Ia mengacaukan latihan hari ini. Semua anggota timnya tidak berhenti meneriakinya karena tidak fokus. Ia beberapa kali terkena lemparan quaffle juga tidak mendengar teriakan ketika bludger hampir menghantam kepalanya. Beruntung Blaise menyelamatkannya, jika tidak, ia mungkin sedang berbaring di rumah sakit sekarang. Anggota timnya, termasuk Blaise, menghindari Draco selepas latihan berakhir.
Jika saja ia tidak mencium Hermione Granger tadi.
Bodoh sekali, Draco Malfoy, bodoh sekali.
Ia terus mengutuk dirinya sepanjang perjalanan kembali ke ruang rekreasi. Ia bertanya pada dirinya sendiri padahal ia tidak tahu jawabannya. Apa yang membuatnya memberanikan diri mencium Hermione?
Merlin! Gadis itu, gadis itu membuatnya hampir kehilangan akal sehat. Jarak mereka begitu dekat sampai Draco dapat mencium harum tubuhnya; perpaduan vanilla dan melati. Jika mereka tidak sedang detensi di Pondok Hagrid, ia akan melakukan lebih dari sekadar ciuman singkat. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya jika bibirnya menyentuh leher Hermione yang jenjang. Akankah harum tubuhnya tetap sama atau lebih memabukkan?
Lamunannya buyar begitu sampai di ruang rekreasi terlalu sepi untuk Minggu sore yang cukup hangat. Hanya ada beberapa orang di sana, sekumpulan murid tahun pertama yang sedang bermain catur, sepasang murid tahun kelima yang sedang berciuman di depan perapian seakan mereka pemilik ruangan ini, dan Theodorre Nott yang sedang menulis sesuatu.
"Apa yang sedang kau tulis?" tanya Draco seraya menghempaskan bokongnya di sofa empuk kesukaannya. Theo hanya menoleh sebentar. "Surat," jawab Theo singkat dan diikuti erangan protes Draco.
"Di mana Blaise?"
Theo meletakkan pena bulunya. "Bukankah dia bersamamu?"
Draco menaikkan kedua bahunya. "Dia langsung pergi begitu latihan selesai."
Theo kembali menulis. "Bagaimana latihannya?"
Draco mengerang lagi. "Tidak bagus."
"Kenapa?"
Draco tidak ingin menceritakannya. Jika sedang penasaran, Theo akan mencecarnya dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Draco. Dia lebih parah dari Blaise. "Tidak apa-apa," jawab Draco lalu berdiri.
"Kau mau ke mana?"
"Mandi lalu ke perpustakaan."
Theo diam sejenak. "Kenapa kau suka sekali pergi ke perpustakaan akhir-akhir ini?"
"Karena aku meminjam dan ingin mengembalikan buku."
"Hanya itu?"
"Memangnya ada alasan lain? bukankah itu fungsi perpustakaan?"
Draco pun meninggalkan Theo sendirian.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaiannya, Draco bergegas menuju perpustakaan. Kali ini, Madam Pince tidak mengerutkan dahi begitu melihat Draco masuk.
"Aku mengembalikannya tepat waktu, Madam Pince," kata Draco sebelum Madam Pince dapat bersuara.
Madam Pince tidak mengatakan sesuatu dan mengambil buku yang dikembalikan Draco.
"Apa kau ingin meminjam buku lagi, Mr Malfoy?" tanya Madam Pince tak sabar.
"Sepertinya begitu," jawab Draco sembari berpikir buku apa yang akan ia pinjam kali ini. Ia membutuhkan buku ringan untuk pengantar tidur.
"Jika ingin meminjam buku, cepat cari dan kembali ke sini. Aku harus menutup perpustakaan."
"Kenapa cepat sekali?"
"Aku ingin melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, Mr Malfoy. Apa kau pikir aku harus membuka perpustakaan terus menerus? Lagi pula, kenapa masih ada murid-murid yang datang ke sini di hari Minggu?"
Draco ingin menjawab pertanyaan Madam Pince tapi ia takut jika penjaga perpustakaan itu akan melarangnya datang lagi. Jadi, ia mengurungkan niatnya meskipun otaknya tidak berhenti berpikir, jika memang Madam Pince tidak ingin ada murid yang datang di hari Minggu, kenapa perpustakaannya dibuka?
"Lima menit, Mr Malfoy."
Draco langsung menghilang dibalik rak-rak buku. Ia tidak berencana menuruti Madam Pince jadi, jika ia harus terjebak di perpustakaan sampai besok pagi, itu tidak jadi soal.
Ia mengikuti instingnya kali ini, menyusuri sisi lain perpustakaan yang tidak pernah ia datangi sebelumnya, Seksi Buku Muggle. Ia kerap kali mendengar anak-anak perempuan berbicara kalau buku-buku muggle tidaklah buruk. Beberapa dari mereka lebih baik dari buku penyihir. Jika ingin mencari buku yang ringan untuk dibaca, buku muggle adalah pilihannya.
Draco baru saja mengambil buku berjudul The Chronicles of Narnia dan hendak menuju tempat kesukaannya untuk membaca di sana ketika Hermione Granger menabraknya.
Tidak ada ucapan maaf dari gadis itu karena Draco terhuyung dan hampir jatuh. Alih-alih meminta maaf, dia membekap mulut Draco agar tidak protes.
Draco terlambat berpikir sehingga membiarkan gadis itu menariknya menuju sisi lain perpustakaan. Dia melepaskan tangannya dengan gusar lalu merapalkan mantra senyap. Dia mendengus dan tak lama kemudian meringis penuh sesal.
"Apa yang terjadi padamu, Granger?"
Dia terkejut bukan main. Mata hazelnya melebar begitu sadar dia sedang bersama Draco saat ini.
Dia kehilangan kata-kata. Entah apa yang membuatnya lebih terkejut, melihat Draco atau kejadian sebelum gadis itu menariknya.
"Tidakkah kau sadar apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Draco kesal.
"Kenapa kau di sini?" tanya Hermione horor.
"Kenapa aku di sini?" tanya Draco berang. "Kau yang menarikku ke sini."
Seakan dirasuki sesuatu, Hermione berjongkok, menutup wajahnya, dan berteriak.
"Apa kau sudah gila?"
Hermione mendongak dengan ekspresi kosong. Dia tampak bodoh.
"Temanmu."
"Temanku?"
"Zabini. Dia temanmu, kan?"
"Ada apa dengan Zabini?"
Draco dibuat bingung oleh Hermione Granger. Kenapa dia harus bertele-tele?
"Kau bertemu dengannya?"
Hermione tidak menjawab pertanyaanya.
"Hey!"
"Apa?" seru Hermione galak lalu berdiri. "Kenapa kau berteriak? Kita di perpustakaan, Malfoy."
"Apa kau jadi bodoh," kata Draco. "Kau sudah merapalkan mantra senyap sebelumnya, Granger. Dan jika kau lupa, kau yang pertama berteriak. Jadi, jangan tatap aku seperti itu," Draco kesal ditatap seperti pencuri oleh Hermione. "Sekarang, beritahu aku apa yang terjadi pada Blaise?"
Hermione menarik nafas panjang sembari mengelus dadanya.
"Aku melihatnya dengan Luna."
"Luna? Luna siapa?"
"Oh yang benar saja," Hermione gusar lalu menarik kursi dan duduk penuh amarah. "Luna Lovegood. Kau mengenalnya, kan?"
"Tentu saja aku mengenalnya," kata Draco pelan. ia pun mengikuti Hermione, menarik kursi dan duduk menyilangkan kaki, bersandar dan bersedekap. "Apa yang mereka lakukan?"
Hermione menatapnya tanpa ekspresi. Untuk beberapa saat Draco tidak mengeti kenapa dia hanya menatapnya seperti itu tapi kemudian, "Holy fucking shit!"
"Kau sudah tahu jawabannya."
"Mereka bercinta di perpustakaan? Seperti Pansy dan Longbottom?"
"Mereka tidak bercinta," Hermione memutar bola matanya. "Dia memakan Luna."
"Memakan? Apa maksud –"
Draco menggeleng-gelengkan kepala dan buru-buru menghapus pikiran kotor dari dalam kepalanya. Ia tidak ingin membayangkan Blaise yang berjongkok di depan kaki Luna Lovegood yang mengangkang lebar, tapi dia melakukannya.
"Kenapa mereka bisa melakukan itu di sini?"
"Aku tidak tahu."
"Kenapa mereka tidak memasang mantra agar tidak ada yang melihat mereka?"
"Aku tidak tahu."
"Kenapa Lovegood membiarkan Blaise memakannya?"
"Merlin, Malfoy! Aku tidak tahu jawabannya. Berhenti mengoceh!"
"Granger, apa yang kau lakukan tadi sampai bisa melihat mereka?"
Hermione tampak ingin menangis karena kesal. "Aku sedang mencari buku, Malfoy. Apa lagi yang kau lakukan di perpustakaan?"
"Madam Pince bilang padaku kalau dia akan menutup perpustakaan dalam lima menit. Atau mungkin dia sudah menutupnya sekarang. Jika ada kau dan Blaise dan Lovegood di sini, kenapa dia malah menutupnya?"
"Kau bawel sekali, Malfoy," tatapan Hermione sangat menyeramkan. "Aku tidak tahu. Tidak bisakah kau menutup mulutmu dan biarkan aku berpikir?"
"Tidak bisa," jawab Draco. "Pertama Pansy dan sekarang Luna. Apa yang teman-temanmu lakukan pada teman-temanku?"
"Apa?"
"Apa teman-temanmu menggoda teman-temanku?"
"Mereka tidak mungkin melakukan itu."
"Kenapa kau bisa seyakin itu?"
"Neville dan Luna bukan tipe orang yang suka menggoda orang lain, Malfoy. Lagipula, apa kau lupa? Kau yang bilang padaku kalau Parkinson mencium Neville beberapa hari sebelum kita memergoki mereka bercinta. Untuk kasus Luna, aku yakin bukan Luna bukan dalangnya."
"Kenapa kau bisa yakin?"
"Karena ini bukan pertama kalinya."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau sebodoh itu, Malfoy?" Draco memelototi Hermione yang terus tidak mau mengalah. "Pertama Neville dan Parkinson, lalu Luna dan Zabini, dan kau. Aku dan teman-temanku sudah pasti bukan tipe penggoda seperti kalian."
"Aku?"
Wajah Hermione seketika memucat. Amarah dan kekesalannya menguap di udara. Draco bahkan bisa melihat Hermione seakan kehilangan jiwanya. Dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan.
"Apa aku juga termasuk tipe penggoda, Granger?" tanya Draco dengan seringaian di ujung bibirnya.
Melihat Hermione yang bergeming sembari menutup wajahnya, Draco perlahan bangkit dari duduknya, mendekati Hermione. Ia berlutut di depannya dan memutar kursi agar mereka berhadapan. Dengan lembut, Draco mengambil tangan Hermione dari wajahnya, dan meletakan di pangkuannya.
"Siapa yang aku goda, Granger?"
"Aku menarik kata-kataku," jawab Hermione, hendak berdiri tapi Draco berhasil menahannya.
"Aku tidak merasa pernah menggoda siapa pun, Granger. Kenapa kau bisa menyimpulkan kalau aku sama seperti Pansy dan Blaise?"
Tatapan Hermione galak sekali. Butuh sekuat tenaga bagi Draco untuk tidak menangkup pipi dan menciumnya dalam-dalam atau mungkin, melakukan hal yang sama seperti yang Blaise lakukan dengan Luna Lovegood.
"Apa karena aku menciummu tadi?" tanya Draco lagi karena Hermione masih diam.
"Kenapa kau menciumku?" suara Hermione serak dan teramat pelan. Jika mereka tidak sedekat ini, Draco tidak akan mendengarnya.
"Karena itu yang selalu aku ingin lakukan," jawab Draco jujur. Sejak malam itu ia bertemu dengan Hermione di perpustakaan untuk pertama kali dan menyadari betapa cantiknya dia, sejak saat itu juga Draco ingin tahu apa rasanya jika ia menciumnya, mencium bibir Hermione Granger.
"Berkat kebaikan hatimu, kau menyelamatkan hidupku, Granger. Kau juga telah menyihirku, membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu, membuatku memimpikanmu setiap malam, berharap aku bisa melihatmu setiap hari, berharap aku bisa mencium bibir ini setiap saat."
Usapan lembut ibu jari Draco di bibir Hermione, sontak membuat Hermione memejamkan mata.
"Aku tidak menggodamu, Hermione Granger," sekarang ia menangkup pipi Hermione, membuat matanya kembali terbuka. Ia mengambil kesempatan itu untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya beberapa minggu terakhir. Ia ingin Hermione mendengar dan melihat langsung Draco mengatakan,
"Aku jatuh hati padamu dan aku bisa gila jika tidak menciummu sekarang."
Tanpa menunggu persetujuan, Draco menyapu bibir Hermione dengan bibirnya. Tidak seperti sebelumnya, Draco ingin ciuman kali ini lebih lama dan lebih dari sekedar ciuman. Jadi, ia menggigit lembut bibir bawah Hermione, membuatnya sedikit terbuka dan memasukkan lidahnya. Begitu Hermione mengerang, ia memperdalam ciumannya dan berhasil membuat gadis itu membalasnya.
Merlin, rasanya luar biasa. Hermione tidak hanya sekedar menciumnya, lidahnya berhasil mengimbangi gerakan lidah Draco. karena respons yang diberikan jauh lebih baik dari sebelumnya, tangannya turun dari pipi ke leher jenjang nan lembut milik Hermione.
Mereka melepas diri satu sama lain. Dengan cepat, Draco menarik Hermione agar duduk di pangkuannya sementara ia duduk di atas lantai perpustakaan, bersandar pada kaki meja. Ia kembali menciumnya, lebih dalam, lebih lapar dari sebelumnya. Tidak hanya itu, tangannya kini lebih berani, turun dari leher dan menyusuri lekuk tubuh Hermione yang ditutupi kemeja sekolah dan cardigan.
Ia harus berterima kasih pada mantra sunyi yang dirapalkan Hermione. Tidak akan ada yang mendengar erangan dari mulutnya begitu bibirnya turun untuk mencium leher Hermione, membaui harum tubuhnya yang luar biasa. Ia baru tahu kalau vanilla dan melati bisa membuatnya mabuk kepayang.
Wajah mereka berhadapan satu sama lain begitu mereka berhenti. Rasanya sulit bagi Draco untuk tidak melanjutkan tapi ia ingin melihat reaksi Hermione. Pipi gadis itu merona merah, napasnya sama-sama memburu sampai membuat bibirnya setengah terbuka.
Merlin! Ekspresinya terlalu manis untuk Draco yang mulai diselubungi gairah. Ia dapat merasakannya.
"Aku bisa mencium bibir ini setiap saat," kata Draco yang kembali menyentuh bibir Hermione lembut. Tatapannya tidak bisa berpindah dari bibir merah yang baru saja diciumnya. "Satu ciuman tidak akan cukup untukku."
Hermione Granger kehilangan eskpresinya. Draco bisa saja masuk ke dalam pikiran gadis itu tapi itu bisa menyakitinya meskipun ia sangat ingin tahu apa yang dipikirkannya saat ini. Ia tidak ingin menyakiti Hermione Granger lagi.
"Kau tidak bisa menciumku lagi," bisik Hermione. Dahi mereka bersentuhan dan karena itu Draco tidak ingin mempercayai apa yang barusan ia dengar.
"Kenapa?" tanya Draco. Bibirnya hanya berjarak kurang dari satu senti meter dari bibir Hermione.
"Karena kau akan terluka. Kau akan terluka dan aku tidak akan bisa menyelamatkanmu lagi."
"Kau tidak ingin aku menciummu karena kau tidak mau aku terluka? Kenapa, Granger, kenapa? Kenapa kau tidak ingin aku terluka?"
Kesedihan terpancar dari mata hazel Hermione. Tangannya yang bebas kini menyentuh lembut pipi Draco. Seluruh tubuhnya menghangat begitu tangan Hermione menyentuhnya.
"Kau sudah terlalu banyak terluka. Kau tidak harus merasakan luka hanya karena menciumku."
Draco meraih tangan Hermione di pipinya, mengecup tangannya dan menggenggamnya erat. "Aku akan terus menciummu meskipun aku terluka."
"Kau tidak bisa," bisik Hermione. Draco teramat penasaran kenapa tidak bisa? Jika memang tidak bisa, kenapa Hermione membalas ciumannya? Kenapa dia tetap berada di pangkuannya dan tidak memilih kabur?
"Okay," Draco memilih untuk mengalah tapi tidak akan menyerah. "Tapi, bisakah aku mendapatkan satu ciuman terakhir darimu?"
Hermione menunduk untuk memberikan jawaban. Dia mencium Draco, lebih dalam dan lebih bergairah. Meskipun begitu, Draco masih tetap harus menahan gairahnya. Ia ingin menyentuh Hermione lebih dalam, ingin tahu seberapa lembut kulitnya dibalik kemeja yang dikenakannya, bagaimana suaranya jika Draco menyentuh dadanya dan memainkan lidahnya di sana. Ia juga ingin tahu rasanya Hermione dan mendengar dia meneriaki nama Draco jika mencapai puncak.
Ia ingin bercinta dengan Hermione tapi tidak sekarang. Ia ingin melakukannya dengan benar, di tempat dan waktu yang tepat.
