Saigomade (Until The End)

A Story by

Vanilla Sky

Main cast :

Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)

Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

BTS members

Hurt/comfort; shou-ai; romance

VKOOK punya aku! Cerita punya aku! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, aku manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D

A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan maaf karena tidak bisa balas satu persatu review kalian lewat PM seperti biasa -_- beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu. Dan terima kasih juga buat yang sudah memfollow dan memfavoritkan FF ini, juga buat yang masih seneng diem-diem baca (silent reader) terima kasih ya ^^

Chapter 11

...

-preview-

"Tae, apa yang kau..."

"Diam dan tetap seperti ini, anggap saja bahwa sekarang adalah saatnya kau membayar hutang pernah tertidur di pelukanku."

Menghangat, wajah Jung Kook kembali merona. Berapa kali hari ini Tae Hyung berhasil membuat wajahnya seperti tomat?

"Jung-ie..."

"Ya?"

"Saranghae..."

...

Menganga, Jung Kook seperti melayang saat Tae Hyung menggumamkan itu dengan mata terpejam. Responnya kalah cepat dengan apa yang diucapkan Tae Hyung tadi. Apakah telinganya tidak salah dengar? Apakah itu efek kepala Tae Hyung terbentur? Apakah...

"Aku serius."

Kelopak mata Tae Hyung terbuka, kali ini tatapan teduhnya berubah tegas. Jung Kook berusaha mencari celah kebohongan dari binar indah yang selalu berhasil menghipnotisnya itu. Tae Hyung benar, tidak ada satu kebohongan apapun yang sedang ia lakukan saat ini. Si tampan memang serius dengan ucapannya.

"Tapi kita..."

"Sama-sama memiliki kekasih maksudmu?"

Jung Kook mengangguk polos, Tae Hyung benar-benar gemas dibuatnya. Tatapan rusa itu membuatnya jatuh cinta.

"Apa kau percaya padaku?"

Dengan cepat Jung Kook mengangguk, ia tak pernah seyakin ini sebelumnya. "Aku percaya," kemudian tubuh mungilnya mendekap erat Tae Hyung, menggesekkan kepalanya di dada Tae Hyung.

"Lalu, apa jawabanmu apa, Jung-ie?"

Jung Kook kembali merenggangkan tubuhnya, menatap Tae Hyung lekat. Lalu, sebelah tangannya terangkat, kemudian menyentil kening Tae Hyung. "Dasar bodoh. Tentu saja aku juga mencintaimu!" pekiknya.

Keduanya terkekeh, Tae Hyung membawa Jung Kook untuk merapat. Posisi mereka berubah, keduanya menyamping, saling bertatapan satu sama lain.

"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Tae Hyung.

Jung Kook menggeleng, lalu mencubit hidung runcing Tae Hyung. "Sakit?"

Sementara itu Tae Hyung hanya mengangguk lucu. "Mengapa mencubitku, Bunny?"

"Hanya memastikan jika kau tidak sedang bermimpi, Tuan alien."

Perasaan Tae Hyung membuncah. Ia tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Yoon Gi benar, jika cinta tidak pernah memandang gender. Selama ia bahagia, kenapa tidak.

"Tae."

"Ya?"

"Kau melamun lagi. Apa yang kau pikirkan?"

"Banyak hal. Tentang kita, Won Woo, juga Na Ra."

Jung Kook bungkam, tak bisa berkata apapun. Mengapa ia bisa lupa tentang Won Woo?

"Kau takut?"

Kali ini, dengan mantap Jung Kook menggeleng, dan tersenyum. "Tidak."

Tersenyum lebar, Tae Hyung malam ini sangat bahagia. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa mencintai seseorang-apalagi laki-laki-bisa membuatnya tak bisa berhenti tersenyum lepas. Jung Kook adalah alasan untuknya melupakan sebuah kesalahan di masa lalu. Bersama Jung Kook lah Tae Hyung yakin jika semua kesalahan itu mampu diperbaiki.

"Apa kau bahagia, Jung-ie?"

"Ya, tentu saja. Bagaimana denganmu, Tae?"

"Aku, jelas sangat bahagia. Terima kasih."

"Mengapa berterima kasih?" tanya Jung Kook dengan membelai lembut pipi Tae Hyung.

"Karena Tuhan menciptakan makhluk seindah dirimu."

"Cheesy."

Tae Hyung merengkuh tubuh Jung Kook, mengecup sayang puncak kepala si manis. Perasaannya kembali menghangat, rasa geli bercampur nyaman itu benar-benar ingin Tae Hyung rasakan selamanya. Ia tidak perlu menyembunyikan perasaan itu sekarang. Ia bebas mencintai Jung Kook, bukan?

"Besok kita harus berkemas, tiga hari di Jeonju membuatku ingin kembali ke sini... hanya berdua denganmu."

Jung Kook terkikik dalam pelukan Tae Hyung, aroma mint segar yang menguar dari tubuh Tae Hyung ia klaim sekarang sebagai miliknya.

"Apa kau berencana melamarku, Tuan alien?"

"Ini tidak romantis jika disebut dengan lamaran, Bunny."

Diam, Jung Kook menyamankan posisi tidurnya dengan semakin merapat pada Tae Hyung. Bibirnya tak sengaja menyentuh lekukan leher Tae Hyung, mengalirkan sensasi geli, membuat Tae Hyung bergerak gelisah. Ia seharusnya menguatkan diri agar tak lepas kendali, tetapi godaan untuk mengecap manisnya bibir Jung Kook tak bisa ia abaikan begitu saja. Tanpa permisi, bibir Tae Hyung kembali memagut lembut bibir Jung Kook. Jung Kook yang terkejut lamban laun menutup mata, merasakan betapa lembut perlakuan Tae Hyung malam ini. Tidak ada nafsu yang mendominasi, ini hanyalah bentuk Tae Hyung mengekspresikan perasaan bahagianya dan beruntungnya memiliki Jung Kook.

Keduanya terengah saat belahan bibir mereka terpisah sempurna, Tae Hyung mendekatkan wajah, kembali mengecup singkat bibir Jung Kook yang memerah, begitu manis.

"Astaga, aku benar-benar mencintaimu, Jung-ie!" pekik Tae Hyung disambut kekehan kecil Jung Kook.

"Ya, aku tahu jika kau mencintaiku, Tae."

Mereka akhiri malam ini dengan percakapan kecil sebelum tidur. Persetan dengan pesta barbeque yang disiapkan Seok Jin dan yang lain.


...

Kembali ke Seoul, kembali melakukan aktifitas seperti biasa, disibukkan dengan tugas kuliah dan sebagainya. Nam Joon masih berkutat dengan pena di tangannya, setelah kepulangan dari Jeonju, Nam Joon disibukkan dengan tugasnya membuat partitur musik untuk pestival kampus bulan depan. Seok Jin sendiri sudah terbiasa ketika kekasihnya itu sibuk berkencan dengan pena, lirik lagu, dan hal-hal berhubungan dengan musik.

Seok Jin mendekati Nam Joon, ia meletakkan secangkir espreso di atas meja. Si tampan berambut merah muda itu melirik sekilas, tersenyum pada Seok Jin, lantas berkutat lagi dengan tugasnya.

Seok Jin tidak pernah mengeluh, apalagi merasa di nomor duakan, sebab, ia tahu jika Nam Joon bahkan sangat peduli padanya melebihi apapun; sekalipun itu hobinya sendiri. Si cantik bersurai cokelat itu terkekeh manakala ia mengingat kembali tentang bagaimana gigihnya Nam Joon berusaha mendapatkannya ketika itu.

Tiga tahun yang lalu, si biang perusak-begitu sebutan Nam Joon-mengutarakan perasaan padanya. Pada awalnya Seok Jin mengira jika pemuda yang lebih mudanya darinya itu bergurau, membuat lelucon tak lucu seperti biasa, tetapi... Nam Joon serius dengan ucapannya, ia membuktikan bahwa Seok Jin hidupnya, bumi tempatnya berpijak, oksigen untuknya bernapas, dan segalanya. Itu memang terdengar klise, tapi Seok Jin menyukai hal itu. Menyukai si perusak yang sudah memporakporandakan perasaannya begitu dalam.

Kemudian, Seok Ji melingkarkan lengannya di leher Nam Joon, mengecup singkat pipi sebelah kiri Nam Joon.

"Apa tidak sebaiknya besok saja lagi dikerjakan, Joon-ie. Ini sudah larut, dan kau bukan robot, kau juga butuh istirahat, biarkan saja ini dikerjakan bersama Yoon Gi besok."

Nam Joon selalu punya alasan saat Seok Jin menyuruhnya berhenti. Seok Jin selalu bisa membuatnya mengalihkan apapun yang ia kerjakan.

"Mengapa kau juga belum tidur, eum? Bukankah besok akan sangat sibuk?"

Seok Jin menelusupkan kepalanya diperpotongan leher Nam Joon. Sifat manjanya muncul jika hanya berdua dengan Nam Joon. "Aku menunggumu, bodoh," ucapnya malu-malu.

Nam Joon tentu saja terkekeh nyaring, si cantik penyuka warna merah muda ini memang hanya akan kekanakkan jika berdua dengannya. "Baiklah, ayo kita tidur. Aku akan membuatmu terlelap, babi merah mudaku sayang."

Satu pukulan lembut Seok Jin daratkan di kepala Nam Joon. Lagi-lagi, Nam Joon menyebutnya "babi merah muda". Tidak adakah panggilan sayang lain yang bisa Nam Joon berikan? Tetapi, bukan Nam Joon jika tidak bisa membuat Seok Jin tak pernah mampu menolak apapun yang ia mau.


...

Perpustakaan adalah tempat favorit Tae Hyung di urutan ke dua setelah Jung Kook, musim semi, dan tempat tidur. Tae Hyung akan dengan mudah terlelap saat kepalanya menyandar di dinding; spot paling sudut perpustakaan, dengan alunan musik dari earphone membuatnya langsung pulas.

Hampir satu jam mata kuliah kosong ia habiskan untuk tidur, sampai ketika sentuhan lembut seseorang membuatnya terpaksa membuka mata.

Tae Hyung mengerjap lucu, mengusap perlahan matanya, mengumpulkan kesadaran, kemudian ia tersenyum saat Jung Kook yang ia lihat sekarang.

"Apa aku mengganggumu, Tae?"

Tae Hyung menggeleng lembut. "Selama itu kau, aku tidak akan merasa terganggu, Baby."

"Cheesy."

"Tapi kau menyukai aku yang cheesy, kan?" goda Tae Hyung pada Jung Kook yang menyandarkan tubuh disampingnya.

"Tidak juga."

"Benarkah?"

"Lagu apa yang kau dengarkan?"

Tae Hyung melepas sebelah earphone-nya, lalu menempelkan di telinga Jung Kook. "Bagaimana? Bagus, kan, lagunya?"

Jung Kook mengangguk, alunan musik yang menyapa indra pendengarannya memang sangat bagus. Tetapi ia tidak pernah mendengar lagu ini sebelumnya. Mungkin ini lagu dari musisi pendatang baru.

"Lagu ini ciptaan Nam Joon Hyung, dan Yoon Gi Hyung. Mereka, ah bukan hanya mereka, aku ingin kau juga ikut serta menyanyikannya saat festival kampus nanti."

"Kenapa aku? Kau bahkan belum mendengar suaraku saat bernyanyi, Tae."

"Perasaanku mengatakan jika Jung Kook-ku memiliki suara yang bagus."

Jung Kook mencubit lengat Tae Hyung. "Dasar bodoh."

"Kemarilah, aku ingin memelukmu." Tae Hyung merentangkan tangannya, area sudut perpustakaan memang jarang dilewati mahasiswa manapun, alhasil, ia dan Jung Kook bisa mencuri waktu untuk bermesraan.

Jung Kook menyondongkan tubuhnya, merapatkan tubuhnya, hingga detik selanjutnya mereka larut dalam dekapan hangat yang menenangkan. Mulai saat ini, memeluk Tae Hyung adalah hal yang akan Jung Kook masukan ke dalam daftar favoritnya.

"Tetap seperti ini untuk beberapa saat tak masalah, kan, Bunny."

"Ya, tentu saja."


...

Jung Kook dan Tae Hyung turun dari mobil, keduanya masuk ke dalam kafe Jong Woon yang terlihat selalu ramai. Mereka tidak menemukan Jong Woon atau Hyun Hoon di manapun. Yang terlihat hanya Jong Dae, sepupu Jung Kook yang kebetulan sedang mengantar pesanan ke pengunjung.

"Chen Hyung, di mana Hyung dan yang lain?"

"Di ruang VVIP, ada tamu penting datang dari Jepang," ucap Jong Dae tanpa menunjukkan ekspresi yang berarti.

"Jepang?"

Jong Dae mengangguk. "Ya, kekasihmu, Jeon Won Woo."

Ada penekanan pada kalimat terakhir Jong Dae, dan berhasil menampar Tae Hyung maupun Jung Kook. Keduanya berpandangan satu sama lain, bingung adalah hal yang saat ini mereka rasakan. Hubungan mereka bahkan baru resmi kemarin malam, mengapa harus datang masalah secepat ini?

"Sebaiknya kalian ke dalam saja."

Jung Kook mengangguk, kemudian menggenggam tangan Tae Hyung, dan menarik si tampan untuk ikut ke dalam. Bagi Tae Hyung memang tidak ada pilihan yang baik saat ini, jika memutuskan pulang, itu berarti ia akan di cap sebagai pengecut, jika tetap tinggal pun, sama saja ia seperti pecundang menyedihkan.

Bagaimana bisa ia melihat Jung Kook-nya bermesraan dengan lelaki lain; walaupun Tae Hyung tahu jika Won Woo adalah kekasih Jung Kook?

"Ayo, aku akan mengenalkanmu pada, Won Woo Hyung."

Tae Hyung tak menjawab, ia hanya patuh dan mengikuti Jung Kook.

Jung Kook membuka pintu, semua orang yang tengah berkumpul di dalam ruangan langsung diam seketika, Jung Kook tersenyum saat Jong Woon memanggilnya dan juga Tae Hyung untuk masuk ke dalam. Jong Woon menyambut Tae Hyung, dan membawanya untuk duduk disampingnya.

Terjadi kecanggungan sesaat, Jung Kook bingung harus menyambut Won Woo seperti apa, apalagi sekarang ada Tae Hyung.

"Baby, kau tidak ingin menyambut kedatanganku?" Jung Kook tersenyum samar, menatap Tae Hyung dan Won Woo bergantian. Tanpa aba-aba, Won Woo memeluk Jung Kook erat, sementara Tae Hyung sendiri hanya menatap Jung Kook dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Tae, bagaimana kabarmu?" pertanyaan Jong Woon sukses membuyarkan lamunan Tae Hyung, membuatnya terpaksa menoleh ke arah Jong Woon yang tersenyum.

"Kabarku baik, Hyung sendiri?"

"Cemas menunggu kelahiran anak pertama kami," jawab Jong Woon dengan raut wajah cemas.

"Memangnya berapa bulan kehamilan, Hyun Hoon Noona?"

"Bulan ini memasuki sembilan bulan."

"Jong Woon memang seperti itu, Tae. Abaikan saja sikapnya yang selalu berlebihan itu."

Tae Hyung terkekeh, pasangan Jong Woon dan Hyun Hoon, mereka memang begitu serasi. Hyun Hoon dengan kepribadiannya yang tenang mampu mengimbangi Jong Woon yang memilik sifat kekanakkan. Padahal pria berusia 31 tahun itu sebentar lagi akan menjadi ayah, tetapi rasa cemas akan memiliki anak pertama justru yang membuat Jong Woon terkadang memiliki emosi yang tak stabil.

"Tae, apa kau memiliki kekasih?"

Deg. Secara refleks Jung Kook melepaskan pelukan Won Woo, si manis ikut bergabung dengan Tae Hyung dan yang lain.

"Ya, aku memiliki kekasih."

"Wah, siapa lelaki atau gadis yang beruntung mendapatkanmu itu, Tae?"

Tae Hyung menatap Jung Kook lekat, hampir saja si manis lupa bagaimana ia bernapas dengan benar karena tatapan Tae Hyung yang memabukkan.

"Dia..." Jung Kook menelan ludahnya panik saat Tae Hyung menggantungkan kalimatnya. "Seorang gadis," dan ucapan terakhir Tae Hyung membuat Jung Kook menunduk sedih.

Tae Hyung tahu jika ucapannya menyakiti perasaan Jung Kook sekarang, tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ingin rasanya ia mendekati Jung Kook, kemudian mengecupi tiap inchi wajah kelinci manisnya agar tak salah paham.

"Oh ya, ini kekasih Jung Kook, Jeon Won Woo. Dan Won Woo, ini Jeon Tae Hyung, sahabat Jung Kook." Jong Woon menarik tangan ke dua pemuda tampan itu secara bersamaan.

"Tae Hyung."

"Won Woo, senang bertemu denganmu, Tae Hyung."

Tae Hyung tersenyum. "Sama-sama. Oh ya, sepertinya aku harus pulang, ada hal yang ingin kukerjakan."

"Biar aku antar kau sampai depan, Tae."

Jung Kook segera pergi meninggalkan Won Woo. Tae Hyung sendiri, setelah berpamitan kemudian menyusul Jung Kook yang lebih dulu keluar.

Mereka berjalan berdampingan, Tae Hyung tetap diam selama menuju parkiran, sementar Jung Kook yang berada di samping Tae Hyung enggan untuk berbicara lebih dulu. Sesekali si manis melirik takut ke arah Tae Hyung, tangannya menarik ragu kemeja Tae Hyung, membuatnya menoleh dan memandang ke arah Jung Kook yang menunduk.

"Maaf."

Tae Hyung menghela napas dalam, sungguh ia tak tega jika melihat kelinci manisnya murung seperti itu. Tae Hyung membungkukkan tubuhnya, menatap Jung Kook, menempelkan keningnya pada kening Jung Kook.

"Mengapa minta maaf, eum?"

"Hanya takut kau marah..."

Tae Hyung akhirnya terkikik gemas, ke dua tangannya terangkat, kemudian menarik wajah Jung Kook dan mencium sekilas bibir si manis.

"Aku tidak marah, sungguh. Hanya merasa tidak enak saja dengan suasana di dalam."

Dengan semburat malu yang masih menghiasi wajahnya, Jung Kook akhirnya menghambur ke pelukan Tae Hyung. Untung saja parkiran kafe Jong Woon agak menepi dan berada di samping kafe, jadi mereka tidak akan curiga kepada Tae Hyung dan Jung Kook.

"Mengapa aku bisa sangat mencintaimu, Jung-ie?!" pekik Tae Hyung tertahan.

"Mungkin pesonaku yang terlalu menyilaukan hingga akhirnya kau tak bisa berpaling dariku, Tae."

"Ow, sejak kapan kelinci kesayangan Tae Hyung mempunyai kadar percaya diri yang tinggi, eoh?"

"Sejak menjadi milik, Jeon Tae Hyung," ke duanya terkekeh, saling menatap satu sama lain.


...

Festival kampus adalah acara yang sangat dinanti oleh seluruh mahasiswa. Berbagai pertunjukan bakat ditampilkan, dimeriahkan oleh mahasiswa dari berbagai jurusan tentunya. Pun tak ketinggalan dengan Tae Hyung dan kawan-kawan. Festival tahun lalu Ji Min masih turut serta, sibuk berkolaborasi dance bersama Ho Seok, tetapi kali ini, Ho Seok sendiri, tidak ada Ji Min yang merajuk ketika lelah berlatih, tidak ada Ji Min yang mudah sekali tersulut emosi jika tak sependapat dengan yang lain. Dan, tidak ada Ji Min yang mereka rindukan sekarang.

Tae Hyung sibuk dengan partitur lagu di tangannya. Menghapal bagiannya dengan serius. Sesekali ekor matanya ia arahkan ke samping kiri tempatnya duduk, di mana Jung Kook tengah berkonsentrasi memainkan instrumen musik untuk lagu yang akan mereka nyanyikan nanti.

Piawai, jari-jari Jung Kook begitu lihai menari di atas tuts piano. Si manis kadang menutup mata saat lagu yang ia mainkan benar-benar membuatnya terhanyut. Lirik yang memiliki makna dalam. Nam Joon dan Yoon Gi memang hebat dalam hal menciptakan lagu. Ho Seok sendiri pandai menari dan hebat dalam menciptakan gerakan. Sementara Seok Jin, bagi Jung Kook, pemuda paling tua di antara mereka adalah sosok seorang ibu. Mengapa ibu? Karena Nam Joon lah sosok ayah. Sementara Ji Min, walaupun Jung Kook hanya sebentar kenal dan dekat dengan Ji Min, baginya... pemuda paling pendek di antara yang lain adalah sosok kakak yang baik untuknya. Lalu Tae Hyung sendiri... Jung Kook mencintainya. Mengenal Tae Hyung adalah hal aneh yang pernah terjadi selama ia hidup. Namun, apakah selamanya Jung Kook mampu bersama Tae Hyung? Bisakah mereka bersama seperti apa yang mereka inginkan? Dapatkah...

"Kau, melamun lagi, Bunny."

Jung Kook tersentak, permainan pianonya memang telah selesai sejak tadi. Ia tak sadar jika dirinya larut dalam lamunannya sendiri.

"Memikirkan apa, eum?" lagi, Tae Hyung bertanya.

"Tidak memikirkan apapun. Ayo ke kantin, segelas jus melon pasti bisa meredakan tenggorokanku yang kering," elak Jung Kook.

Tae Hyung sebenarnya ingin bertanya lebih banyak, namun melihat Jung Kook yang berusaha mengalihkan itu semua, membuatnya menjadi tak tega. Dengan senyum samar, Tae Hyung pun menggandeng tangan Jung Kook, membawa si manis menuju kantin.


...

"Bagiamana dengan kuliahmu, Baby?"

Jung Kook dan Won Woo tengah menikmati makan malam di sebuah restoran Italia. Ini hari ke dua Won Woo berada di Korea, menikmati dua minggu liburan tahun baru.

"Tidak aneh, Hyung. Hanya belajar, berkumpul dengan Tae Hyung dan yang lain."

Won Woo menikmati celotehan Jung Kook, walaupun kekasihnya itu masih cerewet seperti biasa, entah mengapa Jung Kook terasa berbeda. Ah, Won Woo segera mengalihkan pikiran anehnya itu, berusaha berpikir bahwa mungkin karena mereka lama tidak bertemu sehingga Jung Kook agak sedikit berbeda.

"Baby..."

"Ya, Hyung?"

"Papa dan Mama sudah memberi restu perihal pertunangan kita. bisakah—"

"Hyung, bisakah kita pulang? Aku lupa jika harus mengerjakan tugas kelompok di apartemen Tae Hyung untuk dikumpulkan besok," sela Jung Kook memotong ucapan Won Woo.

Mereka berdua terdiam, Won Woo mengangguk, dan menggandeng tangan Jung Kook. Keduanya berjalan menuju parkiran. Jung Kook menjadi lebih pendiam selama diperjalanan, tidak ada obrolan berarti, hanya sesekali Won Woo akan mengatakan tentang kegiatannya selama ia di Jepang.

"Benarkah tidak ingin aku antar sampai apartemen temanmu itu, sayang?"

Jung Kook menggeleng, ia tersenyum setelah turun dari mobil, kemudian melambaikan tangan pada Won Woo. "Hyung langsung pulang dan beristirahat, bukankah hotel tempat Hyung menginap juga lumayan jauh dari sini?"

Ya, Won Woo memang memilih tinggal di hotel selama berada di Korea, dengan alasan bahwa ia tidak ingin merepotkan Jong Woon dan keluarganya.

"Baiklah, hati-hati di jalan. Jika ada apa-apa jangan segan menghubungiku. Aku mencintaimu, Baby."

"Sampai jumpa besok di kafe, Hyung."

Setelah kepergian Won Woo, Jung Kook berjalan berlawanan arah, kemudian memasuki area apartemen mewah dan menuju lantai lima untuk menemui Tae Hyung. Saat elevator terbuka, Jung Kook segera melangkahkan kaki menuju kamar nomor 1001. Tatapannya nanar, tangannya bergetar ketika menekan bel. Sebuah layar monitor kecil menyala di samping pintu, menampilkan Tae Hyung dengan rambutnya yang basah.

"Tae..."

Begitu wajah Jung Kook yang Tae Hyung lihat di layar monitor, si tampan segera membuka pintu, kemudian hampir saja terjungkal akibat Jung Kook yang tiba-tiba memeluknya.

"Ada apa, eum? Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Jung Kook menggeleng lembut, namun tetap enggan melepaskan pelukannya dari Tae Hyung.

"Sebaiknya kita masuk, Jung-ie."

Di sinilah Jung Kook duduk, dengan tetap diam. Tae Hyung tentu saja bingung ketika mendapati kekasih manisnya itu datang ke apartemennya untuk yang pertama kali tetapi dalam kondisi yang bisa dikatakan sangat menyedihkan. Tidak ada percakapan berarti, setelah meninggalkan Jung Kook sebentar untuk mengambil air, Tae Hyung lantas duduk kembali di samping si manis.

"Jadi, apa yang membawa kekasihku ini datang ke sini? Apa sesuatu terjadi padamu, Baby?"

Jung Kook akhirnya menatap Tae Hyung. "Tae, malam ini... tidurlah denganku?"

-TBC-

Halo kesayangan Vanilla, long time no see! Padahal 'kan baru kemarin Vanilla bawa FF yang kolaborasi ya #ditabok.

Selamat berlibur, dua minggu lumayan lah ya buat jernihin pikiran dari segala rutinitas seperti biasa, hihihi

Chapter depan ada scene NC, keberatan nggak ya kalo misal ratednya Vanilla naikin ke mature? Tapi diksinya gak vulgar kok, soalnya Vanilla pun memang suka geli sendiri dan gak bisa bayanginnya kalo buat NC yang detail banget -_- #sokpolos.

Udah gitu aja sih, yang jelas terima kasih banyak karena tetap nungguin FF ini publish, walaupun Vanilla tau FF ini masih jauh dari kata bagus.

-Peluk cium-

Vanilla Sky