Disclaimer: Harvest Moon dan segala karakternya, lagu Rain or Shine juga bukan milik saya, saya cuma punya plot ceritanya :3

.

.

.

~5~

"Summer Storm"

.

.

.

Jika restoran kecil di pantai Mineral Town telah buka kembali, saat itulah warga tahu bahwa musim panas telah datang sepenuhnya. Entah sudah berapa kali Claire mendengar tentang pria pemilik restoran bercat putih itu dari Popuri. Tanpa diberitahu pun Claire yakin Popuri jatuh cinta setengah mati pada pria itu: Kai. Tapi opini yang sangat berbeda tentang Kai akan keluar dari mulut Rick, kakak Popuri. Ia menganggap Kai sebagai playboy super berbahaya yang selalu berusaha mendekati adiknya. Sepertinya Rick punya semacam sister complex.

"Hati-hati jika kau bertemu dengannya, Claire! Pastikan kau menghindari kontak mata!" Rick memberinya peringatan keras.

"O... oke?" respon Claire tak yakin. Jelas Rick sangat berlebihan soal ini. "Uhm... aku pergi dulu, Rick," pamit Claire.

"Ke perpustakaan?" tanya Rick dengan dahi berkerut.

"Yep!" Claire menjawab dengan senyum lebarnya. Senyum yang membuat kerutan di dahi Rick semakin dalam.

"Claire! Sebentar!" panggil Rick saat Claire mengambil langkah meninggalkan Poultry Farm. Rick kemudian berlari ke dalam rumahnya, dan kembali ke tempat Claire dengan sangat cepat. Ia menyerahkan dua butir telur spa rebus yang dalam kantong kertas kecil. "Untukmu. Matahari semakin terik, kau harus banyak makan dan minum. Jangan sampai pingsan," pesan Rick dengan wajah yang memerah.

"Oke!"

"Pacarmu, Rick?" suara seorang pria tiba-tiba mencampuri percakapan mereka. Rick langsung mengenali pemilik suara itu, pria berkulit gelap dan berbandana ungu.

Speak of the devil...

"Kai!" seru Rick benci. Ekspresinya langsung berubah jadi shock saat melihat adiknya bergandengan tangan dengan Kai. Tanpa ragu ia memisahkan tangan mereka dengan pukulan chop andalannya, lalu menarik Popuri ke dekatnya. "Jangan sentuh adikku!"

"Owke, oke!" Kai mengangkat tangannya tanda menyerah. Ia lalu menyeringai ke arah Claire, membuat bulu kuduk Claire berdiri.

"Kai, ini Claire! Dia petani baru yang tinggal di Farm. Dan dia bukan pacar Rick!" jelas Popuri. Kalimat terakhir ia katakan sejutek mungkin karena masih kesal pada perlakuan kakaknya barusan.

"Oh, Claire! Aku Kai, salam kenal!" sapa Kai sambil mengulurkan tangannya.

Di luar dugaan, Claire tak menyambut uluran tangan itu. Ia hanya melambaikan tangannya beberapa kali dengan senyum lebar innocent di wajahnya. "Hallo! Aku Claire~ senang bertemu denganmu!"

Merasa tak disambut, Kai hanya tersenyum. Nalurinya mengatakan bahwa gadis ini berusaha menghindarinya.

"Hey, sepertinya aku pernah melihatmu...?"

Rupanya ia tak habis akal. Ia malah mendekati Claire dan hendak menyentuh rambut Claire. Namun seperti otomatis, Claire langsung menghindar mundur.

"Kurasa tidak," jawab Claire masih dengan nada ceria. "Oh, aku harus pergi. Sampai jumpa lagi Kai, Popuri, Rick!"

Claire melangkah pergi dengan langkah cepat, menyisakan ekspresi bingung di wajah Kai. Tawa Rick pun meledak. "Hahaha! Sepertinya kau dibenci, Kai! Baru mendengar suaramu saja wajahnya langsung pucat!"

Alis Kai berkerut. Ia melihat ke arah Claire pergi. Mereka memang tak pernah sekalipun bertemu sebelumnya, ia hanya bercanda. Tapi ekspresi Claire saat melihatnya tadi seperti... sangat ketakutan.

~000~

Pintu perpustakaan dibuka dari luar. Dan Gray tahu persis siapa yang selalu datang ke perpustakaan di siang hari untuk menemuinya. Si rambut pirang panjang itu tampak di depan pintu. Tapi wajahnya tak seperti biasa, ia tampak pucat. Baru beberapa detik setelah mereka bertukar pandang, warna wajahnya berubah jadi lebih cerah.

"Senpai!" serunya ceria.

Gray memicingkan matanya, "bisa kau tenang sedikit? Ini perpustakaan."

"Hehe! Tak apa kan? Kita hanya berdua," Claire tak menghiraukan isyarat marah di mata Gray. Ia lalu berdiri di depan Gray yang sekarang menjaga counter perpustakaan menggantikan Mary. Gray akan kemari setiap siang, setelah ia menyelesaikan pekerjaan blacksmithnya. Setidaknya sampai penjaga perpustakaan yang baru datang.

Claire menekuk lututnya, meletakkan dagunya di atas meja counter, dan tersenyum sambil memandang wajah Gray. Sifat pemalu Gray membuat pria itu memerah.

"Bisa kau tak memandangiku seperti itu?" tolak Gray keberatan. Karena Claire tetap tak bergeming, ia meletakkan kedua tangannya di kanan-kiri kepala Claire dan menolehkannya Claire dengan paksa. "Kubilang hentikan!" seru Gray.

Si korban ternyata malah diam dengan wajah semerah udang rebus. Barulah Gray sadar bahwa apa yang dilakukannya hanya membuat gadis itu merasa diberi fan service.

"Kau menyentuhku..." kata Claire.

Wajah Gray memerah karena cara Claire mengatakannya membuat Gray tampak seperti orang mesum. "I-itu..."

"Hehe!" Claire tertawa. Ia selalu senang setiap melihat wajah Gray memerah, melihat Gray gugup, atau salah tingkah. Tapi tawa Claire saat ini terlihat sedikit berbeda di mata Gray. Seolah beban besar baru saja diangkat dari hati gadis itu.

"Dekat seperti biasa, hm?" Dokter Trent yang sedang menuruni tangga mengomentari Claire dan Gray. Ia meletakkan dua buah buku bersampul gelap di meja counter, hendak meminjamnya. Claire menyingkir dari meja counter dan memberinya salam ceria.

"Kami sama sekali tidak dekat," tampik Gray. Tangannya menulis judul buku pinjaman dokter muda itu di daftar pinjam.

"Ah, kudengar Kai kembali hari ini?" Dokter Trent membuka pembicaraan.

"Yeah, si bodoh itu akan kembali," jawab Gray dengan senyum bahagia. Senyum yang membuat dahi Claire berkerut.

"Senpai berteman dengannya?" tanya Claire ragu.

Gray tampak memikirkan jawabannya, "... aku tak tahu apa kita bisa disebut teman..."

"Mereka berteman, Claire. Teman yang sangat dekat," potong Trent sambil berlalu ke luar perpustakaan. Gray keberatan disebut berteman dengan Kai, dan ia hendak protes. Tapi ekspresi Claire yang resah membuat Gray mengurungkan niatnya.

"Kenapa? Kau sudah bertemu dia?" Gray heran.

Claire mengangguk, lalu menggigit bibir. "Aku tak begitu suka dia," ungkap Claire.

"Hm?" Gray mengangkat satu alisnya.

Seorang Claire yang selalu akrab dengan siapa saja (bahkan rival cintanya) ternyata bisa juga merasa tak suka pada orang lain. Yah, tapi kalau Kai mungkin saja. Anak itu playboy yang suka merayu siapapun. Serius, siapapun. Bahkan nenek-nenek tak luput dari mulut manisnya. Dan gara-gara itu ia jadi populer di kalangan wanita. Gray sebenarnya tak begitu mengerti kenapa wanita menyukai pria seperti itu. Tapi ada satu hal yang bagus dari Kai: ia pintar memasak, terutama jagung bakar -makanan kesukaan Gray. Dan satu lagi. Ia memang playboy, tapi ia bukan orang yang jahat.

"Ah, senpai. Ini untukmu," Claire mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya. Sebuah batu sapphire berukuran satu ruas jari yang berbentuk seperti kepala beruang. "Aku menemukannya di mine kemarin. Lucu kan?"

Gray melihat batu itu dengan mata bersinar. Harus ia akui, batu itu tampak bagus dan unik. Dan ia memang sangat menyukai batu hias seperti ini...

Hm? Tapi apakah normal jika seorang gadis memberikan batu sapphire pada seorang pria?

"Warnanya biru, seperti mata senpai," kata Claire dengan matanya memandang mata Gray sambil tersenyum.

Gray begidik. Bukankah posisi mereka terbalik? Di matanya sekarang Claire terlihat seperti pria flamboyan yang sedang merayu gadis. (Yep, dan gadisnya adalah kau, Gray xp)

"Claire, bisakah kau bersikap sedikit lebih normal?" tanya Gray.

"Maksudmu?"

"... ck." Gray hanya berdecak dan memutuskan untuk tak melanjutkan lebih jauh.

Setelah kepergian Mary, ia kira ia akan bersedih sejadinya. Tapi gadis itu membuatnya tak punya waktu untuk bersedih sendirian. Ia selalu muncul dan mengikutinya. Setiap hari, tanpa absen, selalu dengan senyum lebarnya itu.

~000~

Gray tiba di Inn pukul 6 sore setelah menutup perpustakaan. Rasanya lelah sekali, mengurusi buku-buku setelah berurusan dengan dengan tungku panas. Ditambah lagi Claire yang betah berlama-lama di perpus jika ia yang menjaga. Hah... Ia harap petugas perpustakaan yang baru segera datang.

"Gray!" seru Kai saat melihat Gray memasuki kamar.

"Kau sudah selesai?" sambung Cliff kalem.

"Yo, Kai," Gray tersenyum dan memberi salam Kai dengan melakukan tos kepalan tangan seperti yang biasa mereka lakukan.

"Aku dan Cliff sedang membicarakan petani baru itu. Dia cantik, haha!" kata Kai pada Gray yang sedang melepas sepatu dan topinya. Kalimat terakhir Kai membuat Gray memasang ekspresi 'are you f***ing kidding?' yang sangat jelas.

"Tapi kubilang percuma saja," Cliff yang kalem mencoba menengahi Gray yang spechless. "Karena Claire suka padamu, Gray."

"Ha? Bagaimana kau...?"

"Ahaha, semua orang sudah tahu, Gray. Di mana ada kau, di situ ada Claire. Bahkan dia sering datang kemari mengirimkanmu makan malam, kan," jelas Cliff. Gray menelan ludah. Kepalanya terasa pusing. Jadi semua orang di desa ini tahu soal dia dan Claire? Yang benar saja!

"Heeh... sulit dipercaya ada cewek yang mau sama lu. Gantengan juga gue," ejek Kai. Gray cuma bisa pasang muka bete. Tapi dalam hati kepikiran juga... apa yang bagus darinya? Kenapa Claire bisa sebegitunya sampai mengejarnya kesini?

Mungkin lain kali akan kutanyakan. Atau tidak. Sepertinya lebih baik jika aku tidak tahu, haha.

"Lalu? Kalian udah ngapain aja?" tanya Kai penasaran setelah mendengar cerita sepak terjang Claire.

"Eh?" Si lugu Cliff tidak paham maksud pertanyaan Kai.

Kai mendengus, "Ayolah. Kalau aku jadi kau, dan ada cewek secantik Claire mengejarku, meskipun aku tak menyukainya, aku pasti sudah 'memakan'nya!"

Muka Gray memerah. Kata-kata Kai terlalu vulgar bagi telinganya. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah, dan ia bahkan belum pernah ciuman seumur hidupnya -ya, selugu itulah dia. Bukan berarti ia tak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Ia juga cowok normal dan sehat yang punya fantasi erotis. Tapi...

"Woah, yang benar saja, Kai! Hanya karena ada gadis yang mengejarmu, bukan berarti kau boleh melakukan itu!" Cliff menolak mentah-mentah ide Kai. Wajahnya sama merahnya dengan wajah Gray.

Kai tertawa melihat reaksi kedua temannya itu, "Hahaha, aku bercanda!" Pria berbandana itu tertawa sangat puas sampai berair mata. "Ha... tapi banyak cewek murahan seperti itu di kota. Bukannya bekerja, mereka cuma mengejar-ngejar cowok. Gray, kenapa kau tidak coba menyerangnya? Dia pasti akan senang. Oh, atau bagaimana kalau aku saja..."

Kata-kata Kai terhenti begitu Gray menatapnya tajam. "Hentikan," perintah Gray tegas. Ia lalu berjalan ke kamar mandi dengan membawa handuknya, meninggalkan kedua temannya itu dalam hening.

Kai tersenyum melihat reaksi Gray dan berbisik, "heeh, menarik."

~000~

Gray menyalakan shower dan membiarkan seluruh tubuhnya basah oleh air. Dipejamkannya matanya. Ia merasa perlu mendinginkan kepalanya.

Apa karena ini musim panas sehingga ia mudah tersinggung?

Ia tahu Kai memang playboy yang suka bermain-main dengan cewek. Tapi Claire bukan cewek serendah itu. Gadis itu bekerja keras di pertaniannya sampai pernah pingsan dan sakit. Memang benar dia mengejarnya ke sini. Tapi itu karena dia desperate pada cinta bertepuk sebelah tangannya selama 9 tahun. Bahkan Mary berani ke tempat Jack karena motivasi dari Claire. Dan jika bukan karena Claire, ia mungkin tak akan berani menyatakan perasaannya pada Mary sampai sekarang. Dia bukan gadis murahan seperti yang dikatakan Kai.

~000~

Kamar pria di lantai dua Doug's Inn malam itu sunyi karena satu penghuninya mandi, dan satunya lagi sedang makan di bawah. Hanya Kai sendiri yang sedang berbaring santai di tempat tidur dan memandangi langit-langit. Ia masih memikirkan kejadian dengan Gray barusan. Temannya itu memang pemarah, namun marahnya barusan tak biasa. Kai bukannya tidak pernah bergurau seperti itu, dan Gray biasanya tak begitu menghiraukannya. Lalu kenapa Gray begitu marah saat ia menyinggung Claire?

Tok tok tok.

Ketukan di pintu membuat Kai bangkit dan membukanya. Di sana ia melihat gadis pirang yang sedang dipikirkannya, membawa sepiring jagung bakar. Gadis itu tampak kaget begitu melihat wajahnya.

"Ka-kai, dimana Gray?" tanya Claire. Kai si playboy melihat gadis pirang yang tampak gugup di depannya seperti serigala melihat kelinci kecil. Di condongkannya tubuhnya ke arah Claire dan hanya menyisakan jarak kecil antara mereka.

"Hm? Gray?" goda Kai dengan nada suara lembut yang membuat Claire merinding.

"Ka-kalau tidak ada..."

Klek!

Dengan gerakan yang sangat cepat Kai menarik Claire masuk ke kamar, lalu menutup kamar itu. Ia mengurung Claire di antara kedua lengannya yang kecoklatan karena terbakar matahari. Claire kaget dan pegangannya pada piring plastik berisi jagung bakar terlepas.

"Hee... berani sekali kau Claire, datang ke kamar pria malam-malam begini," kata Kai. Ia mendekatkan wajahnya pada Claire, sementara yang Claire terdesak pintu dan tak bisa bergerak hanya melihat lantai. "Lupakan saja maniak batu itu. Mau main denganku?"

~000~

Dukk!

Gray mendengar suara benda jatuh di kamarnya. Gray yang baru selesai berpakaian segera keluar dari kamar mandi. Dia melihat Claire yang terperangkap dalam lengan Kai. Gadis itu pucat pasi seperti melihat hantu. Refleks Gray segera menendang Kai dan membebaskan Claire. Ia menarik Claire ke sisinya.

"Aduh, Gray! Apa yang kau lakukan?!" protes Kai.

Kali ini Gray naik pitam. "Harusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan?!"

Melihat temannya marah besar, Kai menciut. Ia menggaruk leher, tertawa canggung, berusaha mencairkan suasanya, "Aku cuma bercanda oke? Aku tak bermaksud melakukan apapun, hanya..."

Lagi-lagi tatapan tajam Gray membuat Kai terdiam. "Maaf..." ucapnya menyesal.

Gray mendengus, lalu menghampiri Claire yang terduduk di dekatnya. "Claire, kau tak apa? Jangan dipikirkan, dia..."

Ekspresi Claire kali ini lebih dari pucat pasi. Ia terengah. Ia seperti sedang berusaha untuk tetap bernapas. Tubuhnya gemetar. Dan beberapa detik kemudian, butiran air matanya mulai jatuh. Seperti otomatis, tangan Gray bergerak untuk mengusap kepalanya.

"Claire, tenanglah. Aku disin..."

Gray kaget ketika Claire menampik tangannya dengan sekuat tenaga.

"Jangan sentuh aku," pinta Claire dengan suara berbisik di tengah isakannya.

Claire lalu berlari meninggalkan kamar pria itu. Gray tidak tahu apa yang merasukinya, tapi ia tak bisa meninggalkan Claire sendiri. Tanpa sepatu, hanya menggunakan kaos oblong, dan tanpa topi yang biasa ia kenakan, ia meninggalkan kamar, menuruni tangga, bahkan berlari di atas batako jalan desa Mineral Town, mengejar Claire.

Claire berhenti di depan rumahnya dan langsung terduduk, membenamkan wajah di atas lututnya. Sementara Gray mengikuti dan berjongkok di hadapannya. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang besar yang terjadi. Claire yang tertawa dan tersipu ketika ia tak sengaja menyentuhnya... dan Claire yang ketakutan ketika ia berusaha menyentuhnya... kenapa?

"Claire?" panggil Gray.

Hening. Hanya isakan Claire yang menjawab panggilan itu. Gray menghela napas. Ia pasti sudah gila. Karena tangannya merengkuh kepala Claire dan membuatnya bersandar di dadanya. Ia letakkan dagunya di atas kepala Claire agar ia tak perlu melihat tangisan gadis itu. Agar gadis itu bisa leluasa menangis.

"It's ok, Claire. It's ok... Aku di sini," kata Gray. Aroma fresh kaos oblong Gray membuat Claire lebih tenang. Tangan Claire mengenggam kaos Gray di bagian pinggang. Cukup lama mereka berada dalam posisi itu. Hingga Claire melepaskan dirinya perlahan saat tangisnya sudah lebih terkontrol.

"Maaf, senpai," ucap Claire lemah.

Gray tak merespon. Hanya memandangi gadis yang sedang menghapus air mata itu. Ekspresi ketakutan dan penolakan Claire masih terbayang jelas di pikirannya. Bukan ekspresi yang ingin ia lihat. Juga bukan ekspresi yang ia kenali.

"Akan kuhajar anak itu nanti," geram Gray.

Di luar dugaan, Claire malah menggeleng, "Aku yang salah. Aku tak akan ke kamar cowok lagi," katanya.

Memicinglah mata Gray. Ia tak habis pikir kenapa jadi Claire yang menyalahkan diri sendiri, padahal jelas-jelas ini salah si playboy brengsek itu. Tapi kalau Claire tidak ke kamarnya lagi... artinya frekuensi gangguannya akan berkurang. Bukankah itu bagus?

Gray menghela napas. Apa yang ia pikirkan di saat seperti ini? Payah.

"Beristirahatlah," saran Gray. Claire mengangguk. Sebelum masuk ke rumahnya Claire berbalik dan tersenyum tipis pada Gray, berucap lemah, "Terimakasih, Senpai."

Perasaan gatal menggerogoti hati Gray saat melihat senyum itu. Dengan telanjang kaki, ia berjalan cepat ke Inn.

~000~

Bamm!

Kai menciut. Ia yang tadi memerangkap gadis dalam lengannya, sekarang terperangkap oleh kaki Gray yang menendang tembok tepat di sisi kiri Kai. Tangan Gray terlipat di dadanya. Matanya tajam menatap Kai.

"Oh, ayolah! Sudah kubilang aku hanya main-main!"

Bamm!

Gray meninju tembok di dekat telinga kanan Kai, membuat Kai benar-benar terperangkap sekarang.

"Main-main? Bukankah sudah kubilang? Kelakuanmu itu suatu saat bisa menyakiti orang lain," tekan Gray. Dahi Kai berkerut saat melihat mata dingin Gray. Sohibnya itu tak pernah semarah ini padanya sebelumnya. Mungkin benar ia sudah keterlaluan, sampai gadis petani itu menangis dan pucat ketakutan.

"Maafkan aku... kau benar. Aku sudah keterlaluan," akhirnya Kai mengaku salah. Lega mendengar penyesalan temannya, Gray menurunkan tangan dan kakinya. Ia menghela napas sambil mengurut dahi.

"Besok minta maaflah padanya langsung," kata Gray seraya duduk di tempat tidurnya. Kai mengikuti duduk di tempat tidur sebelah Gray, membuat posisi mereka saling berhadapan.

"Tapi ada yang aneh, Gray," cetus Kai.

"Ha?" sahut Gray malas, masih kesal.

"Dia seperti melihat orang lain. Bukan aku. Dan dia menyebut 'nii-sama' dengan wajah sangat ketakutan," jelas Kai sambil mengingat kejadian tadi.

"Nii-sama?" ulang Gray dengan alis bertaut. Nii-sama adalah sebutan untuk kakak laki-laki yang dihormati. Perasaan Gray benar. Memang ada sesuatu yang aneh dengan reaksi Claire. Meskipun tindakan Kai itu menakutkan, tapi ketakutan Claire terlalu ekstrim. Apa terjadi sesuatu dengan kakaknya?

~000~

Pagi-pagi sekali Claire dikagetkan oleh tamu berbandana ungu. Ia membungkuk dalam-dalam, mengucapkan kata 'maaf' dengan sungguh-sungguh.

"Maafkan aku, Claire! Tapi percayalah aku tak bermaksud melakukan apapun kemarin!" Kai si bandana ungu berusaha meyakinkan Claire.

Claire menggigir bibir. Perlu jeda yang cukup panjang hingga Claire menjawab, "... oke."

Sinar di wajah Kai menghilang saat Claire melanjutkan kata-katanya, "tapi jangan mencoba menyentuhku lagi. Kau membuat androphobiaku kambuh."

Androphobia = ketakutan yang tidak normal kepada laki-laki.

Alis Kai beraut. "Andro... phobia? Tapi Gray menyentuhmu..."

"Kalau senpai aku baik-baik saja," potong Claire. Ia tersenyum lembut. "Aku juga minta maaf atas reaksiku padamu. Kau tahu, suaramu… mirip dengan orang yang kubenci."

Mata Kai melebar.

"Tapi aku tahu itu bukan kau, jadi maafkan atas sikapku yang kasar padamu," kini gantian Claire yang menunduk minta maaf.

Bingung harus bereaksi apa, Kai hanya bisa tersenyum canggung. Suara? Jadi karena itu Claire selalu memberi reaksi penolakan saat melihatnya.

"Ah, sebagai tanda pertemanan kita, akan kusisakan satu nanas jika aku panen untukmu," Claire kembali memasang senyum cerianya yang biasa.

Kai berkedip beberapa kali. Ia tidak tahu harus senang atau tidak. Yang jelas, tampaknya ia sudah mendapatkan teman baru di kota ini. Tentu saja dengan satu syarat: ia tak boleh menyentuhnya.

~000~

.

.

(Bersambung…)