Saigomade (Until The End)

A Story by

Vanilla Sky

Main cast :

Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)

Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

BTS members

Hurt/comfort; shou-ai; romance

VKOOK punya aku! Cerita punya aku! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, aku manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D

A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan maaf karena tidak bisa balas satu persatu review kalian lewat PM seperti biasa -_- beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu. Dan terima kasih juga buat yang sudah memfollow dan memfavoritkan FF ini, juga buat yang masih seneng diem-diem baca (silent reader) terima kasih ya ^^

Warning

SCENE NC! VANILLA GAK BERTANGGUNGJAWAB KALO MISALKAN ADEK-ADEK YANG DI BAWAH UMUR NEKAT BACA! SILAHKAN SAJA, TAPI NANTI JANGAN PROTES APAPUN YA, HIHIHIHI

Chapter 12

...

-preview-

"Ada apa, eum? Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Jung Kook menggeleng lembut, namun tetap enggan melepaskan pelukannya dari Tae Hyung. "Sebaiknya kita masuk."

Di sinilah Jung Kook duduk, dengan tetap diam. Tae Hyung tentu saja bingung ketika mendapati kekasih manisnya itu datang ke apartemennya untuk yang pertama kali tetapi dalam kondisi yang bisa dikatakan sangat menyedihkan. Tidak ada percakapan berarti, setelah meninggalkan Jung Kook sebentar untuk mengambil air, Tae Hyung lantas duduk kembali di samping si manis.

"Jadi, apa yang membawa kekasihku ini datang ke sini? Apa sesuatu terjadi padamu, Baby?"

Jung Kook akhirnya menatap Tae Hyung. "Tae, malam ini... tidurlah denganku?"


...

Tae Hyung gelagapan, ucapan Jung Kook membuatnya kikuk bukan main. Ia mencoba menyangkal dengan memberikan lelucon yang sayangnya Jung Kook justru semakin terlihat sedih. Jujur saja, ia bukanlah pria baik-baik, jika dihadapkan dengan tawaran seperti itu, Tae Hyung mungkin tidak akan pernah bisa menolak. Apalagi ini Jung Kook, si manis yang menjadi kekasihnya hampir seminggu ini, yang menawarkan hal yang masih cukup tabu kepada Tae Hyung.

"Tidurlah denganku. Milikku aku malam ini, Tae."

Lagi, ucapan Jung Kook seperti menampar telak wajahnya, jangankan menjawab ucapan Jung Kook, sekarang ini bahkan untuk menelan ludah pun rasanya sulit bagi Tae Hyung.

"Jung-ie, tapi... mengapa kau tiba-tiba seperti ini?"

Jung Kook menunduk, berusaha menyembunyikan kekalutan yang menderanya. Tangannya bergetar, ia tak bisa sepenuhnya mengalihkan kecemasannya pada apapun. Mungkin sekarang di mata Tae Hyung dirinya hanyalah pemuda murahan yang meminta ditiduri agar terlepas dari beban yang serasa mencekiknya.

Tae Hyung sendiri merasa bersalah, tangannya kemudian mengelus surai hitam Jung Kook. "Katakan sesuatu, paling tidak agar aku tidak khawatir?"

Kalimat yang diucapkan Tae Hyung membuat Jung Kook dengan susah payah menengadah, memperlihatkan iris hazelnya yang tampak berkaca-kaca. Bagaimana ia menyampaikan ini semua pada Tae Hyung? Bahkan kisah mereka baru saja dimulai. Siapkah Jung Kook berpisah dengan Tae Hyung? Sementara bagi Jung Kook sendiri Tae Hyung benar-benar sosok yang ia butuhkan.

"Hei, Baby... mengapa menangis?"

Tae Hyung gelagapan manakala melihat kelinci kecilnya itu begitu rapuh. Tangannya sibuk mengusap lelehan kristal bening yang tak henti keluar dari mata Jung Kook. Si manis terisak dengan kelopak matanya tertutup, sementara Tae Hyung tetap menangkup pipinya yang kemerahan. Tanpa ragu lagi, Tae Hyung akhirnya memeluk Jung Kook, mengusap punggung Jung Kook dengan hati-hati; seolah Jung Kook adalah patung kaca yang rapuh.

"Jangan menangis. Katakan sesuatu, kumohon..."

Jung Kook meremas kaos yang dikenakan Tae Hyung dengan kuat, sementara bibirnya masih mengeluarkan isakan. "Aku terdengar seperti pria murahan ya, Tae?" ucapnya lirih.

Tae Hyung menggeleng lembut. "Tidak, sayang. Hanya saja aku bingung."

"Won Woo Hyung mengatakan sesuatu malam ini kepadaku. Tentang..." Tae Hyung melepaskan pelukan Jung Kook, dan hanya menatap Jung Kook sekarang, membiarkan si manis mengatakan semuanya. "Pertunangan kami. Tapi, aku... kau... kita... bagaimana, hiks..."

"Jangan menangis, kumohon..."

Jung Kook mengusap airmatanya. "Maka dari itu, tidurlah denganku malam ini, Tae Hyung-ie. Jadikan aku milikmu seutuhnya. Kumohon..."

"Aku tidak ingin menyakitimu, Baby. Apa hanya itu cara agar membuatmu baik-baik saja?"

"Ya, Hanya itu."

Tae Hyung menyelami sorot mata Jung Kook yang terlihat putus asa sekarang. "Apa kau tidak akan menyesal melakukannya denganku?" sekali lagi Tae Hyung tampak meyakinkan.

"Tidak sama sekali, Tae."

"Baiklah."

Di sini Jung Kook direbahkan dengan penuh hati-hati oleh Tae Hyung. Di dalam kamar Tae Hyung, di atas tempat tidur Tae Hyung. Jung Kook dapat merasakan dengan jelas degupan jantungnya begitu kencang.

"Kau benar-benar tidak akan menyesal melakukan ini denganku, Baby?"

Jung Kook mengangguk dengan penuh keyakinan, kemudian meraih kepala Tae Hyung, dan melumat rakus bibirnya. Ada perasaan hangat yang membuncah memenuhi hati Tae Hyung. Dengan bertumpu pada tangannya, ia pun membalas lumatan Jung Kook, mendominasi si manis yang terlihat kewalahan. Belahan bibir mereka terpisah dengan benang saliva yang menjadi penghubung, Tae Hyung menyukai wajah Jung Kook yang kini memerah sempurna, sangat seksi, apalagi wajah si manis benar-benar sayu sekarang. Lagi, Tae Hyung kembali membawa Jung Kook dalam sebuah kecupan penuh gairah. Kali ini ia sudah tidak bisa lagi menahannya, Tae Hyung kecil di bagian selatan tubuhnya benar-benar membuatnya gelisah dan salah tingkah.

Jung Kook tak menolak saat Tae Hyung mulai melepaskan pakaian di tubuhnya, lalu memberikan tanda kepemilikan pada setiap inchi tubuh polosnya. Demi Tuhan, ia tak bisa mengelak itu semua. Tae Hyung benar-benar memanjakan tiap jengkal titik sensitifnya.

"Kau boleh melakukan apapun padaku jika merasa kesakitan, sayang. Dan sial, maafkan aku karena mungkin tidak bisa melakukannya dengan lembut, ugh!" erang Tae Hyung saat berhasil menembus pertahanan Jung Kook, dengan susah payah ia menahannya agar tak menyakiti Jung Kook, membiarkan si manis menetralkan rasa aneh yang menderanya.

"Oh Tuhan, sayang maafkan aku..." ucap Tae Hyung saat melihat Jung Kook menangis.

"Tidak apa-apa, Tae. Bergeraklah."

Tae Hyung mulai menggerakkan tubuhnya. Lidah Tae Hyung yang piawai lagi-lagi mengecupi titik sensitifnya, membuat Jung Kook merasakan letupan gejolak itu kian menggebu dan siap meledak kapan saja. Dan pada saat Tae Hyung menghantarkan sengatan listrik dan membawanya melayang, serta terhempas dalam sebuah kelegaan, saat itulah Jung Kook kembali menangis.

"Maafkan aku, sayang. maaf..." Tae Hyung dengan napas yang masih tersengal kembali mengucapkan kalimat itu tanpa henti. Bibirnya bahkan mengecupi tiap inchi wajah Jung Kook yang basah oleh keringat.

"Sekarang aku milikmu, kan, Tae?"

Sungguh, kebahagiaan mana yang mampu Tae Hyung sangkal setelah bersama Jung Kook. "Tuhan, kenapa aku sangat mencintaimu!"

"Aku juga sangat mencintaimu, Tae Hyung-ie. Terima kasih."

Setelahnya Jung Kook memejamkan mata, helaan napas teratur menjadi jawaban bahwa si manis telah tertidur meninggalkan Tae Hyung sendirian.

"Selamat tidur, sayang."


...

Tengah malamnya, Jung Kook terbangun dengan posisi tidur berhadapan dengan Tae Hyung. Ia menengadahkan wajahnya, menatap lekat paras tampan pria pujaannya. Tae Hyung terlihat sangat polos dan menggemaskan ketika tertidur seperti ini.

"Apakah aku menyakitimu, Tae?" Tae Hyung tak terusik sama sekali. Rupanya ia begitu kelelahan setelah menyelesaikan aktifitas malam mereka yang panjang. "Apa kau akan merelakan orang lain yang melingkarkan cincin di jari manisku; setelah banyak hal yang telah kita lewati bersama?" Jung Kook membelai pipi Tae Hyung dengan lembut, takut-takut ia membangunkan Tae Hyung.

"Maafkan aku jika pada akhirnya justru melukaimu, Tae..."

Kali ini lelehan liquid bening itu kembali membasahi kelopak matanya. Jung Kook menangis dengan masih menatap taat wajah tidur Tae Hyung yang begitu damai.

"Aku takut, Tae. Apa yang harus aku lakukan?"

Jika Jung Kook mengira bahwa Tae Hyung benar-benar tak terusik olehnya, ia salah. Karena sesungguhnya, pria itu sudah terbangun saat Jung Kook berbicara tadi. Tae Hyung mendengar semua ucapan Jung Kook.

"Mengapa menangis, hum? Apa kau bermimpi buruk?"

Jung Kook terhenyak ketika melihat Tae Hyung membuka matanya─menatapnya lekat. Pria tampan itu kini membawa tubuh Jung Kook untuk merapat padanya. Berkali-kali, Tae Hyung-pun mengecup puncak kepala Jung Kook dengan sangat lembut dan terkesan hati-hati. Ia tahu tentang alasan Jung Kook menangis malam ini. Tae Hyung cukup paham. Namun, sepertinya untuk saat ini ia akan memilih diam, berusaha menekan rasa sakit yang menguar.

"Jangan menangis lagi. Jangan pernah berkata bahwa kau telah melukaiku. Sungguh, dengan kau membalas perasaanku, itu sudah lebih dari cukup, sayang." Jung Kook mengangguk, sesekali isakannya masih terdengar jelas di telinga Tae Hyung.

Keduanya menjauhkan tubuh masing-masing. Namun, baik Jung Kook dan Tae Hyung tak berniat untuk memalingkan tatapannya ke arah manapun.

"Apa yang harus aku lakukan, Tae?"

Tae Hyung membelai pipi Jung Kook, lalu tersenyum lembut. "Jangan melakukan apapun. Tetaplah menjadi Jung Kook yang Tae Hyung cintai. Dan besok kita cari jalan keluarnya, ya?"

Jung Kook mengangguk, lalu menelusupkan kepalanya di leher Tae Hyung.

"Ayo tidur, sayang, besok akan jadi hari yang panjang untuk kita berdua."


...

Pagi kembali menghampiri, kicau burung tampak mengusik mimpi indah Jung Kook pagi itu. Kilau mentari bahkan serta merta mengintipnya dari balik tirai yang tak tertutup rapat, membuat si manis mau tak mau terbangun dalam dekapan seseorang. Ah, ia lupa jika semalam Tae Hyung memang bersamanya, menghabiskan malam penuh gairah, dan entah mengapa membuat pipi Jung Kook memanas ketika mengingat itu semua.

Dengan ragu, Jung Kook mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Tae Hyung yang masih pulas tertidur. Udara dingin dari celah ventilasi membuat tubuh polosnya bergetar. Dengan cepat, ia merapatkan tubuhnya dan kembali memeluk Tae Hyung.

"Selamat pagi, Baby," sapa Tae Hyung yang kini melingkarkan tangannya untuk merengkuh tubuh Jung Kook. "Kau rupanya mencuri kesempatan di saat aku tertidur, hum?"

Jung Kook tak menjawab, justru si manis menempelkan bibirnya di lekukan leher Tae Hyung.

"Apa kau bermaksud menggodaku pagi ini?"

Jung Kook menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku menggodamu, bodoh," dan Tae Hyung hanya terkekeh.

"Ayo bangun, kita harus bersiap untuk berangkat kuliah."

Jung Kook sebenarnya masih ingin berlama-lama bersama Tae Hyung. Tapi, pria tampan itu benar, ia pun harus melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiswa yang baik. Terlebih pagi ini Jung Kook pun harus mengikuti tes, bisa-bisa Profesornya akan mengomel tanpa henti jika ia terlambat beberapa menit masuk ke kelas.

"Kau mandilah lebih dulu, Tae. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita." Jung Kook hanya melingkarkan pakaian mandi untuk menutupi tubuh polosnya. Sementara Tae Hyung kembali bergelung dengan selimut tebal. "Ya! Bangun pemalas. Bukannya kau bilang ada jadwal kuliah hari ini?" dan dengan tatapan malas, Tae Hyung-pun berjalan tanpa berniat menutupi tubuh polosnya menuju kamar mandi.

"Ish! Setidaknya kau tutupi tubuhmu dengan selimut, bodoh!" teriak Jung Kook yang terus merutuki sikap gila Tae Hyung.

"Mengapa aku harus menutupi semua darimu, Baby? Kau bahkan sudah melihat semuanya tadi malam!"

"Dasar tak waras!"

Tae Hyung hanya terkekeh menanggapi omelan Jung Kook di hari sepagi ini.

Keduanya kini duduk berhadapan. Memakan sarapan berupa roti isi buatan Jung Kook. Mereka telah berpakaian rapi dan siap melakukan aktifitas hari ini. Jung Kook meletakkan gelas kosong itu di atas meja, dengan tatapan masih mengawasi Tae Hyung yang memakan sarapannya dengan lahap.

"Aku akan pulang dulu ke rumah untuk mengambil tas dan beberapa buku, kau pergilah lebih dulu ke kampus, dan Won Woo Hyung juga bilang ingin mengantarku."

Tae Hyung mengurungkan niatnya untuk melahap kembali roti isi kesukaannya itu. "Aku tahu. Tadi pagi tak sengaja membaca pesan singkat darinya untukmu."

"Kita harus apa, Tae Hyung?"

Jung Kook menatap Tae Hyung sedih. Baru saja ia menemukan kebahagiaan yang sebenarnya tak ia dapatkan dari Won Woo, dan kini ia harus mengakhiri semuanya begitu saja.

"Apa kau mempercayaiku, Jung-ie?" Jung Kook mengangguk. "Kita tetap bisa berpura-pura tidak terjadi apapun. Kurasa itu tidak sulit."

"Aku bukanlah orang yang pandai melakukan itu."

"Jadi, kumohon percaya padaku. Selama gerak-gerik kita tak membuat kekasihmu curiga. Aku yakin ini akan baik-baik saja."

Jung Kook mengangguk. "Apa tidak apa-apa? Apa sebaiknya kita akhiri saja hubungan gila ini?"

Tae Hyung bangkit dari duduknya. Menarik Jung Kook untuk berdiri dan menatapnya dari jarak dekat. "Aku bahkan mampu menahan sakit di sini ketika melihat Won Woo memelukmu malam itu. Jadi tidak masalah untukku."

Jung Kook menggeleng. "Tapi ini berbeda, Tae Hyung-ah. Aku tahu perasaanmu, dan kau juga tahu aku mencintaimu."

"Tidak apa, Baby."

"Aku tidak bisa. Aku tidak ingin menyakitimu..."

Tae Hyung mendekap tubuh Jung Kook. Memeluk tubuh si manis erat. "Tidak apa. Selama itu kau, benar tidak apa."


...

Benar saja, setiap hari dirinya harus berpura-pura memerankan drama kebohongan ini di depan Won Woo. Jung Kook sebenarnya tak memiliki niat untuk menyakiti Won Woo. Ia memang menyayangi pria itu. Tapi, bersama Tae Hyung, ia menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia dapatkan dari Won Woo. Karena Tae Hyung selalu mampu membuat dadanya bergemuruh. Pipinya bahkan akan merona ketika si tampan selalu menggodanya tanpa henti. Tae Hyung mampu mengubah langit cerah Jung Kook menjadi berhiaskan pelangi indah. Itulah yang tak bisa ia dapatkan dari Won Woo yang cenderung lurus dan monoton.

Siang itu, Jung Kook baru saja akan pulang dari kafe menuju rumah. Mengingat jika ini akhir pekan, jadi pekerja paruh waktu di kafe Jong Woon ditambah. Sehingga, kakaknya memberikan kelonggaran pada Jung Kook untuk pulang lebih cepat.

Jung Kook sengaja menggunakan mobil sendiri kali ini, ia tak meminta Won Woo menjemputnya. Si manis itu hanya ingin menikmati akhir pekannya dengan bersantai seorang diri di taman kota.

"Musim dingin memang lebih indah jika dinikmati berdua. Bermain lempar salju, atau bahkan membuat boneka salju." Jung Kook tersenyum. Sesekali, ia pun menyesap susu stroberi kesukaan Tae Hyung.

"Alien itu sedang apa sekarang?" monolog Jung Kook lagi.

Baru saja ia membicarakan Tae Hyung seorang diri, tiba-tiba ponselnya bergetar, menandakan jika ada panggilan masuk atau sekedar pesan singkat. Ia segera merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya, melihat siapa yang menghubunginya di saat bersantai seperti ini.

"Panjang umur rupanya." Jung Kook terkekeh, lantas segera membuka layar dan membaca sebuah pesan dari Tae Hyung.

"Belajar seharian membuat kepalaku sakit. Bisakah kau membawakan es krim stroberi kesukaan kekasihmu ini, sayang? Aku mencintaimu."

Membaca pesan singkat dari Tae Hyung membuat Jung Kook menggeleng pasrah. Beginilah jika ia berani mengambil resiko menjalin kasih diam-diam dengan pria seperti Tae Hyung.

"Sebagai gantinya, kau akan memberikan aku hadiah apa, eoh?" balas Jung Kook.

"Satu kecupan tak buruk, bukan?"

Jung Kook kembali menggeleng. Heran, mengapa Tae Hyung berbanding terbalik dengan Won Woo yang bahkan tak berani mengatakan hal-hal frontal seperti itu padanya. Jung Kook tak ingin membuang waktunya secara percuma, dengan cepat ia bergegas menuju mini market dan membeli beberapa es krim kesukaan Tae Hyung. Ia lantas berjalan menuju mobilnya yang terparkir di sisi trotoar. Melajukan mobil ferarri itu dengan kecepatan sedang.

Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di apartemen Tae Hyung, sebab jarak taman kota dan apartemen mewah Tae Hyung hanyalah beberapa kilo saja. Jadi cukup dengan waktu lima belas menit, kini Jung Kook sudah duduk manis di sofa ruang tengah apartemen Tae Hyung, menunggu sang empunya rumah yang masih melakukan kegiatan rutinnya di kamar mandi. Sesekali, Jung Kook dapat mendengar suara Tae Hyung menyanyikan bagian rapp dari lagu milik BTS. Oh, suaranya memang tak buruk. Tapi, akan lebih baik jika pria itu tak melakukannya.

Tae Hyung sepertinya sudah selesai dan sekarang ia berjalan menuju Jung Kook yang tengah menyandarkan kepalanya pada bantal sofa. Si manis masih tak menyadari keberadaan Tae Hyung di dekatnya. Mungkin karena film yang ia tonton sangat menarik. Tae Hyung tanpa canggung menggenggam tangan Jung Kook, membuat sang pemilik melemparkan remot teve dalam genggamannya mengenai kepala Tae Hyung.

"Astaga, Tae!"

Tae Hyung hanya meringis merasakan nyeri serta ngilu di kepalanya yang mungkin saat ini memar. "Anarkis sekali dirimu, Jung-ie. Ah! Sakit!" pekik Tae Hyung.

"Maaf, aku bersumpah tidak sengaja melakukannya. Salahmu, mengapa tiba-tiba menggenggam tanganku? Kupikir kau hantu dalam film."

Tae Hyung mengerucutkan bibirnya. Jika kondisinya baik-baik saja, mungkin saat ini juga ia sudah menerjang Jung Kook, dan menghukumnya tanpa ampun.

"Ya! Kau menyebalkan." Tae Hyung kemudian beranjak dari tempatnya, bermaksud mengambil es batu dan handuk untuk mengompres luka memar.

"Maafkan aku. Tae Hyung-ie... Buing buing."

Glup. Tae Hyung bahkan merasa kesulitan menelan salivanya saat tahu Jung Kook melakukan aegyo yang sering ia lakukan untuk meminta maaf.

"Baby, apa kau bermaksud menggodaku?" tanya Tae Hyung dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tidak. Aku hanya ingin kau memaafkanku. Tae Hyung, jangan bilang kau─kya! Menjauh dariku, bodoh!"

Jung Kook terus berlari menghindari Tae Hyung yang masih menatapnya aneh. Sebuah seringaian tercipta manakala Tae Hyung terus mengejarnya tanpa ampun.

"Jadi apa maksud aegyo-mu itu, Tuan Jung Kook?"

"Aku... tidak ada maksud apa-apa, sungguh." Jung Kook masih sibuk melemparkan bantal sofa pada Tae Hyung yang berusaha menangkapnya.

"Ah, Nam Joon Hyung!" Jung Kook refleks menoleh saat Tae Hyung melambaikan tangan. Namun, ia tak menemukan Nam Joon seperti yang disebutkan Tae Hyung tadi. Apakah Tae Hyung bermaksud mengelabuinya?

"Ya! Jeon Tae Hyung sialan, kubunuh ka─"

Tae Hyung tersenyum saat ia berhasil mendekap tubuh Jung Kook, memerangkap Jung Kook untuk tak bergerak sedikitpun. "Mau membunuhku?"

Jung Kook menelan salivanya kasar. "Tidak. Maksudku... eum... itu... aku..."

"Aku menginginkanmu, Baby," bisik Tae Hyung seduktif. "Bolehkah?"


...

Dan satu anggukan memulai semuanya. Jung Kook tak pernah habis pikir dan selalu tak bisa menolak ketika Tae Hyung meminta itu darinya. Ia beranggapan bahwa ucapan Tae Hyung seperti mantera yang mampu menghipnotisnya untuk selalu mengatakan; Ya, aku bersedia, dan tentu saja boleh.

Entah siapa yang memulai, kini mereka kembali melakukannya. Tae Hyung tahu ini menyakiti Jung Kook, tapi... itu benar-benar cara yang paling baik untuknya meluapkan seluruh perasaannya pada pemuda yang berada dalam kungkungannya tersebut. Tae Hyung melihat Jung Kook begitu tersiksa saat dirinya tak juga menghantarkan pada puncak kelegaan. Dan ia memang sengaja melakukan itu, membiarkan aktifitas kali ini tidak di dominasi oleh gairah yang menggebu.

Jung Kook terus menggelengkan kepalanya, meminta agar Tae Hyung tak menyiksanya seperti ini. Lalu setelahnya Tae Hyung akan mengecup pucuk hidung si manis memberikan penolakan tentang permintaannya. Ini adalah kali pertama pria yang berada di atasnya itu mempermainkan hasratnya. Permainan lembut seperti ini bukanlah tipikal seorang Jeon Tae Hyung, Tae Hyung biasanya akan sangat bergairah dengan letupan emosi yang memuncak. Tidak cukup sekali, Tae Hyung selalu bisa memberikan rasa berbeda setiap kali mereka bercinta. Jung Kook tidak menyukai Tae Hyung yang seperti ini, menyiksanya tanpa tahu kapan akan membawanya pada puncak kenikmatan. Entah bagaimana mereka berakhir, Jung Kook dan Tae Hyung setelahnya tertidur dan bangun saat mereka sama-sama merasakan jika tubuh mereka benar-benar butuh asupan nutrisi.

Sejak kejadian malam itu, keduanya jarang bersama menghabiskan waktu seperti sebelumnya. Bukan apa-apa, Won Woo menjadi rajin mengajak Jung Kook pergi bersama, atau sengaja menjemput pada saat jam pulang kuliah.

Jung Kook seharusnya senang saat Won Woo meluangkan waktu untuknya. Namun, saat-saat manis seperti ini ia justru merasakan kekosongan pada hatinya. Jung Kook memang menyayangi Won Woo, dari awal ketika pria itu mengatakan bahwa benar-benar mencintainya. Dan Jung Kook dengan senang hati menerimanya, ia berpikir bahwa waktu itu dengan adanya Won Woo, dirinya akan jauh lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan luar yang menjadi salah satu hal yang paling Jung Kook takutkan akibat traumanya. Tapi nyatanya, tindakan inilah yang mengantarnya menuju jalan yang buntu.

"Bagaimanapun, aku telah memilihnya. Won Woo-lah takdirku."

Tapi sekali lagi ego mengalahkan segalanya. Sekuat apapun ia mengelak, justru hanya bayangan Tae Hyung yang terus terlintas di benaknya. Dengan menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas nakas, Jung Kook lantas berjalan menuju mobil dan mulai melajukannya dengan kecepatan tinggi.

Dan, di sinilah ia berdiri. Di depan pintu apartemen Tae Hyung. Entahlah, ia pun tak tahu mengapa bisa sampai berdiri di sini? Hatinya yang menuntun agar ia berjalan ke arah Tae Hyung. Dengan ragu, ia kemudian menekan bel beberapa kali, berharap Tae Hyung datang menyambutnya dengan senyuman manis. Tapi ini tidak seperti yang ia harapkan, alih-alih mendapat penyambutan dari Tae Hyung, pria itu sepertinya tak ada di apartemen malam ini.

Jung Kook masih menunggu. Terkadang ia menyandarkan tubuhnya pada dinding, dan tiba-tiba merubah posisi dengan berjalan mondar-mandir. Atau, jika kakinya pegal, maka ia akan duduk dengan memeluk kedua lututnya.

Hampir empat jam ia menunggu Tae Hyung tak kunjung datang. Bahkan kakinya kram karena tetap duduk dengan menekuk lutut. Jung Kook melirik sekilas arloji di tangannya, rupanya ini sudah hampir dini hari. Dan rasanya percuma jika ia terus menunggu Tae Hyung yang entah kapan akan kembali. Dengan berat hati, sebelum benar-benar pergi, Jung Kook sempat mengirimkan sebuah pesan singkat untuk pria kesayangannya itu.

Sementara itu, Tae Hyung baru saja akan memasuki mobil saat dirinya mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat, ia meraih ponsel tersebut dan segera membuka sebuah pesan yang ternyata dari Jung Kook.

"Aku hampir mati bosan menunggumu selama empat jam di depan apartemen. Tapi sayangnya kau tak juga datang. Jika sudah pulang, bisakah menghubungiku, Tae Hyung-ah?"

Astaga! Mengapa ia sampai lupa pada Jung Kook? Bahkan seharian ini ia lupa menghubungi Jung Kook karena tiba-tiba Profesor Cha memberinya tugas tambahan untuk menerjemahkan sebuah buku sastra Inggris yang super tebal. Padahal Tae Hyung bukan mahasiswa jurusan sastra. Dan lagi, mengapa Profesornya itu justru memberikan tugas yang tidak ada hubungan dengan jurusan yang ia ambil?

Tae Hyung tak membalas pesan singkat dari Jung Kook. Ia justru mengemudikan mobilnya pada kawasan perumahan tempat tinggal Jung Kook.

Setelah sampai di depan rumah Jung Kook, Tae Hyung mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Menekan sebuah kontak nama di sana.

"Maaf tidak sempat menghubungimu, Jung-ie. Tadi siang aku sibuk, banyak sekali tugas kuliah akhir-akhir ini. Jadi, aku tidak tahu jika kau menunggu begitu lama di depan apartemen." Tae Hyung berucap panjang lebar.

"Tidak apa. Apa sekarang kau sudah pulang?" itu Jung Kook yang berbicara. Bahkan kini, Tae Hyung dapat melihat jelas bayangan Jung Kook dari balik tirai kamarnya.

"Tentu saja. Dan lagi, apa kau akan membiarkan aku mati bosan karena menunggumu di depan?"

Mendengar hal itu, Jung Kook refleks membuka kaca jendelanya. Tae Hyung hanya melambaikan tangan ke arah Jung Kook yang masih tak percaya bahwa pria itu benar-benar sedang berada di depan pintu rumahnya.

"Jangan beranjak ke manapun. Diam di sana, dan tunggu sampai aku membuka pintu!" Tae Hyung tentu saja mengangguk patuh.

Klek. Jung Kook membuka pintu, dan orang pertama yang ia lihat adalah kekasih tampannya. Tae Hyung dengan cepat menghambur memeluk tubuh Jung Kook erat. Tak membiarkan si manis menceramahinya untuk malam ini.

"Masuklah. Aku akan membuatkanmu segelas susu vanilla hangat."

"Aku sudah berusia 20 tahun, sayang. Lagipula badanku sudah tumbuh menjadi tinggi," ucap Tae Hyung saat Jung Kook mengucapkan minuman yang paling ia benci.

"Benarkah? Tapi mengapa justru otakmu yang tumbuh menjadi mesum, eoh? Sudah, jangan membantah."

"Baiklah. Terserah kau saja." Jung Kook terkikik melihat Tae Hyung mengerucutkan bibirnya kesal.

"Itu baru bayi besar kesayanganku," ucapnya, dan tak lupa sebuah cubitan gemas mendarat di hidung runcing Tae Hyung.

"Aku kekasihmu yang tampan, Baby. Ish!" Jung Kook hanya mengangkat bahunya acuh, membiarkan Tae Hyung terus meracau tak jelas. Ya, ia tahu jika Tae Hyung sensitif dengan sebutan seperti itu. Dan, salahkan Jung Kook juga yang terperangkap oleh pesonanya.

"Ini." Jung Kook kini menyerahkan gelas berisi susu vanilla hangat pada Tae Hyung. Dengan ragu, Tae Hyung-pun menerimanya. "Minum dan jangan sisakan sedikit pun. Atau, aku akan mencekik lehermu!"

Tae Hyung memutar bola matanya malas. Dengan sebelah tangan yang menutup hidung, dirinya langsung menenggak segelas susu vanilla itu. Ia bahkan berusaha agar tak memuntahkan cairan beraroma amis tersebut dari mulutnya.

"Pintarnya, Tae Hyung-ie." Jung Kook meraih gelas kosong dari tangan Tae Hyung, dengan sebelah tangan mengelus surai chocolate mint milik kekasihnya─yang entah sejak kapan Tae Hyung mengubah warnanya. Setelah meletakkan gelas kosong di atas meja, Jung Kook lantas duduk di sofa ruang tengah rumahnya. Kemudian, sebelah tangannya menepuk ruang kosong untuk Tae Hyung agar duduk disampingnya. "Duduklah di sini." Tae Hyung dengan senang hati beranjak dari tempatnya sekarang, kemudian duduk di samping Jung Kook.

"Oh ya, ke mana Jong Woon Hyung dan Hyun Hoon Noona? Dan tadi siang, bagaimana acaramu dengan, Won Woo?" tanya Tae Hyung.

"Mereka menginap di rumah Ho Seok Hyung. Won Woo Hyung sempat mengajakku makan siang di─" Jung Kook refleks menutup mulutnya saat dengan lancang membicarakan Won Woo di depan Tae Hyung. "Maaf, Tae..."

"Tidak apa." Tae Hyung hanya tersenyum dengan sebelah tangan merapikan helai surai Jung Kook yang berantakan.

"Lalu, bagaimana dengan kuliahmu? Satu minggu ini Won Woo Hyung terus menjemputku, membuat kita jadi tak bisa memiliki waktu bersama. Bahkan saat di universitas pun karena persiapan festival justru menjadikan kita berdua berjarak dan jarang bersama juga," kini, Jung Kook yang bertanya, dan mengeluhkan tentang kejadian selama seminggu ini kepada Tae Hyung.

"Membosankan. Dan tadi siang Profesor Cha memberikan tugas padaku untuk menerjemahkan buku sastra Inggris. Padahal aku bukan kuliah di jurusan sastra. Apa beliau itu sudah pikun? Dan aku begitu merindukanmu, kau tahu?" Tae Hyung tak henti-hentinya berceloteh kesal, dan Jung Kook memahami hal itu. walau bagaimanapun, Tae Hyung tetaplah pria muda yang begitu polos.

"Apa sudah selesai kau kerjakan?"

"Tentu saja." Tae Hyung mengangguk. "Jung-ie, bolehkah malam ini aku menginap? Rasanya tak sanggup harus berkendara dini hari seperti ini," rajuk Tae Hyung.

"Apa itu sebuah permintaan?" Jung Kook memukul lembut kepala Tae Hyung, dan ia berpikir bahwa Tae Hyung malam ini begitu menggemaskan di matanya. "Tentu saja kau boleh menginap." Tae Hyung lantas tersenyum senang.

"Terima kasih banyak." Setelahnya, pria tampan itu mengecup sekilas bibir Jung Kook. Menyesapnya untuk beberapa saat sebelum ia benar-benar melepaskan pagutan singkat itu.

"Selamat tidur, Tae Hyung-ie."

"Selamat malam, Baby."

Keduanya berpisah, dan menutup kamar masing-masing. Sepertinya Tae Hyung akan bermimpi indah malam ini.


...

"Tae Hyung-ah, ayo pergi ke kafe yang berada di seberang sana. Menurut Yoon Gi Hyung, kafe di sana banyak menyajikan hidangan laut," itu Nam Joon yang berbicara. Tae Hyung sendiri masih bergeming, pria tampan itu hanya berbalik dan melepaskan earphone yang menyumpal telinganya. Ah, mengapa Nam Joon tak sadar jika sebenarnya ia berbicara seorang diri? Membuat yang lain terkikik karena ekspresi kesal Nam Joon menjadikan wajahnya terlihat begitu jelek.

"Kau berbicara padaku, Hyung?"

Nam Joon hanya mendengus kesal. "Bukan! Aku berbicara dengan bayangan Jeon Tae Hyung. Ya! Menyebalkan!"

Tae Hyung tertawa melihat tingkah Nam Joon yang begitu kekanakkan. Bahkan menurut Tae Hyung itu sama sekali tak pantas di lakukan oleh seorang mantan playboy macam Nam Joon. Ah, dan Tae Hyung jelas tak peduli itu.

"Kau seperti wanita yang sedang PMS, Joon-ie. Menggelikan melihatmu merajuk seperti ini. cih!" kali ini Ho Seok yang mengejek Nam Joon tanpa ampun.

"Apa katamu? PMS? Oh astaga! Mau kusumpal mulutmu dengan kaus kaki Yoon Gi Hyung, huh!"

Ho Seok hanya memberikan tanda peace sebagai jawaban. "Aku hanya bergurau, bodoh. Sebagai gantinya, aku akan menaraktir kalian. Kau bilang kafe di sana banyak menyediakan hidangan laut, kan? Kalau begitu, ayo ke sana."

Nam Joon yang semula hendak melempar Ho Seok dengan buku di tangannya itu pun segera mengurungkan niatnya manakala Ho Seok mengatakan makanan gratis.

"Ho Seok Hyung nomor satu. Aku mencintaimu, Bung."

"Cih! Menjijikkan," setelah saling berdebat satu sama lain, akhirnya mereka berjalan berdampingan menuju kafe yang di maksud Nam Joon.

.

.

.

Jung Kook dan Won Woo baru saja sampai dan kini tengah mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka tempati. Akan tetapi, pandangan Won Woo tertuju pada satu objek yang begitu familiar di matanya. Tae Hyung? Ya, di sana sepertinya Tae Hyung dan teman-temannya tengah duduk dan menikmati makanan mereka. Tentu saja Won Woo senang, kapan lagi ia bisa menikmati makan siang bersama teman Jung Kook jika tidak kebetulan seperti ini.

"Aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk kita, sayang. Ayo." Jung Kook yang masih bingung hanya mengekori Won Woo dari belakang. Dan pada saat jaraknya sudah dekat dengan tempat yang dimaksud Won Woo, tiba-tiba saja Jung Kook mematung.

"Hei, Tae Hyung-sshi. Apa kita merencanakan untuk bertemu di sini?" Tae Hyung refleks menoleh pada Won Woo dan Jung Kook yang kini tengah menatapnya.

"Won Woo-sshi? Apa yang kau lakukan di sini?" Tae Hyung terkejut bukan main. Ini kali pertama dirinya dan Won Woo bertemu kembali setelah pertemuan pertama mereka di kafe Jong Woon.

"Apa seperti itu penyambutan untukku, Bung? Halo semuanya, perkenalkan, namaku Jeon Won Woo, apa kami boleh duduk di sini?"

Seok Jin, Yoon Gi, Nam Joon, serta Ho Seok hanya membungkuk sopan di depan Won Woo. "S-silahkan," ucap mereka bersamaan.

Keadaan ini begitu canggung untuk Jung Kook maupun Tae Hyung. Tapi, berbeda dengan ke empat sahabat mereka dan Won Woo yang masih asyik membicarakan pemain bola favorit masing-masing.

"Won Woo-sshi, kudengar kau akan bertunangan dengan Jung Kook. Kapan acaranya akan dilaksanakan?" tanya Seok Jin sembari memasukkan kaki kepiting ke dalam mulutnya. Satu fakta lain yang belum mereka ketahui yaitu hubungan diam-diam Jung Kook dan Tae Hyung. Ke duanya sengaja menyembunyikan itu semua dari para sahabatnya.

"Ah, kau benar. Dan tiga hari lagi pesta itu akan digelar. Bukan begitu, sayang?"

"Hyung, tapi kau tak bilang jika pertunangan kita dipercepat."

Won Woo mengelus surai Jung Kook. "Aku hanya tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. Jadi, tidak masalah, kan?" Jung Kook hanya mengangguk pasrah. Percuma berdebat seperti ini untuk sekarang. Dan lagi, ini tempat umum. Ada Tae Hyung dan sahabatnya yang lain di sana.

sementara itu Tae Hyung terpaku di tempatnya, bahkan sepasang sumpit yang berada di tangannya terjatuh begitu saja. Ia masih berusaha mencerna ucapan Won Woo.

Tiga hari lagi? Pertunangan? Dan itu artinya Jung Kook akan resmi menjadi milik Won Woo.

"Tae Hyung, apa kau baik-baik saja?" tanya Yoon Gi mengkhawatirkan wajah Tae Hyung yang tiba-tiba memucat.

"Aku ingin pergi ke toilet." Tae Hyung menggeser kursinya, meninggalkan semua orang yang masih menatap kepergiannya.

"Hyung, bisakah aku pergi ke toilet sebentar?" selang beberapa menit kemudian, Jung Kook-pun meminta izin pada Won Woo dan yang lain.

"Apa mendesak, sayang. Mau kutemani?"

"Ish. Tidak usah." Won Woo hanya terkekeh karena berhasil menggoda Jung Kook.


...

Jung Kook tak ingat sejak kapan dirinya berada dalam bilik toilet yang sama dengan Tae Hyung. Yang ia tahu, tiba-tiba Tae Hyung menghadang jalannya dan menarik dirinya agar masuk ke dalam toilet.

"Mengapa kau tak mengatakan hal ini?" di tengah aktifitas panas yang mereka lakukan, Tae Hyung bahkan sempat bertanya.

"I-itu... m-maafkan aku, Tae Hyung-ie..." Jung Kook berusaha menjawab dengan terbata.

Tae Hyung terus menghukumnya tanpa ampun. Bahkan, si tampan tak juga menghentikan aksinya. Lagi-lagi, Jung Kook berusaha mati-matian meredam erangan itu agar tak lolos dari bibirnya.

"Jangan seperti ini... kumohon..." pinta Jung Kook saat Tae Hyung tak juga menghentikan kegilaannya.

"Kau yang memulainya, Baby. Dan maaf, aku tak bisa menghentikan i-ini. ugh!"

Tae Hyung kembali memagut bibir Jung Kook sedikit kasar. Hingga meninggalkan luka di bibir Jung Kook, dan menyebabkan darah segar mengalir bercampur dengan saliva mereka berdua. Tae Hyung tentu tak memedulikannya, ia terlalu gelap mata. Melupakan bahwa Jung Kook terluka dengan perbuatan yang ia lakukan.

Keduanya semakin dekat pada puncak kelegaan. Jung Kook bahkan harus menggigit bahu Tae Hyung untuk meredam letupan emosi saat pria itu semakin menghujami area sensitifnya dengan brutal. Tae Hyung menggeram, melepaskan hasrat yang tertahan saat ia dan Jung Kook benar-benar telah sampai, napasnya terengah hebat untuk beberapa saat.

"Maafkan aku..." itulah kalimat yang ia gumankan pada Jung Kook. Si manis masih menundukkan wajahnya. Tae Hyung yakin jika saat ini Jung Kook menangis. Terbukti bahunya bergetar hebat. Tae Hyung kemudian menyentuh bahu Jung Kook. Merengkuh tubuh gadis itu dalam dekapannya. "Aku kalap dan hilang kendali. Maaf telah menyakitimu, Baby. Maafkan aku..." berulang kali ia menggumankan kata maaf.

"Aku tidak bermaksud menyakitimu, Tae Hyung-ah. Aku juga tak tahu mengapa Won Woo Hyung mempercepat rencana pertunangan ini? Bahkan ia tak pernah membicarakan ini sebelumnya."

Tae Hyung tak menjawab. Ia sadar, seharusnya ia sudah menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan yang terjadi pada dirinya dan Jung Kook. Walau bagaimanapun, sekuat apapun ia berusaha mempertahankan hubungan terlarang ini, ia tetap tak akan keluar sebagai pemenang. Tae Hyung memang saat ini bisa berbangga diri karena telah berhasil mendapatkan hati, dan memiliki tubuh Jung Kook secara utuh. Akan tetapi, garis takdirnya berkata lain. Jung Kook jelas tak ditakdirkan untuknya.

"Sebaiknya kita bicarakan ini nanti. Aku takut Won Woo Hyung curiga karena aku terlalu lama pergi." Jung Kook melepaskan pelukan Tae Hyung. Setelah berbenah diri, ia pun meninggalkan Tae Hyung yang masih menatap kepergiannya.


...

Setelah kejadian di toilet tadi, Jung Kook meminta Won Woo untuk mengantarnya pulang. Won Woo yang khawatir, bahkan tak henti-hentinya menanyakan apa yang terjadi pada Jung Kook.

"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit, sayang? Wajahmu terlihat pucat. Aku khawatir terjadi apa-apa padamu."

Jung Kook hanya menggeleng dan tersenyum. "Sungguh, aku hanya perlu istirahat, Hyung. Aku hanya kelelahan saja."

Won Woo tak lagi memaksa Jung Kook, ia hanya menuruti kemauan Jung Kook untuk saat ini.

"Benar tidak ingin aku temani?" Jung Kook memeluk tubuh Won Woo saat pria tampannya itu terus menerus meminta untuk menemaninya.

"Tidak usah. Aku tahu Hyung sibuk saat ini. Jika ada apa-apa, aku pasti akan menghubungimu."

Won Woo mengangguk, lalu mengecup bibir Jung Kook yang terlihat memiliki luka. "Apa kau terjatuh di toilet tadi, sayang? Mengapa bibirmu terluka?"

Deg. Bagaimana Jung Kook menjelaskan ini pada Won Woo?

"Berhati-hatilah lain kali. Aku mencintaimu."

Jung Kook masih tetap diam dan tak menjawab ungkapan cinta Won Woo. Bahkan kini, rasanya begitu sulit untuk membalas perasaan tulus Won Woo.

"Maafkan aku, Hyung..."

Jika Jung Kook pikir Won Woo tak mengetahui apapun, ia salah besar. Pria itu hanya terus mengalihkan diri dari kenyataan pahit tersebut. Ia berusaha mengelak, dan tak ingin menyalahkan Tae Hyung ataupun Jung Kook atas ini. Won Woo mengetahui ini sejak pertama kali mengenal Tae Hyung, bohong jika ia tak merasa terluka, atau bahkan tak merasa terkhianati. Won Woo bisa saja menghabisi pria itu. Dan jika ia tak mengingat betapa besar cintanya pada Jung Kook, mungkin ia pun telah membatalkan rencana pertunangan mereka yang tinggal menghitung hari.

Dan tadi, ia sengaja mempercepat hari pertunangan dengan Jung Kook tanpa sepengetahuan Jung Kook. Ia juga sengaja mengatakan hal tersebut di depan Tae Hyung, itu semata-mata hanya untuk melihat sejauh mana rasa keterkejutan Tae Hyung mendengar kabar ini.

Won Woo bersumpah, rasanya ingin sekali ia memukuli Tae Hyung tanpa ampun, saat pria itu berani mengambil kehormatan Jung Kook yang selalu ia jaga mati-matian. Jangan tanya mengapa ia bisa mengetahui hal ini. Won Woo bukan pria bodoh yang bisa di tipu. Gelagat Jung Kook yang berubah akhir-akhir ini, dan lebih sering menolak jika ia mengajak Jung Kook untuk pergi berkencan. Dari sanalah ia mengikuti Jung Kook secara diam-diam. Mengawasi apa saja yang di lakukan calon tunangannya.

Mengapa harus berakhir seperti ini? Won Woo sebenarnya tak ingin egois. Hanya saja, ke dua orang itu yang memulainya lebih dulu. Percikan api tersebut kini telah berubah menjadi kobaran yang siap melahapnya kapan saja.

Jika Tae Hyung dan Jung Kook saja bisa membohongi dirinya, mengapa ia juga tak bisa mengambil peran dalam sandiwara kebohongan ini?

Won Woo menghentikan laju mobilnya, menepikannya pada sisi trotoar yang sepi. Dengan kasar, ia menjambak rambutnya. Won Woo menangis, meratapi nasib cintanya ternyata sepahit ini. Bahkan tadi, saat dirinya menatap binar cantik Jung Kook, tak ada bayangan dirinya di sana. Ia seharusnya sadar, bahwa tidak ada tempat untuknya di hati Jung Kook.

"Mengapa sesakit ini? Apa yang harus aku lakukan..."

Tanpa sadar, pertama kalinya Won Woo menangis. Beberapa kali isakan kecil itu lolos begitu saja dari bibirnya. Won Woo akui pengkhianatan Jung Kook benar-benar menyakiti dirinya.

"Aku tidak bisa melepasmu, Jung-ie. Aku mencintaimu, dan kau milikku! Tidak ada Tae Hyung. Yang ada hanya aku di hatimu. Argh!" Won Woo memekik kesal, tangannya terus menerus memukul kemudi, menyebabkan lengkingan klakson pun ikut berbunyi.

Jika ia mendapat satu pilihan antara melepas Jung Kook dan tetap meneruskan pertunangan itu meskipun tanpa cinta. Masih bisakah ia menentukan pilihan itu?


-TBC-

Yiha! Selesai dengan 5K+! Ini kebetulan yang luar biasa menyelesaikan chapter ini dengan 28 halaman. Dan banyak scene NC bertebaran. Maafkan Vanilla jika NC-nya aneh, jujur aja, pas baca ulang, Vanilla malah merinding sendiri, aduh. Pernah baca seh, tapi kalo buat NC yng runtut banget, maaf ya Vanilla bukannya sok alim, tapi emang belum di ketik aja udah keringat dingin #pingsanseketika.

Chapter ini merupakan remake dari FF Sweetest Mistake dengan cast Se Hun, Jong Woon, dan Hyun Hoon (OC). Jadi kalo misalkan ada nama yang gak ke edit mohon dimaafkan. FF ini juga pernah Vanilla publish di note FB Cuma twoshoot dan di private. Yang pernah Vanilla tag di fb dan baca FF itu pasti gak asing sama adegan NC di chapter 12 ini.

Dan selamat ulang tahun Kakak Mphi tersayang, maaf ya gak bisa kasih hadiah apa-apa, anggap aja chapter ini hadiah buat ulang tahun Tae-Tae. Cie udah 21 (usia Korea) dan 20 (usia internasional). Semoga makin gesrek, dan makin banyak moment sama Kookie. Mbak mencintaimu, Tae Hyung-ie :*

Dapat kabar katanya TaeGi koleps itu kaya ada kretek-kretek sakit gitu. Khawarir banget pas denger dua anggota mengalami kelelahan, dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Bahkan konser di Kobe juga terpaksa batal. Dan Jung Kook-ie, kelinci manisku sempet nangis juga pas nyanyi bagian Tae, kan -_- tapi, Vanilla salut sama BigHit yang ambil keputusan hebat, rela membatalkan konser untuk kesembuhan TaeGi. Gak bisa salahin siapapun dalam perkara TaeGi sakit. Konsekuensi karena jam terbang mereka udah tinggi ya memang kesehatan, kurangnya istirahat. Vanilla Cuma berharap, mereka sehat, itu aja ^^

Silahkan kasih Vanilla hadiah yang manis, mau di cium juga boleh #kabur.

-peluk cium-

Vanilla Sky