Disclaimer: Harvest Moon dan segala karakternya bukan milik saya, saya cuma punya plot ceritanya :3
.
.
.
~6~
"Why me?"
.
.
.
Kau bersinar... seperti matahari di duniaku yang kelam.
Kau adalah matahariku.
.
.
.
"... ray?"
.
.
"Graay!"
.
Buakk!
Gray baru tersadar dari lamunannya saat Rick menggebrak meja counter. Saat ini ia sedang menjaga toko sementara kakeknya mengurusi sesuatu di pelabuhan. Tak ada pekerjaan yang harus dilakukan, jadi ia hanya duduk di counter. Dan entah sejak kapan pikirannya tak lagi di sana.
"Bisa kau memperbaiki mayonnaise maker kami?" tanya Rick.
Gray memegang dahi. Yang benar saja? Ia bahkan tak sadar Rick masuk ke toko.
"Oh... ya. Tentu. Biar kulihat dulu," kata Gray.
Gray lalu berjalan ke Poultry Farm mengikuti Rick dan untuk sementara ia mengunci toko.
"Sejak kemarin alat ini tak menghasilkan mayonnaise dengan benar," Rick menunjukkan hasil mayonnaisenya. Encer.
Gray lalu membuka bagian belakang mesin itu dan menyimpulkan bahwa motor penggeraknya rusak.
"Hm... butuh waktu memperbaikinya. Rick, kau bawa ini ke toko," kata Gray dengan nada memerintah.
"Hah? Aku?" keluh Rick dengan dahi berkerut. Melihat alat besar itu saja ia bisa membayangkan betapa beratnya alat itu. "Beraat, aku tak kuat. Kau saja, nanti kubayar lebih!" pinta Rick.
Gray menghela napas mendengar rengekan Rick. Biasanya Graylah mengantar alat-alat berat seperti ini sendirian. Dan ia tak mengeluh separah Rick. "Ceh, kau ini. Ya sudah, biar aku saja," Gray menyerah.
Dengan agak susah payah Gray mengangkat mayonnaise maker itu. "Ambillah besok," pesan Gray seraya berjalan kembali ke blacksmith.
"Senpai!"
Gray mengernyit. Ia kenal benar suara dan panggilan itu tanpa perlu melihat si pemanggil. Tapi sekarang tangannya penuh dan pandangannya terhalangi oleh benda besar di depannya.
"Kebetulan. Claire, bukakan pintu," kata Gray. Lagi-lagi dengan nada perintah. Tanpa protes sama sekali Claire mengikuti Gray ke depan Blacksmith. Tapi pintunya terkunci. "Ambil kuncinya di kantong celanaku," Gray melirik ke kantong celana kirinya. Ada strip gantungan kunci yang keluar dari sana.
"Eh? Aku?" tanya Claire dengan wajah merah.
"Ck! Cepaat!"
Dengan malu-malu Claire mengambil strip gantungan kunci itu. Jantungnya berdetak sangat cepat saat ia hampir menyentuh celana Gray –meski ia sama sekali tak menyentuhnya.
Mereka lalu masuk ke toko, dan Gray meletakkan mayonnaise maker di sudut toko. Alat itu memang sangat berat. Fuuh.
Mata Gray lalu melihat si pirang yang sedang memperhatikan alat pembuat mayonnaise dengan penuh rasa ingin tahu. Claire sudah tersenyum dan menyapanya seperti biasa. Bahkan hubungannya dengan Kai tampaknya sudah membaik. Seolah kejadian malam itu hanyalah mimpi. Ya, saat di mana Claire histeris dan menangis.
Keesokan paginya Kai memang langsung minta maaf pada Claire sesuai ancaman Gray. Tapi berita yang dibawanya setelah itu membuat Gray penasaran.
"Dia androphobia... sekarang sudah tidak begitu parah, hanya tidak bisa disentuh..."
"Senpai, kau datang ke Chicken Festival nanti? Ayamku Bon akan ikut bertanding!" seru Claire antusias, membuyarkan pikiran Gray.
"Tidak," tolak Gray. Tanpa membuang waktu ia mengambil peralatannya dan mulai memperbaiki mesin mayonnaise Poultry Farm.
Tapi aku menyentuhnya...
Claire merajuk, "Eeh... kenapa?"
Dan dia baik-baik saja...
"Aku tak suka keramaian."
Kenapa?
"Tapi kau harus coba datang, Senpai. Bon sudah berlatih keras, dan semakin banyak dukungan yang ia peroleh akan semakin bersemangat pula dia!" bujuk Claire.
Kenapa harus aku?
"Haah..."
Rayuan Claire masih berlanjut, "Aku dan Kai akan membagikan jagung bakar gratis di sana!"
"..." Gray terdiam. Bagian jagung bakar ini memang sangat menarik. "... baiklah," kata Gray akhirnya.
Claire melompat girang.
Eh? Tunggu dulu. Dia dan Kai?
Apa aku tak salah dengar?
"Sejak kapan kau akrab dengannya?" tanya Gray dengan dahi berkerut.
"Tidak, kami tidak akrab!" sanggah Claire sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pipinya menggembung. "Tapi karena dia teman senpai, aku harus berteman dengannya juga kan," jelas Claire.
Gray berdecak. Uratnya mencuat di dahinya, kesal. Alasan apa itu? Apa dia tak kenal kata 'curiga'?
"Dengar Claire, sekalipun dia temanku, kau tak perlu dekat-dekat dengannya! Bagaimana jika dia melakukan sesuatu padamu lagi? Aah! Aku tidak bisa tenang!" kekesalannya memuncak. Lagi-lagi ia tak sadar bahwa perbuatannya membuat Claire merasa di beri 'fan service' -dalam arti yang berbeda.
Claire mengulum senyumnya. Seolah ada bunga-bunga melayang di atas kepalanya, gadis itu meletakkan kedua tangan di pipi, "Senpai, kau cemburu?"
Memerahlah wajah Gray. Ia merasa seperti ada kelereng di tenggorokannya yang membuat kata-katanya tercekat. Tapi Claire dengan cepat memotongnya, "Jangan khawatir Senpai! Apapun yang kulakukan, dengan siapapun aku, di hatiku cuma ada senpai, hehe!"
Lagi-lagi rayuan gombal Claire membuat Gray hanya bisa diam dengan wajah merah. Matanya menyipit, tajam, mencoba menganalisa kadar rasa malu yang diberikan Harvest Goddess pada otak gadis itu.
"Hey, Claire. Bagaimana bisa kau mengatakan hal-hal seperti itu? Sebagai cewek kau tidak malu apa?" akhirnya Gray menanyakan pertanyaan yang telah lama terpendam di hatinya.
Claire tersenyum sambil menggeleng kecil, "Tidak. Katanya, aku harus mengatakan apa yang ingin kukatakan. Jika tidak orang lain tak akan mengerti. Dan suatu saat aku mungkin akan menyesal karena tidak mengatakannya."
Alis Gray bertaut, "Kata siapa?"
"Dirk Zephyr!" jawabnya mantap.
Gray kembali mengerutkan dahinya. Ia kenal nama itu. "Dirk Zephyr? Novelis... maksudmu?"
Claire mengangguk. Senyum di wajahnya kini melembut, "Dan kau yang menyarankanku membaca novelnya, Senpai!"
"Eh? Aku?"
"Ckckck! Kau pasti tidak ingat," Claire bertolak pinggang. "Dulu, di perpustakaan sekolah, saat aku bingung memilih buku dan mengambil novel itu, kau tersenyum dan berkata, 'Yang itu bagus. Setelah membacanya, aku merasa aah... dunia ini indah.' Saat itulah aku jatuh cinta padamu," kisah Claire sambil melihat ke atas, seolah gelembung-gelembung imajinasi baru saja keluar dari otaknya. Imajinasinya terhenti saat melihat kerutan di dahi Gray yang semakin dalam. Claire tahu persis apa yang dipikirkan Gray saat ini. Ia tak ingat apapun tentang Claire. Ia bahkan sudah lupa isi novel itu. Ia hanya ingat namanya karena Mary menyukai penulis itu.
Apa karena itu hanya aku yang bisa menyentuh Claire? Karena perasaannya yang sudah sangat lama padaku?
"Aku benar-benar tidak ingat," Gray mulai merasa merasa bersalah. "Apa dulunya kau culun?"
"Haha! Tidak... aku sangat normal. Super plain. Karena itu kau tak mungkin mengingatku! Hahaha~"
Meski Claire mengatakan hal itu sambil tertawa, perasaan Gray tidak enak. Ia tak pernah menyangka bahwa ada seseorang yang menyukainya hingga bertahun-tahun... hanya karena hal sepele yang ia sendiri tidak mengingatnya.
"Claire," Gray menghentikan tawa gadis itu. "Maaf karena aku tidak mengingatmu," ucapnya. Claire terpaku oleh pandangan tajamnya. Sesuatu yang hangat keluar dari mulutnya. Sama seperti ketika ia membiarkan Claire bersandar di dadanya dan menangis. Suara yang lembut. Suara yang hangat. Sangat hangat hingga membuat sebutir air mata Claire menetes. Hanya sebutir, karena Claire segera menyekanya.
Gray menatap gadis yang sedang menghapus air matanya itu. "Kenapa kau mudah sekali menangis, eh, Claire?" tanyanya datar.
Claire menggeleng, "Aku hanya mudah menangis di depanmu!"
"Kenapa?"
Claire menggigit bibir, berusaha menahan air matanya keluar lagi, lalu balas melihat mata Gray. "Karena aku menyukaimu. Sangat suka sampai aku ingin menangis," jawab Claire tanpa mengalihkan matanya dari Gray. Dan itu berhasil membuat Gray merah. Mungkin itu pertama kalinya Claire melihat langsung ke matanya dalam jarak dekat. Ia tak pernah tahu matanya begitu biru dan indah. Ia tak pernah sadar bulu mata pirangnya cukup panjang, atau hidung tirusnya begitu menawan.
Jika aku... kau baik-baik saja?
~000~
Mata biru Claire membulat saat menyadari Gray semakin mencondongkan wajah padanya.
Tigapuluh senti...
Dua puluh senti...
Sepuluh senti...
"Graay!"
Pintu blacksmith tiba-tiba terbuka dengan kasar, dan Saibara langsung melepas jubah perjalanannya dan duduk di meja counter. "Yang benar saja! Pedagang botak itu pikir perhiasan itu mudah di dapat? Dengar Gray, jika ada yang membeli dengan harga jatuh seperti itu, jangan di beri!" cerocos Saibara sambil mengipasi tubuhnya yang kepanasan setelah berjalan dari pelabuhan. Begitu ia merasa lebih dingin, ia baru sadar ada sepasang muda-mudi yang duduk di workshop blacksmithnya dengan saling membelakangi.
"Sedang apa kalian?" tanyanya, murni, tanpa prasangka.
Tiba-tiba Claire berdiri secepat kilat, berlari ke pintu, dan pamitan, "Ahaha! Aku pergi dulu, Kek! Sampai jumpa!"
Saibara melongo melihat Claire yang pergi seperti tornado. Ia lalu melihat cucunya yang masih berada di tempatnya. Wajahnya sangat merah.
"Gray, kau kenapa?" tanyanya khawatir.
"... hari ini panas sekali," jawab Gray tanpa memandang kakeknya. Ia berjalan ke kamar mandi dan mengucurkan air dari keran ke kepalanya.
Aku pasti sudah gila.
Apa yang barusan hendak aku lakukan?
Tubuhku bergerak sendiri untuk...
Mencium Claire?
Yang benar saja!
~000~
Claire berlari ke kolam Harvest Goddess dan segera berjongkok di samping kolam. Wajahnya yang terpantul di permukaan air tampak semerah buah tomat yang ada di ladangnya. Tangan Claire mencoba mengipas-ngipas, meski panas di wajahnya sama sekali tak menghilang. Claire mengambil air kolam di kedua tangannya lalu membasahi wajahnya. Tapi belum cukup.
Jantungnya masih berdetak cepat. Tangannya gemetar. Lututnya lemas. Ribuan tanda tanya berseliwer di otaknya.
Apa yang baru saja senpai lakukan?
Dia tidak mungkin mau...
Aaagh!
"Goddess," bisik Claire sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Mungkin ia telah membuat satu kemajuan. Ya, mungkin. Tapi Claire sadar bahwa setitik rasa takut mulai muncul di hatinya.
~000~
Chicken Festival.
Pertama kalinya Gray menginjakkan kaki di Chicken Festival adalah musim panas tahun ini. Jika bukan karena kakeknya menyuruhnya membuka stand untuk promosi Mayonnaise Maker made in Saibara, ia tak akan mau datang. Ia tak suka keramaian. Bahkan di tahun baru pun ia lebih senang menyambut matahari terbit di Mother's Hill dari pada di Rose Square –biarpun ia bisa dapat banyak buckwheat flour jika ke sana.
Banyaknya orang dari berbagai kota yang datang ke Chicken Festival dianggap kakeknya sebagai kesempatan untuk menggaet lebih banyak pelanggan. Mungkin benar, dan strategi itu memang berhasil. Sejak tadi sudah banyak peternak ayam yang bertanya tentang mesinnya hingga meminta nomor kontak tokonya. Tapi Gray kesal karena kakek itu hanya menyuruhnya, sedang ia sendiri malah asik-asikan bersantai di rumah.
"Senpai! Ini untukmu!" seru Claire. Ia memberikan sebungkus jagung bakar dan sekaleng soda dingin padanya.
"Untukku?" Gray mengulurkan tangan untuk meraihnya, "Terimakasih..."
Untuk sesaat jari mereka bersentuhan. Dan Claire secara refleks langsung menyingkirkan tangannya, sehingga soda dingin Gray jatuh ke tanah. Gray mendesah, lalu mengambil kaleng sodanya.
Ia memicingkan mata, "Apa yang kau lakukan?"
Yang di tanya hanya menggeleng cepat, kemudian kabur sambil berseru, "Maafkan aku!"
Bukannya Gray tidak mengerti pada kelakuan aneh Claire akhir-akhir ini. Semua itu salahnya –dia yang mencoba melakukan 'hal aneh' di Blacksmith beberapa hari lalu.
Ia sudah berkonsultasi dengan Kai mengenai masalah ini. Menurut Kai, ia hanya terserang 'demam musim panas'. Saat di mana laki-laki bisa menyerang gadis di dekatnya meskipun ia tak memiliki perasaan apapun pada gadis itu. Panaslah yang membuatnya jadi aneh.
Kembali ke Chicken Festival. Pukul 9 pagi, babak pertama Chicken Festival dimulai. Berbagai ayam dari berbagai kota datang untuk adu kebolehan. Gray tidak melihat langsung, tapi dari pengeras suara ia bisa mendengar jalannya pertandingan. Bon, ayam pertama Claire itu hanya bisa lolos hingga babak kedua dan kalah di babak ke tiga. Seekor ayam hitam bernama Tarzan membuat Bon kalah telak. Chicken Festival tahun ini dimenangkan oleh Tarzan.
"Kau kalah," Gray mengkonfirmasi kekalahan Claire setelah perlombaan selesai. Saat itu Claire sedang mampir ke tempat Gray.
"Hahaha, ya, aku kalah!" seperti biasa Claire hanya mentertawakannya.
Gray tampak berpikir sebentar, lalu bangkit dari tempat duduk. "Ikut aku," perintah Gray.
"Eh?"
Jantung Claire berdetak cepat lagi. Seolah kejadian waktu itu belum cukup aneh, kali ini untuk pertama kalinya Gray menyuruh Claire mengikutinya. Claire semakin ge-er saat Gray membelikannya es serut dari stand Kai-Popuri. Ia lalu mengikuti Gray duduk di pinggir Rose Square sambil makan.
"Claire," panggil Gray.
"Y-y-ya?" Claire gugup menjawab.
"Uhm... soal waktu itu... aku minta maaf. Sepertinya panas membuat otakku jadi aneh. Kalau aku melakukan hal seperti itu lagi... pukul saja aku. Maaf membuatmu takut," lanjutnya serius.
Claire terdiam sambil memandangi es serutnya yang meleleh, lalu menggeleng. "Aku tidak takut padamu," kata Claire seolah meyakinkan dirinya sendiri. Gray menangkap perubahan ekspresi gadis itu. Dan di luar dugaan Claire, Gray malah tersenyum lembut, "Hm, baguslah!"
Senyum satu juta joule Gray membuat Claire memegangi dadanya. Rasanya jantungnya mau melompat dari rongga dadanya. Ah... Semakin lama ia bersama dengan Gray, semakin besar rasa sukanya. Semakin ia mengenal Gray, semakin adorable Gray di matanya. Bersinar. Dan tanpa ia sadari, keberadaan Gray dalam hatinya kini sudah sangat besar. Sampai-sampai rasanya hampir semua ruang di hatinya terisi penuh oleh Gray.
"Aku bersyukur telah mengejarmu kemari," gumam Claire sambil senyum-senyum.
Gray mendengar itu tapi tak ingin menanggapinya. Barusan ia sengaja tersenyum pada Claire. Menurut informasi dari Zack, Claire menyebut senyumnya sebagai senyum 'satu juta joule'. Julukan yang sangat aneh. Dan sejujurnya menggelikan. Tapi hari ini, khusus hari ini saja, sebagai permintaan maafnya dan rasa terimakasih atas jagung bakar pemberian Claire selama ini, ia akan memberinya sedikit 'fan service'. Toh ia juga tak suka melihat gadis itu menangis atau ketakutan seperti tempo hari. Ya, ia sama sekali tak suka itu.
~000~
Saibara's Blacksmith belakangan ini sangat sibuk karena pekerjaan terus mengalir dari luar kota. Pamor mereka meningkat berkat promosi di Chicken Festival. Tak hanya food maker mereka yang laris manis -yarn maker, perhiasan, bahkan alat bertani mereka pun kebanjiran pesanan. Beruntung petugas baru perpustakaan sudah datang jadi Gray bisa lebih konsentrasi bekerja. Kondisi yang sangat menguntungkan bagi bisnis Gray dan kakeknya, tapi tidak bagi Claire. Gray terlalu sibuk. Dan di saat mereka sangat sibuk, Saibara melarangnya masuk ke toko.
"Berbahaya," kata Saibara.
Claire hanya bisa menurut dan tak mengganggu pekerjaan mereka. Ia tak bisa menemui Gray di blacksmith maupun di perpustakaan. Ia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak ke kamar cowok Inn di malam hari. Dan jika ia melihat Gray di restoran Inn, Gray terlihat sangat lelah sehingga Claire tak tega untuk mengganggunya. Alhasil ia sama sekali tidak mengobrol dengan Gray selama dua minggu ini. Bahkan di Firework Festival Gray hanya muncul sebentar di pantai, lalu kembali pulang untuk tidur karena lelah seharian bekerja. Rencana Claire untuk menghabiskan musim panas romantis bersama Gray pun gagal.
Tanpa disadari, daun-daun mulai berguguran bersama datangnya angin musim gugur.
"Senpai!" panggil Claire saat Gray sedang makan malam di Inn. Claire meletakkan set diner specialnya di meja yang berhadapan dengan Gray, lalu duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Claire bergidik saat melihat wajah Gray yang seperti tak bernyawa. "Woah, Senpai, kau baik-baik saja?!"
"Hm?" Gray hanya mengangkat satu alisnya sebagai respon. Jelas ia tak baik-baik saja. Claire bertindak cepat dan mengambil dua botol energizer dari dalam ranselnya.
"Minumlah ini, Senpai. Satu lagi untuk kakek," kata Claire.
"Untukku?" Claire nyaris melompat saat sadar Saibara duduk di sampingnya entah sejak kapan. Tak beda jauh dengan Gray, wajah Saibara tampak kelelahan.
"Hey, apa tak sebaiknya kakek membatasi pesanan? Jika begini terus kakek dan senpai bisa sakit," saran Claire.
Saibara tertawa, "Hohoho! Jangan khawatir, Claire. Hmm, tapi kuakui aku terlalu banyak menyetujui pesanan setelah Chicken Festival."
Si cucu menghela napas, "Haah... untungnya semua pesanan sudah selesai."
"Eh, sudah semua?"
"Hm. Besok dan lusa kami akan libur dulu," kata Gray sambil memijat bahunya yang lelah.
Claire melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menunjukkan keahliannya, "Se-senpai! Mau kupijat?"
Sayangnya Gray menanggapi tawaran Claire dengan tatapan 'apa kau bodoh?' nya yang biasa.
Melihat Claire yang tampak murung akibat penolakan Gray, Saibara mengusulkan idenya, "Hey, kenapa besok kau tidak ikut Gray ke kota untuk membantunya berbelanja?"
Mata Claire membulat excited, sedangkan mata Gray menyipit, namun mereka menyerukan kata yang sama: "Haa?!"
Gray menolak mentah-mentah ide itu, "Tidak-tidak-tidak-tidak! Aku ke sana bukan untuk main, tapi belanja keperluan blacksmith!"
Saibara manyun, "Padahal dia bisa membantumu membawa barang-barang!"
Pancingan Saibara berhasil membuat Gray terdiam dan berpikir, sementara Claire memasang puppy eyesnya, minta di ajak. Untuk kesekian kalinya hari ini Gray menghela napas, "Haah... terserah."
~000~
(Bersambung)
A/N:
Sorry for the late updates! Thanks for reading, as always ;)
Terimakasih juga atas reviewnya, Arisu-san dan Muni-san xD
Yep, Gray akan segera sadar~ hihihi. Semoga kalian juga suka chapter ini dan chapter selanjutnya (seperti biasa, update 2 chap skaligus :3)
See ya!
