Disclaimer: Harvest Moon dan segala karakternya bukan punya saya, saya cuma punya plot ceritanya :3
.
.
.
~10~
"Under the cherry blossoms tunnel"
.
.
.
Claire tersenyum saat melihatnya tersenyum. Musim dingin sembilan tahun lalu, ia jatuh cinta pada senyuman itu. Senyuman yang bersinar sehangat matahari. Ia suka rambut orange nya yang berkilau terkena cahaya matahari pagi. Atau ekspresi tertawanya saat bercanda dengan teman-temannya. Juga ekpresi seriusnya ketika sendirian menunggu bus di halte. Ingatan Claire masih sangat bagus. Jika kenangan-kenangan itu bisa diabadikan dalam foto, dan Claire menyusun foto-foto itu, mungkin satu lapangan sepak bola akan tertutup oleh mozaik memorinya yang begitu besar. Saking besarnya, hatinya tak akan sanggup menampungnya. Perasaannya meluap-luap dan kadang mencair menjadi air mata.
Seperti saat ini.
Ia sama sekali tak menyangka akan melihat rambut orange hangat itu di antara tembok putih rumah sakit yang dingin. Radarnya memang tak pernah salah. Dan cukup dengan melihat pria itu dari belakang, Claire tahu apa yang harus ia lakukan: kabur.
Sayangnya pria berambut orange itu segera menemukannya. Meski tanpa overall birunya, pria itu sudah bisa mengenali Claire dari rambut pirang panjangnya, postur tubuhnya, caranya berlari, semuanya.
"Claire!" teriak Gray. Ia tak lagi peduli bahwa sekarang ia berada di rumah sakit. Dikejarnya punggung Claire. Semakin kencang gadis itu berlari, semakin kencang pula ia mengejar, menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Pelarian Claire berakhir di atap rumah sakit yang juga berfungsi sebagai tempat jemuran. Ia tersudut.
Dengan napas terengah, Gray berjalan lunglai ke arah Claire yang kini terduduk di sisi pagar pembatas atap. Bahunya naik turun. Rambutnya berantakan tertiup angin. Kaos hitam oversizes nya bahkan sedikit berkibar. Ia tak bisa lari lagi.
"Kau! Beraninya kau lari dariku!" geram Gray. Tak ada tanggapan. Hanya desau angin terdengar dari celah-celah pagar dan merambati daun telinganya yang memerah. Begitu Claire berada dalam jarak rengkuhannya, ia langsung memeluk gadis itu dari belakang. Jelas saja Claire nyaris melompat kaget.
"Se-senpaii, lepaskan aku..." pinta Claire dengan nada memohon. Ia sangat berantakan saat ini. Rambutnya acak-acakan karena angin, wajahnya merah, matanya berair menahan tangis. Tapi semakin tangan gemetar Claire mencoba menyentuh lengan Gray untuk melepaskan pelukannya, semakin erat Gray memeluknya.
"Tidak akan," tolak Gray. "Kau tahu betapa sulitnya aku mencarimu? Kupikir kau menghilang atau apa." Dibenamkannya wajahnya yang juga merah pada rambut Claire. Seolah menghirup aroma Claire mampu mengisi rasa rindunya yang sudah keterlaluan. Tindakannya mungkin memalukan. Dan ini sangat tidak 'Gray'. Tapi peduli apa?
Pada akhirnya Claire tak bisa melawan kekuatan Gray. Rasa hangat menyelimuti punggung, bahu, dan semua bagian tubuhnya yang disentuh oleh Gray. Ia bisa merasakan napas Gray di belakang telinganya. Dan lengan yang memeluknya itu sedikit gemetar. Ia tak berani menoleh sebab jika ia menoleh ia yakin wajah mereka akan langsung bersentuhan.
Uap putih keluar dari mulut Gray saat ia mengatur napasnya yang berantakan -efek berlari dan panik.
"Se-senpai? Bisa kau lepaskan aku?" pinta Claire lagi,"O-orang-orang melihat kita..."
Itu benar, mereka tak hanya berdua di atas atap. Ada beberapa orang tua yang sedang duduk-duduk santai, ataupun keluarga pasien yang sedang menjemur cucian. Dan mata semua orang tertuju pada sepasang muda mudi yang berlarian, berteriak, lalu berpelukan secara dramatis itu. Beruntung wajah mereka tak nampak karena menghadap pagar pembatas.
"Diamlah," bisik Gray. Wajahnya luar biasa merah. Tadi ia bertindak tanpa berpikir, tak peduli situasi. Namun kini ia merasa terjebak dalam situasi yang super awkward. "Sekarang aku malu sekali. Jika aku melepasanmu, mereka akan melihat wajahku."
Mendengar alasan itu Claire jadi sedikit kesal.
Ia marah dengan suara sepelan mungkin, "A-aku juga malu! Makanya lepaskan aku!"
Gray terdiam beberapa saat, berpikir. Akhirnya ia berbisik pada Claire, "Kita berjalan ke pintu seolah tak terjadi apa-apa. Oke? Satu... dua..."
"Eh?! Sen..."
"Tiga."
Tanpa sempat Claire berpikir, Gray menggamit tangan Claire dan mengajaknya berjalan meninggalkan atap. Mereka berusaha berjalan setenang dan secepat mungkin, dengan wajah menghadap samping agar tak terlihat orang lain. Tapi Claire bisa melihat jelas rona merah di telinga dan wajah Gray. Pemandangan yang sangat sayang dilewatkan. Dan Claire lebih memilih melihat pemandangan itu dari pada berjalan sambil melihat tembok. Begitu sampai di koridor yang cukup sepi barulah Gray berhenti dan melepaskan tangan Claire.
"Maaf," ucap Gray. Ia berjongkok sambil menutupi wajah dengan punggung tangannya. Claire yang tiba-tiba kehilangan kekuatan kakinya ikut terduduk. Mereka terdiam cukup lama, hingga tawa kecil Claire memecah suasana. Dan melihat gadis itu tertawa sambil menangis Gray pun ikut tertawa.
"Bagaimana senpai tahu aku di sini?" tanya Claire setelah suasana di antara mereka lebih cair.
"Dari foto pernikahan Ash yang ada di laci mejamu. Aku ke Konohana dan menemui Georgia, lalu ke sini," jelas Gray. Mulut Claire nyaris menganga karena tak percaya pada usaha keras yang telah dilakukan senpainya hanya demi dirinya. "Aku bahkan menghubungi teman-teman satu SMP ku untuk mencarimu. Tapi alamatmu berubah, nomor teleponmu berubah. Kau memaksaku menjadi stalker yang mengeledah rumahmu," lanjutnya dengan tampang bete yang disengaja.
Claire jadi merasa sangat bersalah.
"Karena itu cepatlah kembali," kata Gray dengan nada memerintahnya yang biasa. Namun reaksi patuh yang selalu ia dapat dari Claire ternyata berubah menjadi gelengan kepala.
"Aku tidak bisa kembali ke sana," tolak Claire.
Alis Gray bertaut. "Kenapa?"
"Aku tidak bisa meninggalkan ibuku..."
"Ibumu sakit?"
"Uhm... itu..."
"Biarkan aku bicara dengannya," potong Gray sambil menatap Claire tajam.
"A-apa yang ingin senpai bicarakan?"
Firasat Claire buruk soal ini. Gray tahu semua tentang ia dan dan keluarganya. Jika mereka bertemu, ia takut Gray akan mendesak ibunya masalah Mikhail. Masalah androphobia nya.
"Apa saja," jawab Gray enteng. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju kamar no. 106 sesuai petunjuk Georgia. Di belakangnya, Claire hanya mampu mengikutinya tanpa bisa menghentikan Gray.
Begitu Gray menggeser pintu kamar, seisi kamar langsung melihatnya kaget. Di kamar single itu ada ibu dan ayah Claire, Mikhail, dan Reina. Mereka tampak telah berberes untuk meninggalkan kamar. Rupanya hari ini Ibu Claire sudah keluar dari rumah sakit.
Claire sadar mata Gray memandang benci pada Mikhail, seolah ingin membunuhnya. Untungnya Gray dapat mengendalikan diri dan memfokuskan tujuannya pada ayah dan ibu Claire. Langsung saja Gray menghampiri mereka, menatap mereka tajam, lalu menyapa mereka, "Perkenalkan, namaku Gray! Kalian... "
Karena panik, Claire berusaha menghentikan Gray dengan memeluk pinggangnya dari belakang, "Se-senpai, hentikan!"
"Tolong berikan Claire padaku!" seru Gray sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
Sontak seluruh orang di dalam ruangan itu kaget, termasuk Claire yang masih belum melepaskan pinggang Gray.
Sang ibu tampak paling shock. Wajahnya masam menanggapi pria yang tak dikenalnya itu. Dipandanginya Gray dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gray hanya memakai kaos oblong, celana jeans, dan mantel lama. Ia jelas tak suka pada gaya berpakaian Gray yang menurutnya tak berkelas.
"Dari keluarga mana kau? Siapa orang tuamu? Beraninya kau..."
Belum sempat ibu Claire memulai makiannya, sang ayah berdiri di antara Gray dan wanita itu. "Namamu Gray? Di mana kalian bertemu?" tanya sang ayah dengan senyum lembut di wajahnya. Ia melihat Claire -yang segera melepas pelukannya, juga dengan senyum yang sama.
"Sebenarnya Claire sudah sangat lama mengenalku. Tapi aku baru mengenalnya saat ia ke Mineral Town," jawab Gray.
"Oh..." responnya, "Berikan padamu maksudnya kau mau menikahinya? Itu mungkin tak mudah. Kau tahu dia punya masalah kan?"
Pertanyaan sang ayah yang sangat memancing itu membuat seisi ruangan terbungkam. Kecuali Reina, semua tahu masalah yang dimaksud sang ayah.
"Aku tahu semuanya," jawab Gray yakin. Matanya kemudian memandang tajam pada Mikhail dan sang ayah langsung mengerti maksud tatapan itu. "Androphobianya tidak jadi masalah. Kalaupun kami tidak bisa berhubungan seks, aku akan menunggu hingga dia siap..."
"He-hey! Apa yang kau katakan?!" geram ibu Claire. Ia nyaris melempar Gray dengan botol minuman seandainya sang ayah tidak menghentikannya dengan isyarat tangannya.
Sang ayah tersenyum dengan tenang pada Gray, "Kau mencintai anakku?"
"Ya, aku sangat mencintainya," jawab Gray tanpa mengalihkan wajahnya dari mata sang ayah.
"Bisa kau membuatnya bahagia?"
"Pasti."
Ia tak sadar ekspresi seriusnya itu membuat jantung gadis pirang di sebelahnya nyaris berhenti karena terlalu cepat memompa darah.
"Claire, jika kau juga mencintainya, pergilah bersamanya," kata si ayah memberi izin. Namun hati wanita di sampingnya tidaklah selapang itu.
"Claire! Jika kau pergi, kau bukan bagian dari keluarga ini lagi!" ancam wanita itu.
Gray tak mendengarkan ancaman ibu Claire, ia hanya segera menyambut izin sang ayah, "Terimakasih!" kata Gray, lalu menggandeng tangan Claire dan membawanya keluar dari ruangan. Mereka tak langsung pergi karena kaki Claire terhenti dua langkah dari pintu. Ia tampak berpikir keras dan penuh keraguan. Gray melepas pegangan tangannya.
"Suamiku, kau bilang apa?! Aku tidak mau Claire pergi!" sergah si Ibu tak setuju.
Sampai sini suaminya masih bisa menahannya dengan tenang, "Kita tak bisa menahannya di sini, sayang."
"Tidak! Kau mau anak kita menderita dengan pria tak jelas itu?! Apa yang akan dikatakan orang lain tentang kelarga kita..."
"DIAM!"
Untuk pertama kalinya ayah Claire berteriak. Si suami memandang istrinya dengan tajam, "Kitalah yang membuatnya menderita dengan menahannya di sini!"
Claire hanya bisa tertegun mendengar suara ayahnya meledak. Ia bisa membayangkan betapa marah ayahnya. Tak pernah sekalipun dilihatnya pria pendiam itu marah hingga urat-urat lehernya mencuat. "Apa pernah kau tahu anakmu itu androphobia? Apa pernah terbesit di pikiranmu bahwa hanya karena keegoisanmu, keegoisan kita, anak itu menanggung semua beban berat sendirian? Terimalah kenyataannya, kita sudah gagal menjaganya! Keluarga ini bobrok!"
Tangan Claire kembali meremas ujung lengan mantel Gray, mencari kekuatan. Gray yang menyadari itu segera menggenggam tangannya, menguncinya erat di antara buku-buku jarinya.
Suara sang ayah kembali terdengar dari dalam kamar, "Kita sudah terlalu menyakitinya, dan tak pantas untuk mengharapkannya terus di sini. Orang tua harusnya bersikap kuat demi anak-anaknya! Bukan seperti ini! Dia sudah dewasa. Biarlah Claire mendapat kebahagiaannya. Biarkan dia bergerak maju. Agar kita juga bisa maju. Dan kau, Mikhail..."
Jantung Claire berdegup kencang saat nama orang yang dibencinya itu disebut.
"Aku dan Ibumu juga sama salahnya denganmu. Kita bicarakan lagi nanti di rumah," kata sang ayah.
Kemudian terdengar suara tak puas Mikhail. Ia keluar dari kamar dan menemukan Gray-Claire yang sedang bergandengan tangan. Wajah ramah Mikhail telah pudar, berganti dengan wajah marah dan penuh kebencian.
"Bitch.Tak tahu diri. Padahal kau juga menikmatinya kan," hardik Mikhail seraya berjalan meninggalkan mereka berdua. Gray tak tinggal diam. Ia naik pitam dan menarik kerah jaket Mikhail, lalu tanpa ragu mendaratkan sebuah pukulan keras di pipi kanan pria berambut terang itu hingga kaca matanya terjatuh di lantai rumah sakit. Keributan yang terjadi mengundang perhatian beberapa orang yang berada di sekitarnya.
"Apa ada yang salah dengan otakmu? Jangan pernah muncul di depan Claire lagi," geram Gray. Ia yang tak mau membuat masalah lebih besar lagi segera menarik tangan Claire dan menuntunnya menjauh dari lokasi. Claire hanya mengikuti Gray tanpa tenaga kemanapun pria itu membawanya. Persis seperti kejadian di restoran okonomiyaki tempo hari. Di langitnya yang selama ini kosong, Gray seperti awan yang memberinya hujan yang menyegarkan. Seperti pahlawan yang muncul dan mengangkat tubuhnya tak bisa bergerak.
Gray mengajak Claire berjalan ke stasiun kereta yang tak jauh dari sana. Ia membeli tiket lalu naik kereta. Mereka duduk bersisian di salah satu bilik kosong dalam kereta. Ia mulai sangat khawatir karena Claire hanya diam menatap keluar jendela kereta. Dan di saat seperti ini ia selalu tahu apa yang harus dilakukannya. Ia menyandarkan kepala Claire di bahunya. Tangannya menepuk-nepuk pelan kepala Claire.
"Senpai..." isak Claire.
"Hm?" Gray menanggapinya dengan suara lembut.
Dengan terbata-bata, Claire melanjutkan kata-katanya, "Dia salah... aku... tak pernah..."
Kata-kata Claire terhenti tak kuasa dilanjutkan. Gray mengerti maksud Claire. Ia bicara soal perkataan Mikhail sebelumnya.
"Aku tahu," sahut Gray.
Matanya lalu melihat langit-langit. Ia bersyukur tak ada penumpang lain di bilik yang bisa memuat 6 penumpang ini. Karena saat ini air matanya ikut mengalir bersama Claire. Kapan terakhir kali ia menangis? Ia tak ingat.
"Claire," kata Gray. Suaranya sedikit serak saat ia melanjutkan, "Kenyataannya, tak semua keluarga itu baik seperti kelihatannya. Aku tahu kau merasa berhutang budi pada mereka karena telah membesarkanmu. Tapi lepaskanlah, Claire. Kau juga berhak untuk bahagia."
Tangis Claire semakin menjadi saat Gray memeluknya. Hatinya luar biasa perih, dan Gray bisa merasakan itu. Keluarga yang telah dianggapnya seperti keluarga kandungnya sendiri, pada akhirnya masih lebih memilih menyingkirkannya untuk menutup masalah. Apakah itu wajar? Claire tidak tahu. Lagi pula apa yang Claire harapkan? Permintaan maaf? Hukuman untuk Mikhail? Kembali berkumpul sebagai keluarga seolah tak pernah terjadi apapun?
Tak ada.
Tak ada. Semuanya sudah rusak.
Ini kenyataannya.
~000~
Hari sudah larut ketika mereka sampai di pelabuhan Mineral Town. Desa yang kini putih tertutup salju sempat membuat Claire pangling. Langit di kota ini cerah, dan bintang-bintang bersinar begitu indah menghiasinya. Entah kenapa, semuanya tampak berbeda. Sama seperti pria di sebelahnya ini. Ia selalu tahu bahwa Gray sebenarnya orang yang lembut dan baik. Ia kini juga tahu bahwa ternyata Gray sangat mencintainya. Dan Gray tak melepaskan tangannya sejak mereka turun dari kapal hingga tiba di depan rumah Claire. Ini membuatnya bahagia, tapi juga takut. Bagaimana jika semua ini tidak nyata? Bagaimana jika ia sedang berhalusinasi karena stress?
"Claire," kata Gray memecah pikiran negatifnya.
"Y-ya?" sahut Claire gugup.
Gray kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong bagian dalam mantelnya. Sesuatu yang membuat mata Claire membulat tak percaya.
Bulu biru.
Benda yang sama yang dimiliki semua wanita yang sudah menikah di Mineral Town.
Mata biru Gray memandangnya lurus. Berlatar langit berbintang musim dingin, malam biru, dan sinar bulan separo yang bergantung di langit, Gray mengatakan kata-kata yang menyempurnakan indahnya malam itu.
"Jadilah istriku. Tetaplah di sisiku selamanya. Dan buatlah keluarga kecil bahagia bersamaku. Karena hanya kau... yang mampu membuatku merasa seperti ini."
Air bening pun keluar tak tertahankan dari sudut matanya. Dengan tangan gemetar, Claire menerima bulu biru itu. Dipeluknya bulu biru tersebut hati-hati dengan kedua tangannya, dan ia letakkan di depan dadanya.
Gray terseyum melihat Claire menerima lamarannya. Ia memang sudah menyiapkan bulu biru sebelum pergi mencari Claire. Mungkin memang sangat tidak 'Gray'. Tapi peduli apa?
Ia telah tenggelam dalam cinta gadis pirang itu.
Setelah melihat Claire masuk ke rumah dan menutup pintunya, Gray kembali ke Inn. Tak ada orang di sana karena sudah masuk jam tutup restoran. Kejadian hari ini sejujurnya sangat bertubi-tubi dan membuatnya lelah. Tapi justru karena itulah ia ingin menghubungi dua seorang yang sudah lama tidak dihubunginya.
Gray memutar nomor telepon. Nada tunggunya membuatnya agak gugup. Tapi begitu suara wanita menjawab panggilan itu, ia merasa air matanya mau meleleh lagi.
"Halo?"
"Halo, Mama? Ini Gray..." kata Gray.
Suara di balik telepon tampak panik bercampur senang bercampur takut.
"Eh?! G-Gray! Pa-Papaa, Gray menelepon!" seru ibunya. Mungkin ia tak sadar bahwa Gray bisa mendengar jelas semua kepanikan papa dan mamanya. "Ya ampun, biasanya selalu mama yang menelepon! Kupikir kau tak akan menelepon kecuali kau mau menikah!"
Gray tertawa kecil mendengar dugaan ibunya. Ia bersyukur. Dulu ia selalu berpikir negatif tentang kedua orang tuanya. Bahwa mereka tak menyayanginya, bahwa mereka hanya mementingkan pekerjaan. Dan akhirnya Gray sendirilah yang membangun jarak dengan mereka. Meski sebenarnya dalam hati ia tahu kedua orangtuanya terpaksa bekerja keras karena ekonomi yang memang sulit. Mereka tak pernah membagi kesulitan itu padanya. Mereka selalu terlihat kuat di depan Gray. Dan membiarkan Gray memilih jalan hidupnya sendiri.
Mungkin orang tuanya bukan tipe yang bisa selalu bersamanya, menemaninya bermain, atau memanjakannya seperti teman-temannya. Tapi ia menyayangi mereka.
"Aku memang akan segera menikah, Ma."
~000~
Musim semi.
Hari ini Gereja Mineral Town kembali ramai. Sepasang pengantin akan mengikat janji suci. Mereka adalah Gray dan Claire.
Kedua orang tua Gray datang. Dan ayah Claire juga datang meski sendirian. Ash dan istrinya, Laney, juga Georgia pun datang. Lalu tentu saja, seluruh penduduk Mineral Town ditambah dengan Jack.
Suasana jadi riuh karena saat penghulu mengizinkan Gray mencium Claire, ia hanya mencium keningnya. Claire tahu alasan Gray: bagi Gray berciuman di depan umum itu terlalu memalukan.
Semua acara selesai pukul 7 malam. Pengantin baru itu kembali ke rumah Claire -yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka berdua.
Gray melepas jas dan mengendorkan dasinya. Sementara Claire tampak kesulitan meraih resleting gaunnya. Dengan ragu-ragu Gray menawarkan bantuan. Dan dengan ragu-ragu juga Claire menerima bantuannya. Claire melepas gaunnya dan membiarkan lapisan dalam gaunnya terlihat. Dan saat itu Gray jelas-jelas tak mengalihkan pandangannya dari tubuh Claire. Wajah Claire seketika memerah. Itu membuat Gray merasa sangat bersalah.
"Uhm... Claire. Kau mau mandi dulu?" tanya Gray.
Respon Claire sangat lambat, gugup, dan terbata-bata, "Eh? Oh, I-iya. A-aku mandi dulu, Senpai!"
Gray memandangi Claire yang masuk kamar mandi. Sepeninggal Claire ia langsung menghempaskan tubuhnya di double bed mereka. Ia menjitak dahinya sendiri, berusaha mengontrol pikirannya.
"Ingat, Gray. Claire sedikit berbeda. Jangan menakutinya seperti itu. Kau harus pelan-pelan."
Tapi bagaimana bisa ia menahan dirinya? Claire sudah menjadi istrinya sekarang. Mereka akan tidur bersama. Dan hari ini Claire sangat cantik...
"Se-senpai, aku sudah selesai," katanya. Tak disangka, ia sudah memakai gaun tidurnya, siap untuk tidur.
Gray merasa di tampar oleh fantasi buruknya sendiri. Ia sudah berjanji pada dirinya bahwa ia akan mengikuti pace Claire. Harusnya ia sudah siap jika malam pertama mereka baru bisa terjadi musim selanjutnya.
Selesai mandi, entah kenapa Gray yakin istrinya sudah tidur pulas karena lelah.
Tapi tidak. Istrinya masih duduk di sisi tempat tidur, menunggunya dengan gelisah.
Gray -yang hanya menggunakan celananya, naik dan duduk di tempat tidur. Ia akan mencoba peruntungannya.
Mereka berhadapan, berpandangan malu-malu dengan wajah merah. Claire sempat melonjak saat Gray memegang kedua tangannya.
"Claire, kau yakin? Kita tak perlu terburu-buru..."
Claire menggeleng cepat. Wajahnya yang polos tanpa make up terlihat khawatir, "A-aku tidak apa-apa. Karena aku mencintaimu, Senpai..."
Mendengar kata 'oke' dari Claire, Gray berdeham salah tingkah. " Ehem! Jangan panggil aku senpai lagi. Aku sudah bukan kakak kelasmu."
"Eh?"
"Panggil aku Gray."
Dengan suara kecilnya, dengan wajah merahnya, dengan matanya yang berusaha menghindari tatapan Gray, Claire mengikuti keinginan suaminya itu. "G-G-Gray..."
"Ya, Claire?" sahutnya. Ia mengangkat wajah Claire, tapi gadis itu kembali menunduk.
"Kuharap ini adalah yang pertama bagiku..."
Gray tersenyum. Diangkatnya kembali wajah Claire dengan memegang kedua pipinya. Lalu didaratkannya sebuah ciuman lembut di bibir Claire.
"Mulai sekarang, itu adalah ciuman pertamamu," kata Gray. Menyisakan degup jantung luar biasa cepat Claire hingga ia tak sanggup bicara lagi. Gray lalu memegang kedua bahunya, membaringkannya pelan di atas tempat tidur.
Setelah mencium keningnya, Gray berbisik lembut di telinganya, "Dan selanjutnya, semuanya adalah yang pertama kalinya bagimu..."
~000~
Musim semi.
Claire berjalan pelan, menengadah melihat kelopak bunga sakura yang berjatuhan bagaikan salju. Ini adalah tunnel sakura kesukaannya yang berderet dari rumah Gotz hingga jalur masuk belakang pertaniannya. Ia harap, musim semi tahun depan mereka bisa kemari lagi bersama anak pertama mereka.
"Claire," panggil Gray yang berjalan di depannya, mengulurkan tangan. "Bukankah sudah kubilang? Jangan berjalan di belakangku lagi. Berjalanlah di sampingku."
Claire tersenyum simpul.
Disambutnya uluran tangan Gray. Seolah tahu kebahagiaan ibunya, Claire bisa merasakan janin di perutnya menendang-nendang kecil.
Dulu ia tak pernah menyangka hari seperti akan tiba: androphobianya sembuh, ia bisa menikah dengan senpai pujaannya, ataupun tinggal di desa yang tenang dan indah. Seandainya dulu ia menyerah pada keadaan, seandainya ia tak cukup berani untuk keluar dari lingkaran setannya, seandainya ia tak optimis seperti Ramine dalam kisah Wonderer, semua ini tak mungkin terjadi.
Kita bukan alien yang bisa mengetahui pikiran orang lain.
Karena itu jika kau mencintai seseorang, katakanlah.
Jika kau menginginkan sesuatu, kejarlah.
Dan jika kau merindukan seseorang, temui dia.
Karena waktu tak akan menunggu.
Dan takdir adalah sesuatu yang bisa kau raih dengan tanganmu sendiri.
Seandainya gagal pun, setidaknya kau tak akan menyesal.
.
"Hey, Gray."
"Hm?"
"Aku selalu, selalu, selalu mencintaimu."
Gray tertawa kecil, "Aku juga akan selalu, selalu, selalu mencintaimu."
.
.
.
[END]
.
A/N:
Terimakasih telah membaca fanfic ini! x3
Thank youu atas review di chapter sebelumnya, Hina-san dan Sae-saan!
Akhirnya tamat. Sejujurnya author agak sedikit tergoda untuk menulis something smutty, tapi menahan diri demi mempertahankan rating T fanfic ini, hahaha. Semoga kalian bisa menikmati 10 chapter ini~
Akhir kata, jika sekarang kalian merindukan seseorang, jangan cuma tulis status. Telepon dia. Ahihiy :3
Sampai jumpa di lain kesempatan *bow*
