Saigomade (Until The End)
Author : Vanilla Sky
Main cast :
Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)
Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)
BTS members
Hurt/comfort; shou-ai; romance
VKOOK punya saya! Cerita punya saya! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, saya manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D
Warning : yang bergaris miring berarti flashback ya ^^
A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan sudah saya kirim balasan cinta lewat PM loh ^^ beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu
Spesial terima kasih pakai telor yang selalu menyempatkan review : Guest || dumbshn || Kira Llawliet || Albino's Deer || Kim Aryn || Viyomi || YulJeon || yoitedumb || KiranARMY || Double BobB.I || vkookieuke || ayumkim || LivanaAethelwine || jelbang(Punniepun251) | Jiminie24
Dan terima kasih juga buat yang sudah memfollow dan memfavoritkan FF ini, juga buat yang masih seneng diem-diem baca (silent reader) terima kasih ya ^^
Saigomade (Until The End) © 2015
Vanilla Sky present
Chapter 6
-preview-
"Di mana kalung itu? Ya Tuhan, mengapa aku bisa sampai menghilangkannya..." ucapnya terlihat putus asa.
Jung Kook akhirnya berhenti mencari, dengan kaki di tekuk, ia menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Puk...
Jung Kook menengadahkan wajahnya saat ia merasakan seseorang melemparinya dengan kerikil.
Puk...
Lagi, seseorang kini melemparinya dengan bekas bungkus permen.
Puk...
Jung Kook bergidik ngeri, dan kembali, ia mendapat lemparan. Namun bukan kerikil atau pun bekas bungkus permen. Kepalanya ia tolehkan ke belakang, kemudian matanya tertuju pada sebuah gumpalan kertas di bawah kakinya. Jung Kook meraihnya, dan segera membuka gumpalan kertas tersebut, ada deretan kode biner yang tertulis rapi di gumpalan kertas tersebut...
-SAIGOMADE.
.
Jung Kook berdiri, kemudian memundurkan langkah, tangannya sedari tadi hanya mengepal serta meremas kertas memo dalam genggamannya. Arti kode biner itu adalah kode yang ia buat di atas tanah kemarin. Pandangannya menatap sekeliling, berusaha mencari sosok manusia yang dengan sengaja membuatnya ketakutan setengah mati. Jung Kook berusaha megatur napasnya, ia tidak bisa berteriak sekarang, Jong Woon tidak di sini bersamanya, dan tidak ada yang dapat menolongnya. Satu-satunya hal yang harus ia lakukan adalah berlari, kemudian pulang secepatnya; persetan dengan kalung yang tidak berhasil ditemukan. Jung Kook kemudian berbalik, dan hendak berlari, namun...
"Hei!"
Pemuda manis itu bergidik ngeri saat suara berat seseorang di belakangnya menyapa indra pendengarannya. Ia takut untuk menoleh, dan yang Jung Kook lakukan saat ini hanyalah diam seperti patung.
"Hei, manusia kode biner!"
Jung Kook masih bergeming, berusaha tak memedulikan teriakan seseorang yang entah mengapa dapat Jung Kook rasakan jika aura seseorang itu kini mendekat padanya.
"Hei, anak kecil."
Apa? Tolong katakan sekali lagi pada Jung Kook. Apakah sekarang orang yang berada di belakangnya itu baru saja memanggilnya anak kecil? Hei! Seseorang tolong ralat, Jung Kook saat ini sudah berusia 20 tahun dan legal. Serta tolong teriakan pada Paman mesum dengan suara berat di belakang Jung Kook agar menarik kembali ucapannya tadi.
"Hei, anak kecil. Apa kau tuli?"
Demi Tuhan, Jung Kook benar-benar ingin menendang selangkangan Paman mesum bersuara berat itu sekarang. Dengan perasaan kesal Jung Kook menoleh, dan hendak menyumpah serapahi manusia bermulut sialan di belakangnya itu, tetapi...
"Hai," senyum manis yang menyapa indra pengelihatannya sekarang. Sepasang onyx kelam yang memesona, rahang yang tajam, serta bibir kissable yang... astaga! Mengapa ia jadi memikirkan hal yang tidak-tidak?
"Apa kau bisu, anak kecil? Di mana orang tuamu?"
Ya Tuhan, demi bebek karet ungu milik Jong Dae yang merupakan tetangga sebelah rumahnya. Apakah saat ini orang yang berada dihadapannya tersebut buta? Mengapa selalu mengatakan 'anak kecil'? Jelas saja Jung Kook tak terima.
"Apa kau tersesat? Mari kuantar ke kantor polisi untuk menemukan orang tuamu."
Jung Kook menghempaskan tangan orang asing yang berani menarik tangannya, menatap tajam pemuda yang ia klaim sebagai Paman mesum bersuara berat.
"Lepaskan! Dan aku bukan anak kecil!"
Orang di hadapan Jung Kook kini terkekeh renyah. Sepertinya tengah meragukan pernyataan Jung Kook tadi.
"Hei, aku bukan anak kecil, Paman mesum!"
"Ya! Kau bilang apa tadi?"
"PAMAN MESUM! APA KAU TULI?"
"Astaga! Aku masih berusia 20 tahun asal kau tahu!" pekik orang itu pada Jung Kook.
"Benarkah? Mengapa suaramu sangat menakutkan seperti Paman mesum yang tengah mencari mangsa anak-anak, huh?!"
"KAU! YA TUHAN, MENGAPA AKU HARUS BERTEMU DENGAN MAKHLUK KERDIL MENYEBALKAN SEPERTI DIRIMU?!"
"Hentikan berteriak di samping telingaku, Paman mesum! Suaramu seperti alien aneh yang membuat telingaku sakit!"
Tae Hyung-orang yang tengah berdiri di hadapan Jung Kook-hanya menghelas napasnya pasrah. Percuma sepertinya berdebat dengan makhluk yang menyerupai Jung Kook-namun menyebalkan seperti gadis yang akan direnggut kesuciannya-yang Tae Hyung sempat mempunyai pemikiran bahwa anak ini sangat manis dan lucu.
Keduanya terdiam, mengatur napas masing-masing setelah acara mari berteriak bersama mereka selesai satu menit yang lalu. Tae Hyung akui jika ia tak bisa melewatkan satu detik pun untuk mengalihkan perhatian dari makluk manis yang sedikit menyebalkan ini.
"Kau..." keduanya berbicara bersamaan, kini menimbulkan aura kecanggungan di antara keduanya.
"Mmm... apa yang kau lakukan malam-malam begini di taman?"
Jung Kook mengernyit, melupakan sejenak kekesalannya pada Tae Hyung, yang jika dilihat dari jarak sedekat ini memang sangat tampan seperti pemeran utama dalam manga Jepang favoritnya.
"Bukan urusanmu," jawabnya tak acuh. Namun Jung Kook dapat mendengar jika Tae Hyung terkekeh. "Mengapa kau menertawakanku?!" protesnya.
"Kau dan aku bahkan baru saja bertemu, mengapa perkataanmu sangat tidak sopan, eoh?" tangan Tae Hyung menyentil kening Jung Kook, membuat pemuda dihadapan Tae Hyung itu memekik heboh.
"Singkirkan tanganmu dari keningku, bodoh! Wajar jika aku berbicara tidak formal padamu, karena aku juga 20 tahun!" ucap Jung Kook menekankan usianya agar terdengar oleh Tae Hyung.
"Fffhhh... kau... 20 tahun? Yang benar saja, hahahahahha."
Demi celana boxer bercorak polkadot merah muda milik Jong Woon, Jung Kook seperti mendapat penghinaan besar karena lagi-lagi orang asing yang ia temui selalu mempermasalahkan, dan tak percaya bahwa dirinya memang sudah dewasa. Hei, salahkan Hyun Hoon yang selalu membelikan pakaian Jung Kook yang kebanyakan memang selalu terlihat manis jika pemuda berpipi gembul itu memakainya. Sepertinya sepulang nanti ia harus protes pada kakak ipar tersayangnya itu.
"Kau menyebalkan! Aku bersumpah tidak ingin bertemu denganmu lagi. Dasar alien aneh!"
Jung Kook menghentakkan kakinya kesal, berbalik, dan kemudian berjalan meninggalkan Tae Hyung yang masih tertawa. Ia kesal bukan main, harga dirinya seperti diinjak-injak; oke ini terdengar berlebihan, dan Jung Kook sudah kehilangan mood untuk mencari kalung kesayangannya itu.
"Hei, apa kau tahu jika malam-malam begini taman ini akan berubah menyeramkan?"
Teriakan Tae Hyung sukses membuat langkah Jung Kook terhenti. Jung Kook itu selain benci diolok, ia pun tak menyukai hal-hal yang berbau horor, apalagi cerita legenda hantu yang konon benar keberadaannya. Perlahan, Jung Kook membalikkan tubuhnya, namun ia tak menemukan pemuda aneh itu di sana. Tubuhnya secara refleks bergetar, ia bahkan hampir menangis ketika mengetahui Tae Hyung mengejutkannya dari belakang.
"Arght! Hantu! Jong Woon Hyung!" teriak Jung Kook histeris dan akhirnya benar-benar menangis.
"Ya Tuhan! Mengapa kau menangis, kerdil?" Tae Hyung panik saat isakan Jung Kook semakin kencang.
"Hwa! Aku ingin pulang!"
Tae Hyung merasa bersalah sekarang, mengapa di saat pertemuan pertama mereka secara langsung, Tae Hyung justru mengacaukan segalanya. Dihadapannya, pemuda yang sebaya dengannya itu masih menangis tersedu, menundukkan wajahnya dengan bahu yang bergetar.
"Maafkan aku. Kukira tadi menjahilimu itu sangat menyenangkan, tapi sepertinya aku sudah keterlaluan, ya? Maaf..."
Jung Kook menghentikan tangisnya, kemudian ia menengadah dan menatap Tae Hyung. "Aku ingin pulang..."
"Ya?"
"Aku ingin pulang, Tuan alien. Bisakah kau mengantarku?"
Tatapan polos itu entah mengapa seperti menghipnotis Tae Hyung, membuatnya menjadi tak tega untuk tak memedulikan permintaan memelas Jung Kook.
"Baiklah. Di mana rumahmu?"
Tidakkah Tuhan itu adil? Ketika satu milik-Nya yang lain diambil, maka datang satu yang lain untuk memberinya sebuah kesempatan yang belum sempat diucapkan. Tae Hyung percaya itu, Tae Hyung tahu jika saat di mana ia bisa menepati janji untuk menjaga Jung Kook sampai akhir pun kembali Tuhan berikan untuknya.
Tae Hyung terus menatap punggung pemuda mungil yang kini berjalan dengan menuntun sepeda di depannya. Sesekali, Tae Hyung pun tersenyum manakala pemuda manis itu menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa dirinya masih berada di sana.
"Siapa namamu?" kalimat itu yang akhirnya keluar dari belah bibir Tae Hyung setelah keduanya hanya melakukan aksi tutup mulut, serta memilih larut dalam keheningan.
"Jung Kook."
Apa Tae Hyung terkejut? Ya, tentu saja. Buktinya sekarang Tae Hyung menghentikan langkahnya, membuat si mungil yang berjalan di depannya itu pun menoleh.
"Ada apa? Mengapa semua orang yang bertemu denganku akhir-akhir ini selalu terkejut saat tahu namaku? Apakah namaku ini terdengar pasaran?" tanya Jung Kook bingung, membuat Tae Hyung kembali tersadar dari lamunannya.
"T-tidak, namamu bagus."
"Lalu, siapa namamu?"
Tae Hyung kini berjalan lebih cepat untuk menyamakan langkahnya dengan Jung Kook. "Tae Hyung. Namaku, Jeon Tae Hyung," tangannya kini terulur, menunggu Jung Kook untuk membalas uluran tangannya.
"Pertemuan yang aneh, ya? Walau kau sangat menyebalkan, tapi... senang bertemu denganmu, Tae Hyung. Aku, Kim Jung Kook," tangan Jung Kook pun terulur untuk membalas Tae Hyung. Keduanya tersenyum dalam diam.
Benarkan, Tuhan itu adil. Buktinya Tuhan mempertemukan kembali dirinya dengan wajah yang sama, senyum yang sama, namun sayang tatapan Jung Kook berbeda dengan tatapan Jung Kook-nya.
"Ini rumahku. Terima kasih banyak sudah menemaniku. Sampai bertemu lagi, Tae Hyung!"
Tae Hyung hanya membalas lambaian tangan Jung Kook, dan terus memerhatikan pemuda manis itu sampai menghilang di balik pintu rumahnya yang besar. Rupanya jarak tempat tinggal Jung Kook dan dirinya hanya berbeda komplek saja, namun masih satu kawasan, serta satu arah. Tae Hyung kemudian berbalik, berjalan kembali untuk pulang. Sepertinya ia akan mendapatkan mimpi indah malam ini.
"Semua orang membicarakannya. Hampir seisi kelas mengatakan bahwa mahasiswa pindahan dari Jepang itu benar-benar manis. Kau tahu, aku sangat gemas ketika melihat sepasang matanya berkedip cantik. Padahal ia laki-laki sama seperti kita, tapi aku berani bertaruh kali ini, bahwa kecantikannya bahkan melebihi, Lu Han."
Yoon Gi menatap teman sekelasnya Gi Kwang yang tengah sibuk membicarakan mahasiswa pindahan yang katanya akan menjadi teman satu kelas dengannya dan Seok Jin.
"Apa yang sedang kau bicarakan? Mahasiswa pindahan?"
"Ya. Namanya Kim..."
"Saya mohon untuk tenang sebentar."
Pak Hee Chul masuk ke dalam kelas. Rektor mereka yang terkenal sangat menyebalkan itu datang dengan mengintrupsi seluruh mahasiswa untuk duduk dengan tenang.
"Masuklah."
Yoon Gi sendiri menoleh pada seseorang yang kini berjalan ke dalam kelas. Bibir, mata, bahkan parasnya memang seperti Jung Kook. Hanya penampilan yang membedakan Jung Kook-nya dengan si manis yang kini berdiri di samping Pak Hee Chul.
"Kalian kedatangan teman baru. Silahkan kenalkan dirimu, Nak."
"H-halo, namaku Kim Jung Kook. Senang bertemu dengan kalian semua," ucapnya malu-malu.
"S-siapa? Jin, apa aku tidak salah dengar?" tanya Yoon Gi pada Seok Jin hanya terus memandangi Jung Kook.
"Namanya Kim Jung Kook, Yoon-ie. Jung Kook!"
"Ya, Seok Jin. Apa kau ingin bertanya sesuatu pada, Jung Kook?" tanya Pak Hee Chul saat mendengar teriakan Seok Jin.
"Ah, maafkan saya, Pak. Saya hanya terkejut."
"Baiklah, Jung Kook kau boleh duduk di samping Chan Yeol."
Jung Kook berjalan melewati Yoon Gi dan Seok Jin yang masih terdiam, namun tetap memandanginya tanpa berkedip sedikit pun. Jujur saja, Jung Kook sangat takut pada dua teman barunya itu. Apalagi pada Yoon Gi yang tempo lalu pernah memeluknya. Kemudian ia duduk di kursi yang berada di dekat jendela; menghadap langsung ke bawah lapangan basket.
"Halo, apakah kami boleh duduk di sini?" Jung Kook menoleh, menatap takut pada Yoon Gi dan Seok Jin yang kini tengah duduk melingkari dirinya.
"H-halo..." ucapnya gugup.
"Hei, namaku Min Yoon Gi. Kau pasti masih merasa ketakutan jika melihatku. Maafkan sikapku waktu itu, Jung Kook-sshi," ujar Yoon Gi tulus.
"Aku, Kim Jung Kook. Senang bertemu denganmu."
"Dan aku, Kim Seok Jin. Benar kata Yoon Gi, kau memang mirip sahabat kami, Jung Kook-sshi. Bukan hanya wajah yang mirip, tapi nama pun sama, hanya saja marga kalian berbeda. Jung Kook kami itu pembuat onar, tapi Jung Kook ini sangat manis."
Jung Kook tersenyum canggung, ia masih belum terbiasa, dan belum bisa beradaptasi dengan lingkungan serta teman barunya. Andai saja ia dan Kyung Soo satu universitas, mungkin dirinya akan merasa lebih baik daripada saat ini.
"Ah, maafkan Jin yang terlalu banyak bicara, Jung Kook-sshi."
Jung Kook menggeleng. "Tidak apa-apa."
"Oh ya, berapa usiamu, Jung Kook-sshi?" tanya Yoon Gi yang kini merapatkan kursinya untuk lebih dekat dengan Jung Kook.
"Usiaku 20 tahun."
"Tidak kusangka ternyata kau sebaya dengan Tae Hyung dan Ji Min."
Jung Kook mengerutkan dahinya. "Tae... siapa?"
"Namanya Jeon Tae Hyung, dia sahabat kami juga, hanya berbeda fakultas."
Jung Kook terdiam saat mendengar celotehan Seok Jin tentang seseorang bernama Jeon Tae Hyung. Sepertinya nama tersebut tak asing baginya. Ia bahkan rasanya pernah mendengar nama itu kemarin malam. Dan mungkin...
"Ah, Tae!"
Seseorang yang dipanggil Yoon Gi berjalan menghampiri mereka. Jung Kook masih tak menunjukkan reaksi apapun saat Tae Hyung tersenyum ke arahnya, dan kini duduk di samping Seok Jin.
"Kau? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Tae Hyung dengan sebelah tangannya meraih pena milik Jung Kook.
"Jung Kook ini teman sekelas kami, Tae." Tae Hyung hanya mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Seok Jin.
"Hyung, sebaiknya kita ajak saja Jung Kook ke kantin. Bukankah Nam Joon, Ji Min, serta Ho Seok belum bertemu dengan makhluk manis ini?"
Yoon Gi lagi-lagi seperti terobsesi pada Jung Kook, dan jujur saja membuat si manis sedikit risih. Sementara Seok Jin dan Yoon Gi masih mengobrol, Jung Kook sendiri kemudian menolehkan pandangannya pada Tae Hyung yang duduk diam tanpa peduli sedikit pun pada dua pemuda dihadapannya itu.
Secara spontan, Jung Kook mengulurkan tangannya, menarik ujung kemeja yang dipakai Tae Hyung; namun tanpa sepengetahuan Yoon Gi dan Seok Jin. Tae Hyung yang sadar dengan apa yang dilakukan Jung Kook padanya hanya menoleh dan menatap Jung Kook bingung.
'Bisakah kau membawaku ke tempat di mana tidak ada kegaduhan, Tae?' melihat isyarat bibir Jung Kook, Tae Hyung pun hanya mengangguk dan kemudian menarik sebelah tangan Jung Kook.
"Tae, kau mau bawa kemana bocah manis itu?" itu Seok Jin yang berteriak.
"Aku pinjam Jung Kook sebentar, Hyung. Sepertinya kelinci manis ini membutuhkan kamar mandi."
Dan satu pukulan mendarat di bahu Tae Hyung, tentu saja pelakunya tak lain adalah Jung Kook.
"Kau sudah aman sekarang, Tuan Kim. Dan kau berhutang sesuatu padaku."
Jung Kook menoleh, menatap Tae Hyung. "Aku ucapkan terima kasih banyak, Tuan Jeon. Tapi maaf, aku tidak membawa uang lebih untuk membayarmu."
"Tsk, kau pikir hanya dengan uang kau harus membayar, eoh? Traktir saja aku es krim sepulang kuliah nanti, bagaimana?"
"Tapi, aku bahkan belum mengenalmu secara dekat. Bagaimana bisa..."
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Oh ya, jika boleh aku tahu, sebenarnya pada malam itu, apa yang kau lakukan di taman seorang diri?"
Jung Kook menghela napas berat, ia menundukkan kepalanya. "Kalung."
Tae Hyung sendiri hanya mengernyit. "Kalung?"
"Ya. Sebuah kalung yang sangat berharga bagiku."
"Seperti apa ciri-ciri kalungmu itu?"
"Kalung itu memiliki bandul sepasang cincin platina."
Tae Hyung tampak merogoh saku celananya, mengeluarkan sesuatu dari dalam sana. Dan...
"Apakah kalung ini yang kau maksud?"
Jung Kook hanya membelalakan matanya, merasa tak percaya jika benda yang Tae Hyung keluarkan tersebut adalah miliknya yang sangat berharga.
"Tae, darimana kau menemukan kalung ini?"
"Di tempat kau menulis kode biner. Mungkin kalung itu terjatuh tanpa kau sadari. Begitu pentingkah?"
Jung Kook mengangguk. "Sangat penting. Ini benda terakhir dari seseorang ya..."
"Spesial untukmu?"
Jung Kook terdiam, maniknya kemudian menatap sepasang onyx kelam Tae Hyung yang terlihat memesona.
"Maaf... kurasa aku terlalu jauh mencampuri urusanmu, Jung Kook-sshi."
"Tidak apa-apa. Dan berhenti memanggilku dengan sebutan formal seperti itu, Tae Hyung."
Keduanya lantas terkekeh. Tak seburuk yang Jung Kook bayangkan, karena di hari pertama ia menjadi mahasiswa baru, ia sudah mendapat seseorang yang menyenangkan seperti Tae Hyung. Ya, anggap saja Tae Hyung itu menyenangkan.
"Tae, mengapa Seok Jin mengatakan bahwa aku mirip dengan seseorang. Apa kau mengenal seseorang yang dimaksud, Seok Jin?"
-TBC-
Di cut dulu ya, takut kepanjangan dan nantinya malah bosen lagi bacanya. Maaf agak ngaret juga publishnya, maklum sayanya lagi galau mikirin suami yang selfie bareng sama mbak mantan -_- #kicepinmasYeye
Gimana? Udah banyak 'kan moment Vkooknya? Oke, saya tahu kalau ini flat banget kaya muka Leo #ditabok -_- mudah-mudahan gak bosen nungguin lanjutannya ya :D
Langsung aja mampir di kotak review buat kasih saya hadiah semangat ^^ silahkan kritik dan saran masih saya tunggu, tentu kritik dan saran yang membangun ya darling :*
Sampai jumpa di chapter 7 #kibasponi
