Saigomade (Until The End)

Author : Vanilla Sky

Main cast :

Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)

Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

Hurt/comfort; shou-ai; romance

VKOOK punya saya! Cerita punya saya! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, saya manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D

Warning : yang bergaris miring berarti flashback ya ^^

A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan sudah saya kirim balasan cinta lewat review loh ^^ beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu

Spesial terima kasih pakai telor yang selalu menyempatkan review : YulJeon | vkookieuke | dumbshn | LivanaAeThelwine | teflon-nim | yayetoo | Nyonya Jung | yoitedumb | melizwufan | siscaMinstalove | ayumKim | pastael | | akmy | Jelbang | LuluArmy | Kayshone | KiranARMY | Viyomi

Dan terima kasih juga buat yang sudah memfollow dan memfavoritkan FF ini, juga buat yang masih seneng diem-diem baca (silent reader) terima kasih ya ^^

Saigomade (Until The End) © 2015

Vanilla Sky present

Chapter 5

-preview-

Kali ini nada bicara Tae Hyung meninggi, dan suara panggilan diputus secara sepihak pun membuat Tae Hyung menggeleng maklum. Ya, memang hampir satu minggu ini selalu menghindari Na Ra. Tae Hyung akan memberikan seribu alasan agar ia dan kekasihnya itu tidak bertemu untuk sementara waktu. Tae Hyung hanya bingung menjelaskan perasaannya saat ini. Semua terasa berbeda.

Ia kini merapikan ranselnya, memasukkan beberapa perlengkapan miliknya ke dalam ransel, kemudian pergi meninggalkan taman yang mulai ramai. Langkahnya terhenti manakala ia melihat sebuah benda berkilau mencuri perhatiannya. Sebuah kalung dengan bandul sepasang cincin platina. Tae Hyung mengedarkan pandangannya, berusaha menemukan siapa pemilik kalung tersebut. Tetapi, dengan cepat tatapannya tertuju pada tulisan di atas atas tanah.

"01010011 00100000 01000001 00100000 01001001 00100000 01000111 00100000 01001111 00100000 01001101 00100000 01000001 00100000 01000100 00100000 01000101"

.

Flashback

"Hyung, kau sedang apa?"

Jung Kook memerhatikan Tae Hyung yang sibuk berkutat dengan kertas dan ponselnya sedari tadi. Sesaat, Tae Hyung menoleh pada Jung Kook, dan memberi isyarat dengan melambaikan tangannya agar yang lebih muda mendekat.

"Apa itu kode biner?" Tae Hyung hanya mengangguk. "Untuk apa Hyung belajar kode biner?"

"Suatu saat, kode-kode yang kupelajari ini pasti akan berguna, Kook-ie," jelas Tae Hyung dengan senyum yang di kulum.

"Mengapa angkanya sangat rumit, Hyung? Coba jelaskan padaku, bagaimana cara membacanya?"

Tae Hyung mengacak surai Jung Kook gemas, membuat yang lebih muda berteriak heboh. "Ini mudah. Kau lihat deretan angka ini. Kode untuk huruf kapital menggunakan yang ini. Sedangkan kode untuk huruf kecil kau cukup pakai yang ini. Atau, kau bisa mengalikan satu persatu angka ini dengan memakai kelipatan dua pada setiap bilangan yang akan dikalikan. Karena ini ada tujuh digit, maka setiap angka dikalikan dengan kelipatannya, dan untuk angka terakhir kau kalikan dengan nol. Apa kau mengerti?"

Mendengar penjelasan Tae Hyung yang panjang lebar, Jung Kook hanya mengerutkan alisnya. "Tidak sama sekali, Hyung," ucapnya polos, membuat Tae Hyung hanya menepuk dahinya.

"Jadi, panjang lebar aku menjelaskan, kau tidak mengerti sama sekali? Astaga! Ya, Jeon Jung Kook, kau mau mengerjaiku, huh! Rasakan ini!" tanpa ampun, Tae Hyung menggelitik pinggang Jung Kook. "Rasakan!"

"Ampun Hyung, hahahaha." Jung Kook terus menggeliat geli saat Tae Hyung menggeltik pinggangnya tanpa ampun.

"Kau harus kuhu─"

Tae Hyung menghentikan acara menggelitik Jung Kook saat ponselnya berdering. Diam-diam, Jung Kook dapat melihat raut wajah Tae Hyung yang berbinar saat pemuda yang lebih tua darinya itu mengangkat telepon dan meninggalkannya sendirian.

"Selalu seperti itu," keluhnya dan kini ia menyandarkan kepalanya pada tepian sofa. kemudian tatapannya kembali tertuju pada kertas-kertas berisi kode biner yang sedang Tae Hyung pelajari tadi.

"Apa artinya kode-kode ini, Hyung? Apa karena Hyun Yeon kau berusaha keras mempelajari semua ini?"


Tae Hyung tersenyum ketika memandang deretan kode biner yang ia tulis kembali pada sebuah kertas memo. Jung Kook, mengapa Tae Hyung kini sangat merindukan berandal kecilnya yang menyebalkan itu? Dulu, Tae Hyung mati-matian belajar kode biner yang menurut Jung Kook rumit itu hanya agar ia bisa lebih dekat dengan Hyun Yeon; yang jelas-jelas gadis itu menyukai Jung Kook.

"SAIGOMADE. Artinya benar-benar mengingatkanku padamu, Kook. Apakah selama ini sikapku benar-benar menyakitimu?" Tae Hyung bermonolog seorang diri dengan tatapan matanya tetap tertuju pada selembar kertas memo di tangannya. "Aku... merindukanmu..."

Kelopak mata Tae Hyung tertutup, setetes liquid bening tanpa sadar membasahi pipinya yang berwarna kemerahan. Ini kali pertama Tae Hyung kembali menangis setelah kepergian Jung Kook, yang hampir satu tahun sudah meninggalkannya seorang diri dengan perasaan yang sampai saat ini sulit ia artikan. Bersalah, terluka, kecewa, dan... kehilangan.

"Dapatkah waktu bisa kuputar kembali tepat di mana masa itu masih ada kau?"

Isakannya samar-samar terdengar memilukan. Tae Hyung kali ini kalah, satu tahun ia berusaha terlihat kuat di depan siapapun. Tae Hyung kali ini menyerah, satu tahun sudah ia berusaha memendam semua sesak dan rasa bersalah itu seorang diri. Merasakan perihnya luka akibat kehilangan orang yang tanpa ia sadari bahwa dirinya pun mencintai Jung Kook. Tae Hyung kali ini mengakui bahwa dirinya tak lebih dari seorang yang rapuh dan berusaha menutupi lukanya dengan senyuman palsu yang ia manipulasi sedemikian rupa.

"Menangislah jika memang kau ingin menangis, Tae."

Seseorang memeluknya dari belakang. Tae Hyung tahu siapa yang memeluknya sekarang. Tae Hyung tahu tangan siapa yang mendekap hangat tubuhnya dari belakang. Kim Nam Joon, sosok yang selalu berusaha menjadi sahabat yang baik untuknya; walaupun bukan hanya Nam Joon di sana. Tetapi, selama ini Nam Joon lah yang paling mengerti keadaannya. Mengerti bagaimana kondisinya.

Yoon Gi pun tersenyum lirih tatkala ia melihat sendiri bagaimana rapuhnya seorang Kim Tae Hyung yang selama ini selalu tersenyum lebar dan tak pernah lelah menggodanya. Bahkan Ji Min, Seok Jin dan Ho Seok hampir saja menangis ketika mendengar Tae Hyung terisak seperti anak kecil saat ini.

"Hei, Bung. Kau tidak perlu lagi memendam rasa sesak itu seorang diri. Kami akan selalu ada untukmu," itu Ji Min yang berbicara dengan sebelah tangannya mengelus surai Tae Hyung.

"Jangan merasa sendiri mulai saat ini, Tae. Kau bisa menceritakan apapun pada kami," dan itu Seok Jin.

"Tidak ada aku atau pun kau, mulai saat ini hanya ada kita... sampai akhir," lalu yang berbicara dengan tatapan teduhnya itu adalah Ho Seok.

"Ya benar. Kau bisa menceritakan apapun pada kami, Tae," kemudian Yoon Gi yang kali ini berbicara.

"Dan akan aku pastikan jika kalian tidak akan mendapatkan waktu cukup untuk istirahat hanya karena mendengarkanku bercerita," seperti de javu, Yoon Gi merasa kalimat itu pernah diucapkan Jung Kook untuk yang terakhir kali.

"Yoon-ie Hyung mengapa menangis?" Ji Min mengelus surai blonde kekasihnya.

Yoon Gi pun menatap Ji Min sendu. "Hanya teringat Jung Kook. Entah kenapa aku pun sangat merindukannya. Sudah berapa lama kita tidak mengunjungi Jung Kook, Tae?" ucapnya disela isakan.

"Hampir satu bulan kita tidak mengunjungi Jung Kook, Hyung."

"Bagaimana jika besok kita ke sana. Aku ingin bertemu dengannya."

"Ya, tentu saja."

"Sudah-sudah, bukankah niat kita ke sini adalah berpesta?"

Semua terkekeh ketika Seok Jin berteriak dan tampak bersemangat. Dan Ho Seok pun terlihat menunjukkan sesuatu di tangannya, dua kantung berisi beberapa bahan makanan untuk membuat pesta barbeque.

"Mari kita berpesta!" teriak mereka kompak.


Jung Kook mendengus kesal, saat ini ia beserta Jong Woon, Hyun Hoon, dan Won Woo tengah duduk berbincang di teras belakang rumah. Jong Woon dan Won Woo sibuk mengobrol berbagai hal, keduanya sangat kompak ketika membicarakan perihal sepakbola. Sementara Jung Kook sendiri masih memerhatikan obrolan dua pria dihadapannya, namun ia tetap saja tidak mengerti. Jung Kook terkadang heran, ia juga seorang pria, tetapi mengapa ia lebih senang melakukan berbagai hal yang lebih feminim. Jung Kook pandai memasak, bakat alami yang diwariskan oleh sang Ayah padanya yang juga seorang koki terkenal dan saat ini menetap di Jepang bersama sang Ibu. Sementara Jong Woon, kegemarannya pada meracik kopi, membuat late art dan menjadi seorang barista adalah bakat yang diwariskan mendiang kakek mereka yang juga seorang barista hebat kala itu.

Aroma kopi yang diracik Jong Woon berbeda dengan kedai-kedai kopi lain yang biasa menjajakan kopi sebagai menu utama. Jong Woon itu pelit, bahkan sampai sekarang Jung Kook penasaran resep rahasia apa yang membuat kopi racikan sang kakak begitu enak dan unik.

"Kau benar-benar akan pergi besok, Woo? Kenapa tidak minggu depan saja?" tanya Jong Woon pada Won Woo, pemuda yang merupakan kekasih dari adiknya itu.

"Tidak bisa Hyung. Jung Soo Hyung membutuhkanku untuk membantunya di rumah sakit. Ya itu juga agar aku terbiasa ketika nanti sudah mendapatkan gelar dokter dan bekerja di sana."

Park Won Woo, adik dari sahabat Jong Woon, Park Jung Soo; dokter yang pernah menjadi dokter pribadi Jung Kook ketika di Jepang. Won Woo dan Jung Kook telah mengenal satu sama lain sejak pemuda manis itu menjadi pasien sang kakak. Jung Kook awalnya adalah sosok yang begitu tertutup, namun karena pembawaan Won Woo yang ceria, lambat laun, akhirnya Jung Kook bisa membuka diri dan mempercayai orang selain kakak dan kedua orang tuanya.

"Jadi kau tega meninggalkanku sendirian, Hyung? Jahat sekali..."

Won Woo terkekeh ketika mendengar rajukan Jung Kook. "Hanya satu tahun, Baby. Jika kau rindu padaku, kau 'kan bisa pulang ke Jepang."

"Sebenarnya kekasihmu ini aku atau rumah sakit? Atau jangan-jangan kau pulang karena rindu pada perawat berdada bes-aww! Mengapa Noona memukulku?!"

"Ucapanmu itu frontal sekali, Tuan Kim? Siapa yang mengajarkan perkataan seperti itu, huh?!"

Dengan polos Jung Kook menunjuk Jong Woon. Membuat kakaknya itu harus menerima cubitan menyakitkan dari Hyun Hoon.

"Kau akan baik-baik saja 'kan selama aku tidak ada?" Won Woo mengusap lembut surai cokelat madu milik Jung Kook.

"Tolong tetaplah di sini. Jika perlu Hyung pindah kuliah saja di sini."

Won Woo menggeleng, kemudian membawa tubuh kecil Jung Kook ke dalam pelukannya. "Mana bisa begitu, Baby. Bukankah lusa nanti kau sudah masuk kuliah, eoh? Jangan meninggalkan ponsel, kau juga tidak boleh pergi seorang diri. Jika hendak pergi, ajaklah Min Seok Hyung bersamamu."

Jung Kook mengangguk. Kali ini tidak ada celotehan dari bibirnya. Si manis hanya membalas pelukan Won Woo. "Hyung juga jaga kesehatan. Jika ada waktu sempatkan untuk menghubungiku."

"Tentu saja. Aku tidak akan lupa menghubungimu sesibuk apapun aku di sana, bahkan jika ada perawat berdada besar sekali pun menggodaku."

"Hyung!"

"Hahahaha... tidak-tidak, aku hanya bergurau, Jung-ie." Won Woo, Jong Woon, bahkan Hyun Hoon tertawa kompak, menganggu Jung Kook memang kegiatan yang paling mereka sukai.

"Aku benci kalian!" setelahnya Jung Kook pergi. "Pulang saja sana ke Jepang, dan goda saja perawat berdada besar itu, Park Won Woo idiot!"


"Benar tidak apa-apa, Jung-ie? Jika memang kau belum siap, Hyung tidak akan memaksamu untuk masuk universitas hari ini. Biar nanti Hyung berbicara dengan Hee Chul Hyung agar kau bisa masuk kelas khusus."

Jung Kook menggeleng, sekilas ia alihkan tatapannya kembali untuk memandangi gedung universitas yang nantinya akan menjadi tempat kuliah barunya. Jung Kook bukan tidak siap, hanya saja ia merasa gugup. Ini kali pertama ia kembali memulai kehidupannya, bertemu orang baru, dan harus berinteraksi dengan lingkungan dan teman-teman baru.

"Bagaimana? Apa kau benar-benar siap?" tanya Jong Woon, memastikan bahwa keinginan Jung Kook untuk melanjutkan kuliahnya di Korea adalah pilihan yang nantinya tidak membahayakan kondisi adiknya itu.

"Aku siap, Hyung," ucap Jung Kook mantap. Kemudian ia membuka pintu mobil setelah Jong Woon lebih dahulu keluar dari dalam mobil.

"Hyung akan mengantarmu menuju ruang dosen dan rektor di sini."

Jung Kook hanya mengangguk dan terus mengekori Jong Woon yang berjalan lebih dulu. Ekor matanya terus menatap sekitar tatkala beberapa mahasiswa yang berada di koridor terus memerhatikannya.

"Jong Woon Hyung!"

Jong Woon melambaikan tangannya, tersenyum kepada seseorang yang menurut Jung Kook tak asing. Pemuda yang kini tengah tersenyum lebar pada Jong Woon pun berjalan mendekati mereka. Kemudian acara berpelukan pun terjadi untuk beberapa saat, mungkin menurut Jung Kook pemuda itu adalah teman Jong Woon.

"Apa yang sedang Hyung lakukan di sini?" tanya pemuda yang berdiri tepat di depan Jong Woon.

"Mengantar adikku. Seok-ie, mengapa kau tidak pernah mengatakan bahwa kau berkuliah di universitas ini, eoh? "

"Ey, kau bahkan tidak pernah peduli padaku, Hyung. Kakak ipar macam apa Hyung ini."

Jong Woon terkekeh. Dan Jung Kook sendiri hanya mengangguk, rupanya pemuda dihadapannya itu adalah adik ipar Jong Woon; adik dari Hyun Hoon. Tapi Jung Kook sendiri memang tidak pernah bertemu secara langsung dengan adik Hyun Hoon. Hanya saja Hyun Hoon memang sering menceritakan padanya bahwa mempunyai adik kandung yang berbeda usia satu tahun di atasnya.

"Lalu, di mana adik yang kau ceritakan itu, Hyung?"

Jong Woon menoleh pada Jung Kook yang masih bersembunyi dibalik punggungnya. "Jung-ie, ini Jung Ho Seok, adik dari Hyun Hoon Noona. Ayo beri salam pada saudaramu," dengan malu-malu, Jung Kook akhirnya mengulurkan tangannya dan disambut senang oleh Ho Seok.

"Senang bertemu dengan Hyung. Namaku, Kim Jung Kook."

Ho Seok terperangah saat tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya. Mata, bibir, hidung, bahkan kontur wajahnya memang benar-benar mirip dengan Jung Kook. Tak salah jika Yoon Gi berkata bahwa pemuda dihadapannya ini memang reinkarnasi dari Jeon Jung Kook. Hanya saja dari penjelasan yang Tae Hyung katakan, meskipun wajah mereka memiliki kemiripan yang sangat kentara, namun tatapan keduanya berbeda. Kim Jung Kook yang saat ini berdiri dihadapannya tidak memiliki tatapan jenaka seperti tatapan milik Jeon Jung Kook.

"Ah, senang bertemu denganmu, Jung Kook. Aku, Jung Ho Seok."

"Seok-ie, sepertinya Hyung dan Jung Kook harus menemui Profesor Hee Chul. Kau mau ikut atau..."

"Aku harus pergi Hyung, ada rapat klub hari ini. Sampai bertemu lagi, Jung Kook."

"Mampirlah nanti malam ke rumah, sering-sering juga menginap di rumah agar Jung Kook mempunyai teman!"

"Aye aye captain!"

Setelah kepergian Ho Seok, Jong Woon menarik lengan Jung Kook menuju ruangan rektor universitas yang merupakan sahabat lamanya, Kim Hee Chul.

"Kau pasti akan kerasan kuliah di sini, Jung. Ayo!"


"Di mana?"

Jung Kook terus mencari, berusaha menemukan sebuah benda yang menurutnya sangat penting. Hampir satu jam ia mengacak kamarnya, beberapa barang berserakkan di lantai, namun tetap saja benda tersebut tidak ia temukan. Padahal tadi pagi ia memakainya, dan bahkan ketika mandi pun ia rasa ia tak melepaskan benda tersebut pada lehernya. Atau jangan-jangan Jung Kook sendiri baru menyadari bahwa benda itu sebenarnya sudah hilang, tetapi ia tidak menyadari.

Tubuhnya kini ia rebahkan di atas ranjangnya yang terlihat kacau. Sejenak ia menutup matanya, berusaha mengingat kapan terakhir kali dirinya memakai benda itu.

"Taman!"

Jung Kook segera berdiri, kemudian berlari keluar dari kamarnya, bahkan ia sempat menghiraukan teriakkan Jong Woon yang memanggilnya di ruang tengah. Jung Kook berjalan tergesa, menuju garasi untuk mengambil sepeda lipat miliknya.

"Hyung, aku pergi sebentar!" teriaknya.

Ia terus mengayuh sepedanya, untunglah jarak antara komplek perumahan yang ia tempati dengan taman kota cukup dekat, sehingga hanya membutuhkan waktu lima belas menit, dan ia pun sampai di sana.

Sepi, itulah yang terlihat sekarang. Sekilas, Jung Kook melirik arloji di tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Udara pun cukup membuatnya bergidik, salahkan dirinya yang lupa memakai pakaian hangat sebelum pergi keluar rumah. Ia mulai berjalan menelusuri taman yang sepi. Dengan penerangan dari senter yang ia bawa, Jung Kook kembali ke tempat di mana ia terakhir kali berada sebelum Won Woo mengajaknya pergi.

"Kalau tidak salah di dekat perosotan itu aku membuat guratan kode biner. Mungkin kalungnya tidak sengaja aku jatuhkan di sana."

Jung Kook terus melangkah, ya di sana memang terdapat deretan kode biner buatannya. Namun, ia sama sekali tidak menemukan benda kesayangannya itu di mana pun. Jung Kook kembali berjalan, memutar, bahkan menelusuri lorong perosotan dan berharap benda itu dapat ia temukan.

"Di mana kalung itu? Ya Tuhan, mengapa aku bisa sampai menghilangkannya..." ucapnya terlihat putus asa.

Jung Kook akhirnya berhenti mencari, dengan kaki di tekuk, ia menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya.

Puk...

Jung Kook menengadahkan wajahnya saat ia merasakan seseorang melemparinya dengan kerikil.

Puk...

Lagi, seseorang kini melemparinya dengan bekas bungkus permen.

Puk...

Jung Kook bergidik ngeri, dan kembali, ia mendapat lemparan. Namun bukan kerikil atau pun bekas bungkus permen. Kepalanya ia tolehkan ke belakang, kemudian matanya tertuju pada sebuah gumpalan kertas di bawah kakinya. Jung Kook meraihnya, dan segera membuka gumpalan kertas tersebut, ada deretan kode biner yang tertulis rapi di gumpalan kertas tersebut...

-SAIGOMADE.

-TBC-

Hwa! Long time no see #watados #digebukinreader

Maaf ya, hampir dua pekan ini saya menghilang dan ngaret update lanjutan Saigomade #sujudampun. Masuk ajaran baru benar-benar sibuk, soalnya memang sedang menikmati masa di mana acara perkenalan dengan para anak-anak baru di kelas itu sangat menyenangkan. Dan sibuk dengan adminstrasi dan persiapan akreditasi sekolah pula yang akhirnya saya baru sempat posting lanjutannya #pundung

Oke, terima kasih banyak yang kemarin dan kemarin lalunya coba tebak kode binernya dan membenarkan satu kesalahan fatal di kode binernya #kasihcium. Tapi berhubung, pemenangnya minta couple straight dan gak mungkin saya share juga Ffnya di FFN, alhasil yang mau juga nanti baca FF straight saya bisa cek di wattpad ya :D selamat untuk LivanaAeThelwine ^^

Banyak yang tebakannya benar loh, iya emang jawabannya SAIGOMADE yang tak lain dan tak bukan adalah judul FF itu sendiri :D tapi itu justru kode loh, kode yang akhirnya mempertemukan Tae Hyung dan Jung Kook di chapter selanjutnya. Kenapa pake kode biner, dan banyak yang keinget sama FF Exobubz yang 10080 kan ya, itu kode binernya emang terinspirasi dari FF itu kok, asli keren Ffnya, dan sequel dari FF 10080 pun juga keren, ada yang sudah baca? #ketahuanChanBaekShipper

Banyak bertabur bintang BB juga 'kan, hohohoho. Tuh udah muncul Won Woo Seventeen, Xiu Min EXO juga ada nyempil, nah Hee Chul SUJU juga dong. Ada yang kenal Won Woo Seventeen? Bukan bias seh, tapi saya coba ikutin saran seorang sahabat yang memang ahli di bidang percouplean (?) yang akhirnya memutuskan Won Woo sebagai rival berat Tae Hyung nantinya :D

Yuk ah, kasih saya suntikan semangat, pake kritik sama saran juga boleh. Cium juga boleh, asal jangan lamar saya aja, soalnya sudah punya Mas Yesung #kabursebelumdirajam