Thomas Van Aalsburg namanya. Namun beliau lebih memilih untuk dipanggil dengan nama pendeknya yaitu Tom. Beliau termasuk guru yang akan mendisiplinkan murid nakal dan tak taat pada aturan, dan termasuk dalam kelompok guru pendisiplin murid bersama dengan miss Franci dan beberapa guru lainnya. Biar pun sifatnya terbalik dari miss Franci, ia tak kalah menyeramkan saat sedang menghukum murid. Selain itu, beliau juga menjadi kepala asrama laki-laki, dan menjadi penanggung jawab Murid Merah, memberikan mereka tugas untuk membantu para pekerja di asrama Hetalia, entah mereka harus berkebun, membetulkan pemanas yang rutin sekali rusak, mengecat tembok yang dicoret oleh ulah Murid Merah lainnya—sebelum menjadi Murid Merah, membantu guru membawa tumpukan buku yang saat malam akan membuat punggung mereka sakit, atau yang terburuk adalah membersihkan selokan yang akan dibuka secara bergantian tiap dua musim.

Tetapi Tom, tak menyukai murid yang memberikan pekerjaan mereka—menyuruh lebih tepatnya, menyuruh murid lain untuk mengerjakan tugas mereka. Jadi saat Adinda sedang membetulkan ventilasi atas permintaan dari Yao, kakak dari Mei, supaya ia bisa mendapatkan tanda tangan dari Yao, Tom merasa tak senang biarpun ia terlihat ceria, tersenyum, dan senyuman itu bakal membangkitkan mimpi buruk Adinda malam ini.

"Kenapa pakai baju olahraga musim dingin ya? Kau ya tak panas?" Tanyanya sambil melihat apa Adinda mengerjakan tugasnya dengan betul.

"Eh, tidak, sir Tom—,"

"Tom, tolong. Tom saja cukup, ya. Siapa ya nama mu, sayang?"

Cara Tom memanggilnya sayang sebagaimana orang yang tua memanggil anak muda membuatnya bergidik. Adinda tahu Tom bercanda—karena ia sangat humoris, tetapi Adinda bisa merasakan maksud lainnya yang membuat bulu kuduknya berdiri lebih tegak dari tiang listrik. Tpm juga memiliki kebiasaan aneh untuk menambahkan beberapa kata "ya" di kalimatnya.

"Adinda Pertiwi, si—Tom, ya, Tom saja ya." Karena gugup, Adinda tak sadar ia mengikuti cara Tom berbicara, biarpun Tom menganggap itu sangat lucu dan tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

"Lucu ya kamu? Adinda ya? Sungguhan ya, tak panas?"

"Eh, tidak. Aku dari timur, bagian yang panas, jadi tak terbiasa dengan, err... Perubahan suhu yang drastis."

"Ya, aku paham. Timur ya? Panas ya disana? Kenapa kamu yang membetulkan ventilasi dan membersihkan kipas angin bangunan kesenian?" Suaranya berubah menjadi sangat serius dan tajam seketika setelah menyelesaikan basa-basinya untuk tak terlalu menakuti Adinda.

Adinda menelan ludahnya, "senior Yao. Erm, tanda tangannya, untuk tugas perkenalan dari miss Johanna, wali kelas saya."

Tom mengeluarkan kata "ah!" sambil mengangguk-angguk, akhirnya mengetahui alasannya, dan ekspresinya berubah drastis. "Tanda tangan ya? Berusaha ya. Saat aku dulu masih siswa disini, baru bisa mengumpulkan lima puluh setelah dua minggu, kamu tahu ya hukumannya? Ya, kurasa untuk ini saja aku biarkan. Hati-hati ya, Adinda, kipas anginnya bisa menyeterum mu kalau tak benar dilepaskannya ya."

Tom meninggalkan Adinda setelahnya. Membuat Adinda keheranan luar biasa. Bagaimana bisa? Itu yang Adinda tanyakan dalam pikirannya. Tom terlihat biasa saja, seperti... biasanya. Terlalu biasa. Padahal membawa tas besar di punggungnya, tas belanjaan yang penuh ditaruh di tangannya masing-masing lima, dan membawa televisi LCD yang Adinda yakin beratnya tiga kilo dari ukurannya yang besar dan lebar. Biarpun ia sendiri mampu berlari, kemarin, membawa dua tas dan satu koper yang sudah pasti berat, ia tak yakin mampu membawa barang sebanyak yang Tom bawa.

"Kalau latihan bisa mungkin ya?"

Ia kembali melepaskan kipas angin ventilasi dan membersihkannya. Namun tanpa ia sadari, sedari tadi seorang tengah mengawasinya dengan sangat serius, entah apa niat orang tersebut kepada Adinda. Orang itu berada di bangunan kesenian yang kedua, yang memiliki tiga lantai ketimbang satu lantai saja seperti bangunan yang pertama. Ia ada di lantai dua, mengawasi dari balik jendela, melihat ke bawah, memperhatikan tiap gerakan yang Adinda lakukan, entah apa yang orang itu anggap menghibur dari melihat orang lain membersihkan kipas angin ventilasi. Namun ternyata, melihat dari kejauhan tak memberikan kepuasan kepada orang tersebut, dan ia berniat untuk mendekat... atau mungkin lebih dekat lagi.

Tak lama, Adinda mendengarkan suara langkah. Firasatnya mengatakan kalau pemilik suara langkah tersebut berniat menemuinya. Langkah tersebut ternyata memang mengarah kepadanya, dan semakin lama semakin terdengar dekat, namun yang membuatnya agak tak enak hati adalah, langkah tersebut seperti dengan sengaja dihentakkan keras pada tanah, seolah orang tersebut marah—mungkin, atau tak sabar akan sesuatu, atau apa lah. Pikir Adinda.

"Adinda!"

Dan ternyata suara yang familiar untuk Adinda! Ia tahu siapa pemilik suara tersebut karena ia baru bertemu dengannya kemarin. Ia lah, "Elizaveta." Adinda tersenyum senang, akhirnya bisa bertemu dengannya, "hai."

"Aku dengar dari temanku kamu membantu senior Yao membetulkan ventilasi? Terima kasih ya! Sudah memutuskan kelompok apa yang akan kamu masuki?"

"Sayangnya... " Adinda menghela napasnya, sementara itu Elizaveta hanya tersenyum kecewa. "Aku akan segera memutuskan, tenang saja."

"Kelompok apapun itu, aku sangat mengharapkan kamu bergabung dengan kelompok Kesenian. Ada beberapa temanku yang akan sangat senang dengan kehadiranmu."

Adinda menurunkan kedua alisnya dengan bingung dan berusaha menahan senyumannya karena merasa agak senang, "beberapa temanmu? Siapa saja kah mereka?"

"Kamu tahu Roderich Edelstein—dan aku sangat minta maaf karena kekasarannya pagi ini biarpun kamu telah membantunya. Francis Bonnefoy, pemain biola yang hebat—tetapi memiliki sedikit kecintaan terhadap wanita, dan adik dari miss Franci. Si kembar Vargas, kau akan menyukai mereka berdua. Dan Vladimir Popescu, orang yang sangat menyebalkan, tetapi sangat baik dalam bermain terompet, tetapi tetap saja..."

"Aku terkenal ya?"

"Oh tentu saja semuanya berkat aku. Hahaha. Oh ya, dan satu lagi. Yang paling menyebalkan di antara yang lainnya—dan saking menyebalkannya, ia tak mau ku kenalkan padamu, katanya, ia ingin memperkenalkan dirinya dengan caranya sendiri karena bakal terlihat hebat." Nada suara Elizaveta terdengar meremehkan.

Jeda beberapa detik terjadi, Adinda melihat Elizaveta seolah ia agak kebingungan akan satu hal. Sebaliknya ekspresi Elizaveta adalah ekspresi kebingungan betulan, berpikir mungkin Adinda tak tahu bagaimana untuk bereaksi dengan ocehannya. Dan tiba-tiba Adinda mengagetkan Elizaveta dengan berseru sesuatu.

"Aku lupa! Tunggu di sini ya?"

"Adinda?"

Terlambat. Sebelum sempat Elizaveta bertanya ada apa, Adinda sudah berlari ke arah asrama perempuan, dengan kecepatan yang abnormal jika dimiliki oleh gadis berusia enam belas tahun. Dan Elizaveta kembali dikejutkan oleh kecepatan berlari Adinda—gadis tersebut sudah kembali setelah lima menit meninggalkan Elizaveta, membawa jaket rajut berwarna hijau tua yang ia sangat kenal. Elizaveta sama sekali tak paham bagaimana pernapasan Adinda masih teratur dan normal dalam kecepatan berlari yang gila tersebut dan dalam jarak yang lumayan jauh.

"Jaket milikmu. Terima kasih sudah meminjamkannya padaku. Oh, dan satu lagi—," Adinda menyerahkan buku yang memiliki sampul terbuat dari beludru berwarna cokelat kusam menandakan usia buku tersebut yang sudah tak lagi muda. Elizaveta terkejut melihat bagaimana buku berharganya ada di tangan Adinda dan langsung merebutnya.

"Apa kamu baca isinya?!"

"Maaf. Aku tak tahu itu punya siapa karena tergeletak begitu saja di lantai kereta, jauh dari kursi kita, karena di sampul tak ada namanya, aku mengecek tiap halaman, dan menemukan namamu, Hedervary 'kan?"

Elizaveta masih terlihat agak panik, syok, takut akan sesuatu. Takut jika Adinda membaca keseluruhan isi buku miliknya. Tetapi dari wajah Adinda, ia terlihat sama sekali tak paham dengan apa yang terjadi pada Elizaveta, dan berpikir kalau buku tersebut adalah buku yang sangat pribadi bagi Elizaveta.

"Maaf ya. Itu diari mu ya? Aku tak mengerti bahasanya jadi..."

"He?" Ia mengerjapkan matanya, "diari? Oh! Iya! Ini diariku! Tak apa kok! Hehe... he..." Elizaveta menghela napasnya lega, begitu pula Adinda... tetapi Adinda agak tak mempercayai kalau itu hanya sebuah 'Diari' jika dilihat dari bagaimana reaksi dari Elizaveta yang kelewat terkejut, bahkan hingga ketakutan. Mungkin kebiasaan orang timur dan barat berbeda, bahkan dalam hal menulis di buku diari. Karena dalam buku 'Diari' Elizaveta, terdapat tabel daftar nama dimana Adinda menemukan nama Hedervary, dan anehnya, marga Bonnefoy dan Edelstein pula. Sementara itu di tabel halaman selanjutnya terdapat nama marga yang terdengar sangat timur untuk Adinda. Tak hanya tabel, ada beberapa diagram, lalu ada pula semacam denah yang anehnya agak mirip dengan denah kompleks asrama, beberapa garis merah tipis yang sudah pudar menyambungkan bangunan satu ke bangunan lainnya yang dinamai dengan bahasa yang Adinda tak mengerti. Buku "diari" tersebut lebih terlihat seperti buku untuk menganalisis sesuatu ketimbang buku harian biasanya, apa lagi buku harian seorang gadis remaja.

Namun disisi lain, Elizaveta tahu Adinda tak sebodoh itu untuk langsung percaya kalau buku miliknya adalah buku diari, jadi ia berusaha mencari cara untuk mengalihkan topik. "Ah! Adinda, kamu telah membantuku barusan, jadi aku akan memberikan tanda tanganku untuk tugas perkenalan."

"Eh, bukannya itu tak diperbolehkan?"

"Secara teknis kamu membantuku setelah miss Johanna memberikan tugas. Aku juga baru ingat mengenai jaketku dan err, buku diariku hari ini."

Sebelum menerima tanda tangan dari Elizaveta, Adinda kembali mengingat-ingat peraturan dan larangan yang diberitahukan oleh miss Johanna, wali kelasnya, tadi pagi.