Saigomade (Until The End)
Author : Vanilla Sky
Main cast :
Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)
Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)
BTS members
Hurt/comfort; shou-ai; romance
VKOOK punya aku! Cerita punya aku! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, aku manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D
Warning : yang bergaris miring berarti flashback ya ^^
A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan maaf tidak bisa balas satu persatu review kalian lewat PM seperti biasa ^^ beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu. Dan terima kasih juga buat yang sudah memfollow dan memfavoritkan FF ini, juga buat yang masih seneng diem-diem baca (silent reader) terima kasih ya ^^
Saigomade (Until The End) © 2015
Vanilla Sky present
Chapter 8
-preview-
"Apakah aku baru saja ditolak? Baiklah, terima kasih banyak."
Jung Kook baru saja akan pergi, namun Tae Hyung tiba-tiba mencekal lengannya. "Hei, aku hanya bergurau. Apakah sekarang kita resmi berteman, Nona kode biner?"
Satu pukulan mendarat lembut di kepalanya. Jung Kook memperlihatkan kepalan tangannya yang kecil pada Tae Hyung, membuat keduanya terkekeh bersama.
Apakah ini sesuatu yang baik untuk memulai semua dari awal...
.
Tae Hyung sendiri masih tidak percaya jika dekat Jung Kook begitu mudah. Padahal awal pertemuan mereka memang kurang baik; salahkan Yoon Gi yang tiba-tiba saja membuat si kelinci manis itu ketakutan. Berbicara soal Yoon Gi dan Ho Seok, sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan kedua sahabatnya itu? Setelah pesta Tae Hyung tak pernah melihat keduanya di universitas. Dari kabar yang ia dapat dari Jung Kook, Yoon Gi belum siap bertemu dengan Tae Hyung dan yang lain; terutama Ji Min. Dan Ji Min sendiri, kemana dia?
Tae Hyung bergegas menuju kelas Seok Jin. Di sana, ia dapat melihat jika Seok Jin, Jung Kook dan Nam Joon sedang mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, hanya saja Tae Hyung dapat menangkap tatapan sendu Seok Jin dan Nam Joon ketika mendengar cerita dari Jung Kook.
"Tae..."
Itu Jung Kook yang berbicara, membuat Tae Hyung tanpa sadar tersenyum. Ia kemudian berjalan mendekati ketiganya. Duduk di samping Jung Kook.
"Sepertinya aku ketinggalan sesuatu."
Seok Jin menggeleng. "Kau juga harus tahu sesuatu, Tae."
"Tentang apa itu?"
"Yoon Gi dan Ho Seok."
Tae Hyung sempat terdiam, namun sesaat kemudian ia mengangguk. "Kita memang butuh penjelasan. Jujur saja aku masih bingung dan tidak percaya atas apa yang terjadi selama beberapa hari ini. Hyung, di mana Ji Min?"
Semua terdiam, membuat Tae Hyung semakin bingung. "Apa yang terjadi?" Seok Jin masih enggan untuk berbicara. kemudian Tae Hyung menatap Nam Joon. "Hyung..."
"Ji Min... dia..."
"Apa yang terjadi?!" kali ini nada bicara Tae Hyung meninggi. "Hyung!"
"Ji Min akan pergi ke Jerman."
"Apa?"
"Ji Min memutuskan untuk mengambil beasiswanya di sana, Tae. Malam itu, ia dan Yoon Gi bertengkar hebat."
"Maksud Hyung, aku tidak mengerti."
"Ji Min bersikeras ingin pergi, tapi Yoon Gi melarangnya. Hingga ucapan kasar keluar dari mulut Ji Min."
"Lalu, hubungan dengan Ho Seok Hyung apa?"
Seok Jin kembali melanjutkan ucapannya. "Mereka sudah dijodohkan sejak masih kecil."
"Maksud Hyung, selama ini mereka bertiga..."
"Cinta segitiga. Rumit memang, tapi itulah yang terjadi."
"Ho Seok mencintai Yoon Gi, Ji Min pun. Tapi Yoon Gi memilih Ho Seok karena memang Ho Seok yang selalu ada di saat Yoon Gi terpuruk. Mungkin selama ini kita bodoh karena tidak bisa menangkap kode yang diberikan ketiganya, terutama Ho Seok."
Tae Hyung paham sekarang, saat Yoon Gi bertengkar hebat dengan Ji Min, Ho Seok lah yang selalu ada untuknya. Kotak bekal yang setiap pagi berada di atas meja Yoon Gi, itu Ho Seok yang membuatnya. Yoon Gi dan Ho Seok memang selalu berselisih paham, Yoon Gi yang keras kepala, dan Ho Seok yang memiliki kepribadian ceria namun sebenarnya kaku. Ya, di sini memang Ji Min lah yang terpuruk, terluka. Namun sebenarnya, Ho Seok lah yang jauh lebih menderita selama ini.
"Apa yang harus kita lakukan, Hyung?"
"Membuat ketiganya bertemu dan menyelesaikan masalah ini sebelum Ji Min pergi, Tae."
"Kau sudah akan pulang, Jung-ie?"
Jung Kook mengangguk, ia menyejajarkan langkahnya dengan Tae Hyung. "Kau sendiri, Tae?"
"Mungkin berjalan-jalan sebentar. Kau mau ikut?"
Jung Kook diam, membuat Tae Hyung terkekeh. "Mmm... aku..."
"Apa kau takut? Tenang saja aku tidak akan menculikmu, mungkin hanya mengajakmu makan es krim."
"Es krim?"
Tae Hyung mengangguk. "Ya."
"Ayo!"
"Hei bukankah kau tidak ingin ikut?"
Jung Kook mendelik, kemudian menarik tangan Tae Hyung. "Siapa bilang."
.
.
.
Mereka masih sibuk dengan satu cup es krim di tangan. Memang sempurna menikmati hembusan angin musim gugur di tepi sungai Han dengan ditemani es krim. Ya walau tak dapat dipungkiri jika Jung Kook mulai kedinginan, salahkan saja dirinya yang hanya mengenakan t-shirt lengan panjang, dan itu pun tanpa dilapisi jaket ataupun sweater.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Tae Hyung mendesis, lalu ia membuka hoodie biru yang ia pakai dan menyerahkannya pada Jung Kook. "Pakai ini. Jangan menolak, atau kau akan mati beku."
Jung Kook meraih hoodie yang diberikan Tae Hyung, walau sempat ragu akhirnya ia kenakan hoodie tersebut. "Terima kasih."
Hening, Tae Hyung ataupun Jung Kook sama-sama terdiam. Entah sadar atau tidak, Jung Kook sendiri merasa bahwa wajahnya menghangat ketika mendapat perlakuan lembut itu dari Tae Hyung.
"Tae?"
"Ya."
"Bisakah kau ceritakan tentang dirimu?"
Tae Hyung menoleh, menatap Jung Kook yang kini memandangnya juga. "Tidak ada yang menarik tentang hidupku," kemudian ia meraih ponselnya, memperlihatkan sebuah kolase foto pada Jung Kook.
"I-ini... aku..."
"Bukan. Dia adikku."
"T-tapi... bagai─"
"Maksudmu mirip?"
Jung Kook mengangguk. Meraih ponsel Tae Hyung kemudian membandingkan wajah dalam foto dengannya sendiri.
"Namanya Jeon Jung Kook. Bahkan nama kalian pun sama."
"Hanya marga kami yang berbeda," jelas Jung Kook.
"Kau ingin tahu tentang apa dariku, Jung Kook?"
"Jika tidak keberatan aku ingin tahu tentang Jung Kook adikmu." Tae Hyung menghela napas berat. "Tapi jika kau keberatan sebaiknya jangan."
Tae Hyung kemudian menggeleng. "Akan aku ceritakan."
Jung Kook mendengarkan Tae Hyung dengan seksama, tidak ada satu kalimat pun yang ia lewatkan saat Tae Hyung mulai bercerita tentang Jung Kook. Raut wajah Jung Kook terkadang menunjukkan ekspresi random, membuat Tae Hyung sesekali terkekeh.
"Kau homophobic?"
Tae Hyung mengangguk. "Itu dulu saat semuanya belum terjadi. Aku terlalu naif, menganggap semua hanya menggunakan akal bukan hati. Tapi Jung Kook mengajarkan aku banyak hal, termasuk tentang perasaan. Dulu, aku menganggap orang-orang seperti Jung Kook-yang mencintai sesama jenis-adalah makhluk mengerikan yang harus dihindari, sampai suatu saat kejadian fatal menimpanya, dan Tuhan mengambilnya."
Ada gurat luka tergambar nyata saat Tae Hyung menceritakan itu semua. Jung Kook yakin semua penyesalan itu memang terlihat dari ekspresi Tae Hyung, hanya saja Tae Hyung jelas berusaha menyembunyikan itu dengan susah payah.
"Aku berusaha lari, dan bahkan menghindarinya dengan cara paling tolol menurutku. Pada saat itu yang paling membuatku menyesal bukan karena aku terlambat menyadari perasaanku padanya, aku menyesal karena saat terakhirnya meregang nyawa justru tak berada di sisinya."
Tae Hyung menunduk, tangannya bergetar, menandakan bahwa sebenarnya ia memang sosok yang sangat rapuh, dan entah keberanian darimana, Jung Kook meraih tangan Tae Hyung, mengenggamnya erat.
"Hyun Hoon Noona selalu melakukan ini jika penyakitku kumat."
"Penyakit?"
"Ya, Agoraphobia. Di mana aku tak bisa mengontrol emosiku ketika takut dan panik."
"Termasuk pada saat Yoon Gi Hyung memelukmu?"
Jung Kook mengangguk. "Trauma di masa lalu. Korban penculikkan dan kehilangan orang yang berarti dalam hidupku."
"Kekasihmu?"
Kali ini Jung Kook menggeleng. "Kakakku. Kau tahu kalung yang kau temukan itu, Tae."
"Ya."
"Itu milik Baek Hyun Hyung, kakak laki-lakiku nomor dua setelah Jong Woon Hyung. Meninggal dalam kecelakaan pesawat tiga tahun silam."
Tae Hyung sempat diam tanpa berkata apapun, Jung Kook rupanya menyimpan banyak beban berat selama ini. Kehilangan saudara, korban penculikan, sampai menderita trauma berkepanjangan.
"Apa sekarang masih sering kumat?"
Jung Kook mengangguk. "Ya, tapi tidak sesering sebelumnya. Butuh perjuangan hingga akhirnya kepompong jelek ini bermetamorfosis, Tae."
Tae Hyung menatap Jung Kook, memerhatikan bagaimana polos dan murni tatapan Jung Kook dalam jarak sedekat ini. "Kau pasti mengalami kesulitan saat berusaha keluar dari cangkangmu?"
Jung Kook terkekeh. "Banyak orang-orang yang peduli padaku, dan itu yang membuatku berjuang untuk melawan penyakit sialan ini."
"Jung Kook pasti bisa sembuh."
Tatapan Tae Hyung, mengapa Jung Kook merasa nyaman saat ia melihat binar dari sepasang obsidian milik Tae Hyung. "Terima kasih. sepertinya aku harus segera pergi. Hyung pasti cemas jika aku belum sampai kafe."
"Biar aku yang mengantar."
Jong Woon tak keberatan jika adiknya itu mempunyai teman dekat. Hanya saja sikap Jung Kook menjadi aneh akhir-akhir ini. Terkadang ia sendiri menemukan Jung Kook yang tengah tertawa dengan pandangan tertuju pada ponsel. Pengaruh Tae Hyung memang membawa dampak besar bagi Jung Kook. Dokter Choi yang merupakan dokter pribadi Jung Kook selama di Korea menjelaskan bahwa adiknya itu banyak mengalami perkembangan yang signifikan. Bukankah hebat?
"Jung-ie."
Jung Kook segera menaruh benda persegi itu di atas tempat tidur saat Jong Woon duduk disampingnya. "Ya, Hyung."
"Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Semuanya baik."
"Hyung senang jika kau tak mengalami kesulitan selama di universitas."
"Tae Hyung menjagaku. Seok Jin Hyung dan yang lain pun sangat baik padaku."
"Syukurlah. Kapan-kapan ajaklah mereka ke kafe. Hyung ingin menraktir semua temanmu."
"Benarkah?"
"Ya, tentu saja."
Jung Kook memeluk Jong Woon erat, sesekali kepalanya ia usapkan pada dada Jong Woon; kebiasaan aneh Jung Kook yang terbawa sampai saat ini.
"Apa kau senang, bunny?"
Jung Kook melepaskan pelukannya, kemudian menatap Jong Woon lekat. "Maksud Hyung?"
"Hyung berpikir kau banyak berubah menjadi lebih baik. Dokter Choi juga mengatakan jika kau terus mengalami perkembangan selama terapi pemulihan, kemungkinan kau akan sembuh total."
Jung Kook menunduk, Jong Woon dapat melihat semburat merah muda menghiasi pipi adiknya yang gembil. Menggemaskan begitu pikir Jong Woon. Ada sesuatu yang berbeda saat Jung Kook membicarakan Tae Hyung dengan temannya yang lain. Jong Woon memang tidak berhak mencampuri kehidupan pribadi Jung Kook, walaupun pemuda manis itu sendiri adalah adik kandungnya.
"Bagaimana kabar Won Woo, bunny?"
"Woo Hyung berkata bahwa jadwal kuliahnya sangat padat. Kami jarang berbicara di telepon. Aku pun sungkan menghubungi dia lebih dulu jika sibuk seperti itu."
"Tapi kalian baik-baik saja, kan?"
Jung Kook mengernyitkan dahinya setelah mendengar perkataan Jong Woon yang penuh selidik. "Kami baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa. Istirahatlah. Bukankah besok kau harus berangkat pagi?"
"Selamat malam, Hyung."
"Selamat malam, kelinci kecil Hyung."
"Jim!"
Jung Kook terkejut saat pukulan telak mengenai rahang Ho Seok. Yoon Gi yang tadi berteriak, dengan kulit putihnya yang memerah, menahan luapan emosi pada saat Ji Min lagi-lagi lepas kendali. Ya, Yoon Gi akui jika ialah penyebab kekacauan ini.
Seok Jin tetap diam, Nam Joon, pun dengan Tae Hyung yang hanya memalingkan wajah, dan menatap Jung Kook yang hanya berdiri di ambang pintu. Kemudian, Tae Hyung berjalan ke arah Jung Kook, menarik lengannya, dan membawa Jung Kook pergi.
"Tae, tapi mere—" Jung Kook sendiri tak melanjutkan ucapannya, ia takut saat tatapan Tae Hyung seolah tengah menelanjanginya.
"Hanya ikut saja."
Kali ini hanya menuruti permintaan Tae Hyung mungkin lebih baik. Jung Kook tahu ke mana Tae Hyung akan membawanya. Taman belakang universitas; sebuah tempat yang menurut desas-desus terkenal angker.
"Terkejut, ya?" itulah yang diucapkan Tae Hyung setelah menculiknya; oke ini memang berlebihan.
"Kenapa?"
Tae Hyung menoleh. "Mereka sudah dewasa, biarkan saja ketiga manusia idiot itu menyelesaikan dengan cara mereka sendiri."
Jung Kook bergeming, memilih diam mungkin lebih baik. Moodnya tiba-tiba buruk. Tidak bersemangat rasanya mengikuti kuliah hari ini. Mungkin meminta izin untuk beristirahat di ruang kesehatan akan membuat Jung Kook lebih baik.
"Tidak apa-apa, kan?"
Jung Kook menengadahkan wajahnya, ia hanya menggeleng ragu. "Hanya terkejut, dan terima kasih sudah membawaku pergi dari situasi tadi," keduanya kemudian diam. "Oh ya, Tae..."
"Ya."
"Jong Woon Hyung mengundangmu dan yang lain untuk makan gratis di kafenya. Hyung bilang itu sebagai ucapan perkenalan."
"Woah, makan gratis?"
Jung Kook mengangguk antusias. "Kau akan pergi, kan?"
"Tentu saja. Kapan aku bisa datang?"
Jung Kook terkekeh ketika melihat betapa antusias dan seperti anak kecil tingkah Tae Hyung sekarang. "Kau bisa datang kapan saja."
"Jung Kook nomor satu! Baiklah kita bicarakan ini dengan yang lain, oke."
Membisu, ekspresi Jung Kook sulit digambarkan sekarang. Tae Hyung mungkin hanya refleks ketika memeluknya. Tapi efek bagi Jung Kook sendiri berbeda, ada sesuatu yang berdesir hangat dalam hatinya, menggelitik perutnya, menebarkan rasa geli yang aneh dalam perasaannya—yang memang tak pernah ia rasakan ketika bersama Won Woo selama ini.
Mungkinkah?
Ia jatuh cinta...
-TBC-
Yeay, akhirnya comeback neh bawa dua chapter sekaligus. Aku minta maaf karena nyaris putus asa pas mau lanjutin ini FF, alasannya emang gak mood aja buat nulis akhir-akhir ini. Dan dan dan... terima kasih banyak yang udah nunggu dengan sabar kapan FF ini dilanjut. Makasih ya karena dapet tanggapan positif buat Ffnya #pelukcium :* ({})
Yuk yuk yuk, kotak reviewnya masih kosong loh sayang, mungkin satu atau dua kata bisa bikin aku makin semangat nulisnya; keculali review next ya -_- #pundung
Di bom dua chapter sekaligus puas nggak, ya? Semoga gak minta nambah ya... hihihihi
Vanilla pamit #lambailambai
