DARK PARADE

.

.

.

Rate M

Dead chara, crime, fiendship, drama, adventure, roman? Maybe -_-, humor :3

Warning : AU , ooc, typo, eyd murat marit :v, bahasa amburgaul :3, dll

.

.

.

Kuroko No Basuke selalu punya FUJIMAKI TADATOSHI

.

.

.

CHAPTER 8 – Datang!

.

.

.

"Bicara biasa."

'Bicara dalam hati.'

.

.

.


Setelah aksi saling kejar mereka dengan anggota OSIS sekarang Aomine dan Kagami sudah anteng tidur dikasur keluarga Aomine.

Mungkin lebih tepatnya hanya Kagami saja, karena Aomine masih terpaku menghadap layar komputernya guna mencari kata-kata sulit yang tadi sempat diucapkan oleh Kagami di Majibu.

Tangan kirinya menopang dagu sementara tangan kanannya asik bermain dengan mouse. Ya sekalian saja dia berselancar dari pada bosan. Toh dia tak dapat mengingat perkataan Kagami sebelumnya.

Tiba-tiba ide nakal terlintas diotaknya, jika biasanya orang mabuk selalu berkata jujur lantas bagaimana dengan orang tidur? Pasti lebih ladur kan! Atau lebih l*cur? Ya siapa yang tau~

'Sa~ mari kita coba!'

Aomine mendekati Kagami dengan perlahan, kemdian jongkok didepan wajahnya. Aomine mendekatkan bibirnya pada telinga Kagami.

"Hei, Bakagami. Kau bisa mendengar ku?"

Tak ada sahutan yang berarti kecuali anggukkan kepala singkat sebelum pemuda yang bernama mirip macan itu kembali mendengkur halus.

Aomine tersenyum dalam remangnya pencahayaan kamar.

"Bisa kau ulangi perkataan mu yang kemarin? Kau bicara terlalu cepat soalnya." Aomine dapat melihat jika kening pemuda itu berkerut sebelum dia berujar, "Clairvoyance" mendengar ucapan Kagami, Aomine langsung bergegas mengetiknya dimesin pencarian doodle dengan trenmark 'Anda Selalu Beruntung'.

"Ah, ketemu!" pekiknya senang.

Sementara tanpa disadari olehnya sebenarnya Kagami masih terjaga. Dia bahkan diam-diam tersenyum melihat Aomine sebelum benar-benar mengatupkan kedua matanya.

.

.

.

"Ta-takao?" iris hijau itu menatap nanar pemuda didepannya. Sementara pemuda berponi belah itu hanya diam sambil menundukkan kepala.

"Apa maksudnya semua ini?" tak ada sahutan yang terdengar mengudara. Jika biasanya dia akan dengan senang hati berteriak tidak jelas dengan nada riang sekarang pemuda itu hanya diam sambil menundukkan kepala.

"Bukankah dia terlalu banyak bicara Ta-ka-o~" sesosok pemuda berambut silver dengan tangan kiri memainkan belati terlihat dibelakang Takao. Takao bahkan hanya diam saat dia dirangkul oleh sosok yang tengah menjilat mata belati tersebut.

"Kau…Haizaki Sougo." Desis Midorima sambil menatap pemuda itu nyalang.

Pemuda itu hanya terkiki geli sambil memandang Midorima. "Bukankah sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal Takao?" yang dipanggil hanya diam. Takao masih menundukkan kepala. Genggaman belati pada tangan kanannya mengerat. Tetes demi tetes darah menetes dari ujung belati miliknya.

Ya, itu darah milik Midorima. Teman sekamarnya, sahabatnya, sekaligus orang yang dibencinya.

Takao menyeringai dalam keheningan malam.

"Maaf Shin-chan tapi aku takkan berhenti disini. Jadi, selamat tinggal." Sambil tersenyum Takao menegakkan kepalanya, hanya untuk melihat wajah Midorima yang kebiruan.

'Tes'

Lagi, tetesan darah yang mulai mengental dari ujung belatinya terdengar seolah menggema. Membuat Takao tersenyum kecut, bersamaan dengan jatuhnya tubuh tinggi itu membentur tanah.

Midorima sudah pergi untuk selamanya. Ditusuk olehnya, seorang yang sudah dianggap sahabat oleh Midorima dengan mengguakan belati yang dilumuri bisa ular.

Hebat sekali bukan.

Haizaki tertawa melihat satu korban jatuh dimatanya, namun tak akan pernah membuat darah buasnya puas. "Kita masih harus berburu yang lain Takao, ayo!" ujar Haizaki sambil berbalik setelah menepuk pundaknya.

Gang sempit dengan bau sampah menjadi saksi, jika Takao sudah hancur.

"Semua ini untuk uang Shin-chan. Maaf!"

Takao berlari secepat yang dia bisa dari tempat itu. Mencoba lari dari perasaan bersalahnya karena sudah membunuh sahabatnya.

Jika saja Takao dan Haizaki lebih jeli maka dia bisa melihat jika ada sebuah pesan yang dikirim oleh Midorima pada sesorang.

LARI! TAK ADA YANG BISA KAU PERCAYA!

To : Kagami Taiga

.

.

.

Nafas putus-putus itu beradu dengan langkah kaki yang menghentak. Wanita cantik bergincu merah terlihat dikegelapan sambil menggendong sesosok tubuh dipunggungnya.

Cepat

Hanya itu yang ada dipikirannya.

Derap langkah kaki dibelakangnya membuatnya tanpa ampun berlarian kepenjuru ruangan mencari perlindungan.

Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi dia akan sampai.

Wanita itu berbelok kelorong disebelah kiri.

'Tap'

Kaki berbalut sepatu flat itu berhenti, menatap kaku pintu didepannya dengan tatapan terkejut.

Bau anyir darah menguar dari sana.

Wanita itu dapat merasakan sesuatu yang kental dan cair menggenangi sol sepatunya.

"Shit!" umpatan kotor terlontar tanpa dapat dicegah. Dengan kecepatan penuh dia berlari kekanan. Memutar kearah kiri kemudian meniti tangga keatas.

'Hup'

Wanita itu hanya bisa terdiam saat dia dibekap oleh tangan besar yang kemudian menyeretnya masuk kesebuah dinding.

Ya benar itu dinding namun bukan sembarang dinding.

"Tenang kau aman sekarang." Kyoshi Teppei yang bicara membuat wanita itu bernafas lega.

"A-a-aku melihat me-reka di-di-"

"Ya aku mengerti aku tak bisa menyelamatkan mereka tepat waktu." Pria itu menunduk saat sadar jika dia tak dapat menyelamatkan kawan-kawannya.

"Sekarang malam sabtu dan mereka sudah melakukan pembersihan. Pada hari senin mereka akan melakukan pembunuhan besar-besaran." Kyoshi tak menyahut. Dia hanya diam sambil memperhatikan Alex yang mulai menurunkan beban yang tadi digendongannya.

"Momoi-san?" pekiknya tanpa sadar.

"Aku mencoba menyelamatkannya. Itu tugas ku." Sahutnya.

"Aku yang memindahkan Riko-san keruangan bawah. Kukira para pelaku game takkan menyerang seperti kesepakatan. Namun ternyata itu ide yang buruk. Bahkan Hyuuga-san yang bersamanya pun tak dapat melakukan apapun."

"Saat aku berlari keruangan kesehatan sudah tak ada apapun yang tersisa. Mereka semua sudah mati. Bahkan para guru diruang guru." Sesal Kyoshi.

"Harusnya aku merujuk mereka semua ke rumah sakit di kota. Andai saja semua bisa terulang kembali." Alex merapatkan selimut Momoi hingga membuatnya nyaman.

"Jika tak benar-benar parah takkan bisa kan, toh sudah ada beberapa yang dirujuk. Semoga mereka semua selamat."

Alex hanya dapat berharap jika Himuro juga dapat selamat. Ya, Himuro Tatsuya adalah salah satu pasien yang dirujuk ke rumah sakit dikarenakan keadaannya yang cukup parah beberapa waktu lalu.

Salah satu dari 3 orang paling berharga dalam hidupnya.

.

.

.

"Akashi-kun." Akashi menoleh saat sebuah suara datar memanggilnya dari belakang. Membuat genggaman tangan kanannya pada knop pintu didepannya terlepas.

Mata berbeda warna itu menatap lawan bicaranya penuh selidik. Tak biasanya memang pemuda dihadapannya itu memanggilnya. Mereka jarang bicara belum lagi mereka saingan dalam memperebutkan Momoi Satsuki.

"Ada apa Tatsuya?"

"Aku ingin bicara empat mata dengan Akashi-kun. Bisa ikut aku?" Akashi menaikkan alisnya. Tak biasanya pemuda itu bicara dengannya dan sekarang dia minta bicara empat mata? Apa akan ada angin putting beliung? Entah Akashi tak perduli.

Akashi hanya mengangguk untuk kemudian mengekori kearah mana pemuda bersurai baby blue itu pergi. Tanpa berburuk sangka dan tanpa menyadari jika Kuroko tersenyum aneh.

.

.

.

'Tok…Tok…Tok'

Ketukkan tiga kali dari pintu membuat Himuro terbangun, dikerjapkannya matanya sebelum dia mendudukkan diri.

"Siapa?" tanyanya setengah sadar.

Aroma obat-obatan dirumah sakit membuatnya pening sejenak sebelum dia dapat tersadar sepenuhnya.

'Tok…Tok…Tok...'

Kembali ketukkan pintu yang terdengar tanpa suara.

Himuro menghembuskan nafas lelah sebelum berujar, "Masuklah."

Derit pintu terdengar dengan sesosok bayangan berdiri ditenggah pintu.

Iris Himuro melebar. Dia tau siapa dia.

Himuro tersenyum menatap sesosok bayangan yang mulai melangkahkan kaki mendekatinya. "Selamat datang, apa kau kemari mau menjemput ku?" tanyanya pada sosok didepannya.

Nash Gold Jr.

.

.

.

Akashi dan Kuroko sampai di atap sekolah mereka. Angin kencang yang berhembus menerpa kulit mereka yang hanya dibalut oleh kemeja.

Akashi menatap datar Kuroko, sementara yang ditatap menundukkan kepala.

"Apa yang ingin kau bicarakan Tetsuya?"

Hening, hanya hembusan angin yang terasa membekukan kulit yang menyapa tubuh Akashi.

"Tetsuya, aku bukan orang sabar. Jadi cepat beri tau aku! Aku ada urusan."

"Urusan?" sebuah pertanyaan keluar dari bibir Kuroko.

"Urusan apa? Menunggui Momoi-san dari petang hingga fajar? Itu bukan urusan Akashi-kun." Lanjutnya kemudian.

"Dan apa hak mu berkata begitu? Itu urusan ku kan!" Akashi dengan sewot mencoba membantah Kuroko.

"Aku ingin mengakui tentang perasaan ku pada mu Akashi-kun. Disini!" ujarnya. Yang tentu saja membuat Akashi membolakan kedua matanya.

'Ti-tidak mungkin!' jeritnya dalam hati.

"Aku…sebenarnya sudah memikirkannya sejak lama. Ku rasa sekarang adalah saat yang pas untuk mengatakannya." Kuroko menegakkan kepalanya hingga pandangannya lurus menghadap Akashi.

Akashi diam entah mengapa perkataan Kuroko yang ambigu membuat perasaannya tidak enak. Dipikirannya sekarang hanya ada satu yaitu keselamatan Momoi Satsuki.

Dengan segenap tenaga Akashi berlari kembali kearah pintu masuk atap dengan segera.

"Sebenarnya…aku…ingin….kau…." Kuroko tersenyum meremehkan saat melihat Akashi hampir sampai didepan pintu atap.

"Die" Akashi melotot saat sebuah bayangan tiba-tiba menyusul dan berbisik disebelah kirinya.

'Bruk'

.

.

.

Tangan putih itu terulur untuk membuka knop pintu didepannya. Pemuda itu agak terkejut saat merasakan jika pintu tersebut tidak terkunci, namun tak lama kemudian seringai mengerikan terlukis dibibirnya.

Pemuda tersebut membuka pintu dengan pelan hingga hampir tak terdengar suara apapun.

"Sepertinya terlambat, dia sudah mati." Pemuda yang diketahui bernama Haizaki itu mendengus saat mendengar penuturan saudara sepupunya Mayuzumi Cihihiro tepat dibelakangnya.

Memang benar, penghuni kamar yang mereka tuju sudah tiada. Sebut saja bernama Himuro Tatsuya yang telah menghembuskan nafas terakhir dengan tenang.

"Dia sudah lelah kau pukuli di lapangan indoor Haizaki, jadi dia mati sendiri hehe~" dengusan kembali terdengar saat Takao Kazunari ikut bersua.

Lagi pula benar yang dikatakan olehnya, kejadian beberapa hari lalu di lapangan indoor memanglah kerjaannya. Dia lah yang telah membuat Murasakibara Atsushi dan Himuro Tatsuya berlumuran darah, kemudian menggantung mereka di ring basket.

"Kita kemana lagi?" tanyanya dongkol. "Ketempat pasien lain dan siswa lain yang dapat kita temui." Ujar Takao sambil tersenyum cerah. Tampaknya dia sudah bisa move on dari acara bersalahnya tadi.

"Yang di sekolah bagaimana?" tanya Haizaki khawatir. Bagaimanapun juga Nijimura adalah temannya sama dengan Mayuzumi. Mereka berdua adalah teman kecilnya yang dia sayangi walau tak dia akui.

"Sudah ada Nijimura dan Kuroko yang mengurus, kau tenang saja." Haizaki hanya diam kemudian mengekori Takao yang telah berjalan lebih dulu.


.

.

.

TBC

.

.

.

ALL ABOUT OLD:

Angkatan tahun pertama = 18 tahun. (baru lulus SMA karena syarat masuk kepolisian kan harus lulus SMA terus lanjut ke akademi polisi)

Angkatan tahun kedua = 19 tahun.

Angkatan tahun ketiga = 20 tahun. (mau lulus dia)

Untuk list umur chara :

Kagami, GOM, Haizaki, Takao, Himuro, Furihata, Sakurai = angkatan tahun pertama 18th.

Hanamiya beserta kawanan Kirisaki Daichi = angkatan tahun kedua 19th.

Mayuzumi, Nijimura, Nebuya, Hayama, Reo = angkatan tahu ketiga 20th.

Momoi Satsuki = 25th.

Aida Riko = 26th.

Alex = 29th.

Sensei pria = kurang lebih 31th an.

Imayoshi = 45th.

.

.

.

TBC?

.

.

.