Saigomade (Until The End)

A Story by

Vanilla Sky

Main cast :

Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)

Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

BTS members

Hurt/comfort; shou-ai; romance

VKOOK punya aku! Cerita punya aku! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, aku manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D

Warning

Telat banget Vanilla tau kok, hihihi

Maaf ya, fokus ke duet maut garap Kekasih abadi, FF ini terabaikan -_- sebelumnya Vanilla mau ucapin makasih banget karena masih mau review yang demi apa NC di chapter kemarin gagal total, banyak TYPO lagi -_-

Masalah TYPO, kan, udah Vanilla jelasin kali chapter kemarin Vanilla copy paste scene NC-nya dari FF Sweetest Mistake-nya Vanilla, yang memang itu couplenya straigh -_- maaf ya #sungkeman

Vanilla juga mau ucapin terima kasih buat reviewnya, saran, atau pendapat teman-teman soal FF ini. Makasih banyak ^^ mewakili pertanyaan kenapa kok tentang hubungan gay-nya gampang banget padahal di Korea sana hal itu masih tabu? Iya, betul sekali, di sana memang belum melegalkan hubungan LGBT lho. Simplenya sih, Vanilla bukan orang yang mau mikir keras, hihihi. Apa yang ada di otak idenya ya Vanilla tulis, begitupun sama soal hubungan merekanya ambil yang mainstream aja, gak terlalu banyak konflik sampe akhirnya isi Ffnya malah kemana-mana, kan.

Tapi makasih ya, apapun itu reviewnya, saran, kritik, mau bantu ide juga mangga, Vanilla pasti seneng pisan ^^

Chapter 13

...

-preview-

"Mengapa sesakit ini? Apa yang harus aku lakukan..."

Tanpa sadar, pertama kalinya Won Woo menangis. Beberapa kali isakan kecil itu lolos begitu saja dari bibirnya. Won Woo akui pengkhianatan Jung Kook benar-benar menyakiti dirinya.

"Aku tidak bisa melepasmu, Jung-ie. Aku mencintaimu, dan kau milikku! Tidak ada Tae Hyung. Yang ada hanya aku di hatimu. Argh!" Won Woo memekik kesal, tangannya terus menerus memukul kemudi, menyebabkan lengkingan klakson pun ikut berbunyi.

Jika ia mendapat satu pilihan antara melepas Jung Kook dan tetap meneruskan pertunangan itu meskipun tanpa cinta. Masih bisakah ia menentukan pilihan itu?


...

Festival kampus diadakan besok, seluruh mahasiswa yang akan memeriahkan ajang tahunan unviversitas pun tampak sangat sibuk mempersiapkan semuanya. Termasuk Tae Hyung dan yang lain. Tidak ada waktu santai untuk hari ini hingga besok saat acara pelaksanaan. Tae Hyung, Jung Kook, Seok Jin, Yoon Gi, dan Nam Joon sedang berlatih vocal. Sementara Ho Seok sendiri berlatih tarian solo, seharusnya Ji Min ada di sini, bersamanya, berlatih hingga tak jarang adu mulut pun tak bisa dihindari.

Ho Seok menjatuhkan tubuhnya, sibuk mengatur napasnya yang memburu, empat jam ia habiskan untuk berlatih memang melelahkan, apalagi tarian kontemporer bukan tarian yang bisa dianggap gampang; meskipun Ho Seok sendiri adalah seorang dancer hebat.

Ia tersenyum, coba saja ada Ji Min, mungkin latihan kali ini akan lebih mudah. Ji Min pernah menggeluti tarian kontemporer selama di sekolah menengah atas, dan tentu saja si pendek yang tampan itu adalah siswa terbaik di bidang tari kontemporer, dan bahkan Ji Min pernah mewakili sekolahnya dulu untuk ajang tari tersebut.

"Jim, kupikir tarian seperti ini mudah, tapi nyata—"

"Kau payah, Hyung."

Seseorang yang kini berbicara tepat di belakang sukses membuat Ho Seok hampir menjatuhkan botol air mineral yang hendak ia minum. Dengan kikuk dan masih terkejut Ho Seok pun membalikkan tubuhnya, menatap sosok yang menenteng ransel di bahu kiri.

"Apa seperti itu caramu menyambutku?"

"J-Jim..."

"Ya, ini aku. Kau pikir aku siapa, hantu, huh?"

Sesantai mungkin Ji Min melangkah mendekati Ho Seok dan duduk di samping pemuda lebih tua darinya itu. Ho Seok sendiri masih diam dengan pandangan kaku menatap Ji Min.

"Jim, sejak kapan kau..."

Lagi-lagi Ji Min memotong ucapan Ho Seok. "Sejak satu minggu yang lalu. Dan aku sengaja tak memberitahu kalian tentang kedatanganku," ucap Ji Min santai yang kemudian tersenyum.

"Lalu beasiswamu bagaimana?"

Si tampan berambut jingga itu merebahkan tubuhnya, diikuti oleh Ho Seok. "Tidak jadi kuambil, Hyung. Maka dari itu aku pulang. Apa kau tidak ingin memberikan satu pelukan selamat datang untukku?"

Pletak. Satu pukulan Ho Seok daratkan di kepala Ji Min. Gemas rasanya sampai ia ingin sekali membunuh pemuda disampingnya itu.

"Dasar bodoh. Kau tahu, aku bahkan hampir mati karena perasaan bersalah setelah kau pergi tanpa berpamitan pada kami semua!"

Terkekeh, kemudian Ji Min mendekatkan kepalanya, dan menyandarkan di bahu kanan Ho Seok. "Maaf, Hyung. Aku sepertinya berhasil, kan, membuatmu seperti itu?"

"Jim!"

"Iya, aku hanya bergurau."

Hening sejenak, sampai pada saat Ho Seok mengusap lembut kepala Ji Min yang masih bersandar nyaman di bahunya. "Jim."

"Ya, Hyung?"

"Maafkan aku."

Lagi, Ji Min tertawa kecil. "Tidak ada yang perlu kumaafkan. Semuanya sudah berlalu, Hyung."

"Tapi..."

"Jika kau masih terus membicarakan hal itu, bersiap saja aku akan kembali merebut Yoon Gi Hyung darimu, eoh!"

"Ya!"

"Hyung..."

"Eum."

"Terima kasih."

Ho Seok menoleh, menatap Ji Min dengan ekor matanya. "Untuk apa?"

"Menjaga Yoon Gi Hyung dan membahagiakannya."

Ho Seok tidak menjawab, ia diam dan tak ada yang tahu arti dari diamnya seorang Jung Ho Seok sekarang. Jujur saja, perasaan bersalah masih membuat Ho Seok dihantui bayang-bayang tersebut. Terlebih, baik Yoon Gi maupun Ji Min, keduanya adalah orang yang Ho Seok sayangi.

"Hyung mau berjanji satu hal padaku, tidak?"

"Apa itu, Jim?"

"Bahagiakan Yoon Gi Hyung. Jangan pernah menyakitinya. Sekesal apapun kau dengan sikap acuh tak acuhnya, tetap bersabarlah."

"Tentu, Jim. Tanpa kau suruh pun, aku akan menjaganya. Lalu, kedatanganmu ke sini untuk apa?"

Ji Min yang kali ini memukul kepala Ho Seok. "Tentu saja untuk kuliah, bodoh! Aku bahkan masih tercatat sebagai mahasiswa di sini, Hyung. Kepergianku kemarin itu hanya untuk berlibur dan menenangkan diri. Ya, aku tahu itu tindakan pengecut, tapi buktinya perasaanku sekarang sedikit lebih lega."

"Lalu, apakah yang lain sudah tahu kau di sini?"

Ji Min menggeleng, kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Ho Seok. "Hyung mau bantu aku memberi kejutan untuk mereka, kan?"

Dengan senyum lebarnya yang menawan, Ho Seok pun mengangguk. "Tentu saja."


...

Jung Kook menyandarkan tubuhnya pada dinding, memejamkan matanya, sampai sesuatu yang dingin menyentuh permukaan kulit lehernya.

"Tae..."

Rupanya itu Tae Hyung. Ia duduk di samping Jung Kook setelah memberikan sekaleng minuman dingin untuk Jung Kook. Jujur saja, sejak kejadian di toilet kafe tempo lalu, baik Jung Kook maupun Tae Hyung memang jarang bertemu. Jung Kook yang sengaja menghindar dari Tae Hyung. Perasaannya masih campur aduk. Kesal, marah, dan kecewa, tentu saja.

"Kau baik-baik saja, Jung-ie?"

Jung Kook mengangguk, kemudian tangannya membuka tutup kaleng yang diberikan Tae Hyung tadi dan meminum isinya.

"Bagaimana denganmu?"

"Seperti yang kau lihat sekarang."

Jung Kook tak lagi bertanya pada Tae Hyung, membuat suasana di antara mereka berdua menjadi canggung. Tae Hyung tentu saja masih merasa bersalah akibat tindakan bodoh yang ia lakukan pada Jung Kook di kafe waktu itu. Setelah kejadian tersebut, Jung Kook memang tak menghubungi Tae Hyung, bahkan ponselnya sengaja ia matikan, membuat Tae Hyung uring-uringan beberapa hari ini.

"Maaf..." masih diam, Jung Kook hanya menunggu Tae Hyung berbicara. "Maafkan aku, sayang," kali ini Jung Kook dapat melihat langsung melalui mata Tae Hyung bahwa ucapan itu bukan hanya sebatas omong kosong belaka, melainkan itu ucapan tulus.

"Tae, sebenarnya aku—"

Deringan ponsel Tae Hyung membuat Jung Kook menghentikan ucapannya. "Mama menelepon. Aku angkat sebentar tidak apa-apa, kan?"

Jung Kook mengangguk, menatap Tae Hyung yang sedang menerima telepon yang katanya dari sang Mama. Ia bisa melihat ekspresi Tae Hyung berubah kesal atau sesekali terkejut. Ada apa? Apa yang terjadi? Setelah beberapa menit menerima panggilan, akhirnya Tae Hyung kembali duduk di samping Jung Kook.

"Ada apa?" Jung Kook mulai penasaran.

"Dia... kembali."

Dia? Siapa yang dimaksud Tae Hyung? Jung Kook semakin bingung, apalagi saat ini Tae Hyung tiba-tiba saja memeluknya erat.

"Mengapa sulit sekali rasanya, Jung-ie?"

"Ada apa, Tae? Bisakah kau ceritakan?"

"Na Ra, kembali."

Gadis yang menjadi kekasih Tae Hyung, Han Na Ra kembali. Tentu saja Jung Kook terkejut, permasalahan dengan Won Woo saja belum menemukan titik terang, sekarang mereka harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa Na Ra kembali. Itu artinya masalah baru akan dimulai. Lalu, apa yang harus Jung Kook lakukan?

"Jung-ie, apa kau baik-baik saja?"

Jung Kook tersadar dari lamunannya, menatap Tae Hyung yang sama kacau seperti dirinya. "Ya, aku baik-baik saja," ucap Jung Kook sembari tersenyum.

"Aku harus pulang. Tidak apa-apa, kan, jika aku tidak bisa mengantarmu hari ini?"

Jung Kook mengangguk. "Ya, Tae. Pergilah."

Setelah kepergian Tae Hyung yang terburu-buru, Jung Kook kembali menyandarkan tubuhnya, rasanya lemas bukan main. Ini memang sebuah kesalahan besar, ia seperti memakan buah simalakama. Jika tetap bertahan, tentu saja akan banyak pihak yang tersakiti dan kecewa. Jika berhenti pun, Jung Kook tidak bisa. Perasaannya pada Tae Hyung semakin besar. Tanpa sadar Jung Kook menangis. Menyembunyikan kepala di antara kedua pahanya yang ditekuk.

"Apa yang harus aku lakukan..."


...

"Mengapa tidak dihabiskan, sayang? Padahal Na Ra sudah bersusah payah membuatkan makanan kesukaanmu."

Tae Hyung menatap Na Ra, gadis itu tetap sama, cantik seperti dulu. Tae Hyung tidak pernah berniat menyakiti hati Na Ra. Jika saja dulu ia tak membohongi perasaannya terhadap mendiang adiknya. Mungkin Na Ra tidak akan pernah terlibat di dalamnya.

"Tae, apa kau sakit?" belaian jemari Na Ra di tangannya membuat Tae Hyung terkesiap.

"Aku baik-baik saja," hanya itu yang diucapkan Tae Hyung.

"Apa kau mau buah, Tae?"

Tae Hyung tetap diam, tatapannya terus tertuju pada Na Ra. Sebenarnya Na Ra bukannya bodoh, hanya saja ia tetap berpura-pura tidak mengetahui apapun setelah kejadian Jung Kook meninggal. Na Ra tahu jika Tae Hyung tidak pernah mencintainya. Na Ra tahu bagaimana perasaan Tae Hyung terhadap adiknya. Tetapi, gadis itu tetap berusaha keras, mempertahankan apa yang sudah jadi miliknya. Mempertahankan Tae Hyung, dan berharap suatu saat pria tampan itu melihatnya.

"Na, sebaiknya aku mengantarmu pulang."

Na Ra tak terkejut dengan sikap dingin Tae Hyung. Dengan patuh ia mengangguk, dan meraih mantel miliknya yang tersampir di sofa. Setelah berpamitan dengan Mama Tae Hyung, Na Ra pun segera diantar Tae Hyung menuju apartemennya.

"Bagaimana kuliahmu di sini, Tae? Kudengar kau masih tetap sama, mahasiswa berprestasi di kampus."

"Kau berlebihan, Na."

Na Ra terkekeh. "Sayang sekali waktu itu kau menolak beasiswa ke Amerika."

"Ya, dan itu pilihan terbaik menurutku. Karena dengan tidak perginya aku ke sana, Mama tidak kesepian di rumah."

Na Ra tahu Tae Hyung berbohong. "Bukan karena kau berat melupakan, Jung Kook."

Mobil yang Tae Hyung kendarai mendadak berhenti. Ucapan Na Ra membuat Tae Hyung menghentikan mobilnya. Ia menatap tajam kearah Na Ra. "Jangan ungkit hal yang bukan menjadi urusanmu," ujar Tae Hyung dingin.

"Kenapa? Bukankah itu menjadi urusanku juga! Kau pikir aku akan diam saja ketika seseorang merampas milikku, huh! Kau pikir aku akan diam saja saat orang lain berhasil mengalihkan perhatianmu dariku!"

"Yang kau bicarakan bukan orang lain, Han Na Ra. Dia adikku!" hening, Tae Hyung berusaha mengontrol emosinya.

"Tapi dia merebutmu dariku, Jeon Tae Hyung! Dia mengalihkan perhatianmu dariku! Dia..."

"Cukup! Kau, tidak seharusnya menyeret Jung Kook dalam permasalahan kita. Demi Tuhan, yang kita bicarakan ini orang yang sudah meninggal, Na!"

"Aku membencinya! Tidak peduli dia masih hidup atau sudah mati!"

Na Ra turun dari mobil Tae Hyung, menghentikan taksi, dan meninggalkan Tae Hyung di sisi trotoar yang sepi.

"Argh! Kenapa jadi rumit seperti ini..."


...

Jung Kook turun dari mobil, hari ini Won Woo sengaja meluangkan waktu untuk mengantar Jung Kook sebelum ia pergi ke Bandara menjemput kedua orang tuanya, dan tentu saja orang tua Jung Kook juga. Semua sepakat, tadinya pesta pertunangan Jung Kook dan Won Woo akan diadakan besok, tetapi karena itu terlalu cepat dan sangat mendadak, maka kedua bilah pihak keluarga setuju pesta pertunangan Jung Kook dan Won Woo di adakan akhir minggu ini, yang artinya empat hari lagi.

Jung Kook tak banyak berbicara, selain gugup dengan festival kampus, ia juga memikirkan Tae Hyung, bahkan pria itu pun tak menghubunginya untuk sekedar mengucapkan selamat tidur seperti biasanya.

"Baby."

Jung Kook menoleh, menatap Won Woo yang membelai lembut pipinya. "Ya, Hyung?"

"Kita sudah sampai. Kau ingin turun sendiri dari mobil atau aku yang bukakan pintunya?"

"Sendiri saja. Oh ya, jam berapa pesawat Mama dan Papa mendarat?"

"Dua jam lagi, sayang. Kau fokus saja dengan festival kampus. Aku yang akan menjemput mereka."

Setelah turun dari mobil, Jung Kook melambaikan tangan pada Won Woo yang melajukan mobilnya berbalik arah.

Ia berjalan menuju gerbang kampus, belum cukup ramai mahasiswa yang datang, mungkin karena ini juga masih lumayan pagi. Ia melangkahkan kakinya menuju kelasnya yang memang masih lengang. Biasanya Yoon Gi atau Seok Jin yang sudah datang lebih dulu, tetapi sekarang justru dirinya yang datang lebih pagi.

Mengecek ponselnya, masih belum ada tanda jika Tae Hyung menghubunginya. Jung Kook lalu menekan tombol dengan nama Tae Hyung, mencoba menghubungi Tae Hyung bukan suatu kesalahan sepertinya.

"Kau di mana, Tae?"

"Sedang menuju perjalanan ke kampus, ada apa meneleponku pagi-pagi, sayang?"

"Tidak, hanya heran sejak semalam kau tidak menghubungiku. Ada apa? Apa sesuatu terjadi padamu?"

Terdengar helaan napas berat dari Tae Hyung. "Akan kuceritakan nanti setelah selesai festival kampus, oke. Apa kau sudah sarapan? Mau kubelikan kue ikan kesukaanmu, sayang?"

"Jika tidak keberatan."

"Tidak aka keberatan selama itu kau yang meminta, Baby."

"Jangan mulai, Tae."

Tae Hyung terkikik di seberang telepon. Menggoda Jung Kook memang menyenangkan. Mungkin jika ia sekarang sedang berada didekat Jung Kook bisa ia pastikan bahwa wajah kekasihnya itu pasti merona cantik.

"Tunggu aku, sayang."

"Ya, Tae. Berhati-hatilah di jalan. Aku mencintaimu."

"Aku bahkan sangat mencintaimu. Sampai nanti."


...

"Kalian siap?" panitia penyelenggara festival memberi intrupsi pada Tae Hyung dan kawan-kawan, kelimanya kemudian berjalan gugup menuju panggung. Meski ini bukan kali pertama untuk Tae Hyung, Seok Jin, Nam Joon, atau bahkan Yoon Gi, tetapi mereka tetap saja gugup bukan main. Apalagi untuk Jung Kook sendiri, berdiri di atas panggung, tampil di depan banyak orang adalah kali pertama baginya. Gugup tentu saja. Tetapi, Tae Hyung dan yang lain selalu menguatkan bahwa mereka mampu tampil dengan sempurna sebagai tim.

Bagian pertama Jung Kook yang bernyanyi, kemudian dilanjutkan oleh Tae Hyung, lalu disusul Yoon Gi dan Nam Joon yang melengkapi bagian dengan rapp mereka yang sempurna, dan sebagai penutup Seok Jin lah yang mengambil bagian. Semua di luar dugaan, mahasiswa lain begitu terpukau menyaksikan penampilan mereka. Jung Kook bahkan nyaris tak percaya bahwa penampilan mereka sukses total.

Mereka membungkuk, setelahnya pergi dari atas panggung. Penampilan terakhir, yang paling dinantikan adalah penampilan Ho Seok yang akan melakukan pertunjukan tarian kontemporer. Tae Hyung dan yang lain juga tak kalah penasaran, sebab Ho Seok tidak pernah memperbolehkan mereka semua melihatnya saat berlatih. Seperti apa penampilan Ho Seok? Apakah penampilan kali ini akan sekeren penampilan bersama Ji Min di festival tahun lalu.

Semua hening, menunggu Ho Seok untuk berdiri di atas panggung.

"Dua..."

Mendadak riuh suasana di dalam ruangan yang dipakai untuk acara festival kampus. Semua yang berada di sana terkejut. Ho Seok menari bukan sendiri melainkan bersama orang lain yang menggunakan topeng. Mereka bertanya-tanya, sibuk menerka siapa yang berada dibalik topeng itu.

"Hyung... siapa yang bersama Ho Seok Hyung di panggung? Apakah itu..."

Saat musik berhenti, seseorang yang mengenakan topeng kemudian berjalan ke depan panggung. Yoon Gi bahkan sempat menahan napasnya karena penasaran.

"JI MIN!"

Ya, itu Park Ji Min. Senyumannya masih sama, semanis kembang gula favorit Yoon Gi. Tatapannya pun masih sama, sehangat sinar mentari di musim semi. Ji Min kembali, dengan tatapan polos dan senyumannya yang menggemaskan.

"Senang bertemu kalian kembali."

Tepuk tangan dari penonton membuat Ji Min benar-benar terharu. Ia sadar sifat pengecutnya benar-benar membuatnya malu. Pergi hanya karena ia kalah mempertahankan orang yang ia cintai adalah hal yang bodoh. Tetapi, Ji Min juga manusia biasa, perasaan kecewa membuatnya benar-benar tak punya nyali untuk menghadapi Ho Seok dan Yoon Gi pada waktu itu.

"Halo, Yoon Gi Hyung, Nam Joon Hyung, Seok Jin Hyung, Tae Hyung, dan Jung Kook. Kalian benar-benar tidak merindukanku, ya?"

Spontan, kelima pemuda yang Ji Min sebutkan namanya itu berlari menaiki panggung. Memeluk Ji Min secara bersamaan.

"Ji Min, bodoh! Kupukul bokongmu jika berani kabur lagi!" pekik mereka kompak.


-TBC-


Ini awal konflik antara Tae Hyung – Na Ra – Jung Kook – Won Woo dimulai.

Chapter depan full mereka berempat. Chapter ini Vanilla sadar kok monoton, garing, alurnya aneh. Tapi emang belum mau munculin konflik sih di sini, baru munculin Na Ra sama Ji Min, hihihi

Yang minta Ji Min balik, Vanilla udah kabulin ya ini ^^

Maaf kalo updatenya ngaret, maaf kalo lama, maaf kalo gak seru. Vanilla udah berusaha bagi waktu sama kerjaan juga. Jadi gak bisa terus konsen sama nulis, tapi justru tanggungjawab kerjaan malah diabaikan -_-

Sekali lagi terimakasih banyak atas review, saran, kritik, dan idenya yang teman-teman. Maaf, lagi-lagi Vanilla kurang ajar karena gak bisa balas reviewnya -_- Vanilla minta maaf banget.

-peluk cium-

Vanilla Sky