Tittle : Saigomade (Until The End)

Author : Vanilla Sky

Main cast :

Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)

Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

Sub cast :

BTS member

Kim Jong Woon (Super Junior's Yesung)

Jung Hyun Hoon (OC)

Han Na Ra (OC)

Hurt/comfort; shou-ai; romance

VKOOK punya saya! Cerita punya saya! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja.

Warning : yang bergaris miring berarti flashback ya ^^

A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan maaf kali ini gak bisa balas satu persatu via PM -_- tapi beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu

Spesial terima kasih pakai telor yang selalu menyempatkan review buat : dumbshn | YulJeon | violuvkook09 | LivanaAethelwine | yayetoo | minkook94 | siscaMinstalove | | huhu14 | yoitedumb | teflon-nim | Jiminie24 | jelbang | Guest | PutriAmelia | Albino Deer | Rainadisa | Kookieomma | Viyomi | Kira Llawliet | akmy | vkookieuke | Nyonya Jung

dan untuk yang sudah memfavoritkan Ffnya, Memfollow, dan yang baca diem-diem alias silent reader juga terima kasih ya.

Saigomade (Until The End) © 2015

Vanilla Sky present


Chapter 4

-preview-

"Lemon Tea pesanan anda, Tuan."

Yoon Gi menengadahkan wajahnya, menatap pemuda manis yang kini tersenyum ke arahnya. Sesaat, ia tertegun, menatap wajah familiar dihadapannya. Sepasang gigi kelinci yang terlihat manis, bibir uniknya membentuk huruf 'M' terbalik yang lucu, serta sepasang kelopak mata bulatnya yang menambah kesan cantik untuk pemuda dihadapannya itu.

Yoon Gi berdiri, menyejajarkan tubuhnya dihadapan pemuda manis itu. Secara spontan, Yoon Gi kemudian memeluk tubuh pemuda manis yang berada dihadapannya tersebut.

"Kook-ie..."

.

"Lepas!"

Pemuda dalam pelukan Yoon Gi meronta, berusaha melepaskan diri dari dekapan orang asing menurutnya. Yoo Gi tersadar, dengan cepat melepaskan pelukan pada pemuda yang kini menatapnya takut.

"Maafkan aku," ucap Yoon Gi panik saat melihat pemuda dihadapannya bergetar.

"K-kenapa?"

Yoon Gi memerhatikan pemuda manis itu. "Kenapa? Apa maksudmu, Kook-ie?"

Tae Hyung kini mencengkram tangan Yoon Gi, membuat yang lebih tua menoleh dan menatapnya bingung.

"Bukan, Hyung," ujar Tae Hyung berusaha menjelaskan. "Dia bukan Kook-ie kita."

Yoon Gi menggeleng, berusaha menyangkal. "Dia Jung Kook, Tae! Dia Jeon Jung Kook!"

"Bukan!" pemuda yang dipeluk Yoon Gi tadi berteriak. "Hyung! Jong Woon Hyung!" pekik si manis panik.

Seorang pria berlari tergopoh ke arah pemuda manis yang kini berjongkok. "Jung-ie, ada apa?" tanya Jong Woon tak kalah panik saat mendekati adik semata wayangnya itu hampir menangis dengan wajah yang memucat.

"Hyung..."

Jong Woon segera merengkuh tubuh adiknya yang hampir terjatuh saat dirinya mengangkat tubuh si manis untuk berdiri. "Maaf Tuan, sebaiknya anda tak membuat kekacauan di kafe kami. Jung-ie, kau baik-baik saja, kan? Katakan apa yang terjadi?"

Si manis hanya menggeleng dan menutup matanya rapat. "Bawa aku pergi, Hyung," rengeknya kemudian.

Tanpa permisi, Jong Woon kemudian membawa si manis pergi, memapah tubuh adiknya dengan hati-hati.

Setelah kepergian sang pemilik kafe, suasana kafe yang semula tegang kini kembali tenang. Semua pengunjung duduk dan melakukan aktifitas mereka kembali. Pun dengan Tae Hyung dan Yoon Gi. Mereka duduk, namun Yoon Gi terlihat begitu terkejut dengan kejadian yang dialaminya tadi.

Tae Hyung pun sejujurnya terkejut dengan apa yang mereka lihat. Sosok yang telah meninggalkan mereka kembali, menjelma menjadi sosok lain yang tak kalah manis. Walau Yoon Gi sempat mengira itu Jung Kook, namun Tae Hyung berusaha menjelaskan kenyataannya, Jung Kook telah pergi ke tempat peristirahatannya yang abadi.

"Bagaimana mungkin itu bukan Jung Kook, Tae? Kau lihat 'kan bagaimana kontur wajah mereka sangat mirip?"

Ya, Tae Hyung akui keduanya memang memiliki wajah yang benar-benar serupa. Tae Hyung pun pada awal melihat pemuda manis tadi sempat mengira bahwa itu Jung Kook. Namun kemudian ia tersadar, tatapan mereka berbeda. Jung Kook-nya memiliki sepasang manik yang lucu dan polos. Akan tetapi pemuda itu, tatapannya seolah ia memiliki beban yang sangat berat.

"Dia bukan Jung Kook, Hyung. Kau bahkan melihat sendiri saat jasad adikku dimasukkan ke dalam tanah. Mereka hanya mempunyai wajah yang serupa."

"Tapi..."

"Sebaiknya kita pulang. Aku akan mengantarmu sampai apartemen."


Jung Kook terbangun, entah berapa lama ia tertidur setelah dokter Si Won memeriksanya. Jong Woon langsung menghampiri Jung Kook dengan tatapan khawatir. Terjadi lagi, ini yang Jong Woon takutkan ketika Jung Kook berusaha keras untuk melawan ketakutannya dengan keramaian.

Agoraphobia, kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis. Hampir bertahun-tahun lamanya Jung Kook mengidap fobia ini. Berusaha tidak berinteraksi dengan dunia luar, melakukan beberapa terapi penyembuhan seperti terapi pemaparan dengan bantuan seorang ahlir tentunya, hingga akhirnya ia berusaha melawan semua ketakutan itu atas keinginannya sendiri.

Dalam keadaan normal, biasanya setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takutnya. Akan tetapi, Jung Kook sendiri tidak mampu mengendalikan perasaan takutnya, menyebabkan terjadinya suatu keadaan di mana mentalnya terkunci.

Kejadian di masa lalu membuatnya seperti ini, menjadi korban penculikan pada saat usianya baru saja menginjak delapan tahun pada waktu itu, mendapatkan berbagai intimidasi dari orang-orang yang menculiknya, membuat Jung Kook akhirnya menjadi pribadi yang tertutup dan antisosial.

"Kau sudah bangun, Jung?"

Jung Kook menatap Jong Woon sendu, di matanya, ada gurat beban yang membuat Jong Woon benar-benar merasa iba, namun ia tak tahu harus melakukan apa untuk membantu Jung Kook melawan itu semua. Beruntung, Jung Kook sekarang mau membantunya di kafe, walaupun terkadang pemuda itu masih memiliki kecemasan dengan rasa takutnya. Tetapi, bagi Jong Woon ini adalah sebuah kemajuan yang sangat pesat.

"Hyung, jangan biarkan orang-orang tadi datang lagi..."

Jong Woon duduk di tepian ranjang milik Jung Kook, menggenggam tangan adik kecilnya yang tampak gemetar di hadapannya.

"Tidak akan, Hyung tidak akan membiarkanmu melakukan hal tadi. Maafkan Hyung, eum," ucap Jong Woon seraya memeluk tubuh Jung Kook erat.

"Aku takut..."

"Ya, jika kau merasa takut, kau tidak perlu datang ke kafe besok. Biarkan Kangin yang membantu Hyung nanti."

Tidak ada jawaban dari Jung Kook, Jong Woon hanya merasakan jika napas Jung Kook mulai teratur.

"Kau lapar tidak, Jung? Hyun Hoon Noona sudah membuatkan makanan kesukaanmu, apa kau mau Hyung membawakannya ke sini?"

"Tidak lapar. Aku hanya ingin tidur," setelah mendengar ucapan terakhir Jung Kook, Jong Woon dapat merasakan dengkuran halus menyapa telinganya. Mungkin efek obat yang diberikan dokter Si Won sudah bereaksi.

Jong Woon segera merebahkan tubuh Jung Kook di atas ranjang tidurnya. Menyelimuti tubuh kecil adik kesayangannya itu dengan selimut bulu halus favorit Jung Kook. Tangan Jong Woon hati-hati sekali membelai lembut surai kecoklatan milik Jung Kook, merapikan anak surainya yang berantakan.

"Cepatlah sembuh, Jung-ie..."


"Tae, ayo kita pergi ke kafe itu lagi. Aku ingin menemui bocah yang mirip dengan Jung Kook," pinta Yoon Gi saat mereka tengah berkumpul di kantin universitas saat jam istirahat makan siang.

Nam Joon yang tengah sibuk mengunyah makanannya hampir tersedak ketika mendengar celotehan Yoon Gi yang tengah merajuk pada Tae Hyung. Sementara Ho Seok yang sibuk dengan manga di tangannya itu hanya melirik penasaran pada obrolan dua sahabatnya. Berbeda halnya dengan Seok Jin dan Ji Min yang memang sudah mendengar cerita itu dari Yoon Gi kemarin; hanya menunjukkan ekspresi gemas manakala bibir Yoon Gi tak henti-hentinya mengeluarkan bujukan yang demi Tuhan membuat pemuda yang memiliki kulit seputih gula itu sangat manis.

"Yoon Gi, katakan sekali lagi, apa maksudmu dengan bocah yang mirip, Jung Kook?" tanya Nam Joon antusias.

Yoon Gi menghela napas dalam, menghentikan sejenak kegiatannya merajuk pada Tae Hyung. "Bibir, hidung, wajah, semuanya mirip dengan Jung Kook. Hanya saja tatapan mereka berbeda. Awalnya aku mengira jika itu reinkarnasi dari Jung Kook, tetapi setelah mendengar Tae Hyung berkata bahwa tatapan mereka berbeda, ya aku akui jika mereka hanya memiliki kemiripan saja."

"Benarkah ada bocah yang mirip dengan Jung Kook? Di mana?" kali ini Ho Seok yang bertanya, membuat Yoon Gi memutar bola matanya malas.

"Di kafe yang dekat dengan stasiun subway, Tuan Jung!"

"Kafe dekat stasiun subway? Tidak salah lagi."

Ji Min yang sedari tadi tak tertarik dengan percakapan ke lima sahabatnya itu segera merapat dan menunggu Ho Seok melanjutkan perkataannya.

"Itu kafe milik kakak iparku. Setahuku Jong Woon Hyung memang memiliki seorang adik laki-laki seusia Tae Hyung dan Ji Min. Tetapi yang aku dengar dari Hoon Noona, adik Jong Woon Hyung tinggal di Jepang. Lalu, siapa orang yang menurutmu serupa dengan Jung Kook itu, Min Yoon Gi?"

"Aku tidak tahu! Aku hanya tahu jika bocah itu memiliki wajah serupa dengan Jung Kook, itu saja! Lalu kenapa kau sendiri tidak pernah bercerita jika kakak iparmu mempunyai kafe di dekat stasiun subway, Jung Ho Seok?!"

"Kau tidak pernah bertanya," jawab Ho Seok tak acuh.

Tae Hyung menggeleng heran, mendengar perdebatan antara Yoon Gi dan Ho Seok memang biasa terjadi jika mereka berkumpul bersama seperti saat ini. Entahlah, kedua Hyung-nya itu memang tak pernah akur satu sama lain, menurut yang ia ketahui dari Seok Jin, dulu saat di Junior High School, Yoon Gi dan Ho Seok pernah menjadi sepasang kekasih, hanya saja hubungan mereka berakhir seperti apa, hanya kedua pemuda itu yang tahu.

"Aku harus pergi. Ada buku yang harus aku pinjam di perpustakaan. Nam Joon Hyung, apa kau mau ikut?"

Nam Joon mengangguk, dan berjalan bersama Tae Hyung meninggalkan ke empat sahabatnya yang lain di kantin.

"Tae, nanti malam kami akan menginap di rumahmu. Apa Bibi sudah tahu?"

Tae Hyung mengangguk, dan tersenyum pada Nam Joon. "Tentu saja Mama sudah tahu. Kau tahu reaksi apa yang ditunjukkan Mama saat mendengar kalian akan menginap?"

"Apa?"

"Mama sangat senang dan hari ini bahkan beliau sibuk berbelanja."

Nam Joon terkekeh. "Aku jadi rindu pada Bibi. Oh ya Tae, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan, Na Ra?" Tae Hyung terdiam, menghentikan langkahnya, membuat Nam Joon menoleh dan menatapnya bingung.

Entahlah, ia sendiri pun bingung, setelah kematian Jung Kook, hubungannya dan Na Ra memang berada dalam fase yang tidak jelas. Mereka masih sering bersama menghabiskan waktu, berkencan seperti pasangan kekasih pada umumnya. Hanya saja Tae Hyung tak lagi merasakan getaran nyaman itu saat bersama Na Ra. Tae Hyung tahu jika Na Ra mulai merasakan perubahan sikapnya, namun Na Ra tetap bersikeras menyangkal bahwa mereka akan baik-baik saja, dan gadis itu bahkan tak pernah bosan mengatakan bahwa semuanya membutuhkan waktu.

"Tae?"

Tae Hyung tersadar dari lamunannya. "Maaf Hyung, aku sedang tidak ingin membicarakan hubunganku dengan Na Ra."

Nam Joon mengusap bahu Tae Hyung, tersenyum dan berusaha memberikan ruang privasi untuk Tae Hyung jika memang pemuda yang lebih muda darinya itu tak ingin membicarakan hal-hal tersebut.


Musim gugur, musim favorit Jung Kook. Musim di mana Jung Kook sangat menyukai sensasi segar udara peralihan dari musim panas. Musim di mana daun-daun maple mulai memerah dan kering, kemudian berguguran diterpa angin. Musim gugur, musim yang kini menjadi favorit Tae Hyung juga.

Kelopak matanya terpejam sedari tadi, membiarkan angin menerpa tubuhnya, seolah membisikkan sebuah kerinduan yang disampaikan Jung Kook padanya. Tae Hyung tersenyum seraya membayangkan Jung Kook benar-benar ada disampingnya. Namun, semua itu sangat mustahil, mengingat jika adik kecil kesayangannya telah pergi, meninggalkannya bersama kerinduan dan penyesalan tiada berujung.

"Woo Hyung! Hyung, berhenti menjahiliku! Aku ingin pulang."

Tae Hyung menangkap suara yang tak jauh dari tempatnya berada. Refleks, ia pun membuka mata. Mengedarkan arah pandangnya kesekitar, berusaha mencari sumber suara yang membuat istirahat siangnya terganggu.

"Woo Hyung, cepat keluar! Atau aku akan meninggalkanmu!"

Sosok berbalut hoodie merah di sana, membuat Tae Hyung benar-benar melupakan acara tidur siangnya. Sosok di sana, wajah yang serupa dengan Jung Kook. Hanya, ini Jung Kook dalam versi manis menurut Tae Hyung.

Ini merupakan pertemuan ke dua baginya, dan Tae Hyung sama sekali tak ingin lepas kendali seperti Yoon Gi, walaupun seujujurnya ia ingin sekali menghampiri si manis, akan tetapi ia tidak ingin berakhir menakuti si manis yang kini tengah berjongkok membuat guratan di atas tanah menggunakan sebatang ranting kering.

"Boo!"

Si manis hampir saja terjungkal ke depan saat pemuda lain datang dari belakang dan mengejutkannya. Si manis bahkan hampir menangis, membuat pemuda tadi berusaha membujuknya.

"Hyung menyebalkan!" teriak si manis seraya mengusap airmatanya.

"Maafkan aku, Jung-ie. Kau boleh memukul Hyung, atau—"

"Belikan aku es krim yang banyak."

Tanpa sadar, Tae Hyung sendiri terkekeh seraya memerhatikan si manis yang tengah merajuk. Entahlah, ia akui bahwa sifat si manis berbeda dengan Jung Kook-nya yang tidak pernah bersikap seperti itu semasa hidup. Jung Kook menyukai hal-hal berbau otomotif, hal yang paling disukainya adalah memukul Sung Jae. Sungguh, berbading terbalik dengan sosok yang sama di seberang sana sekarang.

"Ayo kita pergi membeli es krim!"

Kedua pemuda itu pergi, menyisakan Tae Hyung yang masih menatap punggung kecil si manis yang sesekali terlihat merajuk. Hoodie kebesarannya membuat si manis benar-benar lucu dan menggemaskan. Namun, dengan cepat Tae Hyung tersadar, menggelengkan kepalanya, berusaha berpikir bahwa hal-hal yang ia pikirkan tentang si manis bukanlah yang seharusnya ia lakukan.

Tae Hyung merasakan getaran dari ponsel pintar di saku celananya. Dengan cepat, ia segera meraih benda persegi panjang itu dan melihat satu nama tertera di sana...

-Han Na Ra.

Dengan sikap acuh tak acuhnya, Tae Hyung pun segera mengangkat panggilan masuk dari kekasihnya itu.

"Ada apa?"

Tae Hyung mengernyitkan alisnya, sejenak menjauhkan ponsel pintar dari telinganya saat Na Ra berteriak kesal padanya di seberang telepon sana.

"Ya, maaf. Aku lupa mengatakan padamu bahwa hari ini aku tidak bisa menjemputmu. Teman-temanku nanti malam akan menginap di rumah, dan maaf aku harus membatalkan kencan kita malam ini, Na."

Tae Hyung menghela napasnya saat mendengar rajukan Na Ra yang sunggu semakin hari semakin membuatnya jengkel bukan main. Kenapa ia baru sadar bahwa kekasihnya perempuannya itu sangat manja dan keras kepala?

"Maaf, aku tidak bisa. Bukan lebih mementingkan teman-temanku. Tapi kami sudah lama tidak berkumpul. Tolong mengertilah!"

Kali ini nada bicara Tae Hyung meninggi, dan suara panggilan diputus secara sepihak pun membuat Tae Hyung menggeleng maklum. Ya, memang hampir satu minggu ini selalu menghindari Na Ra. Tae Hyung akan memberikan seribu alasan agar ia dan kekasihnya itu tidak bertemu untuk sementara waktu. Tae Hyung hanya bingung menjelaskan perasaannya saat ini. Semua terasa berbeda.

Ia kini merapikan ranselnya, memasukkan beberapa perlengkapan miliknya ke dalam ransel, kemudian pergi meninggalkan taman yang mulai ramai. Langkahnya terhenti manakala ia melihat sebuah benda berkilau mencuri perhatiannya. Sebuah kalung dengan bandul sepasang cincin platina. Tae Hyung mengedarkan pandangannya, berusaha menemukan siapa pemilik kalung tersebut. Tetapi, dengan cepat tatapannya tertuju pada tulisan di atas atas tanah.

"0101 0011 0010 0000 0100 0001 0010 0000 0100 10001 0010 0000 0100 0111 0010 0000 0100 1111 0010 0000 0100 1101 0010 0000 0100 0001 0010 0000 0100 0100 0010 0000 0100 0101"

-TBC-

Di cut dulu sayang-sayangku #dibakarreader. Halo, apakabar? Maaf agak ngaret ya #sungkeman.

Sebelumnya saya mau ngucapin selamat lebaran, mohon maaf lahir batin. Idenya tertimbun opor sama ketupat lebaran, alhasil susah timbul dan mood nulisnya juga lagi gak bagus. Tapi, pas udah dapat ide buru-buru deh di ketik biar gak kabur lagi kaya Vkook yang sekarang lagi mudik #eaeaea.

Jadi rasa penasarannya sama cast baru terbayar, ya ^^ ini juga Jung Kook, tapi bukan Jeon Jung Kook, saya pernah nonton film bollywood yang apa gitu judulnya, si pemeran utama cowoknya meninggal, terus si pemeran utama ceweknya ketemu lagi sama seseorang yang mirip si cowok pemeran utama. Kan, di dunia ini kita juga katanya punya 7 kembaran, jadi gak ada yang gak mungkin kalo Jung Kook juga punya kembaran, padahal sejujurnya terlalu sayang sama Jung Kook, karena ini pan FF VKook, hahahahaha.

Ada yang bisa nebak kode biner di akhir ceritanya gak? Saya lagi belajar kode beginian, yang bisa nebak, saya bakalan kasih hadiah buat kalian satu FF. Couplenya bebas mau siapa aja ^^ ayo, yuk main teka-teki biar gak pusing mikirin ini FF kapan selesai :D

Saya tunggu reviewnya :*