Koko ni Iru Yo!
Chapter 3
Jam masih menunjukkan pukul 11 siang tapi Haru sudah berdiri di depan rumahnya sambil memegang kenop pintu. Seharusnya saat ini ia masih di dalam kelas mendengarkan ocehan Ama-sensei mengenai kata-kata bijak yang entah didapat darimana. Seharusnya begitu. Tapi pertemuannya dengan Rin tadi pagi membuatnya membolos sekolah.
Haru menghela napas sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Okaeri." Suara lembut Gou menyambut Haru. Gadis itu mengenakan rok merah selutut dan kaos orange.
"Aa.. Tadaima." Sahut Haru kaku. Ia sudah terbiasa tidak mengucapkan salam ketika tiba di rumah semenjak ia tinggal sendiri.
"Kenapa sudah pulang?" Tanya Gou mengikuti Haru yang menuju ruang makan. Haru membuka kulkas dan mengambil jus kaleng lalu meminumnya.
"Aku membolos."
"Eh?!"
Haru tersenyum melihat reaksi Gou yang menurutnya cukup berlebihan.
"Tidak perlu terkejut seperti itu." Haru menepuk puncak kepala Gou dan kemudian berlalu.
"Ma-mau kemana?"
"Berendam. Jangan ganggu aku."
"Hai."
Pandangan Gou mengikuti kemana Haru pergi sampai pemuda penyuka air itu berbelok. Gadis itu tersenyum lembut dan menghela napas. Ia memilih duduk di sofa dan melanjutkan kegiatannya membaca majalah. Namun saat ini ia tidak bisa kembali fokus seperti tadi saat sebelum Haru pulang. Pikirannya penuh dengan masalah dalam keluarganya. Gou tak menyangka hal seperti dalam kisah opera sabun kesukaan kaa-sannya benar-benar terjadi bahkan terjadi dalam kehidupannya. Semuanya terjadi begitu saja. Kemarin malam tidak biasanya ibunya mengajaknya untuk makan malam diluar. Biasanya mereka makan diluar saat Rin pulang. Mereka menuju rumah makan yang cukup mewah dan ibunya meminta private room untuk mereka berdua. Awalnya mereka mengobrol biasa sampai ibunya memyampaikan kabar itu. Gou hanya diam dengan mata terbelalak. Yang lebih mengejutkan lagi ibunya sudah mempersiapkan perjodohannya dengan Rin. Saat itulah Gou menggebrak meja dan pergi dari sana menuju kediaman Haru.
Sampai saat ini tidak ada kabar dari ibunya. Apa ibunya tidak mencarinya? Atau jangan-jangan ibunya melakukan ini untuk mengusirnya? Sungguh pikiran Gou sangat buruk saat ini jika menyangkut ibunya.
Gou meletakkan majalahnya dan kembali meneteskan air mata. Ia menangis lagi.
Drrt drrt..
Gou tersentak mendengar getaran ponsel dari dalam tas Haru. Gadis itu mergoh-rogoh isi tas dan menemukan ponsel biru yang masih bergetar dengan menampilkan nama Makoto. Dengan langkah cepat, Gou menuju kamar mandi untuk memberitahu Haru.
"Ha-Haru-kun? Ada telepon dari Makoto-senpai."
Suara Gou dari luar kamar mandi, membuat Haru tersentak. Segera ia keluar dari singgasananya -bathtub- dan melangkahkan kakinya menuju pintu kemudian membukanya. Pemuda beriris biru laut itu memandang gadis di depannya dengan teliti. Ia menyadari sesuatu.
"Kou.."
"Ini. Akan aku tinggal-"
Sebelum Gou berbalik, Haru sudah menggenggam tangannya erat. Untuk sesaat mereka hanya saling menatap. Haru membuka ponsel flipnya dan menempelkannya di telinga dengan tangan yang lain.
'Haru! Kau dimana?' Suara Makoto langsung terdengar di seberang sana.
"Aku di rumah. Sudah ya.. Jaa." Pemuda itu langsung menutup ponselnya dan kembali menatap Gou. "Kau menangis lagi?" Tanyanya.
"Uhmm... Ma-maaf." Kata Gou sambil menundukkan wajahnya.
"Tidak apa. Tapi tadi pagi matamu sudah cukup bengkak." Haru menepuk puncak kepala Gou dan mengelusnya, membuat gadis manis itu nyaman dengan perlakuannya. Ternyata dia memang tidak bisa melihat gadis ini menangis. "Tunggulah di sofa. Ada hal yang ingin kubicarakan." Katanya sambil menyerahkan kembali ponselnya.
"Baik." Gou berbalik untuk ke sofa sesuai dengan perintah Haru namun sebelum langkah ke dua ia kembali menghadap pemuda itu dan langsung memeluknya membuat Haru cukup terkejut. Gou memeluk pinggangnya erat, tidak peduli kalau bajunya akan ikut basah karena air karena Haru memang belum sempat mengusap badannya dengan handuk. Tidak ada yang bisa dilakukan Haru selain membalas pelukan gadis itu sambil mengelus puncak kepalanya agar gadis itu tenang.
"Sudahlah sana.. Bajumu basah." Bisik Haru lembut. Perlahan Gou melepas pelukannya dan berbalik berharap Haru tidak melihat wajahnya yang merona.
Gou segera menuju sofa yang dimaksud Haru untuk menunggu pemuda itu. Dalam hati ia bertanya-tanya apa yang ingin Haru katakan. Ia menopang dagunya berpikir segala kemungkinan yang akan terjadi. Antara siap dan tidak siap.
"Mau minum?" suara berat terdengar dari samping Gou membuat gadis mungil itu tersentak. Ia menoleh dan ternyata Haru sudah duduk di sampingnya sambil menyodorkan segelas air putih dingin padanya.
"Terima kasih." Setelah menerima gelas itu, Gou meneguknya hingga tersisa setengah. Keduanya hanya diam. Gou dengan rasa penasarannya dan Haru yang merasa bingung bagaimana menyampaikannya kepada Gou. "Jadi⦠Ada apa?" Tanya Gou lirih.
"Tadi pagi Rin menunggumu di gerbang sekolah."
"Onii-chan?"
"Hn. Dia mencarimu."
"Lalu? Apa Onii-chan tau kalau aku di sini?" suara Gou sedikit bergetar. Tiba-tiba ia merasa takut. Takut kalau Rin dan kaasannya mengetahui keberadaannya dan pada akhirnya ia harus berpisah dengan Haru. Ia tidak mau!
"Maaf. Aku memberitahunya." Jawab Haru penuh sesal. "Kau tau? Dia juga sama kacaunya sepertimu." Lanjutnya.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Membiarkan pikiran menguasai mereka saat ini. Gou menundukkan wajahnya menatap air yang tersisa setengah di gelas yang dipegangnya. Matanya meredup. Tentu saja ia tidak bisa menyalahkan Haru. Ia tau Haru melakukan ini untuknya. Tapi bagaimanapun ia tetap merasa takut. Ia takut Okaa-sannya yang keras kepala itu menyeretnya pulang dan tidak akan mengijinkannya bertemu pemuda disampingnya ini lagi. Dengan berat, ia menghela napas.
"A-apakah mereka akan datang menjemputku?" tanyanya lirih namun cukup membuat Haru tersentak dari lamunannya. Tak ada yang tau apa yang tengah dipikirkan pemuda penggila air itu.
"Aku tidak tahu pasti tapi yang jelas cepat atau lambat mereka akan datang." Jawabnya jujur. Ia memang tidak tau apa yang dipikirkan oleh ibu dari Rin itu. Yang ia tau saat ini keadaan Rin sangat kacau. Saat pemuda berambut magenta itu mendapat kabar bahwa Gou kabur dari rumah, Rin segera bergegas pulang dan setibanya di rumah ia mendapat kabar itu. Kabar yang menyulut emosinya. Haru melihat sendiri kekesalan Rin tadi.
"Bagaimana bisa aku menikahi adikku sendiri?! Dia adikku Haru.. Dia adikku.." kata Rin frustasi dengan air mata yang megalir.
"Jagalah dia Haru.. Kumohon jaga dia.." itulah pertama kalinya Haru melihat Rin memohon padanya dengan wajahnya yang menyedihkan.
"Satu hal yang perlu kau tahu, Kou.. Kurasa Rin tidak akan membiarkan ini berlanjut. Begitupun denganku. Percayalah..."
Gou menatap Haru tepat dimatanya. Ya, ia mempercayai pemuda ini. Kalimat terakhir Haru benar-benar menenangkannya.
"Arigatou.." kata Gou dengan senyum mengembang di bibirnya. "Kita akan menghadapinya kan, Haru-kun?"
"Ya. Kita akan menghadapinya." Haru membalas senyuman Gou. "Apapun yang terjadi." Lanjutnya.
Perlahan-lahan kecemasan yang dirasakan Gou mulai berkurang. Ia percaya pada Haru. Ia tau kalau Haru akan ada untuk bersamanya.
T.B.C
Astagaaaaaa... Maafkan aku! Maaf pendek~
Masih adakah yang nunggu fanfic ini? Aku krisis ide, maafkan yaa tapi aku berusaha kok nyelesaiin ini hehe
bisa looh kirim-kirim kritik dan saran, saran ide juga boleh muehehehe
