A/N : Selamat siang, hai kalian yang sedang membaca fiksi sampah ini. Saya kebut ini chapter 2, serius. Bahkan saya rela gak belajar padahal sedang ujian untuk seminggu ini. Atau mungkin saya telat update hahahaha
Balas Review;
Lord Gozilla : Saya juga senang ada yang shipper AkagiShou selain saya /terharu /gakgitu
Harumi RIM : /highfive/ Mari berlabuh bersama dengan pair-pair itu /lho
Katzius : Aduh.. direview Katzius-san saya seneng sekali;gak nyangka, makasih ya:"D Dada roti sobek sebenarnya saya ambil dari webtoon My Pre Wedding karya mbak Annisa , bisa dibilang inspirasi saya dari sana. Akagi butuh yang lain kali-kali, mari kesampingkan AKKG sejenak /lho
Joan Hozuki SKY23 : Wuooh.. terima kasih dengan pembetulannya, Joan-san! Di chap 2 ini sudah saya tingkatkan lagi. Berhubung diksi saya juga masih amburadul, semoga sudah cukup benar dan enak dibaca. Sekali lagi, makasih lho Joan-san /kasihcoklat /oi/ Hahaha langsung engeh aku, memang kayak Adimas dan Adel
Sekian balas review. Btw, makasih yang sudah mau review, fav + follow, dan membaca fiksi buangan ini.
Yosh! Monggo chapter 2-nya!
.
If I were a man
CHAPTER 2
.
Kantai Collection Fanfiction
Pair : male!Akagi x Shoukaku, dan lainnya(?)
Genre : romance/humor
Disclaimer : Kancolle © Kadokawa Game
Warning : OOC, garing, alur kecepetan, typo(s), Akagi baperan(?), dll
.
NOTE; (ABC...) Akagi sedang ngebatin
.
.
.
.
.
"... Senpai?"
"... HEEE?!"
Shoukaku jadi panik kala Akagi menjerit, "Se-senpai?! Kau kenapa? Apa aku salah?"
Tenang, Akagi, tenang. Pria itu mengelus dadanya, menghela nafas beberapa kali, akhirnya dapat kembali tenang.
"Senpai kenapa?"
Akagi menggeleng, "Tidak apa-apa—Tunggu Shoukaku-san, bagaimana kau tahu aku ini Akagi?"
Shoukaku terdiam, lalu tertawa. Mungkin Akagi berteriak karena Shoukaku sudah tahu bahwa pria yang tengah terduduk agak lemas tadi sudah diketahui sebelumnya. Lihatlah wajah Akagi yang masih menegang, pipi tirusnya itu tampak lucu di mata Shoukaku. Lagi Shoukaku terkikik, lain Akagi yang wajahnya merona.
"Tadi Kaga-senpai datang kemari berniat menjemput Zuikaku. Kemudian, Kaga-senpai bercerita bahwa Akagi-senpai berubah menjadi laki-laki. Awalnya aku dan Zuikaku sempat tidak percaya, kami bahkan—maaf, mengatai itu adalah hal gila dan mustahil terjadi. Tetapi Kaga-senpai meyakinkan kami sampai kami percaya. Dia bilang, Akagi-senpai jadi lebih tampan dari laksamana, memang benar sih," Shoukaku mengakhiri penjelasannya dengan kekehan yang membuat Akagi menghela nafas, lalu tersenyum.
"Aku beruntung mempunyai partner seperti Kaga-san," Akagi bangkit berdiri, tinggi badanya tidak seperti dulu. Bahkan Shoukaku saja sampai harus mendongak untuk menatap mata Akagi. Shoukaku dibuat diam kala menatap mata yang menajam itu, tetapi dipenuhi kelembutan yang luar biasa. Tetap sama dengan Akagi yang dulu.
"Shoukaku-san,"
"Ya?"
"Terima kasih sudah mempercayaiku,"
Shoukaku terkikik lagi, "Iya, sama-sama,"
Hening, tidak ada yang menyahut. Akagi menggaruk punggung lehernya, Shoukaku tersenyum sekaligus menengadah pada langit biru itu. Suara jangkrik berbunyi riang, panas pelan-pelan merambati bumi, langit lazuardi yang berawan samar-samar. Sepi sekali, tetapi Akagi menyukai suasana ini. Begitu damai dan tenang.
"Akagi-senpai,"
"Hmm?"
"Ayo, latihan bersamaku," ajak gadis itu. Akagi mengangguk, lekas ke ruang perlengkapan untuk mengambil busur dan beberapa anak panah lalu kembali lagi ke sisi Shoukaku. Akagi mengambil anak panah, memasang kuda-kuda, menempelkan anak panah pada busur, lalu menarik tali busur bersamaan dengan anak panah. Sebelum melepaskan, Akagi menghembuskan napas, butuh konsentrasi tinggi untuk mengenai target dengan tepat. Tatapan super tajam Akagi arahkan pada target, titik fokusnya sudah mencapai teratas, dan wussh! Akagi melepaskan anak panahnya.
'tak!'
Yes! Terkena sasaran! Akagi menghela napas lega. Syukurlah, kemampuannya masih sama.
"Seperti biasanya senpai selalu membuatku terkesima," ucap Shoukaku, Akagi mengibas-ngibaskan tangan.
"Kemampuanku masih dibawah Kaga-san, belum patut dikagumi," balasnya merendah.
"Tapi, karena Akagi-senpai, aku menjadi lebih semangat berlatih,"
Ugh... kata-kata tadi tidak sehat untuk hati Akagi, lagi-lagi jantungnya berdetak lebih cepat, tidak teratur. Akagi harus bisa menormalkan kembali detak jantungnya. Kalau tidak, tinggal menghitung mundur saja untuk Akagi mati. Sampai mati pun, Akagi masih tidak rela jika belum menyatakan perasaannya pada Shoukaku.
"Akagi strong, Akagi strong, Akagi strong," Akagi bergumam kecil, tidak sampai terdengar Shoukaku. Tepukan pelan pada pundah memperanjat Akagi, Shoukaku terkikik.
"Jangan melamun, Akagi-senpai,"
"Tidak kok, tidak. Nah, lanjutkan latihannya." Mereka kembali memasang kuda-kuda, kembali berlatih.
Kira-kira tiga puluh menit menarik anak panah tanpa henti, Akagi mulai berkeringat. Hakama putihnya rada basah, coretaduh itu dada roti sobeknya jadi ngejeplakcoret. Tanpa penutup dada dan sarung tangan, Akagi merasa kurang aman bila memanah seperti ini. Mau bagaimana lagi, alat-alat itu tidak ada yang cocok dan pas untuk Akagi. Masa iya pakai penutup dada untuk perempuan? Kalau dulu tidak apa-apa, sekarang? Astaga.. mau taruh dimana muka Akagi di depan Shoukaku? Dipandang kimoii iya kali. Sepertinya, Akagi harus minta Laksamana akan perlengkapan baru (dan khusus) untuknya.
Akagi meringis kecil, tangan kanannya mulai memerah akibat menarik anak panah. Perih. Belum seberapa, Akagi bahkan pernah merasakkan perih yang lebih dari ini. Pria tersebut mengambil anak panah, kembali menariknya, dan—
'ctak'
Tali busurnya putus, menghadiahi luka sayat di pipi kanan Akagi. Ia langsung memegangi luka itu, perlahan agar tidak memberikan rasa perih. Shoukaku sontak menoleh, mendekati Akagi dengan khawatir.
"A-akagi-senpai?! Kau tidak apa-apa?!" tanyanya panik.
Akagi tersenyum, menggeleng, "Ini luka kecil, jangan khawatir. Mungkin tali ini sudah lama tidak diganti, jadinya begini deh,"
Tangan mungil Shoukaku merengkuh pipi Akagi, mengusapnya dengan hati-hati, menindih tangan Akagi yang masih menempel di situ. Bagaimana reaksi Akagi? Wajahnya merah padam, matanya sedikit membelak, ditambah hatinya yang mulai dangdutan seenak jidat.
(Berapa detik lagi ini gue mati, gusti, Akagi gak strong ternyata)
"Shou-shoukaku-san..,"
"Kenapa, senpai?" Tatapan lembut berisikan kekhawatiran Shoukaku lemparkan pada iris Akagi. Aduh, demi Dewa, Akagi cukup disentuh pipinya, tidak perlu tatapan seperti itu. Tatapan tanpa arti yang memanjakkan hati Akagi—
Memanjakkan apanya! Bikin sekarat iya kali!
Shoukaku mengambil tangan besar Akagi yang berada di pipi, membaliknya, memar merah yang cukup serius. Ah, sudah Shoukaku duga kalau tidak memakai sarung tangan hal ini pasti akan terjadi. Apalagi Akagi tidak mengistirahatkan tangannya setelah menarik anak panah, yang satu lepas pasti menarik yang lainnya lagi. Shoukaku menarik senyum simpul, seniornya yang satu ini tidak jauh beda dengan Kaga yang memang sangat kelewat serius kala mereka sudah berurusan manah-memanah. Sampai ada luka seperti ini pun mereka tak pedulikan.
"Senpai...,"
Akagi terperanjat, "I-iya, Shoukaku-san?"
"Luka ini," Shoukaku mengarah pandang pada pipi Akagi, "dan itu, kenapa senpai selalu bilang tidak masalah kalau punya luka? Lukanya 'kan cukup serius. Kita harus ke dock,"
"Eh? tidak perlu ah. Lagipula tidak meyakitkan kok, serius,"
"Tapi luka ini harus segera diobati,"
"Tidak perlu ke do...ck—HEEEE! JANGAN KE DOCK!" Shoukaku kaget setelah Akagi meninggikan suaranya.
Akagi baru ingat. Iya, baru banget. Tidak mungkin Akagi ke dock dengan wujud begini. Mungkin sampai dock, banyak yang sedang melakukan 'perbaikkan', mereka akan menatap Akagi jijik, disembur dengan berbagai macam meriam dan torpedo, kemudian Akagi siap dikuburkan di pemakaman umum setempat. Itu alasan yang pertama. Kedua, Akagi tak akan malu masuk ke dock saat ini. Masalahnya hanya pada gendernya. Tolong garis bawahi kata terakhir tadi. Terkecuali melihat Shoukaku di dock, itu beda cerita. Dipikir-pikir lagi, andaikala Laksamana memberinya misi, sorti sana-sini, dan akhirnya terkena serangan yang cukup serius, bagaimana perbaikkan untuk Akagi? Membuat dock khusus, begitu? Duh mirisnya. Berubah gender, jomblo lagi. Takdirnya Akagi kecut.
"Kalau aku dibawa ke dock, aku bisa mati, Shoukaku-san,"
Shoukaku sempat membungkam sebentar, langsung mengerti apa yang Akagi maksud, "Ke ruang kesehatan bagaimana?"
Berat sih, tapi memang harus, Akagi pelan-pelan melepaskan tangannya dari pegangan Shoukaku. Setelah itu, Akagi memegangi batangan hidung, berpikir. "Takut dibakar sama massa,"
"Jangan takut, senpai. Malah ini kesempatan bagus untuk senpai menceritakan apa yang terjadi,"
"Eng.. apa mereka bisa mempercayaiku secepat itu?"
Shoukaku mengambil tangan kiri Akagi, menggenggamnya dengan erat. "Pasti! Aku akan bantu senpai agar mereka percaya!"
Akagi menghela nafas. Awalnya, ia tidak berniat untuk meyakini semua gadis kapal secepat itu, sama sekali tidak ada niatan. Harusnya Akagi senang Shoukaku membantunya, datang di waktu yang sangat tepat. Tapi kenapa Akagi masih meragukan Shoukaku? Akagi menggeleng, meragukan Shoukaku sama saja dengan membuang kesempatan langka. Meragukan sang pujaan hati? Sepertinya tidak untuk Akagi.
"Senpai, lukamu harus cepat diobati," ujar Shoukaku.
Lamunan Akagi buyar, buru-buru menjawab, "Eh, ah, oke."
Bukannya segera pergi ke ruang kesehatan, Shoukaku malah pergi ke ruang perlengkapan. Akagi mengernyitkan dahi, bertanya-tanya apa yang Shoukaku lakukan. Selang dua menit, Shoukaku membawa sebuah kotak dengan lambang plus merah di depannya. Akagi menyipitkan mata. Kotak P3K?
"Dojo punya ini? Sejak kapan?"
Shoukaku terkikik, "Aku baru saja ingat. Seminggu yang lalu, Kaga-senpai meletakkan ini di ruang perlengkapan. Katanya untuk jaga-jaga, kalau ada yang luka atau semacamnya,"
"Jadi kita tidak perlu ke ruang kesehatan?"
Shoukaku menggeleng, Akagi bersorak. Hari ini ia gagal jadi kapal pengangkut panggang saos tiram. Tidak, bercanda kok.
"Tapi," Akagi berhenti bersorak, mendengarkan Shoukaku yang berbicara, "kita tetap pergi ke tempat yang ramai, senpai,"
(Sial! PHP lu, beb!)
Akagi meringis, mendesah malas. "Lalu kita akan ke mana?"
Shoukaku malah tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Akagi tadi. Membuat si lelaki carrier itu sedikit bergidik, feelingnya mendadak ada sesuatu yang tidak baik nanti.
.
.
"Kedai.. Mamiya?"
Shoukaku mengangguk antusias; Akagi rasanya mau kabur.
Oke, ini gila. Kedai Mamiya? Oh, sial kau Shoukaku, Akagi kira akan bermula dari satu gadis kapal lalu ia menyebarkan berita itu. Tidak tahunya, langsung dibawa ke tempat yang ramai. Keoptimis-san yang diberikan Shoukaku tadi perlahan turun dan menurun. Akagi tertawa hambar, hanya bisa menatap papan nama kedai dengan malas.
"Ayo, Akagi -senpai!" Ketika Shoukaku menarik lengannya, Akagi sengaja menahan diri. Gadis surai putih itu tersentak, "Akagi..-senpai?"
"Ah.. bagaimana ini? Lututku sudah lemas duluan," ujar Akagi dengan suara kecil.
Shoukaku mendengus, "Akagi-senpai harus bisa. Nah, ayo." Tak lagi menariknya, ia malah mendorong punggung Akagi. Yang di dorong hanya bisa pasrah. Shoukaku menyibak kain yang seperti pintu itu dengan satu tangannya masih memegang punggung Akagi.
Di pagi jam segini pun Kedai Mamiya sudah ramai dengan para gadis kapal. Setiap meja pasti penuh akan mereka yang tengah asyik berbincang dengan gadis kapal lain, menunggu datangnya makanan pesanan. Akagi mengedarkan pandang, riuh ramainya membuat Akagi rindu akan tempat yang lima kali dua puluh empat jamnya selalu didatangi oleh Akagi sendirian. Oh Akagi, secepat itukah kau rindu pada kedai makanan Mamiya padahal baru kemarin malam kau berada di sana?
Kinugasa yang tengah makan pada meja paling dekat dengan pintu menyadari kedatangan Shoukaku. Gadis cruiser itu mengernyitkan dahi ketika melihat Akagi. Buru-buru Kinugasa melempar pertanyaan pada Shoukaku, "Shoukaku-san, dia.. siapa?"
Suzuya berhenti melahap daging tumisnya, Ashigara tak jadi menuangkan teh pada cangkir, Kitakami tak jadi menyendokkan parfait pisangnya, Souryuu menoleh, Yuudachi gagal ke toilet, Irako berhenti melangkah dengan nampan masih di genggaman. Sebagian gadis kapal yang di sana ditarik atensinya hanya sekadar melihat Shoukaku dan Akagi berdiri di ambang pintu. Pertanyaan Kinugasa lah yang sukses membuat para gadis kapal berhenti dari aktivitasnya.
Akagi sudah gak tahu kabar jantungnyanya gimana, berhenti tiba-tiba bisa kali. Banyak pasang mata mengarah padanya, memberi tatapan bertanya-tanya. Akagi kicep, Shoukaku malah tersenyum lebar, "Orang ini—"
Mendadak semua orang mengerubungi mereka. Akagi dan Shoukaku terkesiap.
"Dia siapa, Shoukaku-san? Pacarmu?"
(Amin gusti kalau Shoukaku-san pacar gue)
"Atau teman Laksamana?"
(.. bisa jadi sih temen)
"Warga sipil, hmm?"
(Emang gue kelihatan seperti warga sipil ya?)
"Homoannya Laksamana?"
(... Najis)
"Mungkin jasa penghulu,"
(Siapa yang mau nikahan, mbak?! Muka ganteng tapi profesi penghulu nanti keliatan jomblonya tahu!)
"Tukang kerupuk keliling? Tapi kok gantengnya garing,"
(Ha! Tukang kerupuk! Gila! Muka gue gak segaring kerupuk, ya)
"Bukan, tukang roti pasti,"
(Lu liat 'kan gue gak bawa roti? Ngaco ah)
"Tukang tambal ban kali,"
(Ngaco lu semua! Ngaco, sumpah!)
Yang lain menerka-nerka, Akagi malah berteriak, "Sudah, sudah, stop! Kalian ini apa-apaan sih!"
Seketika ocehan mereka semua berhenti begitu saja, hening. Shoukaku masih mempertahankan senyumnya, "Orang ini Akagi-senpai, kapal carrier Divisi Satu."
Senyap. Mendadak sepi. Bukan sebagian lagi, melainkan satu kedai itu menatap Akagi tak percaya. Dari mereka semua belum ada yang berani buka suara atau berkomentar. Maklum, syok mereka. Kinugasa cengo, Suzuya mangap dan Irako hampir menjatuhkan nampan. Sisanya bermimik gado-gado; tak percaya, syok. Ashigara tertawa tiba-tiba, diikuti semua gadis kapal di situ kecuali Akagi dan Shoukaku yang kebingungan. Lho kok ini malah ketawa? Lucu dimananya coba?
"April Mop sudah lewat, leluconnya jadi konyol ah," komentar Ashigara setengah tertawa.
"Akagi-san tidak mungkin lah. Mustahil terjadi itu," timpal Suzuya.
"Andai kata benar terjadi, aku akan mentraktir orang ini semua makanan dalam menu di Kedai Mamiya," lanjut Hiryuu sembari mengibas-ngibaskan lembaran-lembaran uang bernominal lumayan besar.
Akagi tersenyum licik. Oh, jadi mau traktir nih kalau memang benar? Oke leh ugha, leh ugha. Akagi siap membuktikan. Shoukaku memandang Akagi agak takut karena Akagi seperti sedang di dunia lain, memikirkan suatu rencana licik. Gadis itu tidak ingat memberikan kepercayaan dan dorongan semacam ini.
Darimanakah asalnya?
Ah, Shoukaku tahu sekarang. Makanan. Sudah pasti makanan. Karena tidak mau ikut-ikutan bisikkan setan, Shoukaku menggeser tubuhnya dua langkah ke samping.
"Wah, tidak ada yang percaya nih?" Akagi menyilangkan kedua tangan di depan dada, "baiklah. Kubuktikan ya,"
Akagi berdehem, "Ashigara-san," yang disahut memandang lurus Akagi, "pernah kerpegok olehku ngejomblo di dermaga sambil nyanyi-nyanyi lagunya teitoku yang baper-baper. Salah satunya... 'Mantan Terindah'. Boro-boro punya mantan ya, pacaran aja belum pernah,"
Urat-urat mulai keluar di dahi Ashigara, muncul siku-siku banyak di mukanya. Yang lain ber-hoo-ria, memaklumi Ashigara yang kebelet nikah dengan teitoku.
"Suzuya-san," Suzuya terperanjat, "teitoku cerita sama aku, katanya Suzuya pernah ketiduran di kantornya. Terus ngelindur gitu, ngigo-ngigo gak jelas. Kau tahu bagian yang terbaiknya apa? Suzuya-san menampar teitoku bolak-balik lalu mengatakkan," Akagi menjeda, mengambil pose, "SUZUYA IS THE BEST CRUISER EVAAAH!"
kretek! kretek!
Suzuya meremas tangannya begitu kuat. Shoukaku yang mendengar bergidik ngeri. Kinugasa ngakak di tempat. Alhasil kena ciprat air kobokkan dari Suzuya.
"Lalu, Hiryuu—"
"Oi oi! Tunggu! Nih, terserah kau mau pesan apa, kubayarin," Sebelum disemprot aib, Hiryuu menyerah duluan. Akagi tersenyum penuh kemenangan, Shoukaku geleng-geleng. Para gadis kapal ngangguk-ngangguk percaya bahwa lelaki berhakama itu merupakan Akagi. Jelas-jelas itu Akagi. Karena Akagi nyebelin membuat teman-temannya stress bukan kepalang, minta ditamparin. Di lain sisi Akagi tertawa terbahak-bahak, tidak salah pakai aib biar percaya. Untung saja Akagi menyimpan banyak sekali aib teman-teman seperjuangannya, mulai dari A sampai Z, ada semua. Dapat darimana aibnya masih Akagi rahasiakan.
Oke, Akagi teman yang berengsek.
"Permisi kawan-kawan," suara Ashigara dan Suzuya menginterupsi.
"Kami ingin mengurus si bajingan ini," ucap Suzuya sambil tersenyum. Bukan senyum lembut, tetapi senyum iblis.
"Sebelum kutenggelamkan, akan kusiksa habis-habisan si berengsek ini. Kami akan menjadikkannya carrier bakar dengan kecap pedas-manis," seling Ashigara yang matanya benar-benar tajam mengarah pada mata Akagi. Ugh.. tajamn sekali sampai Akagi harus tutup-buka mata.
Kacau. Harusnya tidak begini. Shoukaku memijat pelipisnya. Padahal sudah terbayang bagaimana Akagi akan menjelaskan pada yang terjadi pada mereka. Bagaimana senpainya itu memberitahukannya dengan cara yang manly, penuh keyakinan. Dan semua orang akan percaya pada Akagi sehingga lelaki ini pun akan menangis terharu. Selesai. Bukan seperti ini, dimana Akagi membahayakan nyawanya sendiri demi meyakini mereka. Aduh, Akagi-senpai, tolonglah jangan bertindak sembrono seperti itu. Juniormu yang sedari tadi menemanimu menjadi khawatir.
Sedang Akagi meneguk ludah, paniknya luar biasa. Bagaimana ia harus keluar dari situasi ini? Ashigara dan Suzuya terkenal ganasnya sampai seantero pangkalan, mampu menenggelamkan abbysal dalam sekali tembakkan. Itu abbysal, gimana Akagi? Disentil juga tenggelam. Tidak, Akagi tidak selemah itu. Seluruh gadis kapal sudah mengakui bahwa Akagi adalah carrier yang kuat, walau tak sekuat Kaga dan Taihou. Tapi tetap saja kedua gadis kapal yang dipenuhi aura kegelapan di depannya membuatnya ingin sekali pulang, cuci tangan cuci kaki lalu selimutan. Ah sial, apa yang harus Akagi perbuat?
"Suasananya menyeramkan sekali, ada apa ini?"
Laksamana beserta Ooyodo di belakang Akagi, menatap mereka semua bertanya-tanya. Tidak ada yang menjawab, maka laksamana mendekati Akagi. "Akagi? Apa yang sedang terjadi di sini—sejak kapan kau mendapatkan luka di wajahmu?"
Akagi menyentuh pipinya, "Tidak apa-apa, tadi ada kecelakaan kecil di dojo,"
Laksamana mengangguk, kembali mengedarkan pandang. Terutama pada dua serigala ganas yang masih dengan aura gelapnya, laksamana mendengus. "Ashigara, Suzuya, kenapa kalian seram sekali?" Yang ditanya hanya diam saja dan membuang muka, laksamana menghela nafas. Shoukaku akhirnya mendekati laksamana, "Teitoku, Akagi-senpai serta Ashigara dan Suzuya tengah bertengkar,"
"Perihal?"
"... tentang perubahan Akagi-senpai,"
Laksamana tepuk dahi. Pemimpin pangkalan itu pun sudah tahu sebelum dijelaskan lebih lanjut. Akagi suka cari masalah, temperamen Ashigara tinggi dan Suzuya yang mudah terpancing. Haduh.. laksamana makin pening kepalanya. Sebenarnya laksamana pergi ke Kedai Mamiya untuk meringankan pusingnya dengan berbagai jenis makanan, bahkan ia meminta Ooyodo untuk menamani. Sampai di kedai, langsung disuguhi masalah lagi. Demi Dewa, laksamana sudah lelah.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar lagi. Seperti anak kecil saja kalian ini," ujar laksamana selagi mendudukkan diri di bangku kosong depan Kinugasa, sedangkan Ooyodo di sebelah laksamana. Yang dimarahi diam dan menundukkan kepala. Yang lain masih belum bergeming, maka laksamana berkata, "Kalian sudah tahu lelaki ini Akagi?"
Mereka mengangguk, sebagian menjawab 'ya'. Laksamana menghela nafas lega. "Yang penting kalian sudah tahu dan percaya dulu bahwa dia Akagi. Penjelasannya nanti saja ya, besok mungkin baru kuberi tahu. Atau langsung saja tanya kepada orangnya,"
Hatinya Akagi ngedugem ria sebab laksamana selalu datang di saat yang tepat, membantunya keluar dari masalah. Akagi senang tidak dijadikan carrier bakar oleh Suzuya dan Ashigara. Si dua serigala mencak-mencak dalam hati, ngedumal kecil. Mereka, para gadis kapal yang lain, memilih untuk kembali ke aktivitasnya. Membicarakan topik terpanas baru ini, si Akagi. Karena capek, Suzuya dan Ashigara sama-sama kembali ke meja masing-masing. Akagi menoleh ke Shoukaku, menatapnya berbinar-binar seolah Shoukaku merupakan hadiah terindah yang diberikan Tuhan.
Shoukaku menghampiri Akagi, "Senpai, kau berhasil! Sudah kubilang bukan untuk tidak takut?"
Akagi terkekeh dilanjut mengangguk, "Aku berterima kasih lagi. Tanpamu, mungkin aku akan hanya meringkuk di dojo seharian,"
"Akagi-senpai berlebihan, aku tidak membantu apa-apa lho,"
Lelaki itu mengibaskan tangannya, "Kau itu sangat membantuku. Sangat. Jadi jangan berkata seperti itu,"
"Terserah senpai deh," Keduanya tertawa kecil agar tidak menggangu mereka yang berada di kedai.
Sebuah tepukkan pada bahu memaksa Akagi harus membalikkan tubuh, menghadap laksamana. Carrier tersebut mengerjapkan mata, "Ada apa, teitoku?"
Laksamana merogoh saku celana, mencari-cari sesuatu yang Akagi tidak ketahui. Beberapa detik setelahnya, laksamana mengeluarkan sebuah amplop. Akagi menekuk dahi dan menyipitkan mata begitu laksamana mengulurkan amplop tersebut.
"Ini ambil," kata laksamana, "sejumlah uang untuk membeli beberapa pasang pakaian biasa dan hakama, serta—ehem! Pakaian dalam. Juga perlengkapan memanahmu yang tidak ada. Kalau ada kembaliannya buatmu saja,"
Akagi terharu. Sumpah demi apapun, laksamana sangat baik sekali. Sebetulnya Akagi yakin bahwa saat ini keuangan laksamana menipis, bias dibilang gajian belum turun dari pemerintah perihal sekarang tengah bulan. Tapi demi Akagi, laksamana rela memberikan uangnya untuk keperluan Akagi saat ini. Akagi berjanji bahwa setelah ia selesai dari masalah perubahan ini, dia akan mengembalikkan uang yang baru saja diberikan laksamana. Entah dengan kerja sambilan atau ngamen di laut, tidak masalah.
"Terima kasih banyak, teitoku. Aku jadi tidak enak padamu,"
Si laksamana tertawa renyah, "Untuk kapal-kapalku, apapun akan kulakukan, kawan,"
Akagi tersenyum, "Dasar kau, teitoku."
Laksamana menepuk pundaknya lagi, berbalik dan kembali duduk di sebelah Ooyodo. Akagi memandang amplop tersebut senang, luar biasa bahkan. Jadi, apakah ia harus berbelanja besok? Ditemani Kaga? Baiklah, Akagi akan bilang nanti pada gadis itu.
"Senpai," panggil Shoukaku.
"Ya?"
"Mau berbelanja 'kan?"
"I..ya, memangnya kenapa?"
"Boleh aku ikut menemani?"
Hatinya Akagi mendadak konser, campur sari; dangdut dan music pop. Pikirannya untuk mengajak Kaga tadi pun langsung ludes dan kini tergantikan sebuah pertanyaan—terlihat seperti ijin menemani dari Shoukaku. Rona-rona merah terselip di wajah Akagi. Lelaki itu mendongak, berusaha menyembunyikan wajah merahnya. Akagi mengintip Shoukaku yang berekspresi berharap.
(Tobat, gusti! Tobat! Hatiku lelah!)
"Ba-baiklah, kau boleh ikut,"
Shoukaku tersenyum riang, senang. Menemani Akagi berbelanja pasti mengasyikan kiranya. "Kita jadi seperti kencan ya, senpai?"
Hah? Kencan?
(Kencan? Kencan? …. Kencan? EH GILA KALI!"
Kepala Akagi ngebul, tiba-tiba jatuh tersungkur. Akagi pingsan.
"SENPAAI!" Dan Shoukaku berteriak panik.
.
.
.
.
To be continued
.
A/N : Kemungkinan chapter 3 bakal lama update. Saya kudu belajar demi lulus dan naik ke jenjang sekolah lebih tinggi /alah/ Bisa saja dua minggu kemudian baru diupdate, atau sebulan? Entahlah, nanti saja kita lihat. Chapter ini.. agak nganu sih menurut saya-ah sudahlah.
Kesan, saran dan pesan sangat Reyfon nantikan untuk kelanjutan fiksi ini
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
