Tittle : Saigomade (Until The End)

Author : Vanilla Sky

Jeon Jung Kook; Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

Hurt/comfort; shou-ai; bromance

VKOOK punya saya! Cerita punya saya! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja.

A/N : Terhura loh lihat review kalian semua #lapingusdibajuMphi :'( duh, gak nyangka bakalan ada yang suka FF saya yang begini ini #pelukinSuga. Makasih loh ya yang udah sempetin review, saya juga sudah kirim balasan di PM masing-masing ya. Yang gak punya akun, mohon maaf gak bisa saya balas di PM #peluk. Ini lanjutannya buat yang nungguin, setelah baca jangan timpuk saya loh. Cium sama peluk aja deh lumayan buat THR lebaran #selonjoran.

Spesial terima kasih buat teman-teman semua yang sudah mereview, memfollow dan memfavoritkan FF ini :*

dumbshn | minkook94 | kimaelin | huhu14 | Lucky Miku | DeerDia | jelbang | teflon-nim | yoitedumb | jiminie24 | Kira Llawliet | JeonYul | rifana | cupcake | kimikookiekyu | kookid | Guest | Yeojachingu | akmy | MinYeolKook

Saigomade (Until The End) © 2015

Warning : yang bergaris miring berarti flashback ya ^^

Vanilla Sky present


Chapter 3

-preview-

"Bukankah kau masih memiliki hutang padaku, Kook? Bukankah kau berjanji akan melindungiku? Mengapa kau tidur sekarang? Apa kau berniat menghukum Hyung, eum..."

Tidak ada jawaban, hanya alat pendeteksi jantung yang mewakili jawaban dari Jung Kook saat ini. Sepertinya memang benar, Jung Kook sedang meluapkan amarahnya, menghukum Tae Hyung dengan cara seperti ini. Dan sekarang, apakah penyesalan mampu mengembalikan setiap detik masa-masa di mana mereka bersama? Apakah Tae Hyung dapat mengucapkan sebuah permintaan maaf yang selama ini membuatnya nyaris gila? Apakah saat Jung Kook terbangun, semua akan kembali baik-baik saja? Apakah...

Tiiitttttt...

Lengkingan akhir dari alat pendeteksi jantung Jung Kook berbunyi nyaring, menghempaskan raga Tae Hyung dan membuatnya semua persendiannya bahkan nyaris mati rasa.

"Kook..."

.

.

.

"Tae, kenapa diam saja?"

Na Ra mulai memerhatikan Tae Hyung yang sedari tadi hanya diam tak berniat sedikit pun untuk memakan tiramisu dihadapannya. Hanya sesekali, helaan napas berat keluar dari mulutnya. Ini hampir memasuki hari ke tujuh pasca kejadian Jung Kook bertemu Tae Hyung untuk terakhir kalinya. Dan sampai saat ini, Tae Hyung tak pernah menemukan adiknya itu di manapun. Sekali pun mereka masih satu sekolah.

Tae Hyung khawatir? Tentu saja! dirinyalah yang menyebabkan Jung Kook seperti ini. Tae Hyung tahu ini adalah kesalahan terbesar selama sembilan belas tahun ia hidup.

Jung Kook yang selalu tersenyum lembut padanya. Jung Kook yang tak lupa mengingatkannya untuk segera beristirahat. Jung Kook yang selalu mengerti dirinya. Jung Kook yang...

"Tae!"

Tae Hyung tersentak saat Na Ra benar-benar berteriak. Sekilas dirinya dapat melihat kilatan emosi tergambar di wajah kekasihnya. Na Ra mengatur napasnya yang memburu, mencoba agar ia tak lepas kendali. Mengingat, jika selama beberapa hari ini Tae Hyung berubah drastis.

"Maafkan aku." Tae Hyung tersenyum dengan sebelah tangannya menggenggam tangan Na Ra.

"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" Tae Hyung membulatkan matanya saat pertanyaan telak dilontarkan Na Ra padanya.

"Maafkan aku, Na. Aku hanya sedang banyak pikiran, itu saja. Maafkan aku, sayang."

Na Ra terdiam, ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Lalu, tangannya pun terlepas dari genggaman Tae Hyung begitu saja. Satu hal yang Na Ra takutkan selama ini. Satu hal yang tak pernah ia singgung. Satu hal yang membuat Na Ra harus selalu waspada adalah... berita mengenai Jung Kook yang mencinta Tae Hyungnotabene adalah kakaknya sendiriadalah benar adanya.

"Benar kau tak apa, Tae?"

Tae Hyung menggeleng lembut. "Aku baik-baik saja, sayang. Sebaiknya kita pulang saja. Aku lelah hari ini."

Dan satu hal... dibalik kabut tipis yang tak kasat mata, ikatan itu sebenarnya nyaris terikat kuat.


Tiga bulan yang terlupakan, terbawa hembusan angin musim semi yang menyejukkan. Jung Kook duduk menyandar pada pembatas atap bangunan sekolah. Sepasang netranya sedari tadi hanya memandangi kilasan kolase foto dalam ponselnya. Sesekali ia akan tersenyum, namun tak jarang sirat kesedihan tergurat nyata menghiasi wajahnya.

Jung Kook menepati janjinya, tak pernah lagi menemui kakaknya. Jung Kook akan berjalan memutar jika tanpa sengaja melihat Tae Hyung berjalan menuju kelas. Atau, ia akan bersembunyi di sinidi atap sekolah agar tak bertemu dengan Tae Hyung.

Ia tak membenci Tae Hyung. Bahkan hingga detik ini, perasaan terhadap kakaknya tak akan pernah berubah. Tae Hyung cinta pertamanya. Tae Hyung yang membuatnya bangkit dari keterpurukan. Dan kini, Tae Hyung pula yang membuatnya kembali jatuh, bahkan ia tak tahu seperti apa harus bangkit sekarang.

Jung Kook memang tak pernah menangis setelah terakhir kali ia begitu kacau. Namun, sirat kesedihan yang menghalangi pelangi pada sepasang netra indah miliknya menandakan bahwa ia benar-benar terluka parah.

"Rupanya di sini lagi."

Ia menoleh ketika mendapati sebuah senyum cerah dari Yoon Gi membuatnya tersenyum tipis. Jung Kook melambaikan tangannya, membuat Yoon Gi yang tengah berdiri menatapnya itu terkekeh dan sesaat kemudian berjalan menuju tempatnya dengan duduk disampingnya.

"Apalagi yang kau lakukan di sini, Kook?" tanya Yoon Gi dengan sebelah tangannya memberikan lolipop pada Jung Kook.

"Lolipop? Aku bukan anak kecil, Hyung!"

Yoon Gi mengacak surai Jung Kook gemas. "Memangnya hanya anak kecil yang boleh memakan lolipop, eoh? Ibuku pernah berkata, jika ada seseorang yang tengah dalam kondisi hati yang tidak baik, berikan ia sebuah lolipop untuk membuat perasaannya kembali manis seperti permen lolipop."

Mendengar hal tersebut, Jung Kook sontak terkikik geli. Namun tangannya tetap menerima lolipop pemberian Yoon Gi. "Terima kasih banyak, Hyung. Sampaikan pada Ibumu, perasaanku kembali manis setelah menerima lolipop ini."

Yoon Gi terus memandangi wajah Jung Kook yang bersemu merah karena pemuda yang lebih muda darinya itu banyak tertawa hari ini. Ya, setidaknya ia bisa menjadi alasan mengapa sahabat sekaligus adik baginya itu dapat tertawa begitu manis.

"Apa baik-baik saja?" Jung Kook menoleh, menatap Yoon Gi dengan pandangan bingung. "Maksudku, apa kau sudah tidak apa-apa, Kook?"

Jung Kook menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku sudah merasa lebih baik, walau di sini..." tunjuk Jung Kook pada dadanya. "Masih sering terasa sakit ketika melihatnya, Hyung. Tapi tidak apa-apa, aku akan terbiasa lama-lama."

Yoon Gi tersenyum getir, lalu sebelah tangannya mengusap bahu Jung Kook lembut. "Jangan ragu untuk bercerita jika memang kau tidak merasa baik-baik saja."

"Tentu, Tuan Min. Dan aku pastikan jika kau tidak akan mendapat waktu cukup untuk beristirahat karena mendengarkan aku menangis seperti waktu itu."

"Dan belikan aku banyak es krim setelahnya sebagai bayaran menemanimu, bagaimana?"

"Dasar perhitungan!" Jung Kook kemudian terdiam, membuat Yoon Gi menoleh dan menepuk bahunya.

"Ada apa?"

"Hyung, kali ini aku akan menerima tawaran Sung Jae."

Kelopak mata Yoon Gi membola, Yoon Gi tahu jika Jung Kook sudah mengatakan akan berhenti melakukan hobi balapan liar. Mengapa sekarang Jung Kook berkata demikian?

"Kau serius? Tapi, kau tahu bukan jika Sung Jae itu sangat licik, Kook. Dia bisa saja menghalalkan segala cara agar bisa menjatuhkanmu kali ini.

Jung Kook menggeleng. "Jangan cemas seperti itu, Hyung. Bukankah Sung Jae memang selalu seperti itu padaku? Lalu, untuk apa aku harus takut dengan trik licik yang selalu ia gunakan. Hyung tahu 'kan siasat apapun yang direncanakan Sung Jae tak pernah berhasil. Jadi, jangan khawatir."

Ya, seharusnya Yoon Gi memang tak perlu mengkhawatirkan hal seperti ini. Jung Kook bukan orang baru dalam balapan liar yang sering mereka lakukan selama ini. Banyak yang memuji kehebatan Jung Kook saat di arena, namun tak sedikit yang merasa iri dan melakukan beragam cara untuk menjatuhkan Jung Kook; seperti Sung Jae. Dan sekarang, mengapa perasaan Yoon Gi gusar? Mengapa ia bisa merasakan hal buruk akan menimpa Jung Kook?


Tepat malam ini, semua berkumpul di tempat biasa mereka melakukan balapan liar. Jung Kook sudah siapa dengan semua sahabatnya tampak mengerumuninya. Sedangkan Sung Jae, dibalik helm yang menutupi wajahnya, pemuda itu menyeringai.

Seorang gadis masuk ke dalam arena balapan. Mengacungkan bendera pertanda akan di mulai. Semua penonton kembali berdiri di tempat masing-masing. Dan detik berikutnya, saat bendera dijatuhkan, Jung Kook dan Sung Jae memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.

Awalnya berjalan baik, dan Jung Kook yang memimpin balapan. Beberapa putaran berhasil mereka lewati dengan lancar. Namun, saat tikungan ke empat, entah mengapa tiba-tiba motor yang dikendarai Jung Kook tak bisa dikendalikan. Sementara Sung Jae yang berada di belakang Jung Kook menyeringai penuh kemenangan saat motor yang dikendarai oleh Jung Kook oleng dan menabrak pembatas jalan. Tubuh Jung Kook sempat terlempar dan terseret beberapa meter dari motornya. Terakhir kalinya, Jung Kook terkapar saat kepalanya terbentur sisi pembatas jalan. Menyebabkan helm yang dipakai Jung Kook pun terlepas.

Semua orang panik, tak terkecuali para sahabat Jung Kook. Mereka spontan berlari, mengerumuni Jung Kook yang kini terkapar dengan luka parah di beberapa bagian tubuhnya. Yoon Gi segera meraih tubuh Jung Kook, menyangga kepalanya, serta memeriksa denyut jantung dan nadi Jung Kook. Ia bersyukur Jung Kook masih bernapas walau detakan jantung pemuda yang lebih muda darinya itu begitu lemah.

Nam Joon bahkan hanya diam tanpa ekspresi saat melihat adik kecilnya tak bergerak sedikit pun. Sementara Seok Jin sendiri langsung menghubungi rumah sakit terdekat dan polisi. Ho Seok pun tak lebih baik dari Nam Joon. Sementara Ji Min yang selalu terlihat paling kuat di antara mereka pun menangis.

Saat polisi datang, komplotan Sung Jae beserta Yoon Gi dan kawan-kawan di bawa ke kantor polisi untuk diminta menjadi saksi.


Jika memang tak diinginkan, maka aku akan pergi.

Jika memang tidak diharapkan, untuk apa aku bertahan.

Sekuat apapun aku berusaha, sekeras apapun aku berjuang, pada kenyataannya aku telah kalah.

Menjadi pecundang yang menjijikkan.

.

Tae Hyung terisak, menangis hebat dengan memeluk tubuh Jung Kook yang terbaring kaku di bangsal kamar jenazah. Mengapa Tuhan begitu cepat mengambilnya? Mengapa Tuhan tak memberinya kesempatan untuk mengutarakan satu kata yang selama ini ia pendam? Sebuah penyesalan yang tak bisa ia ucapkan untuk Jung Kook.

Jika uang dapat membeli nyawa seseorang, maka... berapa pun nominalnya, semahal apapun harganya, Tae Hyung berani membayar, asalkan Jung Kook kembali hidup. Tersenyum menyambutnya, merentangkan tangan untuk memeluknya, bahkan membisikkan kalimat penenang untuknya.

Tae Hyung dengan sadar menatap wajah pucat Jung Kook, perlahan ia mengecup bibir pucat Jung Kook, berusaha mengutarakan perasaan yang bahkan sampai detik ini ia baru sadar bahwa dirinya pun memiliki perasaan istimewa itu untuk adiknya sendiri. Ia pun mencintai Jung Kook. Walau berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan perasaannya, pun pada akhirnya ia tak mampu.

Kilasan kenangan manis masih terekam nyata dalam benaknya. Namun itu semua tak akan menjadi nyata sekarang. Sebab Tuhan kembali mengambil miliknya yang berharga. Membawa ketulusan hati Jung Kook agar tak terluka terlalu lama.

"Kalimat apa yang mampu mewakili penyesalanku saat ini, Kook..."

Ucapan lirih Tae Hyung membuat semua sahabat Jung Kook yang baru saja tiba di rumah sakit tak dapat membendung tangis mereka. Mereka pun sama begitu kehilangan Jung Kook. Sosok rapuh yang mereka kenal sok kuat ketika berusaha menyembuhkan luka hatinya.

"APA KAU PUAS SEKARANG, JEON TAE HYUNG? INI 'KAN YANG SELAMA INI KAU INGINKAN!"

Tak perlu bertanya mengapa kali ini kesabaran Ji Min benar-benar sudah diambang batas, hingga ia hampir melemparkan kursi pada Tae Hyung jika saja Yoon Gi tidak menahannya.

"Tidak, Jim!" teriak Yoon Gi.

"Mengapa Hyung mencegahku?! Aku harus memberi pelajaran pada bajingan tak berperasaan sepertinya!" pekik Ji Min gelap mata.

"Jangan melakukan hal yang dapat membuatmu menyesal. Menyakiti Tae Hyung bukan keputusan terbaik. Jangan lakukan, kumohon... jangan menjadi bajingan juga hanya karena kau diliputi emosi, Park Ji Min!" kali ini nada suara Yoon Gi meninggi. "Tae Hyung sudah mendapatkan hukuman yang setimpal. Kita semua di sini memang sangat merasa kehilangan, tapi... memberi Tae Hyung pelajaran bukan hak kita!"

"Tapi Hyung, apakah selama ini dia peduli pada, Jung Kook? Tidak, Hyung! Bajingan ini bahkan dengan sengaja berbahagia di atas penderitaan, Jung Kook!"

"Apa yang akan kau lakukan jika aku berada di posisi Jung Kook saat ini, sementara kau belum sempat mengatakan bahwa kau menyesal dengan semua perbuatanmu?" Ji Min terdiam, tangannya yang semula terkepal kini melemah.

"Apa kau masih bisa hidup normal tanpa menjadi gila jika perasaan bersalah itu terus mengkutimu?" perlahan, Yoon Gi memeluk Ji Min.

"Tae Hyung akan menjadi satu-satunya orang yang akan menjadi gila karena ia terlambat menyadari perasaannya. Kita boleh saja marah, tapi kita tidak berhak menghakimi," ucap Yoon Gi parau, ia kini terisak lirih dengan memeluk Ji Min.

Yoon Gi tentu saja terkejut saat mengetahui jika Jung Kook meninggalkan mereka secepat ini. Padahal, baru kemarin ia melihat Jung Kook tersenyum setelah sekian lama pemuda yang lebih muda dari mereka banyak menangis dan menjadi kacau.

"Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih padanya," itu Seok Jin yang berbicara.

"Kami semua mencintaimu, Kook-ie. Pergilah dengan damai dan temukan kebahagiaan baru di sana."


Satu tahun kemudian...

"Jung-ie, bisakah kau mengantarkan pesanan untuk pelanggan di meja nomor tujuh?" ucap seorang barista tampan memanggil seorang pemuda berpipi gembil yang tengah sibuk menghias kue tart di dapur kafe.

"Aku sedang sibuk, Hyung. Mengapa bukan Hyun Hoon Noona saja yang mengantarkan?! Atau suruh saja Jong Dae Hyung."

"Ya! Kau tidak lihat jika istriku bahkan kesusahan membawa perutnya sendiri yang semakin membesar! Jong Dae sedang mengambil cuti karena ia ada ujian di kampusnya. Lakukan, atau Hyung kurangi jatah bulananmu!"

Dengan masih menggerutu kecil, akhirnya pemuda manis itu mematuhi perintah kakak kandungnya yang demi Tuhan kadar kecerewetannya hampir menyamai kecerewetan Ibu mereka.

"Pesanan untuk meja nomor berapa, Hyung?"

"Astaga! Tujuh, Kim Jung─"

"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Tuan Jong stupid! Dan aku akan mengantarkan ini segera!"

Pemuda manis itu segera meraih nampan berisi pesanan untuk meja nomor tujuh. Di sana, seorang pemuda berkacamata masih sibuk dengan buku di tangannya, tampak begitu fokus membaca hingga tak sadar pesanannya tiba.

"Segelas americano dan strawberry cake pesanan anda, Tuan." Ia meletakkan pesanan pemuda berkacamata itu di atas meja.

"Terima kasih," ucap pemuda berkacamata itu tak acuh.

"Silahkan menikmati hidangan anda," kemudian ia berlalu begitu saja, berjalan meninggalkan si kacamata dengan pesanannya.

"Tae Hyung!"

Pemuda manis itu menoleh saat seseorang yang kini berjalan memasuki kafe berteriak pada pemuda berkacamata yang tengah melambaikan tangannya pada pemuda pucat yang tersenyum dan duduk dihadapan pemuda berkacamata itu. Kemudian, ia hanya menggedikkan bahunya, lantas berjalan masuk kembali ke dalam dapur.

"Maaf, membuatmu menunggu lama."

Tae Hyung hanya tersenyum dan menggeleng pada pemuda dihadapannya. "Apa Ji Min yang menahanmu hingga kau terlambat seperti ini, Yoon Gi Hyung?" goda Tae Hyung membuat wajah Yoon Gi bersemu.

"Kau seperti tidak tahu bocah pendek itu saja."

Tae Hyung kini terkekeh. "Hei, walaupun pendek kau tetap mencintainya, Tuan Min."

"Ya! Hentikan itu, Jeon Tae Hyung! Jangan menggodaku lagi!"

Tae Hyung lagi-lagi tersenyum, menyodorkan strawberry cake pada Yoon Gi. "Makanlah. Apa aku perlu memesan minuman untukmu, Hyung."

Yoon Gi bersorak senang, kemudian dengan cepat menyambar strawberry cake kesukaannya dengan lahap. "Tae Hyung Jjang!"

Setelah mengacak surai blonde milik Yoon Gi, Tae Hyung berjalan menghampiri seorang wanita muda yang berdiri dibalik kasir.

"Lemon Tea untuk meja nomor tujuh, Noona."

"Silahkan menunggu sebentar, Tuan. Kami akan mengantarkan pesanan anda."

Tae Hyung hanya mengangguk, setelah membayar pesanannya, ia pun kembali berjalan menuju tempat di mana Yoon Gi sedang duduk menunggunya. Satu tahun setelah kepergian Jung Kook, Tae Hyung menjadi sangat akrab dengan semua sahabat Jung Kook. Bahkan setelah insiden Ji Min hampir melemparkan kursi padanya, kedua pemuda itu menjadi lebih dekat dan akrab. Selain karena mereka memang satu fakultas yang sama di bangku kuliah, rupanya Ji Min dan Tae Hyung sama-sama lahir di tahun yang sama, hanya saja Ji Min lebih dulu lahir beberapa bulan lebih tua daripada Tae Hyung, namun tetap saja perbedaan tinggi mereka yang sangat kentara, membuat Ji Min selalu menjadi bahan ejekan oleh para sahabat dan kekasihnya sendiri.

"Bagaimana keadaan Bibi, Tae? Sudah berapa lama kami tidak pergi mengunjunginya, ya?"

"Hampir tiga bulan kalian sibuk sampai tidak pernah mengunjungi Mama di rumah. Beliau bahkan selalu menanyakan kalian. Kau berhutang datang berkunjung ke rumah, Hyung," rajuk Tae Hyung.

"Akhir pekan nanti kami memang berencana akan menginap di rumahmu. Bagaimana jika kita sedikit berpesta?"

Tae Hyung mengerutkan keningnya. Ia sepertinya mempunyai firasat tidak baik dengan saran Yoon Gi yang mengatakan 'sedikit berpesta'. Karena, lebih tepatnya saat Nam Joon berulang tahun, pemuda yang memiliki senyuman semanis gula itu mengatakan akan berpesta dan berakhir dengan Tae Hyung yang mabuk berat.

"Tidak ada pesta! Aku tidak mau berakhir mabuk berat dan meracau tak jelas seperti waktu itu!"

Yoon Gi tertawa. "Salahkan dirimu yang sangat buruk dalam hal minum, Tuan Jeon Tae. Tapi aku masih menyimpan video konyolmu itu, Tae. Demi Tuhan, itu menggelikan."

"Hyung..." rajuk Tae Hyung berusaha membuat Yoon Gi berhenti mengoloknya.

"Lemon Tea pesanan anda, Tuan."

Yoon Gi menengadahkan wajahnya, menatap pemuda manis yang kini tersenyum ke arahnya. Sesaat, ia tertegun, menatap wajah familiar dihadapannya. Sepasang gigi kelinci yang terlihat manis, bibir uniknya membentuk huruf 'M' yang lucu, serta sepasang kelopak mata bulatnya yang menambah kesan cantik untuk pemuda dihadapannya itu.

Yoon Gi berdiri, menyejajarkan tubuhnya dihadapan pemuda manis itu. Secara spontan, Yoon Gi kemudian memeluk tubuh pemuda manis yang berada dihadapannya tersebut.

"Kook-ie..."

-TBC-

Di cut lagi ya #dibunuhreader. Nah loh tuh, kira-kira siapa yang Yoon Gi peluk ya? Maaf karena saya tidak mengabulkan permintaan teman-teman yang meminta Jung Kook tetap hidup. Tapi sebagai gantinya saya bawa cast baru yang nantinya bakalan gantiin Jung Kook #Kookiepundung.

Udah ah, gak mau banyak ngomong apa-apa. Intinya ff ini bakalan tetep lanjut selama idenya lancar dan banyak yang masih berkenan untuk membacanya.

Sampai jumpa di chapter 4 ^^