DARK PARADE

.

.

.

Rate M

Dead chara, crime, fiendship, drama, adventure, roman? Maybe -_-, humor :3

Warning : AU , ooc, typo, eyd murat marit :v, bahasa amburgaul :3, dll

.

.

.

Kuroko No Basuke selalu punya FUJIMAKI TADATOSHI

.

.

.

CHAPTER 9 – Terbukanya Rahasia

.

.

.


Kagami tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Matanya nyalang menatap sekitar. Dahinya berkerut seolah menandakan jika pemiliknya tengah berfikir. Telinganya terpasang dengan seksama, tengah mencari tau adakah suara-suara yang sekiranya mencurigakan.

Tangan yang lebih putih itu terulur menyentuh tubuh berbalut piama biru dongker disebelahnya. "Aomine, bangun! Aomine!" bisiknya pelan. Merasa tak digubris Kagami segera mengguncang tubuh dim yang tengah tertidur membelakanginya.

"Egggh…" erangan tak nyaman terdengar dari Aomine.

"Aomine, bangun! Ada yang datang!" bisikan Kagami tersebut langsung membuat Aomine membelalakkan kedua bola matanya. Secepat kilat dia bangun dan menatap Kagami yang memandang pintu kamarnya was-was.

"Ada apa?" bisik Aomine pada Kagami.

Kagami tak menjawab dia hanya memberi gestur untuk diam pada Aomine.

Aomine dapat mendengar jika ada suara brisik-brisik dilantai bawah rumahnya.

Melihat kedua orang tuanya tak ada dirumah bisa dipastikan jika yang ada dibawah lantai rumahnya kemungkinan tikus, kecoa terbang, atau penyusup.

Deg

Aomine memandang Kagami horor.

"A-apa ada…penyusup Kagami?" Kagami menoleh menghadap Aomine. Wajahnya tak kalah seram dengan Aomine.

"Kau punya tongkat baseball?" Aomine menggangguk sebelum berjalan kelemari pakaiannya dan membukanya. Menampilkan baju-baju miliknya yang tertata rapi.

Dua tongkat baseball yang terbuat dari besi ditariknya keluar dari lemari terbawah. Salah satunya dilemparkan pada Kagami.

Aomine mendekat kearah Kagami mencoba menyusun rencana bila ada hal buruk yang mungkin terjadi.

"Kau harus siap dengan apapun yang terjadi, termasuk…membunuh."

Aomine tersentak mendengar penuturan Kagami, mulutnya sudah akan terbuka untuk membantah namun dia urungkan kala mendengar langkah teratur yang berjalan mendekat kearah kamarnya.

Tanpa diperintah Aomine segera mengikuti Kagami.

Kamar Aomine terlihat gelap. Satu-satunya penerangan yang ada hanya cahaya lampu dan rembulan dari luar kamar yang masuk melalui jendela kamar tanpa gorden miliknya.

Mereka berada disisi pintu mencoba menyergap penyusup yang akan masuk ke kamar yang mereka tempati.

Cklek

Tap

Buag

Bruk

Aomine diam tak bergerak, mulutnya terbuka, dan matanya melotot.

Seonggok tubuh terlihat limbung dilantai kamarnya, cairan pekat keluar dari kepala orang tersebut.

Terima kasih pada Kagami yang langsung menghantamkan tongkat besi baseballnya pada pemuda bersurai silver yang baru saja satu langkah memasuki kamarnya.

"Jangan khawatir dia pelaku game, pemerintahan dunia yang akan mengurus soal kematiannya," ujar Kagami enteng sementara Aomine hanya menatap Kagami tak berkedip.

Yang benar saja Kagami barusan membunuh orang! Dengar membunuh orang! Dan dia sesantai ini! Seolah barusan dia hanya membunuh seekor kecoak terbang.

God! Aomine pasti masih ngelindur sekarang.

Kagami berjalan dengan berjingkat untuk keluar dari kamarnya, Aomine mengikuti dari belakang. Perasaannya campur sari, antara takut dan cemas. Melodi yang berdentum didadanya menjadi saksi jikalau ototnya yang besar itu tak kan mampu menutupi wajah cemasnya.

Aomine tak mengerti mengapa semua harus jadi seperti ini. Seingatnya semua masih baik-baik saja beberapa bulan yang lalu. Dia masih dengan bahagianya mengencet Sakurai, menggoda Furihata, dan menjahili Kise, namun semua berubah hanya dalam waktu kurang dari satu jam ketika bendera peperangan dikibarkan.

Tangan dim itu diseret oleh Kagami dengan kuat sebelum tubuh lebih kekarnya tersebut dibanting ketembok dapur dan diseret kebawah meja makan.

Yang remang sudah akan memaki jika saja tak ada tangan yang lebih putih yang membekap mulutnya.

Keringat bercucuran dari pelipis Aomine. Dia takut dan masih belum mau mati sekarang.

Hey, dia belum pernah tidur dengan seorang gadis pun! Dia bahkan belum bilang pada Ibunya jika dia sering membuang sayur yang dimasak Ibunya kala dibuatkan bentou, dia juga belum bilang pada Ayahnya jika dia yang telah merusak replika kapalnya saat berumur 7 tahun, dan yang palling penting dia belum bilang pada Kagami jika yang sudah membuat PSPnya terjun bebas ke gelas berisi kopi! Kan gawat kalau sampai Kagami tau lebih dulu.

Iris Aomine melebar saat melihat sebuah bayangan dilantai dapurnya. Dari sosoknya Aomine bisa menjamin jika itu adalah seorang lelaki.

Sosok itu berjalan makin dekat untuk masuk ke dapurnya.

Tap

'Are? Disini kosong juga?" tanyanya dengan berbisik.

"Kau tak menemukan apapun, Takao?"

'Ta-takao?' Aomine menoleh untuk menatap Kagami namun yang dia lihat malah semakin membuatnya tak percaya.

Dua buah pisau tergenggam ditangannya, yang satu pisau daging dan yang satu pisau potong.

Aomine menggelang-gelengkan kepala cepat mencoba menyangkal apa yang ada dikepalanya 'Ti-tidak mungkin…' terlalu cepat, mata Aomine tak dapat mengikuti. Dia hanya bisa terdiam ditempat sembunyinya –dibwah meja dapur sambil melihat Kagami yang melompat dan menerjang Takao.

"Ka-kagami…..Tai-ga..."

Bruk

Satu tubuh limbung lengkap dengan cairan merah yang merembes keluar dari perutnya.

"Kau bajingan!" maki Haizaki yang sudah lebih dulu diluar dapur sebelum berlari kearah pintu dapur, tempat dimana Kagami masih berdiri dengan santai bersenjatakan pisau.

.

.

Trang

Suara dua benda yang saling beradu terdengar memekakkan telinga.

"Eh? Nijimura ternyata?" senyum angkuh terlihat dibibir pemuda beriris dwi-warna.

Ctak

Tap

Nijimura mundur kebelakang saat merasa jika dia tidak akan menang. "Akashi Seijurou, sayang sekali namun semua sudah kami bereskan," tutur Nijimura sambil tersenyum remeh. Akashi hanya menganggkat alisnya tak begitu ambil pusing.

Dengan segera kembali dipacunya kakinya untuk menerjang kearah Nijimura.

Trang

Kembali wakizaki dan tonfa beradu kekuatan.

Nijimura agak kewalahan menghadapi Akashi yang menggunkan dua tonfa sementara dia hanya memegang satu wakizaki.

Matanya yang sewarna arang melirik kearah seharusnya Kuroko berada, namun yang dilihatnya hanya udara kosong, hampa tanpa sosok berambut baby blue.

"Lihat kemana kau makhluk lemah!" sentakkan Akashi kembali membawa Nijimura ke alam sadarnya, namun sudah terlambat.

Bruk

Tubuhnya terjatuh setelah terpental beberapa kali. Nijimura dapat merasakan memar dipipinya dan tulang rusuk yang terasa retak terkena hantaman tonfa.

"Hanya segitu kemampuan mu? tidak tau diri. Sadarilah posisi mu." seringai seram dari pemilik surai merah itu adalah hal terakhir yang dapat ditangkap oleh mata Nijimura.

.

.

Tubuh kekar itu tampak lemah tak berdaya. Tangan yang lebih berotot miliknya diborgol kuat tak bercela. Dia bahkan dapat merasakan jika otot tangannya mulai kaku.

Aroma tembakau yang menyapa indra penciumannya membuatnya sadar jika posisinya tak lebih baik disini.

"Kau sudah sadar, Kyoshi-san?" Kyoshi hanya mendengus sebelum membuang muka. Iblis, itulah yang ada dipikirannya.

Lawan bicarannya memililh diam saat tak mendapat sahutan sembari menatap jutaan bintang yang tengah bersinar di atas langit.

Semilir angin sedikit menerbangkan surai blondenya, sementara iris emeraldnya tersembunyi dibalik kelopak matanya.

"Apa yang kau inginkan…Alex-san?"

Pertanyaan penuh intimidasi milik Kyoshi Teppei tak membuat Alexandra Garcia ketakutan, dia malah tertawa penuh kebahagiaan yang semakin membuat Kyoshi geram karenanya.

"Jawab aku! Siapa kau sebenarnya! Ada dipihak mana kau aslinya!" bentakan dari Kyoshi berhasil menghentikan tawa milik Alex.

"Who am I?" tanya Alex dengan nada jenaka, dia tertawa sejenak sebelum menjawab, "I'm Alexandra Garcia~ Nice to meat you~ hahahahaha…" Kyoshi menyeryitkan dahi, dia merasa jika wanita didepannya ini sudah gila.

"Kau pasti berfikir jika….aku adalah salah satu pelaku game atau salah satu bawahan mereka bukan?" Kyoshi reflek mengangguk "Pffft~ sayang sekali namun bukan!" sentakkan Alex membuat Kyoshi sedikit menyeryitkan dahi.

"Lantas kau itu…"

"Nash," selaan dari Alex membuat Kyoshi melebarkan matanya.

"Nash Gold Jr, dia adikku. Dia yang telah kau bunuh untuk tumbal mu! Dia yang kau bunuh untuk jadi kambing hitam kalian dalam permainan yang kau mainkan 10 tahun lalu! Saat kau menjadi guru muda disini! Dia…kau membunuhnya…"

Kyoshi diam, pantas dia merasa cukup familiar saat melihat Alex ternyata mereka bersaudara.

Kyoshi tak bicara apapun lagi dia memilih menundukkan kepala. Ya, semua adalah salahnya. yang dikatakan oleh Alex benar. Dialah yang telah membunuhnya namun…

"Itu adalah sebuah kecelakaan. Dia anak yang pintar hampir seperti Aomine-kun, bedanya jika Aomine-kun menggunakan insting untuk bergerak maka dia menggunakan otaknya untuk mengungkap suatu kejadian. Dia menghack sistem kami dan milik pemerintahan dunia, saat itulah dia tau siapa saja yang menjadi pelaku game dan bukan. Kala itu aku masih guru muda aku tersulut emosi dan.." Kyoshi tak melanjutkan perkataannya, lebih tepatnya tak bisa.

Timah panas menembus dagingnya dengan cepat, bukan hanya satu atau dua tapi banyak.

Alex masih asik menghujami peluru pada Kyoshi tanpa lelah.

Angin yang bertiup memainkan rambutnya membuatnya tampak sangat menyeramkan sekaligus mengagumkan.

Bibir dipoles lipstic hot red itu tersenyum pongah bersamaan dengan bintang jatuh dari langit.

.

.

Kagami masih saling bergulat dengan Haizaki.

Muntahan peluru dan dentingan pisau beradu dalam kecepatan tinggi.

Aomine masih diam, ingin menolong namun sanksi, lagi pula apa yang bisa dia dilakukan?

Ini berbeda dengan beragam simulator penyelidikan yang selama ini selalu dapat dipecahkannya.

Terlalu rumit hingga otaknya terasa panas dan beruap.

"Kau sudah habis Taiger~" ucapan Haizaki kontan membuat Aomine menoleh kearah mereka tanpa sadar.

Kagami terduduk dengan paksa, lengan kiri atasnya berdarah tanda terkena hujaman peluru. Pisaunya entah ada dimana, nafasnya tak beraturan dan dia terlihat begitu lemah sekarang.

Aomine tak sanggup melihatnya, saat melihat Kagami entah mengapa rasanya begitu perih didadanya.

Ingatan akan kenangan dengan teman-temannya menyeruak keluar tanpa bisa dicegah.

Aomine bangkit dengan tertaih, dia berjalan pelan kearah Haizaki dengan pandangan tertunduk.

"Ho~ jagoan gagal ya," celaan Haizaki bagai angin lalu ditelinganya. Aomine tetap menunduk, diam tak bersuara. Genggaman tangannya pada tongkat baseball mengerat.

"Jangaaaannnn!" teriakan Kagami teredam oleh suara muntahan peluru yang tarik oleh Haizaki dari pelatuknya. Lurus, mengarah ketubuh Aomine.

Ctang

Mata Kagami terbelalak melihat Aomine dengan tangkas menangkis peluru tersebut dengan tongkat besinya, Kagami bahkan dapat melihat adanya kilatan berwarna navy yang keluar dari mata Aomine, seperti petir.

Satu tendangan dilayangkan pada Haizaki membuat Haizaki mau tak mau harus mundur kebelakang.

Dor

Sekali lagi muntahan peluru ditembakkan.

Wush

"Die"

Bruk

"A-aomine?" panggil Kagami dengan terbata, tak menyangka Aomine dapat berubah menjadi seseram itu, padahal selama ini yang Kagami tau Aomine itu hanya sosok pemuda mesum biasa.

Cklang

Tongkat baseball dari besi itu jatuh menggelinding hingga menyentuh ujung kaki Kagami.

Kagami diam menatap Aomine, pemuda seumrannya itu tampak depresi dan frustasi. Surai dongker itu tertunduk dalam Kagami bahkan dapat melihat rembesan darah milik Haizaki dibagian bawah celana piyama Aomine.

Kagami bangkit dengan segera sebelum berjalan mendekat kearah Aomine dengan tertatih.

"Hey," panggil Kagami membuat Aomine menoleh kearah Kagami.

Wajahnya tampak begitu menyedihkan, dahinya berkerut dan alisnya menyatu, wajahnya tampak tegang dan pandangannya yang biasanya tajam itu terlihat menyedihkan.

"Ak-u…pembunuh…aku membunuhnya….Kagami…" adu Aomine pada si rambut merah-hitam.

Kagami tersenyum mencoba membuat mental Aomine sedikit lebih baik, dia mendekat kearah Aomine sebelum akhirnya memberinya tonjokkan pelan di dada agak kesebelah kirinya, tepat dijantungnya.

"Kau bukan pembunuh Aho, kau pahlawan."

Dalam keheningan malam yang mereka ciptakan sosok tubuh tegap berkulit remang jatuh berlutut, Meraung dan menangis.

.

.

Kuroko menyisiri gelapnya lorong dengan perlahan. Wajahnya tampak datar walau dimatanya tersirat kilatan kekhawatiran. Satu-satunya hal yang tertanam di otaknya hanya satu yaitu dia harus mampu menemukan Momoi Satsuki. Wanita yang dicintainya, sebelum para pelaku game lain menemukannya.

Kuroko tau sejak awal harusnya dia tak ikut dengan gerombolan serigala berbulu domba seperti mereka.

Kuroko menggeram, dia tersadar bertapa bodohnya dia selama ini. Mereka hanya memanfaatkannya, sama seperti mereka memanfaatkan Takao Kazunari.

Kuroko masih ingat kala mereka melaksanakan rapat dalam rangka pergerakkan besar-besaran kala itu. Kuroko takkan lupa bagaimana wajah Takao saat tau jika dia harus membunuh Midorima Shintarou dengan tangannya sendiri.

Perasaan campur aduk antara sahabat dan musuh pasti sangat berat menyelimuti hati Takao.

Kaki berbalut celana bahan itu berhenti disebuah ruang perawatan sebelum akhirnya tangan putihnya menyentuh knop pintu dan membukanya.

Kosong

Tak ada apapun didalamnya.

Iris Kuroko melebar kala mencium adanya bau anyir darah. Matanya menatap sekitar dengan waspada, sebuah pistol dikeluarkannya. Sikapnya siaga takut-takut ada hal buruk yang datang.

"A-apa itu?" tanyanya pada diri sendiri. Kuroko melihat adanya rembesan darah yang keluar dari dinding.

Kuroko segera mendekat dan menendang dinding tersebut dengan keras.

"K-kyoshi…sen-sei…"ujarnya kala melihat siapa yang ada didalam sana. Kuroko menutup mulutnya, perutnya terasa melilit dan mual saat melihat pemandangan didepan matanya yang menyeramkan.

Kyoshi Teppei salah satu gurunya yang mengajar di bidang olahraga. Tewas dengan cara yang sangat mengenaskan. Kedua tangannya terikat dengan rantai dan dipaku ditembok sementara tubuhnya dicacah. Kuroko dapat melihat jika terdapat begitu banyak luka tembak disekujur tubuhnya. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela membuat Kuroko dapat melihat dengan jelas bagaimana rupa jasad Kyoshi.

Perutnya disobek dan ususnya dikeluarkan semudian dipotong potong, sementara kakinya hilang entah kemana.

Bruk

Kuroko jatuh terduduk ditempat, perasaan takut dan cemas datang menderanya.

"Iblis," makian keluar dari bibirnya, namun tak ada yang tau itu ditujukan pada siapa. Pada dirinya yang menjadi pelaku game atau pada mayat Kyoshi Teppei atau pada pembunuh Kyoshi Teppei.

.

.

"Tcih, sialan." Sepasang kaki diseret untuk berjalan, pakaiannya masih sebagus biasanya. Lorong panjang dalam keremangan cahaya bulan ditapakinya dengan perlahan.

Terima kasih pada Nijimura yang sudah memberinya sayatan di perut. Tak dalam memang namun sayang mengandung racun.

'Aku harus menemukan Satsuki dan membawanya pergi, sebelum semuanya terlambat.'

.

.

"Ta-tasuyaaaaaaaaaaaa~" jeritan dipagi buta memang akan mengundang decak sinis dan makian dari orang-orang, namun berbeda keadaanya saat ini.

Aomine hanya diam tak bergerak dari tempatnya, tangan dimnya berusaha menenagkan Kagami yang kalut.

"Tatsuya! Bangun….hiks….tatsuya!" sentakan dan guncangan tak dapat membangunkan tubuh pucat yang tengah tertidur dikasurnya.

Pria yang menjabat sebagai dokter rumah sakit itu hanya diam tak berusaha untuk menghentikan pemuda merah-hitam didepannya begitupun dengan suster disebelahnya.

Tangan Kagami terkepal erat, giginya gemeretak menahan amarah, disekanya air mata yang menetes dengan punggung tangannya.

"Akan ku balas mereka, akan kubalas mereka semuaaaaaaaa!" jeritnya frustasi.

.

.

Kurobasu School tampak sepi, tak ada tanda-tanda adanya manusia didalamnya. Bau darah tercium disekitar areal sekolah militer tersebut.

Kagami meremat erat buku tebal digenggamannya. Buku yang bukan sebuah buku biasa. Buku bersampul coklat itu adalah buku daftar korban dan target milik Mayuzumi Cihihiro.

"Tinggal mereka ya," ujar Aomine memecah keheningan, yang di balas dengan anggukkan kepala oleh Kagami.

"Setelah semuanya selesai apa yang akan kau lakukan?"

"Entah, kembali ke Amerika mungkin…" jawab Kagami tak pasti.

"Ayo!"

Dua kaki beriringan memasuki areal sekolah.

.

.

.

DARK PARADE

LoliTa Con

.

.

.

"Dia sudah mati, Kagami."

"Berarti hanya tinggal satu," ujar Kagami memastikan.

"Siapa dia?"

"Entah, ada beberapa yang tidak mereka tandai. Akashi Seijurou, Kuroko Tetsuya, Takao Kazunari, Haizaki Sougo, dan Mayuzumi Cihihiro. Mengingat jika pelaku game bukanlah para guru dan Takao, Mayuzumi serta Haizaki berhasil kita singkirkan maka hanya mereka yang tersisalah target kita sekarang," jabar Kagami.

"Semoga bukan Akashi, bisa gawat jika dia." Aomine bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi.

Kikikan geli disebelahnya membuat Aomine menatap Kagami dengan pandangan mengisaratkan pertanyaan.

"Didunia ini tak ada yang mustahil, namun yang lebih penting… didunia ini tak ada yang sempurna." Aomine dapat melihat Kagami menyeringai sebelum mendahuluinya pergi dari atap.

.

.

"Aturan dari game ini adalah membunuh semua pelaku game atau mengetahui semua identitasnya, namun selesai atau tidaknya semua tergantung pada keputusan pemerintahan dunia."

"Berarti tak ada bedanya dong!" sentak Aomine pada Kagami.

"Entah~" Aomine melotot kearah Kagami sementara yang dipelototi tak perduli.

"Aomine, Kagami," panggil seseorang yang menyender pada dinding.

"A-akashi." Aomine sudah akan berlari kearah temannya tersebut untuk menolongnya namun terhenti kala merasakan genggaman erat ditangan kanannya.

"Teman atau musuh!" teriakkan Kagami yang penuh amarah hanya dibalas dengan tatapan tajam oleh Akashi.

Deshan lelah dikeluarkan Akashi sebelum tangannya menunjukkan perutnya yang tergores. Darah merembes dari kemejanya.

"Bisa," gumam Kagami sebelum akhirnya dia mendekati Akashi dengan Aomine.

"Kita harus menyelatkannya Kagami," pinta Aomine.

"Papah dia, kita bawa ke UKS." Aomine mengangguk sebelum mengalungkan tangan Akashi pada pundaknya.

"Satsuki," panggilan Akashi membuat Aomine dan Kagami menoleh kearahnya.

"Kenapa dengan Satsuki?" tanya Aomine dengan dahi berkerut.

"Jangan khawatirkan aku, aku masih mampu bertahan. Cari Tetsuya aku akan mencari Satsuki dan membawahnya keluar."

"Ada apa dengan Tetsu?"

"Dia pelaku game," teriak Kagami sebelum dia menatap Akashi.

"Ya, cari dia. Aku akan cari Satsuki."

Aomine berfikir sejenak, mencoba menimang apakah pantas membiarkan Akashi sendirian.

"Jangan khawatirkan aku, aku sudah melakukan penanganan pertama semampuku. Aku masih bisa bertahan, hanya kalian yang masih bugar. Cepat!" sentakkan Akashi membuat Kagami menarik paksa Aomine.

"Apa kau yakin Kagami? Akashi tampak tak begitu baik," tutur Aomine.

"Jangan khawatir, dia laki-laki." Aomine mengangguk faham tanpa tau jika Kagami tengah menyeringai.

.

.

"Aomine-kun," panggil Kuroko tak mengerti.

"Kau! Kau pelaku game kan, Tetsu!" teriak Aomine sambil menodongkan pistolnya pada Kuroko.

Kuroko diam tak berkutik. Kepalanya tertunduk menghadap kebawah.

"Ya, dan itu bukanlah kemauan ku, aku terpaksa. Orang tua ku yang menyuruh ku!" air mata perlahan merembes membahasi pipinya sebelum akhirnya jatuh ketanah.

Aomine masih menodongkan moncong pistolnya pada Kuroko. Dia ikut menangis, tubuhnya bergetar.

"Kenapa? Kenapa Ku-"

Dor

Iris Aomine terbelalak sebelum bunyi tubuh yang terjatuh terdengar. Pandangannya memburam sebelum dia berteriak kesetanan.

Ditangkapnya tubuh didepannya dengan erat. "Bodoh! Kenapa kau melindungi ku!" makinya pada pemuda berambut merah-hitam yang berdarah dibagian perutnya.

"Hehe…kita teman kan?" Aomine menggelangkan kepalanya tak percaya.

Si bodoh ini menghalangi timah panas yang ditembakkan Kuroko padanya dengan tubuhnya kemudian menembak balik Kuroko dengan pistolnya.

Aomine memandang Kuroko yang terbatuk jauh didepannya.

"Kau!" raung Aomine sebelum mendekat dan menendang tubuh ringkih itu hingga jatuh.

"Bajingan! Penghianat!" maki Aomine sambil memukuli tubuh Kuroko.

"Aku memang menodong mu dengan pistol tapi aku sama sekali tak pernah berniat untuk menembak mu!"

"Hahahahahahhahhahaaa~" tertawaan Kuroko semakin membuat Aomine kesal hingga dia dengan semakin membabibuta menghajar Kuroko.

"Aomine, cukup!"

"Aomine, hentikan!"

"Aomine! Dia sudah mati!" teriakan Kagami yang kesekian kali berhasil membuat Aomine kembali kedunia nyata.

Wajah Aomine pucat kala melihat tubuh dibawahnya yang sudah tidak berbentuk, kedua tangannya bersimbah darah. Aomine memundurkan badan sebelum jatuh terduduk.

Lorong sepi yang menjadi tempat mereka berada terasa mencekam.

Aomine menoleh kebelakang dengan perlahan, terlihat Kagami yang memandangnya dengan tatapan setengah sadar.

"Kagami!" teriaknya sebelum akhirnya Aomine berlari kearah Kagami.

"Ayo, aku akan membawah mu ke rumah sakit!" Aomine berusaha untuk memapah tubuh Kagami.

"Hehe, bodoh! Aku akan mati disini! Pergilah dengan Akashi, aku tak apa." Tolakan Kagami membuahkan gelengan erat dari Aomine.

"Kau teman ku bodoh! Aku takkan meninggalkan mu disini!"

"Hei, bertahanlah!" bentakan Aomine tak dijawab oleh Kagami.

Aomine kembali menahan diri untuk menangis, digenggamnya erat tangan yang terkalung dilehernya.

"Kau harus hidup bodoh! Bukankah kau bilang akan kembali ke Amerika jika sudah menyelesaikan game ini! Hei, bodoh! Dengar aku!" tak ada jawaban dari lawan bicara, Aomine bahkan tak dapat mendengar adanya nafas teratur yang keluar dari tubuh yang dipapahnya.

"Hei, Kagami! Kau dengar aku kan!"

"Relakan dia, Daiki," tutur Akashi yang baru sampai sambil membopong tubuh Momoi Satsuki.

Aomine diam tak bergerak dia masih menangis, air matanya berderai membasahi pipinya. Tak sanggup harus kelilangan sosok sahabat yang selama ini menemani harinya.

Ditidurkannya Kagami dilantai sebelum Aomine membuat simbol salib didahinya.

"Kau teman ku Kagami, aku janji aku takkan melupakan mu!" ujar Aomine untuk terakhir kalinya sebelum dia bangkit dan berjalan beriringan dengan Akashi, keluar dari gedung KS.

.

.

Langkah kaki yang ringan terdengar bergema dipenjuru ruangan. Gumaman penuh bahagia keluar dari bibir berpoles lipstick merah membara. Dia membawa sebuah wadah berisi bensin ditangannya yang dengan bahagianya dia curahkan irisnya agar jatuh kelantai dibawahnya.

"Disini ku terluka, disana kau tertawa, bila aku kesana akankah bahagia~" nyanyinya dengan perlahan sambil berputar-putar.

Kemeja putih ketat dan celana bahan hitam membalut tubuhnya.

Alexandra Garcia, tertawa. Mentertawakan dunia dan dirinya sendiri.

Ctak

Wush

Kobaran api tercipta dengan mudah kala dia menyulutnya dengan pematik. Alex tersenyum bahagia melihat pemenadangan kobaran api yang melahab gednung KS.

"Semua sudah berakhir," ujar pemuda disebelahnya. Alex melirik pemuda tersebut dari ekor matanya. Rambutnya yang merah-hitam tampak lebih kusut dari biasanya.

"Bagaimana dengan luka mu?" tanya Alex.

"Tak masalah, aku menggunakan rompi anti peluru," jawabnya singkat.

Alex mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya sebelum dia menyalakannya. Dilemparnya bungkus rokok dan pematiknya pada pemuda dibelahnya.

Tak ada balasan apapun darinya namun Alex dapat mencium adanya aroma tembakau yang terbakar dari sebelah.

"Rokok memang yang terbaik," gumam wanita cantik berambut panjang itu sembari menikmati kobran api didepannya.

.

.

Kuroi ame kudarase kono sora

Watashi wa nozomarenai mono

Hibiwareta noirooze

Aisu douzai no boukansha tachi ni

Saa ima furue seigi wo

Keisenai kizu wo dakishimete

Kono karada wo ukeire

Tomo ni yukou namae no kai kaibutsu

.

.

Sesosok tubuh tegap berseragam berwarna feldgrau terlihat dipelupuk mata. Pemuda berambut merah-hitam dengan iris merah gelap itu menatap petinggi keamanan Pemerintahan Dunia yang menjadi atasannya dalam diam. Tak terlintas sedikitpun keinginannya untuk sekedar melempar senyum pada orang yang berpangkat tinggi dihadapannya tersebut. Hanya wajah datar tanpa emosi yang terlihat.

"Jadi, kau ingin menukar kemenangan mu dengan penghapusan sistem game di seluruh akademi militer?"

"Ya," jawabnya mantap.

Si tua bangka-panggilan Kagami untuknya itu tampak tersenyum kala mendengar jawaban dari pemuda didepannya.

"Seperti yang ku harapkan dari mu, tentu. Dengan senang hati akan ku lakukan, Kagami Taiga."


.

.

.

Fin

.

.

.

ALL ABOUT OLD:

Angkatan tahun pertama = 18 tahun. (baru lulus SMA karena syarat masuk kepolisian kan harus lulus SMA terus lanjut ke akademi polisi)

Angkatan tahun kedua = 19 tahun.

Angkatan tahun ketiga = 20 tahun. (mau lulus dia)

Untuk list umur chara :

Kagami, GOM, Haizaki, Takao, Himuro, Furihata, Sakurai = angkatan tahun pertama 18th.

Hanamiya beserta kawanan Kirisaki Daichi = angkatan tahun kedua 19th.

Mayuzumi, Nijimura, Nebuya, Hayama, Reo = angkatan tahu ketiga 20th.

Momoi Satsuki = 25th.

Aida Riko = 26th.

Alex = 29th.

Sensei pria = kurang lebih 31th an.

Imayoshi = 45th.

Song - Egois – Namai no Kaibutsu (Psycho pass ED 1st season)

.

.

.