"Tak tahu? Sama sekali?"

Setelah memutuskan untuk membantu Arthur, Adinda langsung mencari keempat temannya dan bertanya apa mereka tahu murid lelaki yang suka mengganggu Arthur. Namun, tak satu pun tahu siapa Arthur, bagaimana mereka dapat tahu siapa yang mengganggunya? Arthur "tak mempunyai waktu" untuk memberitahukan nama murid tersebut karena disibukkan dengan proyek kelompoknya. Meskipun termasuk murid Regular, Emma dan Lili sama sekali tak tahu murid bernama belakang Kirkland kecuali Alison Kirkland, teman sekelas mereka.

"Tanya saja pada Alison." Mei menyarankan.

Adinda hanya menghela napasnya. "Sudah ku lakukan beberapa kali, ia tak mau tahu dan perduli urusan Arthur, katanya."

"Oh, dan Alison pernah beberapa kali memanggil Arthur sebagai pacar dari orang tersebut, yang sepertinya orang yang sama." Emma menambahkan, ia juga membisikkan satu kata, "Homo?"

Mei, Adinda, dan Lili tak menggubrisnya, sementara itu Elizaveta merasa tergelitik dengan kata tersebut. Alison, yang namanya sempat disebutkan beberapa kali, sudah mendengarkan pembicaraan kelima gadis tersebut sedari tadi, dan telah mempersiapkan diri kalau ia dipanggil, lagi, oleh Adinda. Ia sama sekali tak tahu kalau Adinda agak serius soal ini, ia berpikir mungkin Adinda hanya fans dari lelaki tersebut yang suka mengganggu Arthur, karena murid tersebut memang populer dikalangan perempuan khususnya. Dari kejauhan, Alison mencuri lirik ke kelima gadis tersebut, masih berharap. Dan tanpa ia sadari, sebuah telapak tangan memegang bahunya secara tiba-tiba.

Alison mampu menahan jeritannya sebelum yang lain mendengar dan langsung menoleh ke belakang, melihat siapa manusia terkutuk yang telah mengganggu konsentrasinya. Ia lah Bogomil Daskalov. Seorang Bulgarian, atau itu yang ia katakan saat berkenalan dengan Alison.

"Apa maumu you dimwit?!" Bisik Alison sambil memelototi wajah Bogomil yang terlihat puas dengan aksinya.

"Jangan mengintip saja dan jadi anti-sosial. Tandatanganmu bahkan lebih sedikit dari 'Matt kan? Bantulah dia, yang dari tadi menyebutkan namamu terus."

"Bukan urusanmu. Menjauhlah." Kata Alison dengan ketus, tetapi ia mengambil buku tandatangan miliknya beserta pulpen sembari berdiri. "Siapa bilang aku jadi anti-sosial? Aku hanya menunggu waktu yang tepat. Sebuah rencana yang disusun secara baik akan berjalan selancar mobil di jalan tol."

Bogomil berniat menyangkal dan berkata kalau tol tak selalu lancar, tetapi Alison telah meninggalkannya dan berjalan mendekat ke arah Adinda. Namun sepercaya diri apa pun Alison terlihat, jantungnya berdetak sangat cepat. Ia merasa luar biasa grogi. Apa yang harus ia katakan?

"Kamu bertanya soal Alfred Jones 'kan? Ia sepupu jauh kami. Ia kapten Rugby."

Kalimat tersebut terdengar seolah ia akhirnya mau membantu Adinda dan merendahkan dirinya sendiri. Bukan style dari Alison dalam berbicara.

"Alfred Jones. Kapten Rugby. You are welcome."

—agak terdengar terlalu kasar dan ketus, biarpun ia kadang seperti itu, apa lagi terhadap Bogomil.

Alison menaruh buku tanda tangannya persis di depan Adinda. "Alfred F. Jones. Rambut Golden. Tinggi seratus tujuh puluh tujuh sentimeter, berat badan kira-kira delapan puluh kilo terdiri enam puluh persen otot dan sisanya lemak. Sepupu jauh kami yang sangat menyebalkan. Kapten Rugby. Saat ini pasti sedang bersama dengan para penggemar perempuannya, Air Mancur persilangan. You are welcome."

Pandangan dari kelima gadis membuat Alison menyesali perbuatannya. Tetapi Adinda dengan cepat menuliskan nama dan tandatangannya di buku Alison. Emma dan Lili nyaris melarang Adinda dan berkata kalau bantuan yang diberikan Alison sangatlah mudah, namun Adinda sudah berlari keluar kelas, meninggalkan keempat temannya keheranan dengan apa isi pikiran Adinda setelah diberikan informasi tersebut.

Apa yang membuat Adinda terburu-buru adalah selain jam istirahat akan selesai, Alfred benar adalah atlet. Atlet Rugby. Selain itu, Alfred didefinisikan sebagai tipikal murid SMA menyebalkan, pandai olahraga, dan banyak penggemarnya. Meminta dokumen milik Arthur darinya tak bakalan tak menantang. Dan kalau ia bisa mendapatkan dokumen tersebut hingga istirahat selesai, ia dapat membantu Arthur di istirahat selanjutnya. Adinda, tentu saja, baru berlari saat keluar dari bangunan sekolah, mengingat yang akan memberikannya cap merah adalah miss Johanna. Dan Adinda memang sengaja memanaskan tubuhnya untuk dapat berlari tanpa cedera.

Biarpun kecepatan lari Adinda berkurang akibat dari lalainya ia untuk rutin berlari tiap hari, Adinda tetap mampu sampai di Air Mancur persilangan dalam waktu tak lebih dari empat menit. Dan benar, Alfred sedang bersantai dengan beberapa perempuan, duduk di kursi batu yang diukir cantik di bawah pohon yang rindang. Awalnya Adinda berpikir Alfred bakal menjadi seperti tipikal murid Olahraga menyebalkan yang populer, akan tetapi ia bukan seorang playboy. Ia hanya tertawa-tawa bersama gadis tersebut, bercanda, membicarakan hal yang ada sehari-hari, tak lebih dari itu.

Adinda merasa agak tak enak memotong perbincangan seru yang Alfred dan teman wanitanya sedang nikmati, namun Adinda, dengan segenap rasa bersalahnya yang luar biasa, membuang rasa perduli dan sopannya dengan langsung memanggil Alfred.

"Alfred Jones?"

Tatapan dari gadis-gadis jika memang bisa membunuh manusia, Adinda yakin pasti sudah mati saat ini. Mirisnya, pandangan Alfred justru terlihat senang, ada orang lain yang mengenalnya, lagi. Matanya terbuka lebar dan iris matanya yang bagai langit cerah tanpa awan terlihat bulat sempurna.

"I am!" Ia menjawab dengan girang, masih terbawa mood.

Adinda sempat merasa canggung, entah karena tatapan penuh semangat Alfred begitu menusuknya atau Adinda agak menyukai mata Alfred yang cantik. "Uh… Arthur… Arthur ingin dokumennya dikembalikan hari ini. Namun karena ia sibuk, aku menggantikannya."

Gadis-gadis teman Alfred langsung berbisik-bisik dengan ekspresi yang tak mampu Adinda tebak. Salah satunya bahkan berbisik di telinga Alfred sambil sesekali melirik Adinda, nampaknya sedang menyarankan sesuatu padanya. Bagaimana gadis-gadis tersebut tak ingin "didengar" Adinda, membuat Adinda merasa agak kesal dan bertanya-tanya, apa mereka harus melakukan itu? Apa gunanya melakukan itu?

Alfred tiba-tiba berdiri. Ia berjalan memutari Adinda dari jarak satu meter. Melihatnya atas bawah, menganalisisnya. Memastikan sesuatu sebelum akhirnya berbicara. "Oh! Atlet lari kah? Atau ada yang khusus?"

Namun, bukan hanya Alfred yang sedari tadi menganalisis. "Jika kamu memperbolehkan ku untuk menebak… posisimu dalam Rugby adalah Lock?"

"Maybe?"

"Karena tinggi dan bobotmu lebih cocok di posisi tersebut. Hanya saja waktu kamu berlari di dalam bangunan Regular, kemampuanmu menunjukkan kalau kamu dulunya juga seorang Wing?"

Alfred langsung menepuk tangannya pelan sambil menggeleng-geleng. "Bravo! Jadi, jika kamu ingin dokumennya kembali—," ia membungkuk, menyodorkan wajahnya ke dekat Adinda. "Catch me."

Tangan kanan Adinda menyambar kearah Alfred, namun Alfred tahu gerakan tersebut akan dilakukan Adinda dan langsung menghindar tanpa merasa kaget. Tanpa aba-aba apa pun, atau bahkan kalimat pembuka, Alfred sudah berlari, diikuti oleh Adinda yang tertinggal cukup jauh di belakangnya. Biarpun Alfred seorang lelaki yang sudah pasti tenaganya jauh melampaui Adinda, namun Adinda mampu mendekatkan jarak diantaranya dan Alfred tanpa harus membuang tenaga percuma, karena juga sebagai seorang Atlet lari.

Yang sangat disayangkan, itu tak berlangsung lama. Arah berlari Alfred sangat tak menentu dan tak memiliki pola sama sekali. Beberapa kali Adinda nyaris kehilangannya, namun beberapa kali juga Adinda nyaris mampu menangkapnya. Dan Adinda baru menyadari kalau Alfred berlari kearah Barat Laut… dimana kantor guru berada. Biarpun Adinda bertanya-tanya apa rencana Alfred, ia tak ada keinginan untuk menahan dirinya, bahkan jika ia harus mendapatkan cap merah. Karena ia tahu, satu-satunya cara yang tepat untuk menangkap Alfred saat ini adalah dengan melakukan Tackle a la Rugby. Dan ia tak dapat mengulur waktu lagi karena ia mulai merasakan staminanya terkuras.

"How long are you going to carry this girl? Just give up already." Alfred pun mulai merasakan lelahnya berlari selama lima menit penuh tanpa mengurangi kecepatan.

Adinda tak mau menjawabnya. Tak mau memberitahukan Alfred bahwa ia akan segera menangkapnya, menjatuhkannya di tanah kosong yang berada sepuluh meter di depan mereka. Membuatnya mengembalikan dokumen milik Arthur. Ia pun memperlambat larinya, sengaja membuat Alfred lega.

"Oh akhirnya…" bisik Alfred sambil juga memperlambat larinya.

Pilihan yang salah.

Adinda langsung melakukan sprint dan menubruk Alfred dengan kekuatan yang diluar dugaan bahkan untuk Adinda sendiri. Keduanya jatuh dan merosot di tanah yang kering dan keras. Sayangnya, yang tertindih berat Adinda dan Alfred adalah tangan kanan Adinda sendiri yang kali ini telah ditinggalkan luka lecet merah dan mengeluarkan darah. Mereka berdua masih berbaring diam, beristirahat sejenak sebelum akhirnya Alfred bangkit dan melihat Adinda dengan ekspresi tak percaya dan juga kagum. Kali ini tertarik sepenuhnya pada Adinda.

"Kau tak apa?"

"Ya… bagaimana denganmu? Oh, dan aku ingin dokumennya."

"Girl," Alfred memotong Adinda dengan cepat, "throw that matter for later. Have a lunch with me and lets talk about you."


[1]Lock: Posisi dalam Rugby yang berada di barisan kedua dalam kelompok pemain yang berada di depan. Lock akan menjadi dorongan kekuatan tambahan untuk Hooker dan Prop yang berada di barisan pertama. Biasanya Lock adalah pemain tertinggi dalam tim. Lock juga diharuskan memiliki kemampuan baik dalam menangkap dan melakukan Tackle. Nomor punggung Lock adalah 4 dan 5.

[2]Wing: Posisi dalam Rugby yang berada cukup jauh di kanan dan kiri kelompok pemain yang berada di belakang. Fungsi utama mereka adalah menyelesaikan permainan dan/dengan mencetak angka. Pemain yang diposisikan sebagai Wing biasanya adalah pemain tercepat dan/atau yang memiliki tubuh besar dan kuat yang mampu mematahkan Tackle. Wing juga dapat membantu pemain yang berada di tengah lapangan atau membantu sepenuhnya kelompok bagian belakang. Nomor punggung WIng adalah 11 yang berada di kiri lapangan dan 14 yang berada di kanan lapangan.

[3]Tackle: Adalah cara untuk menjatuhkan lawan untuk merebut bola atau menghentikan lawan. Tackle biasanya dilakukan dengan bergulat atau memeluk dan mendorong jatuh lawan. Tackle yang dilakukan lebih tinggi dari dada dan bahu atau dengan istilah "High Tackle" akan diberikan penalti oleh wasit.