Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan

Rate : M for Save.

catatan : fic ini tidak mengandung unsur gore atau pun horor yang wow banget, fic ini hanya di bubuhi humor yang semoga terkesan lucu meskipun garing XD

.


.

DON'T LIKE DON'T READ

.

- Ghost Terror -

[chapter 04]

.

.

.

Hujan menjadi semakin deras, Sakura masih berlari menerobos hujan, berhenti sejenak dan berbalik, dia sudah sangat jauh, bahkan Sasuke pun tak terlihat. Sakura mencoba mengatur napasnya. Berlari dengan cepat membuatnya kelelahan sendiri. Baru kali ini Sakura berlari secepat ini. Kembali berjalan dengan gontai, tidak jauh lagi Sakura akan sampai di rumahnya.

Tiba di depan rumahnya, mengambil kunci di saku bajunya dan membuka pintu, menyalakan saklar lampu yang berada tidak jauh dari pintu masuk, Sakura masih berjalan dengan gontai, tidak perduli lagi dengan lantai rumahnya yang basah karena air yang berjatuhan dari pakaian Sakura.

"Sakura, ada apa?" Ucap Naruto, dia terlihat cemas dengan tingkah Sakura yang tidak biasanya. "Apa pelayan bodoh itu melukaimu? Atau melakukan hal yang buruk padamu? Ada apa Sakura? katakan sesuatu?" Naruto merasa percuma dengan apapun yang di ucapkannya, Sakura tidak mendengarnya.

Sakura masih berjalan dan menuju kamar mandi. Membuka seluruh pakaian basahnya dan membuangnya sembarangan ke lantai. Masuk ke tempat shower dan menyalakan air hangat. Sakura tidak bergerak atau sekedar mengusap tubuh dan rambutnya. Wajahnya tertunduk ke bawah dan membiarkan air dari shower itu membasahi kepala hingga tubuhnya.

'Aku mencintaimu'

Sakura terkejut dan mematikan showernya. Kembali mengingat ucapan Sasuke. Sakura merasa bimbang, dia sungguh tidak membutuhkan pendamping baru, Sasuke sudah di anggap teman olehnya, seperti halnya Rin yang di anggap saudara. Sakura tidak pernah memberi perlakuan khusus pada siapa pun, tapi, kenapa Sasuke bisa menyatakan perasaan cinta padanya? Sakura menggeleng kepalanya dengan cepat.

"Maaf, Sasuke. Aku tidak bisa." Ucap Sakura. Semakin menundukkan wajahnya.

Naruto melayang di luar tempat shower menatap ke arah Sakura yang masih juga belum keluar namun showernya sudah mati. Naruto merasa cukup kesal. Dia tidak sabar ingin membalas Sasuke yang sudah membuat Sakura seperti itu. Raut wajahnya seakan padam dan tak menampakkan keceriaan. Padahal saat mereka pergi, Sakura terlihat senang dan sangat bersemangat. Dia jarang untuk bepergian. Jika liburan Sakura akan habiskan waktu di rumahnya atau pergi ke rumah ibunya atau sekedar mengunjungi mertuanya.

Merasa cukup lama di dalam dan udara di sekelilingnya kembali mendingin, Sakura berjalan keluar, mengambil handuk dan melilit tubuhnya. Naruto masih memperhatikan istrinya itu. Wajahnya kembali seperti biasa. Dia kembali tenang dan santai. Memungut pakaian basahnya yang tergeletak di lantai dan memasukkannya ke mesin cuci. Mengambil handuk lain untuk mengeringkan rambutnya. Jam masih menunjukkan siang hari tapi hujan di luar masih juga belum redah.

Berjalan masuk ke kamarnya dan membuang dirinya di sana. Menatap langit-langit kamarnya dan menutup mata. Dia merasa sedikit lelah, lelah dengan perasaan dan lelah berlari. kebiasaan Sakura jika menemukan tempat yang nyaman akan langsung tertidur. Dia tertidur dengan keadaan masih memakai handuk di tubuhnya dan di kepalanya.

"Hei, setidaknya kau kenakan dulu pakaian sebelum tidur. kau akan masuk angin jika seperti itu." Tegur Naruto. Menghela napas sejenak, Sakura tidak akan mendengarkannya.

Naruto melayang lebih dekat ke arah Sakura. Membelainya, memeluknya dan mengecup keningnya meskipun tak tersentuh. Naruto akan selalu melakukan hal itu pada Sakura, pada istrinya yang sangat di sayanginya. Berharap jika tiba-tiba saja dia bisa menyentuh istrinya saat ini.

"Aku benci keadaan ini, aku merasa tidak berguna untukmu Sakura." Ucap Naruto.

Naruto masih merasa ada yang tidak beres, jika bertemu Sasuke dia butuh penjelasan akan sikap Sakura hari ini.

Di kediaman Uchiha.

Sasuke pulang dengan basah kuyup, dia bahkan tidak memakai payungnya dengan benar. Beberapa pelayan yang melihat Sasuke segera mengambilkan handuk kering untuknya.

"Kau sudah pulang? Oh ya ampun, kau akan membasahi lantai Sasuke." Ucap Itachi, mendapati adiknya itu seperti anak kecil yang berjalan santai masuk dengan pakaian yang masih basah dan dia hanya melap wajahnya saja.

"Berisik." Balas Sasuke. Dia tidak peduli dengan lantai yang basah, dia ingin ke kamarnya segera.

"Ada apa? Wajahmu terlihat tidak senang. Apa sudah terjadi sesuatu?" Ucap Itachi, dia sangat hapal jika raut wajah Sasuke sedikit berbeda dari biasanya.

Tidak ada jawaban, Sasuke memilih diam dan berjalan menaiki tangga.

"Sasuke, dengarkan jika aku berbicara." Ucap Itachi, Sasuke semakin hari semakin keras kepala padanya.

"Aku mau mandi." Ucap Sasuke santai. Dia tidak ingin berbicara atau pun berdebat sekarang dengan Itachi saat ini.

"Bisakah kau menceritakan sedikit saja masalahmu. Aku kakakmu, aku bisa menjadi pendengar yang baik jika kau mau."

Sasuke berhenti berjalanan, berbalik dan menatap kakaknya itu.

"Aku sedang tidak punya masalah, apa itu tidak cukup?"

"Sungguh?"

"Hn, dan jika kau tetap membiarkanku di sini, aku akan masuk angin." Ucap Sasuke.

"Baiklah-baiklah, cepatlah mandi dan berganti pakaian." Ucap Itachi.

Sasuke kembali melangkahkan kakinya, berjalan menuju kamarnya. Dia butuh berendam air hangat. Para pelayan selesai menyediakan air hangat di bathtub saat Sasuke sudah berada di kamarnya. Pelayan-pelayan itu segera keluar ketika Sasuke masuk ke kamar. Dia sangat tidak suka jika masih ada pelayan di kamarnya dan dia juga sedang berada di sana. Sasuke menanggalkan seluruh pakaian basahnya dan berendam, hujan di luar cukup membuat suhu tubuhnya mendingin, sekarang dia menjadi lebih rileks dengan berendam air hangat. Memejamkan matanya dan yang terlintas saat itu hanya bayangan wajah sedih Sakura. Sasuke bingung, pernyataannya seakan membuat bosnya itu tidak senang. Dia bahkan meninggalkan Sasuke dan hanya berucap 'maaf'.

"Apa aku di tolak?" Ucap Sasuke.

"Siapa yang menolakmu?"

Sasuke terkejut dengan pintu kamar mandinya yang tiba-tiba terbuka dan Itachi masuk begitu saja. "Ba-bagaimana aniki bisa mendengarnya?"

"Aku menguping." Ucap Itachi santai. Saat Sasuke masuk ke kamar mandinya saat itulah Itachi masuk dan menguping pembicaraan Sasuke yang cukup terdengar olehnya.

"Ke-keluar dari kamar mandiku!" Teriak Sasuke.

"Jawab dulu pertanyaanku, siapa yang menolakmu?" Ucap Itachi. Dia tidak juga beranjak dan malah bersandar di pintu kamar mandi.

"Tidak ada hubungannya denganmu." Ucap Sasuke cuek.

"Tentu ada. Aku tidak yakin jika ada wanita yang menolak kesempurnaan dari adikku."

"Diamlah, aku tidak butuh wanita yang melihat hal itu."

"Oh jadi benar, kau sudah memiliki seseorang yang spesial untukmu?" Ucap Itachi, dia terlihat sangat senang jika benar Sasuke sedang mencintai seseorang.

Sasuke menghela napas, kakaknya terlalu ikut campur dalam masalahnya. Dia hanya ingin dirinya yang menyelesaikan masalah yang sudah di buatnya dengan jatuh cinta pada bosnya sendiri.

"Ayo katakan sesuatu. Bagaimana wanita itu bisa menolakmu?"

"Ahk, Aniki, aku tidak ingin membahas."

"Kenapa? Dulu kau sangat suka menceritakan masalah apapun padaku."

"Uhm, saat aku masih tidak bisa memegang rahasia."

"Ayolah, aku akan membantumu."

"Okey, Aniki bisa membantuku dengan keluar dari kamar mandiku! Sekarang!" Ucap Sasuke dan malah keluar dari bathtubnya dan mendorong Itachi keluar dari kamar mandi, setelahnya Sasuke langsung mengunci pintu. Kebiasaannya jika masuk kamar mandi tidak di kunci membuat Itachi leluasa masuk begitu saja. Sasuke lupa jika hanya Itachi yang akan berani masuk ke dalam kamarnya dan dia sekarang masih berada di rumah.

"Sasuke, aku senang mendengar kau punya wanita yang di sukai, aku hampir frustasi berpikir jika kau seorang pria yang tidak normal dan memilih bersama sesama sejenismu." Ucap Itachi yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi Sasuke.

"Diamlah! Aku tidak ingin membicarakan hal itu." Ucap Sasuke, memukul pintu kamar mandinya, seperti memberi isyarat pada Itachi jika dia benar-benar sedang tidak senang membahasnya.

"Baiklah. Aku akan pergi. Dan hei, punyamu semakin besar saja. Hahahaha."

Sasuke kembali memukul pintu kamar mandinya. Itachi sangat pandai untuk mengganggu Sasuke.

.

.

.

.

.

Tidak ingin terlihat sebagai pengecut yang akan lari begitu saja, hari ini Sasuke pergi bekerja. Dia akan membuat suasana akan kembali seperti biasanya. Sasuke tidak ingin mengingat atau menyinggung masalah pernyataannya lagi jika bertemu Sakura.

"Hei, apa yang terjadi kemarin?" Ucap Naruto. Melayang ke arah Sasuke yang sedang menunggu di depan cafe.

"Bukan apa-apa."

"Apa maksudmu! Kau sudah membuatnya terlihat bersedih. Apa yang kau lakukan padanya!" Ucap Naruto, dia sedang tidak senang. Bukan omelan biasa yang akan di terima Sasuke, tapi, dia melihat Naruto yang cukup marah tapi tidak mengetahui pernyataan blak-blakannya kemarin kepada Sakura..

"Aku tidak melakukan hal buruk padanya. Dia bahkan meninggalkanku begitu saja."

"Katakan jika kau sedang tidak berbohong."

"Ya sudah, aku tidak peduli jika kau ingin percaya atau tidak."

Pagar Sakura terbuka dengan begitu kasar, Sakura telat bangun dan terburu-buru berlari ke arah cafe.

"Oh maaf, aku terlambat." Ucap Sakura.

Sasuke melirik ke arah jam tangannya dan sudah jam 8 pagi. Tidak biasanya bosnya akan terlambat.

Cafe sudah terbuka dan Sakura bergegas ke dapur. Sasuke akan seperti biasa pada bagian cafe menata dan membersihkannya.

Melirik sejenak ke arah dapur, Sasuke melihat raut wajah Sakura yang seperti biasanya. Berpikir jika Sakura mungkin seperti dirinya yang juga melupakan soal kemarin begitu saja. Dia benar-benar di tolak, itu adalah hal yang terlintas di pikiran Sasuke. Tidak ada lagi tempat untuknya di hati Sakura. Semua hanya milik arwah sialan yang menurut Sasuke tidak pantas lagi mendapatkan Sakura dengan keadaannya yang sudah tidak berada di dunia ini.

Semuanya selesai. Sakura sudah menata sarapan dan mereka akan sarapan bersama.

"Maaf membuatmu menunggu lama di depan cafe. Aku kesiangan, mungkin gara-gara begadangku semalam." Ucap Sakura, tersenyum dan mulai menyantap makanannya

"Hmm. Tidak apa-apa, aku pikir cafe akan tutup."

"Hahaha, maaf-maaf."

"Dia berbohong. Saat pulang siang harinya, dia langsung tertidur dan sampai esok paginya." Ucap Naruto, melayang-layang di atas kepala Sasuke.

Sasuke bisa mendengarnya, tapi tidak ada niat untuknya menanyakan kenapa Sakura tidur lebih awal dan bisa bangun telat.

Tidak ada suasana canggung antara mereka. Sakura benar-benar terlihat seperti biasanya. Dia bahkan tidak menampakkan wajah sedihnya saat meninggalkan Sasuke kemarin. Sedikit putus asa, Sasuke tidak bisa terima jika dirinya di tolak.

Cafe sudah di buka dan mereka mulai bekerja. Bekerja dengan semangat hingga keduanya menjadi lupa apapun yang sudah terjadi kemarin.

Sakura kadang sesekali melirik ke arah Sasuke dan wajahnya menjadi sedih namun Sasuke tidak bisa melihatnya. Sakura sangat pandai berakting, menyembunyikan perasaan gugupnya saat kembali bertemu Sasuke. Dia hanya mencoba tegar dan berusaha membuat suasana di antara mereka kembali seperti biasanya. Suasana dimana Sasuke yang seperti baru menjadi pegawainya.

"Aku tahu kau menyembunyikannya, Sakura, tatapanmu tidak bisa membohongiku." Ucap Naruto. Selalu berada di samping Sakura yang akan mengeluarkan sikap aslinya jika jauh dan tidak di lihat Sasuke.

Sakura menggelengkan kepalanya cepat dan berusaha melupakan kejadian kemarin dengan menyibukkan dirinya. Sasuke juga terlihat sangat sibuk. Dia merasa tidak perlu membahas hal soal kemarin. Seperti memberi waktu untuk Sakura. ya, Sasuke berharap dengan seiringnya berjalan waktu, mungkin Sakura akhirnya akan menerimanya.

Cafe menjadi ramai dan sibuk hingga jam menunjukkan waktu untuk tutup. Sasuke sudah selesai beres-beres dan mereka sudah menyantap makan siang bersama. Tidak ada hal aneh yang terjadi, tidak ada yang merasa canggung atau pun ingin membahas soal kemarin. Sakura terlihat ceria dan sesekali akan bercerita atau bertanya pada Sasuke dan di respon santai oleh Sasuke.

Sasuke pamit untuk pulang dan di balas anggukan oleh Sakura. cafe sudah tutup. Sakura juga sudah membereskan apapun sebelum pulang. Berjalan keluar dari dapur, tiba-tiba Sakura terjatuh dan terbaring di lantai. Naruto yang sejak tadi berada di samping Sakura terkejut, melayang menghampiri Sakura.

"Sakura! kau kenapa? Sakura!" Naruto terlihat cemas. Percuma, teriakannya tidak akan di dengar oleh Sakura.

Naruto melihat ke arah Sakura yang terlihat menahan sakit. Wajahnya memerah sepertinya dia terkena demam, beberapa kali Sakura akan batuk, berusaha bangun dari tempatnya berbaring namun tubuhnya terasa berat. Dia kembali berbaring dan meringkuk di sana. Kepalanya sakit dan pandangannya kabur.

Naruto melayang keluar dari dapur dan menembus dinding cafe, berdiri depan cafe dan berteriak sekeras mungkin.

"PELAYAN BODOH! KEMBALI LAH! PELAYAN BODOH AKU MEMBUTUHKANMU! OIII..! PELA- SASUKE...! SAAAASUUKEEEE...!" Teriak Naruto, berharap teriakan kerasnya itu bisa sampai ke telinga Sasuke yang lumayan sudah jauh dari cafe.

Beberapa detik terbuang, Sasuke tidak juga kembali, sepertinya dia sudah sangat jauh. Naruto putus asa dan kembali ke dalam cafe. Melihat Sakura yang masih terlihat kesakitan. Tangannya mengepal dan Naruto terlihat kesal. Di saat seperti ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa pada Sakura.

"Aku sudah katakan padamu untuk mengenakan pakaianmu saat tidur, kenapa kau tidak mendengarkanku, ha!" Naruto terlihat sangat kesal sekaligus dia sangat sedih. Dia tidak ingin Sakura terlihat seperti sekarang ini. Dia harus segera di tolong, tapi siapa? Siapa yang bisa menolong istrinya ini.

Braaaak...!

Pintu dapur terbuka dengan paksa dan seseorang masuk dengan cepat, napasnya tidak karuan, dia terlihat habis berlari dengan cepat menuju cafe ini.

"Bos, kau baik-baik saja?" Ucap Sasuke. Dia terlihat sangat khawatir melihat keadaan Sakura.

"Bawa dia cepat ke kamarnya." Ucap Naruto.

Sasuke melihat sejenak ke arah Naruto dan mengangkat Sakura ala bridal style. Membawanya perlahan ke rumah Sakura. Dengan arahan Naruto, Sasuke membawa Sakura ke kamarnya. Saat ingin meletakkan Sakura ke kasurnya, Sasuke tidak bisa melepaskan diri. Sakura memeluknya dan menyembunyikan wajahnya pada dada Sasuke. Panas, Sasuke bisa merasakan tubuh Sakura yang sangat panas, demamnya cukup tinggi.

"Jangan pergi, hiks" Ucap Sakura. Entah antara dia sadar atau tidak sadar, dia meminta Sasuke untuk tidak pergi dan menangis begitu saja. Sasuke tidak jadi beranjak pergi, duduk di sisi ranjang sakura dan membiarkan bosnya itu masih memeluknya. Sasuke tidak menjadikan ini sebuah kesempatan. Dia sedang berusaha membuat Sakura tenang. Dia sendiri bingung dengan keadaan Sakura. Dia menangis karena sakitnya atau menangis karena hal lain.

Naruto bisa melihat mereka. wajahnya terlihat menunduk dan tidak senang dengan apa yang di lihatnya sekarang. Sakura memeluk pria selain dirinya.

"Aku hanya akan mengambil obat dan kompresan." Ucap Sasuke, berusaha membuat Sakura lepas darinya dan membaringkannya di kasur.

Sakura menurut, berbaring di kasur dan Sasuke menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh Sakura, setelahnya Sasuke bergegas mengambil apapun yang di butuhkannya. Segera kembali dan mengompres dahi Sakura, menatap ke arah Sakura yang menutup matanya, air mata masih terlihat di sana, dia menangis.

"Minumlah ini." Ucap Sasuke.

Membantu Sakura untuk bangun dan meminum obatnya. Sakura sudah meminum obatnya dan kembali berbaring. Sejak pagi dia sudah merasa tidak enak badan, namun Sakura memaksakan diri dan berusaha terlihat dalam keadaan baik-baik saja.

"Maaf." Ucap Sakura.

Sasuke menoleh ke arah Sakura. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Maaf? Untuk apa?" Ucap Sasuke. Dia merasa Sakura tidak melakukan hal buruk padanya, lagi pula, Sasuke selalu cuek dengan keadaan di sekitarnya.

"Seharusnya aku tidak meninggalkanmu kemarin." Ucap Sakura, kedua tangannya masih menempel pada wajahnya.

"Sudahlah, aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Anggap saja kemarin tidak terjadi apa-apa." Ucap Sasuke, dia terlihat santai-santai saja.

Sakura membuka kedua tangannya yang sejak tadi menutup wajahnya, dia cukup malu untuk membahas hal kemarin.

"Kau membenciku?" Ucap Sakura, menarik selimutnya menutupi setengah wajahnya dan melirik ke arah Sasuke.

"Tidak, aku tidak akan pernah membencimu." Ucap Sasuke, tatapannya melembut pada Sakura.

Situasi ini membuat Naruto semakin tidak senang. Melihat Sakura yang masih senantiasa menatap Sasuke begitu juga dengan Sasuke yang membalas tatapan Sakura.

"Kau seharusnya pulang, dia akan baik-baik saja." Ucap Naruto. Melayang ke arah sisi di sebelah sakura dan berhadapan langsung dengan Sasuke.

"Baiklah, aku sebaiknya pulang." Ucap Sasuke. Beranjak perlahan dan sebuah tangan menarik kaki baju Sasuke. Kembali menoleh ke arah Sakura, wajahnya terlihat merona, mungkin karena demamnya yang membuat wajah Sakura seperti itu, pikir Sasuke.

"Tetaplah di sini." Ucap Sakura.

Dalam keadaan seperti ini, Sakura tidak bisa membohongi dirinya jika dia membutuhkan seseorang di sisinya. Terbesit rasa bersalah di benaknya. Tapi, Sakura tidak ingin sendirian, dia butuh seorang pria untuk menemaninya. Sakura hanya wanita normal yang ingin mendapat sedikit perhatian dari lawan jenis. Setahun lebih berlalu dan Sakura hanya hidup dan menikmati kesendiriannya. Sejujurnya kadang dia mulai merasa jenuh. Mengingat Naruto hanya akan membuatnya sakit.

Naruto tidak senang dengan ucapan Sakura pada Sasuke. Membiarkannya tetap tinggal di rumah dan hanya ada mereka berdua di dalam kamar. Sasuke kembali duduk di sisi ranjang dan menemani Sakura, sedikit canggung, Sasuke bingung harus berbuat apa, hanya duduk santai dan menatap Sakura yang mencoba tertidur meskipun tubuhya sedikit nyeri.

.

.

.

.

.

Pukul 4 pagi.

Membuka matanya perlahan, tatapannya hanya mengarah ke langit-langit kamar, tubuhnya terasa nyaman dan ringan, efek obat semalam sudah bekerja. Sakura bangun dari tempatnya berbaring, handuk kompresan yang masih menempel pada jidatnya jatuh ke pangkuannya yang masih terbungkus selimut, memegang kompresan itu dan menatap sekeliling kamar, kosong, Sakura tidak menemukannya di kamar.

"Jika kau mencari pelayan bodoh itu, dia sudah pulang saat kau sudah tertidur, aku rasa dia bisa tahu diri dengan tidak lama tinggal di rumah istri orang." Ucap Naruto.

Sakura terlihat menghela napas, turun dari kasur dan ingin meminum segelas air, tenggorokannya terasa sangat kering. Sebelum hendak beranjak dari kasur, sudah ada air segelas yang tertutup pada bagian atasnya, tersimpan di meja sebelah tempat tidur Sakura. Mungkin saja Sasuke menyiapkannya agar Sakura tidak perlu turun ke lantai bawah saat sudah sadar.

"Bagaimana demammu? Apa sudah baikkan?" Ucap Naruto, dia masih terlihat cemas melihat Sakura yang tengah meminum airnya.

Air satu gelas itu habis, Sakura kembali merebah dirinya. Dia masih ingin tidur.

"Naruto?" Ucap Sakura. Merasa merindukan suaminya itu.

"Ada apa?" Naruto merespon ucapan Sakura, meskipun Sakura sedang tidak berbicara padanya.

"Apa yang akan di pikirkan Naruto jika ada pria lain yang menyatakan perasaannya padaku." Ucap Sakura.

"Ha! Apa! Dia menyatakan perasaannya padamu? Kapan? Dimana? Pelayan bodoh itu sudah berani macam-macam padamu ya, cih sial, aku tidak bisa tinggal diam kalau begini." Ucap Naruto, dia kembali kesal mendengar ucapan Sakura.

"Apa kau akan marah Naruto? Aku harap kau tidak marah." Sakura menghela napas sejenak. "Aku tidak tahu harus berbuat apa? Dia sepertinya tulus padaku." Ucap Sakura, mengubah posisi tidurnya ke arah samping kanan dan memeluk guling.

"Pokoknya aku tidak setuju dengannya. Kau tidak boleh menjadi milik siapapun, Sakura dengar aku, aku masih di sini dan akan selalu bersamamu. Aku akan menunggumu sampai kau juga sepertiku dan kita akan kembali bersama selamanya." Ucap Naruto.

"Naruto, aku minta maaf, kenapa aku merasa goyah seperti ini." Ucap Sakura, air matanya mulai membendung. Antara ingin menerima orang baru dan dengan perasaan yang masih setia pada seseorang yang sampai sekarang masih di cintainya.

"Sudahlah, aku akan baik-baik saja jika kau mendengar setiap ucapanku." Ucap Naruto, melayang mendekat ke arah Sakura dan merangkulnya dari belakang, dan sekali lagi, sentuhannya akan tembus begitu saja.

Sakura kembali tertidur, dia masih perlu untuk istirahat banyak, saat pagi ini dia akan mulai sibuk.

Serasa baru tidur sebentar, padahal Sakura sudah tidur selama 3 jam, sedikit terkejut saat melihat jam dindingnya. Sakura bergegas bangun dengan cepat, tapi tubuhnya seperti tidak merespon dengan baik, Sakura harus bangun perlahan-lahan, dia sudah sangat telat, berpikir jika Sasuke menunggunya dalam waktu yang lama.

Triiiiiiiiingggg

Bunyi bel dari pintu Sakura. Tidak sempat untuk bersiap-siap, Sakura berjalan pelan ke arah pintu untuk membuka pintu dan membukanya.

"Selamat pagi, Bagaimana keadaanmu, bos?" Ucap Sasuke, dia baru saja datang dan langsung menuju rumah Sakura.

"Jauh lebih baik, uhm, sepertinya kita harus ke cafe untuk beres-beres." Ucap Sakura.

"Tidak ada yang akan bekerja hari ini."

"Tenanglah, aku sudah sehat kok."

"Aku rasa sehari istirahat akan membuat cafe itu bersedih jika di tinggalkan olehmu. Aku sudah membawa beberapa bahan untuk membuat bubur ayam, uhm... Aku tidak pandai untuk memasak, kau bisa mengarahkanku untuk membuatnya." Ucap Sasuke.

Sakura tersenyum mendengar ucapan Sasuke. Dia sampai repot-repot membelinya bahan masakan. Ide Sasuke di terima baik Sakura, mempersilahkannya masuk dan langsung menuju dapur.

Sasuke tidak membiarkan Sakura melakukan apapun di dapur, Sakura hanya akan duduk santai dan mengarahkan Sasuke. Meskipun sedikit kesulitan, Sasuke berusaha mengikuti setiap arahan Sakura.

Naruto hanya melayang-layang di dapur memperhatikan Sasuke yang sibuk dan Sakura yang seperti terhibur melihat tingkah Sasuke yang kadang salah mengambil bahan dan kadang sulit memotong bahannya. Sedikit cemburu tapi Naruto tidak bisa egois untuk sekarang ini, Sakura sedang sakit dan yang di ucapkan Sasuke ada benarnya, dia harus beristirahat dan tidak perlu membuat makanan dengan kondisinya seperti ini.

"Ahk, hari ini kau ku maafkan." Ucap Naruto saat melayang ke sebelah Sasuke. Sasuke menoleh dan menatap sejenak ke arah Naruto, tatapannya datar, merasa jika Naruto lebih baik diam.

"Ada apa Sasuke?" Tanya Sakura saat mendapati Sasuke terus-terusan menatap ke sisi kanannya.

"Tidak, hanya seekor serangga." Ucap Sasuke.

"Lalat?"

"Uhm, tapi sudah hilang."

"Sialan, kau pikir aku serangga!" protes Naruto yang berada di tempat Sasuke menoleh.

Setengah jam berlalu, bubur yang sudah masak juga mulai sedikit dingin. Sasuke terlihat tegang, untuk pertama kalinya dia masak dan seorang koki yang menurutnya sangat handal akan mencicipi masakannya. Sasuke kurang percaya diri jika bubur ayam itu akan enak. Sakura mulai menyendokkannya sesuap dan memakannya.

"Bagaimana?" Tanya Sasuke. Berharap dia tidak membuat Sakura tambah sakit.

Sakura kembali memakan bubur itu sesendok lagi, setelahnya menatap Sasuke dan terlihat serius.

"Aku rasa kau bisa menggantikan ku di dapur." Ucap Sakura.

"Katakan jika itu bohong." Ucap Sasuke, dia belum bisa percaya dengan hasil masakannya.

"Aku sudah mencicipi banyak masakan yang enak dan ini salah satunya. Kau berhasil." Ucap Sakura dan tersenyum.

Sasuke menghela napas, dia bisa memasak tanpa gagal untuk pertama kalinya. Yaa meskipun semua itu adalah arahan Sakura. Sasuke merasa tidak sepenuhnya dia yang melakukannya sendiri.

"Sepertinya arahanmu yang sukses bos." Ucap Sasuke.

"Jika kau sudah selesai, segeralah pulang." Ucap Naruto, dia merasa sedikit risih Jika Sasuke terlalu lama di rumah mereka.

Sasuke terdiam dan menatap Naruto, merasa tidak senang jika dia tiba-tiba di usir begitu saja. Sedangkan Sakura sedang sibuk menghabiskan buburnya.

Semangkok bubur itu habis dan Sakura sudah meminum obatnya. Kini dia kembali berbaring di kasurnya dengan bujukan dari Sasuke. Sakura merasa jauh lebih baik tapi Sasuke tetap menyuruhnya untuk kembali beristirahat di kamar.

Sasuke membawa gelas kotor dan sampah bungkusan obat untuk di buang di tempat sampah yang ada di dapur, saat kembali, Sasuke melihat ke ruang tengah, di sana ada altar dengan foto Naruto yang sedang tersenyum lebar, dia terlihat sangat ceria di dalam foto itu, mungkin hanya itu satu-satunya penyemangat Sakura untuk tetap hidup walaupun dalam kesendiriannya.

"Ada apa? Kau tertarik pada fotoku?" Ucap Naruto dan melayang tidak jauh dari Sasuke.

"Jangan bercanda. Aku pikir seharusnya kau harus melepaskannya sekarang. Apa kau tidak menyadarinya jika dia terus-terusan merasa bersalah padamu?"

"Aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi sekarang, dia tetap istriku dan aku akan tetap mencintainya." Ucap Naruto dengan lantang.

"Jika dia sakit seperti kemarin dan lebih parah, apa kau bisa menolongnya?"

Naruto terdiam. Dia terlihat tengah sibuk dalam pikirannya sendiri. Sasuke seperti menyudutkannya.

"Jawab pertanyaanku, apa kau bisa menolongnya, atau... kau akan membiarkannya dalam keadaan sakit dan sekarat." Sasuke terlihat serius untuk membuat Naruto benar-benar sadar akan posisinya.

"Aku tidak akan bisa melakukan apa-apa untuknya." Akhirnya Naruto mengucap sesuatu bersamaan dengan raut wajahnya yang terlihat sedih. Seakan mengutuk dirinya sendiri yang tidak berguna untuk Sakura.

"Lepaskan dia."

"Tidak akan!" Naruto ngotot tidak akan meninggalkan Sakura meskipun dia sudah menjadi arwah.

"Kau sangat egois, dia bahkan tidak bisa melihatmu, kau sungguh suami yang tidak berguna." Sasuke terlihat kesal dengan ucapan Naruto.

"Sasuke!"

Sasuke terkejut Sakura berada di belakangnya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan Sasuke.

"Bos, kau harus kembali ke-"

Plaaakkk...!

Satu tamparan keras mendarat ke pipi Sasuke. Naruto terkejut begitu juga dengan Sasuke.

"Aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan tapi, aku tidak suka jika kau mengatakan hal buruk pada Naruto." Sakura berpikir Sasuke sedang mengolok-ngolok di altar Naruto.

"Bukan seperti itu."

"Pulanglah, maaf sudah merepotkanmu." Ucap Sakura, seakan mengusir Sasuke dengan paksa.

Sasuke terdiam, mendekat ke arah Sakura dan yang di dekati mundur perlahan hingga punggungnya menabrak tembok, Sakura tidak bisa bergerak mundur lagi. Wajahnya tertunduk sedih, dia bahkan tidak ingin menatap Sasuke.

"Apapun yang kau dengar tidak seperti apa yang sedang kau pikirkan." Sasuke masih menatap Sakura yang tidak juga tatapannya di balas.

"Aku tidak ingin mendengar apapun, pulanglah." Ucap Sakura yang masih setia pada posisinya

Mendekat ke arah Sakura dan mencium keningnya, Sakura tidak melawan atau pun memarahi Sasuke, dia masih tertunduk. Sejujurnya Sakura mulai nyaman dengan kehadiran Sasuke, namun dia masih kepikiran dengan ucapan Sasuke, Sakura masih menghargai Naruto sebagai suaminya.

"Aku sungguh mencintaimu bos." Bisik Sasuke.

"Aku sudah katakan padamu, pulang lah." Ucap Sakura, mendorong Sasuke hingga ke pintu dan membuatnya keluar.

Saat Sasuke sudah di luar, Sakura segera menutup pintu dan menempelkan dahinya di sisi pintu. Sakura belum beranjak dari situ.

Tok tok tok

"Pulanglah!" Bentak Sakura.

"Aku akan pulang, tapi, sepatuku masih ada di dalam." Ucap Sasuke.

Sakura menjadi sedikit malu, memungut sepatu Sasuke, membuka pintu hanya sedikit dan melemparnya keluar, masa bodoh dengan sepatu itu yang terlempar entah kemana.

"Terima kasih bos. Dah, Sampai besok lagi." Ucap Sasuke memungut sepatunya yang berserakan dan memakainya. Setelah itu Sasuke bergegas pulang, Sakura sudah mengusirnya dan dia tidak akan meminta untuk kembali masuk.

Sementara itu, Sakura masih berdiri di pintunya dan merosot perlahan hingga benar-benar terduduk di lantai. Menghela napas beratnya. Kembali teringat saat Sasuke mencium keningnya, kenapa tidak ada perlawanan? Tubuh Sakura tidak bergerak untuk melawan perlakuan Sasuke padanya. Apa itu sebuah pelampiasan di mana seorang wanita yang sudah lama tidak di sentuh oleh seorang pria?

"Ada apa dengan diriku? Bahkan kami baru saja bertemu dan itu baru sebulan lebih." Ucap Sakura.

Naruto masih terdiam, pemandangan tadi membuatnya sedikit sakit, bahkan Sasuke sudah berani mencium kening istrinya. Dia tidak akan memberi kesempatan apa-apa lagi untuk Sasuke jika menyentuh istrinya.

.

.

.

.

.

Beberapa hari berlalu, semua berjalan biasa-biasa saja. Sakura akan santai merespon Sasuke. Mereka akan sangat sibuk di cafe dan setelahnya menghabiskan waktu berdua jika sudah tibanya makan siang. Sakura tahu jika Sasuke bukan pria yang penuntut, saat mereka selesai bekerja, Sasuke tidak akan membahas apapun tentang perasaannya atau sekedar mengajukan pertanyaan sampai ke hal privasi Sakura, Sasuke terlihat biasa-biasa saja. Hanya pada saat tertentu dia akan terlihat manis dan romantis, cukup membuat Sakura merasa deg-degan sendiri jika hanya bersamanya.

Sebelumnya, setelah masalah Sasuke di tampar, Sasuke meminta maaf pada Sakura jika sudah mengucapkan hal buruk pada Naruto. Sasuke tidak bermaksud apa-apa untuk mengucapkan hal itu, Sakura pun juga meminta maaf jika sudah menampar Sasuke begitu saja, dia hanya terbawa suasana dan membuatnya sedikit jengkel jika suaminya di ejek.

Waktu sudah menunjukkan untuk tutup. Sasuke sudah menyelesaikan tugasnya dan bersiap untuk pulang.

"Aku sudah menyelesaikan tugasku." Ucap Sasuke sebelum pulang.

"Uhm baiklah, kau boleh pulang."

"Bos."

"Iya?"

"Jika aku ingin mengajakmu pergi lagi, apa kau mau?" Tanya Sasuke. Dia hanya ingin membuat Sakura tidak selalu merasa dirinya akan terlihat buruk akibat ucapannya yang dulu.

"Tentu, aku rasa berjalan-jalan di waktu senggang akan lebih bagus." Ucap Sakura. Berharap jika tidak ada lagi suasana canggung antara mereka.

Sasuke pamit dan berjalan keluar, senyum tipis terukir di wajahnya setelah mendengar ucapan Sakura. Tidak ada kata lelah untuk Sasuke, berusaha membuat Sakura tertarik padanya.

"Kau membuatnya semakin menyukaimu. Sakura. Berhentilah menanggapinya. Dia akan semakin besar kepala." Ucap Naruto, melayang-layang di samping Sakura. Merasa tidak suka dengan tanggapan Sakura yang seakan masih memberi kesempatan pada Sasuke.

.

.

.

.

Tiba di sebuah taman hiburan. Sakura ingin bersantai dan bersenang-senang. Sasuke tidak keberatan menemaninya pergi. berada di luar bersama Sakura akan jauh lebih dan menghindarkannya untuk salah ucap, jika berada di rumah Sakura, Naruto akan selalu membuatnya merasa kesal.

Dua hari yang lalu, Sakura ingin pergi sebuah taman hiburan, seseorang memberikannya sebuah brosur taman hiburan, membuatnya tertarik untuk ke sana, Sasuke yang juga melihat brosur itu menawarkan diri untuk menemaninya, mungkin dia butuh liburan juga dan bersantai. Sakura tidak merasa keberatan jika Sasuke juga ikut, dengan begitu dia tidak akan pergi sendirian. Akan lebih menyenangkan jika pergi bersama-sama. Naruto merasa tidak senang dengan rencana mereka, lagi-lagi Sakura akan keluar rumah saat liburan.

"Sudah lama aku tidak ke sini." Ucap Sakura. berjalan-jalan dan melihat sekililing taman hiburan.

Jika ini adalah kunjungan Sakura yang ke beberapa kalinya, lain hal lagi dengan Sasuke yang baru saja berkunjung di sini, pekerjaan kantornya membuatnya sibuk dan tidak bisa berjalan-jalan, bahkan beberapa pegawai wanitanya di kantor kadang mengajaknya pergi tapi Sasuke selalu menolaknya, menurutnya hanya buang-buang waktu, saat itu dia masih gila akan pekerjaan. Wajah Sasuke yang biasa-biasa saja membuat Sakura merasa aneh, pegawai rajinnya itu tidak terlihat senang.

"Ada apa Sasuke? Aku pikir kau juga ingin berjalan-jalan di sini." Ucap Sakura.

"Uhm, tidak, hanya saja ini untuk pertama kalinya bagiku."

"Heee! Kau serius? kau baru pertama kali ke sini?"

"Hn."

"Ya ampun, kau harus mencoba wahana apapun di sini." Sakura menarik lengan Sasuke untuk mulai menjelajah di sana.

Sasuke jarang untuk memperlihatkan wajah senangnya. Datar dan datar, wajah cueknya sudah sangat melekat pada dirinya, sedangkan Sakura, dia akan terus tertawa menikmati setiap wahana yang akan mereka naiki. Hari ini Sasuke akan merasa sangat senang, bukan karena wahana yang menghibur, tapi wajah Sakura, senyumnya dan tawa bahagianya.

Berakhir pada kincir ria. Entah mengapa Sakura ingin menaikinya di saat terakhir, setelah semua wahana selesai di jelajahi Sakura, sejujurnya ini untuk pertama kalinya ada yang bisa menemaninya naik kincir ria.

"Kau tahu, Naruto takut akan ketinggian, jadi aku jarang untuk naik ini bersamanya." Ucap Sakura dan tertawa pelan. Dia bisa melihat apapun dari sini, kincir ria di posisi Sakura mulai sampai puncak. Pemandangan dari atas semakin terlihat dan Sakura hampir bisa melihat seluruh isi kota Konoha.

"Aku senang bisa jadi yang pertama untukmu di sini." Ucap Sasuke.

'Deg'

Rona merah mulai menghiasi wajah putih wanita berambut softpink itu, Sakura merasa Sasuke selalu terasa romantis meskipun ucapan yang sederhana.

"Uhm, setelah ini, aku ingin ke sesuatu tempat lagi, mungkin bukan sebuah ajakan, Kau bebas pulang dari sini jika kau mau." Ucap Sakura.

"Oh, baiklah."

Setelah dari taman hiburan, Sakura pergi ke sebuah kedai sushi. Memesan beberapa sushi dan beberapa botol sake. Kedai itu agak luas dengan tempat makan yang terdiri ruangan bersekat yang bisa menampung beberapa orang dalam satu ruangan.

"Aku pikir kau akan pulang." Ucap Sakura menatap Sasuke yang sedang santai menyantap pesanan sushinya.

"Aku sedikit lapar. Makan di sini ide yang bagus."

Sakura tersenyum, Sasuke tidak langsung pulang dan meninggalkannya, dia memilih mengikuti Sakura dan berakhir di kedai sushi.

Beberapa menit terlewatkan, mereka menghabiskan waktu seharian di taman hiburan dan kedai sushi. Sudah malam dan mereka masih di sana, Sakura mulai tidak memesan sushi dan hanya menambah botol sakenya.

"Ayo Sasuke kau harus minum juga." Ucap Sakura dengan nada suara yang sudah tidak stabil, entah sudah berapa botol di habiskannya, dia sudah pada akhir kesadarannya, Sakura mabuk.

"Bos, kau seharusnya berhenti dan kita harus pulang." Ucap Sasuke, dia sudah berhenti, merasa dirinya juga akan hampir pada batasnya. Jika mereka sama-sama mabuk akan sangat fatal jika pulang bersama.

"Tidak! Kita harus bersantai di sini lebih lama."

"Bos, kau mabuk, sebaiknya kita pulang."

"Mabuk? Tidak, aku tidak mabuk, aku masih sadar." Ucapan Sakura semakin tidak karuan, dia bahkan akan membaringkan kepalanya dan kembali bangun dengan tatapan yang sayup, wajahnya sudah sangat memerah efek kadar sake yang berlebihan.

"Bos-"

"-Berhenti mengajakku pulang!" Bentak Sakura.

Sasuke terdiam, mau bagaimana pun dia harus memaksa Sakura pulang. Tidak ada ucapan lagi, Sasuke memilih membawa Sakura dengan menarik pelan lengannya untuk berjalan keluar dari ruangan.

"Berhenti kataku!"

"Kita harus pulang sekarang."

"Kenapa kau menyukaiku, ha?" Dalam keadaan mabuk hal itu terucap dari Sakura. Tidak ada tanggapan, Sasuke hanya terdiam. "Hei, katakan, kenapa kau menyukaiku? Kau tahu, aku sudah berusaha menjauhkan diri dari pria mana pun. Dan lalu untuk apa kau menyukaiku, aku wanita yang sudah bersuami." Lanjut Sakura.

"Tidak ada hal khusus yang membuatku suka padamu, tapi, seluruhnya yang ada pada dirimu membuatku suka. Aku suka kerja kerasmu, kepandaianmu, sikap dan perilaku, kau baik pada siapa pun."

"Kau hanya menggombal." Ucap Sakura. Dia masih dalam keadaan pangaruh sake.

"Aku sungguh mencintaimu."

"Kau mau bersama wanita yang sudah janda ini?"

"Ah, apapun latar belakangmu, aku tidak keberatan jika kau seorang janda."

"Baiklah, kita pacaran saja dulu, aku akan menilaimu selama kita menjadi ke-ka-sih." Sakura langsung tumbang, pengaruh sake membuatnya sakit kepala dan terbaring di meja.

Pacaran? Kau mengijinkanku pacaran denganmu? Aku harap kau mengucapkan hal itu dalam keadaan sadar.

Setelah Sasuke membayar seluruh pesanan mereka, Sasuke menggendong Sakura di punggungnya. Membawanya dengan hati-hati. Sakura tertidur. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi.

Sasuke mulai melangkahkan kakinya keluar kedai dan memilih naik taksi, jarak antara kedai dan rumah Sakura lumayan jauh. Saat di taksi Sakura masih terlihat tertidur dan belum juga sadarkan diri.

Beberapa menit berlalu, mereka sudah tiba. kembali Sasuke akan menggendong Sakura, mengambil kunci di saku baju Sakura dan membukakan pintu, di sana Sasuke akan melihat Naruto yang cemas, mereka pergi dari siang hingga malam.

"Kemana saja kalian?" Ucap Naruto, dia terlihat marah, saat menatap Sakura yang sedang di gendong Sasuke membuatnya semakin marah. "Ada apa dengannya?"

"Diamlah, dia mabuk."

"Kau mengajaknya minum-minum?"

"Tidak, justru dia yang pergi sendirian, jika aku tidak bersamanya, dia mungkin akan tertidur di kedai."

"Uhm, bawa dia ke kamar." Ucap Naruto.

Sasuke membawa Sakura ke kamarnya, menidurkannya dan menaikkan selimutnya untuk menutupi seluruh tubuh Sakura. menatap sejenak ke arahnya, dia tertidur pulas dan masih bau sake. Menatapnya membuat Sasuke gemes sendiri, perlahan menundukkan wajahnya namun kegiatan Sasuke terhenti, wajah Naruto tepat berada di wajah Sakura.

"Jangan mencari kesempatan, pulanglah dan biarkan dia istirahat."

Sasuke tidak peduli dan tetap memajukan wajahnya, membuat Naruto ngeri sendiri serasa dia akan di cium, akhirnya Naruto bergeser dan satu kecupan di bibir Sakura sebelum Sasuke pergi.

"Kau! berani-beraninya kau mencium istriku!"

"Asal kau tahu saja dia mengajakku pacaran."

"Kau bohong!"

"Kau bisa mendengarnya langsung besok."

Sasuke beranjak pergi. Meladeni Naruto akan membuatnya capek sendiri. perlahan menuruni tangga menuju lantai bawah.

"Kau tidak pernah mendapatkannya." Naruto terlihat kesal.

"Terserah kau saj-" Kepala Sasuke tiba-tiba pusing, efek sake padanya belum hilang, gara-gara Sakura memaksanya minum, Sasuke mulai merasa pusing, berhenti menuruni tangga dan menahan dinding yang berada di sisi tangga.

"Ada apa? Kau kenapa?"

"Ahk, sial, seharusnya aku tidak ikut meminumnya."

Perlahan kesadaran Sasuke mulai memudar, dia ikut tumbang dan malah jatuh dari tangga, membuatnya tidak sadarkan diri.

"Sasuke! Kau, kau jangan tidur di sini, oii, Sasuke! kau harus pulang! Pelayan bodoh!"

Mau berteriak sekeras apapun, Sasuke tidak akan mendengarkan Naruto.

.

.

TBC

.

.


update lagi yaaa...

.

.

.

~balas reveiw~

Niayuki : update lagi, hahhahaa, tak apalah abang sasu skali-skali di kasih gitu XD

Devi Na Akeyama : cepat update kalau tidak sibuk, ehehhee

zarachan : wkwkkw tiap hari nggk ada kerjaan tuh kalau gitu pffffff, sudah update yooo.

Mustika447 : Rai Noblesse ? hahah, author nggak tahu itu apa XD

Tia : update.

embun(adja1) : author sendiri bayangin gimana udah ketawa2 gaje pas ngetik chapter kemarin, hahahaha, si abang yang suka jaga image jadi jatuh banget pfffff, sabar yaaa, per-chapter, perasaan saku harus di sterilkan dulu dari naruto.

Kirara967 : jangan galau, padahal author pengen menghibur dengan mengnistakan si abang Sasu XD

yencherry : auuhh..~ makasih banyak, sudah update lagi ya

Nasyaila : ketawa mulu pas ngetik chapter kemarin, hahahhaha, update yaa

sitieneng4 : romacenya sabar yaa, sedang otw

Hari : update

SS : bener tuh, sasu ndak ada sopan-sopannya ama suami Naruto.

uchihana rin : dulu sedang tidak ada kerjaan dan kebanyakan habiskan waktu di rumah, makanya update fic mulu, heheh sekarang2 agak sibuk dna ada kerjaan lain jadi agak susah menetik, tapi selalu di usahakan update cepat lagi kok, XD

Rizumu no Sakura : belum di tolak kok, masih bisa tuh, cuman butuh waktu aja., sudah update lagi yaaa

Shinju Hyuuga : abang sasu selalu sabar kok, dia sedang di uji di sini XD,, update cepat lagi... yeeeyy


see you next chapter...~