Dia membuatnya bahagia.
Jelas sekali, Hermione Granger membuatnya bahagia.
Draco tidak pernah merasa hatinya begitu senang setiap hari. Setiap malam sebelum tidur, ia selalu berdoa agar esok hari ia bisa melihat Hermione, mereka tidak bertengkar, dan tidak melakukan hal aneh yang bisa membuat hubungan mereka merenggang lagi. Tidak masalah jika Hermione tidak bisa menerima perasannya, asal dia tidak menjauhinya, itu sudah lebih dari cukup. Yang ia butuhkan adalah melihat Hermione.
Ia selalu melihat Hermione setiap hari meskipun mereka tidak saling berbicara. Dia kerap kali tersenyum padanya ketika berpapasan di koridor atau berada di dalam kelas. Dia selalu terlihat baik-baik saja padahal Draco tahu, dia tidak baik-baik saja.
Setelah tahu apa yang terjadi pada orang tuanya, Draco terus mengkhawatirkan kondisinya. Dengan semua beban yang ada di pundaknya, dia masih bisa belajar dengan fokus, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan mendapatkan nilai sempurna. Ketika Draco tahu dia bertengkar hebat dengan Ronald Weasley dan menangis lagi, lebih kencang dari sebelumnya, ia tidak bisa merasa sedih.
Hal pertama yang ingin sekali ia lakukan adalah menonjok Ronald Weasley. Jika dia memang menganggap Hermione adalah temannya, dia tidak seharusnya berkata kasar dan melukai hatinya. Sayang sekali, ia tidak bisa melakukan itu. Ia lebih memilih menemani Hermione daripada mengotori tangannya dengan menyentuh Ronald Weasley yang ternyata cemburu padanya.
"Malfoy?"
Pintu kamarnya terbuka begitu saja. Beruntung sekali ia sudah berpakaian lengkap karena jika tidak, Pansy sudah pasti melihat apa yang ada di balik seragam quidditch yang ia kenakan saat ini.
"Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun?" keluh Draco, tapi Pansy sama sekali tidak peduli. Dia malah bersandar tidak merasa bersalah sambil mengamati kuku-kuku jari tangannya.
"Kenapa kau lama sekali? Aku dan Theo menunggumu untuk sarapan."
"Kalian masih menungguku?"
"Kami selalu menunggumu, bodoh," kata Pansy. "Apa kau masih tidak mau sarapan di Aula Besar?"
Draco hanya menggeleng. Ia pun berdiri dan mengambil sepatu. Akhir-akhir ini, Draco jarang sekali menggunakan sihir untuk melakukan hal-hal mudah seperti berpakaian dan memakai sepatu.
"Apakah aku harus meminta Granger agar kau mau kembali sarapan di Aula Besar?"
"Apa hubungannya Hermione Granger dengan aku yang tidak mau sarapan di Aula Besar?"
"Karena kau menyukainya, mungkin saja kau mau mendengarkannya."
Draco mengerang kesal sekali. "Aku tidak –"
"Menyukainya. Ya, ya. Aku tahu. Aku mendengar itu setiap hari. Silakannya saja berbohong padaku, Malfoy."
"Pergilah," Draco mengusir Pansy, seperti biasa, tapi gadis itu biasa saja.
"Temui kami di Halaman Tengah setelah kau selesai sarapan di dapur," kata Pansy sebelum akhirnya menutup pintu kamar Draco dan menghilang.
Sebelum Draco keluar dari kamar, ia berdiri memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin. Pin kapten sudah terpasang di seragamnya. Ia tersenyum dan merasa semuanya akan berjalan sesuai dengan kehendaknya.
Pertandingan Quidditch pertama akan berlangsung sebentar lagi. Hari yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ia dapat merasakan semangat dari dalam tubuhnya. Rasanya seperti terbakar. Bukannya merasa panas, ia merasa hangat dan tenang.
Ia percaya pada dirinya dan timnya. Mereka akan bertanding dengan baik dan jujur. Ia akan menangkap Snitch lebih cepat dari Ginny Weasley dan membawa kemenangan untuk Slytherin. Piala Qudditch akan menjadi milik Slytherin tahun ini.
.
Draco mengucapkan terima kasih kepada para peri rumah setelah ia selesai sarapan. Ia bergegas keluar dari dapur untuk bertemu dengan Pansy dan Theo di Halaman Tengah. Langkahnya cepat dan pasti karena jika terlambat, Pansy tidak akan senang. Lebih baik ia mengalah daripada membuat gadis itu marah padanya.
Ia baru saja beberapa langkah keluar dari dapur saat melihat Hermione Granger berjalan cepat menuju tangga ruang bawah tanah. Draco mengambil keputusan cepat. Pansy akan mengerti kenapa ia terlambat.
"Granger," panggil Draco sembari berlari kecil menghampirinya.
Hermione sempat mencari sosok yang memanggilnya namun langsung diam seribu bahasa saat tahu Draco lah yang memanggilnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Draco penasaran.
"Detensi dengan Profesor Slughorn."
Sialan. Draco lupa kalau detensi itu masih ada. Ia tidak menjalani detensinya hari ini karena pertandingan dan menggantinya dengan hari besok.
"Sekarang?"
"Iya dan aku pikir aku terlambat," kata Hermione cepat.
Sebelum dia dapat pergi, Draco menarik pergelangan tangannya, menahannya agar tidak pergi. "Jika kau detensi, maka kau tidak akan menonton pertandingan nanti?"
Hermione menggeleng.
Semangatnya tiba-tiba menghilang. Dia tidak akan di sana. Dia tidak akan melihat Draco bertanding. Sialan. Sialan. Ia seharusnya meminta pengecualian untuk hari ini. Ia bisa meminta Profesor Slughorn membebaskan Hermione dari detensi, tapi sepertinya, itu sudah terlambat.
"Baiklah. Aku harus bergegas," ucap Hermione sambil mencoba melepas tangan Draco.
Draco tidak lantas melepasnya. "Aku bisa meminta Profesor Slughorn untuk menunda detensimu."
Draco pikir dia akan marah tapi dia malah tersenyum. Merlin! Kenapa dia cantik sekali?
"Tidak perlu. Profesor Slughorn akan membuat Felix Felicis jadi aku harus menyiapkan bahan-bahannya."
"Baiklah," bisik Draco lalu melepaskan tangannya. Tanpa menunggu apa-apa, Draco membalikkan badan dan berjalan gontai.
Sialan. Semangat langsung runtuh, suasana hatinya memburuk. Sialan. Bagaimana ia bisa bermain bagus jika seperti ini? Hermione tidak akan menonton pertandingannya? Hermione tidak akan –
"Malfoy?"
Draco dengan sigap memutar tubuhnya. Ia melihat Hermione berlari kecil menghampirinya sambil menarik sesuatu dari rambutnya, membuat rambutnya perlahan tergerai indah.
Draco terdiam begitu dia mengambil tangan Draco dan mengikatkan pita berwarna merah-emas ke pergelangan tangannya. Tidak hanya itu, dia juga mengusapnya lembut dan menggenggamnya.
"Aku tahu kau akan bermain bagus nanti," ucap Hermione sepenuh hati. Jantungnya berdetak lebih cepat melihat tatapan penuh makna dari mata hazel yang tampak teduh dan menenangkan.
"Aku ingin kau menang nanti," tambah Hermione lalu aksinya setelah ini membuat Draco bergeming. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya seraya Hermione berjinjit lalu mencium pipinya dan berbisik, "Semoga berhasil, Kapten."
.
Draco tidak menyia-nyiakan kesempatannya kali ketika bola kecil keemasan terlihat beberapa meter di belakang Blaise. Dengan mudah ia melewati salah satu Beater Gryffindor yang hendak menyerangnya lalu berteriak, "Malfoy melihat Snitch-nya."
Sialan, batin Draco.
Ia kembali berhasil melewati lemparan Bludger dari beater satunya.
Skor Slytherin makin bertambah ketika Snitch terbang tinggi dan jauh meninggalkan lapangan. 110 – 90 ketika pertandingan sudah berjalan hampir 1 jam. Ia tidak akan membuang waktu dan membuat pertandingan lebih lama lagi. Ia tidak akan menyerah.
"Kau tidak akan mendapatkannya, Malfoy."
Ginny Weasley muncul dari arah timur dan berhasil mengimbanginya. Draco tidak peduli. Ia tidak membalas teriakannya dan hanya akan fokus pada Snitch yang sekarang terbang merendah dengan cepat.
Baik ia dan Ginny Weasley terbang menurun sama cepatnya. Keduanya sama-sama tidak mengurangi kecepatan dan sama-sama berambisi untuk menangkap Snitch.
Jarak mereka hanya beberapa meter dari Snicth. Ginny Weasley kini menyenggolnya membuatnya hampir terjatuh dan kehilangan fokus. Gadis itu tertawa senang. Tapi, Draco tidak ingin membalasnya. Tujuannya adalah menangkap Snitch bukan terpengaruh pada aksi konyol lawannya.
Ginny Weasley mengambil aba-aba untuk menyenggolnya lagi tapi kini Draco lebih cepat. Ia terbang sedikit menurun untuk menghindari serangannya. Draco yang tidak ada di posisi tujuan, membuat Ginny Weasley terkejut dan tidak bisa mengimbangi kecepatan sapunya. Dia menabrak tribun tapi tidak terjatuh.
Tepat saat itu juga, Snitch terbang mendekati Ginny. Gadis itu tidak menyadarinya karena si bola kecil keemasan mengekorinya. Draco mengambil kecepatan penuh dan ketika Snicth itu berada tepat di depan hidung Ginny Weasley, Draco menangkapnya.
Jika rambutnya bisa berubah, mungkin rambut Ginny Weasley akan sama pirangnya dengan rambut Draco. Sayang sekali, bukan rambutnya yang berubah warna, tapi wajahnya.
"Slytherin menang!" teriak Madam Hooch.
Draco terbang merendah dan mendarat di tanah stadion diikuti rekan-rekan timnya. Mereka memeluk Draco dan bersorak memuja namanya. Sorak sorai gembira juga terdengar dari tribun Slytherin. Mereka bertepuk tangan seraya Draco mengangkat Snitch ke atas.
Ia tidak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya. Akhirnya, ia menangkap snitch dan menang melawan Gryffindor.
"Bagus sekali, mate," kata Blaise menepuk-nepuk pundaknya.
"Permainan yang bagus, Blaise," kata Draco karena dari 110 skor, Blaise mencetak 80 skor.
Beberapa murid Slytherin turun dari tribun dan menghadang mereka. memeluk satu per satu anggota tim bahkan Profesor Slughorn berada di sana juga, menyalami Draco penuh rasa terima kasih. Draco kembali mengangkat Snitch di tangan di kanannya. Sorak sorai kini tidak hanya dari asramanya saja. beberapa murid Ravenclaw dan Hufflepuff bertepuk tangan.
Hatinya terasa penuh.
Ia teramat senang.
Selepas dari sini, ia akan meminta pada kepala sekolah untuk memberikannya pengecualian untuk kali ini. Ia ingin menyurati ayah dan ibunya. Ia ingin mereka tahu kalau Draco memenangkan pertandingan.
Senyumnya mengembang seraya matanya menyapu tribun sambil melompat mengerakkan tangannya. Ia menyukai melihat bola kecil keemasan itu di tangannya. Mulai saat ini, mungkin, ia akan memikirkan menyukai warna emas sebagai warna kesukaannya. Mungkin warna itu cocok dengan pita yang berada di tangannya.
Shit.
Tanpa berpikir, ia memasukkan snitch itu ke dalam jubah, memberikan Nimbus 2001 pada Blaise lalu berlari menerobos kerumunan keluar dari stadion, sama sekali tidak mengindahkan setiap panggilan yang berteriak bertanya padanya, "Mau ke mana kau, Malfoy?"
Ia berlari secepat mungkin menuju kastel. Dari Halaman Transfigurasi ia langsung menuruni menuju ruang bawah tanah.
Ia tahu di mana dia berada.
Mungkin dia masih berada di sana.
Jika dia tidak ada di sana, ia akan mencarinya sampai ketemu.
Ia ingin dia tahu ia menang langsung darinya.
Ia ingin Hermione tahu.
Draco membuka pintu ruangan kelas Ramuan yang tidak terkunci dan menyusuri ruangan kelas itu. Dia tidak ada di sana. Draco mengentakan kaki dan mengerang kesal. "Shit. di mana, kau, Granger?"
"Aku di sini."
Hermione muncul dari ruangan samping yang merupakan ruangan penyimpanan bahan-bahan ramuan milik Profesor Slughorn. "Kenapa kau masuk ke sini tanpa mengetok pintu?" tanya Hermione kesal.
Draco tidak menjawab tapi mengeluarkan Snicth dari dalam jubahnya. "Aku menangkapnya." Draco tertawa gugup. Aneh sekali mendengar suara tawanya seakan tertawa karena lelucon yang tidak lucu.
Hermione meletakan kuali kosong di atas meja terdekat lalu mendekati Draco. "Kau menang?" tanyanya tidak percaya tapi tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia juga saja, tertawa gugup seraya menerima snitch dari tangan Draco.
"itu untukmu, Granger," kata Draco sungguh-sungguh. Ia bahkan tidak ingin melepaskan tatapannya dari Hermione. "Kemenangan itu untukmu."
Hermione menggigit bibir bawahnya sembari tersenyum dengan mata berair. Draco menghapus air mata yang jatuh dengan lembut.
"Terima kasih," ucap Hermione.
Draco mengangguk lalu mengangkat tangannya lagi, memperlihatkan pita pada pergelangan tangannya. "Semuanya karena ini. Pitamu adalah jimat keberuntunganku."
Hermione tertawa pelan. "Pita itu hanya pita biasa, Malfoy. Tidak ada jampi-jampi."
"Tapi aku merasa berbeda ketika memakainya."
"Aku percaya itu karena kau sendiri. Kau menang bukan karena pita dariku tapi karena dirimu sendiri. Kau bertekad untuk menang dan berlatih sungguh-sungguh. Tanpa pita atau tidak, aku yakin kau tetap akan menang."
Draco merapikan anak rambut Hermione yang berantakan. Ia tersipu malu melihat penampilan gadis di depannya. Gadis itu pasti tidak mempunyai ikat rambut lain karena rambutnya tergerai berantakan.
Hermione pun melakukan hal yang sama. Dia menyentuh rambut Draco dan membelainya lembut. "Kau berhak atas kemenangan ini, Malfoy."
Draco meraih tangan Hermione dan menciumnya. "Terima kasih, Granger."
Hermione mengangguk. "Selamat atas kemenangannya, Kapten."
Dengan itu, Draco mencium bibir Hermione. Tadi pagi, ia terlalu terkesima mendengar Hermione memanggilnya kapten, tapi kali ini, ia tidak mau membuang kesempatan. Dia langsung membalasnya begitu bibir mereka bertemu. Ciuman Draco penuh dengan perasaan dan ia ingin Hermione merasakan apa yang ia rasakan saat ini.
Saat Hermione mengerang, Draco memasukan lidahnya. Ia pun menarik Hermione mendekat, menutup jarak di antara mereka. Ia sedikit mengangkat tubuh Hermione, berputar, mendorongnya sampai menyentuh pintu ruang kelas.
"Draco..."
Hermione mendesah seraya ciuman Draco turun menyapu lehernya.
Merlin! Ia merindukan aroma tubuh gadis ini. Perpaduan vanilla dan melati. Ia tidak berada di sapu tapi ia merasa seperti terbang.
Tangan Hermione yang kini melingkar di kepala Draco adalah jalan masuk bagi Draco untuk menggigit lembut lehernya, membuatnya suara yang dibuatnya membuat tubuh Draco terbakar.
Ia kembali mengangkat tubuh Hermione dan mendudukinya di meja terdekat. Tanpa melepaskan ciumannya, ia melebarkan kaki Hermione, mendekatkan bagian tubuh bawah mereka. tepat saat itu juga, Hermione menarik napas dan diikuti dengan desahan yang amat memabukkan.
"Kita tidak bisa melakukannya," bisik Hermione. Suaranya serak dan hampir tidak bisa terdengar.
"Kenapa?" bisik Draco sensual tepat di telinganya sembari menggerakkan pinggulnya, membuat Hermione mengerang untuk kesekian kalinya. Meskipun Hermione menunjukkan penolakan, Draco tidak berhenti menciumnya. Tangannya yang bebas kini menyentuh dadanya dan merasakan putingnya mengeras, padahal dia masih berpakaian lengkap, dan diikuti dengan suara yang tidak pernah Draco dengar sebelumnya.
Draco berhenti menciumnya lalu menempelkan kedua dahi mereka, sembari merasakan hembusan nafas yang saling memburu. Meskipun begitu, tangannya tidak diam, masih menyentuh dada Hermione. Jika saja gadis ini mengenakan kemeja, Draco sudah pasti membuka kancingnya satu per satu dan membenamkan wajahnya di sana.
"Kau benar-benar cantik, Hermione," kata Draco tulus.
Pandangan mereka bertemu tapi Hermione langsung menutup mata, mendongak, karena Draco mencubit puncak dadanya.
"Kita harus berhenti," ucap Hermione susah payah, tapi masih tidak membuka mata.
"Katakan sekali lagi dengan mata terbuka," pinta Draco sensual.
Hermione pun membuka matanya; tatapan matanya berbanding terbalik dengan ucapannya. Draco pun membelai lembut pipinya yang mulai memerah dan terasa hangat.
"Kita tidak bisa meneruskannya," kata Hermione serius.
"Kenapa?" suara Draco serak, menandakan ia tidak ingin berhenti dan ingin melanjutkan aktivitas mereka saat ini.
"Karena ada aku di sini."
Neville Longbottom muncul dari ruangan tempat Hermione keluar tadi, dengan tangan penuh dengan horseradish. Draco langsung menarik diri dan berputar memunggungi kedua Gryffindor itu.
"Maafkan aku, Hermione," Draco dapat mendengar Neville Longbottom bersuara. "Aku berjanji tidak akan memberitahu siapa pun."
"Termasuk Pansy?" Draco berbalik dengan wajah yang tidak ramah.
Neville menjadi kikuk. "Aku tidak yakin."
Draco mengerang, ingin menyambar Neville tapi Hermione menahannya.
"Tidak apa-apa, Neville," kata Hermione lalu Neville Longbottom kembali ke ruangannya lagi.
"Kau tidak sendiri?"
Hermione menggeleng. Dia pun berdiri merapikan pakaiannya. "Neville juga menjalani detensi karena ramuannya meledak kemarin, kau tidak ingat?"
Draco ingat itu. Neville Longbottom untuk kesekian kalinya mengacaukan ramuan yang buatnya.
"Aku pikir sebaiknya kau kembali ke lapangan atau ke ruang rekreasimu saja," tambah Hermione.
"Kau mengusirku?"
"Tentu saja tidak. Kau baru saja memenangkan pertandingan, masa kau tidak mau merayakannya bersama teman-temanmu?"
"Tidak," jawab Draco tanpa berpikir. "Aku ingin merayakannya bersamamu."
Hermione mendengus dan mencubit lengan Draco. Ia sontak mengusap-usapnya karena merasa sakit.
"Pergi dan rayakan bersama teman-temanmu, Malfoy," perintah Hermione layaknya seorang bos. "Kau akan menyesalinya jika tidak merayakannya bersama mereka."
Draco kembali mengerang dan tidak tahu sudah berapa kali ia mengerang hari ini. "Hanya karena kau menyuruhkku."
Hermione tersenyum geli lalu melambaikan tangan. "Terima kasih untuk Snitch-nya."
Draco mengangguk dengan enggan lalu sebelum dia keluar dari ruang kelas, ia kembali mencium Hermione dan berkata, "Kita tidak akan berhenti di sini, Granger. Aku tidak akan berhenti, jadi, siapkan dirimu." Lalu ia menutup pintu dan berjalan kembali menuju asramanya.
