"That's bloody fast!" Gumam Arthur saat menerima dokumennya kembali. "Apa kamu membaca isinya?"
Adinda menggeleng cepat. Biarpun sempat melihat sekilas isinya, ia tak mengerti bahasanya. Bukan bahasa Inggris, namun bahasa seperti dalam film fantasi. "Oh… good. Hmmm… tunggu disini."
Arthur masuk ke ruang penyimpanan dokumen, mulai kembali merapikan beberapa dokumen yang berhubungan dokumen tersebut. Sementara itu, Scott masih memperhatikan Adinda sedari Adinda berada di ruangan itu, tanpa berhenti mengepulkan asap rokok yang baunya sudah dapat Adinda cium dari jauh. Entah tak nyaman atau ada yang salah dengan Adinda, ia tak bisa melepaskan matanya dari sosok gadis yang tangan kanannya diperban tersebut. Disisi lain, peran Alice mencari-cari kertas dan dokumen digantikan oleh Alison dan satu saudaranya yang bernama Redmond dengan rambut yang nyaris semerah milik Scott.
Dilain pihak. Adinda masih memijat tangan kanannya yang terasa ngilu dan sakit. Bodohnya ia tak memikirkan dampak dari tackle tersebut, biarpun ia yakin ia masih dapat menulis dengan baik. Alfred juga tak henti-henti meminta Adinda untuk "makan bersama" dengannya, beralasan ia hanya ingin berkenalan lebih jauh. Mendengar itu, Arthur hanya menggeleng-geleng dan menyarankan Adinda untuk jangan pernah, sekali pun, memiliki perasaan pada Alfred yang memiliki banyak penggemar, apa lagi Alfred tak tahu batasan-batasan saat sudah memiliki hubungan dengan seseorang.
"Kamu luar biasa mengenalnya ya?" Tanya Adinda, kali ini mulai berprasangka.
"Don't listen to what my sibling have said about me being a Homo. Alfred dulu sering menginap di rumah kami dan ia pernah beberapa kali memiliki kekasih. Di antara para makhluk terkutuk tersebut, hanya aku yang mau mendengarkan curhatan hati Alfred."
Begitulah yang dikatakan Arthur. Tanpa perlu diberikan berbagai macam alasan pun Adinda tak akan menjalin hubungan dengan Alfred mau apa pun yang terjadi diantara keduanya.
"Ahem. Aku belum bilang terima kasih. Terima kasih banyak. And I could see that you do a quite hard work there," kata Arthur sambil melirik ke arah tangan kanan Adinda, nyaris mengaggetkan Adinda karena tiba-tiba muncul di depannya. "Sesuai janjiku, kamu boleh membantuku untuk mendapatkan tanda tangan dariku."
"Apa kau tak mau tanda tanganku?"
"Aku tak bilang tak mau. Dari pada bantuan, kata yang tepat adalah tantangan. Karena aku tak lagi butuh bantuan." Ia tiba-tiba menunjukkan buku tandatangan miliknya, "aku memiliki lima belas untuk saat ini. Bagaimana denganmu?"
"Sama."
"Good. Berarti mulainya seimbang." Arthur kembali menutup bukunya, menaruhnya di saku celana. "Tantangannya tak sulit. Hari minggu nanti kita akan bertemu di Cross Fountain. Siapa yang mendapatkan Empat Puluh tanda tangan maka akan mendapatkan tanda tangan dari yang kalah."
"Bagaimana kalau kita berdua berhasil melakukannya?"
"Kalau benar-benar sama, maka kita berdua berhasil. Simple. Bagaimana?" Jawaban dari Adinda hanya anggukan cepat. Tantangan ini membuat Adinda kembali bersemangat mengumpulkan tandatangan, begitu pula dengan Arthur. "Now, one more thing concern me… kamu terluka, bahkan mendapatkan sepuluh cap merah hanya untuk menangkap Alfred. When there's another much more easiest way for it, well, even though taking some more time. Why?"
Pertanyaan diluar dugaan tersebut membuat Adinda agak canggung untuk menjawabnya. Alasan utamanya sudah jelas kalau Adinda sangat membutuhkan tandatangan. Hanya saja ia juga merasakan ada alasan lain, alasan yang berhubungan sangat erat dengan Arthur sebagai seorang… seseorang. Sebagai orang. Ada daya tarik yang sangat tipis menarik Adinda kepada Arthur tetapi Adinda tak yakin itu sama seperti bagaimana Adinda tertarik pada Roderich. Setidaknya Adinda masih belum merasa pasti.
"Oh soal itu. Teman-temanku berhasil mencapai empat puluh biarpun masih tiga hari, aku hanya khawatir tak mampu mendapatkan lima puluh tanda tangan dalam seminggu ini."
"Everyone is. Tapi masih tak menjelaskan kenapa kamu mau berjuang sejauh itu, bahkan aku tak menjajikanmu tandatanganku. Aku juga bisa saja tak membiarkanmu membantuku lagi setelahnya dengan bagaimana kamu menyelesaikan masalah."
Adinda menghela napasnya, akhirnya menjawab sejujurnya. "Kepercayaanku kalau kamu bukanlah lelaki yang tak bakal menepati janjinya ternyata benar, biarpun kamu memiliki kesempatan untuk membuktikanku salah, kamu tak melakukannya."
Arthur tertegun cukup lama dengan ketegasan yang tiba-tiba. Keyakinan dalam mata Adinda membuat Arthur tak bisa menyangkal kalimat tersebut. Dan ini pertama kalinya ada orang lain yang menghargai Arthur. Tak perduli berapa tinggi ia junjung haknya untuk dihargai, tak satu pun saudara dan sepupunya melakukan itu, biarpun ia kadang hingga berlebihan. Bahkan salah satu saudaranya, Wynn Kirkland, pun dihargai oleh para sepupu wanitanya, setidaknya. Namun rasa senang tersebut dengan segera sirna saat ia kembali berpikiran kritis.
Arthur menghela napasnya. "Oh. That's it? You're not wrong about that. Lima gadis lainnya mengatakan hal yang sama juga tak sembarangan bicara, aku pun nyaris termakan tiga kali. Ini yang ketiga."
Senyuman tipis Adinda langsung menghilang bersamaan dengan ia mengernyitkan dahinya. Dugaannya benar kalau Arthur bakal sama buruknya dengan Roderich dalam hal bergaul. Lebih parah. Tambahnya dalam hati.
"Baguslah kalau kamu tahu aku tak bohong. Jangan sampai termakan sungguhan, akan merepotkan nanti kalau jatuh hati betulan denganku. Karena aku tak ada niat untuk jatuh hati dengan siapa pun." Pertama kalinya Adinda mengejek seseorang di asrama, dan ia luar biasa lega, meskipun ia merasa sedikit bersalah telah mengatakan hal yang menyakitkan, apa lagi dengan ekspresi yang Arthur tunjukkan selepas mendengarnya.
"Hari minggu nanti di Air Mancur Persilangan? Aku tunggu jam enam sore." Nada suara Adinda melembut saat ia pergi ke luar ruangan Reguler ke delapan puluh enam tersebut.
Disisi lain. Arthur masih bergeming di tempat. Hanya terdengar tawa mencela dari Scott dan Alison. Sementara itu Redmond hanya menggeleng-geleng dan berkata, "kamu pantas menerimanya, Art. Ia sudah berusaha lho. Apa ada gadis yang lain mau melakukan sejauh itu?"
"Shut your mouth and get back to work!"
"Apa si Arthur itu sungguh mengatakan hal seperti itu? Aku dengar dari teman-teman, katanya ia memperlakukan perempuan dengan baik." Tanya Emma, mencoba menyamai kecepatan berjalan Adinda.
Miss Johanna, saat jam pelajaran keempat, yaitu jam pelajaran yang terakhir, memberikan hukuman tambahan kepada Adinda karena telah merusak tanaman saat "bermain-main" dengan Alfred, menambah beban dari Murid Merah yang sedang bertugas. Kebetulan Emma juga melakukan sedikit "kenakalan" dengan melakukan hal iseng kepada Tom. Keduanya saat ini sedang membantu beberapa guru merapikan dokumen dan buku-buku, lalu membawanya ke kantor guru.
Adinda menggeleng. "Entah lah. Ia bertanya, tentu aku menjawab. Tetapi tampaknya perasaannya masih buruk karena kejadian tadi pagi."
"Aku agak paham dengan kecurigaannya. Ia lumayan populer, sebagian memang pengaruh dari Alfred dan Scott, tetapi pasti banyak yang berusaha mendekatinya."
"Itu sudah umum."
Hanya itu yang bisa Adinda jawab. Tetapi apakah ia memiliki trauma yang meninggalkan luka cukup dalam yang membuatnya harus bersikap sangat ketus? Apakah itu akibat dari bagaimana saudara dan sepupumya memperlakukan Arthur? Namun Adinda membuang semua kekhawatirannya setelah merasakan kalau dirinya terlalu perduli terhadap masalah pribadi seseorang. Ia juga keheranan kenapa ia tiba-tiba perduli? Hal ini juga terjadi sehari, dua hari setelah bertemu dengan Roderich.
"Oh! Sifat mereka sama! Jadi aku—…"
Langkah Adinda terhenti. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut. Ia baru menyadari sesuatu dan merasa luar biasa lega. Ia tak jatuh hati pada Roderich. Ia hanya bersimpati. Dan Adinda tak pernah menemui orang seperti Roderich sebelumnya, setelahnya munculah Arthur untuk membantu Adinda lebih memahami perasaan tersebut.
"—Adinda! Ayo!" Tiba-tiba Emma menggenggam erat Adinda, mengembalikan pikiran Adinda ke dunia nyata. "Godverdomme! Kita terlambat!"
"Apa yang terlambat—?"
Baru saja Adinda kembali berjalan, wajahnya langsung menghantam sesuatu yang empuk tetapi juga keras. Sebelum Adinda sempat meminta maaf, matanya terpaku pada iris mata berwarna Violet yang mengingatkannya pada hangatnya langit sore hari saat matahari terbenam. Pemilik dari mata cantik tersebut sangat tinggi, bahkan Adinda perlu menengadahkan kepalanya hingga sakit untuk dapat melihat matanya.
"M-maaf…"
"Hei Adinda." Yao yang berada di samping lelaki tersebut menyapa Adinda. "Kenalkan temanku aru, namanya Ivan Braginsky aru."
