Disclaimer: Harvest Moon dan segala karakternya bukan punya saya. Lagu Suisai no Tsuki (Watercolored moon) juga bukan punya saya, tapi punya Hata Motohiro-san. Saya cuma plot ceritanya :3

.

.

.

~9~

"Watercolored Moon"

.

.

Siang ini Saibara's Blacksmith sibuk seperti biasa. Memasuki musim dingin pesanan perhiasan dari klien tetap mereka di kota bertambah. Semua berkat perayaan Starry Night Festival tanggal 24 Winter nanti. Masih jauh, sebenarnya, mengingat ini baru awal musim dingin. Tapi toko-toko perhiasan di kota -beberapa klien tetapnya itu, telah menyiapkan diri untuk moment itu. Gray dan kakeknya kini hampir setiap hari membuat perhiasan karena pesanan alat bertani memang selalu turun di musim ini.

Ah, ngomong-ngomong soal bertani... Gray merindukan petani wanita yang hingga pertengahan musim gugur lalu selalu memberinya sapaan cinta bertubi-tubi. Ya, ia tak lagi di sini.

Seperti tornado yang datang tiba-tiba, memporak-porandakan hari-harinya yang membosankan, meluluhkan hatinya, dan kemudian pergi dengan tiba-tiba pula. Sekejam itulah gadis itu.

Gray memakai mantelnya dan keluar dari Blacksmith. Napasnya berembun. Ia menengadahkan wajahnya, melihat langit yang tampak mendung di atasnya.

Salju pertama musim ini telah turun.

Dengan langkah perlahan ia berjalan ke selatan, ke arah pertanian yang ditinggalkan pemiliknya dengan semena-mena beberapa minggu lalu. Tempat itu seolah kembali ke keadaannya sebelum Claire datang. Berantakan, tak terurus. Kandang ayam yang tadinya selalu riuh pun kini sepi, sebab seluruh ayamnya telah dijual. Yang tersisa hanyalah rumah kecilnya yang terkunci.

"Oh, Gray!" sapa Mayor Thomas sambil melambaikan tangan. Kehadirannya yang tak terduga membuat Gray sedikit salah tingkah. "Sedang apa kau di sini?"

"Uhm... tidak. Hanya lewat," jawab Gray, mencoba mengarang alasan. "Mayor sendiri? Sedang apa di sini?"

"Haha! Hanya mengecek keadaan," jawabnya enteng. Ia, seperti halnya semua penduduk Mineral Town, sudah tahu bahwa Claire ke kota ini untuk mengejar Gray. Dan ia juga tahu bahwa sejak kepergian Claire yang tiba-tiba, Gray adalah orang yang paling merasa kehilangan. "Maaf karena aku tak bisa membantumu mencarinya. Bahkan nomor telepon yang dia berikan pun tak bisa dihubungi," ucap Sang Mayor sedih.

Gray hanya menggeleng sambil tersenyum, "Tak apa, Mayor."

Mayor menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ia tampak serba salah, hingga akhirnya mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya: kunci duplikat rumah Claire.

"Dia hanya datang padaku dan bilang ada urusan mendadak," katanya mengulang penjelasan yang sama yang ia berikan pada Gray di hari gadis itu menghilang. "Bagaimanapun tanah ini masih milik Claire. Aku tak mungkin menjual tempat ini lagi tanpa izin Claire. Untuk sementara, kau peganglah ini."

Mayor menggamit tangan Gray lalu meletakkan kunci rumah Claire di tangannya.

"Eh? Ma-mayor?" Gray kebingungan.

"Dia pasti akan kembali padamu. Jadi kau saja yang menyimpannya," kata Mayor sambil tersenyum hangat.

Wajah Gray memerah. Belakangan ini seolah seluruh kota berkonspirasi memperlakukannya seperti korban cinta tak sampai, bahkan kakeknya. Mereka berusaha tidak membicarakan soal Claire maupun asmara di depannya. Jika topik itu muncul sekalipun, mereka akan menatapnya dengan tatapan iba. Baru-baru ini ia tahu alasannya dari Cliff. Ada gossip yang beredar bahwa Claire sebenarnya hanya bermain-main dengannya karena ia adalah pria yang sulit ditaklukkan. Setelah Claire merasa telah mendapatkannya, gadis itu meninggalkannya seperti mainan yang membosankan.

Sungguh, kadang gossip bisa begitu menakutkan.

"Kenapa kau tak coba memeriksa rumahnya? Mungkin ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk keberadaannya," saran Mayor.

Gray menyeringai, "Mana bisa aku melakukan itu, Mayor? Claire mengunci rumahnya! Ini soal privasi..."

"Tapi bukankah kau ingin mencarinya?" potong Mayor. Ia lalu menepuk bahu kiri Gray dan pamit meninggalkan Gray sendirian.

Yang bisa dilakukan Gray hanyalah diam dengan wajahnya kembali memerah. Mayor merupakan satu dari segelintir orang yang percaya bahwa Claire bukanlah gadis seperti yang digossipkan. Dan yang tahu tentang perasaan Gray.

Bukannya Gray belum berusaha mencari Claire. Ia telah menghubungi teman-teman adik kelas SMP nya untuk mencari informasi. Tapi bahkan mereka yang seangkatan dengan Claire tak ingat banyak tentang gadis itu. Hanya sekedar teman sekelas yang tak berbagi informasi pribadi. Alamat rumahnya berubah, tak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, seolah jejak gadis bernama Claire telah lesap bersama angin.

Karena Claire mengunci pintunya sendiri sebelum pergi, Gray pikir dia hanya pergi untuk waktu singkat dan pasti kembali. Tapi musim sudah berganti dan ia tak juga mendapati sapaan ceria pagi harinya. Ia khawatir. Ia takut jika terjadi sesuatu pada Claire. Dan perasaan rindu di dalam hatinya semakin membuncah. Ia ingin menemui gadis itu. Dan jika ia berhasil menemuinya, ia akan mengatakan kata-kata yang tertahan di tenggorokannya malam saat mereka bersama melihat bulan.

"Maaf, Claire," ucap Gray seraya memasukkan kunci cadangan rumah itu ke lubang kunci dan memutarnya.

Rumah mungil itu tampak sepi dan berdebu. Tapi barang-barang Claire masih lengkap di sana. Dan di rak buku Gray bisa melihat sebuah buku tergeletak. Novel karya Dirk Zephyr : Wonderer. Sebuah pembatas buku dari bunga moon flower kering menjadi patokan halaman yang dibuka Gray.

Segeralah Gray ingat bahwa ia pernah membaca buku ini sebelumnya. Kisah tentang perjalanan musafir bernama Ramine yang berkelana ke berbagai negeri setelah dicopot dari jabatannya di istana. Ia menemukan keindahan dunia dan merasakan kehangatan, jauh dari tembok istana yang dingin. Bahwa meskipun dunia ini terasa kejam, masih ada banyak keindahan jika kita mau melihatnya.

Ia tertawa kecil saat melihat halaman belakang buku itu. Halaman yang kosong itu dipenuhi coret-coretan namanya: 'Senpai~ I love you', 'Senpai', 'Gray-senpai', 'Senyum satu juta joule :)', dan sejenisnya yang dipenuhi tanda hati. Sungguh. Kalau gadis itu begitu mencintainya, kenapa ia pergi?

Gray lalu membuka laci kabinet Claire dan melihat sebuah kotak kecil. Ia mengambil kotak itu dan meletakkannya di atas meja bulat yang terletak di tengah ruangan. Dibukanya kotak itu. Di dalamnya ada beberapa gelang tali yang kadang digunakan Claire, batu saphhire biru kecil, beberapa lembar kerangka tulang daun yang telah dicelup warna warni, dan beberapa foto. Ada satu foto tidur Gray yang dulu diambil oleh Ann dan dua foto lain yang diambil diam-diam saat Gray SMP.

"Haha, dia benar-benar stalker," kata Gray pada dirinya sendiri.

Ada satu foto yang Gray kenal: foto pernikahan temannya tahun lalu. Di sana ia ikut berfoto bersama dengan beberapa orang lainnya. Di balik foto itu Gray bisa menemukan tulisan dengan spidol hijau: "I found you, Senpai!", tak lupa dengan tanda hati besar di dekatnya. Mungkin foto inilah yang membuat Claire menemukannya. Lalu tanpa buang waktu, Claire segera mengejarnya kemari. Bahkan sampai membeli tanah pertanian yang telah terbengkalai selama bertahun-tahun hingga dijual dengan harga murah ini.

Gray membenamkan wajahnya di atas meja. Rasa sakit menggerogoti sudut hatinya.

Kenapa ia tak mampu mengatakannya waktu itu?

Meski Claire selalu jujur dan menyatakan perasaannya, kenapa ia tidak bisa?

Dan hanya karena Gray tak membalas perasaannya, dia pergi?

Kau curang, Claire.

Apa dia tidak mengerti kode-kode yang dilancarkan Gray belakangan ini?

Tidak.

Aku yang salah.

Kami bukan alien yang mampu berkomunikasi dengan pikiran.

Jika aku tak mengatakannya dengan jelas, bagaimana mungkin dia mengerti?

Bahwa aku juga mencintainya.

.

.

.

Dengan menggunakan telepon Doug's Inn, Gray mencoba menelepon Ash, teman SMA nya yang foto pernikahannya membawa Claire kemari.

"Claire? Aku tidak kenal," katanya.

"Uhm... apa ada gadis berambut pirang panjang yang bertanya padamu tentang aku?" Gray tak menyerah.

"Eh... sebentar," Ash terdengar berbicara dengan seorang wanita di seberang telepon. Tak lama kemudian sepertinya terjadi peralihan pembicara.

"Hey, Gray!" suara wanita tadi nyaris membuat telinga Gray berdenyut saking kerasnya. "Ini Georgia, teman Ash!"

Cara bicara wanita itu yang seperti mengenal dia, membuatnya sedikit bingung. "Uh, ya?"

"Aku yang memberikan alamatmu pada Claire. Dia teman kerjaku dulu," kata Georgia.

Segera saja Gray menggenggam gagang teleponnya lebih keras karena merasa akhirnya menemukan orang yang mengenal Claire baru-baru ini. Saking excited nya, bicaranya jadi sedikit terbata-bata, "Anu.. kau... tahu, di mana dia berada... sekarang?"

"Aku tahu," sebelum Gray sumringah, ia segera memotongnya, "Jika kau ingin tahu, datanglah kemari."

Begitu selesai Georgia langsung menutup teleponnya. Gray tersenyum senang sampai harus menggigit bibirnya untuk menahan diri agar tak berteriak. Ia merasa hatinya menggembung sampai rasanya ia bisa meledak.

Sekecil apapun petunjuk yang ia dapat, meskipun ia tampak seperti orang bodoh, ia akan menemukan Claire. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang menahannya untuk kembali. Karena jika gadis itu benar-benar pergi untuk selamanya, ia tak mungkin meninggalkan benda-benda berharganya. Ya, Gray yakin itu.

~000~

Aroma rumah sakit telah sangat familiar di hidung Claire beberapa hari ini. Claire membuka matanya dan menemukan dirinya tertidur di sisi ranjang ibunya dirawat. Menurut dokter sakit ibunya tak begitu parah, hanya tekanan psikologis membuat mentalnya lemah. Hanya jika Claire atau anggota keluarga lainnya berada di sisinyalah ibunya merasa baikan. Jika tidak, kadang ibunya akan berteriak-teriak karena kepalanya sakit. Dengan keadaan ibunya seperti ini tidak mungkin Claire kembali ke Mineral Town. Meski ia sangat, sangat merindukan senpainya.

Sreek.

Pintu geser kamar rawat terbuka dan seorang pria paruh baya memasuki ruangan dengan membawa plastik berisi makanan. Ia tersenyum dan menyerahkan satu kotak bento pada Claire. "Makanlah," katanya.

Claire menerima bento dan membalas senyumnya, "Terimakasih, Otoo-sama."

Pria yang merupakan ayah angkat Claire itu menggeleng kecil, "Tidak. Aku yang harusnya berterimakasih. Kau jauh-jauh ke sini, meski kau sedang mengejar mimpimu."

Mendengar ucapan hangat itu, Claire menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil menggigit bibir.

"Tak apa jika kau ingin kembali ke desa itu," cetus ayahnya setelah duduk di kursi lain. Wajahnya masih tersenyum. Dan Claire bisa merasakan ketulusan dari sana. Ada yang berubah darinya sejak terakhir kali Claire menemuinya. Ia merasa ayahnya kembali seperti ayahnya dulu, waktu Claire masih kecil. Ayah yang sangat menyayanginya seperti anak sendiri. Yang berubah menjadi pendiam dan menghindari kontak dengannya sejak ia SMA.

"Tapi..." Claire tampak tak yakin. Ia kembali memandang ibunya yang masih terbaring tidur dengan infus di lengannya.

Ayah Claire membaca keraguan anaknya itu, "Ada aku, Mikhail, dan Reina yang akan menjaganya." Ia lalu mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Claire, namun melihat Claire yang tampak begidik, ia mengurungkan niatnya.

"Soal Mikhail... aku sungguh minta maaf," ucapnya sambil menunduk dalam-dalam. Mendengar nama kakak angkatnya disinggung dalam topik, Claire langsung terdiam. Keheningan mengisi ruang rawat kelas 1 itu selama beberapa saat. Topik yang mereka bicarakan akan sangat berat. Claire merasa pikirannya blank. Antara ingin dan tak ingin kabur. Ia takut. Dulu ayahnya tak bicara apapun saat ia dibilang berhalusinasi yang tidak-tidak –bahwa Mikhail memperkosanya. Ibunya membujuknya agar tenang dan berpikir jernih, seolah ia tak waras. Dan Mikhail, dengan tenangnya memasang wajah seperti sedang di atas angin. Apa yang lebih menyakitkan dari pada itu? Tapi ia tetap tinggal bersama ibunya setelah itu karena kesehatan ibunya yang buruk.

"Waktu itu yang bisa kulakukan hanyalah mengirim Mikhail belajar ke luar negeri . Tapi tetap saja yang kulakukan itu salah," lanjut ayahnya. Hati Claire mencelos. Jadi saat itu ayahnya percaya padanya? Dan melakukan itu demi menjauhkan Claire dari Mikhail?

"Ibumu sangat mencintaimu, Claire. Tapi ia juga sangat mencintai Mikhail, dan itu membuatnya menutup akal sehatnya. Dan aku memilih melindungi ibumu dan Mikhail dari pada kau," akunya. Sampai di titik ini air mata Claire sudah membanjiri wajahnya. Sakit sekali rasanya mendengar kenyataan yang diutarakan dalam kata-kata. Tapi hanya inilah caranya. Agar mereka semua bisa menerima kenyataan, agar mereka bisa mengambil langkah maju ke depan.

"Hatiku juga sakit selama ini... Menutupi kesalahan anak sendiri demi nama baik keluarga, dan mengorbankan perasaanmu. Bahkan memaksamu tinggal demi ibumu, menyakitimu..." kata-kata ayahnya terpotong sampai di sini. Ia menangis. Tangisan yang membuat hati Claire mencair. Dan mencairkan air matanya. "Maaf… Maafkan ayah…" ucap sang ayah dengan suara serak karena menahan tangis.

Situasi haru itu pecah oleh suara ibu Claire yang sepertinya bermimpi buruk. Dengan susah payah ia berhasil membuka matanya. Dan begitu menemukan Claire dalam jarak pandangnya, ia langsung memeluk Claire.

"Claire! Kau di sini! Syukurlah!" seru ibunya lega. Claire yang dipeluk sangat erat itu hanya bisa pasrah sambil memandang wajah ayahnya.

Ada banyak hal yang ingin ia teriakkan keras-keras. Tapi semuanya sirna saat melihat wanita lembut yang mengasuhnya dengan kasih sayang itu seperti akan hancur berantakan. Sampai kapan wanita ini akan hidup dalam depresi? Siapa yang bisa menolongnya? Siapa yang bisa menolong Claire?

Dan salju pertama pun turun di kota ini tanpa Claire sempat melihatnya.

~000~

Di sinilah Gray berada: sebuah kafe di Bluebell yang jauhnya 3 jam perjalanan dengan kereta dari Mineral Town. Seorang wanita cantik dengan rambut cokelat bergelombang duduk di hadapannya. Wanita itu mengamatinya lekat-lekat sejak pertama kali mereka bertemu,seolah melihat spesies langka.

"Jadi kau yang namanya Gray!" seru gadis itu.

"Ya, aku Gray. Di mana Claire?" tanya Gray to the point. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman dengan perlakuan Georgia padanya.

"Claire tidak di sini. Ia di tempat orang tuanya, di kota sebelah. Di sana jugalah aku bertemu dengannya."

Pengakuan cuek Georgia membuat Gray tak mampu bersabar lagi. Ia berdiri dari kusinya dan memasang aura mengancam, "Lalu kenapa kau menyuruhku kemari?"

"Aku hanya ingin melihatmu, Mr. Senpai~" jawabnya enteng.

Gadis itu tahu tentang panggilan Claire padanya. Wajah Gray memerah dan kembali merosot ke tempat duduknya.

Melihat Gray yang kembali tenang, Georgia melanjutkan pembicaraan. "Dia langsung menangis bahagia begitu melihatmu di foto pernikahan Ash. Haha, padahal aku tak sengaja menunjukkannya. Kupikir, 'ah, bagaimana bisa ia mencintai orang yang tak pernah ditemuinya lagi sejak SMP? Apa dia gila?'. Dan ternyata dia benar-benar pergi mengejarmu. Hebat."

Cara bicara Georgia mungkin terdengar mengejek, tapi Gray tahu ia tulus saat mengatakan bahwa Claire hebat. Gray begidik saat tiba-tiba Georgia menatapnya tajam.

"Kau mencintainya?"

Tanpa berkedip, Gray menjawab yakin, "Ya."

Georgia berusaha menahan tawanya, tapi tak bisa. Ia tertawa puas mendengar jawaban Gray itu, "Hahaha! Hebat, Claire! Kau berhasil!"

Setelah tawanya reda barulah ia masuk ke inti pembicaraan dengan serius, "Sejujurnya aku tak berteman sangat dekat dengan Claire. Aku hanya tahu dia mengikuti terapi androphobia diam-diam, dan punya obsesi padamu. Aku dengar dari temanku di kota bahwa Claire kembali karena ibunya dirawat. Dan sebelum kau kemari, aku sudah mencari tahu."

"Di mana ia dirawat?" tanya Gray cepat.

"Rumah sakit A ruang 106,"

Gray segera bangkit dari duduknya dan membungkuk mengucapkan terimakasih, lalu bergegas pergi.

"Hey, Gray!" seruan Georgia menghentikan langkahnya. "Culik dia!" ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat tangannya yang terkepal.

Gray ikut tersenyum dan melanjutkan langkah kakinya yang kini terasa lebih ringan, dengan berlari. Seandainya ia bisa terbang, ia akan terbang ke sisi Claire sekarang juga.

.

"Hey, seandainya aku bisa bertemu denganmu sekali lagi

Mungkinkah aku akan bisa mengatakannya dengan jelas?

Tapi di bawah bulan cat air itu, lagi-lagi

yang bisa kulakukan hanyalah menatap wajahmu dari samping.

Ada banyak hal yang belum kukatakan padamu,

kata-kata saja tak akan cukup.

Seperti halnya dirimu, sekarang akulah yang akan pergi menemuimu."

(Hata Motohiro – Suisai no Tsuki)

.

.

A/N:

Terimakasih sudah membaca fanfic ini x3

Dan makasiih banyaak atas review nya, Aya–san, Sierra-san, Hina-san, Sae-san, dan Risu-san! xD

Meski background fanfic ini sebenernya gelap, tapi aku senang kalian tetep suka :)). Mungkin akhirnya Gray tahu kalau jadi stalker itu nggak gampang, hahaha.

Yosh, di chapter berikutnya akan ada konflik yang menentukan langkah Claire selanjutnya. See ya! :3