Disclaimer: Harvest Moon dan segala karakternya bukan milik saya, saya cuma punya plot ceritanya :3

.

.

.

~8~

"Dancing in Moonlight"

.

.

.

Gray POV

.

Sejak kecil aku hidup dengan nyaman bersama kedua orangtuaku. Sebagai anak tunggal, aku tak perlu berebut mainan dengan saudara-saudaraku. Pun tak perlu berbagi kasih sayang dengan anak lain. Ya, jika memang ada kasih sayang yang bisa dibagi.

Kedua orang tuaku sibuk bekerja.

Meski begitu aku tak pernah sedih. Aku tahu mereka bekerja keras demi aku. Hidupku cukup baik. Aku punya teman baik, hobi, dan... buku-buku. Aku sangat suka buku. Jika aku kesepian, aku akan menenggelamkan diriku dalam kisah di buku itu.

Tapi lama kelamaan rasanya hatiku terasa dingin.

Hey, apakah suatu hari aku akan bisa merasakan perasaan cinta yang sesungguhnya? Seperti yang tertulis dalam novel-novel romance itu? Hidupku yang datar dan membosankan ini... akankah suatu saat berubah?

~000~

Normal POV

.

Pagi itu saat Gray membuka mata, ia bisa merasakan suhu tubuh seseorang di dekatnya. Hangat. Tubuh yang ia dekap saat ini terasa... hangat?

Deg!

Gray langsung mengangkat tangannya yang tadi melingkupi badan Claire dan duduk di atas futon. Mereka tidur sambil berpelukan sepanjang malam? Ya ampun. Kesadaran itu membuat wajah Gray langsung merah.

Ia lah yang memulai memeluk Claire semalam. Ia juga yang terus memeluknya saat gadis itu tertidur karena lelah menangis.

"Goddess! Apa yang sudah kulakukan?!" bisik Gray histeris sambil memegangi kepala dengan kedua tangannya.

Tapi...

Androphobia Claire benar-benar tidak bereaksi pada nya.

Ia menurunkan tangannya, mencoba bersikap tenang sambil memandangi wajah tidur Claire.

"Karena senpai... adalah energi kehidupanku!"

Claire pernah berkata begitu padanya. Ia pikir Claire berlebihan waktu itu. Tapi mungkin memang seperti itulah keadaannya.

"Aku selalu, selalu, selalu menyukai senpai!"

Semakin Gray mengingat kata-kata cinta Claire yang bertubi-tubi, semakin merahlah wajahnya. Sejak kapan Gray kehilangan ke-cool-an nya? Gray yang selalu bisa berkepala dingin dalam segala situasi... sejak kapan ia mulai terombang ambing dalam pace gadis itu?

Bahkan meskipun selama ini ia menyukai Mary, ia tak pernah merasa emosinya naik-turun bak jet-coaster seperti saat ia bersama dengan Claire.

"Senpai...?" Claire membuka matanya dan melihat Gray duduk dengan muka bete di hadapannya. Selama setengah menit ia hanya berbaring diam sambil melihat Gray yang duduk dengan muka datar di hadapannya. Gray tahu saat itu otaknya sedang 'loading', karena kemudian ia cepat-cepat duduk dan membungkukkan badannya, panik. "Ma-maaf, Senpai! Semalam aku menangis tak terkendali, aku bahkan menceritakan hal seperti itu! Dan, dan, dan...!"

Jika ini di film kartun, warna muka Claire mungkin berubah jadi merah sampai-sampai ada asap yang keluar dari kepalanya. Untungnya kepanikan Claire dipotong oleh komentar indiferen Gray, "Claire, kau ngiler."

"Eh? Eh?! Ya ampun!" Claire segera mengusap mulut dengan lengan piyamanya.

Gray tertawa.

Mungkin tawa lepasnya yang pertama setelah bertahun-tahun. Dan tawa paling bersinar yang pernah dilihat Claire.

Sejak kapan gadis itu mengisi hari-harinya dengan lebih banyak energi dan warna?

Gadis yang benar-benar hectic.

Yang selama ini selalu, selalu, selalu menyukainya.

~000~

Autumn 10. Hari ini adalah salah satu hari paling membahagiakan bagi Mary. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama menyukai Jack, akhirnya ia akan menikah dengan pria pujaannya itu. Pernikahan mereka dilaksanakan di Mineral Town's Chruch atas keputusan bersama. Sebab di kota inilah mereka bertemu untuk pertama kalinya. Cinta pertama masa kecil yang terus bersemi hingga jenjang pelaminan...

"Indah sekali..." gumam Claire saat menyaksikan prosesi pernikahan Mary dan Jack. Mary begitu cantik dengan gaun pengantin putihnya. Dan Jack tampak seperti pangeran dengan tuksedo putih panjangnya.

Seusai upacara, mereka mengadakan jamuan di Doug's Inn. Semua warga menghadiri pesta ini, tak terkecuali Gray. Sebenarnya Claire sedikit khawatir pada Gray mengingat riwayat perasaannya pada Mary, namun sepertinya itu tidak perlu. Gray tampak baik-baik saja. Ia bahkan banyak mengobrol dengan Jack. Tapi setelah itu Claire kehilangan Gray. Ia tak bisa menemukan Gray di dalam Inn, jadi ia coba mencarinya di luar.

Benar saja, Gray sedang duduk sendirian di salah satu bangku bulat di pekarangan Inn. Pria berjas hitam itu merokok sambil memandangi tanaman-tanaman di hadapannya.

"Senpai!" celetuk Claire tiba-tiba, membuat Gray kaget. Begitu tahu yang memanggilnya adalah Claire ia hanya menghela napas. Claire yang menyadari itu segera duduk di sampingnya.

"Aku tidak tahu Senpai merokok," kata Claire.

"Hanya sesekali," jelas Gray singkat.

Claire menanggapinya dengan senyum. Keheningan menyelimuti mereka cukup lama hingga Claire kembali mengajukan pertanyaan, "Senpai, kau sedih?"

Yang ditanya tak langsung menjawab. Ia menghembuskan asap rokoknya terlebih dahulu, baru menghadap Claire. "Tidak," katanya. Gray lalu mematikan rokoknya dengan menggerus ujung putung rokok itu ke tanah. "Justru aku merasa aneh karena aku sama sekali tidak sedih," lanjutnya sambil memberikan senyum tipis ke kejauhan.

Claire melihat Gray dari sudut matanya. Ada yang aneh dari senpainya itu. Wajahnya sedikit merah dan ekspresinya mengambang. Keanehan itu bertambah saat tiba-tiba Gray menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Claire. Terang saja jantung Claire berpacu tak keruan. Ia bahkan tak berani melihat atau menyentuh senpainya. Tangannya gelagapan karena panik.

"Se-senpaaai... a-apa yang kau lakukaan?"

Tak ada jawaban. Saat akhirnya Claire berani melihat ke pangkuannya, ia baru sadar bahwa Gray tertidur. Wajah Gray merah. Mungkinkah ia mabuk? Setahu Claire ia tak bisa minum sama sekali. Setengah gelas wine sudah cukup untuk membuatnya mabuk, karena itu ia tak pernah minum. Tapi dalam situasi ini, ketika orang yang disukainya menikah dengan pria lain, mungkin ia merasa ingin lari dari kenyataan. Sudah Claire duga, Gray masih punya rasa pada Mary.

"Apanya yang sama sekali tidak sedih?" gumam Claire.

Dengan tangannya yang sedikit gemetar, Claire memberanikan diri menyentuh rambut Gray. Ia suka rambut orange itu. Ia suka mata biru yang tajam itu. Ia suka segalanya tentang Gray.

Mata biru Gray terbuka saat menyadari sentuhan gemetar di pipinya. Gray menyentuh rambut si pemilik tangan yang menyentuhnya. Rambut Claire yang jatuh tergerai dengan lembut ke wajahnya, memberikan aroma harum yang lembut. Mata Claire melebar saat Gray menarik rambutnya, membuat wajahnya tertunduk, sangat dekat dengan wajah Gray yang ada di pangkuannya. Claire bahkan bisa mencium aroma rokok dari napas Gray. Ini buruk. Lebih dari ini jantung Claire bisa berhenti.

Keadaan menjadi lebih buruk saat Gray mengangkat kepalanya dan menyentuhkan bibirnya di dahi Claire. Dan itu membuat Claire mematung di tempatnya. Lagi-lagi, ia tersihir menjadi patung berpipi super merah. Segera setelah itu Gray tampak tersenyum puas dan kembali tertidur di pangkuan Claire.

"Gray! Di sana kau rupanya!" seru Cliff seraya menghampiri mereka. Ia mendesah saat melihat Gray tertidur di pangkuan Claire, "Haah, maaf Claire! Ia tak sengaja minum alkohol tadi. Biar kubawa dia ke kamarnya," kata Cliff. Ia kemudian mengangkat Gray dan memapahnya ke dalam Inn. Claire yang ditinggalkan masih tak bergerak dari tempatnya. Pahanya yang tadi dijadikan bantal oleh Gray masih terasa panas, begitu pula dahinya yang tadi dikecup oleh Gray. Jantungnya berdetak tak keruan. Ia bahkan bisa merasakan tubuhnya gemetaran. Tapi ia tak benci perasaan ini. Ia menyukainya. Ternyata memang benar, kan. Hanya Gray yang bisa menyembuhkan androphobia nya.

~000~

Cliff menghempaskan tubuh teman sekamarnya itu di atas kasur. Ia hanya bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala mengingat kelakuan temannya yang tadi mesra-mesraan di tempat umum. Entah kenapa itu membuatnya kesal. Mungkin ia iri sebab ia dan pacarnya tak pernah seperti itu. Pribadinya yang pemalu dan pribadi Ann yang terlalu ceria hingga kekanakan membuatnya tak pernah menemukan momen yang pas.

"Hey, Graay~" panggil Cliff sambil meninju pelan pipi Gray. Ekspresinya datar menanggapi Gray yang tak juga bangun. "Haah. Aku dan Ann yang sudah pacaran setengah tahun saja tidak pernah mesra-mesraan begitu," keluh Cliff. Ia meletakkan kedua tangan di wajahnya yang memerah karena perkataannya sendiri barusan. "Aku juga... ingin menyentuhnya..."

Traanggg!

Mata Cliff terbelalak saat melihat gadis berambut merah kepang, sang pacar, Ann, menjatuhkan botol air minum di depan pintu kamar yang lupa ditutupnya. Wajah Ann sama merahnya dengan wajah Cliff. Keduanya saling berpandangan untuk beberapa saat sebelum akhirnya Ann kabur meninggalkan kamar.

"Eh? Ann! Tunggu!" seru Cliff seraya berlari mengejar gadis itu, meninggalkan kamar secepat kilat. Ia sama sekali tak sadar bahwa Gray yang ditinggalkannya telah membuka mata.

"Bodoh, jika ingin melakukannya, lakukan saja..." gumam Gray mengomentari pasangan itu.

Ya, lakukan saja. Seperti yang ia lakukan?

Ia memandangi telapak tangannya yang tadi menyentuh rambut Claire. Ia masih bisa merasakannya lembutnya. Ataupun tekstur kulit Claire di bibirnya. Ia tak sepenuhnya mabuk. Ia sadar atas apa yang telah dilakukannya, dan sebenarnya ia bisa menghentikan dirinya sendiri. Tapi...

"Apa aku sudah gila?" gumam Gray sambil mengepalkan tangannya.

Terlalu banyak hal yang berubah sejak kedatangan Claire yang membuat hidupnya menjadi lebih hectic. Seperti betapa ia ternyata sangat menikmati makan bersama penduduk Mineral Town di Harvest Festival beberapa hari lalu, ia tak akan tahu jika Claire setengah memaksanya ke festival. Atau bahwa kakeknya ternyata bukan orang yang sangat menyeramkan, dan Gray merasa ia mulai menyukai kakek keras kepala itu. Sejak Claire datang, banyak hal telah berubah.

Ia merasa sekelilingnya menjadi lebih terang dan berwarna warni. Tak monoton. Tak membosankan.

Wajah Gray memerah. Jantungnya berdetak cepat. Ia benci mengakui ini, tapi mungkin, mungkin saja, sesuatu di dalam hatinya telah berubah.

~000~

Siang itu seperti biasa Gray menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca buku. Ia hanya sendiri karena Claire sedang sibuk mengurusi kebunnya. Belakangan ini Claire memang sangat sibuk sebab panen musim gugur jauh lebih sering dan banyak dari biasanya. Meski begitu tetap saja gadis itu menyempatkan diri menyapanya di Blacksmith setiap pagi. Gray maupun kakeknya tak lagi merasa aneh dengan kehadiran Claire, justru rasanya pagi tak lengkap tanpa sapaan ceria gadis itu...

"Hello, Senpai!" suara wanita yang tiba-tiba muncul di hadapannya membuatnya kaget. Tapi bukan si pirang yang memanggilnya, melainkan wanita berkacamata dengan rambut hitam yang baru saja menikah dua hari lalu.

"Fuuh... ternyata kau, Mary!" Gray menghela napas, berusaha menenangkan jantungnya yang sempat melompat-lompat kecil. Ia akan merasa sangat canggung seandainya Claire -yang sedang dipikirkannya, tiba-tiba muncul di depannya seperti itu.

Mary tersenyum, "Kau kecewa? Kau berharap aku Claire? Sen~pai?"

Dahi Gray berkerut. Apa Mary baru saja meledeknya?

"Jangan memanggilku senpai, please..." keluh Gray keberatan. Matanya kembali ke gadis berkaca mata itu. Rambutnya kini ia biarkan tergerai, dan Gray bisa melihat make up tipis di wajahnya. "Kau banyak berubah, Mary, " celetuk Gray.

"Tentu saja," balas Mary dengan percaya diri. Mary kemudian melihat buku-buku di sekelilingnya, "Kau juga berubah. Dulu kau kikuk bahkan hanya untuk bicara denganku. Tapi sekarang... kau berani mencium Claire di tempat umum."

Sontak kata-kata Mary itu membuat wajah Gray memerah luar biasa karena malu. Ia tak menyangka ada orang lain yang melihatnya saat ia melakukan kecupan ke kening Claire. "Wa-waktu itu aku sedang mabuk," katanya coba berkilah.

"Haha, aku tak percaya," kata Mary dengan senyum simpul di wajahnya. "Gray, kalau kau menyukainya, sebaiknya cepat kau nyatakan perasaanmu. Sebelum dia direbut orang."

Wajah Gray kini semakin merah dan ekspresinya sedikit panik. "Hahaha, jangan becanda, Mary. Memang siapa yang suka pada cewek berisik itu?"

Mendengar pertanyaan Gray itu Mary membuat wajah khawatir yang dibuat-buat, "Eeeh, Claire bilang padaku bahwa Rick baru saja menembaknya..."

Untuk sejenak Mary sengaja berhenti. Ia bisa melihat Gray tampak penasaran pada kelanjutan ceritanya, tapi ia tak mau memberitahu Gray. Ia malah memulai topik baru yang sama sekali tak ada hubungannya dengan penembakan Rick. "Kau tahu, ada satu malam di mana Bunga Queen of The Night mekar di puncak Mother's Hill. Ada rumor bahwa pasangan yang bisa menemukan bunga itu akan bahagia selamanya. Dan itu hanya terjadi empat tahun sekali, yaitu malam ini. Kau tak ingin melihatnya?"

Lagi-lagi alis Gray berkerut karena bingung, "Kenapa aku harus..."

"Claire akan kesana. Tapi ia tak tahu rumor itu. Ia cuma tahu kalau malam ini akan ada full-moon," potong Mary. Dari nada bicaranya ia jelas sangat menikmati perannya memelintir emosi Gray. Puncaknya ia sengaja memaksa Gray mendesak keluar perasaannya, "Kau tak peduli jika Claire ke sana dengan pria lain?"

~000~

Total empat keranjang penuh yang terdiri dari ubi, wortel, dan paprika berhasil Claire panen hari ini. Belakangan ini pekerjaannya sangat banyak. Ia yang biasanya sudah selesai mengurusi farm nya jam 9 pagi, kini masih harus berkutat dengan tanaman hingga jam 2 siang.

Setelah memasukkan isi keranjang terakhirnya ke dalam shipping bin Claire bermaksud untuk beristirahat di dalam rumahnya. Saat itulah matanya menangkap sepucuk surat yang terlihat dari celah kotak surat. Diambilnya surat itu. Ia merasa jantungnya hampir meloncat saat melihat nama pengirim surat itu: ayahnya. Tangan Claire sedikit gemetar saat membaca nama sang ayah angkat.

Matanya melebar saat ia mulai membaca baris demi baris tulisan tangan pria yang selalu dihormatinya itu.

"... Penyakit ibumu semakin parah. Setidaknya jenguklah ia. Dan lagi, ada yang ingin ayah bicarakan denganmu soal Mikhail."

Meneteslah air mata Claire. Dulu ketika Claire mencoba menyatakan kebenarannya, ayah dan ibunya yang tak ingin menerima kenyataan membuat Claire merasa seperti orang gila. Di satu sisi Claire marah, di sisi lain ia bisa sedikit mengerti bahwa sebagai orang tua mereka percaya anaknya yang 'sempurna' itu tak akan melakukan hal bejat. Ditambah lagi ketika ia sadar bahwa mental ibunya tak akan kuat jika Claire terus bersikeras bahwa ada sesuatu yang sangat 'busuk' terjadi dalam keluarga mereka. Ia marah. Tapi ia tak tega. Karena itu satu-satunya jalan adalah ia harus meninggalkan rumah itu. Lalu kenapa mereka tak bisa membiarkan Claire pergi membawa kenyataan pahit itu sendirian? Kenapa, bahkan ayah angkatnya yang pendiam itu, sampai menyuruhnya kembali? Ayolah, ia tak sebaik hati itu. Ia tak sekuat itu. Sudah cukup ia menahan diri selama lima tahun. Lebih dari itu ia bisa gila...

Tapi ia juga tak bisa menutup hati sepenuhnya pada keadaan ibu angkat yang telah mengasuhnya sejak bayi...

~000~

Pirang. Warna karamel bulan. Berlatar langit gelap, dengan sapuan manik-manik putih, biru, dan merah yang terbuat dari bintang-bintang. Lalu awan yang tampak karamel di sekeliling bulan.

Angin memainkan rambut pirang gadis yang duduk di puncak Mother's Hill itu. Gadis itu menengadah melihat bulan yang bulat sempurna malam ini, seorang diri.

Ya, ia sendirian.

Dan ini membuat Gray merasa lega. Ia tak tahu akan bagaimana jika ternyata ia sedang menikmati bulan purnama bersama pria lain. Yang pasti ia tak suka itu.

"Claire," panggil Gray ketika ia telah sampai di sisi Claire. Segera saja ia berdiri di samping gadis yang tampak kaget itu.

"Senpai!" seru Claire, sumringah. Ia lalu menepuk-nepuk permukaan rumput di sampingnya dan menawari Gray duduk. Gray menerima tawaran itu tanpa banyak kata.

"Ne, Senpai! Seperti apa festival sekolah di SMA senpai?" tanya Claire.

"Ha? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" Gray bingung.

"Haha! Aku sedang memikirkannya. Di SMP kita dulu tidak ada festival sekolah kan? Di SMA ku ada. Senpai?"

"Hm... ya, ada. Tapi aku tak begitu suka festival."

"Eh~ kenapa? Karena ramai?"

Sebelum menjawab Gray meluruskan kakinya dan meletakkan kedua tangan di sisi tubuhnya, membiarkan tangannya menumpu tubuhnya yang condong ke belakang, agar ia bisa melihat langit di atasnya. "Itu juga. Dan aku sangat tidak suka karena kita dipaksa, wajib melakukan folk dance," jelas Gray dengan wajah merengut. Dalam folk dance, para siswa harus menari berpasangan pria-wanita, mengitari api unggun. Pasangan mereka terus berganti secara teratur hingga habis lagu.

"Hehe! Folk dance selalu ada di setiap festival sekolah ya," komentar Claire pendek.

Gray melirik Claire, "Kau juga melakukannya? Folk dance?"

"Eh?" Claire sedikit kaget karena Gray bertanya balik padanya. Hal yang tak biasa ia lakukan, tentu saja.

Wajah Gray sedikit memerah. "Ehm... maksudku... dalam folk dance, kau tahu...?" Gray memperjelas pertanyaannya dengan menengadahkan salah satu tangannya, dan telapak tangan lainnya menelungkup di atasnya, memperagakan gerakan folk dance. Claire mengerti maksud Gray: dalam folk dance, pria dan wanita menari dengan berpegangan tangan.

Dan Claire tersenyum menyadari perhatian Senpai padanya. "Aku tak pernah ikut folk dance, aku bahkan tidak tahu caranya. Di SMA androphobiaku sangat parah. Jangankan menyentuhnya, melihat tangan pria dari dekat saja aku merasa mual," jelas Claire tanpa melepas senyumnya.

Gray yang sudah menduga itu hanya memandang lurus ke mata Claire yang kini kembali melihat bulan. Gray kemudian berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Kau bisa menyentuhku kan?"

Pertanyaan Gray membuat wajah Claire memerah. Ia mengangguk canggung. Gray memberi isyarat agar Claire memegang tangannya yang terulur. Dan Claire, dengan ragu-ragu meletakkan telapak tangannya di atas tangan Gray.

Jantungnya terasa melompat ketika Gray tiba-tiba menariknya hingga ia ikut berdiri sekarang.

"Perlu kuajari caranya?" tanya Gray dengan nada bicara sok cool, yang sangat tidak sesuai dengan wajah merahnya.

Respon Claire hanyalah anggukan kecil disertai setetes air mata bahagia.

Mereka berdua merasa canggung satu sama lain. Wajah keduanya sangat merah. Dan udara musim gugur malam ini sebenarnya sangat dingin. Tapi dengan kedua tangan mereka saling bersentuhan, dengan detak jantung mereka yang cepat, dengan bulan karamel yang tampak jauh lebih besar dari biasanya, langkah-langkah kecil tarian mereka terasa hangat dan melayang. Tanpa musik, tanpa api unggun, hanya tuntunan lembut dari cinta bertepuk sebelah tangannya selama sembilan tahun. Sesederhana ini, dan inilah kebahagiaan terbesar yang pernah Claire rasakan.

"Senpai," panggil Claire memecah keheningan.

"Hm?"

"Aku mencintaimu."

"Aku tahu."

"Senpai," panggil Claire lagi. Kali ini ia menghentikan langkah tariannya. "Apa kau mencintaiku?"

.

.

.

Cahaya bulan yang terpantul di mata biru Claire membuat Gray terpana. Selama berbulan-bulan ini, itu adalah pertama kalinya Claire menanyakan perasaan Gray secara langsung. Mata gadis itu menatapnya lurus. Meminta jawaban pasti dari perasaannya yang selalu ia tunjukkan dengan terus terang.

Dahi Gray berkerut dalam. Sekarang ia tahu kenapa saat ia menembak Mary, gadis itu diam seribu bahasa. Ia pun tak tahu harus menjawab apa. Jika ini beberapa bulan lalu, ia akan menjawab tanpa ragu bahwa ia tak mencintai Claire. Tapi malam ini...

"Ahaha, kenapa wajah senpai begitu?" tawa Claire membuyarkan otak Gray yang sedang berpikir keras. Claire melepaskan tangan Gray lalu kembali duduk di tempatnya semula. "Senpai tak perlu memberiku jawaban. Maaf membuatmu kesulitan," kata Claire sambil memainkan rumput di dekat kakinya.

Harusnya Gray lega karena terbebas dari keadaan yang mencekik itu, tapi hatinya tak tenang. Kenapa? Apa karena malam ini Claire lebih pendiam dari biasanya? Apa karena tatapan lurus Claire tadi terasa menusuk-nusuk hatinya? Atau karena mata gadis itu menerawang ke permukaan bulan dengan intense nya seolah ia ingin pergi ke sana?

Pada akhirnya Gray tak bisa menjawab pertanyaan Claire. Pun tak melihat Bunga Queen of The Night yang dirumorkan. Ia hanya tahu keesokan harinya bahwa ia tak bisa menemukan gadis yang selalu, selalu, selalu mencintainya itu, di Mineral Town.

.

(Bersambung…)

A/N:

Terimakasih sudah membaca fanfic ini, dan atas reviewnya, Arisu-san, Sae-san, Sierra-san, dan Muni-san! Dan fanfic ini pun semakin penuh dengan adegan fluffy-fluffy, gomen ne~ :D

Mungkin satu atau dua chapter lagi cerita ini akan selesai. See yaa!