Saigomade (Until The End)

Author : Vanilla Sky

Main cast :

Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)

Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

BTS members

Hurt/comfort; shou-ai; romance

VKOOK punya aku! Cerita punya aku! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, aku manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D

Warning : yang bergaris miring berarti flashback ya ^^

A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan sudah aku balas satu persatu review kalian lewat PM seperti biasa ^^ beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu. Dan terima kasih juga buat yang sudah memfollow dan memfavoritkan FF ini, juga buat yang masih seneng diem-diem baca (silent reader) terima kasih ya ^^

Saigomade (Until The End) © 2015

Vanilla Sky present

Chapter 9


-preview-

"Tentu saja. Kapan aku bisa datang?"

Jung Kook terkekeh ketika melihat betapa antusias dan seperti anak kecil tingkah Tae Hyung sekarang. "Kau bisa datang kapan saja."

"Jung Kook nomor satu! Baiklah kita bicarakan ini dengan yang lain, oke."

Membisu, ekspresi Jung Kook sulit digambarkan sekarang. Tae Hyung mungkin hanya refleks ketika memeluknya. Tapi efek bagi Jung Kook sendiri berbeda, ada sesuatu yang berdesir hangatdalam hatinya, menggelitik perutnya, menebarkan rasa geli yang aneh dalam perasaannya—yang memang tak pernah ia rasakan ketika bersama Won Woo selama ini.

Mungkinkah?

Ia jatuh cinta...

.

"Sudah puas, Park Ji Min!"

Ho Seok menyeka darah yang mengalir dari sudut pelipis kiri dan bibirnya. Pukulan Ji Min membabi buta, ia akui itu menyakitkan, tetapi luka nyata di wajahnya memang tak sebanding dengan luka tak kasat mata yang dirasakan oleh Ji Min saat ini. Ho Seok merasa bersalah. Di sini, keadaan yang membuat semuanya serba sulit. Ho Seok ingin mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Ya, Min Yoon Gi-lelaki cantik yang selalu ia lindungi-saat Ji Min sendiri yang notabene mendeklarasikan cinta pada Yoon Gi, justru terang-terangan menyakiti hati pemuda yang Ho Seok lindungi mati-matian.

Ji Min yang tempramental, bertolak belakang dengan kepribadian Yoon Gi yang ceria. Tetapi Yoon Gi sendiri selalu berkata padanya untuk percaya, jika kelak tempat singgahnya yang nyaman untuk berlindung adalah Ho Seok sendiri. Mungkin dalam keadaan seperti ini Yoon Gi lah yang patut disalahkan. Membiarkan kedua lelaki tampan itu terjerat pesonanya, sampai akhirnya ia sendiri sulit menentukan jalan mana yang akan dipilih.

"Berhenti menjadi benar, Min Yoon Gi! Kau!"

Lagi, Ji Min berteriak, menatap nyalang pada Yoon Gi yang bergetar. Ho Seok kali ini tak berbicara apapun, tubuhnya dibantu berdiri oleh Nam Joon dan Seok Jin, kemudian ketiganya pergi-meninggalkan Ji Min dan Yoon Gi.

"Biarkan mereka menyelesaikan ini lebih dulu, Seok-ie." Ho Seok tidak menyela saat Seok Jin memapahnya keluar.

Sepeninggal ketiganya, Ji Min maupun Yoon Gi sama-sama diam, bergeming di tempat masing-masing. Ji Min mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarah agar tak lepas kendali ketika Yoon Gi sendiri yang kini dilihatnya terlihat menyedihkan.

"Maaf, Jim..." bukan itu yang ingin Ji Min dengar sebenarnya.

"Hyung mencintainya?"

Yoon Gi mengangkat wajahnya, menatap Ji Min takut. "Ya, aku mencintainya. Bahkan sangat mencintainya."

Hati Ji Min benar-benar perih, ia seperti dihempaskan dari puncak Namsan Tower dan berakhir dengan tubuh hancur.

"Kenapa tidak pernah berkata jujur, huh?"

"Karena aku juga mencintaimu, Park Ji Min!"

Napas Yoon Gi terengah, genangan airmata perlahan membasahi pipinya yang kemerahan. Ji Min hendak melangkahkan kakinya, namun...

"Jangan mendekat!" tolak Yoon Gi.

"Kenapa, Hyung..."

"Tak pantas rasanya. Lebih baik kau luapkan amarahmu padaku saja. kau boleh memukulku jika itu bisa mengobati luka hatimu..."

"Bolehkah?"

Yoon Gi mengangguk takut. Kemudian Ji Min perlahan mendekat.

"Bolehkah pipi yang sering aku kecup ini aku tandai dengan tanganku?"

"Ya, Park Ji Min," ucap Yoon Gi yang kemudian memejamkan matanya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Sebuah benda lunak menempel hangat dipermukaan pipinya. Yoon Gi tahu itu bibir Ji Min, perlahan ia membuka mata menoleh dengan sudut matanya, melihat Ji Min tengah mengecup lembut pipinya dengan airmata yang menetes.

"Pipi ini bukan milikku lagi..." ucap Ji Min setelahnya.

Kemudian ia mendekatkan bibirnya, menyejajarkan pada sepasang kelopak mata Yoon Gi yang dengan refleks tertutup sempurna. Lalu, dua kecupan lembut mendarat di kelopak mata Yoon Gi.

"Kelopak mata cantik ini pun sekarang juga bukan milikku."

Tuhan... mengapa rasanya sesakit ini? Mengapa menyakiti Ji Min rasanya jauh lebih sakit daripada yang selama ini Yoon Gi bayangkan?

Ji Min kemudian menelengkan wajahnya, meraup bibir tipis milik Yoon Gi. Melumatnya, mengalirkan satu rasa yang berat untuk Ji Min lepaskan. Si cantik ini seperti separuh hatinya, namun kini Yoon Gi dengan tega membawa separuh hati Ji Min pergi, membiarkan luka itu mengalirkan darah segar tak kasat mata. Yoon Gi menutup matanya rapat, mengalungkan tangannya di leher Ji Min, membiarkan yang lebih muda meluapkan amarahnya dengan cara menghukumnya seperti ini.

Benang saliva mereka menjadi jarak betapa Ji Min tak dapat lagi bebas menyentuh, memeluk, dan membisikkan kata cinta untuk Min Yoon Gi. Ji Min kalah, walau bagaimanapun ia memang tak mampu membahagiakan Yoon Gi; seperti yang Ho Seok lakukan selama ini.

"Pergilah. Ho Seok Hyung memang jauh lebih membutuhkanmu."

"Jim, a-aku..."

Ji Min tersenyum tulus. Senyuman yang Yoon Gi rindukan. "Menari adalah belahan jiwaku, dan aku baru sadar jika selama ini Hyung banyak menderita karena keegoisanku. Pergilah, Hyung."

"Tapi..."

"Jangan membuatku berubah pikiran!"

Yoon Gi terkekeh disertai isak tangis yang kini pecah. "Ji Min bodoh!"

Sebuah pelukan hangat dengan senang hati Ji Min berikan untuk menenangkan bayi beruang madunya yang tengah tersedu.

"Jangan lupa menghubungi kami ketika sampai di sana. Atau aku akan membunuhuhmu!" ancam Yoon Gi.

"Dan jangan lupa memberi tahu jika kalian akan menikah, oke."

Yoon Gi kembali tersedu, kali ini isakannya semakin kencang. "Ji Min bodoh! Aku membencimu!"

Ho Seok, Nam Joon, dan juga Seok Jin tersenyum haru ketika melihat betapa dewasanya Ji Min melepaskan orang yang ia cintai.

"Hyung, aku merasa sangat jahat pada Ji Min."

Seok Jin sendiri hanya menepuk bahu Ho Seok. "Ji Min kita sudah dewasa ternyata."


Salju pertama turun begitu indah, musim favorit Jung Kook telah tiba. Biasanya Jung Kook, Jong Woon, dan Baek Hyun akan pergi ke taman belakang rumah mereka untuk bermain lempar salju, atau membuat boneka berukuran besar dari salju. Sayangnya, sejak Baek Hyun meninggal, Jung Kook sendiri jadi enggan pergi keluar saat salju turun. Bukan apa-apa, ia hanya belum terbiasa saja bermain seorang diri.

Jung Kook menutup kembali jendela kamarnya, bergelung di bawah selimut dengan udara dingin, serta ditemani secangkir susu vanilla hangat mungkin jauh lebih baik. Tiba-tiba ia teringat perlakuan Tae Hyung kemarin sore yang secara tak sengaja memeluknya. Pipinya kembali menghangat manakala kilasan memori itu menari-nari di benaknya. Senyum ceria Tae Hyung, tatapan matanya, perlakuanya, dan...

Jung Kook segera menepis lamunan tentang Jeon Tae Hyung pagi itu saat deringan ponselnya membuat ia hampir saja melompat.

Won Woo calling

Jung Kook segera meraih benda persegi miliknya, dan mengangkat satu panggilan masuk dari kekasihnya.

"Hyung!"

Seseorang di seberang sana segera menjauhkan ponselnya manakala suara bayi kelincinya itu terdengar.

"Hai, Baby. Aku merindukanmu," ucap Won Woo sembari terkikik saat rengekan khas milik Kim Jung Kook kembali menyapa indra pendengarannya.

"Kau tega sekali! Kupikir kau sudah mati karena melihat dada besar dari perawat-perawat itu, huh!"

"Bunny, siapa lagi yang kali ini mengajarkanmu berbicara seperti itu, eoh?"

Jung Kook sendiri hanya meringis, dan merasa malu pada Won Woo; karena lagi-lagi ia berdirty talk seperti itu. "Maaf, Hyung."

"Kau tak merindukanku, sayang?"

"Tidak!"

"Sakit sekali hatiku..."

"Hyung, kau menjijikkan!"

Won Woo kembali terkekeh, gemas rasanya ia sekarang. Berapa lama tugas kuliah menyita waktunya dengan Jung Kook? Berapa lama pula kegiatan membantu Papanya di rumah sakit juga menyita waktu berharganya untuk sekedar menghabiskan waktu untuk mendengar kelinci manisnya bercerita?

"Kapan Hyung ke Korea?"

"Tahun baru Papa memberiku cuti liburan satu minggu. Haruskah aku pergi ke sana?"

"Hyung!"

Won Woo kali ini tak bisa menahan gelak tawanya, Jung Kook benar-benar menggemaskan pikirnya.

"Tunggu aku sampai bulan depan, sayang. Aku harus kembali bekerja, sampai jumpa lagi nanti. Aku mencintaimu."

Belum sempat Jung Kook menjawab, Won Woo sudah menutup teleponnya lebih dulu.

Benarkah Jung Kook juga mencintai Won Woo?


"Minggu depan kita semua akan berlibur ke Jeonju Hanok Village," itu Nam Joon yang mengusulkan.

"Aku setuju." Seok Jin yang kini berbicara. "Yang lain bagaimana?"

Nam Joon menatap Tae Hyung, kemudian beralih pada Jung Kook yang menyandarkan kepalanya di paha Yoon Gi, lalu pada Ho Seok yang mengacungkan ibu jarinya; pertanda bahwa ia setuju. Terakhir Yoon Gi lah yang ditatap oleh Nam Joon, ia pun mengangguk, serta tersenyum lembut.

"Oke, berarti sabtu besok kita pergi ke kota Jeonju. Menginap selama beberapa hari di rumah peninggalan kakek Jin Hyung."

"Eum, Hyung..."

"Ya, Jung-ie?"

"Bolehkah nanti kukabari lagi. Aku hanya takut jika Jong Woon Hyung tidak mengijinkanku pergi," ucap Jung Kook malu-malu.

"Jung-ie, jika itu yang kau takutkan, bagaimana kalau hari ini kita mengunjungi Jong Woon Hyung? Bukankah kau bilang ia ingin mengundang kita makan gratis di kafenya?" Tae Hyung yang sekarang berbicara.

"Ah, mengapa aku bisa lupa?!"

Semua terkekeh, membuat Yoon Gi yang paling dekat posisi duduknya dengan Jung Kook tak kuasa menahan rasa gemasnya, kemudian memeluk Jung Kook sangat erat.

"Mengapa bayi kelinci kesayanganku ini menggemaskan, huh?!"

"Hyung... hentikan!"

Semua tertawa melihat pertengkaran kecil Jung Kook dan Yoon Gi. Tae Hyung hanya menatap Jung Kook dengan ekspresi sulit diartikan. Entahlah, hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu makna apa yang tersimpan di balik senyumannya itu.

"Sayangnya Ji Min tidak ada di sini," semua menoleh, saat Ho Seok mengucapkan nama Ji Min.

Ya, Park Ji Min memang sudah pergi mengejar impiannya. Lelaki tampan yang sering mengklaim dirinya seksi itu memang memutuskan pergi lebih awal ke Jerman-yang seharusnya minggu depanlah Ji Min pergi. Terlebih setelah kejadian di mana Ji Min memukul Ho Seok, mereka tak pernah bertemu lagi dengan Ji Min. Memang butuh waktu─terlebih untuk Ji Min sendiri. Melepaskan seseorang yang telah lama menetap di hati itu bukan perkara yang mudah, hanya dengan membiarkan saja mungkin Ji Min akan lebih baik.

"Jangan terus menyalahkan diri kalian lagi. Awalnya kami pun sama terlukanya seperti Ji Min. Tapi, semua keputusan memang di tangan kalian bertiga. Melepas, menerima, atau bahkan memilih menghindar sementara waktu mungkin pilihan yang tepat untuk saat ini. Tapi percayalah, sekeras apapun Ji Min sekarang, pada akhirnya ia tetaplah Ji Min yang kita kenal," ucap Seok Jin. "Bayi besar cengeng yang sok keren!" teriak semuanya yang kemudian disusul oleh kekehan.

Ya, untuk saat ini, biarlah keadaan yang mengobati luka, membuatnya terbiasa, hingga pada akhirnya ketika Ji Min mengingat itu semua rasanya tidak akan sesakit seperti sekarang ini.


Jung Kook beserta yang lain tiba di kafe Jong Woon. Sepertinya sedang ramai, terbukti jika semua tempat di dalam kafe terisi penuh oleh pengunjung. Jung Kook kemudian menghampiri Jong Woon yang tengah meracik kopi. Ia sengaja membunyikan lonceng, membuat Jong Woon menghentikan kegiatannya membuat late art.

"Kau, Jung-ie! Astaga, hampir saja late art-ku berantakan, kau tahu!" teriak Jong Woon.

Jung Kook sendiri hanya meminta maaf dan tersenyum tanpa dosa. "Hyung aku ingin menagih janji padamu."

Jong Woon mengernyitkan dahinya. "Janji apa, bunny?"

"Kau lupa?"

Jong Woon semakin tak mengerti maksud pembicaraan adiknya itu. "Jangan bermain-main denganku, Kim Jung Kook!"

"Astaga Hyung, memangnya usiamu setua itu sampai kau melupakan janji sendiri?!"

"Jangan membuat lelucon, Tuan Kim! Atau..."

"Hyung!"

Kali ini apalagi? Mimpi apa Jong Woon semalam? Mengapa Ho Seok ada di sini? Dan mereka...

"Bukankah kau berjanji akan menraktir kami, huh?" tanya Ho Seok membuat Jong Woon semakin bingung.

"Kapan itu, Jung-ie?"

"Hyung jangan main-main!"

Jong Woon akhirnya tertawa lantang, membuat pengunjung kafe menoleh karena terkejut. "Maaf-maaf. Halo, perkenalkan namaku Kim Jong Woon, kakak Jung Kook yang paling tampan," ujar Jong Woon memperkenalkan diri.

"Hyung jangan mempermalukan aku," kini Jung Kook merengek pada Jong Woon.

"Halo Hyung, namaku Kim Seok Jin, Ini Kim Nam Joon, di sebelahnya ada Jeon Tae Hyung, lalu yang bersama Ho Seok, Hyung sendiri pasti sudah mengenalnya."

"Min Yoon Gi."

Yoon Gi sendiri hanya mengangguk, dan tersenyum malu. Sementara itu tatapan Jong Woon tertuju pada Tae Hyung yang berdiri tepat di depannya.

"Jung-ie, apakah ini Tae Hyung yang sering kau bicarakan itu?"

Dengan wajah memerah menahan malu, Jung Kook sendiri hanya bisa menunduk. "Hyung hentikan perkataanmu itu!"

Semuanya terkekeh, Tae Hyung sendiri pun tersenyum dengan tatapan tertuju pada Jung Kook.

"Hmm... anak muda, bisakah kau jaga pandanganmu? Kau seperti ingin menguliti Jung Kook-ku hidup-hidup, eoh!"

Tae Hyung rupanya tertangkap basah oleh Jong Woon, wajahnya mungkin saat ini juga memerah seperti Jung Kook.

'Bodoh!' gumam Tae Hyung merutuki kebodohannya karena tak bisa menahan diri untuk tak memandang Jung Kook barang satu menit saja.

"Bunny, karena mereka hari ini adalah tamu kehormatan Hyung, bawa mereka ke ruang VVIP kafe kita."

"Aye-aye captain!"

Di sinilah mereka semua berada, ruang VVIP kafe Jong Woon. Memang tak banyak ruang khusus yang Jong Woon sediakan. Semua hanya berjumlah lima ruangan saja. Dan itu pun tidak sembarang Jong Woon buka untuk umum. Ruangan tersebut hanya ia buka jika itu digunakan sebagai tempat pertemuan rapat, atau hal-hal yang berhubungan dengan orang-orang kalangan penting saja.

"Ini silahkan dicicipi, hidangan spesial dari kafe Jong Woon Hyung. Kalian wajib meminum kopi racikan Hyung dengan kue keju buatan Hyun Hoon Noona."

"Wuah! Selamat makan!"

Kelima pemuda itu terlihat kompak melahap hidangan. Sementara Jung Kook hanya tersenyum puas melihat sahabat barunya menikmati momen bersamanya. Bahkan Yoon Gi lagi-lagi menghadiahkan sebuah pelukan hangat untuk Jung Kook. Tentu saja sekarang Jung Kook menerima perlakuan Yoon Gi dengan senang hati, membalas pelukan pemuda yang lebih mungil darinya itu sangat erat.

"Bagaimana menu kafe kami, Tuan-tuan? Apa enak?" semuanya menoleh saat Jong Woon datang, kemudian duduk di samping Tae Hyung yang hampir saja tersedak kue kejunya. "Maafkan aku, astaga! Kau tidak apa-apa 'kan, Tae Hyung?"

"Uhuk, a-aku b-baik, Hyung," ucap Tae Hyung mencoba menetralkan ternggorokannya dengan segelas air putih yang diberikan oleh Ho Seok.

"Maafkan aku," gumam Jong Woon menyesal.

"Tidak apa-apa, Hyung. Tidak perlu cemas. Aku hanya butuh air untuk meredakan rasa perih di tenggorokanku," jawab Tae Hyung enteng.

Jong Woon sempat tertegun saat melihat pemuda yang duduk disampingnya itu. Pemuda ini, walau bagaimana membawa perubahan besar bagi Jung Kook. Ia tidak tahu perasaan apa yang Jung Kook atau Tae Hyung rasakan dibalik hubungan persahabatan mereka. Yang pasti, berkat Tae Hyung lah, adiknya kembali menjadi sosok ceria.

"Terima kasih."

Tae Hyung mengerutkan keningnya. "Untuk apa, Hyung?"

"Membuat kelinci kecilku berubah seperti dulu."

Tae Hyung entah harus tersipu atau justru sebaliknya. "Hyung berlebihan. Jung Kook sendiri yang mau berubah, dan berusaha melawan traumanya."

"Tapi kau adalah orang yang menjadi perantaranya, Tae."

Semua tertegun. Ucapan Jong Woon tanpa sadar membuat kelinci manis yang berada di samping Yoon Gi akhirnya terisak. Mereka menoleh pada Jung Kook yang menunduk dalam.

"Hei, mengapa menangis, eum?" tanya Yoon Gi dengan mengelus surai hitam Jung Kook.

Si manis menengadah. "Hanya terharu, mengapa Hyung-ku menjadi melankolis seperti itu, hiks..."

Akhirnya suara tawa dari mereka yang berada di ruangan tak dapat terelakkan, Jung Kook mengerucutkan bibirnya di saat yang lain justru terbahak; menertawakan keluguannya.

"Hyung..." kembali, semua diam ketika Jung Kook angkat bicara.

"Ya, bunny?"

Dengan tangan memilin ujung sweater yang ia kenakan, Jung Kook menatap Jong Woon takut. "Bolehkah besok aku ikut pergi bersama mereka?"

Jong Woon bergeming, tatapannya ia arahkan kepada sahabat-sahabat Jung Kook. "Kalian..."

"Hyung, jika aku tidak boleh pergi juga tidak apa-apa," sela Jung Kook takut.

"Siapa bilang kau tidak boleh pergi, bunny."

Dengan tatapan tak percaya, Jung Kook menatap Jong Woon yang tengah menampilkan seulas senyum manis. "Hyung..."

"Kau boleh pergi, sayangku. Bersenang-senanglah."

"Benarkah?"

Jong Woon mengangguk. "Tentu saja."

"Hyung, aku mencintaimu!" pekik Jung Kook sembari menghambur ke pelukan Jong Woon.

"Ya, aku tahu itu. Dan kalian anak-anak, bisakah menjaga Jung Kook untukku?!"

"Tentu, Sir!" teriak mereka kompak.


"Apa yang kau lakukan, Jung-ie?"

"Hanya mencari udara segar."

"Di tengah udara dingin begini?"

"Ini sejuk, Tae. Kemarilah!"

Duduk di samping Jung Kook. sesekali Tae Hyung menoleh pada pemuda manis disampingnya. Cantik, begitu gumam Tae Hyung. Jung Kook terlihat benar-benar polos, tatapan matanya selalu berbinar lucu. Seperti anak rusa.

Kemudian Tae Hyung segera mengalihkan tatapannya, tak ingin terlalu lama mengagumi si manis.

"Tae, apakah kau memiliki kekasih?"

"Ya."

"Perempuan?"

"Ya. Namanya Han Na Ra, dan sekarang sedang melanjutkan kuliahnya di Amerika. Kau sendiri?"

Jung Kook memilin ujung mantel bulu berwarna abu yang ia kenakan. "Sama."

"Oh, ya?"

"Namanya Jeon Won Woo. Calon dokter, dan sekarang meneruskan kuliah sekaligus menetap di Jepang. Dan dia... laki-laki."

Tae Hyung tak terkejut sama sekali, ia sudah menduga, mungkin lelaki yang dimaksud Jung Kook adalah lelaki yang bersama si manis tempo lalu. Tampan, dan sangat beruntung mendapatkan hati Jung Kook.

"Kau tidak jijik padaku 'kan, Tae?" tanya Jung Kook gugup.

"Mengapa harus jijik, eum? Aku sekarang telah terbiasa-terlebih aku pun memiliki orientasi seksual menyimpang seperti kau."

"Bagaimana perasaanmu sendiri pada, Na Ra?"

"Entahlah, aku hanya merasa itu adalah kesalahan."

Jung Kook mengernyitkan dahi. "Mengapa?"

"Rumit. Aku pun bingung mengartikan perasaanku yang sebenarnya seperti apa. Kami mungkin hanya tak lebih dari mengejar status saja. Aku membutuhkan Na Ra untuk menutupi perasaan cinta kepada adikku di depan, Mama. Sementara Na Ra sendiri, entah apa yang membuatnya enggan untuk berpisah dariku. Kau sendiri, Jung-ie?"

Jung Kook tersenyum nanar. "Won Woo Hyung lelaki yang baik. Tapi aku tidak tahu perasaan seperti apa yang aku rasakan padanya. Hanya merasa bahwa ia begitu melindungiku dan aku perlu membalas perlakuan tulusnya dengan menerima sebagai kekasih, itu saja."

Keduanya terdiam, menghela napas bersamaan. Jung Kook larut dalam lamunannya, pun dengan Tae Hyung. Mereka tidak mengeluarkan sepatah kata. Sampai akhirnya...

"Akh!"

Listrik padam, dan yang tadi itu adalah teriakan Jung Kook. Ia benci gelap, ia tidak suka dengan keadaan seperti itu, sebab, hanya mengingatkannya pada kisah belasan tahun silam. Tempat pengap nan gelap, dengan tangan terikat, dan selotip hitam menutup rapat mulutnya agar tak bebas berteriak.

Jung Kook bergetar hebat, apalagi sekarang Tae Hyung pun tak terdengar suaranya. Sebisa mungkin ia berusaha untuk tenang, menekan ketakutannya.

"Jung-ie..."

Masih tak merespon, seolah sistem motoriknya lumpuh total. Yang Jung Kook lakukan hanya menutup mata, mengepalkan tangan yang terasa lembab karena keringat dingin.

"Jung Kook..."

Sekali lagi, Tae Hyung memanggil Jung Kook. Dengan penerangan dari layar ponsel, Tae Hyung mengarahkan benda persegi panjang itu tepat di wajah Jung Kook. Pucat, itulah satu gambaran yang terlihat pertama kali oleh retina Tae Hyung. Ia tahu bahwa saat ini si manis tengah berada dalam situasi yang sulit, berusaha keras menekan agar trauma masa lalu tak membuat penyakitnya kumat.

Menggenggam erat tangan Jung Kook adalah hal yang dilakukan Tae Hyung sekarang. Dengan cepat ia membawa si manis ke dalam dekapannya, memeluk Jung Kook erat, membiarkan kelinci manis itu tenang.

Sementara itu, Jung Kook tetap menutup matanya, namun kali ini tangannya membalas pelukan Tae Hyung, melingkarkan lengan pada pinggang Tae Hyung, serta menyamankan tubuh yang masih didekap erat oleh si tampan.

Tidak ada yang bersuara, henya deru napas teratur Jung Kook yang mewakili bahwa sekarang si manis sudah membaik. Berterima kasihlah pada Jeon Tae Hyung yang mengerti situasi dan kondisi Jung Kook.

"Kau tidak apa-apa, kan?" Jung Kook mengangguk. "Jika sudah membaik, bisa aku lepaskan?"

"Sebentar lagi, aku mohon..."

Tae Hyung tak menjawab, namun pelukan di tubuh Jung Kook semakin erat. Sadar atau tidak, mereka saat ini merasa nyaman dengan posisi saling merapat satu sama lain. keduanya seperti terhanyut. Mereka sama-sama merasakan gelenyar kenyamanan itu menggelitik hati, menebarkan sensasi geli di perut mereka; seolah ribuan ulat bulu tengah sibuk menari di sana.

Hangat, itulah yang saat ini Jung Kook rasakan. Perasaan yang ia rindukan. Wajahnya merona, degupan jantungnya berdetak lebih cepat. Pelukan Tae Hyung benar-benar melenakan, hingga dengkuran halus Jung Kook membuat Tae Hyung tersenyum gemas.

"Hei, rupanya kau hanya ingin tertidur dipelukanku saja, eoh?" goda Tae Hyung yang tentu saja hanya dijawab oleh napas teratur Jung Kook.

Tae Hyung sendiri membiarkan posisinya tetap seperti itu dengan Jung Kook. Sampai ketika lampu menyala, dan Seok Jin berteriak.

"Apa yang ka—"

"Sst, berhenti berteriak atau kelinci cerewet ini akan terbangun dan merengek, Hyung!" sela Tae Hyung membuat Seok Jin memalingkan wajah kesalnya.

"Ya Tuhan! Mengapa anak ini begitu manis? Tae, aku jadi ingin menciumnya!" itu Yoon Gi yang memekik gemas.

"Hentikan itu, Min Yoon Gi!" dan mendapatkan protes dari Ho Seok yang terlihat mulai posesif pada Yoon Gi.

"Kau menyebalkan, Ho Seok!"

"Ya, aku juga mencintaimu, sayang."

"Hentikan, atau kalian berdua akan aku tendang!" Tae Hyung memekik kesal. "Cepat bantu aku membawa kelinci cerewet ini, Hyung..." namun, sesaat kemudian ia justru merengek. Benar-benar dua bayi besar menyusahkan.

Tae Hyung kemudian segera membawa Jung Kook di punggungnya-setelah dibantu Yoon Gi dan yang lain. Ia membawa Jung Kook yang tak sedikit pun terganggu tidurnya, kebetulan sekamar dengannya.

"Terima kasih, Hyung-deul. Aku akan beristirahat, dan selamat malam."

Mereka pun pergi satu persatu dari kamar Tae Hyung. Membiarkan si tampan kembali berdua dengan kelinci manis yang tengah terlelap.

'Jaga dia untukku, Hyung.'

Tae Hyung ingat ucapan Jung Kook tempo lalu dalam mimpinya, tentang permintaan adiknya untuk menjaga seseorang. Apakah yang dimaksud Jeon Jung Kook adalah meminta Tae Hyung untuk menjaga... Kim Jung Kook?

-FIN-

Akhirnya kelar juga #elapingus. Ihihihi, gimana udah panjang kan chapter ini. 3k lebih loh sayangku :) terima kasih banyak karena lagi aku terharu liat review kalian semua #pelukdulu. Dan dan dan... chapter depan kayaknya benih-benih cinta mulai muncul deh, soalnya rencana emang bakalan banyak banget moment Vkooknya ^^ Konflik HopeGaMin uda tamat ya, dan berakhir dengan Ji Min yang pergi untuk mengobati luka hatinya dengan memilih mengejar impiannya menjadi penari hebat, ihiy!

Silahkan kotak review masih kosong loh sayang :* dan yang nanya harus panggil Vanilla apa, silahkan apa aja, asal jangan thor, atau author lah ya, kesannya kok jadi gak akrab, hihihihi

Yang jelas Vanilla seumuran Xiumin EXO, Lu Han, N VIXX, kebetulan sama Mas Leo VIXX juga, satu tahun lahir, satu tanggal lahir, dan satu hari yang sama juga.

Mangga mau panggil Vanilla pake embel atau panggil nama pena aja juga gpp ^^

Vanilla pamit, sayangku :*