Loving You
Author :
Anisaaa
Rate :
T for this chapter, someday M
Categori :
Yaoi/BL, family, lil angst, drama, Childish!Grumpy!Min
Cast :
- Lee Sungmin
- Cho Kyuhyun
- Other cast
Summary:
Sungmin terjebak dalam pernikahan yang tidak diinginkan bersama seseorang bersama Cho Kyuhyun. Namja kaku yang menurutnya sangat-sangat pabbo. Sangat-sangat menyesal mengapa ia berakhir dengan suami bodoh seperti Kyuhyun yang bahkan tidak bisa mengelap kaca.
Note :
Kritik dan saran sangat diharapkan. But, gunakan bahasa yang baik yaaaa.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
DISLIKE? GO AWAY!
ENJOY~
.
.
—KyuMin—
Denmark.
January 29 , 2013 : 7 am
Namja itu, namja yang sejak 6 hari yang lalu menempati salah satu ruang rawat inap di rumah sakit internasional di ibukota Denmark, Kopenhagen, berdiri termenung di depan jendela kamar rawatnya. Sama seperti 6 hari yang lalu, setiap pagi ia akan berdiri termenung memandang ke arah luar jendela. Menikmati berkas sinar matahari pagi yang terasa hangat di kulitnya lalu sesekali menghela napas pelan.
Wajahnya terlihat pucat seperti vampire dengan selang infus yang tertancap di tangan kiri membuatnya terlihat begitu lemah. Matanya menerawang jauh, sedangkan pikirannya hanya tertuju di suatu tempat yang bermil-mil jauhnya dari tempatnya berpijak.
Namja tampan itu, Kyuhyun, terpaksa dirujuk ke rumah sakit internasional di Kopenhagen setelah tenaga medis paling professional di tanah kelahirannya angkat tangan atas penyakitnya. Penyakit yang selalu ia abaikan demi seseorang yang kini paling ia rindukan nun jauh di sana.
Rencana kembali ke Seoul rabu sore setelah menyelsaikan urusan perusahan berlian keluarganya di Namwon hancur sudah. Siang itu, setelah makan siang bersama kolega-koleganya tiba-tiba saja dadanya terasa sangat nyeri dan napasnye tersengal-sengal. Rasanya seperti ada benda tumpul seberat batu yang menghantam dadanya. Rasa nyeri dan sesak napas itu sebenarnya sudah biasa untuknya, namun ia belum pernah merasa sesakit ini. Bahkan rasa sakit itu sempat membuatnya tidak sadarkan diri selama 36 jam. Dan ketika ia membuka mata, yang pertama ia lihat adalah seorang dokter dengan wajah western dan rambut blonde menyapanya lalu bertanya apa ia baik-baik saja.
Pneumothorax Spontan Primer. Penyakit yang sudah dideritanya sejak ia menjadi mahasiswa semester awal. Dengan gejala nyeri dada dan sesak napas, awalnya tidak membuatnya sadar bahwa suatu penyakit tengah menggerogoti tubuhnya. Dan setelah ia sempat kehilangan kesadaran setelah selesai ujian, barulah ia tahu bahwa penyakit itu sudah lama ada di tubuhnya.
Dengan bantuan medis, baik dari terapi maupun obat-obatan, penyakit itu lama tidak kambuh. Bahkan mungkin Kyuhyun sudah lupa bahwa ia pernah mengidap penyakit seperti itu. Namun setelah menikah dengan Sungmin, gejala-gejala penyakit lamanya muncul lagi. Mungkin hanya kelelahan, itu pikirnya setiap dadanya mulai sesak dan langsung cepat-cepat beringsut ke kamar untuk tidur.
Namun setelah hari itu, hari pertama ia membuka mata setelah 36 jam tidak sadarkan diri, ia dikejutkan dengan pernyataan dokter yang mengatakan bahwa penyakitnya kambuh lagi. Bahkan kini semakin parah. Sialnya lagi, dokter memintanya untuk melakukan operasi secepatnya.
Pikirannya kembali melayang pada seseorang di Seoul yang mungkin saja kini tengah menunggu kepulangannya. Istrinya itu pasti sangat mencemaskannya, terbukti dari beberapa puluh panggilan beserta pesan teks yang sama sekali tidak bisa Kyuhyun balas.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Kyuhyun secara tiba-tiba menghilang begitu saja dari orang-orang terdekatnya di Korea, terlebih Sungmin. Ia melakukan ini agar tidak satupun dari mereka yang mengetahui keadaannya. Kyuhyun hanya ingin ketika ia kembali ke negaranya, ia terlihat seperti Kyuhyun yang biasanya. Tidak lemah dan penyakitan seperti saat ini. 'apa kata Sungmin?' pikirnya sedih. Sungmin pasti akan makin kecewa dan menyesal sudah menikah dengan orang yang lemah dan penyakitan sepertinya. Menjaga dirinya sendiri saja tidak bisa, apalagi menjaga orang lain?
Bahkan dengan keadaan kritis seperti ini Kyuhyun sempat-sempatnya mengkhawatirkan istrinya yang selalu marah-marah itu. Tuan Nam, asisten pribadinya, tidak pernah absen menyampaikan kabar terbaru tentang Sungmin di Seoul untuknya. Setidaknya, dengan mendengar bahwa Sungmin baik-baik saja turut membuatnya terlihat tidak seperti pasien rumah sakit yang mengidap penyakit serius.
Dilemma. Itu yang dirasakan Kyuhyun saat ini. Operasi itu pasti membutuhkan waktu minimal 2 minggu lagi, sedangkan ini sudah seminggu sejak hari kepergiannya dari Seoul. Di satu sisi Kyuhyun sangat menginginkan operasi yang menjanjikan bahwa ia akan sembuh setidaknya 70 %. Tapi di sisi lain, memikirkan waktu 3 minggu menghilang tanpa jejak dari Sungmin membuatnya murung. Meskipun Sungmin terlihat keras padanya, 3 minggu menghilang pasti membuat istri manisnya itu khawatir. Dan ia sangat tidak menginginkan itu.
"Mr. Kyuhyun…"
Ia menoleh, suara dr. Wilson membuat lamunannya buyar kemana-mana.
"So, what is your decision?"
Damn, di tengah rasa kegamangannya yang terasa tak berujung sekarang dokter itu datang dan menanyakan keputusannya. Bagus sekali.
"I… I… I don't know. I'm worried about my wife" jawab Kyuhyun jujur.
"Just tell your wife that you need two weeks again to finish your bussines and everything will be alright"
"I'm not sure 'bout that…" Kyuhyun menuduk sedih lalu membalikan badannya kembali menghadap jendela.
dr. Wilson mendekatinya lalu menepuk pundaknya dari belakang, "You must be health for your family… please think again, sir" ucapnya bijak lalu meninggalkan Kyuhyun termenung sendirian. Mencoba untuk mengambil keputusan terbaik.
.
.
.
Kopenhagen International Hospital
February 3, 2013 : 7.30 pm
"Hhhhhhhhh"
Kyuhyun menghela napas panjang. Jantungnya berdegup kencang dan tangannya terasa begitu dingin. Bahkan tempat tidur yang sedang ia tiduri tidak lagi membuatnya nyaman seperti hari-hari yang lalu. Pikirannya kali ini hanya terpaku pada istrinya.
Kepalanya sudah terlalu penuh dengan perasaan was-was. Bagaimana jika operasinya gagal? Bagaimana jika karena operasinya tidak berjalan lancar, maka ia diharuskan tinggal lebih lama? Bagaimana dengan Sungmin yang sudah terlalu lama sendirian di rumah? Apa Sungmin makan dengan baik? Apa istrinya itu tidur cukup?
"Just be relax, sir" ucap perawat di sampingnya yang tengah menggantungkan botol infuse di samping kirinya seraya tersenyum ramah. Sepertinya wanita bule itu mampu membaca raut wajah Kyuhyun yang diliputi rasa khawatir.
Kyuhyun tersenyum lemah. Apapun hasilnya nanti, ia harus bertahan demi keluarga kecilnya yang bahkan belum genap 2 bulan ia bangun. "Thanks"
Suster itu kembali tersenyum. Ia bersama 2 orang suster lainnya mendorong bed Kyuhyun ke ruang operasi yang berada di arah jam 12 dari mereka. Mengingat Sungmin yang tersenyum lucu dan tertawa seperti orang gila ketika berfanboy ria dengan Ryeowook tentang grup monyet-monyet itu membuat perasaanya sedikit tenang. Ia harus bertahan, itu yang ditanamkan Kyuhyun di kepalanya.
.
.
.
Seoul
February 3, 2013 : 8.40 pm
Sementara itu di tanah kelahiran Kyuhyun. Sang istri yang biasanya selalu terlihat kejam di depan suaminya, Kyuhyun, kini duduk termenung dengan wajah yang sedih bercampur kesal karena orang yang ditunggu-tunggunya sejak sore tidak juga datang.
Eunhyuk dan Donghae juga sudah terlihat lelah. Persiapan pesta kejutan untuk ulang tahun Kyuhyun hari ini benar-benar menguras tenaga mereka bertiga. Terlebih Sungmin yang harus berulang kali mengulangi masakannya untuk mendapatkan hasil masakan kesukaan Kyuhyun yang paling sempurna. Bahkan Café Eunhyuk sengaja ditutup sejak seusai waktu break makan siang, khusus untuk Kyuhyun hari ini. Namun sayangnya, orang itu benar-benar membuat mereka bertiga kecewa.
'Si bodoh itu bahkan tidak pulang di hari ulang tahunnya' batin Sungmin kesal.
Sungmin yang pada dasarnya memang baik hati agak tidak tega melihat sahabat beserta kekasihnya yang seperti sudah sangat kelelahan. Eunhyuk sedang bersandar lemah di pundak Donghae yang terus menguap sejak 40 menit yang lalu. Bahkan makanan yang Sungmin buat susah payah hari ini sepertinya sudah dingin, tidak terlalu enak bila di makan dalam keadaan seperti ini.
"Cho brengsek!"
Sungmin menarik kasar piring di depannya yang berisi makanan hasil kerja kerasnya hari ini untuk Kyuhyun lalu menyendoknya kasar. Pipinya terlihat menggembung penuh makanan, nyaris tidak bisa digerakan mengunyah namun ia tetap memaksakan suap demi suapan itu masuk ke mulutnya.
"Brenghhu-uhseuhhkhhuh(brengsek)!" sambil mengunyah, ia terus mengumpat-umpat namja yang saat ini sangat ingin dihajarnya sampai babak belur.
Glup
Ia menelan kunyahan besarnya itu secara kasar. Tidak mempedulikan rasa perih di kerongkongannya karena menelan sembarangan. Matanya memanas dan terlihat berkaca-kaca.
"Minnie?" panggil Eunhyuk pelan. Iba melihat sahabatnya yang terlihat begitu menyedihkan.
"Hiks…"
Dan setetes air mata lalu disusul dengan tetesan lain lolos dari mata bulatnya. Lengannya menghapus jejak air mata yang mengalir di pipinya secara kasar, sama kasarnya dengan caranya menelan. Eunhyuk benar, Sungmin terlihat menyedihkan sekarang.
"Benci… Hiks…" air mata yang tidak berhenti mengalir, makin membuat lengannya bersemangat untuk menghapus jejaknya secara kasar. Tidak mempedulikan kulit pipinya yang memerah karena bergesekan kasar dengan bajunya.
Tiba-tiba namja manis itu berdiri. Mengambil tasnya dan juga piring yang berisi ¼ masakannya yang tidak termakan olehnya. Dan setelah itu, ia berjalan tergesa-gesa keluar dari café. Meskipun agak jauh dan samar Eunhyuk masih dapat melihat bahwa Sungmin membuang piring yang dibawanya tadi ke kotak sampah dengan sadis lalu berlari menjauh dari café miliknya. Ia lalu beranjak untuk mengejar sahabatnya.
Sret
"Ia butuh waktu untuk sendiri. Biarkan saja, eum?" pinta Donghae lembut.
Eunhyuk kembali duduk dengan wajah yang sedih. Sahabatnya itu pasti kecewa sekali. Kemana suami sahabatnya itu, apa pesan mereka tidak sampai ke ponselnya. Apa benar kalau Kyuhyun menyerah akan Sungmin lalu memilih menghilang begitu saja, tanpa jejak satupun.
"Hae… eotteokhae? Hiks…"
"Sssst, uljima sayang. Gwaenchana, Sungmin pasti baik-baik saja. Percaya padaku, ne"
"Wae? Kenapa Kyuhyun bersikap seperti ini hiks. Sungmin padahal sudah ingin membuka hati untuknya. Wae, Hae-ya? Wae? Hiks hiks"
Seketika tangis Eunhyuk pecah. Pertanyaan kekasihnya kali ini benar-benar sulit untuk dijawab. Donghae benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan rekan kerjanya satu itu. Tiba-tiba menghilang seperti ini bukan Kyuhyun sekali. Tapi sangat tidak mungkin kalau Kyuhyun diculik. Kalau memang iya pasti beritanya sudah heboh. Donghae hanya bisa memeluk lalu mengelus punggung kekasihnya agar namja yang berada di dekapannya itu menghentikan isak tangisnya. Ia pasti sangat terluka melihat sahabatnya yang begitu memprihatinkan pikir donghae.
.
.
.
Orang-orang percaya bahwa mereka terlahir dengan benang merah yang tak terlihat terlilit di jari kelingking mereka. Benang itu akan menghubungkan mereka dengan 'seseorang' yang ditakdirkan untuk bersama. Namun sangat sulit menemukan siapa yang tengah menunggu di ujungnya.
Benang merah akan kusut bersama benang-benang lain milik orang lain yang juga terhubung. Namun saat kita bisa melepasnya, maka kita bisa melihat siapa takdir kita.
Jika benang merah penunjuk takdir ada, di manakah aku akan berakhir?
(Yunjae, Replay 1997)
.
.
.
"Fuhhhh… Fuhhhh…"
Sungmin meniup-niup kedua telapak tangannya seraya menggosoknya perlahan untuk meredakan hawa dingin yang makin menusuk. Karena terlalu emosi, ia meninggalkan sarung tangan beserta mantelnya di dalam café milik eunhyuk. Dan jadilah seperti ini, kedinginan di tengah hujan salju dengan suhu dibawah nol derajat.
Ini sudah pukul 11 malam, berarti ia sudah menunggu sekitar satu jam di depan café eunhyuk. Yeah, uri Sungmin yang biasanya terlihat galak dengan bentakan kejamnya ini masih menunggu Kyuhyun. Berharap namja itu tiba-tiba ada di depannya dengan napas tersengal-sengal karena memburu waktu, lalu ia akan menggosokkan telapak tangannya ke pipi Sungmin melihat betapa merahnya pipi Sungmin karena hawa dingin yang makin malam semakin ekstrim. Ah, itu hanya harapan seorang Lee Sungmin di malam musim dingin seperti ini.
Setelah pergi tanpa pamit dari hadapan Eunhyuk dan Donghae, ia terduduk lemah di kursi taman dan menangis menjadi-jadi. Bukan tangisan yang mirip seperti rengekan anak kecil ketika ia meminta uang ayahnya untuk keperluan tentang StepUp, tapi kali ini tangisannya lebih terdengar agak menyedihkan dan begitu pilu.
Tepat pukul 10 malam, ketika ia benar-benar yakin bahwa Eunhyuk dan kekasihnya sudah pergi dari café, Sungmin berjalan mengendap-endap menuju café. Mirip seperti maling di musim dingin. Matanya sedikit berbinar ketika menyadari keadaan café yang sudah gelap gulita, itu artinya sahabatnya itu sudah menutup cafenya dan pulang. Dengan begitu ia bisa menunggu Kyuhyun tanpa harus menjatuhkan harga dirinya.
Kerongkongannya bahkan masih terasa sakit akibar mengunyah lalu menelan secara sembarangan tadi. Untuk berbicara rasanya sangat sulit, ah ia harus bilang apa pada orang-orang yang menanyakan tentang hal ini.
"Hhhhhhhhh" ia menghela napas panjang. Menyenderkan tubuhnya ke dinding café milik sahabatnya.
Kakinya bahkan sudah terasa sangat pegal ditambah dengan pakaiannya yang tidak lagi mampu mengurangi rasa dingin yang menusuk. Rasanya tubuhnya sudah membeku.
Pikirannya menerawang jauh ke masa ulang tahunnya yang baru lewat sebulan yang lalu. Waktu itu mereka masih baru beberapa hari menikah dan keadaan masih sangat canggung. Kyuhyun yang tergagap parah dan terus melakukan kesalahan di depannya. Suaminya itu bahkan hampir membakar pohon di belakang rumah mereka ketika ia tidak sengaja menjatuhkan korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun Sungmin karena sangking gugupnya. Sungmin tersenyum manis meskipun bibirnya terasa begitu kaku untuk digerakkan.
"Bodoh…." Ucapnya lirih sambil terus tersenyum.
Mungkin karena terlalu lelah, Sungmin bahkan tidak sadar bahwa ia sudah jatuh tertidur di depan café sahabatnya dengan bibir yang melengkung ke atas.
.
.
.
"Kyu, mianhae"
Kyuhyun tersenyum lembut lalu mengusap surai lembut istrinya, "Um!" ia mengangguk pasti lalu tertawa kecil.
Cup
Kyuhyun melongo. Meskipun singkat, ia masih dapat merasakan rasa manis di bibir tebalnya yang baru saja menempel dengan bibir istrinya. Sedangkan si pencuri kecupan malah tertawa melihat ekspresi Kyuhyun yang terlihat konyol.
"Aish, Min! Geumanhaera!"
Kini gantian Sungmin yang melongo heran. Orang yang kemarin-kemarin bahkan tidak mampu berkata dengan benar di depannya kini berani membentaknya. Tidak bisa dipercaya.
"Eh, wae?" tanya Kyuhyun polos. Heran melihat istrinya yang tiba-tiba menghentikan tawanya dan menatapnya tajam. Apa ia berubuat salah lagi?
"Kau membentakku?" tanya Sungmin datar
"…."
"Kau membentakku?" ulangnya. Masih dengan nada yang sama.
"Ani! Ani! Aaah Ani, Min…." jawab Kyuhyun mirip seperti saksi mata polos yang dituduh menjadi tersangka.
"Kau membentakku?!"
"Ani! ANI! ANIRAGO!" dan berakhir dengan Kyuhun yang berteriak di depan Sungmin.
"Haish!"
"Uhuk… minhh… uhuk… lephsassshh"
"KAU MEMBENTAKKU CHO BODOH!"
"Minhhh… uhuk… leherkuuuh…. Uhuk"
"MWOYA? LEHERMU AKAN KUPISAHKAN DARI TUBUHMU!" teriak Sungmin sadis dan makin mempererat cekikannya di leher Kyuhyun.
"Uhukk… min… min… uhuk… hhhh"
Sungmin membatu ketika melihat wajah Kyuhyun yang memerah serta napasnya yang tersengal-sengal. Sepertinya perbuatanya kali ini sangat keterlaluan. Ia melepaskan tangannya dari leher Kyuhyun
"Kyuuuu, mianhae… gwaenchana?" tanyanya lembut seranya mengusap-usap leher bekas cekikannya.
"Min…. Min...Min….."
.
.
.
Sungmin terbangun begitu saja. Napasnya tersengal-sengal dan keringat bercucuran di dahinya. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah sahabatnya, Eunhyuk tepat di depan wajahnya. Sungmin mengerenyit heran, belum lagi dengan pakaiannya yang sudah berganti dengan baju pasien membuat kepalanya berdenyut sakit.
"Minnie, gwaenchana?"
"Gwaenchana, apa aku di rumah sakit?" tanyanya polos. Kedua matanya mengerjap imut.
"Uhm!" Eunhyuk mengangguk cepat. "Hipotermia. Apa yang kau lakukan dengan tidur di depan caféku semalaman di cuaca sedingin ini, eoh?"
"Hah? Aku… A-a-ku.. ng-" Sungmin kelabakan. Tidak mungkin jika ia menjawab bahwa ia menunggu Kyuhyun semalaman. Bodoh sekali, pikirnya.
"Ya sudah, tidak penting juga. Sekarang kau istirahat saja, arrachi?"
"Shireo! Aku mau pulang!" rengeknya manja
"Aish! Kau dirumah sendirian, siapa yang akan mengurusmu. Lebih baik disini Minnie" paksa Eunhyuk
"Aniya… Aku mau pulang. Jebbal~"
"Ish! Aku tanya dokter dulu" jawab Eunhyuk lalu pergi dari kamar rawat sahabatnya begitu saja.
Manik foxy imut itu mengarah ke jam dinding yang berada tidak jauh di depannya. Jam 8 malam, batinnya. Teringat dengan kejadian kemarin malam membuat dadanya terasa sesak. Bahkan hingga saat ini tidak ada pesan apalagi panggilan dari Kyuhyun di ponselnya. Ahhh, ia kembali murung.
Akhir-akhir ini ia sering memikirkan Kyuhyun. Apa si bodoh itu memakan sayuran di makanannya? Apa si bodoh itu tidur dengan nyenyak? Atau sekedar apa yang di lakukan sang suami yang entah masih ada di Namwon atau tidak. Sepertinya Kyuhyun memang sedang melakukan pembalasan dendam terhadapnya. Ah salah dirinya juga sih, memperlakukannya dengan tidak manusiawi. Eh tapi Kyuhyun juga salah, siapa suruh menikahi orang seenak perutnya. Ish, kepalanya makin berdenyut ketika memikirkan Kyuhyun.
.
.
.
Seoul
February 5, 2013 : 8.50 am
"OMO!" Sungmin nyaris jatuh ke belakang ketika melihat boneka bunny berwarna pink pucat dengan ukuran yang sama dengan ukuran tubuhnya tepat di depan pintu rumahnya.
"Aigoo, kau baru pulang dari rumah sakit dan suamimu member hadiah seperti ini" ucap Ryeowook yang mengantar Sungmin pulang dari rumah sakit ke rumahnya.
"Eung? Maksudmu Kyuhyun?" tanya Sungmin bodoh.
"Kalau bukan Kyuhyun, lalu siapa lagi yang memberi hadiah seperti ini" cibir Ryeowook.
"Jeongmal?" matanya berbinar-binar ketika tangannya menyentuh bulu-bulu lembut boneka itu. Ah, Sungmin jadi terharu. Mungkin ini sebagai permintaan maaf dari Kyuhyun karena pulang tidak tepat waktu pikirnya senang.
Drrrt…. Drrrrt….
Sakunya bergetar. Seseorang menelponnya. Itu pasti Kyuhyun pikirnya gila, padahal di layar ponselnya tidak tertulis nama Kyuhyun, hanya muncul deretan angka tidak dikenal.
"Yeoboseyo. Kyu~ apa kau sudah di dalam rumah sekarang?" nada suaranya benar-benar sumringah. Setidaknya untuk kali ini ia berhasil bersikap manis.
"Huh?"
"Kyu~ Kau marah yaaa?" tanyanya dengan nada sedih yang dibuat-buat. biasanya dengan begini suaminya itu akan luluh begitu saja.
"Apa ini benar nomor ponsel Lee Sungmin?"
Dan hatinya porak poranda seketika!
Suara itu bukan suara Kyuhyun. Bukan Kyuhyun!
"Ne, nuguseyeo?"
"Ah, Sungmin-ah ini aku, Siwon. Choi Siwon" ucap suara di sebrang sana dengan nada yang sangat antusias.
"SIWON?!"
Sepertinya hati Sungmin tidak jadi porak-poranda. Masalahnya yang menelponnya itu adalah Siwon. Bayangkan seorang Choi Siwon, artis super sibuk itu menelpon salah seorang fanboy dari jutaan fanboy Choi Siwon di dunia. Astagaaaa, ini benar-benar hari yang indah untuknya.
"Hehe, apa kau sudah melihat hadiahku? Boneka bunny yang ada di depan pintu rumahmu?"
"K-kau, ba-ba-gai-man-na b-bi-s-sa?" bibirnya sangat sulit digerakkan. Dan sepertinya penyakit Kyuhyun menular ke Sungmin. Terlalu lama tinggal dengan Kyuhyun ternyata memiliki efek samping yang buruk juga.
"Hadiah yang kau berikan waktu itu… disana tertulis benda yang paling kau sukai, alamat, dan nomor ponselmu. Meskipun kelewat kecil, aku masih bisa membacanya hehe. Apa kau senang?"
"Hah? Apa? Aku? Tentu saja aku senang. Gamsahamnida, jeongmal gamsahamnida"
Ryeowook agak jengah melihat Sungmin yang nampak begitu akrab dengan Siwon. Bukan karena dia iri, tetapi karena ia terlalu mendukung hubungan Sungmin dengan Kyuhyun. Kalau seperti ini keadaannya, Sungmin makin sulit dilepaskan dari Kyuhun. Ah padahal sebelumnya Sungmin sudah berniat merubah sikapnya pada suaminya. Namun dengan hadirnya Siwon secara mendadak seperti ini membuat Ryeowook ingin menyerah saja.
Ryeowook langsung masuk ke dalam rumah sahabatnya itu setelah mengambil kunci yang dipegang Sungmin di tangan kirinya. Ah, Sungmin pasti tidak sadar jika kunci rumah yang sedari tadi digenggamnya sudah hilang begitu saja. Siwon benar-benar mengalihkan dunianya batin Ryeowook jengkel.
.
.
.
Kopenhagen International Hospital
February 5, 2013 : 9.30 am
Jari-jari seorang namja tampan yang terbaring tak berdaya di sebuah kamar rawat nampak melakukan gerakan-gerakan kecil. Namja itu, Kyuhyun, tak sadarkan diri sejak operasinya. Bahkan kemarin keadaannya sempat kritis. Namun pertolongan medis yang cepat tanggap mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Kedua matanya mengerjap lemah. Masih dengan napas pendek-pendek, itupun dengan bantuan masker oksigen. Entah apa jadinya jika tidak ada alat bantu yang menempel di tubuhnya. Ia hanya menatap langit-langit dengan murung. Tubuhnya agak kaku untuk digerakkan, sepertinya akan terasa menyakitkan jika ia memaksakan diri untuk bangun.
"How do you feel? Feeling good now?" tanya seorang suster yang sedang mengecek botol infusnya.
Kyuhyun hanya mengangguk pelan.
"Do you need something, sir?" tanya suster itu lagi. Lalu setelahnya ia melepas masker oksigen pasien di hadapannya secara perlahan.
"Apa aku sudah boleh pulang?" tanya Kyuhyun dengan suara yang amat lirih.
Suster itu hanya tersenyum. "I think that it will take one more week. Did you miss your wife?"
Dan kini gentian Kyuhyun yang tersenyum manis. Ah iya, Sungmin.
"Do you want me to call your wife?"
"No, thanks" balasnya parau.
"Ah, I know it. You want to make a surprise for her, right?"
Mereka berdua tertawa bersama meskipun suara tawa Kyuhyun hampir tak terdengar. "Eum, Can you send a message to a man named Donghae with my phone?"
"Sure. What message?"
"Tell him that I'm not in Korea right now and I'm okay. That's all"
"Okay, wait a minute"
Menghilang terlalu lama pasti membuat teman-temannya di Korea sangat khawatir. Ia benar-benar merasa bersalah saat ini. Menghilang tanpa jejak dan tanpa kabar lalu tiba-tiba datang dengan kabar bahwa dirinya sedang tidak berada di korea.
"Eum, Sir?"
"Yes?"
"Someone named Seohyun is calling you. Do you want to receive it?"
"Seohyun? Ah, give it to me"
Seohyun, sahabatnya sejak SMA. Satu-satunya wanita yang diizinkan dekat dengannya. Satu-satunya wanita yang mengerti dirinya luar dalam. Dan satu-satunya orang yang menjadi tempat terakhir jika bantuan dari pihak manapun tidak mampu menyelsaikan masalahnya.
"Ya! Kau kemana saja, bocah?!" hardik Seohyun ketika akhirnya panggilannya diterima oleh sahabat karibnya.
"Aku? Aku hanya keluar korea, itu saja" jawab Kyuhyun sekenanya.
"Haish, kalau kau ada di dekatku, aku sudah memukul kepalamu dengan ponselku"
"Hei, kau jahat sekali padaku. Ada apa?"
"Semua orang di korea mengkhawatirkanmu, bodoh! Dan kau tahu, noonamu langsung pulang dari Amerika begitu mendengar kabar kau menghilang. Ish, Cho bodoh!"
"Aku hanya butuh waktu sendiri, Hyun-ah" jawab Kyuhyun pelan.
"Apa kau sakit?" tanya Seohyun mulai khawatir. Nada suaranya melembut.
"Tidak!"
"Ya ya ya, terserah! Yang pasti aku tau kebenarannya dan aku tak akan mengatakannya pada siapapun. Aku tahu itu, Kyu"
"Seo…"
"Hm?"
"Gomawo" ucap Kyuhyun tulus.
"Aku sedang tidak memberimu sumbangan, bodoh!" balas Seohyun berusaha menutupi kegugupannya. "Ah, lalu istrimu bagaimana? Apa dia tahu tentang hal ini?" tanyanya meskipun hatinya agak terasa sakit.
"Dia… tidak tahu" jawab Kyuhyun, moodnya kembali turun dan suasana hatinya kembali murung. "Seo, jika seseorang yang kau cintai tidak bisa mencintaimu, apa yang akan kau lakukan? Bertahankah?"
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar deru napas masing-masing. Seohyun merasakan hal itu. Mencintai seseorang yang tidak bisa mencintainya, dan ia memilih untuk melepaskannya pada orang lain. Itu pilihannya. "Melepaskannya dan kalau bisa pergi darinya. Itu jawabanku"
"Pergi?" tanya Kyuhyun bingung.
"Tidak! Khusus untukmu, kau harus bertahan. Itu pesanku"
Flip
Dan setelah itu sambungan telepon terputus. Meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku, sementara di negeri yang lainnya Seohyun malah menangis sesenggukan. Mengenang cinta bodohnya yang sakitnya masih terasa sampai hari ini. Ia tidak boleh egois, pikirnya bijak.
.
.
.
Trailer of next chapter
/"Apa dikepalamu hanya ada orang itu, huh?/
/"Lakukan sesukamu. Aku tidak peduli lagi"/
/"Jika kau memintaku pergi, maka aku akan pergi. Jika kau memintaku menghilang, maka aku tak akan ragu untuk menghilang darimu"/
/"Aku mencintaimu, tetapi sungguh….rasanya sakit sekali"/
.
.
.
Di sini belum ada KyuMin moment, chap depan okeyyyy
Akhir-akhir ini tugas numpuk ToT udah di masa-masa terakhir make seragam sekolah sih
Maaf yaa kalo update-nya nggak bisa secepet kemarin-kemarin
Tapi yang pasti aku nggak bakal discontinued kalo respon masih banyak, sukur-sukur nambah hehe
Kecup cinta buat yang udah komen dan mendukung kelanjutan ff ini deh :******* hehehe
Keep Review pweaseee :3
September 4, 2013
