Disclaimer: Harvest Moon dan segala karakternya, lagu Rain or Shine juga bukan milik saya, saya cuma punya plot ceritanya :3

.

.

.

~4~

"Irony"

.

.

.

Mary melihat keluar jendela kamarnya. Ia telah duduk di meja belajarnya sejak satu jam lalu tanpa melakukan apapun. Buku dan pena di mejanya pun belum ia sentuh. Otaknya terlalu penuh untuk menuliskan kejadian hari ini ke dalam diary. Ia tak menyangka sama sekali bahwa Gray, pengunjung setia perpustakaannya, memiliki perasaan "suka" padanya. Bukan hanya itu, pria blacksmith itu bahkan memintanya menjadi pacarnya...

Wajah Mary kembali merah.

Ia tak langsung menjawab permintaan Gray tadi. Ah, sebenarnya ia bahkan tak bisa berkata apapun karena gugup. Atas inisiatif Gray lah ia memiliki waktu untuk memikirkan jawabannya. Dan ia memikirnya benar-benar saat ini. Tiba-tiba ia ingat pembicaraannya dengan Claire waktu itu. Suka, cinta, obsesi... di tingkat mana perasaannya saat ini berada?

~000~

Blug!

Gray menjatuhkan bongkahan copper yang di bawanya. Saat ia menunduk untuk mengambil copper itu, kepalanya memembentur rak pajangan yang ada diatasnya dengan cukup keras hingga sebuah piala perak terjatuh dan mendarat di punggung Gray. Kemalangan beruntun Gray itu membuat kerutan di dahi Saibara dan pengunjung rutin paginya, Claire.

"Dia kenapa?" tanya Claire bingung.

"Entahlah. Sejak datang dia terus bengong dan tak becus seperti itu," Saibara mengangkat bahu. Ia masih tampak tenang, hingga Gray kembali membuat keributan saat hendak menyalakan tungku. "Gray, kau menjauh dari tungku hari ini!" geram Saibara, sifat pemarahnya keluar.

"Maaf," ucap Gray sambil membereskan kayu bakar yang berantakan karena ulahnya. Claire menghampirinya.

"Senpai," panggil Claire.

Yang dipanggil balas melihat Claire dengan tatapan kesal dan wajah merah. Claire dan perkataan bodohnya kemarin telah mendorong Gray untuk menyatakan perasaannya pada Mary. Sekarang Gray was was menunggu jawaban Mary. Dan lihatlah diri Claire sekarang. Menatap Gray dengan mata biru lugunya, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Padahal gara-gara dialah Gray jadi frustasi begini.

Wajah Gray memerah saat mengingat kejadian kemarin. Tak ingin dipertanyakan lebih lanjut, ia segera membuang muka dari Claire, kembali menyibukkan diri dengan kayu-kayu bakar.

Tapi mustahil wajah merah Gray itu luput dari perhatian Claire. "Senpai," panggil Claire lagi. Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Gray. "Mary?" tembak Claire. Wajah Gray semakin memerah.

"Hm... jadi benar. Terjadi sesuatu di antara kalian? Kau menembaknya?" gali Claire lebih dalam.

"Ba-bagaimana kau tahu?" Gray tak bisa menahan rona erah wajahnya lagi. Dan ekspresi paniknya yang menurut Claire manis. Meski Claire tahu ekspresi itu bukan karena dirinya.

Claire tersenyum, "aku tahu," katanya sambil menyingkirkan rambut panjangnya yang jatuh di wajahnya. Ia lalu menegakkan punggungnya, menjauhkan jarak antara mereka. "Semoga kau ditolak," kata Claire dengan senyum di wajahnya. Sangat berbeda dengan wajah Gray yang gloomy.

"Haha, terserah kau ngomong apa, karena aku tak akan ditolak," Gray pura-pura pede.

Claire yang enggan mendengarkan kesombongan Gray memutuskan untuk pergi. Sebelum pergi ia memberikan salam 'lidah melet' untuk mengejek senpai nya itu.

"Ceh, anak itu benar-benar menyebalkan," keluh Gray sepeninggal Claire. Keluhan yang disertai sedikit tawa. Ia tak habis pikir setiap kali melihat kelakuan gadis itu: menembaknya, melamarnya, dan sekarang mendoakan agar ia ditolak. Entah apa yang akan dilakukannya 'kalau' Gray benar-benar pacaran dengan Mary.

"Ho. Aku tak tahu kau naksir anak Basil," sambar Saibara. Gray yang baru sadar bahwa sejak tadi kakeknya mendengar pembicaraannya dengan Claire, langsung berhenti tertawa. Ia tak pernah bersikap seperti itu di depan siapapun: panik, sok pede, omong besar. Sangat berbeda dengan image cool yang selama ini ia bangun.

Gray mengurut dahinya, merasakan pening kepalanya.

"Bisa kakek lupakan pembicaraanku tadi?" pintanya dengan nada sangat memohon.

"Enak saja," tolak Saibara. "Bukankah bagus jika kau lebih terbuka? Aku tak pernah tahu apapun tentangmu sampai Claire datang dan mengoceh soal masa sekolahmu," katanya.

Saibara benar. Gray memang selalu tertutup dan pribadi kakeknya yang pemarah membuat mereka jarang berkomunikasi. Hanya setelah Claire datang kakeknya mulai suka iseng meledeknya. Dan Claire yang memang suka mengoceh menceritakan tentang kota tempat Gray tinggal dulu, tentang kebiasaannya membaca di perpustakaan, tentang makanan kesukaannya, tentang apa saja.

Sampai di sini Gray baru menyadari sesuatu. Ia maupun kakeknya tak tahu apapun tentang Claire. Ya, gadis itu tak pernah menceritakan tentang dirinya.

~000~

Aroma manis musim panas mulai tercium di udara. Tunnel pink bunga sakura sepanjang jalan hutan kesukaan Claire pun sudah tak ada lagi. Namun udara masih cukup sejuk dan tanaman kentangnya masih tumbuh subur. Claire tak yakin musim semi telah berakhir, pun tak yakin musim panas telah tiba. Batas antar musim memang selalu tak jelas seperti ini. Mungkin sama tidak jelasnya dengan perasaan gadis manis berkacamata yang sedang duduk di pagar pertaniannya. Sebuah pemandangan yang sangat aneh baginya. Sang rival (yang akan menang selangkah lagi) tampak murung sambil melihat ladang Claire.

"Hey, Mary! Tumben kau kemari!" sapa Claire basa-basi.

Mary membalas sapaannya dengan senyuman tipis, "Hey, Claire. Aku mampir melihat kebunmu, boleh kan?"

"Tentu," jawab Claire. Ia lalu ikut duduk di pagar. Mereka hanya diam untuk beberapa saat. Merasa canggung, Claire menawarkan minuman pada Mary, "Ah, kemarin aku mendapat kelapa utuh dari Zack. Kau mau kubuatkan air kelapa?"

"Wah, terimakasih Claire!" seru Mary. Senyumannya tampak lebih ringan sekarang. Mungkin ia juga bingung harus ngobrol apa dengan Claire.

Mary mengikuti Claire ke depan rumahnya untuk mengambil dua buah kelapa muda. Dengan terampil Claire membuat celah di atas buah kelapa itu menggunakan golok, lalu memasukan sedotan ke dalamnya. Mary sempat memuji Claire karena aksinya. Mereka kemudian duduk di bangku panjang di depan rumah Claire, meminum air kelapa sambil melihat hamparan tanaman kentang, mentimun, dan turnip.

"Aah, Segarnya~" kata Mary setelah menyedot air kelapa itu. Ia tersenyum lebar, membuat Claire ikut tersenyum. Claire lebih senang melihat Mary tersenyum begini.

Ah, ada apa denganku? Ingat, Mary itu rivalmu, lho.

"Dulu waktu kecil aku sering bermain di sini. Ada anak laki-laki bernama Jack yang tinggal di pertanian ini bersama kakeknya," Mary membuka cerita.

"Ooh..." respon Claire pendek. Seberapapun ia merasa Mary itu gadis baik, Mary tetap rivalnya. Dan Claire tak mau terlalu ramah padanya.

"Hey, Claire. Ada seseorang... yang mungkin aku suka," lanjut Mary. Claire membatin, ini dia. Curhatan cinta terkait penembakan Gray. "Tapi aku tak yakin perasaanku ini cinta. Maksudku... kami bahkan tak banyak mengobrol. Aku merasa kami terlalu jauh dan berbeda sehingga tak mungkin perasaan ini cinta."

Claire membatin lagi.

Oh, tentu saja mereka jarang mengobrol. Gray terlalu kikuk. Meski mereka selalu dekat, Mary merasa bahwa mereka jauh. Haha!

"Mungkin itu memang bukan cinta? Biarkan saja dia bersama gadis lain yang lebih cocok untuknya?" saran Claire.

Di luar dugaan wajah Mary jadi super bete. "Tidak. Membayangkannya bersama gadis lain saja sudah membuatku sangat kesal."

Alis Claire bertaut. Kali ini Claire yang bingung. Jadi ia tak terima jika perasaannya dibilang bukan cinta. "Eh? Te-terus kenapa kau bingung?"

Wajah Mary semakin murung. Ia memegang buah kelapa di tangannya erat-erat. "Aku... takut. Apa aku cukup baik untuknya? Bagaimana kalau kami tidak cocok? Lalu, aku juga tak berpengalaman... bagaimana kalau dia jadi tidak suka padaku?"

Kegelisahan Mary terhenti saat melihat wajah orang yang diajaknya curhat penuh dengan aura hitam. Claire memicingkan matanya dan memasang seringai mengerikan.

"Jadi pada dasarnya kau cinta dia, kau hanya tidak percaya diri?" tanya Claire dengan nada mengancam.

"Eh? I-iya..."

Claire menghentakkan kaki kanannya di tanah, lalu berdiri bertolak pinggang di depan Mary.

"Dengar. Jika kau menyukai seseorang, kau harus mengejarnya! Jika ia tak suka padamu, tinggal buat dia menyukaimu! Masalah nanti ya nanti!"

Claire yang geram meletakkan kedua tangan di kepalanya, tak habis pikir. "Ya ampun, kau ini! Kau punya kuncinya. Tinggal bilang 'aku suka padamu' dan semuanya akan selesaaii! Yang benar saja! Aku bahkan pergi dari rumah, ke tempat yang sangat jauh, hanya untuk mengejar orang yang kusukai meskipun ia ternyata menolakku!" seru Claire keras, membuat mata Mary terbuka lebar.

Mary meletakkan buah kelapanya, lalu dengan mata yang berkaca-kaca mengenggam tangan Claire erat-erat. "Te-terimakasih, Claire. Kau benar. Aku harus percaya diri. A-aku pergi dulu!"

Sebelum benar-benar pergi dari area pertaniannya, Mary melambaikan tangan pada Claire, dan sekali lagi meneriakkan terimakasih. Ia tak sadar telah meninggalkan teman curhatnya dalam keadaan terpaku. Claire merasa sangat bodoh atas apa yang telah ia lakukan.

"Harvest Goddess, tolong bunuh kebodohanku ini..." isak Claire. Sekarang Mary mungkin pergi ke blacksmith untuk menjawab pernyataan cinta Gray.

Ironis memang, tapi Claire lah yang telah memberikan Gray keberanian untuk menyatakan cintanya pada Mary. Dan sepertinya ia jugalah yang akan membuat Mary yakin atas jawabannya pada Gray.

Ugh.

~000~

Pagi kembali tiba di Mineral Town seperti selalu. Namun ada hal yang tak biasa pagi ini. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, petani baru mereka masih belum juga bangun. Claire masih meringkuk di tempat tidurnya dengan berkantung. Ia baru bisa tidur pukul 3 pagi karena pikirannya tak bisa tenang.

Ketukan pintu yang diiringi suara Ann membangunkan Claire dari tidurnya. Begitu melihat wajah Claire yang kacau -kombinasi menangis dan tidak tidur, Ann hampir berteriak kaget.

"Woah, Claire! Kau kenapa?!" serunya.

Claire hanya menggeleng pelan, "Nggak papa. Ada apa kau kemari?"

Ann mengeluarkan amplop surat dari kantong overallnya dan menyerahkannya pada Claire. "Ckckck. Kau dan Gray, kenapa pagi-pagi wajah kalian horror begitu sih?"

"Hm?" Claire bingung. Mana mungkin wajah Gray horror seperti wajahnya? Harusnya sekarang Gray kan sedang berbunga-bunga karena baru jadian dengan Mary. Claire kembali melihat surat yang baru diberikan Ann padanya.

"Tadi Mary memintaku memberika ini padamu," kata Ann. Alis Claire makin berkerut saat Ann memberinya penjelasan. "Jam 9 nanti ia akan pergi ke Forget-Me-Not Valley dengan kapal. Karena kupikir ini sesuatu yang penting, langsung saja kuberikan padamu."

Alis Claire semakin berkerut. "Forget...Me... Not Valley? Kenapa?"

Ann hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu. Ia lalu memberi isyarat dengan matanya agar Claire membuka surat di tangannya.

Mulailah Claire membaca surat itu. Ekspresi bingungnya langsung berubah menjadi kaget dan panik. Ia akhirnya paham kenapa wajah Gray sama horrornya dengan wajahnya...

"Di mana Senpai?! Uhm, maksudku Gray!" tanya Claire.

"Gray? Bekerja, kurasa..."

"Terimakasih, Ann!" seru Claire seraya berlari melewati Ann. Kakinya menuruni jalan desa Mineral Town menuju Saibara's Blacksmith tempat Gray bekerja. Sambil terengah-engah dibukanya pintu tempat itu, membuat pasangan kakek-cucu yang sedang beraktivitas di dalamnya menoleh kaget.

"Senpai! Mary akan pergi dari kota ini!" teriak gadis itu.

Yang diajak bicara memberinya dua reaksi berbeda. Saibara tampak kaget, sedangkan Gray tetap tenang.

"Ya, aku tahu," katanya. Mata Gray tampak kosong saat mengatakan itu. "Kemarin dia menolakku, dan bilang ia akan pergi ke tempat cinta pertamanya, Jack," lanjut Gray dengan nada datar. Entah kenapa ini membuat Claire kesal.

"Ka-kau tak mengejarnya? Dia akan pergi jam 9!"

"Hah...," ia menghela napas pasrah. "Sudahlah. Aku sudah ditolak. Siapa sangka selama ini ia selalu berkirim surat dengan Jack. Jadi itu yang selama ini ia lakukan di perpustakaan. Haha, aku merasa seperti orang bodoh. Dia pasti mengejek pernyataan cintaku. Harusnya tak kukatakan..."

Buak!

Omongan Gray terpotong oleh pukulan chop Claire di kepalanya.

"Saakiiit! Apa yang kau lakukaan?!" Gray yang tadinya berada di mode melankolis akhirnya kembali beringas. Keberingasannya tertahan saat ia melihat air bening menetes dari sudut mata Claire.

"Mary menghawatirkanmu," kata Claire sambil memberikan surat Mary padanya.

Claire, terimakasih... setelah bicara denganmu, keberanianku muncul. Sebenarnya Jack, teman kecilku, mengajakku ke Forget-me-not valley tempatnya mengelola pertanian. Tapi aku terlalu takut meninggalkan kota ini dan tempatku yang nyaman. Namun seperti yang kau bilang... aku ingin bersamanya. Aku mencintainya. Jadi aku akan ke sisinya, meskipun mungkin semua tak akan berjalan mulus... aku akan berusaha.

Beberapa hari lalu Gray menembakku, kurasa itu salah satu sebabnya aku merasa harus maju. Karena ternyata mengetahui ada seseorang yang selalu memperhatikanku membuatku sangat senang, aku ingin Jack tahu perasaanku padanya. Claire, bisa kau mengawasi Gray untukku? Aku khawatir karena ia terlihat sangat terpukul ketika aku menolaknya... mungkin aku egois, pergi demi kebahagiaanku sendiri. Gray pasti membenciku sekarang... hehe. Terimakasih, Claire. Aku pergi.

"Apa kau pernah, sekalipun, dari hatimu yang terdalam, mengejek pernyataan cintaku padamu?" tanya Claire dengan wajah kesal.

Ekspresi dan mata Claire membuat Gray sedikit terpaku, "ti-tidak..."

Claire tersenyum lebar. "Ne? Seperti itulah senpai yang kusukai. Dan jika kau akan pergi jauh dariku, setidaknya... aku ingin mengantarmu pergi dengan senyuman. Tidakkah kau merasa begitu pada Mary?"

Entah untuk keberapa kalinya kata-kata Claire membuat wajah Gray memerah.

"Ehem!" dehaman Saibara memecah keheningan di antara mereka. "Kau bilang Mary akan pergi jam 9? Itu 5 menit lagi kan?"

Claire dan Gray saling berpandangan, tapi tak lama. Claire segera menarik tangan Gray, menyeretnya berlari ke pelabuhan. Mereka melihat Mary yang sedang berjalan naik ke kapal motor.

"Mary! Tunggu!" seru Claire menghentikan langkah Mary. Mata gadis berkacamata itu melebar dan pipinya memerah saat melihat Gray yang berlari di belakang Claire. Hening menyergap beberapa saat setelah Gray dan Mary saling berhadapan. Hanya angin, suara ombak dan burung camar yang terdengar, hingga suara mengaduh Gray terdengar karena Claire menendang kakinya. Gray tahu maksud Claire: cepat katakan yang ingin kau katakan!

"Ha... Hati-hati... di jalan," ucap Gray pelan.

Mary masih tak bereaksi, hanya memandangnya dengan rasa bersalah di hatinya. Gray menyadari itu. Dan ia tahu kenapa. Mary merasa bersalah karena meninggalkan kota untuk menjemput cintanya, tepat setelah Gray menolaknya. Jika Gray tak mengatakan bahwa ia baik-baik saja, Mary mungkin akan kepikiran soal Gray seumur hidupnya. Ya, seperti itulah Mary, gadis yang selama ini ia sukai: baik, ramah, pemalu, penakut, hangat, tapi ceroboh... dan kurang peka. Sangat tak peka.

"Haha!" sepotong tawa lolos dari mulut Gray, membuat Mary kebingungan. "Kenapa wajahmu begitu? Bukankah kau akan pergi ke tempatnya?"

Mary makin bingung, "ta-tapi... Gray... aku... ma-maaf... aku sudah..."

Tak! Gray memberi sentilan kecil di dahi Mary.

"Aku tak apa," kata Gray sambil tersenyum lebar. "Memang menyakitkan, tapi mau bagaimana lagi. Dan aku tak mungkin membencimu hanya karena menolakku. Berbahagialah, Mary."

Senyuman Gray membuat Mary menangis dan tersenyum di saat yang bersamaan. "Terimakasih, Gray..."

Kapten kapal membunyikan tanda keberangkatan, lalu membawa kapalnya jauh ke kota lain bersama dengan Mary. Meninggalkan Gray dan Claire yang masih berdiri di dermaga.

"Lihat apa hah?" Gray kesal karena sejak tadi Claire memandanginya dengan ekspresi berseri-seri.

"Senpai... barusan kau keren sekali!" puji Claire yang lupa diri setelah terkena sihir 'senyum satu juta joule' Gray (yang sebenarnya biasa saja).

Gray berdecak. Ia sedang sangat patah hati sekarang, dan dengan gadis aneh itu di dekatnya, ia sama sekali tak bisa menenangkan diri. Yang paling membuat Gray kesal adalah gadis itu jelas-jelas terlihat senang karena Gray ditolak.

"Hey... jangan-jangan kau yang memprovokasi Mary agar ia pergi mengejar Jack?" tuduh Gray.

Kecurigaan Gray membuat pipi Claire menggembung karena cemberut, "Hmf! Yang benar saja! Aku mendukungnya karena kesal melihatnya plinplan terus! Malah tadinya kupikir yang dia suka itu kau..." ia berhenti sebentar untuk berpikir, lalu tersenyum licik. "Kalau aku tahu dia suka orang lain, aku pasti akan lebih memanas-manasi dia! Ahahaa... ah!"

Claire tiba-tiba teringat kalau ia belum menyirami tanaman-tamannya. "Aku pergi dulu, Senpai! Nanti malam akan kubuatkan jagung bakar untukmu yang patah hati, tee-hee! I love youu!" seru Claire sambil berlari dengan agak melompat.

Seperti tornado. Begitulah Claire selalu terlihat di mata Gray. Kuat, tak bisa dihentikan, lincah, dan punya kekuatan dekstruktif yang tak terbayangkan.

Jadi awalnya dia pikir Mary suka padaku? Tapi tetap mendukungnya? Haha...

"Bodoh..." gumam Gray dengan senyum di bibirnya. Ia merasakan angin memainkan rambutnya, memulas kulitnya, membawa aroma laut ke dalam hidungnya. Tak seperti sebelumnya, langkah Gray terasa lebih ringan. Mungkin karena ia telah melepas Mary?

Ah... tepat yang seperti dikatakan Claire... ia tak bisa se-persisten gadis itu.

Hm? Tidak, tidak. Bukan karena cintanya pada Mary tak sebegitu besar.

Karena aku burang orang bodoh.

Yeah.

.

.

(Bersambung…)

.

.

A/N:

Terimakasih sudah membaca fanfic ini xD

Makasih juga atas review nya, Ainagihara dan Sierra vuc *bow*

Pasti dilanjut, cuma lamanya yang beda-beda hohoho /geplak author.

See you!