Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan

Rate : M for Save.

catatan : fic ini tidak mengandung unsur gore atau pun horor yang wow banget, fic ini hanya di bubuhi humor yang semoga terkesan lucu meskipun garing XD

.


.

DON'T LIKE DON'T READ

.

- Ghost Terror -

[chapter 02]

.

.

.

Seperti biasanya, Sasuke akan datang tepat waktu, berjalan menyusuri trotoar. Saat melewati rumah Sakura, Sasuke sengaja memperlambat langkahnya. Melirik sejenak ke arah pintu rumah Sakura dan kembali fokus pada jalanan.

"Kau sudah datang sepagi ini, jangan coba-coba mencari perhatian pada Sakura." Ucap Naruto. Berdiri di depan pagar Sakura yang hanya setinggi dada Naruto.

Haa, makhluk tidak jelas ini masih belum hilang? sampai kapan dia akan muncul terus? Abaikan Sasuke, abaikan, dia tidak nyata.

Sasuke hanya diam dan berusaha tidak menggubris makhluk yang di pikirnya adalah khayalannya sendiri.

"Hei, dengar jika aku berbicara! Aku juga bosmu, seharusnya kau tidak usah bekerja hari ini, kau ku pecat!" Omel Naruto, sambil menunjuk-nunjuk Sasuke.

Sasuke masih tetap mengabaikannya, dia akan menjadi aneh sendiri jika menanggapi makhluk yang bahkan tanah pun tak di pijakinya.

"Kau sudah datang?" Ucap sebuah suara yang baru saja keluar dari rumahnya.

"Hn." Sasuke melihat ke arah Sakura yang sedang berjalan keluar.

"Jangan memperhatikan istriku!" Bentak Naruto dan berdiri di hadapan Sasuke, menghalangi pandangannya. Sasuke berpura-pura tidak melihatnya dan tetap menatap ke depan, seakan-akan tidak ada yang menghalangi pandangannya.

Sakura sudah berjalan menuju pintu cafe, Sasuke mengikuti Sakura dan makhluk itu masih setia menutupi Sakura dari pandangan Sasuke, dia tidak bisa melihat Sakura, pria itu jauh lebih tinggi dari gadis berambut softpink itu.

Pintu cafe sudah terbuka, Sakura masuk ke dalam dapur, sedangkan Sasuke mulai mengatur kursi dan melapnya. Sesekali melirik ke arah dapur dan sesekali melihat ke arah pria yang melayang-layang itu. Seperti sedang mengawasinya, jika Sasuke tiba-tiba melirik lagi ke arah Sakura.

Cafe sudah bersih dan rapi. Sakura mulai menata sarapan dan memanggil Sasuke untuk sarapan bersama.

"Hari ini aku akan bekerja dengan serius, maaf untuk soal kemarin." Ucap Sasuke. Dia menjadi tidak enak masih di terima Sakura meskipun sudah mengacau kemarin.

"Tidak usah pikirkan. Lagi pula mungkin kau baru saja menjadi pelayan. Apa pekerjaanmu sebelumnya?" Ucap Sakura di sela makannya.

Sasuke terdiam. Dia bingung ingin mengatakan pekerjaan sebelumnya. Dia adalah seorang direktur utama di sebuah perusahaan besar keluarga Uchiha. Apa dia perlu mengatakan jika pekerjaan sebelumnya adalah direktur utama? Tapi dia belum di pecat, maksudnya dia tidak mengundurkan diri, dia hanya menggantikan posisinya, Sasuke menggeleng kepalanya cepat. Mana mungkin dia akan mengatakan hal itu.

"Sasuke? Ada apa?" Tegur Sakura, merasa Sasuke seperti tengah melamun.

"Ah, tidak." Sasuke kembali terdiam. "Aku belum pernah kerja sebelumnya." Ucap Sasuke.

"Uhmm, gitu yaa." Ucap Sakura.

"Jadi kau pengangguran. Pantas, kau tidak berguna. Jika aku masih hidup, aku akan memecatmu." Ucap Naruto berdiri di samping Sakura dan menatap sinis ke arah Sasuke.

Hari ini Sasuke harus lebih banyak bersabar, masih pagi dan dia sudah harus di hina lagi oleh makhluk berambut blonde yang tidak jelas keberadaannya.

Sarapan berakhir, Sakura sudah harus bergegas ke dapur, Sasuke sendiri harus membalikkan tulisan di depan pintu.

'Open'

Tak lama setelah tulisan itu di balik, terdengar seperti suara gemuruh, beberapa orang terlihat tengah berlari menghampiri cafe yang baru saja di buka. Sasuke terkejut dan mundur perlahan dari pintu cafe. Apa mereka terlambat sarapan hingga seperti orang yang tengah kelaparan berlari ke arah cafe?

"Bo-boss!" Teriak Sasuke dan kabur ke dalam dapur.

"Ada apa?" Sakura ikut terkejut dengan teriakan Sasuke.

Wajah Sasuke sedikit pucat dan menunjuk ke arah pintu cafe, beberapa wanita tengah menumpuk depan pintu. Sasuke lupa membuka kunci pintu cafe dan membuat mereka tidak bisa masuk. Saat melihat ke arah pintu, Sakura tertawa hingga memegang perutnya.

"Hahaha, sudahlah, mereka hanya pelanggan, ayo siap-siap." Ucap Sakura. Dia merasa tingkah Sasuke sangat lucu saat mendapati pelanggan yang sudah tidak sabaran berdatangan di depan pintu cafe.

"Uhm, iya." Sasuke berusaha menenangkan dirinya. Mereka seperti wanita-wanita yang siap menerjangnya kapan saja.

"Hahahahaha, dasar pelayan bodoh." hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi Naruto.

Urat-urat di kepala Sasuke mulai bermunculan, meskipun tidak melihatnya yang melayang entah di mana, Sasuke masih mendengar suaranya yang cukup keras dan masih berucap 'bodoh' padanya.

Tidak ingin pusing dengan makhluk itu, Sasuke kembali ke depan pintu, berbicara pada mereka. Pintu akan di buka jika mereka berbaris dan mengantri dengan rapi. Seperti sebuah perintah yang mutlak, para wanita itu mengikuti apa yang di ucapkan Sasuke, mereka berbaris dengan rapi, pintu mulai terbuka dan mereka di layani satu persatu oleh Sasuke.

Dengan ajaran Sakura kemarin, Sasuke berusaha keras untuk tidak memecahkan dan menjatuhkan apapun hari ini. Sasuke mulai bisa mengingat setiap pesanan di setiap meja, menurutnya menghapal itu tidak begitu sulit.

Naruto masih memperhatikan Sasuke. Dia merasa tidak tenang dengan tindakan Sasuke yang menurutnya hampir sempurna, hanya dengan sedikit belajar tata cara menjadi pelayan yang baik, dia sudah bisa mengatasi semua masalahnya kemarin.

Hingga siang hari, antrian di cafe milik Sakura semakin panjang dan ramai. Sakura merasa ini adalah hari yang baik, dia menjadi semangat untuk memasak, merasa jika tidak ada masalah apapun dari Sasuke. Melirik sejenak ke arahnya, dia terlihat seperti pelayan berkelas di sebuah hotel terkenal. Sakura tersenyum dan melanjutkan masak.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Dia hanya mencoba menarik perhatianmu." Ucap Naruto. Dia merasa tidak senang saat Sakura melirik ke arah Sasuke. Bahkan Sakura tersenyum membuat Naruto cemburu, sangat cemburu, baru kali ini Naruto melihat Sakura tersenyum seperti itu selain kepada dirinya.

'Closed'

Pekerjaannya berakhir. Sasuke bisa merasakan pegal pada otot-otot tangan dan kakinya. Dia sekarang duduk di kursi, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan menutup wajahnya dengan handuk dingin.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sakura. Menarik sebuah kursi di sebelah Sasuke dan duduk di sana.

"Hn. Aku baik-baik saja." Ucap Sasuke tanpa mengubah posisinya. Handuk dingin di wajahnya sedikit menjadikannya lebih rileks.

"Hari ini benar-benar sibuk yaa..." Ucap Sakura, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meregangkan otot tangannya yang lumayan pegal. "Apa kau tahu, aku tidak pernah memiliki pelanggan sebanyak itu." Sakura terlihat senang.

"Ah, sangat ramai." Ucap Sasuke. Dia bahkan tidak menyangka jika orang yang berdatangan di cafe ini lebih banyak dari pada kemarin, saat dia mulai bekerja.

"Sasuke."

"Hn?"

"Apa kau bisa mengendarai kendaraan?"

"Bisa."

"Setiap hari sabtu cafe akan tutup. Kalau tidak keberatan, Apa kau bisa membawa kendaraan untukku? Aku tidak terlalu pandai mengendarai mobil dan uhm... sedikit trauma." Ucap Sakura.

Sasuke mengangkat handuk yang sudah mulai menghangat di wajahnya, melirik ke arah Sakura yang menundukkan wajahnya setelah ucapan 'sedikit trauma' keluar dari mulutnya.

"Ah, baiklah." Ucap Sasuke. Dia tidak perlu menanyakan hal yang mengganjal di kepalanya tentang trauma Sakura.

"Kami mengalami kecelakaan mobil, itu adalah alasan kenapa Sakura tidak berani untuk mengendarai bahkan naik kendaraan." Ceplos Naruto. Berharap pegawai baru istrinya itu bisa mendengar apa yang di ucapkan, meskipun Naruto berpikir Sasuke sama seperti Sakura, dia juga tidak bisa melihatnya.

Terdiam sejenak. Baru saja Sasuke berpikir untuk tidak menanyakannya pada Sakura lebih detail tentang traumanya, mahkluk yang terus-terusan memanggilnya 'bodoh' sudah memberi penjelasan padanya.

"Maaf kan aku Sakura. Aku minta maaf, ini semua salahku." Ucap Naruto lagi. Sasuke bisa melihat di raut wajah makhluk blonde yang sedang melayang di samping Sakura. Dia merasa sangat bersalah dengan membuat Sakura trauma. Tidak ada respon apa-apa dari Sasuke, dia harus selalu merasa tidak melihatnya.

"Terima kasih, Sasuke. Nanti aku akan memberi catatan untuk mengecek barang-barang yang aku pesan, stok bahan-bahan hampir habis." Ucap Sakura. Dia merasa tertolong, sebelumnya Rin yang akan berbelanja bersama temannya yang pandai mengendarai mobil.

Setelah makan sehabis kerja, Sasuke juga sudah membersihkan cafe, dia pamit pada Sakura dan mulai berjalan keluar cafe untuk pulang. Hari yang cukup melelahkan. Dia harus ekstra lebih bekerja keras lagi besok.

Berjalan menyusuri trotoar. Sasuke akan ke kantornya. Di sana dia akan beristirahat sambil sesekali melihat pekerjaan Jugo. Kemarin Sasuke sudah mengecek semua pekerjaan Jugo dan dia merasa lebih terbantu. Sasuke merasa, pekerjaannya sebagai direktur utama sangat membosankan, hanya duduk, memeriksa berkas, meeting dan melihat-lihat proposal, berbeda ketika dia menjadi seorang pelayan yang harus bergerak ke sana kemari dan membawa nampan berisi makanan dan minuman.

.

.

.

.

4 hari kemudian. Akhirnya Sasuke baru bisa menyentuh kasur empuknya. Merebah dirinya dan merasa butuh tidur yang lebih lama, dia benar-benar kelelahan. Hari ini dia tidak berniat ke kantor dan memilih untuk langsung pulang.

Beberapa hari yang lalu, Sasuke benar-benar sangat sibuk bersama Sakura. Pelanggan di cafe semakin hari semakin banyak. Sasuke harus lebih cepat melayani beberapa pelanggan yang datang agar yang mengantri tidak terlalu lama. Kerja kerasnya berakhir ketika besok adalah hari berbelanja. Sakura meminta Sasuke datang lebih siang untuk mengambil semua bahan-bahan yang sudah di pesan Sakura pada toko bahan-bahan langganan Sakura.

"Bos?" Gumam Sasuke. Dia merasa aneh sendiri setiap memanggil Sakura 'bos', biasanya dia yang akan di panggil bos, tapi saat di cafe, Sakura adalah bosnya. Menarik sebuah guling dan memeluknya. Sasuke ingin langsung beristirahat dan berharap tidak akan telat besoknya.

Tok tok tok

Sedikit kesal dengan orang yang mengetuk pintu kamarnya, meskipun ini masih sore, tapi dia sangat ingin tidur sekarang. Dengan sangat malas Sasuke menuruni kasurnya dan membuka pintu kamar. Wajahnya terlihat semakin kusut mendapati siapa yang mengetuk pintunya.

"Ada apa?" Tanya Sasuke, malas.

"Apa itu caramu menyambutku?" Ucap seorang pria. Wajah mereka hampir mirip, hanya saja Pria ini terlihat jauh lebih dewasa, rambut hitamnya yang sengaja di panjangkan dan di ikat rapi ke belakang.

"Aku pikir kau akan pulang minggu depan?" Ucap Sasuke. Dia merasa ingin segera menutup pintu dan kembali ke ranjangnya.

"Pekerjaanku lebih cepat selesai dan memilih untuk pulang lebih awal."

"Oh. Selamat datang kembali baka aniki" Ucap Sasuke. Semakin malas menatap kakak satu-satunya di dalam keluarganya.

"Kau semakin jahat saja." Ucap Itachi dan malah mengacak-ngacak rambut Sasuke.

"He-hei! Hentikan. Aku bukan anak-anak lagi!" Protes Sasuke.

"Baiklah." Ucap Itachi dan melepaskan tangannya dari puncuk kepala Sasuke. "Jadi? Bagaimana kabar perusahaanmu?" Lanjut Itachi.

"Nanti saja bahasnya. Aku ingin tidur." Sasuke sudah tahan dengan rasa ngantuknya.

"Ini masih sore, Sasuke. Jangan tidur sekarang." Larang Itachi.

Blamm...!

"Selamat malam." Ucap Sasuke saat sudah menutup pintunya. Dia sedang tidak ingin membahas perusahaan atau apapun, yang di butuhkannya adalah istirahat dan tidur.

"Dasar." Itachi berjalan meninggalkan pintu kamar Sasuke dan menuju lantai bawah. Memilih berbicara dengan Jugo, mungkin dia akan segera mendapatkan informasi yang lebih cepat dari pada harus menunggu Sasuke. Dia mengatakan 'nanti saja' dan itu tidak memiliki batas waktu. Itachi sudah sangat hapal dengan ucapan dan tingkah adiknya itu. Namun sedikit tidak biasanya. Itachi merasa pekerjaan kantoran yang bahkan direktur utama tidak terlalu rumit bagi Sasuke. Dia akan santai mengerjakan pekerjaannya itu, tapi ini tidak, Sasuke terlihat bekerja lebih keras, sedikit mengganjal di dalam pikiran Itachi.

Setelah menemui Jugo di lantai bawah, ruangan keluarga, Itachi tidak menemukan hal yang mengganjal. Jugo hanya berbicara tentang pekerjaan Sasuke di perusahaan yang berjalan baik dan seperti biasanya. Tidak ada hal yang tidak bisa di selesaikan Sasuke.

"Ah baiklah. Aku hanya rasa anak itu seperti sudah bekerja keras, wajahnya terlihat lelah." Ucap Itachi sebelum meninggalkan Jugo.

Tidak ada ucapan apa-apa lagi dari Jugo. Dia sendiri tidak tahu dengan apa yang sedang di lakukan Sasuke. Berangkat lebih pagi, pulang sore, namun dia akan menyempatkan diri ke kantor. Sasuke hanya mengucapkan dia sedang mengerjakan sesuatu dan butuh waktu.

.

.

.

.

.

Hari sabtu, Sasuke tidak harus bangun lebih pagi. Cafe sedang tutup dan yang akan di lakukannya hari ini hanya berbelanja. Masih di atas kasur, Sasuke kembali menutup matanya. Tidur lebih awal membuatnya bangun lebih cepat, namun perasaannya masih butuh istirahat. Dia merasa seperti seorang buruh bangunan yang setiap harinya mengangkat material berat. Berpikiran untuk sesekali mendatangi tempat pijat relaksasi.

"Selamat pagi." Ucap seseorang yang tiba-tiba membuka pintu kamar Sasuke dan masuk begitu saja, suaranya cukup keras dan membuat Sasuke merasa sangat terganggu.

Tidak ingin menggubris kakaknya itu, Sasuke berpura-pura masih tidur. Menarik selimutnya tinggi-tinggi dan menutup matanya rapat-rapat. Tidak ada niat untuk Itachi keluar meskipun melihat Sasuke yang masih tertidur. Dia malah membuka gorden kamar Sasuke lebar-lebar agar sinar matahari yang cukup menyilaukan itu mengusik tidur adiknya.

"Berpura-pura tidur tidak akan membuatku keluar dari kamarmu. Ayolah kau harus bangun cepat. Aku ingin berkeliling di perusahaanmu dan Konoha." Ucap Itachi berdiri samping ranjang Sasuke.

"Cih, aku tidak akan ke kantor hari ini dan aku malas kemana pun" Ucap Sasuke pada akhirnya. Dia tahu jika kakaknya itu tidak akan berhenti mengganggu tidurnya jika dia tidak meladeninya sekarang juga.

"Kenapa? Kau tidak libur kan?"

"Aku meliburkan diri. Pergilah bersama Jugo jika ingin melihat-lihat. Aku sedang malas." Ucap Sasuke, menutupi wajahnya dengan selimutnya.

"Memangnya apa rencanamu hari ini?"

"Aku akan keluar."

"Sendirian?"

"Hn."

"Apa sebuah kencan?" Goda Itachi.

Sasuke segera membuka selimutnya dan bangun. Wajahnya terlihat kesal.

"Bisakah kau diam? Aku butuh tidur." Ucap Sasuke. Dia benar-benar malas meladeni Itachi.

"Hahahaha, ada apa? Apa benar sebuah kencan?" Goda Itachi lagi.

"Hmm. Kencan dengan sayuran, apa kau puas?" Ucap Sasuke, menatap datar ke arah kakaknya.

"Sayuran? Apa gadis yang kau sukai sekarang adalah penjual sayuran?" Ucap Itachi, dia merasa sangat senang jika harus membuat Saske jengkel di pagi hari.

Sasuke langsung melemparkan bantalnya ke arah Itachi. Terlalu banyak pertanyaan yang membuat Sasuke menjadi semakin malas.

"Ahk, baiklah. Aku akan pergi bersama Jugo. Kau benar-benar tidak bisa di ajak baik-baik yaa." Ucap Itachi.

Sasuke terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu. Itachi belum beranjak dari sana. Dia memperhatikan Sasuke dan merasa ada yang sedang di pikirkan adiknya itu.

"Ada apa?"

"Apa kau tahu. Makhluk yang menyerupai manusia, dia seperti tidak menyentuh tanah dan bisa melayang-layang." Ucap Sasuke.

"Mungkin semacam arwah" Ucap Itachi.

"Arwah?"

"Uhm. Kau bisa membacanya di beberapa buku yang membahas hal itu. Ada apa? Apa kau sedang di ganggu arwah penasaran?"

"Tidak." Sasuke terdiam. "Mungkin perasaanku saja." Lanjut Sasuke.

"Bukan. Itu bukan perasaanmu. Kau bisa melihat mereka." Ucap Itachi, tatapannya terlihat serius.

"Apa maksudmu?" Tanya Sasuke, dia cukup penasaran dengan apa yang di ucapkan kakaknya itu.

"Kau bisa melihat mereka. Apa kau masih ingat saat kau masih kecil? Sepanjang hari kau akan bercerita tentang teman barumu, bahkan kau mengucapkan kakek sedang menjagaku. Itu cukup membuatku takut. sungguh kau sangat membuatku takut." Ucap Itachi.

Hening, Sasuke terdiam lagi. dia cukup serius mendengarkan apa yang sedang di ucapkan Itachi.

"Hahahahaha..." Itachi tertawa dengan sangat keras. "Aku pikir kau benar-benar akan percaya dengan apa yang ku ucapkan, hahahahah." Itachi malah tertawa melihat raut wajah Sasuke yang tengah mempercayai apa yang di ucapkannya tadi. Sasuke yang sedang serius mendengar penjelasankan kakaknya, kembali malas menatapnya. "Hahahaha, percayalah, aku serius. Hahahaha" Itachi tidak bisa berhenti tertawa.

"Keluarlah, aku ingin kembali tidur." Sasuke merasa dia hanya di kerjain dan di bodohi.

"Baik-baik. Aku akan keluar."

Akhirnya kamar Sasuke menjadi tenang dan damai. Kakaknya yang di rasanya cukup menyebalkan sudah keluar. Sasuke kembali berbaring. Yang di pikirkannya adalah arwah yang selalu bersama Sakura adalah suaminya yang tidak ingin pergi dan selalu menghantui istrinya.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Sasuke harus mulai bersiap-siap, tidak ada waktu untuk bersantai atau kembali tidur. Sakura sudah memintanya untuk datang jam 11 siang ke cafe.

Berjalan menuruni tangga rumahnya. Suasananya cukup sepi. Para pelayan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mencari sosok Itachi, namun Sasuke tidak menemukannya. Berpikir jika Itachi sudah pergi bersama Jugo. Melirik ke arah jam tangannya dan waktu berjalan begitu cepat. Sasuke harus bergegas pergi.

Tepat waktu. Sasuke masih ngos-ngosan di depan pintu cafe. Dia berlari cukup cepat untuk sampai ke cafe. Di dalam cafe Sakura sudah menunggu. Menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. Sasuke harus terlihat santai dan dia tidak ingin terlihat seperti orang yang habis berlari. Membuka pintu cafe yang bertuliskan 'close' pada depan pintunya. Sasuke bisa melihat gadis itu. Dia sedang berbicara lewat ponselnya dan sesekali akan tertawa.

"Jangan memperhatikannya." Ucap Naruto. Lagi-lagi menghalangi pandangan Sasuke.

Sasuke akan selalu menganggapnya tidak ada, namun hal yang di lakukan pria berambut blonde itu cukup membuat Sasuke semakin kesal jika setiap hari dia akan terhalang oleh wajah pria itu. Memilih mengabaikan pria itu, Sasuke berjalan ke hadapannya dan melewatinya. Sasuke menembus tubuh Naruto. Sedikit tersentak kaget, Sasuke merasa aneh, seperti tersengat listrik. Sasuke terdiam sejenak. Apa gara-gara dia melewati arwah itu?

"Ada apa?" Tanya Sakura. Dia sudah selesai menelpon dan menghampiri Sasuke yang terdiam cukup lama.

"Uhm. Tidak ada apa-apa?" Ucap Sasuke. Menurutnya, mungkin itu hanya perasaannya saja.

Sakura mengajak Sasuke ke dalam garasi di rumahnya. Sasuke membantu menaikkan penutup garasi dan mobil bak terbuka terlihat di sana.

"Baiklah. Kau boleh menggunakannya dan ini catatan beberapa barang, aku sudah menghubungi semua toko langgananku. Kau tinggal mengambil dan mengeceknya. Apa kau bisa?" Ucap Sakura, memberikan selebaran kertas pada Sasuke yang sudah bertuliskan beberapa bahan dan nama toko.

Mengambil lembaran kertas itu dari tangan Sakura dan mulai membacanya. Sasuke cukup tahu beberapa tempat yang di tuliskan di sana. "Hn, serahkan padaku." Ucap Sasuke.

"Oh. Tunggu sebentar." Ucap Sakura. Dia segera berlari masuk ke dalam rumahnya.

Sasuke mulai berjalan masuk ke dalam mobil itu. Mengecek apapun di sana. Mobil itu terlihat seperti terawat, padahal Sakura jarang menggunakannya. Bahkan dia tidak pernah menggunakan mobil itu. Mobilnya hanya di gunakan mengambil bahan-bahan untuk cafe. Sambil menunggu Sakura, Sasuke menyalakan mesin mobilnya untuk sekedar memanaskan mesinnya.

Sakura sudah kembali dan terlihat sedang membawa sesuatu di tangannya. Sebuah kotak bekal.

"Untukmu." Ucap Sakura dan menyerah kotak bekal itu pada Sasuke. "Aku pikir jarak beberapa toko itu sangat jauh dari sini. Jadi Aku membuatkanmu beberapa cemilan." Lanjutnya.

"Hn. Terima kasih." Ucap Sasuke, mengambil kotak bekal dan menyimpannya di kursi sebelahnya. Sakura mengangguk pelan dan bergeser sedikit menjauh dari mobil.

Sasuke pamit dan mulai melajukan kendaraannya. Hari ini dia akan sibuk, sangat sibuk untuk berbelanja. Berharap jika dia akan pergi bersama Sakura, namun bos pinknya itu belum berani untuk kembali menaiki kendaraan beroda empat.

Berkendara dengan sedikit cepat, Sasuke tidak ingin terlalu berlama-lama di jalanan. Suasana di jalanan cukup renggang, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Perjalanan Sasuke cukup jauh, dia harus berkendara sekitar 2 jam lebih untuk sampai ke pinggiran kota. Tempat langganan Sakura membeli bahan-bahan. Melirik sejenak ke arah kotak bekal yang di beri Sakura, secara tiba-tiba Sasuke mengerem, sedikit terkejut dengan pria yang selalu saja mengganggunya dan ternyata duduk di sebelahnya sejak mobil itu melaju keluar dari garasi.

"Kau! hati-hati kalau berkendara! Jangan mengerem secara tiba-tiba!" Protes Naruto dan menatap kesal ke arah Sasuke. "kalau kita mati kecelakaan bagaimana!" lanjutnya lagi. Naruto semakin terlihat kesal.

"Bodoh. Kau itu sudah mati." Ucap Sasuke. Menatap malas ke arah arwah yang tidak nyadar diri itu.

"Oh iya, aku sudah mati, heheheh aku lupa." Ucap Naruto dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Sasuke kembali melajukan kendaraannya. Perjalanannya akan semakin membosankan, berharap jika arwah itu tetap berada di rumah Sakura.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sasuke.

"Menemanimu. Aku ini bosmu jadi wajar aku harus bersamamu saat mengambil bahan, jangan sampai kau akan mengkorupsi bahan-bahan dari cafe." Ucap Naruto. Asal menceplos dan mencap Sasuke yang bukan-bukan.

"Aku tidak berniat melakukan hal itu." Wajah Sasuke terlihat semakin bosan.

"Hoo, baguslah." Ucap Naruto.

Hening...

Tiba-tiba kembali Sasuke mengerem mobil itu secara mendadak.

"Kau bisa melihatku!" Ucap Naruto. Dia melayang tepat di hadapan Sasuke yang tengah berkendara dan membuat Sasuke terkejut dengan pandangannya yang lagi-lagi terhalang oleh arwah bodoh, sangat bodoh menurut Sasuke.

"Berhentilah menghalangi pandanganku!" Teriak Sasuke. Dia sudah sangat kesal. Tangannya mengepal dan siap meninju wajah Naruto namun tangannya menembus wajah Naruto dan malah mendarat pada kaca mobil. "Ahk!" Rintih Sasuke. Tangannya jadi sangat sakit. Kaca mobil itu cukup keras membuat tangannya terasa seperti di pukul benda yang sangat keras.

"Hahahahah. Kau memang bodoh yaa, hahahhaa." Naruto malah menertawakan Sasuke.

"Diam kau!" Jika saja Naruto itu manusia, Sasuke sudah akan menguburnya hidup-hidup. "Kau sadar apa yang kau lakukan tadi, ha! Aku bisa saja mati gara-gara ulah bodohmu!" Sasuke benar-benar kesal dan memegang tangannya yang masih nyeri.

"Maaf-maaf, hahahaha." Naruto berhenti untuk menertawakan Sasuke. Mencoba kembali duduk tenang. "Jadi, kau bisa melihatku?" Tanya Naruto, dia ingin memastikan sekali lagi jika Sasuke benar-benar bisa melihatnya.

"Berhenti menggangguku dan kembalilah ke cafe." Ucap Sasuke. Kembali melajukan kendaraannya.

Hening. Sasuke tidak mendengar adanya ucapan apa-apa dari Naruto. Melirik sejenak ke kursi sebelah dan raut wajah Sasuke berubah, serasa ingin muntah menatap Naruto yang menatapnya dengan tatapan berbinar-binar dan senyum lebar menghiasi wajahnya. Naruto merasa sangat bahagia, akhirnya dia bisa menemukan orang yang bisa berbicara bahkan melihatnya.

"Jangan memasang wajah menjijikan seperti itu." Ucap Sasuke.

"Akhirnya ada yang bisa melihatku. Aku pikir kita bisa menjadi teman yang baik." Ucap Naruto.

"Aku tidak sudi berteman dengan orang tukang menggerutu sepertimu. Turun sekarang dari mobil ini dan kembalilah ke cafe!" Perintah Sasuke, dia tidak ingin berteman dengan makhluk yang sudah menjelek-jelekkannya.

"Menggerutu apanya? Aku hanya tidak suka jika kau melakukan hal yang tidak-tidak pada istriku dan lagi pula aku harus ikut bersamamu, aku harus menjagamu membawa bahan-bahan untuk cafe." Naruto membela diri.

"Kau sudah mati, dan untuk apa kau menghantui istrimu? Aku bisa sendiri, aku tidak butuh bantuanmu."

"Iya, aku memang sudah mati, tapi aku disini, bahkan kau bisa melihatku, untuk masalah Sakura, uhmm... entalah, aku seperti ini sejak nyawaku sudah tidak tertolong lagi. Kau tahu, aku bahkan tidak bisa menyentuhnya untuk menghapus air matanya saat itu." Naruto terlihat sedih mengingat kejadian setahun yang lalu.

Berisik, yang benar saja, aku tidak ingin mendengar cerita masa lalumu.

"Hei, aku ini bosmu juga, kau harus patuh padaku." Ucap Naruto.

Sasuke memilih diam dan mengabaikan Naruto. Perjalanan yang di rasakannya tadi akan berjalan biasa-biasa saja, saat ini Sasuke menjadi tidak bersemangat dan sudah sangat malas harus satu kendaraan dengan Naruto.

2 jam 45 menit berlalu, jalanan yang cukup bersahabat dan membuat Sasuke datang sesuai jam yang di jadwalkan. Sepanjang jalur yang di lalui terkesan seperti desa. Sasuke baru saja mendatangi pinggiran kota Konoha di sebelah barat. Suasananya begitu sejuk dan tidak ada gedung-gedung tinggi bahkan keramaian di jalan. Mengikuti arah yang di tunjuk Naruto meskipun Sasuke sangat malas harus mematuhi Naruto. Dia tidak ingin mematuhi siapa pun. Mungkin ada pengecualian pada Sakura, selaku bosnya.

Sasuke tiba di pasar pinggiran kota, memarkir mobilnya dengan rapi di lahan parkiran yang tidak jauh dari pusat pasar. Mematikan mesinnya dan keluar dari mobil, mengambil selembar kertas yang di simpannya di laci mobil dan kembali melihat catatan dari Sakura. Nama toko pertama yang harus di datanginya, Sasuke mulai berjalan masuk ke dalam pasar, cukup ramai dan tertib. Sesekali Sasuke akan melirik ke arah kiri dan kanan mencari nama toko itu dan sesekali dia akan kembali menatap selembar kertas itu.

"Ahh..~ membosankan." Ucap Naruto. Mengikut kemana pun Sasuke pergi, melayang-layang di samping Sasuke dan mulai terlihat bosan. Sasuke sangat lama menemukan tokonya.

Sasuke tidak ingin menanggapi hantu bodoh itu dan memilih tidak berbicara dengan Naruto, pasar itu terlalu banyak orang, Sasuke tidak ingin terlihat seperti orang aneh berbicara sendirian.

"Padahal, jika Rin yang pergi dia akan sangat mudah menemukan tokonya."

Berisik!

Sasuke Kembali terganggu dengan arwah yang sangat cerewet itu.

"Hei, apa kau tahu, tokonya itu berada sebelum gerbang masuk pasar ini, kau sudah melewatinya." Ucap Naruto.

"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi..!" Teriak frustasi Sasuke dan menatap kesal ke arah Naruto, yang di tatap malah nyengir-nyengir tidak jelas, mungkin dia sukses mengerjai Sasuke.

Semua orang langsung memandang ke arah Sasuke yang tiba-tiba teriak begitu saja. Dia bahkan hanya sendirian membuat beberapa orang terkejut dan mulai berbisik-bisik jika Sasuke terlihat seperti orang gila.

Tampan, sayangnya gila.

Sasuke segera berlari meninggalkan tatapan miring terhadapnya, berlari hingga bagian gerbang pasar dan berhenti setelah melewati gerbangnya, menatap ke sebelah kanan dan sebuah toko besar hampir seperti gudang tapi pada bagian depannya sudah tertata banyak sayuran segar dan bahan-bahan pokok lainnya.

Mengatur napasnya baik-baik, melirik sejenak ke arah Naruto yang terlihat sangat bahagia, dia bahkan menertawai tingkah Sasuke yang kabur begitu saja. Berpikir jika suatu saat nanti, Sasuke ingin sekali membalas arwah yang sudah membuat tingkat kesabarannya melampaui batas maksimum. Sasuke sudah sangat kesal sejak pertama kali bertemu dan melihatnya. Mengelah napas panjang, Sasuke harus bergegas, tidak ada waktu untuk meladeni Naruto.

Sasuke mulai berjalan dan menghampiri toko itu, beberapa penjual yang berada di samping toko itu dan di dominasi ibu-ibu yang tidak berkutik saat Sasuke lewat di depan mereka.

"Permisi, aku dari cafe Sakura ingin mengambil barang." Ucap Sasuke. membuat ucapannya terdengar lebih ramah di hadapan seorang ibu-ibu penjaga toko atau mungkin dia pemiliknya.

Wanita itu mematung dan tidak berkedip menatap Sasuke. Dia merasa seperti sedang di datangi seorang pangeran minus kuda putih. Sasuke merasa seperti orang bodoh menatap wanita di hadapannya yang tidak juga berbicara apapun.

"Ehem." Sasuke berusaha membuat wanita itu sadar dari pikirannya yang entah kemana.

"Oh, ma-maaf, maaf, aku tadi sedang memikirkan sesuatu." Ucap wanita itu.

Kau menyita waktuku.

Sasuke terdiam. Dia hanya akan menanggapi ucapan wanita itu yang berhubungan dengan kedatangannya.

"Apa kau pacar nona Sakura?" Tanya wanita itu.

"Enak saja! Sakura sudah punya suami dan aku suami sah Sakura!" Protes Naruto setelah mendengar ucapan pemilik toko itu.

"Uhm, aku pacarnya." Ucap Sasuke. Berpikir ini adalah waktu yang sangat-sangat bagus untuk membalas Naruto.

"Sudah ku duga, kau sangat tampan." Ucap wanita itu dan dia terlihat sangat senang.

"Pacar jidatmu! Jangan mengatakan yang di luar fakta, kau hanya seorang pelayan! Ingat! Kau hanya pelayan!" Naruto sukses di buat kesal oleh Sasuke.

Sasuke mengabaikan Naruto dan berbicara dengan pemilik toko itu, dia meminta barang-barang yang sudah di pesan Sakura untuk di bawa ke mobilnya, sementara beberapa pekerja mulai sibuk mengangkut barang, Sasuke di minta untuk duduk sejenak dan nge-teh bersama. Berpikir jika hanya dia dan pemilik toko itu saja akan bersantai bersama teh yang sudah di sedu, beberapa wanita lain yang memiliki toko berdekatan malah berdatangan dan sibuk mengagumi Sasuke.

"Tampannya. Umurmu berapa?" Ucap wanita lain.

"27 tahun." Ucap Sasuke, santai.

"Seharus kau sudah memiliki istri di usiamu." Ucap wanita yang berada di samping Sasuke.

Tidak ada tanggapan. Sasuke memilih diam. Jika dia mau, bahkan satu lusin istri pun akan di milikinya, namun dia bukan tipe pria yang seperti itu, untuk saat ini dia hanya masih mengagumi bosnya yang begitu mahir di dapur untuk membuatnya bisa betah berlama-lama di cafe.

"Pacaran dengan anakku saja, dia cantik kok." Ucap wanita yang berada di depan Sasuke.

"Hei-hei, dia sudah punya pacar."

"Sudah ku bilang! Dia hanya pelayan!" Teriak Naruto. Dia masih belum tenang dengan ucapan Sasuke tadi dan semakin menjadi-jadi dengan ucapan para ibu-ibu.

Sasuke masih mengabaikan Naruto. Suara para ibu-ibu yang sedang di mengelilinginya lebih besar. Dan akhirnya Sasuke menjadi pendengar setia untuk mendengar setiap pembicaraan ibu-ibu itu. Berharap jika barang pesanan Sakura selesai di angkut dan dia bisa bebas dari ibu-ibu yang menurutnya sangat cerewet dan berisik ini.

"Barang-barangnya sudah selesai." Ucap salah seorang pengangkut barang.

"Ah, terima kasih. Maaf, aku permisi duluan, masih ada beberapa toko yang harus ku datangi lagi." Ucap Sasuke dengan ramah dan sopan. Membuat para ibu-ibu itu berbinar-binar sendiri menatap pria yang terlihat sempurna di mata mereka.

Sasuke bergegas pergi setelah pamit. Setelah mengecek barang, Sasuke masuk ke dalam mobil dan melihat selembaran kertas untuk toko berikutnya. Sedikit terkejut dengan wajah Naruto yang tiba-tiba muncul di selembaran kertas itu dan wajahnya benar-benar kesal.

"Kau membuatku marah, apa kau ku pecat?" Ancam Naruto.

"Hanya bos ku yang bisa memecatku." Ucap Sasuke dan memasang wajah penuh kemenangannya.

"Aku juga bosmu!" Protes Naruto.

"Sadarlah, kau sudah mati, dan ucapanmu tidak berlaku lagi."

"Cih! Dasar pantat ayam."

"Apa maksudmu?"

"Lupakan-lupakan."

Sasuke menatap kesal ke arah Naruto yang mulai duduk manis di kursinya.

Kembali hening.

Sasuke melirik ke bawah dan tatapannya mengarah ke kotak bekal yang ada di kursi, dia belum sempat makan apa-apa dan mungkin dia akan makan sebelum ke toko berikutnya. Menyimpan selembaran kertas ke dalam laci, dia sudah ingat toko berikutnya. Tangannya perlahan bergerak dan akan mengambil kotak bekal yang seperti terlihat di duduki oleh Naruto namun tembus begitu saja. Meskipun dia duduk, benda mati yang ada di kursi itu tidak berefek padanya. Naruto yang melihat tangan Sasuke mulai bergerak perlahan mengarah ke selangkangannya mulai terlihat panik. Melirik sejenak ke arah Sasuke yang terlihat datar dan menatap ke arah selangkangannya.

"A-apa yang kau lakukan, ha?" Ucap Naruto, tangan Sasuke berhenti hampir sedikit lagi menyentuh bagian tiiit nya.

"Apa?" Sasuke terlihat kesal, dia butuh makan dan tidak ingin mendengar ocehan arwah yang sangat menyebalkan baginya.

"Kau normal kan? Normal?" Ucap Naruto. Sedikit tidak tenang dengan situasi ini.

"Apa maksud pertanyaanmu?" Ucap Sasuke, dia semakin bingung dengan apa yang di ucapkan Naruto.

"Kenapa kau mau melakukan ini?" Naruto menunjuk tangan Sasuke yang masih berada beberapa senti di depan tiit Naruto.

Sedikit bingung dengan ucapan Naruto, memperhatikan kembali tangannya yang di tunjuk, Sasuke masih terlihat memikirkan apa yang di maksudkan Naruto. Detik berikutnya tangannya menjauh.

"Bodoh! aku ingin mengambil kotak bekal. Minggir kau! lagi pula untuk apa aku melakukan hal bodoh itu! Ha!" Sasuke terlihat kesal, dia sudah tuduh yang bukan-bukan.

"Hooo, aku pikir kau mau melakukan-"

"-Kau pikir aku bisa menyentuhmu, bodoh!"

"Diam kau, berhenti memanggilku bodoh! kau ku pecat!"

"Keluar kau dari mobil!"

"Ini mobilku!"

Beberapa menit berlalu dengan mereka yang saling adu mulut dan Sasuke mulai berasa bodoh sendiri meladeni Naruto, dia akan di anggap pria gila jika berbicara sendiri di dalam mobil. Mengundur waktu makannya, berpikir jika sampai di toko berikutnya, sebelum turun, Sasuke mungkin akan memakannya di sana.

Mobil yang sudah melaju di jalan raya. Sasuke akan mengabaikan kembali Naruto yang masih saja mengoceh di setiap perjalanan, berharap jika Naruto bisa di kuncinya di ruangan agar tidak mengikutinya, namun itu hanya mustahil, tubuh Naruto akan menembus semua benda mati.

Cukup jauh dari toko sebelumnya, kali ini Sasuke berhenti di tempat yang tidak jauh dari pinggiran pantai. Di sini Sasuke akan membeli bahan-bahan dari laut. Setelah memakan bekalnya, Sasuke turun dari mobil dan mulai mencari tokonya. Sedikit berjalan dan Sasuke sudah menemukan toko itu. Tempatnya terlihat seperti pasar ikan atau mungkin pasar penjualan hasil laut, Sasuke bisa melihat berbagai macam ikan, kerang, rumput laut, gurita dan lainnya. Pemilik toko itu seorang bapak-bapak dan terlihat dua anak gadisnya yang sedang memandangi Sasuke. Lagi-lagi Sasuke akan mendapati orang-orang yang memandanginya dengan tatapan yang tidak di mengertinya, mereka seakan-akan tidak bosan menatap wajah Sasuke dan membuat si pemilik wajah bingung sendiri. Dia tidak merasa ada hal yang menarik di wajahnya.

"Halo, kakak, kau orang baru di sini?" Ucap seorang gadis dengan rambut hitamnya sebahu.

"Tidak. Aku hanya akan mengambil pesanan di toko ini." Ucap Sasuke, santai.

"Hooo, di toko kami memang banyak bahan-bahan hasil laut loh." Ucap gadis yang lain, dengan rambut sepinggangnya, yang berdiri di sebelah gadis berambut hitam sebahu itu. Mereka terlihat mirip, namun potongan rambut mereka berbeda.

"Aku tahu. Bisa di lihat dari luar toko kalian." Ucap Sasuke. Merasa dia tidak perlu di beri tahu. Kedua gadis itu tertawa pelan, mereka malu sendiri dengan ucapan mereka.

"Cafe Sakura?" Tanya si pemilik toko. Terlihat seorang bapak-bapak yang berjalan keluar dari tokonya dan menemui Sasuke.

"Iya, aku ingin mengambil pesanan." Ucap Sasuke.

"Oh, baiklah. Mobilmu ada di mana, nanti kami yang akan membawakannya." Ucap pemilik toko.

Sasuke menunjuk ke arah yang tidak jauh dari toko, sebuah mobil bak terbuka dengan beberapa barang dalam kantongan yang sudah berada di di atasnya. Pemilik toko penjual hasil laut itu hanya bekerja sendiri dengan dua orang anak gadisnya, mereka mulai mengangkut satu-satu barang dan di bantu Sasuke. Sesekali dua orang gadis itu akan berbicara dan bertanya banyak hal yang membuat Sasuke cukup malas untuk menanggapi mereka.

"Boleh kami meminta nomor ponselmu?"

"Tidak."

"Kau cukup pelit juga yaa."

"Mungkin."

"Kau tinggal dimana?"

"Tengah kota."

"Lengkapnya?"

"Uhm... aku kurang suka memberi tahu hal privasi pada orang yang baru ku temui."

"Apa alamat rumah termasuk privasi juga yaa?" Mereka berdua tertawa, Pria yang sedang mereka temani untuk berbicara cukup membuat mereka sangat penasaran.

"Neh neh, apa kau sudah punya pacar?"

"Menurut kalian?" Ucap Sasuke. Dia tidak antusias dengan pertanyaan apapun dari mereka.

"Aku rasa kau tidak punya." Ucap mereka bersamaan.

Sasuke terdiam. Mereka seperti tengah membaca pikirannya.

"Iya dia memang tidak punya pacar." Ucap Naruto yang entah muncul dari mana. Dia sudah menenangkan dirinya dan berusaha melupakan ucapan Sasuke saat di toko pertama tadi. Berpikir untuk membalas Sasuke yang sudah membuatnya amat sangat kesal.

Sasuke melirik sejenak ke arah Naruto yang sedang melayang-layang di sampingnya, menatap dengan wajah malas dan kembali fokus ke depan. Dia butuh hal yang membuat makhluk tidak jelas itu kapok dan berhenti mengganggunya.

Beberapa barang sudah angkut. Sasuke bergegas pamit, dia tidak ingin di tanya apapun lagi dari dua gadis itu. Sasuke cukup repot untuk menjawab atau sekedar merespon santai mereka.

Kembali berkendara, Sasuke harus cepat kembali, dia sudah muak seharian bersama Naruto. Masih ada beberapa toko lagi yang harus di singgahinya.

Beberapa jam berlalu, Sasuke sudah pulang dan tiba di cafe, memarkir mobilnya di depan cafe agar mudah memasukkan barang-barang belanjaan. Sasuke mulai menuruni satu persatu barang-barang dan bantu Sakura.

Setelah semua beres, Sasuke memarkir mobil kembali ke dalam garasi. Hari ini cukup melelahkan, bukan karena perjalanan jauh dan di borongi ibu-ibu, wanita-wanita, atau pun beberapa gadis yang di temuinya di setiap tempat yang akan di datangi Sasuke, tapi mendengar ocehan dan di ganggu Naruto cukup menguras emosi dan pikirannya. Mobil sudah terparkir dengan rapi, Sasuke kembali berjalan masuk ke cafe, mungkin bosnya masih membutuhkan bantuan sebelum dia akan pulang, namun berharap jika dia akan pulang lebih lama lagi.

"Apa masih ada yang perlu ku bantu?" Tanya Sasuke, dia sudah berada di dapur dan mendapati Sakura tengah memasak sesuatu, bahan-bahan sudah di simpan Sakura di tempat penyimpanan.

"Tidak ada, semua sudah selesai. Pergilah ke meja makan, aku sudah membuatkan sesuatu untukmu." Ucap Sakura. Menepuk pelan bahu Sasuke dan kembali sibuk mengambil piring.

Sasuke terdiam sejenak, menatap Sakura yang sibuk sendiri. Tanpa di sadari, sebuah senyum terukir di wajah Sasuke, dia terlihat senang melihat Sakura yang sibuk, setidaknya pikiran kusutnya saat perjalanan tadi sedikit hilang setelah melihat kembali Sakura, namun hal itu membuat Naruto tidak senang, dia segera melayang di hadapan Sasuke dan kembali menghalangi pandangan Sasuke.

"Hei, katanya pergilah ke meja makan." Ucap Naruto.

Lagi-lagi pandangannya akan selalu tertutupi oleh wajah kesal Naruto. Tidak ingin menggubris Naruto, karena di sini ada Sakura, dia tidak ingin terlihat aneh lagi di hadapan Sakura.

Duduk tenang di tempat biasanya dia akan makan bersama Sakura. tidak beberapa lama, Sakura keluar dan membawa nampang dan berisi dua piring kare yang baru saja matang.

"Untuk kerja kerasmu hari ini, aku pikir kau akan kesulitan, tapi semua barang yang ku perlukan sudah lengkap." Ucap Sakura, menarik kursi dan duduk.

"Ah, tidak masalah, aku pegawaimu dan aku wajib melakukan apa yang kau perintahkan." Ucap Sasuke.

"Halaaa, dasar gombal." Ucap Naruto yang melayang tepat di samping Sakura. "Dia milikku dan jangan mengganggunya." Ucap Naruto, berusaha merangkul Sakura meskipun tubuhnya menembus tubuh Sakura dan kursi yang duduki istrinya itu.

Sasuke merasa Naruto tidak pernah cukup untuk mengganggunya, seharian yang panjang bersama Naruto dengan segala ocehannya dan sampai saat ini, berdua dengan Sakura pun Sasuke akan mendengar ocehannya lagi, merasa seperti sedang di kutuk untuk di hantui, seharusnya jika Naruto menghantui istrinya, Sakura yang patut melihat bahkan bisa mendengarnya, namun yang menjadi masalah di sini adalah, Sasuke sebagai satu-satunya orang yang hanya melihatnya dan sudah sangat-sangat muak mendengar setiap ocehannya.

"Apa kau tidak menyukai karenya?" Ucap Sakura, dia merasa Sasuke terdiam setelah mencoba kare buatannya.

"Uhm, tidak, aku menyukainya."

"Apa ada yang sedang kau pikirkan kan?" Ucap Sakura. Dia merasa sedikit penasaran dengan Sasuke yang kadang terlihat melamun.

Sasuke menggeleng kepalanya pelan, dia tidak ingin mengatakan jika Naruto, suami Sakura, sedang memelototinya tidak senang, seperti ingin mengisyaratkan untuk tidak memandangi istrinya terus-menerus. "Tidak ada." Ucap Sasuke.

"Setelah ini kau sudah bisa pulang." Ucap Sakura.

"Hn." Sasuke kembali memakan karenya dengan santai, kare ini sangat enak. Sasuke selalu berharap dia akan memakan masakan buatan Sakura terus menerus, Sasuke sampai rela-rela tidak mencicipi apapun di rumahnya demi bisa memakan masakan Sakura di cafe. Duduk berdua dan terkesan akrab meskipun mereka baru beberapa hari mengenal satu sama lain.

.

.

TBC

.

.


halo... apa kabar?

akhirnya bisa update lagi. Hanya punya sedikit waktu untuk mengetik dan baru bisa menyelesaikan satu chapter, kebiasaan untuk update kilat untuk sementara tidak bisa. padahal selalu berharap bisa fast update, biar nggak lama nunggu, tapi apalah, namanya juga manusia, punya kesibukan di kehidupan nyata juga heheheh.

terima untuk beberapa reader yang sudah sebutin judul animenya, author sampai pusing untuk mengingat kembali judulnya, karena udah lama di hapus dari laptop. yups benar, fic ini terinspirasi dari anime "Natsuyuki Rendeveouz" tapi author nggak asal ngambil keseluruhan alur di anime itu. makanya lebih membuat cafe dari pada toko bunga. karena author punya ide tersendiri untuk membuat alurnya. akan terasa bosan jika hanya meniru begitu saja, serasa mengetik ulang cerita yang sudah ada, author hanya mengambil inti ceritanya XD

ternyata fic ini cukup menarik untuk reader, makasih atas reviewnya. pikirnya jika fic ini akan tidak di minati hehehe. maaf jika alurnya masih flat aja. soalnya si abang sasu mash PDKT, entah ini terkesan PDKT atau bukan, hahahha.

uhm.. apa lagi yaa. sudah itu saja, ehehhe, semoga masih tetap membaca dan mereview fic ini.


~balas review~

Niayuki : sudah update yaa. makasih atas reviewnya

Nakize Irawan : iya yaaa, langsung nikah aja, tapi jadi oneshoot aja tuh, hehehe, nggak ada alurnya, padahal inti dari fic ini perjuangan sasuke untuk mendapatkan saku,

undhott : iya, tetap sasu-saku kok.

Nyonya Faqih : sudah update yaa. makasih atas reviewnya

Frizca A : maaf, bukan yang itu yaa, hehe, author sudah jelaskan di atas XD sarannya di tampung.

sitieneng4 : horor banget yg rambut panjang dan daster putih, asal bukan hantu yang memakai baju biarawan yaaa. author terkena virus valak.

coretan hikari : iya, sudah benar, makasih sudah mengingatkan judulnya

mantika mochi : yg PDKT lebih tampan dari pada mantan suami, khakhakhakha

ytamano : ahk, iya, judulnya itu. yups, toko bunga. tapi author hanya menonton animenya saja, belum pernah baca manganya sih. ehehe sudah update yoo

Mustika447 : yeey, baru lagi, hehehe, sudah update yoo

Guest : iya, makasih udah di ingatin judulnya

embun(adja1) : makasih, sudah update yoo

Kirara967 : aduh, maaf lama banget update ya. hari ini baru kelar di edit.

ainirahmi26 : sudah update yaaa

Devi Na Akeyama : aduh, makasih banget reviewnya. sudah update yaa

Rizumu no Sakura : nggak ada gore-gore dan horor yaa. sudah update .

Uchiha Jidat : makasih, maaf lama update yaa

Shinju Hyuuga : alasannya karena akan ada hal yang membuat sasu harus membantu naru *spoiler* untuk univ. Mizu, sebenarnya itu hanya karangan author yang sudah menjadi ciri khas di tiap fic author. yang faktanya Mizu adalah sebutan pemimpin di desa Kirigakure, atau lebih tepatnya Mizukage di anime Naruto, hehhehe, jadi itu tidak ada yoo. aduh, ndak nyangka jika ada yang perhatikan itu. hehe


see you next chapter.