Saigomade (Until The End)
A Story by
Vanilla Sky
Main cast :
Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)
Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)
BTS members
Hurt/comfort; shou-ai; romance
VKOOK punya aku! Cerita punya aku! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, aku manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D
Chapter 15 (Final chapter)
...
-PREVIEW-
"Jangan ada yang bergerak, atau akan aku pastikan peluru dalam pistol ini bersarang tepat di kepala Jung Kook!"
Semua orang yang berada di sana panik, Tae Hyung hendak berlari untuk menyelamatkan Jung Kook, tetapi Won Woo justru menarik pelatu pistol itu dan menekannya di kepala Jung Kook.
"Berikan jalan atau kau akan melihat pemuda kesayanganmu ini mati dengan kepala pecah."
Semua orang menyingkir, Tae Hyung pun tak memiliki pilihan selain membiarkan Won Woo pergi membawa Jung Kook. Tetapi sebelum Won Woo sampai ke pintu utama, tiba-tiba Ji Min melemparkan vas bunga ke punggung Won Woo, membuat pemuda itu memekik dan mengarahkan pistolnya pada Ji Min, kemudian...
DOOR!
...
16 Juni 2020
Tae Hyung meletakkan bunga magnolia putih di atas nisan. Tangannya membelai nisan bertuliskan nama seseorang tersebut, seolah ia saat ini tengah mengusap kepala sosok yang begitu ia rindukan keberadaannya itu.
Berapa tahun berlalu? Berapa tahun Tae Hyung kehilangannya? Mengapa secepat ini? Mengapa Tuhan mengambil kembali orang-orang yang ia sayangi?
"Lama tak bertemu, maaf baru sempat mengunjungimu. Oh ya, kau tidak ingin memberikan satu pelukan padaku? Kemarin kami resmi lulus dan di wisuda untuk jenjang master kami. Ada ruang kosong ketika kami berfoto bersama, rasanya aneh di dalam foto hanya kami berlima. Aku, merindukanmu..." monolog Tae Hyung seorang diri, raut wajahnya menunjukkan betapa ia masih tak rela kehilangannya.
"Hari ini kami akan merayakan kelulusan di kafe Jong Woon Hyung, kau pasti sangat merindukannya juga, kan? Jong Woon Hyung selalu menceritakanmu setiap kali kami bertemu. Oh ya, Hyun Hoon Noona juga memberikan ini untukmu. Noona bilang kau sangat menyukai bunga magnolia, jadi kubawakan beberapa tangkai untukmu."
Tangannya kembali mengusap nisan itu. Empat tahun berlalu sejak insiden penembakkan, menyebabkan Tae Hyung dan kelima sahabatnya yang lain harus rela kehilangan dia. Tae Hyung, bahkan sampai saat ini merasa menyesal mengapa tidak bisa melindunginya. Jika saja waktu bisa diputar kembali, mungkin yang harus mengorbankan nyawa itu dirinya. Tetapi, mengapa harus dia?
Ia ingat saat tangan berlumuran darah itu membelai lembut wajahnya. Tae Hyung ingat bagaimana senyum terakhir itu begitu menyakiti perasaannya.
"Maafkan aku karena lagi-lagi tidak bisa menjaga orang yang kusayang. Apa di sana sangat nyaman? Mengapa sudah tiga hari kau tidak datang di mimpiku, eoh? "
"Tae!"
Tae Hyung menoleh saat Nam Joon berteriak memanggilnya, lalu pemuda itu berjalan mendekati Tae Hyung yang masih setia duduk di samping pusara.
"Ayo kita pergi."
Tae Hyung mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya, dan sempat menoleh pada nisan bertuliskan namanya.
"Halo, bagaimana kabarmu di sana? Hari ini kami harus pergi, maaf tidak bisa lama. Kami janji akan sering mengunjungimu di sini. Sampai jumpa," ucap Nam Joon, lalu keduanya pergi.
Mereka memasuki mobil, kali ini Tae Hyung yang menyetir karena Nam Joon beralasan bahwa semalam ia kurang tidur akibat deadline-nya menulis lagu. Ya, empat tahun berlalu, setelah mereka lulus dari universitas, kemudian melanjutkan kembali S2 di universitas yang sama seperti sebelumnya. Sampai saat ini tidak ada yang berubah, mereka tetap bersama, meskipun kesibukan pekerjaan kerap kali menyita waktu mereka semua, tetapi buktinya saat ini mereka bisa berkumpul kembali.
Tae Hyung sekarang sibuk dengan usahanya di bidang kuliner, membuka restoran dengan menu utama kopi. Sedangkan Yoon Gi dan Nam Joon menjadi komposer hebat, sementara Seok Jin membuka toko roti seperti impiannya. Lalu yang lain...
"Katanya hari ini dia pulang, kan, Tae?"
"Ya, Hyung. Akhirnya impiannya tercapai, menjadi penari hebat."
Nam Joon terkekeh, mengingat kejadian empat tahun silam bagaimana kerasnya sosok yang mereka bicarakan itu. Menari sudah seperti jiwanya, buah hatinya, bahkan Yoon Gi sering mengamuk jika tak ada kabar darinya. Sungguh, kehidupannya benar-benar berpusat pada dunia tari.
"Kudengar juga dia menerima tawaran menjadi guru seni di SMA kita dulu, Hyung."
"Ya, aku juga sempat dengar langsung darinya saat dia menelepon kemarin malam. Siapa yang sangka anak itu akan menjadi guru seni. Saat di SMA kau, kan, tahu bagaimana dia dan guru Yoon pernah berselisih paham sampai hampir berkelahi."
Tae Hyung yang kali ini tertawa kencang. Sahabatnya yang satu itu memang konyol, dan juga cengeng. Tetapi sekarang, siapa yang sangka jika seseorang sepertinya akan menjadi guru tampan yang akan digemari banyak siswa.
"Tae, bisakah kita mampir ke toko bunga dulu. Hari ini aku juga ingin memberikan kejutan untuk Seok Jin Hyung, sekaligus melamarnya di depan kalian semua."
"Jadi kau benar-benar serius ingin menikahi babi merah mudamu itu, Hyung?"
Nam Joon memukul kepala Tae Hyung, apa-apaan panggilan Tae Hyung untuk Seok Jin-nya itu. "Tidak sopan. Dia itu lebih tua darimu, bodoh."
Tae Hyung hanya menggerutu tak jelas. "Bilang saja kau cemburu karena aku memanggilnya seperti itu."
Nam Joon hanya menggedikkan bahunya, mengacuhkan Tae Hyung yang masih berceloteh tak jelas.
...
"Jong Woon Hyung!"
Tae Hyung melambaikan tangan pada Jong Woon yang sedang duduk mendengarkan Hyun Hoon berbicara bersama putra mereka, Kim Zi Yu. Bocah berusia 4 tahun itu sedang asyik menggambar sesuatu di buku gambar yang selalu ia bawa kemanapun. Katanya Zi Yu ingin sekali menjadi pelukis terkenal nantinya. Tae Hyung tak jarang akan membawakan Zi Yu berbagai macam peralatan menggambar untuk bocah tampan itu.
"Tae, kau sudah datang. Kemarilah." Tae Hyung berjalan mendahului Nam Joon yang saat ini tengah memarkirkan mobil. Rupanya ia datang lebih awal daripada yang lain.
"Halo, Zi Yu."
"Halo, uncle. Lihat, Zi Yu sedang menggambar burung. Menurut uncle, burung buatan Zi Yu bagus, tidak?"
Dengan bersemangat Tae Hyung pun mengangguk, kemudian duduk di samping Zi Yu dan melihat hasil gambarnya.
"Wah, siapa yang mengajari Zi Yu menggambar burung seindah ini?"
"Dia selalu mengajari Zi Yu, Tae. Padahal jadwalnya sangat padat."
"Apa kau sudah menghubunginya?" tanya Jong Woon.
Tae Hyung mengangguk. "Kurasa sebentar lagi akan sampai."
"Oh ya Hyung, bolehkah aku memakai dapurmu?"
Jong Woon mengangguk. "Tentu saja boleh. Kali ini kau akan membuat resep baru?"
"Rahasia." Tae Hyung tertawa, kemudian ia meninggalkan keluarga kecil itu.
"Sejak dia tidak ada banyak yang berubah dari Tae Hyung. Kau tahu bagaimana anak itu terus menerus menyalahkan dirinya sendiri, sayang."
Jong Woon mengangguk, membenarkan ucapan Hyun Hoon. "Ya, bahkan Tae Hyung sempat depresi karena kehilangan untuk yang kedua kalinya."
"Tae Hyung selalu meminta maaf ketika kita mengunjunginya di rumah sakit."
"Eum, kasihan sekali anak itu."
...
3 tahun lalu
Kamar itu tak lagi berbentuk, pecahan cermin, bantal dengan isi bulu angsa pun berhamburan. Berbagai lembaran potret berserakkan dengan beberapa sobekan di mana-mana. Sesosok tubuh meringkuk layaknya seekor anak anjing yang kehilangan induknya di sisi bawah tempat tidur. Tatapannya kosong, dengan tangan yang masih menggenggam pecahan cermin; menimbulkan luka sayatan pada pergelangan tangannya dan mengalirkan darah yang kini menggenang di lantai marmer berwarna putih tersebut.
Efeknya sangat dahsyat, tidak hanya meninggalkan luka fisik yang parah, tetapi luka batinnya jauh lebih dari ini. Tidak peduli orang-orang mengatakan perbuatan yang ia lakukan sangat berlebihan. Karena pada kenyataannya, walaupun ia mengantisipasi agar ini tak menyakitkan, namun tetap saja, hatinya tersayat─seperti ribuan belati tajam yang terus menyayat dan mengoyak perasaannya hingga menjadi cacahan kecil yang tak berbentuk.
Beberapa guncangan berusaha membawa kesadarannya kembali, namun itu mustahil. Luka itu terlalu parah, mengakibatkan seluruh indra pada tubuhnya mati rasa. Ia mendengar raungan seseorang yang sepertinya jauh lebih terluka melihatnya seperti ini, tapi ia tak bisa melakukan apapun.
"Bernapaslah, Tae! Mengapa melakukan ini?! Mengapa kau sampai nekat menyiksa dirimu?"
Samar-samar, ia dapat mendengar seseorang berucap lirih di sisi telinga kirinya. Namun semua persendiannya ngilu, ia tak bisa bergerak; bahkan untuk sekedar mengedipkan kelopak matanya.
"Jangan lagi menyiksa dirimu..." secara samar juga ia dapat mendengar suara yang jauh lebih berat dari seseorang yang lain. "Semua sudah cukup, Tae. Tidakkah kau merasa kasihan dengan tubuhmu sendiri? Ini bukan salahmu. Jangan lagi menganggap kematiannya adalah salahmu!"
.
.
.
"Bagaimana keadaannya?" seorang yang mengenakan kemeja berwarna merah mendekati ruangan berpintu kaca. Kemudian, seseorang yang lain, mengenakan jubah putih hanya menoleh dan menghela napasnya dalam.
"Tidak ada kemajuan apapun. Masih tetap sama," gumamnya lemas. "Kita sudah berusaha semampu kita, Nam Joon."
Nam Joon hanya mengangguk lesu. Entah berapa pekan, bulan atau tahun ia harus menunggunya. Ia memang tak lelah, namun... masihkah harapan untuk melihatnya kembali tersenyum akan Tuhan kabulkan dengan segera?
"Tae Hyung, apakah depresi yang dialaminya sangat parah, Ho Won Hyung?"
Si pria bernama Ho Won─seseorang yang mengenakan jubah putih─hanya mengangguk. Tatapannya masih tetap memandangi sosok yang kini terbaring lemah di atas ranjang rawat.
"Bukan hanya parah, Joon-ah. Tae Hyung sendiri yang menolak untuk sembuh. Walau diberikan terapi seperti apapun, jika pasien sendiri tak ada kemauan untuk sembuh, maka itu sulit." Ho Won kembali menghela napasnya dalam.
Nam Joon mengangguk lemah. "Jika saja..." tangannya kini terkepal. "Jika si brengsek itu tidak menembakkan pistol padanya, mungkin dia masih... argh!"
Nam Joon menggeleng. "Itu semua kecelakaan, Joon-ah," tangan Ho Won kini meremas bahu Nam Joon. "Won Woo hanya tertekan karena tak bisa mendapatkan Jung Kook hingga akhirnya mengambil tindakan itu."
Nam Joon hanya terdiam. Dan seharusnya memang wajar jika ia benar-benar marah, atau jika saja boleh... maka saat ini juga Nam Joon ingin sekali membunuh Won Woo yang mendekam di balik jeruji dengan tangannya sendiri.
Nam Joon kemudian pergi meninggalkan Ho Won. Membiarkan dokter muda yang merupakan sepupunya itu hanya menggelengkan kepalanya heran.
.
.
Kondisi Tae Hyung memang belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Kehilangan untuk kedua kalinya membuat ia tak mampu menahan beban berat itu seorang diri, dan pada akhirnya ia justru menyakiti dirinya untuk menebus rasa bersalah itu.
"Halo, Tae."
Duduk di samping Tae Hyung dengan lolipop di tangannya. Tae Hyung bergeming di tempatnya, ia seolah tuli dan tak memedulikan siapapun selain memerhatikan burung-burung kecil yang hinggap di atas rerumputan.
"Kau tahu, Tae? Terkadang menjadi orang normal itu sulit, tapi... melihatmu seperti ini jauh lebih sulit," lolipop dalam genggamannya kini terlepas bersamaan dengan teriakan seseorang memanggilnya. Kemudian ia kembali mengambil lolipop itu dan menyelipkan di tangan Tae Hyung.
"Kau di sini rupanya. Aku lelah mencarimu, astaga!"
Hanya tertawa, menampilkan wajahnya dengan surainya yang lembut terbawa hembusan angin.
"Hyung, apakah Tae Hyung akan sembuh?" Seok Jin hanya tersenyum lembut. Hari ini memang jadwal mereka berdua mengunjungi Tae Hyung.
"Ya, Tentu saja. Hanya terus berada disampingnya mungkin bisa membantu Tae Hyung cepat sembuh."
Hanya mengangguk tanda ia mengerti. Setelahnya, ia kembali menatap lekat wajah kosong Tae Hyung.
"Segeralah sembuh, Tae. Kau masih punya janji pada kami yang belum sempat kau tepati."
Seok Jin tersenyum miris. Semua orang memang ingin melihat Tae Hyung sembuh, tersenyum kembali, seperti Tae Hyung sebelumnya. Tetapi, ini hanya masalah waktu. Tuhan pasti akan membawa sosok ceria itu hadir kembali dalam diri Tae Hyung.
"Aku dan Seok Jin Hyung harus pulang. Besok kami kembali lagi."
...
Seduhan kopi menguar memenuhi ruangan. Wanginya bahkan tercium sampai ke ruang depan. Teknik yang Tae Hyung sembunyikan ketika membuat racikan kopi. Semacam resep rahasia yang tak seorang pun boleh mengetahuinya.
Nam Joon, Seok Jin, dan Yoon Gi sedang duduk santai dengan mengobrol di ruang VVIP kafe Jong Woon. Empat tahun berlalu, banyak mengalami hal menakutkan, dan akhirnya mereka bisa melewati itu dengan perasaan lega.
Satu tahun pasca kejadian penembakan itu, menyebabkan salah satu di antara mereka bertujuh harus meregang nyawa di tangan Won Woo, hingga akhirnya Tae Hyung mengalami depresi parah. Namun, tiga tahun kemudian mereka mulai kembali merajut mimpi indah itu bersama, mengejar cita-cita yang sempat tertunda.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" seseorang yang berlagak sok keren itu berdiri di ambang pintu.
Yoon Gi sendiri, ia berkacak pinggang, dan menghampiri si tampan, lalu melayangkan cubitan tepat di perut landainya.
"Yoon Gi Hyung, sakit!"
"Jangan berlagak sok keren, Park Ji Min!"
Semua terkekeh. Ya itu dia, Park Ji Min. Pria kesayangan Yoon Gi yang baru saja pulang dari Amerika untuk menyelesaikan pendidikannya di bidang seni tari. Dan kini Ji Min juga resmi menjadi pengajar tari di sekolah mereka dulu. Menjadi salah satu guru tampan di sana.
"Maaf karena aku terlambat."
"Kemarilah!"
Akhirnya mereka berempat berkumpul, bernostalgia sedikit untuk mengenang masa di mana mereka semua masih lengkap.
"Oh ya, kudengar Jung Kook akan mengeluarkan album keempatnya. Wah anak itu, sekarang jadi penyanyi hebat."
"Benar sekali, Jim. Selain hebat dalam hal menyanyi, dia juga hebat dalam hal merajuk. Kau tahu, bahkan untuk proyek album keempatnya ini, kami berdua rela tidak tidur karena permintaan khusus Jung Kook yang ingin semua lagunya hasil ciptaan kami berdua," keluh Nam Joon disetujui dengan anggukan oleh Yoon Gi.
"Astaga, jadi ini yang membuat Yoon Gi-ku terlihat kurus dan memiliki kantung mata seperti panda, eum?"
"Apakah kau sedang mengutuk kekasihku, Park Ji Min?"
Mereka menoleh, menatap Tae Hyung yang membawa nampan berisi lima gelas kopi racikannya. Jung Kook memang belum hadir, sebelum ke sini, kekasih Tae Hyung itu sempat menelepon akan datang terlambat karena sedang melakukan sesi pemotretan untuk album barunya.
"Hei, Dude. Lama tak berte—aww, sayang kenapa mencubitku?"
Ji Min berteriak saat Yoon Gi kembali mencubit perutnya sangat keras. Semua orang tertawa menyaksikan pasangan aneh ini tak pernah akur satu sama lain.
"Andai Ho Seok Hyung masih ada..." tiba-tiba Tae Hyung bersuara.
Semua diam. Yoon Gi merasa ada sebuah batu yang terlempar keras mengenai ulu hatinya. Perih dan sakit saat Tae Hyung mengucapkan nama itu lagi.
"Dia benar-benar berkorban sampai akhir. Bahkan ia rela menukar nyawanya untuk melindungiku dari peluru yang Won Woo tembakkan pada waktu itu," jawab Ji Min.
...
Flashback
"Jangan ada yang bergerak, atau akan aku pastikan peluru dalam pistol ini bersarang tepat di kepala Jung Kook!"
Semua orang yang berada di sana panik, Tae Hyung hendak berlari untuk menyelamatkan Jung Kook, tetapi Won Woo justru menarik pelatu pistol itu dan menekannya di kepala Jung Kook.
"Berikan jalan atau kau akan melihat pemuda kesayanganmu ini mati dengan kepala pecah."
Semua orang menyingkir, Tae Hyung pun tak memiliki pilihan selain membiarkan Won Woo pergi membawa Jung Kook. Tetapi sebelum Won Woo sampai ke pintu utama, tiba-tiba Ji Min melemparkan vas bunga ke punggung Won Woo, membuat pemuda itu memekik dan mengarahkan pistolnya pada Ji Min, kemudian...
DOOR!
Ji Min masih berdiri kaku saat tubuh Ho Seok perlahan limbung dan terjatuh di lantai. Ho Seok menyelamatkannya. Ho Seok merelakan diri untuk melindunginya. Dengan tangan yang bergetar, Ji Min memangku Ho Seok di pahanya.
"Ho Seok Hyung... apa yang kau lakukan..." ucap Ji Min bergetar.
"Mencoba menjadi pahlawan untukmu, bodoh."
Ho Seok masih bisa tertawa di tengah napasnya yang hampir habis. Wajahnya memucat, darah dari sela luka tembak di punggungnya terus merembes membasahi lantai marmer. Semua orang panik sekarang, Won Woo bahkan sudah berhasil dilumpuhkan oleh beberapa orang berpakaian serba hitam. Jung Kook punberhasil lari, lalumenghampiri Ji Min dan yang lain.
"Seok-ie, bodoh..."
Yoon Gi berlutut di samping Ho Seok yang kini membelai wajahnya dengan tangan yang berlumuran darah.
"Maafkan aku, sayang..."
Yoon Gi terisak, kali ini tangannya menggenggam erat tangan Ho Seok. "Mengapa melakukan ini?"
Ho Seok terengah, disela kesadarannya yang masih tersisa, ia menatap semua sahabatnya yang mengerubunginya. Tatapannya terpaku pada Tae Hyung yang hanya menundukkan wajah dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Tae Hyung..."
Tae Hyung menengadahkan wajahnya yang telah basah oleh airmata. "Ya... Hyung..."
"Kemarilah."
Tae Hyung bangkit, dibantu Jung Kook saat berdiri karena tubuhnya hampir limbung. Dengan tangan yang bergetar, ia duduk di samping Yoon Gi, lalu menangis.
"Hei, kau cengeng sekali, bodoh. Hentikan tangisanmu, kau sangat jelek."
"Hyung..."
"Maafkan aku. Maaf Yoon Gi karena tak bisa lagi menjagamu." Yoon Gi terisak hebat, bibirnya menyentuh kening Ho Seok, seolah ia melakukan itu untuk mewakili perkataannya yang tersendat di tenggorokan.
"Jim, maafkan aku. Berjanjilah satu hal padaku."
"Hyung jangan bicara apapun. Sebentar lagi ambulance sampai, dan kau pasti selamat."
"Berjanjilah, kumohon..."
Akhirnya Ji Min mengangguk. "Apa yang kau inginkan?"
"Yoon Gi-ku. Jaga dia mulai saat ini..."
"Ho Seok! Apa yang kau katakan?!" kali ini Seok Jin berteriak. "Kau tidak harus menitipkan Yoon Gi pada Ji Min. Kau pasti sembuh dan kau yang akan menjaganya!" Nam Joon berusaha menenangkan Seok Jin yang sekarang menangis histeris.
"Bisa, kan, kau berjanji padaku. Kumohon..." dengan lemah, Ji Min akhirnya mengangguk. "Terima kasih banyak."
"Tae Hyung," tangan Ho Seok beralih menyentuh permukaan wajah Tae Hyung. "Jangan menangis, eum..."
"Hiks, Hyung... aku... ini... aku..." racauan aneh yang keluar dari bibir Tae Hyung.
"Jangan menyalahkan dirimu. Ini kecelakaan, dan ini bukan salahmu, kau mengerti, kan?"
Tidak ada respon dari Tae Hyung, si tampan seolah merasa tuli. Ini seperti de javu, melihat Ho Seok berlumuran darah, ia merasa seperti melihat mendiang adiknya dulu.
"Seok Jin Hyung dan Nam Joon. Berjanjilah untuk menjaga yang lain. Kalian harus saling menguatkan satu sama lain. Dan terima kasih karena kalian selalu menerimaku."
"Dan kau Jung-ie, jagalah Tae Hyung untukku. Kau bisa, kan?" Jung Kook mengangguk, dengan tangannya terus meremas bahu Tae Hyung.
"Kau pasti selamat, Hyung. Kita bisa melakukan hal menyenangkan lagi setelah kau sembuh."
Setelah Jung Kook berbicara, Ho Seok terkulai lemas, semua histeris, sampai petugas medis akhirnya datang dan membawa Ho Seok untuk dibawa ke rumah sakit. Tetapi, saat akan dinaikkan ke dalam ambulance, tangan Ho Seok yang semula menggenggam erat tangan Yoon Gi pun terlepas. Dan tepat pukul sepuluh malam, di malam salju turun untuk pertama kalinya, Jung Ho Seok dinyatakan meninggal dunia.
...
Berjalan tergesa, penyamaran Jung Kook diketahui penggemarnya. Tetapi syukurlah ia bisa menghindari kejaran gadis berseragam SMA itu dengan mudah.
Mengatur napas saat berhasil masuk ke dalam kafe dan disambut ekspresi aneh dari kakak dan kakak iparnya.
Jung Kook menenggak segelas air yang disodorkan Hyun Hoon, lalu menggoda Zi Yu sebentar dan langsung pergi ke ruangan di mana semua sahabatnya itu sudah menunggu kedatangannya.
"Maafkan aku."
Mereka menoleh, dan terkejut mendapati penampilan Jung Kook berantakkan. Apa di luar ada badai?
"Kau habis maraton, Jung-ie?"
Jung Kook mendengus, lalu melayangkan tatapan mematikan pada Nam Joon. "Bukan maraton, tapi ada segerombol penggemar yang mengetahui penyamaranku dan akhirnya kami sedikit olahraga, lari di siang hari yang cukup panas ini," ucap Jung Kook sarkastik. Sementara yang lain hanya tertawa.
"Kemarilah, sayang."
Mendengar Tae Hyung yang memanggil namanya mesra, dengan senang hati Jung Kook pun menghampiri Tae Hyung.
"Kau jelek sekali, Darling."
"Silahkan pindah, brengsek!" murka Ji Min.
"Bilang saja iri. Dasar pendek," cela Jung Kook kemudian.
"Hyung, kenapa kau tidak membelaku saat kelinci nakal itu mengejekku?"
"Itu bukan ejekan, Jim, tapi kenyataan."
Semua tertawa, sementara Ji Min menekuk wajahnya kesal.
...
Tangan Jung Kook melingkar di pinggang Tae Hyung. Saat ini keduanya sudah berada di kafe yang merangkap menjadi rumah yang mereka tempati berdua. Tae Hyung sedang sibuk membuat racikan kopi, dan Jung Kook seperti biasa, karena tidak ada jadwal, maka kegiatan mengganggu Tae Hyung lah salah satu favoritnya.
"Apa yang kau buat, Tae?"
"Resep baru dari kopi arabica. Mau coba, sayang?"
Dengan senang hati Jung Kook mengangguk, lantas menyesap kopi yang disodorkan Tae Hyung langsung ke mulutnya.
"Terlalu manis menurutku. Jika disajikan dingin lebih baik foamnya kau kurangi sedikit, sayang."
Saran Jung Kook biasanya memang selalu benar. Dia memang tidak bisa membuat kopi seenak buatan Tae Hyung. Tetapi jika soal mencicipi, Jung Kook lah ahlinya. Indra pengecapnya memang tak pernah salah, biasanya jika menurut Jung Kook resep baru Tae Hyung itu enak, maka sudah bisa dipastikan jika itu akan jadi menu favorit pengunjung kafenya.
"Jung Kook-ku memang selalu memiliki selera luar biasa."
Jung Kook terkekeh, pujian Tae Hyung selalu saja membuat dadanya berdebar hebat. Padahal hubungan mereka sudah terbilang lama. Seharusnya Jung Kook tidak lagi merasa malu ketika si tampan yang begitu dicintainya itu selalu sukses menggodanya dan berakhir dengan wajah Jung Kook yang bersemu merah cantik.
"Malam ini kita ke rumah Mama, mau, kan?"
Jung Kook berdehem gugup, 4 tahun berhubungan dengan Tae Hyung bukan berarti semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Mama Tae Hyung, ketika bertemu dengannya untuk pertama kali bahkan sempat histeris karena menganggap Jung Kook itu adalah mendiang adik Tae Hyung. Tetapi, pertemuan kedua, walaupun Mama Tae Hyung sudah tak histeris dan menganggap dirinya adalah putra bungsu keluarga Jeon, tetap saja Jung Kook merasa sungkan, terlebih lagi Tae Hyung belum sekalipun memperkenalnya sebagai kekasih.
"Sayang, kau mau, kan?" lagi, Tae Hyung bertanya.
Dengan gugup Jung Kook mengangguk. "Ya, tentu saja."
Tae Hyung bisa merasakan kegelisahan Jung Kook sekarang. Salahkan dirinya yang memang belum mempunyai cukup keberanian memperkenalkan Jung Kook sebagai kekasihnya pada sang Mama. Bukannya tidak mau, Tae Hyung hanya takut hubungannya dengan Jung Kook akan ditentang keras. Jadi, untuk sementara, membawa Jung Kook sebagai teman ke rumah itu jauh lebih baik, dibanding ia harus kehilangan si manis.
"Nanti malam kita ke sana. Mama juga katanya rindu denganmu."
"Oh ya? Jadwalku yang padat membuatku tak punya waktu bertemu Bibi dengan leluasa."
Tae Hyung mengusap lembut surai Jung Kook. "Mama pasti mengerti. Kau lapar tidak, sayang?"
Dengan lucu Jung Kook mengangguk dan menepuk perutnya. "Sangat lapar. Apa Tae Hyung-ku akan membuatkan menu baru untuk makan siang kali ini?"
"Untukmu, tentu saja."
Selalu ada cara manis yang dilakukan ketika mereka mempunyai waktu berdua. Tae Hyung seperti ketergantungan dengan kehadiran Jung Kook di sisinya. Pun sebaliknya, jika beberapa hari saja Jung Kook tidak bertemu dengan Tae Hyung, pasti si manis uring-uringan. Itu tidak berlebihan, semua sudah terbiasa melihat kebersamaan keduanya. Jadi, jika ada yang cemburu dengan kebersamaan mereka, keduanya jelas tidak mau peduli.
...
Sepasang tangan memeluknya erat dari belakang, Yoon Gi tahu itu Ji Min, biasanya dia akan protes jika Ji Min melakukan hal tersebut, tetapi karena ini hari pertama kembalinya Ji Min maka ia biarkan saja.
Ji Min menelusupkan kepalanya di perpotongan leher Yoon Gi, mengecupnya sesekali, dan yang paling membuatnya suka dengan kegiatannya kali ini adalah aroma Yoon Gi yang masih sama; perpaduan mint dan vanilla.
"Baumu masih tetap sama."
Yoon Gi terkekeh, mengusap lembut tangan Ji Min yang masih melingkar hangat di perutnya. "Kau suka?"
"Hm... tentu saja. Jangan pernah mengganti aromanya dengan yang lain."
Tidak ada jawaban, Yoon Gi hanya diam menikmati suara Ji Min yang begitu ia rindukan selama mereka memutuskan berhubungan jarak jauh. Sejak Ho Seok meninggal, butuh waktu lama bagi Yoon Gi untuk menerima kehadiran orang lain; termasuk menerima Ji Min kembali.
Ji Min sendiri butuh kesabaran ekstra ketika menghadapi Yoon Gi yang menjadi tempramental ketika itu. Yoon Gi berubah menjadi lebih tertutup, bahkan dia orang kedua paling parah setelah Tae Hyung. Ji Min selalu jadi korban amukan Yoon Gi, dan Ji Min jugalah yang berhasil menyelamatkan Yoon Gi ketika over dosis atas ketergantungannya pada obat penenang.
Lambat laun, di saat Yoon Gi sadar bahwa tindakannya menyalahkan diri sendiri itu salah. Ia kembali bangkit dari keterpurukan, memulai dari awal, menjadi dirinya seperti dulu, dan ia bersyukur bahwa di saat itu Ji Min tetap setia mendampinginya.
"Ayo kita menikah, Hyung."
Terhenyak dari lamunannya, Yoon Gi segera membalikkan badan untuk menatap Ji Min. "Jangan bergurau, Jim."
Mencebikkan bibir. "Apa perkataanku tidak cukup meyakinkan, sehingga kau beranggapan ini gurauan? Ini lamaran resmi, Min Yoon Gi!"
Satu pukulan di kepala tak ayal membuat Ji Min mengaduh. "Tidak sopan. Walaupun kau kekasihku, aku tetap lebih tua darimu, Park Ji Min!"
"Baiklah, maafkan aku, Park Yoon Gi."
"Jim!"
Ji Min terkekeh, lalu membawa tubuh Yoon Gi ke dalam pelukannya. Sungguh, menikmati momen seperti ini adalah hal paling tidak bisa Ji Min lewatkan.
"Sekali lagi aku akan bertanya. Apa kau bersedia menjadi pendampingku, sayang?"
Ada gelenyar hangat memenuhi perasaannya, sensasi geli nyaman yang ditimbulkan akibat perkataan Ji Min tanpa sadar membuat si cantik menitikkan air mata. "Jim bodoh..."
"Sayang, hei... kenapa menangis? Apa ucapanku menyakiti perasaanmu?" tanya Ji Min panik saat menjauhkan tubuh dari tubuh Yoon Gi.
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu, sementara aku bahkan tidak berniat melepaskanmu."
"Jadi, kau mau?"
Mengecup sekilas bibir Ji Min, lalu akhirnya anggukan kecil dari Min Yoon Gi mewakili bahwa lamaran Ji Min diterima.
"Aku akan menelepon Ayah dan Ibu."
"Tapi, Jim?"
"Ada apa?"
"Apa orang tuamu akan setuju jika yang jadi menantunya adalah laki-laki."
Terbahak. Ji Min benar-benar gemas melihat kelakuan kekasihnya itu. "Memangnya, berapa lama kau mengenal mereka, Min Yoon Gi? Bahkan Ibu saja masih sangat menyukaimu sampai sekarang."
"Benarkah? Kalau begitu, biar aku yang menelepon Bibi."
...
"Aku membencimu, Kim Nam Joon!"
"Sayang maafkan aku," teriak Nam Joon saat babi merah mudanya itu melempari dirinya dengan bantal.
"Kau pikir kau siapa, Kim Nam Joon. Kenapa kau berani memperkosaku di saat aku sedang tidak mabuk?! Enyah saja sana!"
Ya Tuhan, mimpi apa Nam Joon sekarang. Bukankah mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Lantas, mengapa Seok Jin justru mengamuk?
"Sayang, tadi kau sendiri yang menginginkannya. Lagipula, kau yang mengatakan jika kau tidak keberatan menye—"
"Berhenti berbicara hal itu, Kim Nam Joon! Lalu, kau sendiri, mengapa tidak menghentikanku dan justru mengambil kesempatan, huh?"
Terengah, lalu Seok Jin duduk di tepian ranjang saat dirasa ia kelelahan karena berteriak. Ia menundukkan pandangannya, berusaha mengingat kejadian satu jam yang lalu. Tiba-tiba rona merah menghinggapi sepasang pipi Seok Jin. Ah, dia mengingat itu sekarang. Ya, ini memang sepenuhnya bukan salah Nam Joon. Saat keduanya tengah berciuman mesra seperti biasa, dan kali ini kegiatan itu diselingi dengan Nam Joon yang mengecup mesra leher Seok Jin. Hingga tanpa Seok Jin sadari, ia justru meminta Nam Joon melakukannya lebih. Dan setelah itu, mereka berdua terbangun satu jam kemudian dengan posisi saling berpelukan tanpa mengenakan sehelai pakaian pun.
Oh, Kim Seok Jin, di mana harga dirimu?
"Sayang," dengan hati-hati Nam Joon berjalan mendekati Seok Jin. Kemudian duduk berlutut di hadapan Seok Jin yang masih membatu. "Maafkan aku."
Akhirnya Seok Jin menatap Nam Joon, ungkapan tulus itu menggentarkan hatinya. Sungguh, hubungan mereka memang bukan hubungan remaja labil lagi, Nam Joon bahkan tadi melamarnya di depan semua sahabatnya. Mungkin sebagian pasangan pasti berpendapat bahwa melakukan seks sebelum pernikahan itu adalah hal yang biasa. Tetapi, Seok Jin punya pendapat sendiri, dan kali ini ia sudah melanggar apa yang seharusnya tidak ia lakukan.
"Nam Joon, ini salah. Aku tahu kita akan menikah, tetapi yang kita lakukan tadi itu salah. Aku minta maaf karena terbawa suasana, dan aku—"
Membungkam mulut Seok Jin dengan kecupan lembut nan menenangkan. Hanya itu yang dapat Nam Joon lakukan agar kekasihnya itu diam.
"Kita akan segera menikah," ucap Nam Joon setelah tautan bibir mereka terlepas.
"A-apa?"
"Jika kau mengkhawatirkan apa yang kita lakukan tadi adalah kesalahan, aku akan meminta keluargaku untuk segera mencari tanggal yang bagus untuk pernikahan kita."
"Jeon-ie, ini... aku..."
Nam Joon menyentil kening Seok Jin, lalu memeluk yang lebih tua dengan penuh rasa sayang. "Jangan mengkhawatirkan apapun, oke."
...
Suasana makan malam di kediaman Tae Hyung berjalan lancar. Bahkan Mama Tae Hyung sejak selesai makan malam dan mereka memutuskan untuk berbicara santai di ruang keluarga pun, posisi duduk Jung Kook pasti selalu dekat dengan sang Mama. Tae Hyung sebenarnya cemburu juga melihat kedekatan sang Mama dan Jung Kook yang benar-benar alami. Tetapi, ia berpikir bukankah itu bagus, dan harusnya ia menggunakan kesempatan ini untuk melamar Jung Kook di depan Mamanya.
"Jung-ie." Tae Hyung dan sang Mama begitu kompak ketika memanggil nama Jung Kook, membuat si manis tanpa sadar tersenyum.
"Oh, Mama saja duluan," ucap Tae Hyung mendahului sang Mama.
"Apa kau sudah memiliki kekasih, Nak?"
Tae Hyung bergetar, duduknya mulai gelisah manakala sang Mama sesekali meliriknya. Pun Jung Kook, ekspresi si manis bahkan lebih parah dari Tae Hyung, ia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Mengapa Bibi bertanya seperti itu?" tanya Jung Kook gugup.
Sementara Mama Tae Hyung tersenyum dan mengusap puncak kepala Jung Kook. "Hanya ingin tahu saja. Apa tidak boleh?"
Jung Kook menggeleng, sementara Tae Hyung semakin tak nyaman dengan posisi duduknya. "Boleh, hanya saja, Jung Kook tidak yakin jika mendengar ini Bibi akan menyukainya."
Mengerutkan dahi. "Mengapa Bibi harus tidak suka? Apa kekasihmu itu sangat jelek sehingga kau malu?"
"Bukan seperti, Bi. Jung Kook memang memiliki kekasih, dan dia... laki-laki."
Terjadi keheningan beberapa saat, Tae Hyung sempat menahan napas saat melihat sang Mama masih terdiam tanpa menunjukkan ekspresi berarti.
"Mama sebaiknya istirahat, dan Tae Hyung akan mengantar Jung—"
"Apa Bibi mengenal siapa laki-laki itu?" tiba-tiba Mama Tae Hyung bertanya kembali, membuat Jung Kook semakin kaku sekarang.
Menghela napas panjang sampai akhirnya Tae Hyung berdiri, dan menarik Jung Kook untuk berdiri juga. "Ya, Mama sangat mengenalnya. Karena Tae Hyung lah kekasih Jung Kook."
"Jadi kalian?"
"Bibi maafkan Jung Kook. Ini tidak seperti yang Bibi pikirkan. Jung Kook tahu ini pasti membuat Bibi terkejut, tapi..."
Belum sempat Jung Kook melanjutkan ucapannya, Mama Tae Hyung bangkit lalu memeluknya. "Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi, sayang. Bibi senang jika itu kau."
Membeku, sebelah tangannya yang bebas dari genggaman Tae Hyung lalu mengusap lembut wanita paruh baya itu. Mata Jung Kook berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa tanggapan Mama Tae Hyung berbanding terbalik dengan apa yang ia takutkan selama ini.
"Jung Kook mau, kan, mendampingi, Tae Hyung?" melepas pelukan, Mama Tae Hyung kemudian menyatukan tangan Tae Hyung dan Jung Kook. "Jung Kook mau, kan, mulai saat ini memanggil Bibi dengan sebutan Mama seperti yang Tae Hyung lakukan?"
Jung Kook menoleh, menatap Tae Hyung yang justru tersenyum bahagia. "Mama secara langsung melamarmu, sayang. Kau mau, kan, menerimanya?"
Senyum merekah menghiasi paras Jung Kook, tak butuh waktu lama untuk menjawab permintaan khusus Mama Tae Hyung. Akhirnya ia mengangguk mantap. "Ya, Jung Kook mau mendampingi Tae Hyung, Mama."
Sebuah akhir yang bahagia, untuk sebuah cinta yang mereka perjuangkan selama ini. Bermula dari ketidaksengajaan, kemiripan wajah, membuat Tae Hyung dan Jung Kook akhirnya dekat dan mengenal satu sama lama. Takdir yang mengikat mereka dengan kuat. Janji Tae Hyung terpenuhi sekarang. Melindung Jung Kook... sampai akhir.
...
EPILOG
"Apa keinginan kalian jika dilahirkan kembali?"
Ho Seok menatap Yoon Gi yang berada di sisi kanannya, lalu beralih pada Ji Min yang berada di sisi kirinya, kemudian beralih melirik Tae Hyung dan Jung Kook di sisi Ji Min, sementara Nam Joon dan Seok Jin di sisi Yoon Gi. Tangan mereka saling menggenggam erat satu sama lain. Tidak ada satu dari mereka yang ingin melepaskan tautan itu.
Saat ini, ketujuh pemuda itu tengah menghabiskan waktunya di padang rumput belakang Universitasnya. Merebahkan tubuh pada rumput hijau nan cantik, serta menikmati hembusan angin yang menggelitik ke permukaan kulit.
"Aku tetap ingin terlahir sebagai Tae Hyung," itu Tae Hyung yang menjawab. "Kalau kau, Jung-ie?" lalu menoleh pada Jung Kook yang menyandarkan kepala di bahunya.
"Ingin terlahir menjadi Jung Kook juga. Tapi kali ini aku ingin terlahir sebagai dominan, aku ingin melindungi Tae Hyung."
Semua terkikik manakala mendengar kalimat polos yang diucapkan Jung Kook.
"Wajahmu tidak cocok menjadi dominan, sayang."
"Kau mengejekku, Tae. Memang apa salahnya jika aku dominan?"
Tae Hyung menggeleng, lalu memalingkan wajahnya untuk mengecup si manis sebentar. "Tidak salah, hanya saja wajahmu sangat cantik untuk seorang dominan."
Blush. Wajah Jung Kook merona, Tae Hyung paling bisa jika menggoda Jung Kook. "Tidak ada dominan yang digoda merona sepertimu, sayang."
"Tae, kau menyebalkan."
Kembali, keenam pemuda itu tertawa menyaksikan Jung Kook yang mati kutu karena perlakuan Tae Hyung.
"Yoon Gi-ku sendiri, jika dilahirkan kembali ingin jadi siapa?" kali ini Ho Seok bertanya pada Yoon Gi dan sesekali mengecup punggung tangan Yoon Gi.
"Tidak tahu."
"Jawaban macam apa itu, Hyung," lalu yang mencela ucapan Yoon Gi adalah Ji Min. "Aku pasti dengan enteng akan menjawab jika aku ingin dilahirkan lebih tinggi."
Lalu, yang kau katakan, ucapan macam apa itu, Park Ji Min?
"Bukan Park Ji Min jika kau tumbuh tinggi, Hyung," kemudian yang mengejek Ji Min sekarang adalah Jung Kook.
"Tsk, bilang saja kau takut jatuh ke dalam pesonaku, kelinci gembul."
"Tidak akan pernah. Catat itu!"
Kelima pemuda lain hanya menggeleng jengah jika mendengar adu mulut Jung Kook dan Ji Min. Selalu seperti itu saat bertemu. Mereka heran, kenapa Jung Kook dan Ji Min tidak pernah akur satu sama lain, ya meskipun adu mulut itu tidak setiap waktu mereka lakukan.
"Seok Jin Hyung, kali ini aku akan bertanya padamu. Jika dilahirkan kembali, kau ingin jadi siapa?"
"Aku, mungkin terlahir sebagai seorang perempuan."
Nam Joon yang paling dekat dengan Seok Jin adalah orang yang paling keras tertawa. "Kau ingin jadi seorang perempuan, Hyung? Memangnya kau tertarik menjadi seperti siapa?"
"Aku ingin merasakan bagaimana tidak enaknya ketika PMS. Dengan begitu aku bisa lebih leluasa membullymu, Joon-ie," jawab Seok Jin polos.
"Tidak PMS pun kau selalu membullyku, Hyung."
Tiba-tiba tangan Seok Jin mendarat di perut Nam Joon. Seok Jin mencubit keras perut Nam Joon, membuat pemuda itu menjerit heboh.
"Apa seperti ini yang kau lakukan padamu, sayang."
"Hentikan Hyung, kau menyakiti perutku."
"Nam Joon Hyung berlebihan," lagi-lagi Jung Kook berteriak mengejek Nam Joon. Kenapa kelinci manis kesayangan Tae Hyung itu bertingkah menyebalkan sekarang?
"Giliran Nam Joon sekarang. Kau ingin jadi siapa jika dilahirkan kembali?" itu Seok Jin yang bertanya.
"Tetap menjadi Kim Nam Joon, dan aku ingin meminta kepada Tuhan untuk terlahir menjadi pelindung Kim Seok Jin lagi."
"Cheesy," ucap keenamnya kompak.
"Hosikie, sekarang giliranku yang bertanya. Jika dilahirkan kembali, kau ingin menjadi siapa?"
Ho Seok menoleh, menatap Yoon Gi, kemudian ia tersenyum lembut. "Benarkah kalian ingin tahu jawabanku?"
"Ey, lupakan saja kalau begitu," itu Ji Min.
Tiba-tiba hening, semua menutup rapat kelopak mata. Hembusan angin membuat mereka ingin sekali tertidur untuk beberapa saat. Seok Jin yang menelusupkan kepala di leher Nam Joon. Yoon Gi dan Ji Min yang sama-sama kompak menyandarkan kepala di bahu Ho Seok. Sementara Tae Hyung terlihat mengecupi kening Jung Kook saat kekasihnya itu dengan sengaja menghadapkan wajah ke arahnya.
"Benarkah kalian tidak ingin tahu jawabanku?"
"Memangnya apa jawabanmu," ujar keenam pemuda itu kompak.
"Jika aku diberikan kesempatan untuk terlahir kembali, aku tidak minta jadi siapapun. Aku hanya akan meminta untuk dilahirkan sebagai Jung Ho Seok, orang yang akan melindungi kalian sampai akhir."
Semua mata tertuju pada Ho Seok. Si bodoh yang selalu menjadi perusuh ini mengatakan hal yang tidak pernah mereka kira sebelumnya. Dengan senyuman polosnya yang menawan Ho Seok menatap satu persatu dari mereka semua.
Dan... bukankah Ho Seok sudah melakukan itu dengan baik? Menepati janji untuk melindungi keenam sahabatnya itu sampai akhir. Rela mengorbankan nyawa untuk melindungi keenam sahabat yang ia cintai.
Cinta bukan hanya tentang kau dan aku.
Tetapi...
Cinta adalah ketika kau dan aku menjadi kita.
Dan cinta ini untukmu Jung Ho Seok, sang malaikat pelindung.
-THE END-
Saatnya bilang alhamdulillah. Akhirnya FF dengan chapter terpanjang yang pernah Vanilla garap selesai. Maaf jika endingnya kurang greget, maaf kalau endingnya jauh dari bayangan kalian. Maaf, Vanilla Cuma bisa kasih segini, semoga berkenan untuk baca ending Saigomade yang ngaretnya kebangetan.
Vanilla mau ucapin banyak-banyak terima kasih, awalnya yang nggak yakin sama nggak pede publish FF ini. Tetapi, pada saat baca review dari kalian, itu bener-bener jadi motivasi buat Vanilla lanjutin dan akhirnya sampai juga di kata 'Tamat'.
Vanilla nggak tau mau bilang apalagi, intinya seorang author tidak akan dikenal jika tidak ada peran readers di dalamnya. Terima kasih untuk yang selalu review dari chapter 1 sampai 15 ini. Terima kasih sudah berkenan membaca FF Vanilla yang masih jauh dari kata bagus. Terima kasih selalu memfollow, memfavoritkan FF ini. Terima kasih banyak.
Tetap nantikan kisah VKOOK lainnya, terutama buat pecinta Jung Kook uke :*
Peluk dan cium
-VanillaSky-
