"Apa yang kau pikiran, Hermione?" Ginny tidak henti mengulangi pertanyaan saat tahu Hermione membuat Gryffindor kehilangan 50 poin dan harus melakukan detensi setiap hari Minggu selama 3 bulan dengan guru yang berbeda.

"Aku tidak berpikir, Ginny," jawab Hermione cuek. Ia tidak peduli sama sekali soal detensi atau semacamnya. Pikirannya masih belum bisa berpaling dari pelukan Draco semalam dan genggaman tangannya yang membuat Hermione merasa aman.

Mereka baru saja selesai sarapan dan kembali ke ruang rekreasi karena mereka tidak ada kelas pagi ini.

"Kau pergi ke Hutan Terlarang bersama Malfoy. Oh... kau sungguh di luar dugaan," keluh Ginny setibanya di ruang rekreasi yang sepi. Hanya ada mereka berdua di sana.

"Pertama," kata Hermione seraya mengangkat tangannya untuk menghentikan Ginny berbicara, sebelum ia duduk di samping Ginny. "Aku pergi ke sana sendiri. Kedua, Malfoy lah yang mengikutiku."

"Tapi tetap saja kalian pada akhirnya kembali ke kastel bersama-sama. Ohhh... aku tidak tahu harus berpikir apa."

"Jangan dipikirkan," kata Hermione santai lalu mengambil Daily Prophet terbitan hari ini.

Wajah Ginny tiba-tiba berada di depan wajah Hermione, hampir membuatnya terperanjat. "Kenapa kau ke Hutan Terlarang sendirian, Hermione?" kini suara Ginny jauh lebih halus dari sebelumnya setelah dia menarik diri.

Hermione tersenyum. Hanya butuh beberapa detik saja bagi Ginny menjadi sosok yang lembut baginya. "Aku mencari tempat yang lebih baik untuk berpikir."

"Kau amat menakutkan," keluh Ginny.

"Jangan khawatir," pinta Hermione masih membawa halaman utama Daily Prophet yang menurutnya makin hari beritanya makin tidak bermutu. "Aku baik-baik saja. Sungguh."

Bukannya Hermione tidak ingin bercerita pada Ginny alasan yang sebenarnya, ia hanya tidak ingin dipandang lemah oleh orang lain, terlebih oleh Ginny atau teman-temannya. Kehilangan yang Hermione rasakan tidak sebesar Ginny atau Harry atau orang lain. Ia merasa dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri. Orang lain tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Ginny mendesah dan menjadi jauh lebih lega. "Aku tadinya berpikir untuk memberitahu Harry atau Ron tapi aku pikir itu bukan urusanku. Jika kau ingin mereka tahu maka kuyakin kau akan memberitahu mereka sendiri."

"Terima kasih, Ginny," Hermione tersenyum.

"Jadi, jika kau akan melakukan detensi minggu ini, kau tidak akan ke Hogsmeade?"

Hermione tertegun lalu merasa sedih. Ia akan melewatkan kunjungan pertama ke Hogsmeade. "Kau benar," serunya. "Aku berjanji pada Harry dan Ron untuk menemui mereka di Hog's Head. Bagaimana ini?"

"Mereka pasti akan sangat kecewa. Namun, Harry mengatakan padaku kalau dia akan datang menonton pertandingan Quidditch pertama. Kau bisa bertemu dengan Harry nanti."

Hermione tersenyum masa. "Sayang sekali, aku juga tidak akan bisa menontonnya."

Ginny berseru kesal. "Hermione Granger! Kau tidak akan menonton pertandingannya?"

"Aku harus melakukan detensi. Aku bisa apa?"

"Ugh. Padahal aku ingin sekali kau menyaksikanku mengalahkan Slytherin. Rasanya sudah lama sekali. Aku sangat tidak sabar."

Hermione tertawa pelan sembari terus membalik koran mencari berita yang menarik untuk dibaca.

"Jika kau detensi dengan Malfoy, maka dia tidak akan bermain, kan?" Rasa penasaran Ginny kembali memuncak. "Kalau begitu, siapa yang akan menggantikannya?"

"Dia akan tetap main," jawab Hermione acuh. Matanya fokus pada berita mengenai perburuan Pixie besar-besar di Cornwall. "Dia memohon pada Profesor untuk bisa bermain dan bersedia menambah waktu detensi menjadi 4 bulan. Profesor McGonagall mengizinkannya."

Ginny terkejut mendengar penjelasan Hermione. "Kenapa Profesor McGonagall baik sekali kepada Malfoy. Tidakkah kau penasaran?"

Hermione bergumam setuju. Ia penasaran dengan sikap baik Profesor McGonagall tapi ia lebih penasaran dengan sikap Draco kepadanya. "Kenapa kau tidak bertanya padanya kenapa bisa jadi baik sekali pada Malfoy?"

"Apa kau gila?"

Hermione tertawa. Ia tidak ingin membicarakan Draco Malfoy pada siapa pun, terlebih pada Ginny.

"Sepertinya aku akan menemui Luna," Ginny pun berdiri dan merapikan pakaiannya. Hermione mendongak dan mengangguk.

"Aku merasa ada yang aneh padanya," kata Ginny lagi.

"Pada Luna?"

Ginny mengangguk. "Dia suka tiba-tiba menghilang selepas makan malam."

"Mungkin dia punya sesuatu untuk dikerjakan?"

"Tidak tahu," Ginny menghela napasnya, seakan perubahan sikap Luna membuatnya lelah.

.

Detensi pertamanya bersama Draco adalah membantu Hagrid menyortir Flobberworm untuk digunakan murid tahun ke-4 di hari pertama bulan November.

Draco Malfoy tidak mengeluh sama sekali, tidak juga menghina Hagrid atau menggerutu mengenai detensi yang dilakukannya bersama Hermione hari ini.

Mereka bekerja dalam diam, sedangkan Hermione terkadang menanggapi Hagrid yang bercerita mengenai kehidupannya pasca perang serta keadaan Grawp.

Sesekali ia mengawasi Draco dan membuat pikirannya melayang ke momen di mana Draco memeluknya. Hermione tiba-tiba mendesir. Bodoh sekali, pikirnya. Kenapa ia harus mendesir di tengah hari?

"Aku sudah selesai," kata Draco yang langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam bak berisi air dan membersihkan tangannya.

"Kau yakin?" tanya Hagrid lalu melihat hasil kerja Draco. "Kerja bagus, Malfoy."

Draco mendengus. "Detensiku hari ini sudah selesai, kan?"

"Sudah tapi kau tidak boleh pergi sebelum Hermione selesai."

"Yang benar saja," seru Draco kesal. Hermione menghindari menatap Draco padahal ia tahu pria itu menatap Hermione tajam. "Aku harus latihan Qudditch 1 jam lagi."

"Itu sih urusanmu, bukan urusanku," kata Hargrid acuh. "Kau tidak bisa pergi sebelum Hermione selesai."

"Kenapa kau lambat sekali, Granger?" seru Draco tiba-tiba. Kerutan di dahinya menunjukkan kalau dia sedang kesal.

"Jangan mengomentari cara kerjaku, Malfoy," balas Hermione tajam.

"Jika aku terlambat latihan, kau adalah penyebabnya."

"Kau menyalahkan aku?"

"Aku menyalahkanmu? Tentu saja aku menyalahkanmu, Granger. Jika kau menurut padaku untuk tidak keluar dari Hutan Terlarang sampai pagi, kita tidak perlu melakukan detensi."

"Jika kau tidak mengikuti ke Hutan Terlarang, maka kau tidak harus melakukan ini."

"Jika kalian berdua tidak berkeliaran di kastel di tengah malam, kalian tidak akan menjalani detensi."

Ucapan Hagrid membuat Hermione dan Draco berhenti bersuara. "Aku pikir kalian berdua akan berhenti membuat masalah tahun ini," kata Hagrid yang disambut tatapan tidak terima dari Hermione.

"Aku tidak pernah membuat masalah, Hagrid."

Hagrid tertawa lalu berjalan memutarinya yang belum melanjutkan pekerjaannya. "Secara teknis, kau adalah dalang semua kekacauan yang Harry, Ron, dan kau lakukan selama ini, Hermione."

"Aku?"

"Harry dan Ron tidak akan berpikir sampai sejauh itu jika tidak ada kau. Harry memang pembuat masalah tapi kau adalah otaknya."

"See, ternyata kau juga sama bermasalahnya, Granger."

"Oh kau tidak jauh lebih baik, Malfoy," tambah Hagrid. Hermione menyeringai penuh kemenangan melihat Malfoy kesal karena tidak bisa membalas perkataan Hagrid.

"Selesaikan pekerjaanmu, Hermione. Aku akan mengecek Fang sebentar."

Hermione terus melanjutkan detensinya. Sesekali ia melirik Draco yang sedang duduk menyilangkan kaki di dahan pohon besar di belakang Pondok Hagrid. Hembusan angin musim gugur membuat rambut pirang platina pendeknya berantakan. Jika saja kelakuannya tidak buruk dan menyebalkan, mungkin Hermione sudah menyukainya sejak dulu.

"Kau tidak perlu mencuri-curi untuk memperhatikanku, Granger."

Hermione mendecih dan kembali menyortir Flobberworm yang sedikit lagi selesai.

"Aku bisa menghitung berapa kali kau memperhatikanku sejak Hagrid pergi. Kenapa? Kau terpesona padaku?"

Hermione menatap Draco jijik. "Hanya di dalam mimpimu saja, Malfoy."

"Lantas, kenapa kau memperhatikanku? Kenapa kau tidak fokus pada cacingmu saja?"

"Pergi saja kalau begitu," seru Hermione gusar. "Aku akan memberitahu Hagrid kalau aku yang memintamu pergi. Hagrid tidak akan marah padaku."

"Kembali lagi menjadi Hermione Granger yang baik hati," gerutu Draco lalu bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Hermione. Dia mengintip hasil kerja Hermione.

"Apa kau benar-benar jago dalam segala hal, Granger?" sindir Draco lalu mengambil ember berisi cacing yang sudah Hermione sortir.

"Malfoy?!" seru Hermione begitu melihat ember cacingnya diambil oleh Draco.

"Aku akan terlambat latihan jika kau menyortir dengan caramu, Granger."

"Aku tidak peduli," Hermione kesal lalu berusaha mengambil kembali embernya.

Draco terlalu lihai untuk Hermione yang sedang dirundung rasa kesal. Dengan cepat, Draco berhasil menjauhkan ember dari Hermione dan meraih tangan gadis itu – menguncinya sehingga Hermione tidak dapat bergerak.

Jarak mereka terlalu dekat, pikir Hermione. Ia sampai harus menarik kepalanya untuk menghindari hembusan napas Draco yang wangi, yang bisa membuat kepalanya diselubungi kabut; mint dan apel.

"Kita akan menggunakan caraku untuk menyelesaikannya, Granger."

"Kenapa harus menggunakan caramu?"

"Karena itu yang tercepat yang bisa kita lakukan."

"Tidak. Jika kau ingin menggunakan caramu untuk membantuku, silakan saja, tapi aku tetap menggunakan caraku."

"Kau akan membuatku terlambat latihan, Granger."

"Itu urusanmu, bukan urusanku."

"Kalau begitu kau harus membayarnya dengan harga yang mahal, Granger."

"Berapa galleon yang kau butuhkan, Malfoy?" mata Hermione melotot penuh amarah. Ia akhirnya berani membalas tatapan mata kelabu itu karena sejak tadi posisi mereka membuat Hermione tidak nyaman.

"Bukan galleon yang aku butuhkan, Granger."

"Lalu apa?"

Draco menjawabnya dengan mengecup bibir Hermione lembut. Hermione spontan memejamkan matanya begitu bibir lembut Draco menyentuh bibirnya.

Hanya selang beberapa detik, Draco menarik diri. Hermione membuka matanya perlahan-lahan dan memberanikan diri membalas tatapan mata kelabu Draco.

Hermione langsung membuang pandangannya ketika merasa otak dan tubuhnya tidak sinkron. Otaknya mengatakan kalau ia harus menjauh dari Draco tapi tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar kecupan.

Dengan gerakan gugup, Hermione mengeluarkan tongkatnya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia tahu mereka tidak boleh menggunakan sihir tapi ia tidak bisa lebih lama berada di tempat yang sama dengan Draco. Ia akan bernegosiasi pada Hagrid. Ia yakin, Hagrid akan mengerti.

"Aku akan pergi mencari Hagrid," kata Hermione setelah semua pekerjaan selesai dengan sihir. Lututnya yang lemas membuat pergerakannya tidak stabil. Ia ragu-ragu melirik Draco dan berkata sebelum pergi, "Kau bisa pergi untuk latihan."