Awalnya ia ragu tapi akhirnya Draco mengikuti Hermione yang berjalan dengan langkah gontai. Sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu. Jika tidak, dia tidak akan menangis.
Ya, jelas sekali kalau dia habis menangis. Draco bisa melihat jelas mata gadis itu bengkak. Dia juga buru-buru menghapus air matanya begitu dia mendengar Draco memanggilnya tadi.
Apa yang dipikirkan gadis itu?
Draco menghentikan langkahnya begitu ia sampai di depan jalur masuk Hutan Terlarang.
Hutan Terlarang bukan tempat kesukaannya di Hogwarts. Cukup satu kali ia masuk ke dalam sana dan tidak akan kembali lagi. Tapi, ia tidak bisa membiarkan Hermione masuk ke dalam sana, sendirian, dengan pikiran yang sedang kalut.
Ia mengumpulkan semua keberanian yang dimilikinya dan masuk ke dalam Hutan Terlarang, mengikuti jejak Hermione Granger.
Ia menemukannya.
Hermione Granger sedang berjongkok di tepi danau, menangis hebat sampai seluruh tubuhnya bergetar.
Draco tidak pernah melihat Hermione menangis seperti itu, seakan seluruh bagian tubuh, hati, dan jiwanya sakit. Dia tidak menangis seperti itu setelah disiksa oleh bibinya. Sesuatu yang amat menyakitkan hatinya pasti terjadi melebihi sakit yang diterima akibat siksaan bibinya.
Draco menahan diri untuk tidak menghampirinya. Ia menunggu sampai Hermione menyelesaikan tangisannya. Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit sebelum akhirnya Hermione berhenti menangis, tapi tetap bergeming.
"Granger," Draco memberanikan membuka suara seraya ia mendekati Hermione yang tampak tidak terkejut sama sekali.
"Apa yang kau lakukan di sini, Malfoy?"
"Aku lah yang seharunya menanyakan itu padamu. Apa yang kau lakukan di sini, Granger? Tengah malam berjalan menuju Hutan Terlarang. Apa yang kau pikirkan?"
"Apa yang kau pikirkan?"
"Apa kita sedang bermain sekarang, Granger?"
Hermione pun berdiri dan tepat berada di hadapan Draco saat ini.
Dari jarak sedekat ini, terlihat sekali kesedihan terpancar dari wajah cantiknya. Merlin, Draco berharap ia bukan alasan gadis itu menangis.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Draco lembut. "Apa yang membuatmu menangis?"
"Kau sungguh ingin tahu alasannya?"
Draco mengangguk.
Hermione tiba-tiba tertawa, kencang sekali seperti orang gila. Lalu, tawanya berhenti dan ekspresinya datar.
"Hari ini ayahku berulang tahun."
Draco tidak berani bersuara.
"Ayahku berulang tahun dan aku tidak bisa merayakannya bersama-sama, tidak juga bisa mengirimkan surat atau memberikan hadiahnya untuknya."
Hermione mengambil nafas panjang dan kembali melanjutkan.
"Sejak aku tiba di sini, 8 tahun yang lalu, aku tidak pernah merayakan ulang tahun ayahku di rumah. aku hanya bisa mengirim surat dan hadiah. Aku pikir, tahun ini, aku bisa merayakannya lagi, tapi ternyata tidak. Ayahku mungkin tidak tahu kalau ulang tahunnya seharusnya hari ini bukan hari lain."
Draco berpikir cepat mencerna cerita Hermione. Dia mengatakan tempo hari kalau orang tuanya tidak mengenalinya lagi. Apa itu alasannya dia tidak bisa merayakan ulang tahun ayahnya?
"Jika kau tidak bisa merayakannya bersama kenapa kau juga tidak bisa memberikannya hadiah?"
Hermione tertawa getir. "Mereka tidak mengenaliku. Mereka mungkin tidak tahu kalau mereka punya anak perempuan bernama Hermione Granger."
"Kenapa mereka tidak mengenalimu?" tanya Draco was-was. Ia tidak tahu kenapa informasi mengenai orang tua Hermione membuatnya takut dan merasa bersalah. "Apa yang terjadi pada mereka?"
Mata hazelnya seperti sedang mencari sesuatu dan yang bisa Draco berikan hanya kejujuran kalau ia takut saat ini. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada orang tua Hermione.
"Aku menghilangkan ingatan mereka, Malfoy."
"Apa?" Draco tidak sadar kalau ia mundur satu langkah dan menatap horor Hermione. "Kau melakukan apa?"
"Aku menghapus ingatan mereka karena mereka tahu segalanya. Aku memberitahu mereka segala hal. Aku takut Pelahap Maut akan mendatangi mereka ketika aku menjadi buronan. Jadi, aku melakukan itu dan mengatakan kalau keinginan terbesar mereka adalah pindah dari Inggris ke negara lain. Aku tidak punya cara lain untuk menyelamatkan mereka agar tetap hidup."
Ia tahu Hermione Granger adalah penyihir wanita paling berani, nekat, dan salah satu yang menyeramkan bagi Draco. Tapi, ia tidak menyangka dia sampai melakukan hal berbahaya seperti itu? tidak mudah mengembalikan ingatan muggle yang hilang akibat sihir. Jika orang tua sampai tidak mengenali Hermione padahal mereka mengenal Hermione seumur hidup mereka. ia penasaran dengan kekuatan Hermione yang sebenarnya.
"Kalian punya pasukan, kan, Granger? Orde atau apa namanya itu. Kenapa tidak meminta mereka untuk menyelamatkan orang tuamu?"
"Aku takut mereka disusupi dan informasinya bocor. Setelah banyak kisah pengkhianatan dalam Orde, aku tidak dapat percaya sepenuhnya pada mereka."
Draco kehilangan kata-kata. tidak mudah pasti baginya menangung semua kepedihan itu sendirian. Tidak hanya itu, dia juga masih bisa membantu Potter untuk mengalahkan Voldemort padahal dia sendiri membutuhkan bantuan. Merlin, apa yang dipikirkannya?
"Mereka mengambil segalanya darimu, Granger," hati Draco pedih saat mengatakannya. Ia juga bagian dari sisi yang mengambil segalanya milik Hermione.
Hermione memaksakan diri untuk tersenyum meskipun kini dia kembali menangis.
"Aku bisa mencegah hal itu terjadi jika aku berani meminta bantuan Dumbledore. Kau tidak harus kehilangan orang tua dengan cara seperti ini."
Hermione tertawa pelan. "Tidak ada yang bisa kau lakukan, Malfoy. Jika kau meminta bantuan Dumbledore malam itu, kau bisa tewas, kau dan kedua orang tuamu."
Kata-kata Hermione menampar Draco.
"Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf atas semua yang terlah terjadi, Granger," Draco sungguh menyesali semuanya. Hatinya sakit melihat Hermione menangis lagi.
"Kau tidak bersalah sama sekali."
"Kenapa kau bisa hidup seperti ini, Granger?" tanya Draco berang. Ia tahu ia tidak punya hak untuk marah tapi ia gemas dengan Hermione yang terlalu baik.
Hermione bergeming tanpa ekspresi.
"Bagaimana bisa kau hidup seperti ini? Kenapa kau mengorbankan hidupmu untuk membantu hidup orang lain? Potter tidak akan pernah berhasil mengalahkan Tom Riddle jika kau tidak menjadi temannya. Potter dan Weasley tidak ada apa-apa jika kau tidak ada. Yang lebih di luar dugaan, kau membantuku, Granger. Sekarang, beritahu aku, kenapa sampai harus melakukan ini? pengorbanan apa lagi yang akan kau lakukan untuk orang lain?"
Draco tidak bisa membaca ekspresi Hermione yang tiba-tiba pucat pasi. Ia sadar kata-katanya mungkin menyakiti perasaannya tapi seseorang seperti Hermione Granger membutuhkan sedikit bentakan untuk menyadari kalau dirinya juga membutuhkan bantuan.
"Aku tidak tahu," bisik Hermione penuh kejujuran seraya menatap mata kelabu Draco. Ia tahu, gadis ini tidak baik-baik saja.
Dengan keberanian yang tersisa, Draco menarik Hermione ke dalam pelukannya. Gadis itu kembali menangis di dalam pelukan Draco. Tangisannya tidak kencang tapi berhasil membuat Draco merasakan kesedihan yang dirasakannya.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Hermione?" Draco berbisik sembari mengusap lembut kepala Hermione.
Draco merasa Hermione membalas pelukannya. "Jangan lepaskan pelukanmu," pinta Hermione lirih. "Aku membutuhkan ini lebih dari apa pun di dunia ini, Draco."
.
Setelah mereka berpelukan cukup lama dan saling melepaskan satu sama lain, mereka kembali adu argumen tentang, apakah mereka harus kembali ke kastel atau tidak.
Hermione memenangkan argumen, mereka kembali ke kastel tepat ketika jam berdentang keras menunjukkan pukul 1 pagi. Karena kesal, Draco memaksa Hermione untuk tidak melepaskan genggaman tangannya sepanjang perjalanan mereka keluar dari Hutan Terlarang.
"Kau bisa melepaskan tanganmu, Malfoy," kata Hermione begitu mereka sampai di Menara Jam.
Draco tidak mengindahkan permintaan Hermione dan tetap menggenggam tangannya sembari melangkah memasuki kastel. Namun, langkah kedua terhenti begitu melihat sosok yang menyebalkan menyeringai melihat mereka berdua.
"Well, well, well, lihat siapa yang berkeliaran di kastel tengah malam begini? Mr Malfoy, si mantan Pelahap Maut dan Miss Granger, si pahlawan perang. Bayangkan apa yang terjadi jika kepala sekolah tahu kalau dua orang murid terbaiknya berkeliaran keluar ke Hutan Terlarang di tengah malam? Berapa poin yang akan diambil dari Gryffindor dan Slytherin?
Baik Draco dan Hermione merengut bertemu dengan Mr Finch yang sedang menggendong Mrs Norris. Genggaman Draco pada tangan Hermione makin menguat begitu obor-obor di sekitar pintu masuk Menara Jam menyala seakan menyambut kehadiran Profesor McGonagall.
"Selamat malam, Miss Granger, Mr Malfoy," sapa Profesor McGonagall dingin. "Kalian tahu harus pergi ke mana setelah ini?"
Keduanya bertukar pandangan, tidak tahu jawaban dari pertanyaan Profesor McGonagall. "Kantorku, sekarang juga."
