Roderich Edelstein. Murid bidang kesenian yang sangat berbakat dalam bermain piano. Lahir di keluarga yang memiliki ekonomi sangat baik membuat harga dirinya teracungkan tinggi-tinggi. Tak ada yang mampu membuatnya menunduk. Bagai patung batu yang tertanam sangat dalam di tengah padang rumput, sebesar apa pun badai, atau bahkan topan, Roderich tak pernah goyah, tak ada yang mampu melakukannya. Namun entah bagaimana, dan ia telah berpikir sangat keras untuk mengetahui alasan logisnya, ia terguncang hebat setelahnya. Setelah menatap iris mata Hitam Ebony sempurna tersebut. Seolah ia terhisap ke dalam lubang hitam yang tak ada ujungnya, Roderich mematung di tempat. Ia tak mampu mengalihkan tatapannya. Mata Hitam tersebut sangat menyeramkan, dalam waktu yang bersamaan juga terlihat sangat indah, tak bernoda, sangat mempesona. Roderich tahu itu bukan kali pertama ia melihat orang memiliki iris mata yang berwarna Hitam, tetapi tak ada yang pernah sehitam dan seanggun ini.

Adinda. Gadis berkulit sawo, berambut Hitam legam, dan bertubuh tegap tinggi—untuk ukuran perempuan—, adalah pemilik iris mata yang menakjubkan tersebut. Dan ia menyesal telah membuatnya tersinggung dengan sikapnya yang tak sopan. Pagi ini tepatnya, jam setengah tujuh, di jalan utama—yang bersilang tepat di bagian tengah kompleks—menuju ke bagian tenggara kompleks dimana bangunan sekolah berada, Roderich tertimpa sebuah kesialan, yaitu lembar musiknya yang berisikan beberapa Solo Piano karya Frédéric Chopin yang akan ia serahkan kepada guru musiknya, beterbangan terbawa angin. Angin memang biasanya terjadi pagi hari karena perubahan suhu signifikan di kota tersebut, apa lagi saat perubahan musim sedang terjadi. Kebetulan Adinda adalah satu-satunya murid yang berada di dekatnya waktu itu, lembara musik tersebut mengenainya, dan Adinda akhirnya membantu Roderich mengumpulkannya satu per satu karena kasihan.

"Tak perlu membantuku!" Adalah reaksi dari Roderich saat ia sedang memunguti satu per satu lembar musiknya, suaranya yang tinggi adalah akibat dari rasa malu akan kecerobohannya.

"Kertas-kertasmu itu mengganggu. Lagi pula, jika kamu sibuk memunguti kertas yang berjatuhan disini, kertas lainnya akan terbawa angin—,"

"Waktuku adalah hal yang bukan hak mu untuk ikut campuri."

"Sudah ku katakan, kertasmu nanti bakal mengganggu murid lainnya juga."

Selama mengumpulkan dan merapikan lembaran musik milik Roderich, sesuatu tampaknya terjadi pada Adinda, dan setelah menyerahkan sisanya kepada Roderich, Adinda tak melepaskan pandangannya dari Roderich. Pandangan luar biasa tajam yang membuat Roderich tak memiliki keberanian untuk melihat matanya. Dan dalam diam, Roderich kembali merapikan lembaran musiknya hingga kembali seperti semula, sementara itu Adinda hanya berdiri, terpaku pada Roderich, dan Roderich menganggap Adinda pasti menunggu sesuatu. Mungkin ucapan Terima Kasih? Tentu saja Roderich tak akan memberikannya, toh yang berinisiatif untuk membantunya sedari awal datang dari diri Adinda sendiri, biarpun Roderich sudah cukup bersabar menolaknya. Dan beberapa detik pun berlalu, Adinda masih tetap bergeming, terus memandangi, tak ada perubahan signifikan terjadi di wajah Adinda.

Suara sapaan Elizaveta menyelamatkan Roderich dari suasana canggung yang terjadi. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Elizaveta langsung meminta maaf beberapa kali dan berterima kasih kepada Adinda. Balasan dari Adinda hanyalah senyuman tipis dan gelengan singkat, mengatakan kalau ia hanya ingin membantu. Namun karena merasa bersalah, Elizaveta memaksa Roderich untuk mengajari Adinda bermain piano, yang membuat Adinda dan Roderich keheranan. Apa hubungannya? Jawaban dari Elizaveta hanyalah kedipan manis yang mampu membuat kupu-kupu dalam perut Roderich beterbangan. Sementara itu dari kejauhan, menyatu dengan latar belakang, seorang murid yang ia kenal menyunggingkan senyuman yang merendahkan.

Akibat dari janji Elizaveta yang sembarangan tersebut, mulai besok, yaitu hari selasa, Roderich akan mengajarkan Adinda cara bermain piano setelah jam sekolah selesai, beruntung pada minggu pertama murid baru masih belum diberikan kegiatan Kelompok. Entah bagaimana ia akan membagi waktu latihan Piano untuk kompetisi tiga bulan lagi, jam pelajaran biasa, dan mengajari Adinda. Namun, seolah harga dirinya dihancurkan berkeping-keping, Adinda berkata—,

"Aku tak bisa. Aku berjanji akan menggantikan senior Yao untuk membersihkan kipas ventilasi dan membetulkan ventilasi yang berlubang di bangunan Kesenian yang pertama."

Alis Cokelat Umber Roderich yang tajam bertaut. "Sudah repot-repot aku mendatangimu kesini hanya untuk memberitahukan waktu kosongku untuk besok."

"Ventilasi yang ku betulkan adalah ventilasi dari ruang Piano, yang ia perlu lakukan hanya membuka jendela. Itu merepotkan?"

Pikir Adinda sambil menggelengkan kepalanya, tak mau lagi menanggapi kalimat penuh harga diri milik Roderich. "Minggu depan saja bagaimana? Lagi pula aku dengar dari senior Yao, kalau Kesenian dan Olahraga akan ada kompetisi tiga bulan lagi? Kalau memang tak memiliki waktu, tak jadi juga tak apa."

Respon tersebut tampaknya untuk Roderich cukup tajam untuknya, dan ia pun naik pitam. "Oh! Jadi kamu pikir aku ini pria yang tak bisa memegang janjinya hanya karena aku sibuk? Aku akan buktikan! Minggu depan? Oke! Jam setengah empat, setelah pulang sekolah! Datang ke ruang Piano! Jangan terlambat!" Tanpa memberikan kesempatan kepada Adinda untuk membalas, Roderich sudah menghentakan kakinya pergi dari ruang Piano, entah kemana, meninggalkan Adinda yang tak menyangka kalau omongannya yang bermaksud baik bisa ditanggapi dengan sangat berlebihan dan negatif.


Jadwal kegiatan kelompok yang terakumulasi selama satu dan tiga tahun telah diberikan kepada Adinda oleh ketiga temannya. Dari analisa yang Adinda lakukan dari ketiganya, kebanyakan dari kegiatan khusus kelompok akan sangat padat dimulai dari tiga bulan sebelum kompetisi—untuk kelompok Kesenian dan Olahraga, lalu untuk kelompok Reguler akan sangat sibuk satu bulan sebelum ujian, entah itu ujian biasa, semester, atau kenaikan. Penumpukan jadwal kegiatan Kelompok dan jadwal pelajaran yang biasa hanya lebih sering terjadi di masa sibuk. Namun, setelah masa sibuk selesai, kegiatan Kelompok akan menjadi sangat longgar, dan Adinda yakin, pada saat itu lah, murid-murid Kesenian dan Olahraga dapat belajar. Ujian utama hanya terjadi tiga kali satu tahun, sementara itu kompetisi besar hanya terjadi dua kali. Keduanya cenderung tak berdekatan, dan Adinda merasa lega setelah diperhitungkan baik-baik, ia pasti bisa membagi waktu antara belajar dan kegiatan kelompok dengan benar.

Adinda merasa beruntung memiliki teman yang baik seperti Elizaveta, Mei, dan Lili. Mereka bertiga memang sudah mencari-cari apa yang mereka bisa lakukan untuk membantu Adinda, apapun itu, supaya bisa mendapatkan tanda tangan darinya. Biarpun Adinda memaksa, tak satu pun dari mereka menginginkan lebih dari tandatangannya. Dan supaya Adinda mendapatkan tanda tangan dari mereka, masing-masing telah meminta sedikit bantuan kepada Adinda:

"Aku hanya ingin kamu mengatakan terima kasih kepada Yao-gege karena telah mau memberikan jadwal kegiatan miliknya. Ia pasti akan meminta bantuan kepadamu. Jika gege sudah menerima terima kasihmu, aku akan segera memberikan tandatanganku. Kamu juga bisa mendapatkan tandatangannya! Lumayan 'kan?"

"Erm... ada kue yang kelihatannya enak di toko roti samping kompleks asrama. Awalnya aku dan bruder sudah mau membelinya, tetapi bel berbunyi... dan bruder tak membiarkan aku keluar kompleks sekali pun."

"Bagaimana denganmu Elizaveta?"

"Bergabung dengan kelompok Kesenian?" Jawab Elizaveta dengan nada jahil. Mei dan Lili hanya menatapnya dengan ekspresi seolah Elizaveta sedang memberikan lelucon paling garing yang mereka pernah dengarkan. "Aku bercanda, hei. Aku tak tahu apa yang bisa kamu bantu. Kalau aku butuh bantuan, aku akan langsung memberitahukan mu."

Sejauh ini, hanya satu tanda tangan yang ia dapatkan, yaitu milik Mei. Rencananya, Adinda akan membantu Lili terlebih dahulu saat jam istirahat pertama, dan membelikannya kue yang ia inginkan. Mungkin dalam jam istirahat kedua dan ketiga, Adinda akan membantu beberapa murid di kelasnya, atau kelas lain. Sepulang sekolah, Adinda akan memperbaiki sisa ventilasi yang masih rusak. Beberapa kali wajah Roderich muncul di benaknya dan yang akan menjadi murid pertama untuk dibantu, tetapi ia tak yakin Roderich akan bereaksi normal terhadap apa pun yang ia lakukan dan katakan kepadanya. Biarpun... dalam diri Adinda rasanya ingin sekali bertemu Roderich sekali lagi. Ia pun merasa aneh tadi sore saat bertemu dengan Roderich... seolah, ia sangat gugup, ia tak mampu melihat Roderich langsung di mata, dan...

Adinda sontak langsung berdiri setelah mendapatkan sedikit petunjuk dengan apa yang terjadi padanya. Hatinya tak bisa tenang saat memikirkannya, jantungnya berdetak kencang sekali seolah ia berlari dalam tiga kompetisi Marathon tanpa istirahat, dan ada rasa aneh yang membuatnya... kadang bahagia, kadang tidak.

Tidak, ini tidak mungkin!

Pikirnya. Lagi pula, sudah jelas Elizaveta adalah teman dekat Roderich dengan bagaimana ia mengganggilnya Rody, dan menginginkan hubungan yang lebih. Adinda kembali tertegun, ini seperti semacam ujian tertulis dimana jawaban yang benar bisa bermacam-macam, tetapi kadang tak semua jawaban bisa diterima. Dan Adinda sudah tahu jawaban apa yang harus ia gunakan, bukan karena ia ingin berada di zona aman, tetapi karena ia menghargai Elizaveta.

Senyuman miris tersungging di bibir mungilnya. "Ini bakal menjadi perjalanan yang menyakitkan."