DARK PARADE
.
.
.
Rate M
Dead chara, crime, fiendship, drama, adventure, roman? Maybe -_-, humor :3
Warning : AU , ooc, typo, eyd murat marit :v, bahasa amburgaul :3, dll
.
.
.
Kuroko No Basuke selalu punya FUJIMAKI TADATOSHI
.
.
.
CHAPTER 6 – Malaikat tanpa sayap?
.
.
.
"Bicara biasa."
'Bicara dalam hati.'
Aomine dan Kagami sedang anteng didalam ruang kelas, setelah insiden didalam kamar mandi mereka segera kembali kekelas. Suasana dikelas tersebut terasa berat, masih banyak mata yang memandang Aomine rendah, banyak pula mulut yang membicarakannya. Sementara Aomine tidak menaggapi mereka, dia lebih memilih terkelungkap diatas meja sambil menoleh kearah kirinya, kearah Kagami yang sedang asik main PSP tanpa peduli jika hari ini adalah akhir dunia. Well, Aomine juga tidak perduli sih jika sudah waktunya dunia mau tutup ya mau diapakan coba.
Aomine memandang Kagami intens, dia merasa ganjil. Seingatnya mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Bahkan mereka tidak saling kenal, walau Kagami sudah tau namanya sejak awal pertemuan mereka. Ya Aomine itu terkenal imposiburu sekali ada yang tidak kenal, masalahnya Kagami itu anak baru. Baru pindah dari Academy Police USA, uda bule amrik pindahan dari sana pula. Mana wajah-wajahnya tajir juga sempurn lah dia sebagai kandidat teman yang bisa dibanggakan, tapi ada terlalu banyak misteri dari Kagami yang masih belum terungkap dan Aomine terlalu sungkan untuk bertanya.
"Sudah puas melihat ku? Aku memang tampan dan rupawan tapi diperhatikan oleh manusia buluk seperti mu membuat ku merinding."
"Eh?" Amine mengerjapkan mata saat sadar jika dia diperhatikan Kagami. Kagami terlihat tersenyum mencemooh dirinya sementara bisikan teman sekelasnya semaikn keras seolah mengejeknya.
"Ja-jangan asal bicara Bakagami mana mungkin aku melihat mu! Aku melihat keluar jendela tau." Bela Aomine setengah ngerock, sambil bangun dari tengkurapannya dan menunjuk-nujuk Kagami.
"Pfttt-…dan jendela mana yang kau maksut? Jendela disebelah ku kan tertutup gorden." Kagami bisa melihat Aomine tersenyum kikuk dan menggaruk belakang lehernya pelan "Jika kau ingin pinjam PSP ku bilang saja tidak usah melihatku dengan tampang ngeces begitu Ahomine!" Kagami melempar PSPnya ke meja Aomine.
Kagami tau Aomine memiliki banyak pertanyaan tentang dirinya tapi sekarang bukan waktunya wawancara, dan masalah PSP hanyalah pengalih perhatian semata. Kagami merasa kasihan pada Aomine yang tiba-tiba jadi korban bullying public, Kagami sudah banyak melihat yang seperti itu di Amerika jadi dia tidak kaget lagi.
Aomine binggung dengan PSP yang tergeletak didepannya, diatas minitor itu terdapat sebuah kertas yang tertempel dan bertuliskan 'Fokus Aho! Jangan membuat masalah! Aku bukannya perduli atau apa aku cuma kasihan pada mu idiot!' Aomine kembali duduk dibangkunya. Dipandanginya kertas yang ada diatas PSP tersebut lamat-lamat. Andai yang mengasihaninya bukan Kagami yang telah menyelamatkannya mungkin Aomine akan marah pakai banget. Mungkin setelah istirahat Aomine akan melaksanakan curhat akbar bersama Mamah Kagami.
.
.
.
Akashi memandang langit hitam dari jendela diruang OSIS, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Mungkin begitulah pikirnya. Akashi tidak membenci hujan, Akashi hanya benci jika harus ada hujan saat kelopak bunga Sakura mekar. Kecantikannya terasa mendayu-dayu jika dilihat saat cuaca bertabur air mata Tuhan.
Reo menatap Akashi dengan tatapan serbah salah, mau ngajak ngomong takut disambar gunting kalau diem aja rasanya ruangan yang mereka diami kok anu sekali.
Reo melirik kearah kirinya tampak Nebuya yang sudah tertidur pulas dengan liur yang menetes dari sela bibirnya membuat Reo menyeryitkan dahi jijik. Si Gorila ini memang tata kramanya 0% yah mau gimana lagi.
Diedarkannya pandangannya kearah kananya terlihat Hayama yang asik bermain dengan tab'nya, ya hobi barunya si chetah memang bermain game online. Bahkan saat mereka rapat OSIS pun Hayama masih main game, yang membuat Reo naik darah adalah Akashi yang ok-ok saja dengan hal itu. Sedang dia mau ngangkat telfon dari emaknya saja sudah dipelototi sama Akashi.'Sei-chan gak adil.' Begitulah tangis Reo dalam hati waktu itu.
Reo mengurut pangkal hidungnya pelan, dia lelah luar-dalam terutama kokoronya saat melihat Mayuzumi. Pria bersurai kelabu itu tampak asik menekuni LN yang bejudul "Cinta Dimusim Cerry". Wajah boleh datar bak malaikat pencabut nyawa, tapi hatinya itu loh kok terasa puri-puri purisioner.
"Sei-chan apa aku boleh kembali ke barak tidur?"
Mendengar pertanyaan dari Reo yang tidak pernah keluar dari bibirnya membuat Akashi menyernyitkan dahi. Akashi yang semula focus pada pemandangan diluar jendela berganti menatap Reo. Matanya yang berwarna merah-kuning melihat Reo intens, seolah bertanya kenapa tiba-tiba.
Reo mengela nafas pelan, seumur-umur dia jadi kacung si cebol uhuk maksut author Akashi, baru sekali ini Reo mengemis minta istirahat. "Aku lelah Sei-chan." Jawaban Reo tidak mengandung kebohongan apapun membuat Akashi mengangguk mengiyakan. Dan dengan semangatnya Reo pun pergi dari ruangan tersebut.
"Aku juga harus pergi. Sebentar lagi aku ada quis. Sampai jumpa."
Cklek
Bunyi pintu yang tertutup terdengar mengudara. "Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang Akashi?" Hayama bertanya sambil menyeringai menatap layar tab'nya penuh nafsu.
"Aku juga tidak tau. Mungkin bisa kita mulai dari mengawasi Kagami Taiga." Mata Akashi berkilat tajam sambil kedua tangannya digunakan untuk menopang dagunya.
.
.
.
"Shin-chan mau ku belikan sesuatu?"
"Tidak Takao itu tidak perlu."
Takao menatap Midorima polos "Kau terlalu banyak pikiran Shin-chan." Gumam takao lamat-lamat tapi cukup keras untuk didengar Midorima. "Aku hanya perlu istirahat sebentar." Midorima memutuskan untuk berdiri dan berjalan keluar dari ruangan kerjanya sebagai wakil OSIS.
Takao menatap kepergian Midorima dengan wajah datar.
.
.
.
'Sialan si Kagami itu dia memaksaku untuk melakukannya.' Midorima menggerutu dialam imajinernya saat mengingat kejadian kemarin. Seulas senyum tipis terlihat dibibirnya, genggaman pada lucy itemnya mengerat. Boneka panda berukuran mini itu terlihat tenggelam diantara jemarinya yang besar.
.
.
.
Flashback
Kemarin
Lapangan KS pukul 11.00
Midorima menatap panggung didepannya dengan tatapan membara, dia marah dan terbakar amarah. tapi dia sadar dia takkan bisa melakukan apapun, Oha-asa sudah memberikan wangsit padanya jika Kepiting hanya akan menjadi pelengkap sang Raja Hutan dalam menyelamatkan si Perawan.
Itulah yang membuat Midorima bimbang, dia ingin menyelamatkan Aomine tapi binggung bagaimana caranya. Kepiting kan Cancer, si Perawan kan Virgo lah si Raja Hutan itu siapa? Akashi? Mengingat bagaimana marahnya Akashi semalam membuat Midorima tidak yakin jika yang dimaksut Oha-asa adalah Akashi.
"Hoi-hoi yang benar saja~ pengadilan macam apa yang sedang kalian laksanakan ini." Midorima menengok kearah sampingnya. Iris matanya melebar saat melihat warna Merah-Hitam yang membara dan alis cabang, ya alis cabang seperti jalan tol itu. 'Dia siapa?' batin Midorima sweatdrop.
Pemuda seumurannya yang tampaknya memilliki tinggi sekitar 190'an itu maju ke panggung, dengan sekali gerakan dia memanjat dan sekarang berada diatas panggung.
"Kau siapa? Dan apa maksut mu dengan pengadilan macam apa?"
Pemuda berotot yang kelihatannya bule itu hanya tersenyum meremehkan "Bukannya kau sudah tau siapa aku Nijimura Shuzo-san." Lagi-lagi nada main-main yang dikeluarkan oleh pria itu.
Midorima tersentak saat memandang pemuda itu lebih jeli 'Ja-jangan ja-ngan….dia si Raja Hutan.' Midorima membuka tutup mulutnya. Sementara Takao hanya melirik Midorima sekilas, sebelum kemballi focus pada panggung didepannya.
Nijimura diam. Ya yang dikatakan pemuda itu memang benar, Nijimura memang sudah tau siapa pemuda itu. Kagami Taiga murid pindahan dari Academy Police USA, seorang murid yang sudah berpengalaman dalam hal menguak berbagai kasus. Bukan hanya otak yang encer yang dimiliki tapi juga stamina dan otot yang menunjang. Nijimura jelas kalah telak.
Glup
Haizaki menelan ludah pahit saat melihat Kagami diatas panggung. Ini salahnya jika saja saat itu dia tidak membiarkan Kagami pergi dan langsung membunuhnya pasti Nijimura takkan terdesak seperti ini.
Permainan kali ini memang berbeda dengan tahun-tahun yang lalu dimana permainan hidup dan mati yang diselenggarakan oleh sekolah dan disponsori oleh pemerintahan dunia dilaksanakan oleh para guru. Permainan kali ini dilaksanakan oleh para murid pilihan pemerintakan dunia, dan para pesertanya adalah para anggota sekolah. Baik itu guru, koki, tukang kebun dan murid, untuk itulah pemerintah dunia mengutus Kagami Taiga sebagai bala bantuan guna menganggulangi kejadian kematian masal beberapa waktu lalu.
"Aku ada sedikit pembelaan untuk dia." Kagami menujuk Aomine sementara Aomine menatap Kagami kagum. Aomine tidak kenal siapa pemuda Merah-Hitam itu, dia juga tidak tahu kenapa dia ada diatas panggung yang sama dengannya. Aomine juga tidak tau apa urusannya disini, tapi ada satu hal yang Aomine mengerti jika sang pemuda itu sedang berusaha membelanya.
'Malaikat dari mana dia' Aomine masih menatap Kagami penuh kagum bahkan sekarang bercampur haru. Saat semua teman-temannya tidak ada yang membela bahkan percaya padanya. Pemuda yang Aomine tidak kenal ini malah membelanya bagai Malaikat jatuh diiklan *XE.
Nijimura mengangkat sebelah alisnya "Hah pembelaan? Yang benar saja dia sudah terbukti bersalah." Senyum sombong terkembang dibir Nijimura.
"Hei kau Aomine Daiki kau tidak mau mengatakan sesuatu." Ucapan Kagami yang ditujukan pada Aomine membuatnya kembali tersadar dari lamunannya "I-itu….terima kasih." Aomine menunduk sambil menggigit bibirnya pelan dia ingin menangis sekarang, sementara semua orang hanya menatap Aomine binggung. "Terima kasih sudah mau repot-repot membela ku terima kasih." Aomine mengangkat wajahnya, air mukanya yang biasanya hanya berisi kemalasan dan kesombongan sekarang berusaha menahan tangis.
Kagami tersenyum simpul melihat Aomine "Kau bisa berterima kasih dengan membelikan ku cheese burger, sekarang keluarkan pembelaan mu." Aomine mengangguk dengan kencang sambil menatap Kagami yang hanya sibalas tatapan datar Kagami.
"Aku bukan pembunuh.." semua mata sekarang menatap Aomine. "Hanya itu yang ingin kau katakana hah? Yang benar saja semua pembunuh mana mau mengaku! Jangan percaya padanya." Koar Nijimura emosi. "Dan siapa kau yang dengan seenak jidat mu memutus omongannya hah." Teriak Kagami tidak kalah emosi.
"Sudah-sudah jangan ribut. Aomine-kun silahkan lanjutkan lagi pembelaan mu." Imayoshi meberbicara melalui pengeras, ditatapnya sang murid dengan wajah yakin, sementara Njimiura memandang sang ayah dengan wajah masam.
"Aku punya alibi, kemarin aku sudah mengatakannya dihadapaan dewan guru, anggota OSIS dan anggota keamanan sekolah tapi tidak ada yang percaya. Namun kali ini akan kubuktikan jika bukan aku pelakunya…" Midorima sweatdrop menatap panggung, ya Aomine berubah semangat kearah OOC memang cukup mengguncang batinnya. Apa karena ada pemuda Merah-Hitam yang membelanya, atau karena si author masih bocah? entah Midorima tidak tau dan malas untuk mencari tau.
"Waktu pembuhan pertama aku berada dikelas kemudian aku dipanggil bersama-sama murid lain ke aula, kemudian pembunuhan si senpai angkatan tahun ke-2 aku sedang berada dikamar ku. Aku merasa pening memikirkan game yang dikabarkan oleh Imayoshi…" Imayoshi tersenyum simpul saat melihat Aomine memangilnya tanpa suffix, Imayoshi tidak keberatan dengan itu karena Aomine berbakat. Mungkin lebih berbakat dari pemuda Amerika yang sedang membelanya itu. 'Bantuan ya.' Lagi-lagi Imayoshi tersenyum namun dengan hawa misterius kali ini.
"…..kami memang pernah terlibat baku hantam sebelumnya. Tapi itu karena dia nya nyolot! Bukan aku yang salah…." Raung Aomine. "….soal tragedy diaula makan aku sama sekali tidak tahu menahu soal keracunan masal tersebut! Aku bahkan tidak bisa masak dan tidak pernah masuk ke dapur sekolah. Aku praktek memasak kan diruang tata boga. Soal kematian Furihata…. Aku minta maaf yang diincar sebenarnya aku tapi aku menukar piring ku dengan milik Furihata. Namun aku berani bersumpah jika aku tidak tau jika makanan tersebut beracun…." Aomine menunduk matanya teraasa panas mengingat jika Furihata menggantikan tempatnya untuk mati, sementara para siswa dan dewan guru yang ada disana mulai berbisik-bisik.
Aomine mengangkat kepala, sekarang dia nampak lebih tegar "….setelah aku tau Furihata tewas aku berlari keluar mencari Sakurai. Sebelumnya dia sempat cekcok dengan Kise, aku berlari ke kamarnya tapi dia tidak ada lalu aku memutuskan mencarinya di UKS tapi aku malah diseret oleh anggota OSIS yang bilang jika mereka diperintahkan untuk mencari ku….." Reo mengkibaskan rambutnya sok keren berusaha mencuri perhatian Akashi. 'Lihatlah Sei-chan kerja keras ku kukukukuku.' Reo senyum-senyum sinting yang membuat Akashi bergeser menjauh, takut ketularan gila.
"….Aku mencoba meronta tapi Hayama dan Nebuya memegangku terlalu erat jadi aku pasrah saja saat diseret ke lapangan indoor yang dijadikan posko pengungsian mendadak. Disanalah aku melihat Kuroko dibopong oleh Midorima dan Takao lalu tak lama Akashi menemukan Satsuki…" Akashi membenarkan letak jasnya sambil berdehem pelan. Biar dirasa keren begitu, apa lagi saat semua pasang mata menatapnya kagum. Ya Momoi merupakan salah satu guru wanita tercantik memang yang cukup banyak dijadikan rebutan. Toh wanita merupakan makhluk langka di KS yang keberadaanya patut untuk dipertanyakan *author dibuang Fuji-sensei* "Hohohoho~ kalian mau mengalahkan ku? Mustahil." Seringaian Akashi dan aura-aura seram yang dikeluarkannya membuat Hayama bersembunyi dibalik tubuh berotot Nebuya. Dia masih mau main Dota oi, impian Hayama adalah mengalahkan Kondo Isao salam bermain Otome Game.
"…. Tak lama setelahnya Satsuki pun dipindahkan ke ruang UKS untuk mendapat perawatan intensif dari Alex-san. Kemudian kami diusir keluar karena ribut…" wanita berambut blonde yang mendengar suara Aomine itu hanya mendengus sambil memainkan rokoknya. Aomine menatap sekitanya pelan, semua mata agaknya mulai agak percaya kepadanya "….Kemudian kami berdiskusi diruang santai KS lalu kami penasakan kenapa Himuro dan Murasakibara belum kembali dari latihan basket mereka. Saat kami sampai disana kami melihat mereka sudah berdarah-darah diatas ring basket" Aomine mengambil jeda untuk bernafas sebelum melanjutkan "…..lalu Mayuzumi pun datang dan memanggil ku, Midorima serta Haizaki ke kantor kemudian ada um ya begitulah pokoknya terus Kise datang dan tak lama kemudian Kepalanya hilang…"Terang Aomine suaranya berubah serak saat ingatan soal Kise kembali terbuka.
Kagami tersenyum meremehkan kearah Nijimura yang hanya dibalas dengan tatapan sengit pria berambut hitam tersebut. "Lalu bagaimana dengan kau yang tiba-tiba menjadi pintar dan pendiam itu hah?" Nijimura bertanya tapi pandangannya tetap berfokus pada Kagami. "Uh itu hanya keberuntungan kok hehe… dan aku sedang banyak pikiran saat itu lagi pula bukan aku saja Haizaki juga kan bahkan dia sering hilang-hilangan begitu."Aomine berkata polos.
Nijimura diam, yang dikatakan Aomine memang benar Haizaki memang jarang terlihat karena suatu hal. Kagami mengalihkan pandangannya kearah penonton, dia muak menatap wajah Nijimura "Hei kau maju sini bela teman mu!" tunjuknya pada Midorima.
Midorima menyeringai penuh arti sambil membenarkan letak kacamatanya. Dengan langkah tegap Midorima berjalan ke arah panggung. Dia sama sekali tidak merasa kaget karena tiba-tiba ditunjuk Kagami. Kemudian Midorima naik keatas panggung "Aku Midorima Shintarou percaya jika Aomine Daiki bukanlah pelakunya karena menurut ciri-ciri yang dikatakan Kyoshi-sensei sebagai satu-satunya orang yang pernah melihat pelaku tidak dapat dipercaya 100% dikarenakan masalah jarak dan suara yang samar…" Midorima melirik Kyoshi pelan sementara Kyoshi hanya menatap datar agaknya Kyoshi sendiri pun tidak begitu yakin.
"…hanya itu yang bisa aku sampaikan."
.
.
.
Takao sweetdrop mendengar penuturan singkat dari Midorima.
Aomine dapat melihat para dewan guru yang berunding singkat di tenda khusus.
"Karena pembelaan Aomine-kun dan sanggahan Midorima-kun dapat kami terima maka eksekusi ini resmi kami BATALKAN" Imayoshi tersenyum rubah kearah panggung. Imayoshi bisa melihat Kagami membisikkan sesuatu ke Nijimura yang membuat wajah Nijimura berubah pucat.
'Aku tau siapa kau sebenarnya.'
FLASHBACK OFF
.
.
.
Tap tap tap tap
Seorang pemuda terlihat berjalan dilorong yang sempit, lorong itu terbuat dari tanah. Dari luasnya lorong tersebut hanya muat untuk 1 orang sekali lewat. Lilin ditangannya menjadi satu-satunya cahaya penerangan lorong yang pengap tersebut.
Pemuda tersebut sampai dipersimpangan jalan terdapat lebih dari 5 lorong yang bercabang, pria tersebut melangkah kearah lorong yang dipihnya. Dia terus berjalan sampai dia berhenti tepat didepan sebuah pintu kayu.
Kriet
"Kau lambat Cihiro, dari mana saja kau hah?"
Mayzumi hanya mengurut dada sabar mendengar perkataan Haizaki yang isinya sengak semua. "Tadi ada kumpulan bersama para anggota OSIS" sahutnya kalem.
Hanya dengusan yang terdengar sebagai jawaban perkataan Mayuzumi. Mayuzumi strong kok sudah biasa diabaikan. Mau bagaimana pun juga si Shogo itu masih sepupunya walau tidak dia cintai dan dia sayangi.
Satu-satunya pria berambut hitam disana memilih untuk diam sebelum berucap "Jadi ada kabar baru?" matanya yang sehitam jelaga memandang Mayuzumi lekat.
Nijimura dan Haizaki dapat melihat seringaian yang keluar dari bibir Mayuzumi, membuat keduanya ikut menyeringai. Namun seringaian mereka pupus ketika mendengar Mayuzumi berucap "Tidak." Dengan polosnya.
"Terus kenapa kau pakai menyeringai tadi hah?" urat didahi Haizaki terlihat keluar, dia merasa jengkel dengan sepupunya tersebut.
"Um hanya bercandaan kok hehe….biar keren."
Nijimura facepalm susah kalau punya teman menjabat rekan gelap yang isi kepalanya cuma wanita gaib semua. Bagaimana tidak gaib orang yang dia puja figure 2D semua. 'Diri ini lelah Kami-sama.' Nijimura mendesah pasrah(?).
.
.
.
Pluk
Satu kertas dilempar ke badan Kagami, tapi Kagami memilih untuk mengabaikannya. Mitobe-sensei yang sedang menerangkan didepan kelas soal pelajaran biologi lebih penting dari pada lemparan kertas tidak berguna itu.
Pluk
Kagami masih diam.
Pluk
Kagami memegang erat pensil mekaniknya 'Sabar Taiga sabar, orang sabar gantengnya nambah' kagami memillih untuk kembali focus ke pelajaran yang bahkan dia tidak bisa faham apa yang dikatakan senseinya. 'Biologi macam apa ini bung.' Koar Kagami dalam hati.
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Pluk
Cukup-cukup sudah cukup sampai disini saja, batin Kagami sudah tersiksa dan dia nampak putus asa. Pelajaran biologi harusnya menyenagkan terutama dibab reproduksi tapi nyatanya, Kagami tidak faham satu ayat pun dari bermacam-macam ayat yang diterangkan oleh sang sensei. Belum lagi mahluk buluk yang dari tadi terus melemparinya kertas. Kagami ingin mudik saja ke surga. Di Jepang orangnya jahat-jahat, karena yang dikenal Kagami masih sedikit.
Pluk
Aomine kembali melempar kertas kearah Kagami berharap kehadirannya dapat dinotic dengan baik dan benar.
Brak
Kagami menggebrak meja dengan keras. Seluruh pasang mata menatap kearahnya. Kagami tuh gak bisa diginii raungnya dalam hati. Dengan nyalang ditolehkannya kepalanyanya dan matanya yang terlihat berkilat kearah Aomine, tersangka bom kertas yang mengganggu konsentrasi belajarnya.
"Apa maksut mu bangsat! Jika kau ingin adu jotos tidak begini caranya! Dasar kekanakan! Temui aku diatap sekarang." Dan dengan berakhirnya pernyataan Kagami, dia pun langsung nyelonong pergi keluar kelas. Meninggalkan Aomine dengan mulut yang terbuka, meninggalkan teman-teman sekelasnya yang menatapnya kagum, dia bahkan meninggalkan Mitobe-sensei yang tak mampu mencegah kepergiannya.
(Author: sensei ngomong lah~ jika kau diam saja sudah pasti kakanda daku ini pergi.
Mitobe : *melihat author dengan pandangan yang seolah berkata 'diri ini kau plot begini thor! Jika ada yang harus disalahkan tentu saja itu diri mu'*)
Aomine menggaruk belakang lehernya binggung, niatnya mau ngajak Kagami keluar buat neraktir cheese burger sesuai permintaan om jin. Eh salah Kagami maksutnya. Tapi karena dari tadi diacuhkan saat memanggil Kagami, Aomine memillih jalan pintas dengan menggunakan pesugihan eh? Salah lagi maksutnya lemparan kertas.
'Ini terus aku ngomongnya gimana'
.
.
.
TBC
.
.
.
ALL ABOUT OLD:
Angkatan tahun pertama = 18 tahun. (baru lulus sma karena syarat masuk kepolisian kan hrus lulus sma terus lanjut ke akademi polisi)
Angkatan tahun kedua = 19 tahun.
Angkatan tahun ketiga = 20 tahun. (mau lulus dia)
Untuk list umur chara :
Kagami, GOM, Haizaki, Takao, Himuro, Furihata, Sakurai = angkatan tahun pertama 18th.
Hanamiya beserta kawanan Kirisaki Daichi = angkatan tahun kedua 19th.
Mayuzumi, Nijimura, Nebuya, Hayama, Reo = angkatan tahu ketiga 20th.
Momoi Satsuki = 25th.
Aida Riko = 26th.
Alex = 29th.
Sensei pria = kurang lebih 31th an.
Imayoshi = 45th.
Diri ini berharap ada yang mau mereview :v
Atas banyak kurangnya aye mohon maap yak :v
