Dia menciumnya.
Dia menyatakan perasaannya.
Dia menciumnya.
Ia membalasnya.
Hermione tiba-tiba berteriak lalu menjambak rambutnya. Apa yang sudah ia lakukan? Apa yang sudah mereka lakukan?
Ia terus memikirkan ciuman lembut penuh gairah Draco Malfoy setiap hari selama satu minggu. Setiap kali mereka bertemu, adegan demi adegan melintas di kepalanya bagaikan film yang baru saja ia tonton. Itu membuat tubuhnya membeku dan kerap kali ia harus menahan desiran tubuhnya. Ia tidak bisa memikirkan Draco Malfoy tanpa merasa basah di bagian tubuh bawahnya. Merlin! Ia pasti sudah gila.
Ciumannya dengan Draco bukan ciuman pertamanya. Ia mencium Viktor Krum dan Ron tapi sensasinya tidak seperti ini. Draco juga bukan orang pertama yang menyentuhnya, Ron pernah melakukannya tetapi tidak pernah berhasil, tapi, sentuhan Ron tidak membuatnya basah setiap kali ia mengingatnya.
Draco Malfoy jatuh hati padanya.
Tidak mungkin. Dia pasti sedang mempermainkannya. Dia dan teman-teman Slytherinnya. Neville dan Luna juga mengalaminya.
Ia kembali berteriak.
Bagaimana ini? bagaimana jika ada yang tahu? Bagaimana jika Ginny atau Harry atau Ron tahu kalau ia berciuman dengan Draco? Reaksi ketiganya tidak bagus saat tahu Hermione harus melakukan detensi bersama Draco setiap minggu selama 3 bulan apalagi yang ini.
Ia mengerang kesal. Setidaknya ia mengatakan pada Draco kalau mereka tidak bisa melakukannya lagi. ia akan mengontrol diri untuk menyudahi itu semua. Tidak jadi soal jika Draco jatuh hati padanya, jika dia ingin menciumnya. Selama Hermione tidak merasakan dan menginginkan yang sama, semuanya akan baik-baik saja.
"Hermione?"
Ia mendengar suara Parvati dari luar kamar. Benar sekali, gadis itu pun masuk ke dalam kamar.
"Neville mencarimu."
"Kenapa dia mencariku?"
"Bukankah kau akan detensi dengan Profesor Sprout? Neville juga akan ke sana."
Hermione bangkit dan tergesa-gesa keluar dari kamar setelah mengucapkan terima kasih pada Parvati.
Neville sudah menunggunya di bawah dan terlihat tidak senang. "Aku tahu kau tidak bisa berkunjung ke Hogsmeade, Hermione, tapi kau tidak harus mengurung diri seharian, kan?"
Hermione tersenyum masam. Ia mengurung diri bukan karena tidak bisa pergi ke Hogsmeade, ia sedang menghindari Draco Malfoy. Jika ia berkeliaran di kastel saat sebagian besar murid berada di Hogsmeade, kesempatannya bertemu dengan Draco akan jauh lebih besar.
"Apa kau tidak ke sana?" tanya Hermione begitu mereka sudah keluar dari ruang rekreasi.
"Hanya sebentar," jawab Neville. "Aku bertemu Harry dan Ron juga. Mereka tampak tidak senang kau tidak ada di sana."
Hermione tertawa pelan. "Ya, karena mereka sudah tahu aku detensi dengan Malfoy."
"Mereka juga tidak senang melihat Pansy di sana."
"Kau bersama Parkinson tadi?"
"Tidak, tidak," jawab Neville cepat. "Aberforth sedang pergi jadi kami pergi ke Three Broomstick. Kami bertemu dengan Pansy, Zabini dan Nott. Harry tidak berusaha melirik mereka sama sekali, sedangkan Ron..." Kalimat Neville mengantung dan diikuti dengan helaan nafas. "Ron tetap Ron."
"Ron menghina mereka?"
"Tidak," jawab Neville. "Dia mengatakan sesuatu tentang mereka yang membuatku marah. Tidak ada yang menyadarinya, jadi, ya, aku pergi dan kembali ke kastel."
"Apa Ginny dan Luna di sana?"
"Kami semua di sana, Hermione."
Perubahan ekspresi pada Neville membuat Hermione sadar kalau Neville tidak hanya menyukai Pansy Parkinson, dia mungkin menyayanginya.
"Bagaimana reaksi Luna?" tanya Hermione yang langsung bergidik mengingat adegan Luna dan Zabini di perpustakaan.
"Mengatakan sesuatu tentang betapa bodohnya Ron karena meskipun terkenal, dia masih tidak bisa mendapatkan gadis untuk diajak ke Pesta Natal Kementerian Sihir."
Hermione sontak tertawa. Luna mengatakan itu mungkin saja karena dia memang benar sedang menjadi hubungan dengan Blaise Zabini. Dia tidak bisa membela Zabini jadi dia mencemooh Ron. Bagus sekali, Luna, bagus sekali.
Mereka mengganti topik dan Hermione dengan semangat mendengar cerita Neville mengenai neneknya yang memintanya untuk membawa gadis ke rumah. selain itu, orang tua Neville juga dalam keadaan yang baik.
Begitu mereka tiba di Rumah Kaca, Draco Malfoy sudah terlebih dahulu berada di sana. Hermione merasa beruntung karena ia tidak sendiri, ada Neville dan Profesor Sprout.
"Ah, Mr Longbottom, Miss Granger, akhirnya tiba juga," sapa Profesor Sprout ceria seraya memberikan sarung tangan kepada mereka berdua. "Beruntung sekali ketiga murid top membantuku sekarang."
"Apa kau juga didetensi, Longbottom?" tanya Draco.
"Tentu saja tidak," jawab Neville tak terima. "Aku tidak pernah mendapatkan detensi dari Profesor Sprout. Aku memang selalu membantu Profesor Sprout tiap minggu."
Draco menaikkan kedua bahunya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Hermione menyaksikan itu semua dengan kepala pusing. Bencana sekali detensi kali ini. Sungguh sebuah bencana.
"Kenapa Terry belum datang, Profesor?" tanya Neville mengawasi pintu masuk Rumah Kaca.
"Mr Boot? Ahh, dia sedang detensi dengan Profesor McGonagall," Profesor Sprout menghilang menuju lemari penyimpanan.
"Boot? Ketua Murid di detensi oleh kepala sekolah?"
Hermione melihat Draco berhenti mengeluarkan tanah dari dalam pot. Dia tampak tidak mempercayainya.
Profesor Sprout kembali dalam lemari penyimpanan dan memberikan penutup telinga kepada ketiga muridnya. "Mr Boot melakukan hal tidak senonoh sebagai Ketua Murid."
"Tidak senonoh?" tanya Hermione bingung. Apa yang dilakukan Terry?
"Kepala Sekolah memergokinya dan Miss Turpin sedang bercinta di ruang kelas Tranfigurasi di sela-sela patroli yang mereka berdua lakukan."
Hermione langsung menutup mulutnya, Neville menjadi pusat pasi, sedangkan Draco diam seribu bahasa. Hermione sama sekali tidak berani melirik Draco atau melihat Neville.
"Sudah menjadi hal biasa bagi kami para guru memergoki murid yang melakukan hal seperti itu. Maka dari itu," suara Profesor Sporut yang tiba-tiba meninggi, mengagetkan Hermione. Pandangan matanya tiba-tiba bertemu dengan Draco, seakan terkunci dan tidak bisa melepaskannya. "Jika kalian bertiga ingin melakukannya, lakukanlah di tempat yang benar."
.
Hermione langsung kembali ke Ruang Rekreasi begitu detensinya selesai. Ia bahkan meninggalkan Neville di sana karena ia tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan Draco lebih lama lagi.
Setibanya di ruang rekreasi, Hermione senang bukan kepalang karena menemukan Harry dan Ron berada di sana. Berkat kehadiran mereka, ruang rekreasi menjadi penuh dan sesak. Mereka mendengarkan cerita Harry dan Ron tentang pelatihan Auror yang mereka lakukan.
"Aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu hari ini," kata Hermione setelah memeluk Harry. Ia ingin memeluk Ron setelahnya tapi laki-laki itu tampak tidak senang melihat Hermione.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Hermione tersinggung.
Ron langsung menariknya keluar dari ruang rekreasi.
Hermione tidak terima dengan perlakuan Ron begitu mereka berada di depan. Ia melepaskan tangan Ron dengan kasar sampai membuat wajah Ron semerah rambutnya.
"Dari mana saja kau?"
Hermione mundur beberapa langkah, hampir membiarkan kakinya menuruni anak tangga. Ia benci sekali melihat Ron yang marah tanpa alasan. "Detensi dengan Profesor Sprout."
"Oh, memilih menghabiskan waktu bersama dengan Malfoy ketimbang bertemu denganku di Hogsmeade."
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Hermione kesal. "Aku tidak memilih untuk menghabiskan waktu bersamanya. Aku menjalani detensi, Ronald."
"Yeah, bersama dengan Malfoy."
"Memangnya kenapa?"
"Apa yang kau lakukan dengannya di Hutan Terlarang?"
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Hermione gusar. Ron tidak perlu tahu Draco memeluknya dan membuatnya merasa tenang dan aman. Sesuatu yang tidak ia dapatkan dari Ron selama musim panas. "Aku sudah memberitahumu, dia mengikuti ke Hutan Terlarang."
"Kenapa dia mengikutimu ke Hutan Terlarang?"
"Kenapa kau tidak bertanya langsung padanya? Kau pikir aku tahu kenapa dia mengikutiku?"
"Kau sungguh di luar dugaan, Hermione. Berminggu-minggu kau tidak menulis surat untukku tapi sekalinya kau menulis surat, kau memberitahuku kalau kau menjalani detensi dengan Malfoy."
Hermione kesal bukan kepalang. "Kau seharusnya tahu kenapa aku tidak menulis surat untukmu."
"Aku tidak tahu," jawab Ron acuh.
"Karena kau berjanji untuk menulis surat untukku. Kau yang mengatakan akan menulis surat untukku. jadi, aku menunggu surat darimu."
"Kenapa kau tidak menulis saja untukku?"
"Kenapa kau tidak menepati janjimu?"
Ron tidak langsung menjawab. Dia menjadi kikuk seraya menggaruk kepalanya yang Hermione yakin tidak gatal sama sekali. "Kau seharusnya menjadi kekasihku, Hermione."
"Seharusnya," kata Hermione malas.
"Apa kau begini karena Malfoy?"
"Apa hubungannya Malfoy dengan ini? Apa Malfoy ada di sekitar kita selama musim panas?"
"Aku tidak tahu tapi entah kenapa aku merasa kau melupakan aku karena kau banyak menghabiskan waktu dengannya," Ron tidak benar-benar mejawab pertanyaan Hermione. Itu membuatnya ingin mencekiknya.
Hermione juga tidak ingin mengakui kalau Ron memang benar. Ia tidak memikirkan Ron selama di Hogwarts karena terlalu banyak memikirkan Draco tapi, alasannya bukan karena ia banyak menghabiskan waktu dengannya.
"Kau sendiri yang mengatakan kalau hubungan kita tidak akan berhasil, Ronald," Ia memutar bola matanya. "'Kita tidak ditakdirkan untuk bersama, Hermione.'" tambahnya meniru cara Ron berkata saat itu. Ron kehilangan ekspresinya.
"Kau mengatakan itu di hari kau berjanji kita akan tidur bersama. Apa kau lupa?" Hermione makin kesal. "Dan satu hari sebelum kau pergi, kau mengatakan padaku akan menulis surat jika mungkin kita masih punya kesempatan. Aku menyetujuinya dan akan menunggu surat darimu. Tapi apa yang aku dapat? Kau mengirim Howler begitu kau tahu aku detensi dengan Malfoy. Padahal, aku memberitahumu agar kau mengerti dan kau tidak tahu dari orang lain, tapi kau tidak mengerti karena rasa cemburu yang tidak masuk akal."
"Kau tahu alasannya kenapa hubungan kita tidak akan berhasil."
"Kau tidak pernah menjelaskannya dan menghindariku sepanjang musim panas."
"Karena kita mungkin menjalin hubungan saat duka masih menyelubungi keluarga. Aku tidak bisa merasa bahagia saat keluargaku sedih."
"Aku tidak pernah memintamu untuk terlalu buru-buru dalam hubungan kita. Aku mengerti apa yang kau dan keluargamu rasakan. Aku ingin pergi meninggalkan rumahmu agar aku tidak membebani ayah dan ibumu, tapi ibumu ingin aku tetap berada di sana, untukmu agar aku bisa memberikan dukungan untukmu tapi kau malah menghindariku."
"Kau tidak mengerti, Hermione."
"Aku akan mengerti jika kau menjelaskannya padaku."
"Kau tidak kehilangan keluargamu saat perang. Aku tidak akan bisa bertemu dengan Fred lagi. George bahkan tidak bisa membuat Patronus lagi. Itu alasannya aku menghindarimu."
Hermione hampir jatuh karena pegangannya terlepas begitu mendengar jawaban Ron. Ia tidak kehilangan keluarganya saat perang? Ron berpikir karena Hermione tidak kehilangan keluarganya maka dari itu ia tidak akan mengerti kondisinya?
"Apa kau lupa apa yang terjadi dengan orangtuaku?" suaranya hampir tidak bisa keluar tapi ia harus menanyakan itu.
"Tentu saja tidak. Itu tidak sama, Hermione. Kau tetap akan bisa bertemu dengan orang tua suatu hari nanti. Kau akan bisa mengembalikan ingatan orang tuamu dan kalian bisa bersatu lagi suatu hari ini."
"Apa kau benar-benar berpikir seperti itu?" Hermione berteriak penuh amarah sekarang. "Apa kau berpikir semudah itu mengembalikan ingatan orang tuaku? Kau tahu, saat ini aku tidak tahu orang tuaku berada di mana. Aku bahkan tidak tahu apa mereka masih hidup atau tidak. Kau, kau punya keluarga yang saling menguatkan satu sama lain. kau tidak sendiri. Tapi aku tidak punya siapa pun. Aku menguatkan diriku sendiri setiap hari, memberikan afirmasi positif bahwa aku bisa menjalani kehidupanku tanpa orang tuaku. Mengembalikan ingatan tidak semudah itu, Ronald. Itu bisa membuat mereka gila, mereka bahkan bisa terbunuh dalam prosesnya."
"Lalu kenapa kau melakukan itu?" Ron membalas berteriak penuh amarah. "Jika kau tahu resikonya kenapa kau tetap melakukan itu?"
Hermione langsung menampar pipi Ron. Ada bekas tangan di pipinya tapi Hermione tidak peduli. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar jawaban Ron.
"Kau gila, Hermione," kata Ron sambil memegangi pipinya. "Aku memang benar. Instingku memang benar, hubungan kita tidak akan berhasil. Aku bersyukur tidak menjalin hubungan dengan wanita gila sepertimu."
Tanpa berpikir, Hermione menonjok hidung Ron dan meninggalkannya yang mengerang kesakitan dan mengumpat memaki namanya.
.
Hermione tidak tahu sudah berapa lama ia menangis. Air mata sudah lama mengering tapi kesedihannya tidak. Hatinya begitu sakit mendengar kata-kata Ron. Ini bukan kali pertama. Ron sudah sering melakukan ini tapi ini puncaknya. Tidak apa-apa jika Ron menghinanya karena sikap atau penampilannya, tapi ia tidak terima jika Ron mengomentari orang tuanya.
Hermione memeluk dirinya sendiri karena hembusan angin di atas Menara Astronomi. Ia tidak merasa kedinginan selama menangis tapi begitu ia berhenti dan kembali ke kenyataan, ia benar-benar kedinginan. Ia juga tidak sadar kalau ia tidak mengenakan jubah. Hanya kaos tangan panjang biru kesukaannya. Ia tidak bisa berpikir di mana ia meninggalkan jubahnya.
Tapi kemudian, seperti yang sudah-sudah, seperti takdir yang tidak pernah bisa ditebak, ia merasa seseorang memakaikannya jubah dan membuatnya sedikit menghangat. Tapi, itu bukan jubah miliknya. Ular bukan lambang asramanya.
Ia menoleh dan menemukan Draco Malfoy berdiri di belakangnya.
Ia mengerang dalam keputusasaan. Kenapa dia harus berada di sini?
"Sudah berapa lama kau di sana, Malfoy?" Hermione bertanya tanpa repot-repot membalikkan badan. Ia kini menatap bentangan Danau Besar dengan perasaan yang campur aduk.
"Cukup lama."
"Pergilah."
"Kau bisa menyuruhku tapi aku memilih untuk tidak menurut."
Hermione mendengus dan kembali merasa dingin begitu angin berhembus lagi. "Kau mendengar semuanya?" tanyanya pelan.
"Jika yang kau maksud adalah percakapanmu dengan Ronald Weasley serta tangisanmu di sini, maka, iya. Aku mendengar semuanya."
"Kenapa kau selalu muncul di waktu yang tidak tepat?" Hermione membalikkan tubuhnya, tidak tahu kalau jarak Draco Malfoy sudah sedekat itu.
"Tangisanmu lebih kencang dari sebelumnya, Granger," kata Draco tanpa ekspresi dan suara yang datar.
"Benarkah?" tanya Hermione acuh. Ia kembali membalikkannya tubuhnya lagi, tidak ingin berhadapan dengan Draco.
"Ini bukan kali pertama dia membuatmu menangis, bukan?" Draco sudah duduk di sampingnya. Hermione menoleh dan menyadari kalau dia tidak mengenakan jubah serta tidak berpakaian serba hitam seperti biasa. Dia mengenakan sweater berwarna putih gading. Mungkin ini pertama kali dia mengenakan baju berwarna putih selain kemeja sekolah.
"Dari mana kau tahu?"
"Gosip-gosip di kalangan anak perempuan."
Hermione setengah tertawa. "Kau benar. Ini bukan kali pertama Ron membuatku menangis."
"Lantas, kenapa kau masih berteman dengannya?"
"Hanya karena dia membuatku menangis bukan berarti aku tidak mau berteman lagi dengannya. Pikiranku tidak sedangkal itu."
"Jadi, kau masih mau berteman dengannya setelah apa yang dia katakan padamu tadi?"
Hermione diam memikirkan jawabannya. Ron sering kali menyakiti hatinya tapi untuk yang satu ini dia memang keterlaluan. "Aku tidak tahu."
"Aku pikir kau selalu mempunyai jawaban untuk setiap pertanyaan, Granger."
"Memangnya kenapa? Kenapa kau menyebalkan sekali."
"Aku tidak merasa menyebalkan."
"Tentu saja. Sama seperti pencuri yang tidak mengaku kalau dia mencuri."
Draco tidak lagi menanggapi ucapan Hermione. Keduanya diam cukup lama menikmati hembusan angin dan melihat matahari yang mulai terbenam.
"Terima kasih, Malfoy," ucap Hermione memecah keheningan di antara mereka.
"Kenapa tiba-tiba berterima kasih?"
"Karena kau tidak meminta untuk berhenti menangis," jawab Hermione setengah tertawa. "Aku selalu merasa lebih baik setelah menangis."
Butuh waktu cukup lama bagi Draco untuk merespons ucapan Hermione. "Itu yang ayahku lakukan setiap kali melihat ibuku menangis. Ayah tidak pernah meminta ibu untuk berhenti menangis, dia membiarkan ibu menangis sampai selesai dan memeluknya setelah itu."
"Ayahmu melakukan itu?" Hermione berusaha untuk tidak terdengar terkejut karena mendengar Draco membicarakan ayahnya. Lucius Malfoy, yang Hermione tahu, adalah salah satu Pelahap Maut terkejam.
Draco tertawa pelan. "Aku tahu kau tidak mempercayai itu mengingat ayahku adalah Pelahap Maut kepercayaan Voldemort."
"Aku percaya," jawab Hermione. Ia percaya karena mendengar langsung dari Draco.
Draco pun berdehem sebelum berdiri. "Aku akan kembali ke ruang rekreasi."
Hermione melepas jubah Draco dan mengembalikannya tapi Draco bergeming.
"Pakai saja jika kau masih membutuhkannya."
Hermione menggeleng dan menyerahkannya. "Aku tidak ingin membuat kita menjadi bahan gosip orang satu kastel."
"Sampai jumpa lagi," kata Draco memeluk jubahnya dan melambaikan tangan pada Hermione.
Hermione menahan nafas melihat punggung Draco dari belakang, melihatnya menuruni tangga dan menghilang. Begitu ia menghembuskannya, ia menyentuh dada dan merasa sesak. Ia langsung berjongkok dan memeluk lutunya sendiri. Merlin, ia juga jatuh hati pada Draco Malfoy.
