Tittle : Saigomade (Until The End)

Author : Vanilla Sky

Jeon Jung Kook; Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

Hurt/comfort; shou-ai; bromance;

VKOOK punya saya! Cerita punya saya! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja.

A/N : Terima kasih kepada semua yang sudah menyempatkan waktu untuk mereview, memfavoritkan FF ini, memfollow juga ^^ saya tidak menyangka jika reviewnya lumayan banyak untuk saya yang seorang pemula di genre seperti ini :D di sini member BTS lain usianya di atas Ji Min dan V satu tahun ya tapi mereka satu angkatan kalo di sekolah, kecuali sama Jung Kook bedanya dua tahun.

Spesial terima kasih buat yang sudah mereview di chapter 1, seputar pertanyaan sudah saya jawab di PM masing-masing ya :D

ainiajkook | addicted | kimikookiekyu | minkook94 | teflon-nim | DeerDia | Lucky Miku | nayaason | lionie14 | dumbshn | jelbang | Guest | Guest | kim elfishy | lyla | rifana | Guest | JeonYul | Kookid

Saigomade (Until The End) © 2015

Vanilla Sky present


Chapter 2

-Preview-

Jung Kook menatap nyalang Tae Hyung, tangannya menepis tangan Tae Hyung yang sejak tadi mengelus surainya. "Berhenti menjadi bodoh, Jeon Tae! Aku tahu kau terluka! Berhenti menjodohkanku dengan Hyun Yeon; seolah kau tidak merasa sakit sedikit pun!"

Tae Hyung membisu, ucapan Jung Kook benar-benar tepat sasaran. Oh, apakah Tae Hyung melupakan sesuatu, jika mereka telah mengenal satu sama lain sejak Jung Kook di lahirkan dan menjadi adiknya?

"Jangan tersenyum jika kau memang merasa tidak mau melakukannya. Jangan memaksakan diri seolah kau rela jika Hyun Yeon denganku, dan pada kenyataannya kau memang terluka, bodoh!" satu kalimat yang membuat Tae Hyung tak sadar berapa banyak hal yang Jung Kook ketahui tentangnya dan bahkan ia sendiri tak mengetahuinya. "Jangan coba-coba lagi berusaha menyatukan aku dengan Hyun Yeon, karena aku sudah memiliki orang yang kusukai!"

.

Sudah seminggu sejak insiden Jung Kook marah pada Tae Hyung, sejak saat itu adik kecil Tae Hyung selalu menghindar darinya. Berusaha tak bertegur sapa, atau pun bertatap muka dengannya. Ini waktu paling lama Jung Kook marah padanya.

Saat ini Tae Hyung baru saja selesai dengan kegiatan klub yang ia ikuti setiap akhir pekan. Ia kemudian berjalan menuju kantin, dan tiba-tiba tatapan terpaku pada Jung Kook yang tengah menyandarkan kepalanya pada meja dengan sekaleng soda yang berada di depan wajahnya; sepertinya Jung Kook lebih memilih memejamkan mata dibanding meminum sodanya. Langkah Tae Hyung semakin cepat, setelah sampai di depan Jung Kook, senyuman manis menghisai paras rupawannya.

Tangan Tae Hyung terulur, hendak membelai surai Jung Kook yang menutupi sebagian wajahnya, namun dengan cepat Tae Hyung menarik kembali tangannya dan lebih memilih duduk di depan Jung Kook.

"Kau ini bodoh atau apa? Sudah satu minggu ini kau menghindar dariku, Kook-ie," monolog Tae Hyung dengan terus memerhatikan Jung Kook yang tertidur lelap. "Apa yang sebenarnya terjadi? Apa karena percakapan seminggu yang lalu hingga kau seperti ini?"

Sesaat Tae Hyung menghela napasnya dalam. "Demi Tuhan, aku tidak apa-apa jika kau memang menyukai gadis yang aku sukai juga, bodoh. Demi Tuhan aku tidak akan merasa terluka jika memang Hyun Yeon menyukaimu," ucap Tae Hyung lirih. "Lebih baik kehilangan seribu gadis daripada harus kehilangan saudaraku sendiri."

Tae Hyung kemudian beranjak dari duduknya, bermaksud meninggalkan Jung Kook yang masih terlelap. Namun tiba-tiba genggaman tangan Jung Kook membuat langkahnya terhenti, hingga Tae Hyung pun menoleh dan mendapati bahwa adiknya kini tengah menatapnya.

"Maaf..."

Entah mengapa, melihat wajah Jung Kook yang begitu polos saat ini, membuat Tae Hyung benar-benar tak tahan untuk menyentil kening berandal kecil kesayangannya itu.

"Maafkan aku, Hyung. Sungguh, aku tidak bermaksud menghindarimu, hanya saja..."

Tae Hyung menarik Jung Kook untuk meninggalkan kantin sekolah. Sepertinya atap adalah tempat yang bagus untuk dirinya dan Jung Kook menyelesaikan permasalahan mereka secepatnya. Dan di sinilah keduanya berada, duduk berdampingan dengan menyandar pada beton pembatas atap gedung sekolah mereka.

"Ini kali pertama kau mau membolos, Hyung."

Tae Hyung mengangguk. "Tidak apa, sekali-kali tidak mengikuti mata pelajaran Mrs. Jung tidak jadi masalah, kan? Aku pun butuh hiburan, dan tidak buruk juga rasanya membolos di tengah pelajaran seperti ini."

Jung Kook tersenyum, pandangannya sejak tadi tak pernah mau menatap Tae Hyung. Dan ia sendiri sepertinya lebih memilih menatap gumulan awan di atas sana daripada menatap Tae Hyung.

"Ayo pergi jalan-jalan setelah pulang sekolah nanti, Kook," ajak Tae Hyung.

"Kemana kita akan pergi?"

"Ke tempat di mana kita bisa menghabiskan waktu berdua."

"Baiklah. Apa kau ingin pergi ke pantai?"

Tae Hyung mengangguk. "Boleh juga, tapi dengan mobilku. Biarkan motormu kau titipkan saja pada, Ji Min."

"Terserahmu saja."


Sudah lama rasanya Tae Hyung tak menghabiskan malam di pantai bersama Jung Kook. Di pantai, semuanya terasa bebas. Mereka dapat berteriak sesuka hati tanpa perlu mendapat teguran atau umpatan dari siapa pun.

"Kook..." Tae Hyung menyebut nama orang disebelahnya dengan suara pelan.

"Ya, Hyung?" sementara Jung Kook sendiri hanya menyahut dengan sesekali memasukkan bekas bungkus cemilannya ke dalam api unggun yang sengaja mereka buat bersama.

"Siapa orang itu?" Jung Kook sontak menoleh, ia tahu kemana arah pertanyaan Tae Hyung saat ini. Ia hampir saja tersedak cemilannya sendiri, karena terkejut mengapa tiba-tiba kakaknya mempertanyakan perihal orang itu. Tae Hyung memberikan sebotol air mineral di genggamannya untuk digunakan Jung Kook sebagai pertolongan bagi tenggorokan adiknya yang malang.

"Kook, siapa orang yang kau sukai itu?" Tae Hyung bertanya tidak sabaran.

"Apa itu penting, Hyung?" bukannya menjawab pertanyaan ambigu dari Tae Hyung, Jung Kook justru membalikkan pertanyaan yang membuat Tae Hyung sedikit tak terima.

"Apa susahnya menjawab, Kook-ie! Aku hanya bertanya, dan itu wajar kutanyakan karena kau adalah adikku."

Alasan Tae Hyung seharusnya tidak akan berpengaruh banyak pada Jung Kook. Namun di sinilah, kalimat terakhir Tae Hyung seketika seperti sebuah pukulan dari godam raksasa bagi Jung Kook.

Satu helaan napas berat terdengar seperti nyanyian kematian bagi Jung Kook sendiri. Lidahnya benar-benar berat mengucapkan kalimat yang sejujurnya ingin ia ungkapkan pada Tae Hyung. Ada ekspresi random saat manik hazel milik Jung Kook bertemu pandang dengan onyx kelam milik Tae Hyung. Langit berhias bintang yang menjadi atap malam seolah tengah mengejeknya menjadi makhluk paling durja di muka bumi ini.

"Aku... mencintaimu."

Tae Hyung mengedipkan kelopak matanya tak percaya.

"Aku mencintaimu, Hyung."

Tae Hyung merasa ada sesuatu menghantam ulu hatinya. Berusaha agar tak lepas kendali ketika kalimat pengakuan yang di ucapkan Jung Kook tidak membuat kesadaran dan rasa mual di perutnya bertambah.

"Aku berusaha menemukan jati diri. Saat menyadari orientasi seksualku tidak senormal yang kuharapkan, dan aku lebih tertarik pada lelaki daripada wanita berdada besar, aku tentu saja frustasi. Awalnya aku tidak ingin mengharapkan lebih dari ini, tapi perlakuanmu, membuatku berpikir bahwa aku benar-benar gila karena mencintai kakak kandungku!"

Tae Hyung mengangkat kedua alisnya. Walau sebenarnya ia ingin sekali marah dan memukul Jung Kook, agar pemuda itu sadar dengan penyimpangan seksual yang di alaminya. Entahlah, Tae Hyung sendiri bingung menjabarkan bagaimana perasaannya carut marut. Berpikir untuk mengolok bukanlah hal yang pantas dilakukannya saat ini.

Jung Kook, setelah mengungkapkan semuanya pada Tae Hyung, pemuda itu hanya memejamkan matanya, dan memilih menekuk kakinya, menyandarkan kepalanya pada ke dua lutut.

"Aku turut prihatin mendengarnya," sungguh, ini ucapan paling kasar yang dikatakan Tae Hyung pada adiknya. "Tapi maaf, aku tidak gay dan kita adalah saudara kandung."

Kenyataan menghempaskan raganya terjatuh, menjadi kepingan kecil yang tak terbentuk. Walaupun tubuh Jung Kook baik-baik saja, tapi hatinya... ada luka yang mengucurkan darah tak kasat mata di sana. Kelopak matanya memanas, saat merasakan pergerakan Tae Hyung menjauh dari sisinya. Tae Hyung pergi, menghempaskan raganya, menjatuhkan hatinya hingga Jung Kook sendiri tak bisa mendeskripsikan perasaan sakit itu seperti apa.

Deru mesin mobil secara samar tak dapat ia dengar lagi, menandakan bahwa Tae Hyung benar-benar meninggalkannya bersama keheningan. Menjatuhkan harga diri pun sepertinya tak akan mengubah bahwa perasaan terlarang itu akan berbalas indah. Dan Jung Kook cukup menyadari di mana ia kini harus menempatkan diri.


Tidak ada lagi sapaan lembut dari Tae Hyung, tidak ada lagi pekikan bergantian dari Tae Hyung maupun Jung Kook ketika mereka berada di rumah. Keduanya seolah tak saling mengenal satu sama lain; bukan Jung Kook, ini lebih tepatnya Tae Hyung yang menghindar. Jung Kook tidak pernah menganggap bahwa ini salah Tae Hyung, karena sejujurnya jika mulut sialannya bisa ia tahan untuk tak mengucapkan hal memalukan tersebut, mungkin hubungan mereka tetap baik-baik saja. Tidak secanggung seperti saat mereka duduk berhadapan di meja makan.

Sang Mama bahkan sempat mencemaskan tentang kelakuan Jung Kook yang sering menginap di rumah Ji Min, teman satu komplotan pembuat onar di sekolah. Atau wanita paruh baya itu akan menemukan Tae Hyung yang semakin tak betah jika berlama-lama di rumah saat ada Jung Kook.

"Tae, bisakah Mama berbicara sebentar?"

Tae Hyung yang tengah mengerjakan tugas makalah hanya mengangguk, dan mengekori Mamanya menuju sofa ruang keluarga.

"Apa kau bertengkar dengan adikmu, eum?"

Tae Hyung menggeleng. "Kami baik-baik saja, Ma. Hanya saja akhir-akhir ini aku banyak tugas, dan Jung Kook juga jarang pulang. Jadi wajar jika kami jarang bersama."

"Benarkah? Biasanya, sesibuk apapun dengan tugas sekolah, kau pasti akan sangat khawatir jika Jung Kook tak pulang dalam waktu tiga hari. Tapi ini..."

"Ma, aku juga punya kesibukan sendiri, tidak selamanya aku memerhatikan Jung Kook. Aku punya kehidupan sendiri, dan tidak setiap waktu harus memikirkan apa yang dilakukan berandal kecil Mama itu!"

Wanita cantik itu tersentak saat mendengar nada bicara Tae Hyung yang berbeda. Ini kali pertama Tae Hyung mengucapkan sesuatu hal yang berbeda dari sikap Tae Hyung yang biasanya.

"Dia adikmu, Tae."

"Tapi Jung Kook sudah dewasa, ia bahkan bukan anak kecil yang setiap saat harus kulindungi!" napas Tae Hyung terengah, emosinya benar-benar tak stabil sejak Jung Kook mengungkapkan pernyataan menjijikkan itu padanya. Ia selalu menghindari hal-hal seperti itu, ia selalu berusaha menjauhi dan bahkan membenci seseorang yang memiliki penyimpangan seksual seperti Jung Kook. Tapi justru ia terjebak, dan Tae Hyung marah karena Jung Kook, karena pada keyataannya adik kecilnya yang manis adalah seseorang yang saat ini harus ia hindari.

"Aku akan ke kamar," ucapan terakhir Tae Hyung mengakhiri percakapannya dengan sang Mama malam ini.

"Ada apa dengan kalian berdua, Nak..."


Sore itu tepat setelah dua bulan hubungannya dengan Jung Kook tidak baik-baik saja, Tae Hyung pulang dan segera memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Seseorang yang bersama Tae Hyung pun berjalan keluar dari dalam mobil, dan segera membalas uluran tangan Tae Hyung saat pemuda tampan itu menggandeng lengannya mesra. Han Na Ra, gadis yang dua bulan ini selalu bersama Tae Hyung, Na Ra siswa khusus di sekolah perempuan yang resmi berkenalan dengan Tae Hyung setelah insiden es krim milik Na Ra tumpah di seragam Tae Hyung.

"Ayo masuk. Aku akan memperkenalkan dirimu dengan, Mama."

Na Ra tersenyum saat Tae Hyung mengusap lembut surainya yang berwarna cokelat alami. Keduanya berjalan menuju ke dalam rumah, dan Na Ra mengangguk sopan ketika bertemu dengan Mama Tae Hyung dan seorang pemuda tengah duduk bersantai sembari menikmati teh hangat di sore hari.

"Kami pulang, Ma."

Jung Kook yang pertama kali menoleh, menatap Tae Hyung tengah menggandeng mesra seorang gadis cantik. Ya, Jung Kook harus mulai membiasakan diri dengan keadaan seperti ini. Jung Kook tidak ingin membuat semuanya menjadi kacau hanya karena ia menuruti egonya.

"Kau sudah pulang, Hyung?" tanya Jung Kook tulus, namun sayang Tae Hyung hanya membalasnya dingin.

"Hei, sayang. Kau sudah pulang? Oh, siapa gadis cantik disampingmu, sayang?" sang Mama menyambut ramah Na Ra.

"Dia kekasihku, Ma. Han Na Ra namanya," ujar Tae Hyung dengan penekanan kata 'kekasih'.

"Senang bertemu dengan, Bibi."

Mama Tae Hyung memeluk Na Ra, membawa gadis itu untuk duduk di samping Jung Kook yang hanya membungkukkan badannya sopan. Jung Kook cukup sadar diri, jika mungkin kehadirannya tak akan penting, jadi ia berinisiatif untuk meninggalkan tiga orang yang tengah bercengkrama di ruang keluarga.

Langkahnya menuju dapur, Jung Kook rasa segelas air cukup membuat kerongkongannya basah. Dengan segera ia menenggak air dalam gelas, dan langsung berjalan naik menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Jung Kook tersenyum kecut, saat ekor matanya menangkap Tae Hyung yang terus menggoda gadis bernama Na Ra di sana. Hei, Tae Hyung itu normal dan wajar jika ia tertarik pada gadis. Tidak sepertinya yang menjijikkan, dan jika sang Mama tahu bagaimana anak bungsunya memiliki penyimpangan seksual, mungkin wanita paruh baya itu pasti begitu kecewa padanya.

Kali ini ia berkemas, memasukkan beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya ke dalam ransel. Jung Kook mengenakan jaket kulit berwarna hitam, dan segera menyambar kunci motornya yang tergeletak di atas meja. Malam ini ia memang berniat menginap di apartemen Seok Jin, karena Hyung tertua di klub motornya sedang berulang tahun.

"Ma, aku akan menginap di rumah Seok Jin Hyung malam ini."

Sang Mama yang mengetahui Jung Kook tengah berdiri di sana segera membalikkan tubuhnya. "Hei sayang, kakakmu bahkan baru saja pulang. Apa Jin lebih penting dari kami yang keluargamu sendiri? Bahkan kau belum bertemu kakakmu lebih lama, kan?"

"Aku hanya menginap, Ma. Tidak pindah dan meninggalkan kalian. Lagipula malam ini Jin Hyung berulang tahun, kami akan sedikit berpesta untuk merayakan ulang tahunnya."

Tae Hyung sendiri kini berbicara, dan menatap Jung Kook tanpa ekspresi. "Biarkan Jung Kook pergi, Ma. Bukankah dilarang pun berandal kecil Mama ini akan tetap pergi?" ucap Tae Hyung dingin.

"Aku pergi, Ma."

Tanpa menatap Tae Hyung, tanpa menjawab ucapan kakaknya itu, Jung Kook segera pergi meninggalkan tiga orang itu dalam keheningan. Ia sedang malas berdebat malam ini, dan memilih pergi berkumpul dengan teman-temannya mungkin akan jauh lebih baik.


Bugh. Yoon Gi memukul telak rahang Tae Hyung, membuat pemuda itu memekik. "Kau gila, Min Yoon Gi!" Tae Hyung berteriak saat tubuhnya menghantam dinding manakala Yoon Gi kali ini mendaratkan sebuah pukulan di perutnya. "Dan kalian semua gila!"

Bugh. Lagi-lagi Yoon Gi memukul wajah Tae Hyung. Rupanya Yoon Gi sangat kesal setengah mati. Bagaimana bisa seorang Jeon Tae Hyung yang menurut Jung Kook adalah kakaknya yang sangat menyenangkan bisa berubah menjadi monster seram yang mulutnya dipenuhi racun.

"Yoon Gi Hyung!" semua berteriak, bahkan Ji Min kini memeluk Yoon Gi, menahan agar pemuda yang berbeda satu tahun lebih tua darinya itu tak melakukan tindakan lebih anarkis dari ini.

"Hentikan! Kumohon..." Ji Min memeluk erat tubuh Yoon Gi.

"Lepaskan aku, Ji Min-ie! Aku harus memberi pelajaran pada manusia tidak berperasaan ini!"

"Kalian gila! Bagaimana mungkin aku bisa tahan dengan pernyataan menjijikkan yang dilontarkan adikku sendiri, terlebih dia adalah laki-laki!" pekik Tae Hyung dengan mengusap lebam di rahang kirinya yang mulai berdenyut sakit.

"Kau... menjijikan, Jeon Tae Hyung," ucap Ji Min dingin.

Mendengar hal itu tentu saja Tae Hyung kembali kesal. Tatapan dari para sahabat Jung Kook itu bahkan seperti tengah mengintimidasi dirinya.

"Cih! Berhenti berpikir seolah kau yang paling benar, Park Ji Min!" Tae Hyung mencengkram kerah seragam Ji Min kasar. "Bagiku, gay itu menjijikkan. Dan adikku, bahkan kini berubah menjijikkan. Aku bahkan tidak sudi harus satu rumah dengannya sekarang. Mengapa gay seperti kalian tidak enyah sa─" ucapan Tae Hyung terputus, saat melihat Jung Kook diam dengan tatapan sendu terus memandangnya.

"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Jung Kook pelan sembari melempar senyum ke arah semua teman-temannya yang tengah berdiri di sana. "Hei, Tae Hyung. Lama tidak bertemu." Jung Kook mendekat dan berdiri di hadapan Tae Hyung. Ia mencoba menahan senyum di sudut bibirnya. "Maafkan aku telah membuat ini menjadi kacau. Maafkan aku karena terlalu egois, sampai-sampai melupakan satu hal bahwa kau adalah kakak kandungku dan... seorang lelaki."

Tangan dengan jemari lentik itu kini terjulur mengusap rahang Tae Hyung yang lebam. "Aku mencintaimu, Hyung. Maaf, aku tahu, seharusnya aku sadar diri. Menyadari hal ini sejak awal. Jika Hyung kesayanganku ini tidak mungkin memiliki orientasi menyimpang sepertiku," iris hazel yang dulu bercahaya, kini begitu sendu dan sangat terluka.

"Apakah gay sepertiku benar-benar menjijikkan di matamu, Hyung? Apakah gay sepertiku tidak bisa mendapatkan kesempatan memperoleh kebahagiaan di sisi orang-orang yang dicintainya? Jika aku boleh memilih, aku pun ingin hidup layaknya manusia normal. Aku ingin memiliki kekasih seorang perempuan." Jung Kook mengusap kasar saat kristal bening perlahan lolos membasahi pipinya. "Maafkan aku, yang telah salah memilihmu, Hyung. Maaf karena cintaku telah salah memilihmu. Dan setelah ini aku berjanji, kau tidak akan melihatku. Setelah ini aku berjanji, aku tidak akan menampakkan diriku dihadapanmu," setelahnya Jung Kook meninggalkan Tae Hyung. Pun dengan para sahabat Jung Kook yang lain, membiarkan Tae Hyung seorang diri sekarang.

Bodoh! Bagaimana bisa Tae Hyung menyakiti perasaan Jung Kook? Hanya karena ia benci dengan ketidakwarasan adiknya. Ucapan Jung Kook benar-benar menghantamnya, membuatnya sadar bahwa sikapnya selama ini benar-benar salah dan menyakiti adiknya sendiri. Dan kemudian, tubuh pemuda itu pun luruh. Ia merasa bahwa sebuah belati tajam baru saja menghunus tepat di jantungnya. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya meremas kuat ujung seragam sekolahnya. Membiarkan lelehan kristal bening itu membasahi pipinya.

"Maaf, Kook. Hyung benar-benar tak bermaksud menyakiti perasaanmu..."


Tak bisakah kau membuatku hidup?

Setiap malam, aku tertidur padamu

Sebuah nada yang indah dimainkan dalam mimpiku, kau dan aku

Aku menutup mataku dan mengikuti bayangan dalam kegelapan, siapa yang tahu?

Temukan aku sekali saja, kau tahu betapa aku menginginkanmu?

Lebih dari bayanganmu yang kabur, lebih dari malam yang pekat

Aku takut sendirian

Itu menyakitkan

(EXO-Hurt)

"Sung Jae akan mengajak Jung Kook balapan liar nanti malam. Aku berani bertaruh jika malam ini Jung Kook yang akan menang." Tae Hyung berjalan di koridor kelas dengan setumpuk buku tebal yang diminta Pak Lee untuk di antar keruangannya, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat mendengar desas-desus teman satu angkatannya tengah membicarakan Sung Jae dan Jung Kook.

"Kau tahu, kali ini mungkin Sung Jae tak akan membiarkan Jung Kook menang seperti balapan dua bulan yang lalu. Kudengar, Sung Jae tengah merencakan sesuatu untuk membuat Jung Kook kalah di pertandingan nanti malam."

Tae Hyung kembali terdiam, dan terus mendengarkan ocehan siswa-siswa di sana. Otaknya berputar pada kejadian terakhir kali dirinya dan Jung Kook bertemu, dan sejak saat itu Tae Hyung memang tak pernah lagi mendapati adiknya di rumah. Jung Kook beralasan bahwa ia ingin mandiri, dan menempati apartemen yang di berikan Mama mereka pada saat ulang tahun Jung Kook tahun lalu. Dan sejak saat itu pula, Jung Kook tak pernah menampakkan dirinya di hadapan Tae Hyung.

"Oh, Tae Hyung, rupanya kau di sini. Mari ikut Bapak sebentar, ada yang ingin Bapak sampaikan mengenai beasiswamu." Tae Hyung hanya mengangguk saat Pak Lee mengajaknya untuk masuk ke dalam ruang guru.

"Duduklah, Tae." Pak Lee menyerahkan formulir beasiswa pada Tae Hyung. "Ini formulir yang harus kau isi. Pelajari lebih dulu, dan pikirkan baik-baik tentang penawaran yang Bapak berikan. Ini kesempatan yang bagus untukmu, Nak. Kau cerdas, dan akan sangat bagus jika kau memilih universitas ini sebagai tempatmu kuliah nanti."

Pikiran Tae Hyung terbagi dua, ucapan para siswa yang ia temui di koridor membuatnya tak bisa berkonsentrasi pada tawaran beasiswa dari Pak Lee. Tae Hyung membungkuk sopan setelah terlebih dahulu berpamitan pada Pak Lee. Langkahnya tampak terburu-buru, pikirannya hanya tertuju pada Jung Kook, pada adiknya.

Brak. Tae Hyung membuka kasar pintu gudang yang telah di sulap menjadi sebuah markas bagi Ji Min dan kawanannya yang lain. Hanya ada Yoon Gi di sana, yang tengah duduk dengan sebuah earphone menggantung di telinganya. Pemuda yang memiliki ekspresi khas wajah bangun tidurnya itu hanya menatap dingin Tae Hyung yang kini duduk di hadapannya.

"Katakan padaku, di mana balapan liar itu diadakan!"

Yoon Gi tertawa mengejek, memalingkan wajahnya, dan kembali menatap nyalang Tae Hyung. "Kupikir kau sudah tidak peduli dengan gay macam kami, Jeon Tae Hyung."

"Aku tidak suka berbasa-basi, Min Yoon Gi! Katakan saja di mana Jung Kook dan Sung Jae akan melakukan balapan itu!" emosinya benar-benar tak bisa ia tahan lagi, tangannya kini mencengkram kasar kerah milik Yoon Gi.

"Tidak sopan sekali, Jeon Tae Hyung!"

Seseorang yang berdiri di ambang pintu membuat Tae Hyung menoleh. Nam Joon telah berdiri dengan pandangan sinis padanya.

"Ada apa siswa teladan sekolah mau repot-repot datang ke markas kami, huh?!"

"Berhenti membuat lelucon, Kim Nam Joon! Aku hanya ingin tahu di mana tempat balapan liar itu diadakan!"

Nam Joon tersenyum. "Benarkah kau ingin tahu?"


Tae Hyung tak lagi menghiraukan berapa kilometer lagi jarak yang ia tempuh untuk berlari, setelah mendapatkan tempat yang Nam Joon maksud, Tae Hyung segera berlari, bahkan ia melupakan mobilnya, yang ia ingat saat ini hanya Jung Kook.

Langkahnya mulai melambat saat kerumunan orang-orang di sana dan sirine polisi membuat telinga pengang bukan main. Ada apa? Mengapa semua orang berkumpul di sana? Mengapa ada banyak petugas medis yang membawa tandu ke arah kerumunan tersebut?

Tubuh Tae Hyung bergetar hebat. Apakah ketakutannya kali ini menjadi kenyataan? Dengan gerakan perlahan, Tae Hyung berjalan melewati kerumunan orang-orang. Menerobos, berusaha mencari penjelasan.

Kini, di hadapannya, mimpi buruk itu menjadi nyata. Seonggok tubuh tergeletak berlumuran darah, kelopak mata yang seharusnya tersenyum cantik menyambut kehadirannya pun tertutup rapat. Tubuh Tae Hyung luruh, saat menemukan Jung Kook dengan mata terpejam dan terluka parah di beberapa bagian tubuhnya.

"Hei, bodoh. Jangan membuat lelucon, ini sama sekali tidak lucu," ujarnya seraya menggenggam tangan Jung Kook yang terkulai lemas. Tae Hyung setidaknya masih memiliki harapan saat petugas medis mengatakan jika jantung Jung Kook masih berdetak.

Kali ini ia tak dapat membendung lagi tangisannya, rasanya sudah lama sekali Tae Hyung tak berinteraksi secara dekat dengan Jung Kook seperti saat ini, menggenggam tangannya, mengusap pelipis Jung Kook yang terus mengeluarkan darah. Saat tandu mengangkat tubuh Jung Kook, Tae Hyung pun segera masuk ke dalam ambulance, menemani Jung Kook dengan tangan terus menggenggam jemari Jung Kook yang tak merespon sedikit pun genggaman tangannya yang bergetar.

"Bukankah kau masih memiliki hutang padaku, Kook? Bukankah kau berjanji akan melindungiku? Mengapa kau tidur sekarang? Apa kau berniat menghukum Hyung, eum..."

Tidak ada jawaban, hanya alat pendeteksi jantung yang mewakili jawaban dari Jung Kook saat ini. Sepertinya memang benar, Jung Kook sedang meluapkan amarahnya, menghukum Tae Hyung dengan cara seperti ini. Dan sekarang, apakah penyesalan mampu mengembalikan setiap detik masa-masa di mana mereka bersama? Apakah Tae Hyung dapat mengucapkan sebuah permintaan maaf yang selama ini membuatnya nyaris gila? Apakah saat Jung Kook terbangun, semua akan kembali baik-baik saja? Apakah...

Tiiitttttt...

Lengkingan akhir dari alat pendeteksi jantung Jung Kook berbunyi nyaring, menghempaskan raga Tae Hyung dan membuatnya semua persendiannya bahkan nyaris mati rasa.

"Kook..."

-TBC-

Di skip dulu ya ^^ saya pikir ini bakalan jadi chapter akhir, tapi ternyata idenya berubah total.

Mohon maaf untuk alurnya yang memang sengaja saya buat loncat-loncat dan terlalu cepat. Di chapter 3 bakalan ada penjelasannya kok :D

Jika tidak ada halangan apapun, jadwal publish FF ini setiap hari rabu ya ^^ tergantung lancar atau gaknya sih idenya, hehehehhe #dibacok. Dan sedikit penjelasan juga tentang siapa seme siapa uke di sini. Saya pecinta uke sampai kapan pun, dan bias utama saya Jeon Jung Kook. Akan sangat aneh kalo tiba-tiba Tae Hyung jadi uke #pingsan. Jadi yang tanya siapa uke ya jelas Jung Kook, dan seme udah pasti Tae Hyung. Hanya saja saya tidak begitu menyukai uke yang memang terlalu uke banget #ngomongapaseh -_- intinya walaupun Jung Kook uke, tapi gak saya ubah karakternya jadi lemah lembut, dsb.

Saya masih menantikan kritik dan saran yang membuat saya lebih semangat nulis lagi ^^

Sampai jumpa di chapter 3 #ciumsatusatu