segera menoleh ke arah Pintu saat mendengar suara pintu terbuka dan tertutup.
"Tu-tunggu itu tadi Akashi kan?" Tanya Midorima sambil mengucek matanya. "Ja-jangan bilang dia mau ke-" perkataan Midorima terpotong saat melihat Aomine yang sudah masuk zone melesat untuk keluar ruangan.
"Apa lagi yang kalian tunggu ayo ke lapangan indoor." Dengan semangat Takao menyusul Aomine.
.
.
.
"Baik bisa kita mulai serius?" Alex memandang dua orang manusia didepannya dengan wajah seram. "Hai." Sahutan singkat keduanya menjadi pintu pembuka tentang misteri ini.
"Apa kalian tahu siapa yang telah melakukan hal ini pada kalian?" pertanyaan yang cukup biasa ditanyakan oleh detektif dilontarkan oleh Alex.
"Ti-tidak." Gelengan pelan yang didapatkannya dari Momoi sementara Kuroko hanya menatapnya datar.
"Kau berbohong Momoi-san. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dari ku."
Zwang
"Ugh-" Momoi terbelalak kaget saat Alex tiba-tiba berpindah posisi berada dibelakangnya. Tangan kirinya memegang kepalanya disebelah kiri, sementara bibir sang dokter berada tepat di telinga kananya. "Karena kau tidak mau menjawab jujur aku akan menggunakan sedikit kekerasan." Bulu kuduk Momoi merinding saat mendengar suara rendah Alex.
.
.
.
"A-apa yang terjadi!" Aomine melotot saat melihat pemandangan didepannya. Dua tubuh yang sanggat dia kenal tengah tergantung di atas ring basket dengan darah yang mengucur.
Akashi dan yang lain yang baru pun tak kalah kaget melihat apa yang tersaji didepannya. "Midorima lapor pada sensei cepat!" perintah mutlak Akashi. "Hai." Balas Midorima sebelum berlari kea rah ruang guru.
"Ugh-" Kise menutup mulutnya, perutnya melilit. Dia ingin muntah. Dengan terbirit Kise segera lari ke kamar mandi terdekat.
"Kita turunkan mereka dulu ayo!" usul Takao.
"Jangan siapa tahu ada barang bukti yang bisa didapat." Sebelah tangan Aomine memegang lengan Takao. "Yang dikatakan Aomine benar kita tunggu saja sampai para guru datang." Dengan bijak Akashi berkata walau matanya menunjukkan marah.
.
.
.
"Apa mereka baik-baik saja Alex?" Tanya Akashi setelah mereka membawa Himuro dan Murasakibara ke UKS. "Ya mereka baik-baik saja kalian tidak perlu khawatir." Sambil tersenyum Alex menjawab.
Cklek
Sesosok pria berambut silver terlihat memasuki ruangan. "Midorima Shintaro dan Aomine Daiki dipanggil ke kantor. Beserta anggota OSIS." Katanya pelan sebelum kembali keluar.
"Eh dipanggil ada apa ya?" Tanya Takao penasaran. "Entah, mungkin mereka mendapatkan titik terang." Ungkap Midorima sebelum keluar ruangan yang disusul dengan Aomine dan Akashi.
"Sebaiknya kau ikut juga nak." Sambil menepuk pundak Takao Alex berkata. Alis Takao menekuk mendengar perkataan Alex, "Tapi kan aku bukan OSIS."
"Hahahahahah memang kau tidak penasaran sana pergi."
"Hum iya sih~ yasudah aku pergi dulu sampai jumpa." Dengan ceria Takao meninggalkan ruang UKS tersebut.
Dan tanpa disadari oleh siapapun Alex menyeringai dengan lebar. 'Ini baru dimulai' batin Alex.
.
.
.
"Kalian tau kenapa kalian dikumpukan disini?" Imayoshi mulai membuka forum untuk berbicara. Sementara keadaan hanya diisi oleh keheningan. Tampaknya mereka enggan menyela perkataan apapun yang akan keluar dari mulut Kepsek baru mereka.
"Dari beberapa korban yang selamat kamimencoba mewawancarai mereka. Hasilnya kami mendapatkan sedikit petunjuk. Bahwa pelakunya adalah salah satu dari kalian-"
"Jadi pelakunya sudah ketemu? Bagus kalau begitu aku jadi bisa menghajarnya." Sambil mengepalkan tangan Aomine berkata penuh amarah. Hampir semua mata memandang Aomine setuju bahkan Wakamatsu.
"Bukankah itu menunjukkan jika ada kemungkinan jika kau adalah pelakunya. Kan kau juga ada disini." Dengan sengit Haizaki berkata.
"Apa maksut mu hah? Mana mungkin aku melakukan itu apa lagi pada teman-teman dan bibi ku sendiri." Dengan gerakan cepat Aomine megangkat kerah Haizaki.
"Bisa kalian berhenti? Aku masih berbicara loh." Imayoshi berkata datar sambil menumpukan kedua tangannya di meja. Jemarinya saling bertaut.
"Pelakunya diantara kalian Aomine Daiki, Midorima Shintao dan Haizaki Sougo." Lanjut Imayoshi sambil menatap mereka satu persatu.
"Well jika aku yang ku bilang Sensei maka jawabannya tidak mungkin karena aku selalu ada di kerumunan dan bersama dengan Chihiro sera Shuzo. Yah walau aku tak terlalu suka sih bersama mereka" sambil menggaruk belakang leher Haizaki menyangah tuduhan Imayoshi.
"Dasar bocah." Sahut Mayuzumi pelan tanpa mengakihkan pandangannya dari LN ang sedang dibaca, sementara Nijimura hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan Haizaki.
"Aku selalu bersama Takao nanodayo sensei, dan kami menjalankan tugas dari Akashi." Midorima berkata tanpa menaikkan kacamatanya. Menujukkan jika dia sangat percaya dengan perkataanya. "Itu benar sensei kami berputar-putar sebelum menemukan Kuroko tergeletak di lorong." Takao menyahut dengan keras, agaknya dia tidak terima temannya dituduh pelaku pembunuhan.
"Kau punya pembelaan Aomine?" Imayoshi mengalihkan pandan kea rah Aomine. Imayoshi menatap Aomine dengan tatapan yang tidak bisa Author artikan.
"Aku tidak melakukan pembunuhan apapun mana mungkin aku melakukan hal seperti itu pada mereka." Aomine menyentak tak terima. "Memang kau punya bukti?" Kasamatsu angkat bicara. "I-itu…" denga tergagap Aomine mencoba membantah.
"Biar saya yang menjelaskan." Dengan sopan Nijmura meminta izin bicara. Setelah mendpat anggukan dari Wakamatsu dia melanjutkan. "Kami tidak tahu bagaimana cara kau membunuh Kepala Sekolah terdahulu, tapi dari para korban yang terbunuh. Mereka memiliki satu persamaan mereka memiliki suatu hubungan dengan mu. Entah sebagai kawan maupun lawan."
"Tunggu apa maksut mu apa senpai? Aku tidak mengerti" sergah Aomine.
"Biarkan Nijimura-san bicara Daiki." Akashi berkata pelan.
"Mulai dari pembunuhan siswa tahun ke 2, beberapa hari sebelumnya kau terlibat baku hantam dengannya bukan? Kemudian kau di hokum oleh Wakamatsu-sensei. Kemudian Hayakawa-sensei merupakan sensei yang tidak begitu kau sukai karena dia berisik. –"
"Hah? Jangan bercanda mana mungkin aku akan membunuh orang dengan alasan konyol begitu." Sambil mengebrak meja Aomine bersua.
Tanpa memperdulikan Aomine, nijimura melanjutkan "Lalu kau juga memiliki masalah dengan Hanamiya dan kelompoknya. Kau juga suka membully Furihata serta Sakurai. " Nijimura mengambil jeda sebelum melanjutkan tuduhannya. "Saat tragedy aula makan kau merupakan satu-satunya orang yang pergi tanpa sepengetahuan OSIS yang kembali dalam keadaan baik-baik saja. Kuroko dan Momoi-san yang mencari mu ditemukan dalam keadaan yang tidak baik dan Sakurai yang kau cari tewas dengan tubuh termutilasi, jika tidak salah ada salah satu siswa yang melihat jika kau menukar piring mu dengan milik Furihata benar?" Aomine hanya diam mendengar penuturan Nijimura.
"Tapi aku tidak membunuh mereka itu tidak disengaja aku tidak tahu jika piring ku…"Aomine tidak melanjutkan perkataanya.
"Malam itu juga Kyoshi-sensei didatangi oleh pemuda misterius yang tidak salah lagi adalah kau Aomine Daiki!" sambil menunjuk Aomine, Nijimura berkata. "Apa? Mana mungkin aku mencari Sakurai saat itu!" Aomine benar-benar emosi. Dia yang sedang mencari pelaku pembunuhan tapi malah dijadikan tersangka benar-benar sial.
"Sayangnya aku sangat yakin jika itu kau Aomine-kun, ku dengar kau tiba-tiba berubah jadi sosok yang pintar juga bukan." Kyoshi menyahut pelan "Dan tadi Alex telah mengintrogasi Kuroko dan Momoi-san mereka berdua menjawab dengan jawaban yang sama jika-…"
.
.
.
"Dai-chan…"
Air mata Momoi meleleh mengingat kejadian beberapa hati lalu. "Hiks.." matanya sembab menangisi keponakannya yang dia sayangi.
"Jika dia bukan pelakunya pasti Tuhan akan membebaskannya Momoi-san." Kuroko menyahut dengan nada datar. Buaknnya berhenti tangisan Momoi malah semakin menjadi-jadi "Tetsu-kun hiks …. Hiks…" dirematnya selimut yang membalut tubuhnya erat. Hanya itu yan bisa dilakukannya sekarang.
.
.
.
"Ti-tidak mungkin aku tidak-"
"Yah mana ada maling ngaku! Kau bilang mau menghajar pelakunya kan dan sekarang terbukti siapa pelaku pembunuhan ini sebenarnya! Kau harusnya malu A-O-MI-NE DA-IKI." Haizaki berkata dengan congak sambil berdecak pinggang.
Buagh
"Kau benar-benar menjijikkan Daiki."
"Tu-tunggu Akashi aku bisa jelaskan." Dengan tergagap Aomine mencoba bangkit setelah krna bogem mentah Akashi.
Brak
"BERHENTI!" semua mata menenggok kea rah pintu masuk. Terlihat sesosok pemudaberambut blonde tengah berdiri terengah disitu. "Kalian salah…" ucapnya pelan. Dengan tertatih dia berjalan menghampiri Aomine yang telah bangkit
"A-aomi-necchi ti-ti-dak mung-kin me-la-ku-kan itu…." Dengan tergagap Kise melanjutkan perkataanya.
Aomine mundur saat Kise semakin mendekat ke arahnya "Apa mau mu kise?" Tanya Aomine setengah merinding melihat wajah memerah Kise.
"Ka-rena A-mone-cchi ada-lah…" grap. Baju bagian depan Aomine dipegang oleh Kise erat dan sedikit diremat. Wajah Kise mengadah ke arah Aomine "Kare-na Ao-mine-chhi…" wajahnya memerah dan matanya sayu bibirnya terbuka sambil memandang Aomine. Dengan kedua tangannya Kise menagkap kepala Aomine dan diarahkan mendekat ke arahnya "Ao-min-ne-cchi…"
Pluk
"Hah?" semua mata yang ada diruangan itu terkejut melihat sesuatu menggelinding. "Kepalanya Le-pas." Ujar Takao terbata.
.
.
.
"Ternyata racun tikus ini ada gunanya juga ya." Sambil menyeringai pria yang mengawasi lewat CCTV itu berkata pelan.
.
.
.
Yoho~ maaf baru post :v /gak tanya/
Btw soal racun tikus itu saya dapat inspirasi dari film chuky -.-
Dimana si pastur kepalanya copot kaya cepot gitu -_-
Jangan Tanya itu bener apa kagak :v
Saya belom coba ato ada yg mau jadi kelinci percobaan saya?
Kukukuku~ boleh tuh daftar wkwkw
Yosh sampai jumpa di chap berikutnya
:* attack #plak
Berminat review?
Mohon kririk dan saran yang membangun
