Disclaimer: Harvest Moon dan segala karakternya, lagu Rain or Shine juga bukan milik saya, saya cuma punya plot ceritanya :3

.

.

.

~3~

"Rain or Shine"

.

.

.

Hujan membasahi Mineral Town sejak semalam dan tak ada tanda-tanda berhenti hingga pagi. Suara rintik hujan terus berderu di atap Doug's Inn. Udara lembab, lantai yang dingin, dan dinding yang basah karena rembesan air hujan, membuat Gray malas bangkit dari dalam selimut hangatnya. Cliff, teman sekamarnya juga masih tertidur nyenyak. Ah, tak masalah baginya. Ia tak punya pekerjaan tetap dan tak perlu bangun pagi seperti Gray. Sedangkan Gray harus berangkat pagi atau pukulan sang kakek bisa mendarat di kepalanya.

Gray meringkuk lagi, sebentar lagi saja.

Ia benci hujan.

Saat hujan, rambutnya terasa lepek.

Saat hujan, jalanan yang basah membuat sepatu boots cokelat kesukaannya kotor.

Saat hujan, ia tak bisa ke perpustakaan.

"Gray! Kau tidak kesiangan nanti?" seru Ann, anak pemilik penginapan itu dengan suara cemprengnya.

"Uhn..."

Ckrek!

Gray mengedipkan matanya saat cahaya singkat berkilat di depan wajahnya. Rupanya cahaya itu berasal dari kamera film di tangan Ann. Sadar apa yang telah dilakukan Ann, ia segera berusaha meraih kamera itu, namun Ann dengan cepat menyembunyikannya di belakang punggungnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Gray kesal.

"Ehehe! Claire memintaku mengambil fotomu. Sebagai gantinya dia akan memberiku cheese fondue!" seru Ann tanpa merasa bersalah.

"Ha? Kemarikan!" Gray yang geram lalu mengejar Ann tanpa ampun. Keributan itu membuat Cliff terbangun. Begitu bangun, ia dikagetkan oleh guncangan di bahunya. Ann bersembunyi di belakang punggungnya! Gadis itu jelas tak menyadari betapa dirinya telah membuat tubuh pria pemalu itu jadi kaku seperti kanebo kering sekaligus semerah udang rebus.

"A-a-a-a-ada apa?" tanya Cliff gelagapan.

Ann menatap tajam pada Gray dan menuding, "Gray pervert!"

"Eeh?" kali ini Cliff yang naik pitam. "Apa yang kau lakukan pada Ann, Gray?!"

Ohmaigad, pikir Gray. Ia tak percaya teman sekamarnya itu percaya begitu saja pada Ann. Oh ya, Ann itu pacar Cliff. Dan Ann memanfaatkan kelengahan Gray untuk kabur ke luar. Ketiga Gray berusaha menyusulnya, Cliff malah menahannya di pintu.

"Untuk apa kau mengejarnya?" tanya Cliff geram. Geram bercampur gugup bercampur malu. Ekpresi yang aneh, mirip dengan Claire. Heh, kenapa dia memikirkan Claire?

"Pacarmu akan menukarku dengan cheese fondue," kata Gray datar. Kali ini Cliff yang dibuat tak percaya sekaligus tak mengerti. "Minggir, aku mau mandi lalu kerja," keluh Gray sambil berjalan lemah melewati Cliff. Ia terlalu lemas untuk mengejar Ann lebih jauh, apalagi berargumen dengan teman baiknya.

Saatnya bekerja... di hari hujan.

~000~

Siluet seseorang terlihat sedang bermain dengan kucing liar di tengah hujan, di depan Saibara Blacksmith. Gray memicingkan matanya berusaha menangkap bayangan itu lebih jelas. Seorang gadis dengan overall biru dan rambut pirang panjang. Segeralah ia tahu siapa dia. Claire.

Dan dari arah Poultry Farm Gray bisa melihat Rick yang sedang membuat makanan ayam di foodmill. Namun wajahnya tak melihat foodmill tempatnya memasukkan jagung-jagung. Wajahnya tersenyum hangat mengawasi Claire.

Oh, baiklah. Satu lagi orang yang tertipu pada penampilan Claire.

Bukan urusanku.

Gray tak ingin menyapa Claire, meski Claire menyapanya. Ia hanya berjalan melewatinya dan memasuki Blacksmith. Tentu saja Claire mengikutinya.

"Pagi, kek!" sapa Claire pada Saibara. Ia meletakkan payungnya di samping payung Gray di dekat pintu masuk.

"Oh, kau sudah sehat, Claire?" tanya Saibara yang tahu dari Gray bahwa Claire sakit selama beberapa hari lalu.

"Yep! Berkat Gray!" serunya.

Saibara tersenyum mendengarnya. Claire lalu mengeluarkan sebungkus pickled turnip dari ranselnya dan memberikannya pada Saibara. Senyum Saibara semakin lebar melihat makanan kesukaannya itu.

"Ohoho! Terimakasih, Claire! Kau baik sekali!"

Claire tersenyum sambil melirik Gray. Yang dilirik tahu jelas apa yang dipikirkan gadis itu: untuk mendekati Gray, ia mulai dari mendekati kakeknya.

"Hmmh... pickled turnip palin enak dimakan saat cuaca cerah bersama sake. Sayang hari ini hujan..." keluh Saibara.

Claire melihat keluar jendela, lalu tersenyum. "Aku suka hujan!" serunya, membuat mata Gray tanpa sadar tertuju padanya.

Lihat? Kita memang tak cocok. Aku benci hujan, kau suka hujan.

"Kalau hujan, aku tak perlu menyirami tanamanku."

Oh ya, tentu.

"Lalu, jika kau menutup matamu dan mendengarkan suaranya... rasanya hati jadi tenang kan?"

Eh...

"Dan setelah hujan, jika aku melihat pelangi, rasanya keberanianku meningkat sepuluh kali lipat!"

Tawa Saibara menyusul kemudian. Setelah tawanya reda, ia mengangkat pickled turnipnya dan berkata, "kurasa aku akan mencoba memakannya sambil menutup mata di hari hujan."

~000~

Selesai Gray bekerja, awan masih belum berhenti memeras airnya. Gray melihat sepatunya yang basah. Ia benci rasa lembab di kakinya. Dilihatnya langit dari balik payung. Lalu ia coba menutup mata, mendengarkan suara hujan. Awalnya biasa saja. Tapi lama kelamaan rasanya menyegarkan. Seperti saat telinganya menangkap deburan ombak dan hembusan angin di pantai. Irama yang sebenarnya tak konstan, yang tercipta dari jutaan tetesan air yang berdebam di tanah. Tak buruk. Justru menenangkan.

Gray lalu mulai berjalan kembali ke Inn. Biasanya karena mood nya buruk saat hujan, ia memilih langsung tidur dari pada ke perpustakaan. Ketika ia sampai di depan Aja's Winery, suara hujan semakin menipis dan tiba-tiba menghilang. Hanya tinggal gerimis kecil tanpa suara.

Disingkirkannya payungnya. Dilihatnya langit di ufuk timur yang ternyata lebih terang. Dan di sana ia bisa melihat lengkung warna-warni yang bermula di sekitar pantai dan berakhir di atas gereja.

"Dan setelah hujan, jika aku melihat pelangi, rasanya keberanianku meningkat sepuluh kali lipat!"

Wajah Gray memerah. Ia tak tahu ada apa dengan hatinya. Tiba-tiba ia merasa sangat ingin melangkah ke perpustakaan dan melihat wajah Mary.

Gray membelokkan langkahnya ke perpustakaan. Begitu ia membuka pintu perpustakaan, ia menemukan Mary yang sedang membereskan rak buku.

"Oh, Gray! Halo!" sapa Mary.

Gray meletakkan payungnya di dekat pintu, lalu masuk dengan sepatu basahnya. Ia tak merasakan lembab di kakinya lagi. Jantungnya berdebar kencang yang membuat seluruh tubuhnya menghangat. Ia berjalan pelan mendekati gadis berkaca mata kesukaanya itu. Matanya menatap Mary dengan tatapan yang tak biasa. Dan wajahnya memerah, namun ia tak menutupinya dengan topi seperti yang biasa ia lakukan. Dengan tenggorokannya yang terasa tersekat, ia berusaha mengeluarkan suaranya. Mengatakan kata-kata yang telah lama dipendamnya.

"Mary... aku suka padamu. Jadilah pacarku."

~000~

Seberapapun lambatnya waktu terasa berjalan di Mineral Town bagi Claire, malam hari selalu tiba. Hujan telah berhenti sejak siang tadi namun tanah pertaniannya masih becek. Bukan berarti ia membencinya. Hari ini ia melihat pelangi dan wajah Gray, itu sudah membuat harinya menjadi sangat sempurna.

Ketika hendak memasuki rumahnya, Claire baru sadar ada surat di dalam kotak suratnya. Ia mengambil surat itu dan melihat nama pengirimnya. Wajahnya yang sejak tadi tersenyum langsung berubah kesal. Ia memandang ke kejauhan, berusaha menahan emosinya, baru setelah itu membuka surat itu.

"Claire, apa kabar? Kudengar dari Ibu kau pindah ke Mineral Town untuk mengejar mimpi? Yang benar saja. Kenapa? Apa karena aku dan keluargaku akan kembali ke rumah? Kalau kau tidak suka, aku akan membatalkan kepindahan kami. Tapi kenapa kau harus pindah sendirian ke kota yang begitu jauh, Claire? Kau membuatku khawatir. Ibumu dan kakakmu ini…"

Srak! Srak!

Claire merobek-robek surat itu tanpa melanjutkan membacanya lebih jauh. Ia menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali. Rasanya seperti dunianya yang baru saja sangat terang tiba-tiba disingkap kegelapan luar biasa. Sekali lagi ia menghirup napas dalam, kali ini sambil menutup matanya. Dan senyuman Gray terlukis di pikirannya. Gray dengan rambut orange terangnya. Gray yang seperti matahari di dunianya yang mendung. Ia memang tak melakukan apapun. Tapi keberadaannya selalu, selalu membuatnya mampu tersenyum kembali.

.

Rain or Shine by Ritsuko Okazaki

Tak semua orang yang kita temui adalah orang yang kita suka

Kadang yang lain menyusahkan kita

sampai membuat kita kesal

.

Tapi seringkali setelah masalah

Kebahagiaan dan keberuntungan akan datang

Dengan keteguhan hati dan penderitaan kita mengarungi hidup yang hectic ini

.

Apa ada yang kurang?

Kadang kita hanya perlu meneriakkannya

Terus sendirian di bawah langit biru

Seberapa jauh aku bisa berjalan?

.

Hubungan kami masih belum dimulai

Meski aku terus disisinya seperti ini

Hari ini pun dia keren seperti biasanya

Tak apa kan kalau aku menikmatinya?

.

Tak ada yang bisa menangkapku

Aku suka bebas

Tak ada orang yang hatinya selalu puas

Ini malam yang panjang dan kesepian

.

Aku membutuhkan seseorang

Jadi aku mengatakannya keras-keras

Jika kau bilang kau butuh aku

Aku pun akan segera terbang ke tempatmu

.

Saat kututup mataku di saat sulit

Senyumannya akan muncul di pikiranku

Dengan dia mengatakan padaku:

.

Tak masalah hidup seperti orang bodoh

Toh itu bukan kunci hidup ini

Mari bersulang untuk takdir kita yang unik ini

Keberanianmu itulah yang membuatku begitu menyukaimu

.

.

(Bersambung…)

.

.

A/N:

Yeay, hari ini author berhasil update 2 chapter sekaligus TvT

Okay, itu saja. See ya!