"Kalian tahu apa ini?"

Miss Johanna mengangkat tinggi-tinggi buku kecil berukuran A6 dengan sampul berwarna Marun terbuat dari kulit di tangan kanannya. Beberapa murid berniat mengangkat tangan mereka, tetapi mereka mengurungkan niat tersebut dan kembali teringat bagaimana miss Johanna akan menambahkan cap merah di buku milik mereka. Pagi ini, sebelum jam istirahat kedua, kegiatan pertama. Miss Johanna menjelaskan kembali peraturan dasar—seperti tak boleh keluar dari kompleks asrama setelah lewat jam empat sore, tak boleh keluar dari bangunan asrama setelah lewat jam sembilan. Setelahnya, ia memberitahukan sejarah asrama Hetalia yang sangat panjang, dan saat itu lah para murid mulai berbicara sendiri, ada yang mengerang kebosanan, ada juga yang bahkan sudah tertidur. Dan mereka berjanji tak akan melakukan itu lagi kalau mereka tahu bagaimana miss Johanna sebenarnya.

Nama lengkap dari wali kelas mereka yang sudah menjadi wali kelas dari kelas 1-B selama lima tahun adalah Johanna Abigail Crawford. Teman baik dari miss Franci, dan tentu saja, adalah dewasa yang tegas dan keras, mungkin lebih keras dari miss Franci. Beliau sangat disiplin dan tak mentolerir murid yang menurutnya tak memiliki etika dan bersikap seenaknya, di kelasnya tentu saja. Dan kesepuluh murid yang tak mendengarkannya tadi pagi beliau perintahkan untuk mengumpulkan buku cap milik mereka, dan masing-masing murid diberikan lima cap merah. Tak satu pun dari murid berpikir cap itu bakal berakhir baik. Dan firasat mereka benar saat salah satu siswi berambut oranye mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan dari miss Johanna.

"Buku PTB, kependekan dari Perlakuan Tak Beretika. Guru akan menambahkan cap merah kepada para murid yang tak disiplin, tak tahu tata krama, dan mengganggu—."

Miss Johanna mengangkat tangannya. "Cukup. Terima kasih, Kirkland." Si gadis Kirkland menoleh ke arah salah satu murid yang mendapatkan cap tadi pagi, memberikan senyuman licik, tetapi itu tak berlangsung lama karena miss Johanna meminta kembali fokus para murid dengan memukul papan tulis menggunakan kepalan tangannya.

"Buku PTB, atau para Murid Merah menyebutnya dengan buku hukuman, adalah buku dimana kalian akan dihukum menurut seberapa banyak kalian melakukan pelanggaran, tak memiliki etiket yang baik, dan sikap yang mengganggu di dalam maupun di luar kelas! cap yang diberikan adalah tergantung dari guru yang memberikannya. Tiap bulan, kalian diharuskan mengumpulkan buku PTB kalian kepada kelompok guru yang bertugas mendisiplinkan para murid.

"Dua puluh cap, dan di bulan berutnya kalian akan menjadi salah satu dari Murid Merah dan membantu Thomas dengan pekerjaannya. Melebihi dari dua ratus cap sebelum hari kalian naik kelas, bersiaplah untuk tak dapat ikut Wisata sekolah, atau kegiatan khusus tahunan seperti mendaki bukit. Dan tentu saja, tetap menjadi Murid Merah satu tahun kedepannya. Menjadi Murid Merah tak berarti kalian tak akan mendapatkan cap merah dari guru, bahkan kepada kalian yang murid Beasiswa. Paham?"

Satu anggukan pasti dilakukan para murid secara serentak. Paham atau tidaknya, mereka tak mau menjadi Murid Merah, mengetahui bagaimana para Murid Merah akan diperintahkan untuk kerja rodi oleh Tom. Apa lagi untuk Xiao Mei, yang paham betul tak enaknya menjadi Murid Merah.

Miss Johanna menghabiskan sisa waktu pelajaran kedua dengan menjelaskan mengenai Kelompok dan Kegiatan tambahan. Dimana murid diwajibkan untuk memilih satu diantara tiga kelompok besar, dan diberikan pilihan untuk melakukan atau tidaknya kegiatan tambahan—yaitu menjadi budak Tom selama di asrama Hetalia. Dari tiga tingkatan kelas dengan total empat ratus dua puluh murid, murid kembali dibagi menjadi tiga kelompok menurut minat dan bidang mereka, diantara lain Seni, Olahraga, dan Reguler. Musik, Seni Rupa, dan Akting termasuk dalam tiga bidang besar yang membentuk kelompok Kesenian. Sementara itu Bela Diri, olahraga Bola, dan olahraga Lari adalah ujung tombak trisula kelompok Olahraga. Sains, Sastra, dan Matematika adalah yang menjadi satelit utama kelompok Reguler. Para murid akan diperbolehkan juga memilih untuk melakukan kegiatan Kelompok atau pun kegiatan yang sudah ada di Jadwal jika keduanya berada di waktu yang sama, dan nilai mereka akan diganti dengan nilai kegiatan yang mereka lakukan.

"Tiap tahun akan ada kompetisi yang mengharuskan ketiga kelompok untuk mampu membuktikan kalau bukan hanya bakat saja yang unggul, tetapi juga hal lainnya, termasuk poin yang menjadi kekurangan dan tak terlatih. Murid akan dibagi kembali menjadi tujuh puluh kelompok masing-masingnya terdiri dari enam murid—dua murid dari masing-masing kelompok, dengan tiga tingkatan kelas yang berbeda. Kompetisi berbeda-beda tiap tahunnya, dan pastinya kompetisi akan sangat besar dan hebat."

Kegiatan tambahan, atau istilah para murid yaitu "mengemban tugas kepada yang mulia raja Thomas Van Aalsburg hingga akhir masa remaja", yang Tom anggap sangat brilian setelah tertawa terbahak-bahak hingga menangis. Memang lah mengemban tugas kepada yang mulia raja Tom, karena setelah mengetahui istilah para murid untuk kegiatan tambahan, Tom akan menyuruh Murid Merah dan yang lainnya untuk memanggilnya raja hanya untuk iseng. Kadang menyuruh mereka menambahkan embel-embel saat berbicara dengannya, atau jika Tom bosan, ia akan menambahkan titel secara sembarangan kepada murid bimbingannya. Lagi pula, masalah seolah tak ada habisnya dalam kompleks asrama, ditambah dengan kipas angin ventilasi yang rutin rusak akibat kurangnya tenaga kerja dalam memeliharanya. Belum juga bantuan yang diminta oleh guru lainnya kepada Tom, untuk meminjam sementara murid bimbingannya.

"Siapa yang mau jadi budaknya broeder sih sebetulnya?" Tanya Emma Van Aalsburg, adik dari Tom, keheranan, saat jam istirahat kedua telah tiba. "Kalian bakal dijahili habis-habisan, sampai nangis seperti bocah TK."

"Siapa yang tak mau dengan Tom sejujurnya?" Mei justru malah balik bertanya, "ia tampan, masih lajang pula. Biarpun aku tak suka dengan seorang paman."

"Usianya masih dua puluh lima yang aku dengar."

"Kenapa Adinda? Tertarik?" Emma tertawa terbahak-bahak, "jangan. Broeder itu protektif, sangat. Nanti kamu jalan sedikit dengan teman lelaki, teman lelakimu dibunuh olehnya."

"Anu," Lili berdeham, berusaha untuk mengalihkan topik yang agak tak patut. "Mengenai kelompok. Bagaimana menurut kalian?"

Mei, sambil memakan kripik yang ia sudah sembunyikan dan persiapkan untuk istirahat, menjawab dengan santainya, "ah, Yao-gege dan sepupuku semuanya murid Olahraga. Sudah jelas aku masuk olahraga."

"Tom sih memaksaku untuk masuk ke Reguler, jadi yah... Vash juga 'kan?" Emma menyikut bahu Lili, Lili hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya. "Bukannya kebanyakan dari temannya di Kesenian ya?"

"Nyaris semua." Tambah Lili. "Bagaimana denganmu Adinda?"

Adinda berada dalam sedikit konflik dengan dirinya. Menjadi murid beasiswa mengharuskannya untuk memiliki nilai akademik yang nyaris sempurna, dan nilai sangat baik untuk kegiatan khusus kelompok antara Kesenian dan Olahraga. Biar pun sudah pasti ia akan memilih Olahraga karena itu memang minatnya. Tetapi ia khawatir kegiatan khusus kelompok akan menyisakan sedikit waktu untuknya belajar dan itu akan mempengaruhi nilainya. Dan ia benar-benar harus bisa mengatur waktunya untuk bersosialisasi, belajar, dan melakukan kegiatan kelompok tiap harinya. Ia pun masih menimbang-nimbang untuk masuk ke kelompok Reguler.

"Aku… masih belum yakin."

Mei bersandar manis di bahu Adinda, "kalau dilihat dari figur mu sih, cocoknya olahraga."

"Lili pasti setuju kalau kamu masuk Reguler, ja?" Lili mengangguk sambil tersenyum lembut kearah Emma. "Kamu juga murid beasiswa bukan?"

Elizaveta mengejutkan tiga gadis lainnya dengan tiba-tiba berada di samping Mei dan Emma, ia hanya menahan tawa sambil menggeleng. "Syarat beasiswa di asrama Hetalia sangat ketat, Emma, aku yakin kamu tahu syarat lainnya selain diharuskan mendapatkan nilai akademik bagus?" Kalimat Elizaveta mampu membungkam Emma dan juga Lili setelah mengetahui pilihan Adinda hanya ada dua. Namun hanya Mei yang mengetahui pilihan absolut Adinda.

"B-begini, bruder mengijinkan ku untuk melihat contoh jadwal kegiatan miliknya selama setahun, aku tak masalah jika harus memfotokopikannya untukmu, akan kuserahkan saat jam istirahat ketiga!" Tanpa menunggu jawaban dari Adinda, seolah ia percaya mampu membelokkan pilihan Adinda, Lili langsung berlari keluar kelas 1-B.

Elizaveta dan Mei menunggu apa yang akan Emma lakukan, namun Emma hanya menggeleng. "Zaman broeder itu sebelum kejadian itu, ya, jadi sudah pasti banyak perubahan."

"Kalau begitu aku juga," kata Mei sembari ia bangkit dari kursinya, "setidaknya kalau meminjam dari gege, tak akan kadaluarsa." Sambil mengatakan hal tersebut, Mei tersenyum kearah Elizaveta, menantang Elizaveta karena telah mengetahui Elizaveta akan melakukan hal yang sama dengannya dan Lili.

"Setidaknya," Elizaveta ikut berdiri, perlahan dan elegan, "milik testvér mencakup tiga tahun kegiatan kelompok termasuk catatan dan analisisnya di tiap kegiatan, dan pasti milik testvér akan jauh lebih informatif meskipun ia sudah lulus tiga tahun lalu."

Adinda tak mampu berbicara atau pun memotong kompetisi antara ketiga temannya, bukan karena ia tak bisa dan tak mau, hanya saja kompetisi ini ada karena ia ada, yang jadi pertanyaan adalah, kenapa mereka berusaha sebegitu kuatnya, hanya untuk Adinda? Yang bahkan baru saja mereka kenal. Biarpun begitu, Adinda tak bisa berbohong kalau ia senang bisa mendapatkan teman yang baik, dan tak sabar memberitahukan hal ini kepada bibinya di kampung halaman lewat Surel.


Keberadaan miss Johanna yang tiba-tiba saja muncul di tengah kerumunan murid di kelas 1-B membuat ruang kelas tersebut mendadak sunyi. Seluruh murid melihat miss Johanna dengan horor, ekspresi mereka sangat terkejut dan ketakutan, jantung mereka seolah jatuh ke perut dan keringat dingin mengalir dari kening mereka. Sementara itu, miss Johanna hanya berjalan ke arah meja guru, dengan mengeluarkan suara sepatu hak tinggi di lantai marmer dari tiap langkahnya yang terdengar sangat mencekam. Dan saat beliau menaruh barang bawaannya di atas meja, miss Johanna nyaris membunuh murid yang berada di dalam kelas akibat dari serangan jantung saat beliau tiba-tiba meninju papan tulis. Iris Cokelat Mochanya bergerak cepat melihat ke seluruh ruang kelas, dan murid-muridnya langsung mengetahui sinyal itu untuk langsung kembali duduk manis di kursi mereka masing-masing. Beberapa murid yang tak berasal di kelas 1-B merasakan bahaya setelah melihat reaksi teman-teman mereka, dan tak ingin membangun makhluk buas yang ada di kelas 1-B, apa pun itu, mereka segera mengenyahkan diri dari kelas tersebut.

"Saya tak akan menjelaskan apa pun lagi setelah ini dan hanya akan memperkenalkan kalian dengan tugas yang harus kalian kerjakan selama masa orientasi siswa."

Miss Johanna langsung menuliskan besar-besar tugas yang akan diberikan kepada para siswa di papan tulis. 'Lima puluh tanda tangan'. Setelah beliau menutup spidol dan menaruhnya di meja, miss Johanna sengaja memberikan beberapa detik kepada muridnya untuk bertanya-tanya dalam hati. Beberapa memang sempat bertanya-tanya, ada beberapanya yang sudah mengetahui tugas ini bakal diberikan, ada juga beberapanya yang tak perduli.

"Tugas lima puluh tanda tangan. Tugas pertama untuk murid baru yang akan diberikan di hari pertama masuk sekolah. Apa sudah ada yang mengetahui apa yang harus kalian lakukan dalam menyelesaikan tugas ini?"

Sekali lagi, gadis bernama Kirkland mengangkat tangannya. "Tiap murid harus mengumpulkan lima puluh tanda tangan hingga hari Senin minggu selanjutnya. Para murid harus membantu temannya baru bisa mendapatkan tanda tangan dari mereka, dan untuk murid yang telah dibantu harus memberikan tanda tangan, nama, nomor kamar dan telepon asrama, juga kelas mereka."

Tepukan tangan dari miss Johanna adalah suatu yang membuat Kirkland tak mampu menahan senyumannya. Dalam lubuk hati Adinda, ia tahu, gadis Kirkland tersebut pasti akan membanggakan hal tersebut kepada teman lelakinya. Seperti bagaimana gadis itu sempat menjahili teman yang sama saat jam istirahat kedua.

"Bantuan yang diminta tak boleh hal yang kecil, tak boleh hal yang sepele! Siapapun yang melakukannya akan diberikan sepuluh cap merah. Dan satu lagi hal penting; bantuan apa pun yang diberikan atau dibutuhkan sebelum saya mengumumkan tugas ini tak akan dihitung.

"Jika kalian bertanya apa tujuan dari tugas ini. Tugas ini bertujuan untuk membangun koneksi kalian sedini mungkin. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan memperluas bidang dan minat kalian. Tugas ini juga akan berguna untuk kalian mengerjakan tugas-tugas lain kedepannya. Paham?"

Lagi-lagi satu anggukan penuh keyakinan dilakukan serentak oleh seluruh murid di dalam kelasnya. Paham atau tidaknya mereka. Tak ada satu pun yang memiliki keberanian untuk membangkitkan lagi makhluk menyeramkan yang tertidur di dalam diri miss Johanna.

"Dan perlu diingat, setelah tugas berakhir, kalian tak diwajibkan lagi untuk mengumpulkan tanda tangan, tetapi jika menemui teman baru, cobalah meminta tanda tangannya. Sekian. Ada pertanyaan?"

Sesi tanya jawab hanya didominasi oleh tanya jawab antara Kirkland, dan beberapa murid lain yang tampaknya tak senang jika hanya Kirkland yang membuat miss Johanna merasa bangga. Tak beberapa lama setelah miss Johanna menjawab pertanyaan terakhir, bel berbunyi tanda waktunya memasuki jam istirahat ketiga. Mei, Elizaveta, dan Lili langsung mengambil tumpukan kertas dari loker meja mereka dan menaruhnya secara serentak di meja Adinda.

"Tolong serius, apa yang harus aku lakukan untuk berterima kasih kepada kalian wahai para putri dari negeri seberang?" Kata Adinda, ia masih terpaku dengan hasil jerih payah teman-temannya dalam waktu istirahat kedua yang singkat. Bukan hanya mereka mampu mencari atau meminta dari kakak mereka kertas jadwal kegiatan kelompok yang mereka telah janjikan kepada Adinda, namun mereka juga sempat-sempatnya menyalin di koperasi sekolah yang berada persis di bagian selatan kompleks asrama, letaknya lumayan jauh dari bangunan sekolah yang ada di bagian tenggara kompleks. Dan lagi membawa tumpukan kertas sambil berlari-lari, beruntung angin tak berhembus sekencang pagi tadi.

Pagi tadi ya…

Seolah tinggi tiga tumpukan kertas itu berbanding lurus dengan harga diri dari ketiga gadis tersebut, wajah Elizaveta langsung terangkat tinggi, bangga dengan betapa teliti dan serius kakaknya dalam melakukan dan menekuni kegiatan kelompoknya. Sebaliknya, Mei justru sama sekali tak terlihat goyah biarpun daftar kegiatan milik Yao tak sebanyak kedua lainnya.

"Tak perlu berterima kasih Adinda, tanda tanganmu saja." Mei mengeluarkan buku kecil bersampul kulit hitam miliknya beserta pena yang diberikan oleh sekolah, "silahkan."

Lili dan Elizaveta juga melakukan hal yang sama, sudah membuka halaman pertama dari buku tanda tangan milik mereka dan menyodorkannya kepada Adinda seolah Adinda adalah seorang presiden direktur dari sebuah perusahaan yang sedang menandatangani perjanjian dengan presdir dari perusahaan lain. Dan tanpa mempertanyakan lagi permintaan dari teman-temannya, ia langsung menuliskan namanya, nomor telepon dan kamar asramanya, dan terakhir adalah nama kelasnya saat memberikan tandatangannya.