NOT SENSITIVE
Pairing : Naruto x Gaara
Genre : Romance
Rate : T+
WARNING : TIDAK DI PERBOLEHKAN UNTUK USIA DI BAWAH 17THN, DAN JIKA BUKAN FUJODANSHI DILARANG KERAS UNTUK MEMBACA. MAAF JIKA BANYAK TYPO BETERBANGAN DIMANA-MANA, DAN MAAF JIKA ALUR CERITA TIDAK SESUAI DENGAN KEINGINAN ANDA.
DON'T LIKE, DON'T READ
NO FLAME JIKA TIDAK MENDIDIK!
Chapter 4
FLASHBACK ON
"Shu, menurutmu bagaimana? Kau tau kan aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini?" tanya Gaara.
"Hahahaha, tenanglah Gaara. Seperti bukan dirimu saja, dimana wibawamu hm? Tak kusangka bocah kuning itu bisa merubahmu 180 derajat seperti ini" jawab Shukaku yang berada dalam diri Gaara.
Yah, setelah adegan ciuman itu Gaara kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk membicarakannya dengan Shukaku tentang apa yang ia rasakan waktu itu sekaligus curhat mungkin(?).
"Jadi? Apa yang harus kulakukan pada perasaanku ini? Kau tau kan banyak perbedaan di antara kami?"
"Apa karena kau dan dia sesama lelaki? Ah tidak, itu namanya persamaan ya. Atau karena masalah perjodohan itu?" tebak telak Shukaku.
"Hn"
"Dengar Gaara, kau tidak tau sebelum kau mencobanya. Jika menurutku, katakanlah perasaanmu pada si durian itu. Jangan me…"
"Panggil dia Naruto, Shu" potong Gaara
"Tidak mau! Hei dengarkan aku jangan memotong pembicaraanku!" Geram Shukaku.
"Hn, teruskan"
"Ck, aku jadi malas berbicara denganmu. Baiklah, menurutku coba saja kau katakan pada Naruto. Tanyakan padanya apa yang seharusnya manusia normallakukan jika merasakan perasaan seperti itu, aku juga tidak pernah tau perasaan manusia karena manusia itu membingungkan" jelas Shukaku.
"Jadi menurutmu aku manusia tidak normal begitu?" tanya Gaara dengan bernada datar sedikit terkesan polos.
"Hei, tentu saja. Jadi secepatnya temui bocah kuning itu, ajak dia berbicara dan usahakan dia merasa nyaman. Siapa tau dia langsung menyerangmu Gaara, HAHAHAHAHAH!" Shukaku benaar-benar gemas sendiri dengan Jinchurikinya ini.
Sedangkan Gaara jadi bingung sendiri, sepertinya ia harus memikirkan cara agar bisa berbicara dengan nyaman bersama Naruto nanti dan tentu saja memilih waktu yang tepat.
FLASHBACK OFF
"EHEM!"
Naruto dan Gaara tersentak kaget ketika muncul seseorang menganggu acara mereka. Salah tingkah, tentu saja. Wajah Gaara terlihat sangat merah meskipun di tutupi oleh wajah datarnya, akhirnya ia sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat. Sedangkan Naruto hanya cengengesan seperti orang gila sembari menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Ah Aozora, sedang apa kau kemari?" tanya Naruto.
"Hm, aku sedang mencari Kazekage-sama. Tadi aku ke kantor Kazekage tetapi Gaara-sama tidak ada, aku tanya penjaga disana mereka bilang tidak tau. Lalu aku memutuskan untuk pergi mencarinya. Dan yah begitulah, aku menemukan kalian disini" jelas Aozora.
"Ada apa mencariku?" tanya Gaara dengan kembali berwajah datar andalannya.
"Ano Gaara-sama, bagaimana tentang perjodohannya?"
Perhatian Aozora kini teralih sepenuhnya pada Gaara begitu juga dengan Naruto yang saat ini menatap Gaara was-was. Entah kenapa dada Naruto terasa sakit dan perih secara bersamaan saat Aozora membahas tentang perjodohan Gaara saat ini.
" Saya baru saja menerima surat dari Negeri Matahari agar bergerak cepat, karena pihak musuh sudah mulai melakukan kudeta di Negeri kami. Lalu saat saya menemui Damyo-sama, beliau mengatakan agar menyampaikannya sendiri kepada anda Gaara-sama" sambung Aozora.
Hening
Hening
"Naruto, ikut aku" Gaara pun berlalu menyisakan Naruto dan Aozora yang menatap heran punggung sang Kazekage. Tanpa banyak bicara, Naruto pun berlari menyusul Gaara yang sudah berjalan jauh.
.
.
.
Saat ini Naruto dan Gaara berdiri di bawah pohon yang tinggi berdaun kering dan dikelilingi oleh padang pasir. Berdiri saling berhadapan, tapi tidak dengan tatapan mata mereka.
Gaara yang ragu akan apa yang ingin ia katakan tentang perasaannya pada Naruto, sedangkan Naruto sendiri bingung pembicaraan seperti apa yang harus ia mulai. Entah kenapa ia jadi canggung seperti ini di depan Gaara, yah sejak insiden ciuman setengah di sengaja malam itu.
Naruto berdehem sebentar lalu memulai berbicara.
"Hm Gaara, kau tidak ap-"
"Aku menyukaimu"
Tiba-tiba tubuh Naruto menjadi kaku setelah mendengar Gaara yang bicara memutus perkataannya.
"Eh? Kau bicara apa Gaara?" tanya Naruto seakan ragu dengan pendengarannya.
Akhirnya mau tidak mau mereka saling menatap dan Gaara mengulangi pernyataannya.
"Naruto, aku menyukaimu"
Naruto diam, ia tidak tau harus bereaksi seperti apa.
Gaara tiba-tiba mendekati Naruto perlahan sampai meninggalkan jarak hanya sampai tiga senti saja.
Cup
Tubuh Naruto menegang, matanya terbelalak lebar tiba-tiba Gaara menciumnya. Ia merasa de javu dengan keadaan seperti ini.
Mata langit Naruto mengarah pada kelopak mata Gaara yang terpejam, lalu mulai mengarahkan matanya ke bawah melihat bibir Gaara yang mulai memagut bibir bawahnya. Entah kenapa tiba-tiba di perutnya serasa ada beribu kupu-kupu yang beterbangan, dengan pasrah ia pun mulai ikut memejamkan bata birunya dan menikmati ciumannya dengan Gaara.
"Nghhh!" erang Gaara kaget saat Naruto langsung melahap rakus bibir mungilnya.
Gaara melingkarkan kedua tangannya pada leher Naruto, ia semakin merapatkan tubuhnya dan mengikuti lumatan panas yang Naruto lakukan. Begitu juga dengan Naruto yang melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping milik Gaara dan sedikit mengangkat tubuh Gaara agar dia lebih leluasa melahap bibir ranum Gaara.
"Ahh..hh Naruh..mmph..ah" benar-benar Naruto ingin memakan habis bibir sexy Gaara, mereka saling menukar saliva sampai tercecer keluar mengalir melewati dagu dan leher putih Gaara.
Karena kekurangan pasokan oksigen, dengan terpaksa Naruto melepaskan ciuman ganasnya ketika Gaara sedikit memukul dada bidangnya.
Terlepas, mereka saling meraup oksigen masing-masih tanpa melepas pelukan mereka. Wajah Gaara memerah, mata hijau sedikit berkabut, saliva yang masih mengalir dari dalam mulutnya sampai melewati leher mulus Gaara.
Sexy
Itulah yang di pikirkan Naruto saat melihat keadaan Gaara saat ini.
Naruto sedikit merunduk lalu dengan rakus menjilati seluruh saliva yang mengalir di dagu Gaara.
"Ahh.." Gaara mendongakkan kepalanya mengijinkan Naruto melakukan tugasnya.
Seakan mendapat izin, Naruto mulai menurunkan jilatannya perlahan pada leher jenjang Gaara.
Kecupan, jilatan, dan sedikit gigitan pada leher Gaara ia lakukan berulang-ulang hingga meninnggalkan jejak-jejak kecil kemerahan pada kulit putih Gaara.
"ah.. uhh..naruh.." jari-jari Gaara mulai mencengkram surai pirang Naruto, menandakan bahwa ia sangat menikmati permainan pemuda tersebut.
Seakan mengerti isyarat Gaara, tangan berkulit tan yang semula menganggur mulai sedikit bermain membelai punggung Gaara yang terlapisi jubah putih. Namun meskipun begitu, Gaara masih bisa merasakan rangsangan tersebut.
Naruto mulai sedikit lepas kendali, jilatannya mengarah pada telinga mungil Gaara.
Dijilatnya telinga itu perlahan, sedikit memberi rangsangan lalu melahap habis telinga Gaara.
"AHH! Naruhh..sshh..em" Gaara memejamkan erat matanya.
Nikmat
Ingin lebih
Itulah yang mereka pikirkan.
Gaara menikmati sentuhan Naruto, sedangkan Naruto yang terangsang dengan desahan-desahan yang selalu keluar dari bibir Gaara.
Disebuah ruangan berdominan putih, tidak banyak barang yang ada di dalam ruangan tersebut. Hanya ada kamar mandi yang sedikit luas, lemari baju, kursi dan meja yang terdapat banyak tumpukan kertas, lalu sebuah ranjang king size bersprei putih yang saat ini di huni oleh dua pemuda berambut kuning dan berambut merah. Yah, mereka Naruto dan Gaara sedang bercumbu ria. Hanya ciuman panas yang mereka lakukan dan tak sampai menanggalkan baju mereka, hmm mungkin mereka masih polos dan tidak terlalu mengerti tentang sentuhan-sentuhan intim seperti… yahh you know what?.
Naruto merasa kegiatannya tidak nyaman jika di lakukan di tempat kering menyesakkan seperti di gurun pasir tadi. Ia pun memutuskan untuk meneleportasikan dirinya dan Gaara disini, di kamar Gaara.
Gaara yang mendesah dan mengerang di bawah tindihan tubuh Naruto, menikmati sentuhan-sentuhan memabukkan Naruto. Kecupan, jilatan dan gigitan kecil selalu Naruto berikan pada bibir, dagu, leher dan telinga Gaara. Seluruh wajah Gaara pun tak luput dari sentuhan Naruto, begitu juga dengan Gaara yang mulai berani melakukan hal yang sama dengan apa yang Naruto lakukan padanya.
Mereka masih sangat-sangat sadar melakukan semua ini. Terutama Naruto, ia tidak peduli apapun. Ia ingin selalu seperti ini, mulai sekarang ia sudah putuskan bahwa menyentuh Gaara adalah sebuah candu baginya.
Tubuh mereka basah oleh keringat, entah kenapa suhu di kamar tersebut mulai memanas. Naruto sedikit memundurkan wajahnya dari wajah Gaara, mereka terengah-engah dan wajah mereka merah menyaingi merahnya buah tomat yang sudah matang. Mata yang sudah tertutupi kabut nafsu saling menatap.
"Gaara" suara berat nan serak milik Naruto berhasil membuat Gaara semakin merona.
"AHH!" mereka saling mendongak, memejam erat mata mereka saat penis mereka tiba-tiba bersentuhan dan sedikit gesekan di luar kain yang melekat menutupinya.
Wah, tampaknya setan sudah merasuki tubuh Naruto dan Gaara yang saat ini tidak sepolos yang kita pikirkan.
Naruto kembali menatap Gaara, sexy so sexy.
" .. -ah ruh ah..ah" Gaara mendesah keras dan menyentakkan kepalanya di bantal yang ia pakai saat Naruto dengan kasar menggesekkan penis mereka yang masih tertutup kain.
"ah..haa..Gaara..ki mo-ah..chi..Gaara" bahkan Naruto pun tidak bisa menahan erangannya. Ia pun merasa sangat nikmat dan seperti terbang di surga.
"eng..kimochi..ah..naruhh..le bih..ce..ah..path" Gaara mencengkram erat seprei putih kasur.
Naruto bergerak lebih cepat sesuai dengan permintaan Gaara, precum menetes dan membasahi kain yang berada di sekitar selangkangan mereka.
"ah..ah..ah..ahngh..naruh..ken cing..ah ku ken..ahcing" Gaara merasa ada yang ingin keluar dari penisnya.
"ngh..yahh..ku..ju ga..ah..ber sama..ahgaara" Naruto pun merunduk menyambar bibir ranum Gaara yang membengkak. Bersamaan dengan itu,,
Crott
Croot
Croottt
Mereka mengeluarkannya bersama, tubuh Naruto ambruk sepenuhnya menindih tubuh Gaara. Tubuh mereka lemas, nafas terengah-engah, baju mereka basah oleh keringat kecuali kain di sekitar selangkangan yang basah karena sperma mereka.
"Na-ru toh, be-rat" dengan sisa tenaganya Naruto memindahkan tubuhnya untuk berbaring di samping Gaara.
Karena kelelahan, akhirnya mereka tertidur dengan baju yang basah dan sedikit lengket serta ranjang yang berantakan, saling berpelukan tanpa mereka sadari.
.
.
.
Rahang yang kokoh.
Hidung mancung.
Kulit tan.
Tampan.
Gaara yang memutuskan membawa tangan putihnya menelusuri wajah sang pujaan jati yang tertidur disampingnya ketika ia merasa tidak nyaman dalam tidurnya. Merasa panas dan tidak bisa bergerak, saat membuka matanya ia terkejut melihat sang Uzumaki memeluknya erat dalam tidur mereka.
Blushh..
Wajah Gaara memerah saat mengingat apa yang ia lakukan dengan Naruto sebelum berangkat ke alam mimpinya.
Saata Gaara akan menarik tangannya dari wajah Naruto, sebuah tangan tan menahannya lalu mengecup lama tangan Gaara tanpa membuka matanya.
Gaara memandang Naruto malu seperti kucing yang kepergok mencuri ikan asin tetangga(?), setelah beberapa menit Naruto melepaskan kecupannya bersamaan bola mata biru yang mulai tampak.
"Kurasa aku juga menyukaimu, Gaara" bola mata biru Naruto menatap teduh pada bola mata hijau milik Gaara, dan memberikan senyuman kecil pada Gaara.
Mata hijau itu terbelalak saat mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut Naruto, dengan cepat Gaara mengganti ekspresinya menjadi raut bahagia dengan senyuman yang sedikit lebar yang jarang ia tunjukan pada semua orang.
Manis
Itulah yang Naruto pikirkan saat melihat senyuman Gaara, dan terkikit geli saat Gaara tiba-tiba menelusupkan kepalanya pada dada bidang Naruto hingga rambut merahnya terkena kulit leher Naruto.
"Meskipun aku tau kita sesama laki-laki, menurutku masalah gender tidaklah penting. Kalau sudah suka, mau bagaimana lagi?" terang Naruto.
Naruto memeluk Gaara erat, begitu juga Gaara.
"Lebih baik kita mandi Gaara, tubuh kita sangat lengket"
Gaara mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Aku akan kembali ke kamarku, setelah mandi tunggu aku disini. Mengerti?" Naruto turun dari ranjang dan melihat Gaara yang menjawabnya dengan anggukan disertai senyuman kecil yang sangat manis di mata Naruto.
Naruto pun beranjak pergi setelah mencuri ciuman singkat di pipi kiri Gaara, dan meninggalkan Gaara yang sedang berblushing ria.
oOo
Setelah Naruto selesai dengan ritualnya begitu juga Gaara, lalu membicarakan tentang perjodohan Gaara di dalam kamar sang empunya. Naruto tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia merasa tidak rela jika harus melepaskan Gaara dengan orang lain. Tentu saja itu wajar kan, bukankah Naruto sudah menyatakan perasaannya tadi?.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan Gaara?" Naruto dengan ekspresi bingungnya terus saja mendesak Gaara agar membatalkan acara perjodohannya.
"Hhh! Entahlah Naruto. Aku akan mencoba berbicara pada Daimyo-sama dan sedikit meminta bantuan pada para tetuah" jelas Gaara yang saat ini duduk berhadapan dengan Naruto di atas kasur.
Naruto mengangkat tangan kanannya lalu membelai pelan pipi cubby Gaara.
"Kau tau, aku tak pernah memiliki hubungan yang seperti ini. Ini adalah yang pertama bagiku, aku yakin begitu juga denganmu Gaara" Naruto memandang Gaara dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Hn, aku janji akan selalu bersamamu" Gaara memberikan senyuman manisnya pada pemuda berambut pirang yang ia putuskan sudah menjadi kekasihnya.
.
.
.
Di sebuah ruangan yang sangat luas dan berdiri patung para Kazekage terdahulu, Gaara dan para tetuah duduk melingkar dan hanya di batasi dengan meja yang berbentuk lingkaran.
"Jadi, apakah anda sudah siap memberi jawaban atas perjodohan itu Kazekage-sama?" tanya tetua berbadan sedikit tambun.
"Hn, aku tidak ingin banyak bicara. Kalian tentu tau kan bahwa aku menyukai Naruto? Aku akan menolak perjodohan itu, aku harap kalian bisa membujuk Daimyo-sama agar membatalkannya" jelas Gaara sembari menautkan jari-jarinya di bawah dagu.
"Tapi bagaimana dengan perasaan Uzumaki Naruto pada anda? Apakah ia mengerti?" balas tetua tadi.
"Tentu saja" tiba-tiba sebuah suara yang sedikit cempreng menyaut dan masuklah pemilik suara itu bergabung di dalam satu ruangan tersebut.
"Naruto" Gaara berdiri dari duduknya dan menunjukkan wajahnya yang sedikit kaget.
Naruto berjalan mendekati kekasihnya memeluk pinggang Gaara lalu mecuri sedikit kecupan di kedua pipi Gaara sehingga membuat rona merah itu muncul.
"Aku sudah menjalin hubungan special dengan Gaara mulai hari ini, dan tentu saja aku tidak mengizinkan Gaara untuk menjalankan perjodohan bodoh itu"
Blushh…
Wajah Gaara sangat merah meskipun tertutupi dengan wajah datar miliknya.
"Gaara, kita akan menemui Daimyo sekarang. Ayo" Naruto menggandeng tangan Gaara dan berjalan keluar untuk menemui Daimyo Negara Angin.
.
.
.
"Aku tidak setuju dengan perjodohan bodoh itu, Gaara sekarang adalah kekasihku dan tentu saja aku tidak akan melepaskan Gaara" Naruto berbicara lantang di depan seseorang yang bersembunyi di balik tirai. Sedangkan Gaara duduk dengan tenang di sebelahnya meskipun hatinya sedang kalut tak karuan.
"Aku tidak mau memperpanjang masalah, baiklah jika itu mau kalian. Tetapi, aku memiliki tiga syarat karena bagaimana pun Gaara adalah seorang pemimpin di desa ini" sang Daimyo pun membalas pernyataan Naruto dari balik tirai.
"Apa itu cepat katakan?" Naruto pun tidak sabar ingin tau persyaratan yang di ajukan oleh Daimyo.
"Naruto, tenanglah" Gaara menggenggam tangan Naruto agar tenang dan mendengarkan persyaratan tersebut.
"Hahahaha, baiklah. Dengarkan baik-baik, katakan keputusan kalian setelah aku mengajukan persyaratan tersebut. Karena aku tidak akan memberikan kalian waktu barang sedetik pun"
Naruto dan Gaara pun mulai tegang, dan tanpa sengaja mereka menguatkan genggaman tangan mereka.
"Syarat pertama, kalian harus membantu Raja dari Negeri Matahari yang saat ini sedang mengalami kesulitan. Beliau adalah sahabat baikku, jadi selesaikan masalahnya tanpa harus menggunakan jalan perjodohan ini. Terserah cara apapun itu yang ingin kalian lakukan asalkan Negeri itu kembali tenang. Jadi bagaimana? Apakah kalian setuju dengan itu?"
"Osh, kami akan melakukannya. Iya kan Gaara?" Naruto dengan percaya dirinya langsung menyetujui syarat tersebut.
"Hm baiklah, kurasa itu juga bukan suatu yang sulit bagimu Uzumaki Naruto. Kau sudah memenangkan perang dunia, aku yakin masalah seperti ini pasti bisa kau selesaikan. Sebelum aku mengajukan syarat kedua, aku tanya pada kalian. Apakah kalian sungguh-sungguh dengan hubungan kalian?"
Naruto dan Gaara saling memandang, mereka sendiri juga tidak tahu bagaimana dengan hubungan ini. Seakan tau fikiran masing-masing, mereka mengalihkan pandangan ke arah tirai di depan mereka.
"Entahlah" jawab mereka berdua.
Daimyo hanya mendengus setelah tau jawaban mereka lalu berkata.
"Baiklah, pikirkan baik-baik. Itu termasuk dalam persyaratan kedua, jika kalian ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Maka salah satu dari kalian tidak bisa menjadi Kage, aku tau Uzumaki Naruto suatu saat akan di lantik menjadi Hokage"
Naruto dan Gaara menengang.
"Hei, kenapa bisa begitu?" teriak Naruto tak terima.
"Jika kalian berumah tangga, tidak mungkin kalian akan tinggal di desa yang berbeda. Sedangkan pemimpin harus selalu berada di desa, bukan begitu?"
Naruto pun bungkam, sedangkan Gaara masih tenang mendengarkan sang Daimyo berbicara. Ia sih tak masalah, asal dirinya selalu disisi Naruto ia rela jika harus turun dari pangkatnya. Toh dia menjadi Kazekage karena Naruto, jika ia tidak bertemu Naruto tidak mungkin ia menjadi Kazekage saat ini.
"Syarat ketiga, kalian harus memiliki keturunan. Dan itu adalah syarat yang paling penting, jadi bagaiman? Aku sudah menjelaskan syarat-syarat yang sudah kuajukan, apa kalian sanggup?"
Gaara menegang lalu menatap Naruto ingin meminta kepastian, sedangkan pandangan Naruto hanya lurus ke depan. Wajahnya mengeras, sedikit bingung dari ekspresinya. Gaara pun berpikir bahwa mereka tidak akan sanggup memenuhi persyaratan ketiga yang Daimyo ajukan. Dan sepertinya ia harus siap patah hati setelah ini, dan merelakan Naruto pergi dari sisinya. Lagipula Naruto hanya menyukainya, tidak mencintainya bukan?.
Gaara pun menghela nafas panjang, lalu menghadap ke arah tirai di depannya. Ia akan menerima perjodohannya dengan Putri Negeri Matahari. Ia memejamkan mata, bersiap untuk berbicara bahwa…
"Baiklah, kami sanggup" tiba-tiba jeritan Naruto mengagetkan seluruh penghuni ruangan tersebut, termasuk Gaara yang saat ini sudah membelalakkan matanya menatap Naruto kaget.
"Naruto, apa yang kau bicarakan? Kita sesama laki-laki, tidak mungkin kita akan mendapatkan keturunan BAKA!" geram Gaara sedikit tak percaya dengan apa yang di katakan Naruto.
Naruto pun menoleh ke arah Gaara lalu tersenyum lebar untuk meyakinkan Gaara, ia pun menyentuh wajah Gaara dengan tangan kanannya dan berkata "Kita akan temukan jalan keluarnya Gaara, kita punya teman-teman yang akan membantu kita nanti. Yang terpenting saat ini, aku tak ingin berpisah denganmu dan aku ingin kau selalu berada di dekatku. Aku sangat ingin hubungan kita lebih jauh lagi setelah ini, percayalah semuanya akan baik-baik saja".
Gaara tertegun mendengar perkataan Naruto, wajahnya tiba-tiba memerah saat Naruto seenaknya mencium kening dan kedua pipinya.
Sedangkan Daimyo di balik tirai menyeringai dan bergumam "Menarik, aku tunggu kisah mereka yang selanjutnya".
.
.
.
.
TBC
Yakk! Kalian ya, kalau ngeflame jangan keterlaluan dong meskipun itu di PM. Kalau gak suka sama nih ff ya gak usa di baca, gitu aja repot. Kalau niat ngeflame ya yg mendidik, kalau nggak ya cari kata-kata yg lebih baik. Sialan, bikin mood rusak aja.
Ah, maaf ya minna-san yang baik hati dan tidak sombong. Makasih uda mau baca n review ff saya yang tidak bermutu ini, jujur saya sakit hati banget klau ada yg ngeflame kata-katanya itu menyebalkan bnget. Kalau gk suka ya gak usa di baca beres toh? Lagian ini Cuma buat hiburan ngisi waktu luang Kyuu doang. Ya emang kyuu akui kalau ff yang kyuu buat gak ada yang bagus, atau nggak nyambung atau nggak menarik. Tapi tolong di hargai lah, mau ngflame ya bicara yg baik-baik. Jadi kyuu harap nggak ada flame yang aneh-aneh lagi mulai sekarang.
Dan untuk masalah M-preg disini tidak di utamakan, jadi m-preg kyuu buat saat klimaks atau di tengah-tengah alur cerita. Lalu kyuu minta maaf kalau judul,genre,atau apapun itu yang nggak sesuai sama jalan ceritanya.
Hufft.. entah kenapa sejak dapet flame yang menyedihkan itu kyuu jelek banget. Tapi tak apalah itu wajar buat kita para author kyuu minta maaf ajalah kalau ceritanya tidak sesuai dengan yang readers harapkan. Terimakasih, androkyuubi desu..
