Sahabat Bayangan Chapter 2
"Itu aku dan kedua suamiku. Yang rambut hitam panjang itu bernama Orochimaru sedangkan pria berambut putih panjang dan berantakan itu bernama Jiraiya."
"Dan pemuda yang duduk dihadapan kami adalah ..."
"Ne-il" potong Sakura yang menatap lekat foto pemuda itu. Wajahnya mengeras, tangannya mengepal menahan amarah.
'Pergi Sakura. Pergilah dari sana Sakura! ' Secepat kilat Sakura menoleh kebelakang setelah mendengar suara itu.
"Neil!" Panggilnya. Sekarang dia semakin yakin jika sahabatnya itu ada disini. Tapi kenapa dia tidak dapat melihatnya.
"Kau dimana Neil? Keluarlah!" ujar Sakura sambil mengelilingi ruangan dan sesekali menengok kesana kemari. Melihat hal itu Kizashi dan istrinya mencoba menghentikan Sakura dengan memeluknya.
"Hentikan Sakura! Dia tidak ada Sakura! Tidak ada!" yakin Kizashi pada sang putri yang memberontak di pelukannya. Sakura menoleh pada sang ayah dan menatapnya dengan rasa benci.
"Memang siapa kau berani-beraninya melarangku?! Hanya karena kau ayahku bukan berarti kau bisa bicara seperti itu!" ujar Sakura sinis pada sang ayah. Kizashi dan istrinyapun kaget mendengan ucapan putri mereka. Sementara Tsunade menatap nanar gadis yang memberontak itu.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku harus menemukan Neil! "
"Apa yang dikatakan ayahmu benar Sakura. Neil dia tidak ada. Dia sudah mati "Jelas Tsunade sambil memegang kedua bahu Sakura mencoba meyakainkannya.
Deg. Syok. Sakura berhenti berontak. Dia diam seketika setelah mendengar itu. Matanya membulat kaget, mulutnya terbuka kaku seolah sulit untuk berbicara.
"Neil yang kau lihat setiap harinya. Yang ada di sampingmu selama ini hanyalah bayangan Sakura. Dia tidak nyata" Tsunade mulai menangis saat mengatakannya. Sementara ibu dan ayahnya telah menangis tersedu-sedu sedari tadi.
Sakit. Itu yang Sakura rasakan sekarang. Dipegangnya dada kirinya sakit dan perih itu bercampur menjadi satu. Kecewa dan sedihpun telah meluap menjadi tetesan air mata yang mulai merembes keluar dari kelopak matanya membanjiri pipi putihnya. Sakura hanya dapat meringis menghadapi kebodohan dirinya saat ini.
Sementara itu dapat kita lihat ada sosok gelap di atas pohon maple berdiri dengan aura hitam terpancar dari seluruh tubuhnya. Wajahnya sangat datar namun terlihat jelas jika dia sangat marah. Matanya memancarkan semua emosi itu.
"Tsu-na-de" ucapnya lirih.
Awan hitam muncul entah darimana, berkumpul menutupi sang mentari yang indah. Diikuti dengan suara guntur yang menggema dan kilat yang mulai menyambar-nyambar.
"Rasakan akibatnya jika kau mencoba merebut milikku" ujarnya dengan evilsmirk yang terpahat dibibir sexynya. Melunturkan senyum ceria yang biasa menjadi kekhasan dirinya.
Tsunade menoleh kearah jendela. Dapat dirasakan olehnya bahaya yang akan muncul sebentar lagi. Aura khas yang hanya muncul dari seseorang yang paling dikenal olehnya. Orang yang telah tiada lima puluh tahun yang lalu. Tadayama Neil.
Prang ... Pyar ... Seketika itu pula semua kaca dan guci yang ada diruangan itu pecah begitu saja. Semua orang termasuk Sakura kaget dan mulai takut. Dan berlanjut dengan barang-barang yang mulai terbang sendiri tidak ada yang mengendalikannya. Namun anehnya hanya benda-benda tajam yang melayang. Ada apa ini? Ada apa lagi?
Sakura mulai pusing dengan keanehan ini. Kenyataan pahit yang dialami olehnya. Dan masih menjadi misteri dalam kehidupannya. Tapi ada hal yang masih dia bingung lalu Neil itu apa?
"Tsunade san. Lalu siapa Neil?" tanya Sakura yang masih linglung kurang memahami bahaya yang akan datang. Sementara ibu dan ayahnya hanya dapat tepuk jidat karena kurang pekanya putri mereka. Tsunade menghela nafas maklum dan akan menjawab namun…
Angin berhembus kencang ke dalam ruangan tersebut dan dapat dilihat bayangan seseorang yang berdiri diatas pagar pembatas sambil menyender pinggiran jendela. Tak lupa dengan evilsmirknya.
"Ohayo minna…" sapa sosok itu. "Dan ohayo Sakura sama" lanjutnya sambil menatap Sakura yang terpaku padanya. Setelah membungkuk sebagai tanda hormat sosok itu kembali keposisi tegapnya dan menoleh kearah Tsunade dengan menatapnya penuh benci.
"Hmm… Lama tak berjumpa obasama. Bagaimana kabarmu?" tanyanya sambil mendekati Tsunade yang semakin mundur saat didekatinya. Dan berhenti tepat didepan Sakura dan orangtuanya.
"Ah ya ini juga kali pertama kita bertemukan? Maaf atas ketidak sopananku" ucapnya sambil membungkuk hormat pada Kizashi dan istrinya yang menatapnya takut. Sementara Sakura menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
Kesempatan. Tsunade mengambil salah satu pedang yang melayang dan menebas sosok yang membelakanginya tersebut namun ... Prang! Pedang itu jatuh dan patah menjadi dua sebelum mengenai punggung sasarannya. Semua orang kaget termasuk Sakura. Mereka melihat Tsunade yang tak berdaya ada dicengkraman sasarannya tersebut.
"Inikah caramu menyambut kawan lama? Tsu-na-de" ujar sosok itu sambil mencekik leher wanita berkuncir dua itu. Tsunade hanya mendecih tak suka dengan sebutan 'kawan lama' dari sosok dihadapannya ini.
"Siapa kau?" pertanyaan itu memecah ketegangan yang ada diantara Tsunade dan sosok itu. Dan pertanyaan itu berasal dari balik punggung sosok tersebut yang sekarang memegang senjata berupa katana.
Kaget. Tentu saja. Setelah lima belas tahun lamanya mereka bersama bagaimana bisa sosok gadis ini melupakannya. Bercanda dia. Dilepaskannya cengkramannya pada kawan lamanya Tsunade dan berbalik menghadap gadis miliknya itu. "Sakura…" panggilnya.
Hening. Tak ada jawaban.
"Sakura. Ini aku" ucapnya lagi sambil menunjuk dirinya sendiri. Tak ada respon. Dia menghela nafas dan tersenyum maklum.
"Sakura ini aku Neil. Sahabatmu hime. Lupakah dirimu padaku? "Ujarnya kembali sambil berusaha mendekati Sakura yang terus berjalan mundur sambil menghunuskan pedang kearahnya dengan setianya.
"Sakura turunkan pedangmu. Ini aku Neil "perih. Rasanya perih sekali saat melihat wanita yang kita puja tidak menghiraukan kita.
"Siapa kau?" Mengakhiri kebisuannya. Dengan tatapan tajam dan tetap menghunuskan pedang kearah pemuda itu. Terlihat kekagetan yang terpancar dari wajah rupawan Neil. Rahnggnya mulai mengeras pertanda amarahnya sudah diujung tanduk.
Neil mendesis tak suka dengan pertanyaan itu. Dia sudah muak dengan semua ini. Kenapa disaat dia akan hidup kembali menjadi manusia dia harus menghadapi masalah yang ditimbulkan oleh penjaga brengseknya, Tsunade!
"Aku Neil. Tadayama Neil. Sahabatmu. "Jelasnya penuh penekanan pada setiap kata.
"Siapa kau?" tanya Sakura lagi.
"Neil. Sahabatmu" jawab Neil sambil menatap Sakura tajam.
"Sekali lagi aku tanya padamu. SIAPA KAU?!" bentak Sakura penuh emosi menanyakan siapa dirinya. Diam. Semua orang diam saat mendengar bentakan Sakura yang sarat akan amarah.
Cukup. Neil tidak dapat menahannya lagi. Ditatapnya gadis kesayangnnya itu penuh kasih.
"Aku Neil, sahabatmu yang selalu ada untukmu. Yang selalu menemanimu dikala senang maupun sedih. Yang selalu memelukmu setiap malam. Yang selalu menghapus air mata yang keluar dari mata indahmu. Yang…"
"Selalu menghisap jiwaku setiap malam demi kehidupanmu. Benar?" potong Sakura. Ya Sakura sadar sekarang kesalahan besar dalam hidupnya.
"Neil…" ucapnya sendu. Sementara sosok yang dipanggil hanya diam tanpa suara. Nyatanya rahasia terbesarnya terbongkar sekarang.
"Aku…" air mata mulai jatuh membasahi pipi Sakura lagi."Membencimu…"
Anda.
Prang ... Prang ... Prang ...
Tak bisa. Tidak akan bisa. Dia tak bisa membiarkan ini terjadi. Sakura adalah miliknya. Sakura tidak boleh membencinya. Sakura adalah jembatan kehidupan keduanya. Tak bisa…
Kalau Sakura tidak mau menjadi miliknya. Maka kematian adalah pilihannya.
"Kalau begitu matilah ..." ucapnya lirih sambil menyerang Sakura. Jleb. "Aaagh ..." suara rintihan kesakitan itu menggema sampai keluar. Darah mulai mengalir dengan deras membasahi tubuh dan lantai disekitarnya. Semua terpaku kaget. Bahkan Neil. "Tidaaakkkkkk. ... !" Suara gutur melengkapi jeritan tangis itu. Petir menyambar-nyambar di atas rumah itu. Hujan turun semakin deras meredam jeritan-jeritan pilu yang menyayat hati. Langit menjadi saksi pengorbanannya untuk keluarga tercintanya.
"Ayah dan ibu sangat mencintaimu Sakura…" ujar Kizashi pada sang putri tercintanya.
"Maaf jika kami membuatmu selalu kesepian Sakura" timpal Mebuki.
"Ini adalah pengorbanan yang impas untuk membalas kesedihanmu." Ucap mereka.
'Seandainya saja aku lebih memahami mereka…'
'Mungkin mereka tak akan pergi'
"Hoi Sakura! Hoii" suara cempreng dari seorang pemuda membangunkannya dari kenangan masa lalunya. Pemuda pirang yang membungkuk sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Sakura menatap penuh tanda tanya. Dan berucap "Kau kenapa melamun?"
"Sakura memikirkan bagaimana caranya memberi pelajaran pada kalian berdua!" Sentak Ino pada dua pemuda dihadapan mereka ini. Sementara Sakura, hanya diam melihat pertengkaran Ino dan Naruto. Sementara Sasuke masih menatap Sakura lekat seolah meminta kejelasan.
"Aku hanya rindu mereka saja hehehe" jawab Sakura sambil cengengesan.
"Hn" jawab Sasuke sambil duduk di samping Sakura "Maaf soal kemarin"
"Hn. Daijobu" ucap Sakura sambil tersenyum pada Sasuke.
Inilah hidupnya sekarang. Dia memiliki banyak teman dan sahabat yang selalu ada untuknya. Walau dia hidup sendiri sekarang tapi rasanya masih terasa hidup bersama keluarga.
'Neil, aku merindukanmu… Sahabatku….'
-SELESAI-
