Saigomade (Until The End)
Author : Vanilla Sky
Main cast :
Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)
Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)
BTS members
Hurt/comfort; shou-ai; romance
VKOOK punya saya! Cerita punya saya! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, saya manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D
Warning : yang bergaris miring berarti flashback ya ^^
A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan maaf tidak bisa balas satu persatu review kalian lewat PM seperti biasa ^^ beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu. Dan terima kasih juga buat yang sudah memfollow dan memfavoritkan FF ini, juga buat yang masih seneng diem-diem baca (silent reader) terima kasih ya ^^
Saigomade (Until The End) © 2015
Vanilla Sky present
Chapter 7
-preview-
"Maaf... kurasa aku terlalu jauh mencampuri urusanmu, Jung Kook-sshi."
"Tidak apa-apa. Dan berhenti memanggilku dengan sebutan formal seperti itu, Tae Hyung."
Keduanya lantas terkekeh. Tak seburuk yang Jung Kook bayangkan, karena di hari pertama ia menjadi mahasiswa baru, ia sudah mendapat seseorang yang menyenangkan seperti Tae Hyung. Ya, anggap saja Tae Hyung itu menyenangkan.
"Tae, mengapa Seok Jin mengatakan bahwa aku mirip dengan seseorang. Apa kau mengenal seseorang yang dimaksud, Seok Jin?"
.
"Tae?"
Tae Hyung tersentak, kemudian tatapannya ia alihkan ke arah Jung Kook yang memandangnya bingung. Ia berusaha tersenyum, berusaha menutupi sesuatu yang memang tak seharusnya diketahui oleh Jung Kook untuk saat ini.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi. Kapan-kapan aku akan jelaskan siapa seseorang yang di katakan Seok Jin Hyung. Sampai bertemu lagi, Jung Kook."
Tae Hyung berjalan meninggalkan Jung Kook, menyisakan tanda tanya besar di benak pemuda berpipi gembul itu. Jung Kook memang penasaran tentang siapa yang dimaksud Seok Jin di kelas tadi, tapi... bagaimanapun juga ia tidak berhak melewati batas untuk menanyakan hal-hal yang memang tidak ingin Tae Hyung jelaskan. Ada sesuatu yang Jung Kook yakini bahwa Tae Hyung memang enggan untuk berbagi cerita dengannya. Ya, ia harus memaklumi itu, mengingat jika pertemuan mereka masih bisa terhitung jari sampai saat ini.
Jung Kook menatap kalung yang diberikan Tae Hyung tadi, kalung yang menurutnya adalah benda berharga. Ia masih ingat siapa pemilik kalung ini sebenarnya, seseorang yang Jung Kook rindukan keberadaannya hingga detik ini. Seseorang yang sangat ingin Jung Kook temui...
-Kim Baek Hyun.
Kakak kandungnya nomor dua setelah Jong Woon. Baek Hyun yang entah mengapa memiliki kontur wajah yang hampir mirip dengan Tae Hyung. Baek Hyun, kakak laki-laki yang berbeda tiga tahun darinya itu kini telah hidup bahagia di surga. Baek Hyun, kakak laki-lakinya yang tewas akibat kecelakaan pesawat tiga tahun silam.
"Aku merindukan, Hyung. Apa Baek Hyung baik-baik saja di sana? Mengapa sudah satu minggu belakangan ini tidak hadir di mimpiku?" monolog Jung Kook seorang diri. Ia hanya tersenyum nanar, dengan pandangan masih tertuju pada kalung dalam genggamannya.
"Apakah Hyung sekarang bisa tersenyum bangga padaku? Lihatlah, aku sudah keluar dari persembunyianku. Kepompong jelek kini sudah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Apakah menurut Hyung aku juga cantik?" Jung Kook kemudian terkekeh saat memuji dirinya sendiri. Ada perasaan geli saat ia benar-benar mengakui bahwa dirinya memang memiliki paras yang cantik seperti sang Mama; sama seperti Baek Hyun.
"Hyung tahu tidak? Butuh perjuangan hingga aku berani keluar dari persembunyianku. Ini juga berkat Jong Woon Hyung, Noona, dan juga Won Woo Hyung. Apakah aku keren?" lagi, Jung Kook terkekeh. Namun, kali ini sirat matanya memperlihatkan kesedihan yang tidak pernah ia tunjukkan di depan Jong Woon.
"Seandainya saja..."
Jung Kook menggantungkan kalimat, ponselnya bergetar, menandakan jika ada satu panggilan masuk dengan nada dering khusus dari Jong Woon.
"Ya, Hyung."
"..."
"Ya, biar Min Seok Hyung saja yang menjemputku. Apa aku boleh mengunjungi kafe sepulang kuliah?"
"..."
"Aku sudah tidak apa-apa. Jangan terlalu mencemaskanku, Hyung. Baiklah, sampaikan pada Hyun Hoon Noona jika aku merindukannya."
"..."
Jung Kook terkekeh saat mendengar kalimat protes Jong Woon dari seberang telepon sana. "Kau pecemburu sekali, Hyung. Baiklah, aku akan pulang dengan membawa pesanan Noona. Sampai jumpa."
Setelah menutup percakapan dengan Jong Woon di telepon, Jung Kook lantas meninggalkan atap universitas untuk kembali menuju kelasnya yang entah di mana letaknya. Mungkin bertanya pada mahasiswa lain bukan ide yang buruk.
Jalan setapak yang menghadirkan aroma hujan, meninggalkan aroma khas tanah basah yang tersiram air hujan. Tae Hyung meletakkan bunga lili putih di atas pusara dengan potret pemuda yang tengah tersenyum tulus. Jeon Jung Kook, entah berapa lama ia tak mengunjungi makam adik kesayangannya itu. Mungkin satu atau dua bulan ia tidak datang, mengingat jika tugas kuliah yang membuatnya tak mempunyai banyak waktu untuk bersantai.
"Hei, bodoh. Lama tidak bertemu. Kau tahu tidak, Kook? Banyak kejadian aneh yang aku alami akhir-akhir ini, termasuk bertemu dengan seseorang yang mirip denganmu." Tae Hyung kali ini terkekeh. "Wajahnya mirip sekali denganmu, hanya saja Jung Kook yang ini lebih feminim daripada dirimu."
Tae Hyung sejenak terdiam, hanya helaan napasnya, dan hembusan angin yang terdengar seperti bisikan. Kemudian menengadah, menatap langit berhias gumulan awan kelabu. Apakah itu pertanda bahwa langit pun mewakili hatinya yang saat ini mendung? Berapa lama? Sampai kapan...
Tae Hyung menyalahkan dirinya sendiri?
Hidup dalam bayang-bayang bersalah itu memang tidak nyaman. Sekuat apapun Tae Hyung berusaha hidup dengan normal, tetap saja janji yang tak terpenuhi pada Jung Kook membuatnya selalu tak bisa melakukan apapun dengan benar.
Semua memang tak melihat perubahan yang kentara padanya. Namun siapa yang tahu jika Tae Hyung kerap kali menangis seorang diri, terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Bagaimana bisa menebus semua rasa bersalah ini, Kook..." bisiknya lirih. "Bagaimana Hyung meneb-"
Hembusan angin menggelitik tengkuknya, ada sentuhan tak kasat mata yang membelai permukaan wajahnya. Samar-samar, entah itu nyata atau tidak, Tae Hyung berusaha mempertajam pengelihatannya. Di sana, di hadapannya, kini orang yang ia rindukan tengah tersenyum lembut.
"Kook..."
"Ya, Hyung. Lama tidak bertemu."
Tae Hyung tersenyum lirih, dengan gerakan lambat, tangannya pun bertumpu pada tangan dingin yang saat ini masih menempel pada pipinya. "Aku... merindukanmu..."
Jung Kook hanya terkekeh, kemudian ia merentangkan tangan. "Ingin sebuah pelukan?"
Dengan senang hati, tentu saja Tae Hyung segera menghambur untuk memeluk tubuh mungil Jung Kook. "Benarkah ini kau? Benarkah ini..."
"Ssst... Hyung merindukanku, kan? Jadi diamlah."
Hening, Tae Hyung hanya sedang menikmati bagaimana nyamannya pelukan itu. Ia tidak peduli walaupun saat ini dirinya tengah berada dalam dunia mimpi sekali pun, Tae Hyung benar-benar tak peduli. Ia hanya tahu bahwa sekarang Jung Kook benar-benar bersamanya, memeluknya, membisikkan kalimat yang mampu membuat segala beban yang ia tanggung selama ini hilang seketika.
"Bolehkah aku mengatakan sesuatu?"
"Ya, tentu saja."
"Aku... mencintaimu."
Jung Kook tersenyum, ia mengangguk dengan tetap memeluk Tae Hyung. "Aku juga mencintai, Hyung. Hiduplah dengan baik untuk sekarang dan selanjutnya. Jangan menyiksa dirimu sendiri."
Tae Hyung kemudian melepaskan pelukannya, menyisakan jarak di antara dirinya dan Jung Kook. "Aku mencintaimu," sekali lagi Tae Hyung menggumamkan kalimat itu tanpa bosan.
"Ya, aku tahu itu. Jika Hyung mencintaiku, berjanjilah satu hal."
"Apa itu?"
"Jaga dia untukku."
"Dia? Sia-Kook! Kau mau ke mana, Kook!"
Tae Hyung terbangun tepat di depan pusara Jung Kook. Hanya mimpi rupanya. Namun kenapa seperti nyata? mengusap wajahnya perlahan, ia mencoba menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan. Mimpi tadi, apa makna dibalik semua itu? Dia? Siapa yang dimaksud Jung Kook dalam mimpi Tae Hyung tadi?
"Akhir pekan nanti aku akan mengadakan pesta di rumah, aku berharap kalian semua bisa datang."
Ho Seok terkekeh setelahnya, ia kemudian duduk kembali di dekat Yoon Gi yang memandang tak acuh padanya. Entah apa yang ada dipikiran pemuda berkulit seputih susu itu, kali ini ia tak cerewet seperti biasanya. Yoon Gi begitu pendiam dan bahkan seperti tak tertarik dengan apa yang dikatakan Ho Seok.
"Hyung akan datang bersamaku, kan?" tanya Ji Min yang kini duduk di samping Yoon Gi.
Yoon Gi hanya melirik sekilas, kemudian ia tersenyum nanar. Tangannya membelai lembut permukaan wajah Ji Min. "Maafkan aku, Jim. Tapi sepertinya aku tidak bisa datang bersamamu. Ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu," ucapnya lirih.
"Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Hyung?"
Yoon Gi menggeleng. "Tidak. Tentu saja tidak ada yang aku sembunyikan darimu, bodoh. Aku hanya akan mengunjungi seseorang. Kau datanglah lebih dulu, aku akan menyusul jika urusanku sudah selesai."
Ji Min bungkam, ia tak ingin bertanya apapun pada Yoon Gi. Mungkin memang yang dikatakan kekasihnya itu benar adanya. Ji Min hanya tidak ingin Yoon Gi mempunyai anggapan buruk tentangnya, bagaimanapun juga kekasihnya itu butuh ruang privasi yang tidak seharusnya ia pun turut mencampuri.
"Sepertinya aku harus pergi. Semuanya, sampai jumpa nanti malam." Yoon Gi meninggalkan teman-temannya termasuk Ji Min di tempat biasanya mereka berkumpul bersama. Meninggalkan tanda tanya besar bagi Ji Min.
"Aku juga harus pergi. Kutunggu kalian nanti malam. Pakailah pakaian formal, oke. Ini acara resmi dan sakral," tak berselang lama Ho Seok pun menyusul pergi.
"Apa kalian menangkap sesuatu yang aneh pada Yoon Gi?" itu Jin yang bertanya.
"Juga pada Ho Seok Hyung," kali ini Ji Min yang ikut bicara.
"Mengapa mereka tiba-tiba aneh?" sekarang Tae Hyung yang menimpali.
"Maksudmu siapa, Tae?" tanya Nam Joon bingung. "Jika yang kau maksud Yoon Gi, aku sendiri pun tidak tahu apa yang ia lakukan. Tapi jika itu Ho Seok, mungkin memang ada acara penting keluarga hingga Ho Seok mengundang kita. Siapa tahu Paman Jung berulang tahun."
Te Hyung diam. Ya, mungkin saja Yoon Gi memang sedang ada urusan yang enggan ia ceritakan kepada sahabat-sahabatnya. Tapi, mengapa seperti kebetulan? Mengapa tiba-tiba gelagat Yoon Gi sangat aneh saat Ho Seok menyinggung tentang pesta? Apa yang mereka sembunyikan sebenarnya? Atau jangan-jangan...
"Sebaiknya kita pergi. Tae apa kau mau ikut dengan kami?" Seok Jin bertanya pada Tae Hyung yang masih bergeming di tempatnya. "Tae!"
"Ah, apa kau berbicara padaku, Hyung?"
Seok Jin sendiri hanya mendengus kesal, membuat Nam Joon dan Ji Min terkekeh geli. "Tidak, aku sedang berbicara dengan patung di depan universitas!"
"Ya! Jadi kau menyamakan aku dengan patung di depan?!"
"Jika iya memangnya kenapa? Kau mau marah, eoh?!" selalu berakhir seperti itu
Jung Kook berjalan gontai, mata kuliah terakhir membuatnya lelah. Selain memang profesor yang mengajar hari ini terkenal sangat disiplin─hampir saja ia terlambat masuk kelas karena harus mencari buku di perpustakaan─juga tugas yang diberikan sang profesor membuatnya ingin menenggelamkan diri di bathtub. Oke, mungkin itu cukup berlebihan, tapi Jung Kook memang sangat lelah. Belum lagi istirahat siang tadi ia lupa membeli cemilan untuk sekedar mengganjal perutnya yang lapar.
Tiba-tiba ketika sampai di toilet, Jung Kook dikejutkan oleh suara teriakan orang yang berada di bilik toilet paling ujung. Dengan berjalan mengendap, Jung Kook menyembunyikan diri di balik bilik toilet yang lain. Ia bukan berniat menguping, hanya saja suara teriakan itu terdengar familiar di telinganya. Seperti suara...
"Aku tidak bisa melakukan ini, Ho Seok-ah..."
"Tapi Yoon-ie, kita harus melakukan ini!"
"Bagaimana dengan Ji Min!"
"Tidak bisakah untuk saat ini hanya aku yang kau pikirkan..."
Jung Kook membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Ia tahu dua orang yang berada dalam bilik toilet disampingnya itu. Ho Seok dan Yoon Gi, teman barunya sekaligus adik dari kakak iparnya.
"Aku mencintaimu, tapi Ji Min juga membutuhkanku, Seok-ie. Bagaimana bisa kita bahagia, sementara Ji Min terluka..."
"Kita tidak melukai siapapun, sayang. Hanya saja kita terlambat mengatakan semuanya."
"Tapi..."
"Jika kau takut Ji Min dan yang lain akan marah, atau bahkan membenci kita, aku yang akan bertanggung jawab."
Hening, Jung Kook tak lagi mendengar teriakan Yoon Gi atau pun suara Ho Seok, hanya samar-samar ia dapat mendengar isakan Yoon Gi. Sepertinya pemuda yang memeluknya tempo lalu itu menangis. Jung Kook membuka pintu toilet dengan hati-hati, kemudian berjalan tergesa.
Suasana pesta Ho Seok memang sangat mewah. Semua kolega bisnis orang tua Ho Seok tampak hadir memenuhi undangan. Tae Hyung sangat tampan mengenakan setelan jas formal berwarna hitam malam ini. Ia sengaja datang sendiri. Tidak ada Na Ra yang menemaninya.
"Tae!"
"Jin Hyung!"
Seok Jin berjalan cepat menuju tempatnya dengan Nam Joon yang mengenakan jas berwarna senada dengan Seok Jin; abu-abu. Sementara Ji Min tampak baru saja datang seorang diri, dan segera menghampiri Tae Hyung serta yang lain.
"Di mana, Ho Seok?"
"Ho Seok masih belum terlihat di manapun. Tetapi menurut wanita penjaga tamu tadi, ini adalah pesta pertunangan. Lalu yang menjadi pertanyaan siapa yang akan bertunangan? Bukankah Eun Ji Noona masih berada di Jerman?" semuanya saling menatap satu sama lain. "Mungkin saja memang Eun Ji Noona yang akan bertunangan, kan. Kita lihat saja nanti," ujar Ji Min kemudian.
"Apa Yoon Gi Hyung belum bisa dihubungi, Jim?"
Ji Min mengangguk lesu. "Sepertinya memang urusannya penting sampai ia lupa menghubungiku."
Nam Joon menepuk bahu Ji Min. "Mungkin hanya tak sempat, Jim."
"Ya Hyung aku juga berpikir demikian, dan semoga saja."
Lampu utama sengaja dipadamkan, digantikan dengan cahaya remang-remang yang terlihat romantis. Semua bertepuk tangan saat Tuan Jung Yun Ho-yang merupakan Ayah Ho Seok-memberitahukan bahwa malam ini merupakan acara pertunangan putra bungsu keluarga Jung yang tak lain adalah Jung Ho Seok. Tae Hyung dan yang lain tentu saja terkejut. Pasalnya mereka tidak pernah tahu kapan, dan siapa kekasih dari sahabat baiknya itu.
"Terima kasih kepada teman, kerabat yang sudah menyempatkan hadir pada acara pesta pertunangan putra bungsu kami Jung Ho Seok dengan putra tunggal Tuan Min. Anakku Ho Seok dan Yoon Gi, kemarilah Nak."
Ji Min, bagaimana kondisinya saat ini? Tae Hyung sendiri begitu terkejut saat nama Yoon Gi disebutkan oleh Tuan Yun Ho. Jadi Ho Seok dan Yoon Gi akan bertunangan? Hebat sekali! Drama apa yang sebenarnya mereka perankan hingga keduanya tega mempermainkan perasaan Ji Min begitu parah.
Seok Jin hampir saja berlari untuk menerjang Ho Seok jika saja Nam Joon tidak mencekal lengan kekasihnya. Ji Min sendiri... pemuda itu tetap bergeming di tempatnya, terdiam tanpa ekspresi pada saat Ho Seok resmi melingkarkan cincin platina polos di jari manis Yoon Gi.
Tae Hyung masih tak mengerti, kejadian ini terlalu membingungkan, atau memang dirinya yang lamban dan bahkan tak bisa menangkap kode yang selama ini kedua sahabatnya berikan.
Tanpa berkata, Ji Min melangkah pergi, meninggalkan keramaian pesta. Tae Hyung dan yang lain pun demikian, kejadian ini membuat mereka sulit membedakan mana mimpi dan kenyataan.
Sementara itu, Jung Kook yang berdiri tepat di samping podium beserta Jong Woon dan keluarga Jung hanya mampu menatap kepergian para sahabat Ho Seok dan Yoon Gi. Ia bisa berbuat apa? Jung Kook hanya mengenal mereka, dan tidak dekat sedikitpun. Namun ia sendiri dapat membayangkan bagaimana perasaan mereka terutama Ji Min.
Ho Seok dan Yoon Gi, memang sudah dijodohkan tepat ketika keduanya lulus Junior High School. Tidak ada yang tahu memang, hanya keluarga dekat yang mengetahui persis cerita keduanya dijodohkan. Yoon Gi sendiri memang menyukai Ho Seok sejak dulu, hanya saja sifat Ho Seok yang kaku membuat ia berpaling saat Ji Min yang merupakan juniornya ketika di Senior High School dulu menaruh perhatian lebih padanya. Ho Seok bukanlah orang yang terobsesi pada apa yang belum menjadi miliknya seutuhnya. Sebab ia tahu bagaimana tabiat Yoon Gi yang keras kepala dan memilik rasa penasaran yang berlebih. Lantas bersama Ji Min lah memang Yoon Gi menemukan apa yang tak bisa didapat dari Ho Seok; perhatian Ji Min lah yang membuat Yoon Gi kagum.
Rumit memang, tetapi apa yang selama ini Yoon Gi rasakan pada Ji Min memang bukan cinta. Yoon Gi hanya merasa bahwa bersama Ji Min sangat menyenangkan, hingga ia tidak pernah sadar bahwa Ho Seok yang sebenarnya ia butuhkan.
"Hyung, boleh aku keluar sebentar?"
Jong Woon hanya mengangguk. "Jangan terlalu jauh, cukup di taman belakang saja, oke."
"Hei Tuan penjaga atap!"
Tae Hyung menoleh, menatap Jung Kook yang berjalan ke arahnya dengan melemparkan kaleng minuman bersoda.
"Terima kasih."
Jung Kook mengangguk, lalu ia pun berdiri di samping Tae Hyung yang kembali diam. Sesekali Jung Kook menoleh, memastikan Tae Hyung masih disampingnya. Kemudian ia mendengus kesal, pasalnya Tae Hyung hanya diam.
"Apa kau sedang sakit gigi? Mengapa semua orang jadi pendiam. Seok Jin Hyung pun demikian. Yoon Gi Hyung bahkan belum masuk. Biasanya ketika masuk aku pasti sudah mendapat pelukan darinya."
Tae Hyung menatap Jung Kook yang masih sibuk berceloteh. Lucu pikirnya. Ternyata pemuda manis menyebalkan ini sangat cerewet. Dengan gerakan cepat Tae Hyung menarik bibir Jung Kook, membuatnya memekik kecil.
"Mengapa anak kelinci ini begitu cerewet, eoh?!"
"Itu sakit, Tae!"
Tae Hyung terkekeh, lalu kembali terlarut dalam lamunannya sendiri; mengabaikan Jung Kook lagi.
"Maaf jika sikapku sok akrab denganmu," ucap Jung Kook pelan. "Aku hanya ingin mempunyai teman, tidak enak rasanya melakukan apapun sendirian. Jika diizinkan, bolehkah kita menjadi teman, Tae? Maksudku, aku juga ingin dekat dengan yang lain," jelas Jung Kook.
"Kenapa tidak mencari teman yang lain saja?" pertanyaan Tae Hyung membuat Jung Kook bungkam. Pemuda itu kembali menunduk, lantas menengadahkan kembali wajahnya dan tersenyum.
"Apakah aku baru saja ditolak? Baiklah, terima kasih banyak."
Jung Kook baru saja akan pergi, namun Tae Hyung tiba-tiba mencekal lengannya. "Hei, aku hanya bergurau. Apakah sekarang kita resmi berteman, Nona kode biner?"
Satu pukulan mendarat lembut di kepalanya. Jung Kook memperlihatkan kepalan tangannya yang kecil pada Tae Hyung, membuat keduanya terkekeh bersama.
Apakah ini sesuatu yang baik untuk memulai semua dari awal...
-TBC-
Langsung lari ke chapter berikutnya, ya ^_^
