Lima belas tandatangan selama tiga hari ini, dan tak satu pun murid yang mau menerima tawaran Adinda untuk dibantu. Entah sudah berapa banyak tandatangan yang Adinda telah berikan, malahan mungkin dua kali atau tiga kali dari tandatangan yang ia miliki. Mei sudah menyarankan beberapa senior kelompok Olahraga, Elizabeta menyarankan beberapa temannya di kelompok Kesenian, Emma dan Lili justru tak menyarankan untuk memberikan bantuan kepada kelompok Regular karena permintaan mereka bakal sangat berat, apa lagi akan ada festival Sains dan Robotik yang digelar dua bulan lagi. Namun Adinda tak akan begitu saja melakukan saran teman-temannya, dan justru ia malah tertarik dengan apa yang Emma dan Lili katakan soal festival Sains dan Robotik, dan melupakan larangan lainnya.
"Kenapa tidak?" Pikir Adinda, "festival Sains dan Robotik tak pernah digelar di kota tempat tinggalku, aku penasaran."
Dan Adinda langsung dibuat sangat takjub saat ia memasuki bangunan kelompok Regular. Banyak sekali poster mengenai ilmu pengetahuan yang ditempel sepanjang koridor, dan banyak tanaman yang menghias sudut. Di atap koridor terdapat banyak sekali replika, entah itu replika bentuk dari zat kimia, planet-planet dan bintang, lalu model dari robot, dan banyak lagi hingga Adinda tak mampu mengenali dan menyebutkan satu persatu seluruh benda tersebut. Tak hanya itu, beberapa murid yang lalu lalang sangat lah beragam, ada yang memakai jaket Lab, ada yang menyeret gerobak berisikan peralatan dan bahan-bahan untuk membuat robot ukuran besar, ada juga yang sedang merawat tanaman dengan keseriusan yang intens.
Namun di tengah keramaian dan kesibukan tersebut, terdengar suara makian seseorang dan seorang lainnya yang sedang berlari dengan sangat cepat ke arahnya, ke arah pintu keluar. Dan mata Adinda menangkap bayangan seseorang yang telah melewatinya, orang tersebutlah yang berhasil melewati kerumunan manusia yang sedang berlalu lalang di koridor sempit tersebut tanpa tersentuh, dan jika di dengar dari tiap langkahnya yang terdengar sangat ringan, Adinda langsung tahu orang tersebut bukan lah murid Regular, tetapi murid Olahraga. Yang sangat terlatih.
Makian dari orang yang sama kembali terdengar. "Bloody git! Ia lari lagi?!"
"Jaga bahasamu Arthur!" Seru seorang lainnya.
Lelaki tersebut memiliki rambut Ash Blonde yang berantakan dan sangat liar, ia buat semakin berantakan dengan menggaruknya kasar. Wajahnya terlihat sangat marah hingga kedua alis yang tebalnya abnormal bertaut. Arthur, terlihat seperti tipikal murid Regular, kerapihannya berpakaian nyaris menyamai level Vash yang memiliki OCD tingkat sedang. Ia bahkan merapikan Rompi Sweater bermotif kotak-kotak hijaunya hanya karena sedikit lipatan di bagian bahu kanan. Sebelum ia berniat menyudahi rentetan kutukannya kepada orang yang berlari tadi, yang Adinda tak sempat lihat bagaimana rupanya, Arthur memunguti beberapa bukunya yang berceceran di lantai dan pergi dari koridor, memasuki sebuah ruangan dengan tulisan dipintu yang menyebutkan kalau ruangan tersebut adalah; "Reguler Room LXXXVI."
Biarpun Adinda pikir ia mengambil kesempatan dalam kesempitan dan suasananya tak tepat, ia tahu Arthur pasti butuh bantuan dan Adinda lah orang yang tepat jika harus menghadapi murid Olahraga. Kendatipun begitu, Adinda nyaris kehilangan Arthur ditengah kerumunan murid-murid, dan Adinda berpikir ulang untuk menawarkan bantuannya kepada Arthur. Padatnya murid-murid yang berhilir mudik di koridor bahkan nyaris membuat Adinda jatuh tersandung beberapa kali, pertanyaannya adalah, bagaimana orang tersebut, yang membuat Arthur mengamuk, melewati setiap murid yang ada di koridor, tanpa menyentuhnya? Adinda tidak yakin apa orang tersebut benar-benar tak bersentuhan sama sekali dengan murid lainnya, tetapi Adinda melihatnya sendiri, dan itu luar biasa.
"Anak baru, jika ingin masuk ke kelompok kami harus mendaftarkan diri terlebih dahulu ke miss Jennifer sebagai murid Reguler, baru kembali lagi kesini dengan kertas keanggotaan." Seorang dengan rambut nyaris berwarna Merah membuat Adinda terkejut luar biasa. Murid tersebut merokok! Di dalam ruangan bertanda no-smoking yang sengaja dibuat sangat besar. "Apa yang baru aku katakan? Kembali lagi saat kamu sudah membawa kertas!"
"Scott!" Raung seorang dari balik pintu lemari yang terbuka di kiri Adinda. "Matikan rokokmu! Dan jangan memperlakukan murid baru seperti itu!" Gadis tersebut menutup lemari, wajahnya terlihat sangat tegas dan kemarahannya mampu membuat Adinda bergidik ngeri.
"Halo, silahkan masuk. Selamat datang di kelompok Sejarah dan Teori Mitologi, saya Alice Kirkland. Silahkan mendaftar kepada Arthur Kirkland yang saat ini sedang berada di ruang penyimpanan dokumen." Ia melempar tanggung jawab meladeni Adinda kepada Arthur dengan sapaan setengah hati, dan Alice pun masih terus sibuk mencari-cari buku di lemari yang berantakan lainnya, sementara itu murid bernama Scott masih terus mengepulkan asap rokok, yang kali ini mengarah ke jendela yang terbuka.
Karena kedua murid tersebut tampaknya tak lagi merasa memiliki kewajiban untuk mengarahkan Adinda atau bahkan berbicara basa-basi, Adinda berasumsi kalau mereka tak akan perduli jika ia langsung masuk begitu saja dan ia langsung mendatangi Arthur. Ia juga sudah menyiapkan dirinya untuk menerima perilaku yang sama dari Arthur selain karena ia tahu bagaimana suasana hati Arthur saat ini.
Sebuah tulisan pada kertas yang ditempel secara sembarangan dengan selotip pada pintu hijau bertuliskan; 'Documentation', biarpun ditulis dengan sangat rapi. Pintu itu setengah terbuka, menunjukkan rak-rak dengan dokumen-dokumen yang berserakan, terlihat sama berantakannya dengan bagaimana kertas dan dokumen lainnya diperlakukan di luar ruangan tersebut. Awalnya Adinda berpikir ruang dokumentasi tak terlalu besar, mungkin hanya sepetak saja, namun saat membuka lebar pintu, Adinda tak mampu berkata-kata. Ruangan tersebut memang terlihat agak sesak akibat dari kertas dan dokumen yang berceceran, tetapi sebenarnya ruangan itu sangatlah luas dan besar, atapnya pun sangat tinggi.
"Is that you Alice?" Tanya Arthur saat Adinda tak sengaja menginjak sebuah file, suaranya juga terdengar sangat jauh. Adinda memilih untuk diam dan mengikuti suara Arthur untuk dapat menemukannya ditengah kekacauan tersebut. "Alice, if that's really you, come and bloody help me with this mess."
Suara tersebut bersumber di bagian sudut ruangan yang letaknya paling jauh dari pintu masuk. Arthur sedang berada di atas tangga, merapikan dokumen-dokumen di dalam rak yang menutupi seluruh tembok dan dinding. Ia begitu saja membuang kertas di lantai sesukanya, dan menaruh dokumen yang telah rapi kembali ke dalam rak.
"Arthur Kirkland? Aku bukan Alice." Adinda menyapa sambil memunguti kertas-kertas yang berceceran.
"Lalu siapa nama mu lady? Dan apa tujuanmu jika saya boleh tahu?" Respon dari Arthur lebih dingin dari Alice dan Scott. Ia juga sama sekali tak mengalihkan perhatiannya kepada Adinda, masih membuang kertas yang ia pikir tak ada hubungannya dengan dokumen yang ia pegang.
"Adinda Pertiwi. Aku disini untuk menawarkan sesuatu—,"
"Tak ada yang perlu anda tawarkan, lady Pertiwi. Kami tak pernah menerima tawaran dari siapa pun kecuali miss Jennifer. Which is a bloody valid reason to prove that Scott fancy her."
Adinda terdiam. Apa yang sedang ia katakan? "Jadi kamu tak kenal dengan murid Olahraga yang tadi berada di koridor? Sepertinya aku salah orang."
Pancingan tersebut tentu membuat Arthur menghela napas marah. Ia menuruni tangga dan bertanya apa Adinda mengenal Alfred. Alfred Jones, murid Olahraga yang sangat terkenal. Tak ada yang tak mengenalnya—kecuali Adinda—. Dan Arthur juga menambahkan kalau tingkat level menyebalkannya telah menyamai kepopulerannya, begitulah. Arthur juga mengatakan kalau apa yang diambil oleh Alfred adalah dokumen penting mengenai sesuatu yang menjadi rahasia kelompok tersebut, yang belum ditentukan kapan tanggal dokumen tersebut akan dijadikan bahan proyek untuk salah satu dari anggota.
"Buat dia mengembalikan dokumen tersebut, baru aku akan berpikir ulang untuk membiarkanmu membantu sungguh-sungguh."
Ia tampaknya akan lebih buruk dari Roderich… Pikir Adinda, mengangguk setuju tanpa lagi menjawab.
"Oh, dokumen itu harus sudah ada di tanganku. Hari. Ini."
