Loving You
Author :
Anisaaa
Rate :
T
Category :
Yaoi/BL, family, lil angst, drama, Childish!Grumpy!Min
Cast :
- Lee Sungmin
- Cho Kyuhyun
- Other cast
Summary:
Sungmin terjebak dalam pernikahan yang tidak diinginkan bersama seseorang bersama Cho Kyuhyun. Namja kaku yang menurutnya sangat-sangat pabbo. Sangat-sangat menyesal mengapa ia berakhir dengan suami bodoh seperti Kyuhyun yang bahkan tidak bisa mengelap kaca.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
DISLIKE? GO AWAY!
ENJOY~
.
.
Seohyun menatap bingung namja yang duduk di depannya. Sahabatnya yang selalu memasang poker face dalam keadaan apapun itu memandangnya penuh luka. Gadis itu tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ketika ia datang semuanya masih baik-baik saja, lalu tiba-tiba namja di depannya memasang wajah menyedihkan seperti itu.
"Kau meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Bukankah kau sahabatku, Seohyun-ah?"
"Keadaan seperti apa? Aku tidak mengerti. Apa sesuatu terjadi padamu, hm?" tanya Seohyun lembut.
"Seo…" Kyuhyun berkata lirih. Matanya memanas dan berkaca-kaca. "Tetaplah disini… jebbal"
Tes
Dan seketika airmatanya jatuh. Ia mengusap pipinya kasar. Kyuhyun bahkan tidak peduli lagi dengan harga dirinya yang jatuh karena menangis di depan seorang gadis. Masalah seperti ini, terlalu berat untuknya.
"Aku… tidak tahu harus bagaimana…"
"Dia meninggalkanku. Seo, apakah aku tidak cukup sempurna untuknya?"
"Sulit sekali… Sulit sekali membuatnya mengerti. Aku… sangat mencintainya. Aku tidak bisa menghentikan semua ini dengan meninggalkannya. Tidak bisa, Seo…"
"Bantu aku… jangan tinggalkan aku dengan pergi ke Kanada"
Air mata Seohyun tumpah, sakit rasanya melihat seseorang yang sangat ia cintai terjebak dalam keadaan yang tidak bisa ia atasi sendiri. Ia merelakan Kyuhyun dengan yang lain hanya agar namja itu bahagia, bukan menangis di depannya seperti ini. Gadis itu memeluk Kyuhyun yang sesegukan dan mengusap bahunya yang bergetar.
"Aku tahu… Aku disini… akan selalu disini, Kyu"
Sementara itu di sisi lain, seorang namja dengan cardigan putih gading menatap heran seseorang yang sangat dikenalnya sedang berpelukan dengan seorang gadis asing. Seketika namja itu—Eunhyuk―membayangkan jika sahabatnyalah yang akan melihat adegan ini. Sekarang Ia mengerti, Kyuhun memang tidak baik untuk sahabatnya. Pria manis itu menghela napas kasar, hendak berbalik. Karena sama sekali tidak tertarik untuk memisahkan pasangan yang sedang berpelukan di hadapannya.
'Sungmin-ah, mianhae…'
.
.
.
Mr & Mrs. Lee's home
Rumah mereka malam ini sangat ramai. Suara gaduh dari lantai atas ulah teman-teman Sungjin yang sedang bermain game di kamar adiknya ditambah dengan suara penuh tawa dan sesekali makian dari arah dapur.
Sungmin terlihat serius dengan adonan kue ke tiganya. Ryeowook bilang adonan pertamanya tidak ada rasa, lalu adonan keduanya terlalu pahit. Dan jika adonan ketiga akan kembali gagal, Sungmin akan membantingnya ke lantai dan mencekik leher Eunhyuk yang sama sekali tidak membantu malah mengganggu.
Ryeowook senang, setidaknya sahabat satu alirannya ini bisa kembali tersenyum dan tertawa seperti biasanya. Sungmin sudah kembali responsif setiap kata-kata yang berhubungan StepUp terucap, lalu seperti biasanya duo fans fanatic itu akan sibuk dengan dunianya sendiri tanpa peduli dengan Eunhyuk yang terbengong-bengong ditengah-tengahnya.
"Aah ketika Siwonnie ulang tahun nanti, aku akan membuat kue terenak untuknya hihihi"
"Lalu kau akan menelponnya dan memintanya untuk bertemu begitu? Kau pikir mereka pengangguran!" balas Eunhyuk sengit karena terlalu lama diabaikan.
"Ya! Monyet centil, tentu saja aku akan meminta bantuan Hyukjae"
"Hyukjae? Kau pikir Hyukjae itu tidak punya pekerjaan. Enak saja kalau bicara!"
"Ya! Ya! Ya! Kau ini bodoh sekali, monyet. Aku kan berteman dekat dengan kembarannya hehehe"
"Mwo?! Kau pikir aku mau membantumu? BIG NO, Sungminnie sayang"
"Ya! Lee Eunhyuk! Kau tidak mau membantu kami untuk berurusan dengan StepUp, huh? Begitukah? Aku akan bilang pada Donghae-mu kalau kau selama ini tebar pesona di cafemu dan juga kau sedang dekat dengan yeoja imut pelanggan setiamu yang namanya eum…. Siapa itu…. Lee― Lee Jieun?" ancam Ryeowook
"Aish, kalian berdua ini jahat sekali. Kalian ingin Donghae membatalkan pertunangan kami? Jahat sekaliiii" melas Eunhyuk. Namja itu bergidik ngeri ketika membayangkan kekasihnya mengetahui skandalnya di café. Ahh, ikan yang sedang marah sangatlah menyeramkan.
"Hahaha, anniyo Eunhyukkie baby… kami sangat-sangat mencintaimu, kau tahu itu kan?" goda Ryeowook seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Ish! Geumanhaera! Kau membuatku iritasi, wookie" balas Eunhyuk risih sementara Sungmin hanya terkekeh kecil. "Ah! Minnie-ya, Kyuhyun… apa kabar?"
Tawa Sungmin terhenti, wajahnya menjadi dingin dan seketika suasana berubah mencekam. "Ya! Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang suami orang. Dasar monyet centil!" sela Ryeowook mencoba mendinginkan suasana.
"Ish! Hanya bertanya, Kim Ryeowook! Nah, jadi bagaimana kabarnya, Minnie-ya?" tanya Eunhyuk lagi―seperti sedang mengorek sesuatu.
"Molla…" lirih Sungmin dan setelahnya namja itu berlalu dari hadapan kedua sahabatnya. Mengundang tatapan bingung dari Eunhyuk dan gelengan pelan Ryeowook.
"Apa… terjadi sesuatu dengan mereka?" tanya Eunhyuk pada sesorang disebelahnya ketika Sungmin benar-benar hilang dari pandangannya.
Ryeowook menghela napas kasar. "Mereka bertengkar… malam itu, aku menemukannya terluka di depan pintu rumahku…" jawabnya pelan
"Mwo?!"
Kekasih dari Lee Donghae itu terperanjat kaget. Dalam pikirannya, Eunhyuk mencoba untuk menghubung-hubungkan kejadian demi kejadian dengan apa yang tadi siang. Batinnya mencelos, seseorang yang selama ini terlihat begitu baik di depan sahabatnya ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.
.
.
.
"… bisakah kau memberikan kesempatan kedua untuk hubungan kita?"
"Aku pikir kita butuh lebih banyak waktu untuk saling memahami. Benar begitu kan, Sungmin-ah?"
"… aku harap kau segera pulang, aku menunggumu"
Sungmin tersenyum getir. Dadanya terasa sesak sekali. Namja itu telah menghancurkan banyak hal dalam hidupnya : mimpinya, kebebasannya, dan terakhir… jiwanya. Lalu tiba-tiba sosok brengsek itu datang padanya. Meminta maaf dengan wajah seolah-olah yang terjadi malam itu tidak berdampak apa-apa terhadap kondisi psikisnya. Mengharapkan kepulangannya dan berkata bahwa namja itu menunggunya. 'Cih, brengsek!'
Seumur hidupnya, Sungmin tidak pernah dipukul oleh siapapun termasuk ahkan ayah dan ibunya. Seumur hidupnya, Sungmin tidak pernah dibentak oleh siapapun. Seumur hidupnya, yang ia tahu semua orang menyayanginya dan bahkan terlalu tidak tega untuk menyakitinya seujung jaripun. Kejadian malam itu membuatnya kepalanya kembali terasa sakit. Tangannya bergetar, dan bibirnya ia gigit kuat-kuat untuk menahan luapan emosi di dadanya. Dan nyaris saja piring yang sedang ia cuci dengan tangannya yang gemetar hebat terhempas ke lantai.
"Sungmin-ah, gwaenchana?" Mrs. Lee memegang bahu puteranya yang gemetar lalu membalikkannya perlahan. Wanita yang usianya sudah tidak muda lagi itu tersentak ketika mendapati wajah putera sulungnya yang basah dengan air mata disertai dengan isakan samar. "Sungmin-ah… wae geurae, hm?"
Sungmin hanya menjawab dengan isakan yang makin kentara. Mrs. Lee memandang miris puteranya. Wanita itu membersihkan kedua tangan anaknya yang penuh dengan sabun cuci piring dengan air lalu menuntunya untuk duduk berdua di sofa ruang keluarga.T-teman Sungmin dan Sungjin baru saja pulang setengah jam yang lalu, wajar jika rumah ini terasa begitu sepi. Hanya terdengar isakan samar milik Sungmin.
"Eomma… Hiks"
Mrs. Lee memeluk lalu mengusap punggung putra sulungnya sayang. Si Sulung yang lebih sering terlihat manja dan kekanak-kanakan ini sekarang terlihat begitu menyedihkan. Sebagai seorang ibu, dia tahu bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi pada puteranya.
"Kyuhyun hiks… aku membencinya"
Mrs. Lee tersenyum lembut. Puteranya ini pasti sedang bertengkar dengan suaminya dan ia tahu pasti tentang penyebab pertengkaran itu. Apalagi selain namja bernama Siwon itu. 'Ah, hanya pertengkaran biasa' pikirnya sederhana.
"Nah, kalau begitu dewasalah, Sungmin-ah"
Sungmin menghapus air matanya dan menggeleng pelan. "Ini bukan tentang dewasa atau tidak, Eomma. Namja itu… dia membentakku"
"Menghancurkan kamarku…"
"Memecahkan foto pernikahan kami…"
"Dan dia… menghempaskanku ke ranjang dengan sangat kasar… hiks"
Kedua mata Ibu dua anak itu melebar. Tebakannya salah besar. Pertengkaran rumah tangga putera sulungnya ternyata tidak sesederhana dalam pikirannya. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya, mencoba menahan isakan yang keluar bersamaan dengan air mata.
"Eomma… uljima. Nan gwaenchana…"
"Sungmin-ah, mianhae… ini salah eomma"
"Tidak ini—"
"Seharusnya aku mendengarkanmu, bukan ayahmu"
"Eomma, aku―"
"Dengar sayang, pernikahan itu adalah sebuah ikatan. Eomma benar-benar meminta maaf soal ini. Kau harus bertahan sayang… harus"
Sungmin terisak pelan di pelukan erat ibunya. Bertahan? Apa yang harus dipertahankan dari hubungan yang seperti ini? Dan ini bukan salah ibunya, sama sekali bukan salah ibunya. Harusnya pagi itu, ia kabur saja dari upacara pernikahan itu, bukan malah menuruti kemauan ayahnya.
"Sungmin-ah… hanya bertahan. Kau bisa, kan?"
Sungmin terdiam selama beberapa saat. Bertahan dengan namja yang telah menghancurkan hidupnya tidak akan semudah membalikan telur di penggorengan.
"Kyuhyun… dia pasti punya alasan kuat mengapa ia melakukan hal itu padamu. Jadilah pendamping yang baik untuknya apapun keadaannya. Eomma tidak ingin kau menyesal karena memiliki riwayat pernikahan yang hancur"
"…"
"Belajarlah dewasa, sayang. Hanya ada satu cara melewati ini semua… menerimanya"
.
.
.
February 25, 2013
Gravity Corp. Buildings
Sungmin berdiri tepat di depan gedung pencakar langit. Kantor Cho Kyuhyun. Si brengsek yang melakukan pelecehan seksual padanya beberapa waktu lalu. Ah mulai saat ini sepertinya ia memang harus mengubah sikapnya pada Kyuhyun. Mungkin apa yang Eommanya bilang itu benar kalau semua ini terjadi karena dirinya yang terlalu kekanak-kanakan. Bibirnya sedikit tertarik ke samping seraya memandangi kemegahan kantor namja yang sedang ia umpat di kepalanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya resepsionis dengan name tag Lee Hanui.
"Mmm… Cho Kyuhyun. Aku ingin bertemu dengan Cho Kyuhyun"
"Presdir Cho? Apa anda sudah membuat janji?"
"Ung? Janji?" Sungmin memiringkan kepalanya. Sejak kapan untuk bertemu Cho Kyuhyun harus membuat janji terlebih dahulu. Terlebih dia―
"Ne, anda bisa bertemu dengan beliau jika tuan sudah membuat janji"
"Tapi dia—"
Ahh tidak, jangan katakan kau istrinya. Bukankah itu sangat memalukan pikir Sungmin.
"Maksudku, biasanya aku bisa bertemu dengannya tanpa janji"
"Mungkin itu ketika diluar kantor, Tuan. Apakah ada pesan yang ingin disampaikan pada Presdir? Saya bisa mencatatnya lalu menyampaikan pesan anda pada Presdir"
"Ah, ani. Aku―"
"Sungmin-ah?"
Sungmin menoleh ke arah kiri. Seseorang dengan jas abu-abu yang berdiri 5 meter darinya itu memanggilnya. Ia tersenyum senang begitu menyadari siapa yang baru ditemuinya. Orang ini bisa membantunya untuk bertemu dengan Kyuhyun, pikirnya.
"Donghae-ya. Kemari, aku butuh bantuanmu. Ppaliwa" Sungmin berusaha berkata selirih mungkin seraya melambai-lambaikan kedua tangannya pada kekasih sahabatnya itu.
"Wae geurae?" tanya Donghae ketika ia berdiri di samping Sungmin, dan mereka berdua kini berdiri di hadapan resepsionis cantik bernama Lee Hanui itu.
"Katakan padanya aku harus bertemu Kyuhyun, sekarang" bisik Sungmin di telinga Donghae.
"Bilang saja kau istrinya. Beres, kan?!" balas Donghae
"Ish, tidak bisaaaa"
"Mianhamnida, Tuan?" Lee Hanui membuat Donghae dan Sungmin seketika menoleh ke arahnya lalu tersenyum mencurigakan.
"Hanui-ssi… mmm… namja ini orang penting Presdir"
"Ah jeongmalyo? Kalau begitu aku minta maaf mmm tuan―"
"Sungmin. Lee Sungmin" sambung Sungmin dengan senyuman lucu membuat segaris sabit di kedua matanya.
Resepsionis itu langsung menghubungi seseorang. Sungmin tidak terlalu memperhatikannya, yang jelas wanita di hadapannya ini pasti sedang memberitahukan pada asisten Kyuhyun tentang kedatangannya.
"Presdir Cho ada di ruangannya, mari saya antar"
"Ah, tidak perlu. Aku saja yang mengantarnya" Donghae dengan sigap menggantikan tugas Hanui. "Ayo, min-ah" ucapnya kemudian.
.
.
.
"Nah, ini ruangan suamimu. Ketuk pintunya, tunggu 3 detik lalu buka dan ucapkan 'annyeong haseyo' dengan sopan, arrachi?" tutur Donghae.
"Aish, ya ya ya arraseo! Terimakasih atas bantuannya dan cepatlah pergi"
"Ya! Aish, kalau saja kau bukan istri atasanku dan bukan sahabat Eunhyuk, aku sudah mencekikmu Lee Sungmin!"
"Aku tidak takut! Mehrong~ Kka!"
"Ish" namja tampan itu mendesis kesal lalu segera pergi dari orang paling menyebalkan yang naasnya adalah istri atasannya.
Sungmin menggenggam kedua tangannya yang terasa dingin. Ah, belum juga ia memegang pintunya. Menghela napas panjang berkali-kali lalu memberanikan diri mengetuk pintu berwarna coklat tua itu dengan pelan. Dari arahan Donghae tadi, sepertinya Kyuhyun merupakan atasan yang keras dan galak pikir Sungmin. Setelah ketukan yang ketiga, Sungmin membuka pintu itu dan seketika terdengar seperti suara orang sedang mengobrol dari dalam.
Tepat ketika Sungmin akan mengucapkan 'annyeong haseyo' ia tersentak kaget melihat pemandangan yang ada di depannya. Di sofa yang sepertinya digunakan untuk menerima tamu itu, seorang namja yang duduk membelakanginya—Kyuhyun—sedang mengobrol akrab dengan seorang… yeoja yang asing di matanya. Pria manis itu terpaku di tempatnya.
Yeoja yang mengobrol bersama Kyuhyun itu sepertinya menyadari seseorang yang sedang berdiri kaku di ambang pintu ruang kerja Kyuhyun. Gadis itu―Seohyun―mengerenyitkan dahinya bingung dan heran. Dan hal ini memicu Kyuhyun untuk menoleh ke belakang.
"Sungmin-ah?"
Suara bass yang sangat dikenalnya membuat Sungmin tersadar dari keterkejutannya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu menatap pasangan manusia yang ada di depannya dengan wajah seolah tidak ada hal serius yang terjadi dan membungkukkan badannya dengan sopan.
"Josonghamnida. Saya mengganggu waktu kalian"
CKLEK
Pria manis itu berlari ke arah lift secepat mungkin. Bisa gawat kalau Cho―Ah maksudnya Si Brengsek itu bisa mengejarnya dan mencekal tangannya. Entah kenapa tiba-tiba saja wajahnya memanas dan seperti ada sesuatu yang mendesak keluar dari matanya.
Tuk
Tuk
Tragisnya, lift tidak juga terbuka sedangkan ia sudah panik kalau-kalau Kyuhyun tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Saking kesalnya, ia memukul mukul tombol Down berkali-kali. Sungmin tidak peduli jika orang-orang disekitarnya menganggapnya orang gila. Dengan pipi yang basah air mata, mata yang melirik kesana kemari dengan panik, dan tangan yang memukul tombol-tombol yang ada di depan lift.
TING
Ia tersenyum lega begitu benda kotak di depannya terbuka dan langsung masuk begitu saja dengan langkah yang tergesa-gesa tanpa mempedulikan orang-orang di dalam lift yang menatapnya aneh. Rasanya lega sekali setelah memastikan bahwa si brengsek itu benar-benar tidak mengikutinya meskipun ia agak kesal ketika liftnya harus berhenti di lantai yang bukan pilihannya untuk menurunkan yang lain karena menurutnya ini buang-buang waktu. Ia ingin cepat-cepat pergi dari kantor ini dan merebahkan diri di kasur yang empuk lalu tidur sampai besok pagi.
Tepat ketika ia mengusap pipinya untuk menghapus jejak air mata yang keluar, pintu lift itu terbuka.
TING
Dan lagi-lagi ia dibuat terpaku dengan seseorang yang berdiri tepat di depan lift terbuka yang dinaikinya. Si brengsek itu… Cho Kyuhyun. Berdiri di depan liftnya dengan napas tersengal-sengal dan anak rambut yang lepek di dahinya karena keringat.
GREP
Tangan kekar itu menarik tangan salah satu namja yang berada di dalam lift. Mengatur napasnya yang pendek-pendek selama beberapa detik agar ia bisa berbicara dengan lancar dan membiarkan namja manis yang ada di depannya masih memasang tampang kaget dan bingung.
"Aku… Hhh bisa…. Hhhh jelaskan… Hhhh"
"…"
"Huffhhh… Dengar, yang tadi itu tidak seperti yang kau lihat"
"…"
"Akuhhh… Hhhhh… Hhhhh… Akuhhh t-tidak Hhhhh"
"…"
"Akuhhh… Tidak—"
BRUG
"OMO!"
Namja dengan wajah tampan dan napas yang pendek-pendek itu akhirnya terjerembab ke lantai marmer yang dingin, tepat di depan Sungmin yang langsung menjerit kaget.
.
.
.
Sebenci apapun dia dengan Kyuhyun, tapi tetap saja… dalam keadaan seperti ini, Sungmin tidak sanggup untuk meninggalkannya. Ia tidak mengerti mengapa hari ini banyak sekali hal-hal yang membuatnya terkejut. Mulai dari yeoja asing yang ternyata bernama Seohyun sampai dengan Kyuhyun yang tiba-tiba tidak sadarkan diri tepat di hadapannya dan itu membuat gempar orang-orang di kantor namja yang kini belum sadarkan diri sejak tadi sore.
Sungmin terduduk lemas di samping Kyuhyun yang masih belum siuman, dan di sebrangnya… Seohyun berdiri menggenggam telapak tangan milik Kyuhyun dengan raut wajah yang sarat akan kekhawatiran dan kesedihan. Jujur, pemandangan itu membuat Sungmin agak iritasi.
"Sungmin-ssi…"
Sungmin mendongak. Menatap kedua mata Seohyun dalam sembari menggumam pelan.
"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi… bisakah kau menjaganya untukku?"
"Huh?"
"Kyuhyun… dia sakit" ucap Seohyun dengan suara bergetar menahan tangis.
"Manhi apa?" (sakit parah?)
Gadis itu mengangguk pelan. "Aku akan ke Kanada besok. Jaga dia, jebbalyo…"
"Ne…"
Tidak ada pilihan lain selain menjawab 'ya' meskipun Sungmin masih tidak percaya dengan ucapan gadis di depannya. Bisa saja si brengsek yang sedang tertidur pulas ini memainkan sandiwara pelik dengan gadis yang baru saja memasang wajah seakan-akan Kyuhyun bisa mati besok karena penyakitnya. Lagipula Seohyun hanya menyebutkan namanya tanpa memberitahukan siapa dia. 'Bukankah dalam hal ini patut dicurigai, hm?' Batin Sungmin.
"Aku harus pergi. Sampai jumpa, Sungmin-ssi…" ucap Seohyun berusaha ramah dan hanya dijawab senyuman simpul dari Sungmin.
"Ish!" desisnya sebal ketika melihat wajah sok polos namja di depannya.
'Aku pasti sedang dibohongi. Dokter tadi tidak mengatakan apapun padaku, berarti dia baik-baik saja kan? dasar wanita ular! Tinggal bilang saja kalau ia adalah kekasihnya tanpa perlu repot-repot mengarang cerita si brengsek ini sakit parahlah inilah itulah. Pasangan sialan!' batin Sungmin jengkel.
.
.
.
"Ya! Ireonna!"
"…"
"YA!"
"…"
"IREONNABWA!"
"…"
"SAEKKI-YA! IREONNABWA!"
Manik kelam yang tertutup selama berjam-jam itu secara mendadak terbuka lebar. Mungkin kaget dengan suara melengking namja di sampingnya. Namun begitu mendapati orang yang berteriak tadi adalah orang yang paling ingin ditemuinya saat ini, ia tersenyum senang.
"Apa lantai marmer kantormu sukses membuat kadar ketidak-warasanmu bertambah, huh?" tanya Sungmin sarkastis.
Kyuhyun makin tersenyum senang. Melihat Sungmin marah-marah seperti ini lebih baik daripada Sungmin beberapa hari lalu yang bersikap dingin padanya. Namun sayangnya, melihat Kyuhyun dengan pakaian rumah sakit dan tersenyum-senyum seperti itu malah menyulut emosi Sungmin.
"Kau cocok dengan pakaian itu!"
Dahi Kyuhyun berkerut lalu memandangi pakaiannya dan Sungmin yang sedang duduk di sofa tak jauh dari ranjangnya secara bergantian. Apa pakaian pasien dengan corak beruang-beruang kecil berwarna biru ini memang benar-benar cocok untuknya?
"Jeongmal?" tanya Kyuhyun tak percaya.
"Ne" jawab Sungmin serius. "Kau terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa"
Dan ucapan Sungmin sangat sukses membuat Kyuhyun tertohok. Namja tampan itu dengan tergesa-gesa turun dari ranjangnya dan menghampiri tas yang ia tahu isinya adalah baju miliknya. Membuka satu demi satu kancing baju pasiennya dengan tidak sabar dan mengabaikan tatapan risih dari Sungmin.
"YA! MICHEOSSEO!" pekik Sungmin histeris.
Kyuhyun menghentikan aksinya. Ia menatap istrinya heran. "Wae?" tanyanya polos.
"Kau pikir badanmu itu bagus! Aku tidak suka melihatmu half-naked seperti itu! Kka!"
Namja tampan itu menyeringai. Ia membalikan badannya hingga dadanya berhadapan dengan Sungmin yang membuat namja manis itu makin membulatkan matanya. Namun sedetik kemudian, Sungmin malah memandang aneh pada sesuatu di dada Kyuhyun.
ASTAGA! LUKA OPERASINYA!
Kyuhyun cepat-cepat menutupi luka jahitan itu dengan telapak tangannya. Namun terlambat―
"Di dadamu… Apa itu tato model baru?"
"Ng… Ya, tato. Tato model baru, anggap saja seperti itu" jawab Kyuhyun kikuk.
Sungmin beranjak dari duduknya dan mendekat ke dada Kyuhyun. Menelitinya dengan seksama seraya mengusap guratan bekas jahitan yang ada di dada suaminya tanpa bermaksud apa-apa.
"Apa kau pernah kecelakaan?"
—Kyuhyun menggeleng
"Operasi?"
"…"
"Cho… Kau mengidap suatu penyakit ya?"
"…"
"Jadi, apa kata kekasihmu itu benar" lirih Sungmin.
Kyuhyu terkesiap. "Mwo? Kekasih yang mana?"
"Wanita yang kemarin di kantormu. Itu kekasihmu, kan. Aku pikir―"
"ANI! DIA BUKAN KEKASIHKU!"
Dan kini gentian Sungmin yang terkesiap.
"Ah! Mianhae… maksudku dia bukan kekasihku. Sama sekali bukan! Dia itu sahabatku!" ralat Khyuhyun dengan nada yang lebih lembut.
Mendengar hal itu, Sungmin mengedikkan bahunya tidak peduli. "Kau sakit apa?"
"Sesuatu yang tidak membahayakan dan menular. Tenang saja, aku tidak akan mati karena penyakit itu" jawab Kyuhyun percaya diri.
"Hei, bodoh! Aku tanya kau sakit apa, bukan apakah penyakit itu bisa membuatmu mati atau tidak!"
"Ah, tidak penting… lupakan saja. Yang penting aku sudah sembuh total sekarang"
PLAK
"Aduh!" Namja yang tanpa sadar masih bertelanjang dada itu mengusap-usap kepalanya yang baru saja mendapat geplakan sayang dari istrinya.
"AKU TANYA KAU SAKIT APA?!"
Sungguh, telinga Kyuhyun rasanya berdengung-dengung nyeri saat ini. "Pneumothorax" jawabnya singkat.
"Eih, apa itu?! Aku tidak pernah mendengarnya. Lalu apa hubungannya dengan operasi ini?" cecar Sungmin
"Operasi ini adalah bukti bahwa aku sembuh total. Cukup interogasinya, Tuan Lee Sungmin!"
—Sungmin mendengus kesal.
"Sekarang aku yang tanya. Jadi apa kau sekarang sudah memaafkanku?"
Ah iya, dan Sungmin baru ingat tentang hal itu sekarang. Kenapa mereka malah terlihat akrab? Pikirannya kembali pada kata-kata ibunya. 'menjadi pendamping yang baik' kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya dan membuatnya cukup pusing.
"Molla…" jawab Sungmin sekenanya dan kembali duduk di sofa yang sempat ia duduki tadi. Mengabaikan Kyuhyun yang terus memandangnya dengan keadaan masih bertelanjang dada.
"Ck! Kalau begitu sore ini ayo kita jalan-jalan"
"Hng?"
Sungmin beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu. Setelah membuka daun pintu, ia menoleh kebelakang, memandang Kyuhyun dengan tatapan agak merendahkan dan tersenyum sinis.
"Aku tidak mau pergi dengan namja tidak memakai baju!"
BLAM
Dan meninggalkan Kyuhyun di ruang rawat inap VVIP yang baru sadar bahwa sejak beberapa menit yang lalu ia tidak memakai apapun dalam ruangan bersuhu rendah itu.
.
.
TBC
.
.
Menurut saya ini failed banget. BBF―bener bener failed―
kalo nggak suka atau merasa kurang dan bosan bilang aja
maap banget inimahhh
Thanks for the reviewers before before, saranghanda :*
Keep Revies pleaseeee :3
October 29, 2013
