DARK PARADE
.
.
.
Rate M
Dead chara, crime, fiendship, drama, adventure, roman? Maybe -_-, humor :3
Warning : AU , ooc, typo, eyd murat marit :v, bahasa amburgaul :3, dll
.
.
.
Kuroko No Basuke selalu punya FUJIMAKI TADATOSHI
.
.
.
CHAPTER 7 – FriendZone!
.
.
.
"Bicara biasa."
'Bicara dalam hati.'
.
.
.
"Jadi . . . kita akan pergi kemana sekarang?"
Yang rambut merah melirik si bluenette singkat, berharap mendapat balasan suara. Namun setelah sekian menit membisu si merah bergradasi hitam lebih memilih untuk diam.
Jalanan kota Tokyo yang mereka lalui cukup padat aktifitas. Langit hitam yang menaungi tak tampak adanya bintang gemerlapan, menandakan hari sedang mendung.
Berbagai macam orang dari berbagai status social tampak berjalan-jalan santai dijalanan kota.
Lampu terang mencolok mata terlihat diperempatan jalan, Kagami memandang berbinar. Itu adalah resto favoritnya. Inginnya sih kesana untuk mengisi perutnya yang keroncongan tapi apa daya dia diajak Aomine entah kemana. Jika dia kesasar kan gawat, dia belum tau kota Tokyo.
Tanpa banyak berkata pemuda berkulit dim itu menarik lengan Kagami sambil setengah berlari.
Yang ditarik hanya diam mengikuti walau wajahnya tampak kebinggungan.
.
.
.
"Mengapa kau tidak bilang jika ingin mengajak ku kemari?" Kagami bertanya sembari melahab burgernya setenagh kesal setengah bahagia. Kesal karena dia ditraktir jadi hanya bisa makan sedikit –sungkan jika pesan banyak- dan bahagia karena dia bertemu dengan resto favoritnya. Selain itu karena ditraktir dia jadi lebih hemat.
"Aku mau bilang tapi kau marah-marah, aku sudah memanggil mu baik-baik tapi kau acuhkan." Gerutuan Aomine hanya dibalas dengan tawa renyah Kagami beserta gumaman permintaan maaf yang mendapat balasan berupa dengusan dari si dim-tone.
Aomine menatap Kagami dalam diam, mulutnya setengah terbuka untuk mengatakan sesuatu tapi niatnya diurungkan. Entah mengapa dia merasa ragu untuk sekedar bertanya.
Kagami menyahut "Clairvoyance" cepat kemudian mulai melahab kembali burgernya seolah tidak pernah mengatakan apapun.
Aomine menatap Kagami binggung, alisnya menyatu mencoba memahmi apa yang dikatakan Kagami tadi. Namun otaknya yang didesain minimalis tak mampu untuk memahami perkataan Kagami.
Aomine kembali menatap Kagami sebelum berucap, "Apa maksud mu Kagami? Aku tidak mengerti Cla- apa itu tadi" Aomine menggaruk tenggkuknya sebelum menatap Kagami dengan pandangan –masih- binggung.
"Bukankah kau ingin tau tentang ku Aomine? Itu adalah kunci mu untuk mengatahui siapa aku."
Aomine membulatkan bibirnya faham. Berarti untuk tau siapa Kagami dia hanya harus tau..
"Errr. . . bisa kau ulangi lagi Kagami? Yang tadi itu Cla- apa?"
Sebuah senyum meremehkan terlihat dibibir peach Kagami.
"Maaf buddy~ tak ada siaran ulang dalam bentuk apapun." Cola berukuran 2L tandas dalam sekali minum. Kagami menunggu Aomine menghabiskan minumannya sebelum kembali ke asrama –mungkin- pasalnya beberapa jam lalu para penghuni KS diberi kebebasan pada hari sabtu-minggu untuk jalan-jalan atau kemana pun.
Pihak Pemerintah Dunia dikatakan sudah memberi tau para pelaku game jika sabtu-minggu merupakan hari bebas dan tak boleh ada masyarakan sipil yang terlibat. Bisa dipastikan jika para pelaku game juga sedang berlibur entah dimana dan bagaimana.
"Mau nonton konser?"
Badan setinggi 190cm itu tersentak saat tiba-tiba lawan bicaranya bertanya, tanpa berkata dia mengangguk.
Bluenette berdiri dari kursinya lalu melangkah kearah pintu keluar, Kagami mengekori dari belakang.
.
.
.
Antri tiket di Jepang tidak seperti di Amerika. Jika di Amerika dia cukup memesan via online maka di Jepang bisa dipastikan itu sudah ludes karena harus bersaing dengan mereka yang antri diloket.
Jepang terkenal akan budanya terutama budaya antrinya namun jangan salah Jepang juga bisa anarkis seperti saat ini.
Badan besar berambut merah itu terdesak sana-sini. Dia mendecih pelan saat merasakan seolah badannya remuk. Tiket belum ditangan dan badannya sudah mati rasa begini.
Kagami seolah terlempar dari zaman millennium kembali kezaman peperangan antara bangsa Troya melawan para Sparta.
Yang benar saja! dia disini untuk mendapatkan tiket nonton band bukan untuk berperang karena seorang wanita.
Penyesalan agaknya terlukis dari wajah Kagami. Bagaimana tidak dia merasa uangnya terlalu mahal untuk membeli tiket konser yang cara dapatnya saja sesusah mencari jarum dilautan.
"This is Japanese konser time rush!" teriaknya saat dia kembali terdorong bahkan sampai jatuh terduduk dilantai. Wajahnya tampak kaget dengan bibir yang terbuka dan raut horror yang menyeramkan.
Pluk
Pundak Kagami ditepuk. Saat akan menoleh kesamping sebuah suara terdengar menyahut,
"Kau berlebihan Kagami."
Tangan dim terulur didepan matanya. Dua buah tiket konser terlihat digenggaman tangannya. Tanpa banyak bicara Kagami menyambar 1 tiket tersebut sebelum bangun dan menepuk ringan celananya.
Keduanya kemudian beriringan masuk kedalam gedung melali pintu masuk lain yang telah disediakan.
.
.
.
Kagami pusing tidak diluar tidak didalam sama saja. kepalanya terasa berputar karena susasana konser. Badannya terdesak kesana-kemari belum lagi suara band rock yang tampil. Telinganya terasa berdenggung bahkan hampir tuli.
Dengan perlahan kaki jenjang itu berjalan kearah belakang. Dia tidak kuat berada diantara lautan manusia yang haus akan hiburan seperti mereka.
Mata merah Kagami dapat melihat Aomine asik berteriak dan berjingkrak-jingkrak bersama para penonton yang lain. Kagami juga dapat mellihat aksi nakal Aomine yang diyakini Kagami dengan sengaja menyenggol beberapa wanita cantik disana. Mulai dari menyentuh pantatnya sampai mendaratkan tangannya kedada. Untung sjaa yang kena amuk berupa cap tangan merah bukan dia.
Kagami menyenderkan badannya pada tembok dibelakangnya lelah. Dia mengantuk dan badannya terasa pegal semua. Mungkin dia akan segera pulang ke asrama agar bisa tidur.
.
.
.
Dari tempatnya berdiri Kagami dapat melihat 5 orang mencurigakan yang sejak awal dia dan Aomine meninggalkan asrama sudah mengikuti mereka.
Kagami tau siapa mereka sebut saja Mibuchi Reo, Ekichi Nebuya, Hayama Koutarou, Takao Kazunari serta Midorima Shintarou.
Mereka adalah anggota OSIS mungkin untuk Takao lebih tepat disebut teman yang merangkap pembantu Midorima sebagai wakil OSIS.
Mereka bergerak secara terpisah tapi memiliki tujuan yang sama. Yaitu untuk memata-matai Kagami.
Kagami hanya menyeringai dalam diam, dia sudah tau sejak awal namun dia merasa jika itu bukanlah sesuatu yang harus Aomine tau. Namun keadaan sekarang sudah berubah.
Dengan perlahan Kagami kembali memasuki kerumunan manusia yang mulai menggila karena acara puncak.
.
.
.
Mata sewarna dengan arang itu mengikuti pergerakkan pemuda berambut merah-hitam sebaik mungkin. Tak ingin sang target tau keberadaan mereka.
"Kagami mulai bergerak Shin-chan!"
Yang rambut hijau mengabaikan perkataan si poni tengah dia lebih memilih menghadap kepanggung. Agaknya sulung dari keluarga Midorima ini sudah terhipnotis oleh lantunan lagu band rock tersebut.
"Shin-chan! . . . Shin-chan!" teriakkan Takao terkalahkan oleh teriakkan para penonton yang lebih menggelegear.
Takao terpaksa harus menutup telinganya yang terasa tuli mendadak. Tangannya terulur untuk menyentuh lengan Midorima tapi apa daya arus manusia membawanya menjauh dari Midorima perlahan.
"A-re? Shin-chan! . . . Shin-chan tolong~"
Midorima menoleh kesamping keningnya berkerut penuh tanda tanya "Sepertinya ada yang memanggil ku tadi." Gumam Midorima pelan sebelum kembali pada aktifitas utamanya menonton konser. Mumpung disini begitu.
.
.
.
Tap tap tap tap
Langkah kaki saling berkejaran mencoba saling mengikuti. Mibuchi menarik nafas dalam-dalam mencoba meraup oksigen sebisanya. Paru-parunya panas dan terasa sesak, dia ingin berhenti tapi tidak bisa. Jika dia berhenti bisa-bisa buruannya lepas.
Bruk
"A-h. . . A-ku su-dah. . . ti-dak kuat la-gi! Kalian dulu-hosh-an sa-ja!" dengan terbata Mibuchi memerintahkan kedua temannya untuk mengejar Kagami dan Aomine. Sementara dia tengah terduduk ditengah jalanan beraspal yang sepi.
Wajah cantiknya terlihat pucat mata genitnya yang biasanya berkilau bak iklan mascara diTV terlihat sayu tak berdaya.
Tanpa berkata Hayam dan Ekichi sudah meninggalkannya bahkan mereka tidak menggubris Mibuchi yang terduduk dijalanan sepi.
"Eh?. . . EEEEEhhhh? Kurang ajaaaaarrrrr!" Mibuchi mencak-mencak tidak jelas saat keberadaanya yang cetar badai membahana itu diabaikan bak butiran debu dijalanan pedesaan.
.
.
.
Kagami membekap mulut Aomine dan membawanya kegang sempit yang gelap. Biar badan Kagami kalah tinggi, jika soal masa otot Kagami menang banyak dibanding tubuh dekil didekapannya ini.
Mata merah darahnya mengintip dikegelapan malam mencoba melihat arah sekitar apakah para pengejarnya sudah pergi kealam baka atau belum -uhuk maksud author apa mereka sudah pergi menjauh atau belum hehe~
Setelah mendengar jika para pengejarnya sudah jauh meninggalkan mereka sendiri dibelakang, Kagami segera melepasakan bekapannya pada Aomine.
"Ada apa?" Aomine bertanya dengan wajah binggung.
Pasalnya saat dia asik menonton konser sambil melompat dan saling menabrakkan tubuh pada beberapa wanita cantik disana, tiba-tiba dia ditarik keluar dari gedung oleh Kagami dan diajak berlarian disepanjang jalanan kota Tokyo.
Aomine yang kaget tentu sudah mencoba untuk melawan namun apa daya kekuatan Kagami yang lebih dari sekedar King Kong tentu saja tidak bisa diaggap remeh. Amone yang berontak bahkan diangkat seolah karung beras, sudah begitu dia diajak lari-larian sambil dibopong.
Bayangkan dimana coba harga diri Aomine Daiki yang 11-12 dengan hamparan langit biru itu mau diletakkan? Di toilet? Kalau menurut author sih bukan ide buruk –digiles Aomine FC- jadi dengan sangat terpaksa Aomine pun memilih untuk tidak memberontak lebih lanjut. Sudah pasrah saja dia mau dibawa kemana saja oleh Kagami, Aomine percaya kok pasti bukan ke tempat penjagalan.
Kagami melirik Aomine dari ekor matanya, tampak raut wajah binggung yang sangat membuat mual Kagami. Bayangkan wajah sangar bak pereman pasar dan wajah binggung sok polos. Perpaduan yang ingin ditonjok bukan?
"Tadi kita diikuti oleh anggota OSIS."
Mata beriris biru tua itu terbelalak, "A-apa yang mereka cari? Apa yang mereka inginkan? Aku kan sudah terbukti tidak bersalah!" surai raven yang tidak bersalah diremat erat sambil diacak barbar. Menandakan jika pemiliknya benar-benar diambang kebinggungan.
Kagami diam, dia tidak didesain untuk mendiamkan bocah buluk semacam Aomine.
"Yang mereka incar bukan kau tapi aku."
Aomine menolehkan kepalanya cepat kearah Kagami. Aomine bahkan dapat mendengar bunyik 'klek' dari belakang lehernya, mungkin lehernya patah –semoga saya juga berdoa untuk itu *dibantai masa*-
"Apa maksud mu dengan kau yang incar Kagami?" kedua lengan Kagami dipegang oleh Aomine membuat si surai merah mau tidak mau harus menatap mata Aomine.
Sambil menunduk Kagami berucap "Bukankah sudah kubilang jika yang mereka incar adalah aku." Kagami dapat merasakan lengannya diremat erat oleh Aomine.
"Apa maksud mu dengan kau yang incar? Mengapa bisa begitu? Dan dari mana kau tau?" Aomine berkata sambil setengah mendesis namun Kagami memilih untuk diam tidak menjawab.
Merasa kesabarannya mulai menipis tubuh Kagami dibantingnya kedinding gang disana. Aomine dapat mendengar Kagami sedikit mengaduh pelan sebelum tetap bungkam. Surai merah-hitamnya menutupi manik cromsonya.
Dengan setengah membentak Aomine berujar pada Kagami, "Jawab aku bangsat! Apa maksud mu!" Kagami mellirik Aomine sedikit dari celah rambutnya namun dia tetap diam.
"Baik jika itu mau mu! aku takkan bertanya dan perduli lagi!" Aomine melepaskan rematan tangannya pada sisi lengan Kagami.
Dengan perasaan sedih Aomine memundurkan tubuhnya hingga sekarang dia menyender pada tembok dibelakangnya.
"Ku fikir kita teman. Meski aku baru mengenal mu namun kau sangat baik pada ku. Kau bahkan mau membelaku waktu itu."
Kagami masih bungkam dia memilih mendengarkan pernyataan Aomine dari pada menanggapinya. Kepalanya menunduk lebih dalam entah mengapa mendengar perkataan Aomine membuat hatinya terasa berat.
"Aku tak tau kau siapa dan aku juga tak tau mengapa kau membela ku waktu itu. Ku kira kau malaikat yang diturunkan Tuhan untuk ku hehe…" Aomine menatap langit malam. Entah mmengapa matanya terasa panas mungkin dia perlu obat tetas mata nanti.
"Meski aku tau jika aku bukanlah hamba yang taat sehingga aku berfikir tak mungkin Tuhan mengirimi ku malaikat. . .Berapa hari yang ku jalani dengan mu membuat ku sadar jika kau adalah seorang teman yang berhati bak malaikat, sedang aku hanya setan hina."
Dengusan pelan terdengar dari Kagami membuat Aomine sedikit terkikik.
"Mungkin hanya aku yang menganggap mu teman. Tak masalah bagiku. Kau memang teman ku kok jadi . . ."
Ujung sepatu Aomine berada cukup denkat dengan ujung sepatu milik Kagami. Kagami dapat melihatnya dari bawah karena dia menunduk.
Set
Sebuah tangan dim terulur pada Kagami "Aku tidak perduli kau siapa, aku tidak perduli bagaimana masa lalu mu. Kau adalah teman ku! Aku akan membela mu! Aku akan menyelamatkan mu seperti kau menyelamatkan ku!" kepala Kagami terangkat. Ditatapnya pemuda yang berjarak tak jauh darinya.
Kagami dapat melihat mata biru tua yang sering terlihat malas situ tampak dihiasi oleh bara api. Mungkin itu hanya imajinasi Kagami saja namun dia tak bisa untuk tidak tersenyum pada pemuda seumurannya didepannya tersebut.
"Terima kasih." Aomine membalas senyuman Kagami sambil kedua tangan mereka berjabat tangan. Seolah dua orang pria yang sedang melakukan koalisi politik mereka sedikit mengayunkan tangan mereka.
"Huwoah~ apa ini cara orang barat? Keren~"
Kagami sweatdrop melihat Aomine yang menatap tangannya yang sudah lepas dari Kagami dengan berbinar.
"Aho" Kagami mencela sambil menggelangkan kepalanya.
ALL ABOUT OLD:
Angkatan tahun pertama = 18 tahun. (baru lulus SMA karena syarat masuk kepolisian kan harus lulus SMA terus lanjut ke akademi polisi)
Angkatan tahun kedua = 19 tahun.
Angkatan tahun ketiga = 20 tahun. (mau lulus dia)
Untuk list umur chara :
Kagami, GOM, Haizaki, Takao, Himuro, Furihata, Sakurai = angkatan tahun pertama 18th.
Hanamiya beserta kawanan Kirisaki Daichi = angkatan tahun kedua 19th.
Mayuzumi, Nijimura, Nebuya, Hayama, Reo = angkatan tahu ketiga 20th.
Momoi Satsuki = 25th.
Aida Riko = 26th.
Alex = 29th.
Sensei pria = kurang lebih 31th an.
Imayoshi = 45th.
.
.
.
TBC
.
.
.
