Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
Rate : M for Save.
catatan : fic ini tidak mengandung unsur gore atau pun horor yang wow banget, fic ini hanya di bubuhi humor yang semoga terkesan lucu meskipun garing XD
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
- Ghost Terror -
[chapter 05]
.
.
.
"Sasuke! Kau, kau jangan tidur di sini, oii, Sasuke! kau harus pulang! Pelayan bodoh!" Naruto mencoba membangun Sasuke namun hasilnya nihil, Sasuke tidak juga bangun atau pun merespon ucapannya. Ada luka pada bagian jidat kiri Sasuke efek saat jatuh tadi.
Naruto terdiam dan bingung harus bagaimana agar Sasuke bangun dan tidak tertidur di rumahnya. Suasana jika hanya ada seorang pria dan wanita di dalam satu ruangan akan memicu hal yang tidak inginkan Naruto, meskipun semua hal buruk yang hanya ada dalam pikirannya, Sasuke tidak berada di kamar Sakura dan tidak sadarkan diri, Naruto melupakan hal itu.
Menatap Sasuke lagi, menghela napas dan mungkin membiarkan Sasuke akan tetap seperti ini hingga dia sadar. Timbul ide yang tidak masuk akal di pikiran Naruto.
"Apa aku bisa menggunakan tubuhnya?" Ucap Naruto. Berpikir jika dia akan seperti arwah-arwah yang ada di film, mengambil alih tubuh manusia yang di rasukinya. Senyum lebar terukir dan di wajahnya dan tiba-tiba tawa keras terdengar darinya, Naruto merasa itu adalah hal yang konyol.
"Mengambil alih tubuh manusia? Hahahhahah, itu terdengar seperti invasi alien, hahahahahh" Naruto tidak henti-hentinya tertawa mendengar ucapannya sendiri.
Suasana kembali hening, perlahan-lahan Naruto menyentuh tubuh Sasuke yang meskipun sentuhan Naruto menembus tubuhnya, terasa aneh, tiba-tiba Naruto membuka matanya dan merasa dirinya sudah jatuh dengan keras.
"A-aduh, kenapa kepalaku sakit?" Ucap Naruto, bangun perlahan dan duduk di lantai, satu tangannya memegang kepalanya yang lumayan sakit. Menatap sekeliling ruangan dan berakhir saat menatap tangannya yang menyentuh lantai, tapi, itu bukan tangannya, kulit putih pucat itu bukan miliknya namun Naruto bisa menggerakannya, semakin aneh dengan dia yang bisa menyentuh lantai, Naruto mulai kebingungan dan menyadari sesuatu yang aneh, segera saja dia berlari masuk ke dalam kamar mandi dan mencari kaca, menatap dirinya di sana dan membuatnya sangat terkejut.
Naruto berada di dalam tubuh Sasuke. Syok, itu adalah ekspresi pertama yang terpampang di wajah Naruto.
"Heeeeeee...! I-ini tidak mungkin, aku bisa menggunakan tubuh Sasuke?" Naruto tidak abis percaya, menyentuh wajah Sasuke dan menyentuh benda yang ada di sekelilingnya, ini bukan mimpi atau sekedar khayalan Naruto, dia benar-benar bisa merasuki tubuh Sasuke. Wajahnya terlihat senang.
Naruto bergegas naik ke kamar Sakura, membuka pintunya perlahan dan mendapati Sakura sedang tertidur nyenyak. Niatnya ingin membangunkan Sakura dan mengatakan jika dia adalah Naruto, Namun niat itu tiba-tiba menghilang, Naruto merasa dia harus menjauhkan Sasuke dari Sakura. Menutup kembali pintu kamar Sakura dan bergegas pulang, Naruto harus memulangkan Sasuke.
Berjalan menyusuri jalanan yang hampir sunyi. Langkahnya terhenti dan wajah Naruto merasa ada yang salah.
"Di mana kau tinggal Sasuke!" Ucap Naruto. Dia tidak tahu di mana alamat Sasuke, mencoba memikirkannya, berharap ada sedikit ingatan Sasuke tentang alamat rumahnya terlintas di dalam pikiran Naruto, mau sekeras apapun Naruto memikirkannya, dia tetap tidak akan tahu, sementara ini seluruhnya milik Naruto, meskipun dalam keadaan fisik bukan tubuhnya.
Merasa sia-sia, Naruto duduk di kursi halte, ini adalah ide yang bodoh dengan menjauhkan Sasuke dari Sakura, padahal dia yang memiliki kendali penuh atas tubuh Sasuke. Menghela napas panjang, berpikir jika dia harus kembali saja ke rumah, tapi tetap saja dia tidak ingin Sakura menjadi menyukai Sasuke.
Sebuah mobil sedan berhenti tepat di hadapan Naruto, seseorang dengan tubuh tegap nan tingginya turun dari mobil. Berpikir jika itu hanya orang lewat, Naruto mengabaikannya. Tanpa di sadari orang itu berjalan menghampiri Naruto. Sedikit ngeri melihat orang itu, Naruto memiliki firasat buruk jika orang itu jahat dan akan melakukan hal buruk padanya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Naruto berlari dengan cepat saat orang itu sudah tiba di hadapannya. Aneh, orang itu mengejar Naruto.
"Hei! Kenapa kau lari?" Ucap pria yang sedang mengejar Naruto.
"Aku akan lari jika bertemu orang jahat seperti mu! Tinggalkan aku!' Ucap Naruto, mulai panik dan ketakutan, orang itu masih mengejarnya.
"Ada apa denganmu? Sasuke! hei, tuan Sasuke!" Teriak Jugo. Tiba-tiba saja Sasuke lari darinya.
"Aku bukan Sasuke! Namaku Naruto!" Teriak Naruto.
"Kau mabuk ya! Apa kau lupa dirimu ha!"
Naruto memperlambat kecepatan larinya dan berhenti. Ngos-ngosan dengan ide bodohnya yang langsung berlari tanpa berpikir atau menyadari keadaannya yang sedang berada di dalam tubuh Sasuke. Jugo sudah dekat dan berhenti berlari.
"Ada apa denganmu?" Ucap Jugo.
"Siapa kau?" Ucap Naruto.
"Ha? Kau tidak mengenalku?" Jugo bingung dengan ucapan Sasuke, seakan dia lupa ingatan.
"Aku hanya lupa." Ucap Naruto asal.
Sialan kau Sasuke, aku tidak tahu jika kau mengenal orang dengan badan besar ini dan lagi pula, siapa dia? Kau tidak pernah menceritakan apapun tentang kehidupanmu.
"Sepertinya kau mabuk." Ucap Jugo, dia mencium sedikit bau sake dari Sasuke.
"Aku tidak mabuk. Cepat jawab pertanyaanku, siapa kau?"
"Aku pelayan pribadimu, ayolah Sasuke, kita sudah bersama saat masih kecil dan kau tiba-tiba lupa."
"Tidak, aku sudah mengingatnya, kau pelayan pribadiku, jadi mau apa kau?" Naruto mencoba membuat pria di hadapannya tidak semakin bingung.
"Itachi mencarimu, aku ke sini untuk menjemputmu."
Itachi? Siapa lagi itu? Sasuke, kau ini sebenarnya siapa? Memiliki pelayan pribadi? Ini sangat mencurigakan.
Naruto tanpa ucapan apapun berjalan mengikuti Jugo hingga tiba di mobil. Jugo merasa heran sendiri, tidak biasanya Sasuke akan duduk di depan, di sebelahnya, Sasuke akan selalu duduk pada kursi penumpang di belakang. Mungkin hanya kebetulan saja, Jugo tidak ingin menyinggung hal ini pada Sasuke.
Beberapa menit berlalu, mereka sudah tiba di kediaman Uchiha. Apa yang di lihat Naruto, sebuah rumah mewah di kawasan elit. Ini hal yang tak terduga, dia semakin mencurigai Sasuke, rasa penasarannya kembali melanda saat sudah berdiri di depan pintu rumah dan menatap bingung seseorang yang mirip Sasuke. Jugo masih senantiasa berdiri di belakang Sasuke, seperti memberi isyarat pada Itachi jika Sasuke ada sedikit aneh.
"Dari mana saja kau?" Tanya Itachi.
"Ha? Memangnya kau siapa?" Ucap Naruto cuek.
"Jangan bercanda, Sasuke, ada apa denganmu? Kau melupakan kakakmu sendiri?" Ucap Itachi, hal ini cukup membuatnya terkejut, adik satu-satunya tidak mengingat dirinya.
"Oh, pantas saja, kalian mirip." Ucap Naruto.
"Kau-" Ucap Itachi terputus saat mendapati luka pada bagian kepala Sasuke. "Haa, sudahlah, masuk, sebaiknya luka di kepalamu harus di obati."
Naruto masuk dan duduk ruang keluarga, beberapa pelayan berdatangan dan membawakan kotak P3K untuk Sasuke, salah seorang dari mereka mulai membersihkan dan membalut perban luka di jidat Sasuke. sementara itu, Jugo dan Itachi tengah berbicara dengan nada kecil, hanya mereka yang bisa mendengarkan dan cukup jauh dari Sasuke.
"Ada apa dengannya?" Bisik Itachi. Dia merasa Sasuke benar-benar aneh.
"Mungkin luka di jidatnya bisa menjadi sebuah jawaban. Sasuke seperti hilang ingat, bahkan dia lari saat aku mendatanginya."
"Dia bahkan melupakanku. Apa seseorang telah melukainya? Hal ini menjadi aneh."
Pelayan itu mengobati Naruto. Dia berterima kasih dan membuat beberapa pelayan yang sedang mengobatinya terkejut dan ber-blushing-ria, tidak biasanya Sasuke akan berterima dan tersenyum lebar di hadapan mereka. Setelah semua selesai, pelayan-pelayan Sasuke pamit dan kembali ke tempat mereka sambil berbisik-bisik jika Sasuke akan semakin tampan jika sedang tersenyum.
Itachi dan Jugo kembali mendatangi Sasuke. Itachi duduk di sofa yang berhadapan dengan Sasuke dan Jugo berdiri di samping sofa yang di duduki Itachi.
"Ada apa dengan jidatmu?" Tanya Itachi.
"Oh ini, aku tadi terjatuh dari tangga." Ucap Naruto santai.
"Jatuh?"
"Ah, mungkin karena efek sake. Pelayan bodoh ini pergi bersama istri orang lain dan mereka minum bersama." Ceplos Naruto.
Muncul tanda tanya besar di atas kepala Itachi dan Jugo. Yang di bicarakan Sasuke, siapa? Dia seperti tengah menceritakan kisah orang lain sedangkan yang di tanya adalah dirinya.
"Apa Maksudmu? Apa kau masih mabuk?" Ucap Itachi, kepalanya hampir sakit di buat Sasuke.
Ya ampun, aku lupa, ini tubuh Sasuke.
"Ma-maksudku, tadi aku pergi bersama seorang wanita dan kami minum di kedai. Hehehehe, iya seperti itu, hehehe."
Itachi menghela napas dan Jugo mengerutkan alisnya. Pria yang ada di hadapannya ini seperti bukan Sasuke pada umumnya, dia akan terlihat cuek dan malas menanggapi Itachi. Wajahnya terlihat bersemangat dan kadang nyengir-nyengir tidak jelas. Sasuke akan jarang menampakkan wajah cerianya.
"Sebaiknya kau istirahat." Ucap Itachi.
"Baiklah. Selamat malam semuanya." Ucap Naruto dengan nada yang bersemangat, berjalan pergi dari ruangan keluarga, baru beberapa langkah dan dia akan kembali lagi. "Aku lupa, kamarku di mana yaa?" Ucap Naruto.
"Heee...! ya ampun, kau bahkan lupa kamarmu, Jugo antar dia ke kamar." Ucap Itachi semakin bingung di buat Sasuke.
Jugo mengangguk dan menemani Sasuke naik ke kamarnya. Setelah itu dia akan pamit dan berterima kasih pada Jugo, tidak biasanya hal itu akan di lakukan Sasuke. Jugo kembali ke ruang keluar dan mendapati Itachi yang menyandarkan punggungnya di sofa, menutup wajahnya dan memijat pelan pelipisnya. Ada yang aneh pada adik satu-satunya itu.
"Apa perlu kita memanggil dokter?" Tanya Jugo.
"Ah, kita perlu memanggilnya, besok kau panggil seorang dokter agar memeriksa Sasuke." Ucap Itachi. Mungkin dengan mendatangkan dokter dan memeriksanya, Itachi akan mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada Sasuke.
Saat di kamar, Naruto merebah dirinya kasur berukuran king size. Dia mulai memahami semua ini. Sasuke bukan orang yang biasa-biasa, rumah mewah, banyak pelayan wanita, seorang pelayan pribadi dan mobil milik pribadi. Naruto sedikit kesal, Sasuke sudah berbohong pada Sakura. Untuk apa dia bekerja di cafe sederhana itu jika dia sudah memiliki semuanya. Senyum lebar mengambang di wajahnya, hal ini bisa menjadi satu-satunya senjata Naruto. Dia akan membuat Sasuke dan Sakura terpisah selama-lamanya. Sakura tidak suka dengan seorang pembohong. Mencoba memikirkan cara agar dia biasa mengatakan hal ini pada Sakura. senyumnya semakin lebar, dia akan mengatakan semuanya dengan menggunakan tubuh Sasuke. ide yang cemerlan, Naruto tidak sabar untuk esok harinya, dia akan membongkar kebusukan Sasuke.
.
.
.
.
.
Seorang dokter berjalan keluar dari kamar Sasuke, di depan pintu kamar Sasuke, Itachi dan Jugo sedang menunggu dokter itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Itachi, dia terlihat sedikit cemas. Takut jika Sasuke benar-benar melupakannya.
"Dia baik-baik saja, ada luka memar pada bahunya dan jidatnya, katanya kepalanya sakit." Jelas seorang dokter yang sudah di panggil Itachi untuk datang ke rumah dan memeriksa Sasuke.
"Apa ada hal lain?"
"Uhm, tidak ada selain hal itu. Aku akan memberikan resep untuk meredahkan nyerinya."
"Kemarin dia seperti lupa ingatan."
"Benarkah? Tadi dia menjawab semua pertanyaan data dirinya dengan baik dan benar, dia tidak melupakan apapun." Dokter itu merasa jika Sasuke baik-baik saja, fisik dan mentalnya tidak ada masalah yang serius.
"Oh, baiklah."
Setelah dokter itu memberikan selembar resep, Jugo mengantar dokter itu ke depan pintu. Itachi berjalan masuk ke kamar Sasuke dan mendapati adiknya itu sedang duduk bersandar di ranjangnya.
"Hei." Sapa Itachi.
"Untuk apa kau memanggil dokter?" Ucap Sasuke, tatapannya terlihat malas dan merasa Itachi terlalu berlebihan, dia hanya jatuh dari tangga dan seorang dokter sampai di bawah ke rumah.
Sedikit terkejut, Itachi sadar jika di hadapannya ini adalah adiknya yang biasanya, akan terlihat cuek dan malas untuk menanggapinya.
"Aku tidak berlebihan, kau sangat aneh kemarin, kau melupakan kami dan bahkan kamarmu sendiri."
"Jangan mengarang cerita bodoh, mana mungkin aku melupakan kalian." Ucap Sasuke.
"Ah, baiklah jika kau tidak mengakuinya."
"Kepalaku agak sakit, aku ingin kembali tidur." Ucap Sasuke dan mulai merebahkan kembali tubuhnya. Kepalanya sakit dan membuat Sasuke tidak tahan untuk duduk berlama-lama.
Itachi merasa senang jika Sasuke sudah kembali seperti semula, beranjak dari situ sebelum Sasuke akan mengusirnya. Saat mendengar ucapan Itachi, Sasuke memikirkan jika hal itu mungkin saja benar, Itachi tidak akan pernah berbohong padanya dan juga, bagaimana bisa dia sampai ke rumah, Sasuke tidak ingat jika dia berjalan sendiri sampai rumah, yang di ingatnya hanya saat dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Di rumah Sakura.
Jam 12 siang, Sakura kaget dan segera bangun namun kepalanya yang masih sakit membuatnya kembali berbaring.
"A-aduuuh." Rintih Sakura, dia tidak bisa bangun dan hanya memegang kepalanya. Bersyukur jika hari ini cafe masih tutup dan Sakura bisa beristirahat.
Mengingat kembali jika dia minum sangat banyak hingga mabuk, efeknya sekarang sedang di rasakannya, kepalanya sakit dan membuatnya hanya terbaring kasur. Tiba-tiba wajah Sakura merona, dia mengingat ucapannya pada Sasuke.
"Apa yang sudah kau katakan Sakura... kau bodoh sekali!" Ucap Sakura, dia bahkan mengutuk dirinya sendiri. Mengingat kembali jika dia suka mengatakan akan berpacaran dengan Sasuke.
Naruto tersadar, dia seperti tertidur dan menyadari jika dirinya sudah kembali seperti semula, melayang-layang di kamar Sakura. Menatap ke arah Sakura yang masih berbaring. Melayang lebih dekat ke arah Sakura.
"Bodoh, bodoh, bodoh. Seharusnya aku tidak mengatakannya." Ucap Sakura.
"Mengatakan apa?" Ucap Naruto, dia merasa penasaran.
Sakura terdiam dan menutup matanya, kepalanya sakit dan butuh tidur kembali.
Naruto menghela napas, Sakura tidak bisa mendengarnya. "Aku harap kau bisa mendengarku, pelayan bodohmu itu orang kaya dan bukan pria yang hidup pas-pasan, rumah mewah bahkan pelayan pribadi. Kau harus memecatnya, dia sudah membohongimu." Ucap Naruto.
Sakura membuka matanya, tatapan mereka bertemu meskipun di hadapan Sakura tidak ada apa-apa. Dia tidak akan bisa melihat Naruto.
.
.
.
.
.
.
Jalan-jalan dan beristirahat telah lewat, hari ini mereka akan kembali sibuk, efek obat dari dokter, Sasuke sudah bisa fit kembali, dia tengah menunggu Sakura untuk membuka cafe.
"Hei, Sasuke." Panggil Naruto dan menatap sinis ke arah Sasuke.
Tidak ada jawab, Sasuke hanya diam, Naruto tahu, jika Sasuke akan malas menanggapinya.
"Aku tahu kau siapa?"
Sasuke menatap ke arah Naruto. Ucapan Naruto membuatnya tidak senang.
"Kenapa kau bohong pada Sakura?"
"Bukan urusanmu." Ucap Sasuke, cuek.
"Tentu saja ini sudah menjadi urusanku juga, dia istriku dan kau tidak berhak apa-apa padanya." Naruto mulai merasa kesal.
"Dulu, sekarang kau bukan apa-apanya, kapan kau akan sadar dari posisimu." Sindir Sasuke.
"Ka-kau!"
"Selamat pagi." Ucap Sakura dan berjalan keluar.
Sasuke mengikuti Sakura dan mengacuhkan Naruto yang mengomel-ngomel sendiri. Sakura berjalan sambil menunduk tanpa menatap Sasuke, saat ini dia tengah gugup, merasa malu untuk menatap Sasuke akibat ucapannya sendiri. Membuka pintu cafe dan segera Sakura masuk tanpa mengucapkan apapun.
Sasuke mulai membersihkan meja dan mengaturnya. Dia juga mengingat hal saat di kedai, tapi melihat tingkah Sakura yang langsung menunduk tanpa menatapnya, Sasuke memilih diam, menunggu Sakura mengucapkannya kembali. jika dia mabuk dan hanya asal mengucapkan hal penting, itu hanya sia-sia bagi Sasuke. dia menginginkan Sakura mengucapkannya langsung tanpa adanya mabuk yang mempengaruhinya.
Semua sudah selesai dan Sakura mulai menata sarapan. Melihat ke arah Sasuke dan sedikit mengerutkan alisnya.
"Ada apa dengan jidatmu?" Tanya Sakura, sebuah plester coklat di jidat Sasuke cukup mencolok.
"Hanya jatuh."
"Hoo. Uhm, sebaiknya kita sarapan dulu." Ucap Sakura, mulai menarik kursi dan duduk.
Suasana sarapan sedikit canggung bagi Sakura dan santai bagi Sasuke. Sakura tetap fokus pada makanannya dan masih belum bisa menatap Sasuke seperti biasanya.
"Bos."
"Eh, i-iya? A-ada apa?" Sakura benar-benar gugup dan akhirnya menatap Sasuke, sangat tidak enak jika seseorang berbicara padanya dan dia tidak menatap balik.
"Uhm, tidak, aku pikir kau sedang melamun."
"Aku tidak melamun. Hanya...hanya saja, eh, bukan apa-apa. Cepatlah kita akan telat membuka cafe." Ucap Sakura bergegas menghabiskan sarapannya dan segera ke dapur.
Sasuke menyusul Sakura ke dapur. Beberapa menit berlalu dan cafe mulai di buka.
Naruto melayang-layang di atas Sasuke, memikirkan untuk meminta Sasuke meminjamkan tubuhnya. Naruto merasa perlu membongkar semua kebohongan Sasuke, dia tidak ingin Sakura jatuh pada orang yang salah.
Beberapa jam berlalu, cafe sudah akan di tutup, Sasuke mulai sibuk membersihkan.
"Hei, aku ingin mengucapkan sesuatu." Ucap Naruto.
Sasuke berhenti melap meja dan menatap ke arah Naruto.
"Bisakah kau pinjamkan tubuhmu, aku ingin berbicara dengan Sakura."
Sasuke kembali sibuk melap, menurutnya itu adalah ide yang sangat konyol membiarkan orang lain mengendalikan tubuhmu.
Yang benar saja, aku tidak akan melakukannya.
"Aku mohon Sasuke, aku hanya ingin bertemu dan berbicara dengan Sakura. Aku mohon padamu, hanya kau yang bisa melihatku, hanya kau yang bisa membantuku." Ucap Naruto. Berharap Sasuke mengambulkan permohonannya.
Sasuke tidak memperdulikan ucapan Naruto dan tetap pada kesibukannya. Naruto akan mengucapkan hal yang sama di depan Sasuke, memohon agar Sasuke meminjamkan tubuhnya.
Setiap harinya Naruto akan mengganggu Sasuke dan menanyakan hal yang sama. Sasuke mencoba mengalihkan perhatiannya dengan tidak menanggapi apapun yang di ucapkan Naruto. Sangat berisik, berpikir jika dia akan menyumbat telinga, namun hal itu akan membuatnya tidak mendengar panggilan pengunjung.
Beberapa hari berlalu dan Naruto masih bersikeras dengan permohonannya, Sasuke sampai merasa kupingnya sakit mendengar ucapan yang sama, tidak jarang Naruto akan berteriak keras di telinganya. Mau berteriak sekeras apapun, hanya Sasuke yang akan mendengarnya dan itu membuat Sasuke merasa sangat-sangat risih. Ini sudah di luar batas kesabarannya.
Pagi ini, Sasuke sedang menunggu Sakura untuk membuka cafe, Naruto menatapnya dengan tatapan memohon.
"Aku tetap tidak akan melakukan hal bodoh itu untukmu." Ucap Sasuke.
"Aku mohon."
"Tidak."
"Uhm, baiklah, jika kau mengijinkanku, satu kali saja, setelah ini kau boleh bersamanya, kau boleh memilikinya, terserah apapun yang kau akan lakukan, bahkan menjadi pacarnya pun boleh, aku mengijinkanmu, mungkin setelah aku bertemu dengannya aku akan pergi untuk selama-lamanya. Jadi, tolonglah, kali ini saja." Ucap Naruto.
Sasuke menatap ke arah Naruto, mencerna kembali setiap ucapan Naruto. Berpikir jika ini jebakan atau Naruto sungguh-sungguh dengan ucapannya, dia boleh memiliki Sakura seutuhnya tanpa adanya pengganggung, sekali lagi yang di pikir Sasuke, Naruto hanya pengganggu baginya.
"Akan aku pikirkan." Ucap Sasuke.
"Benarkah?"
"Hn, tapi, jangan terlalu berharap banyak aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu."
"Baiklah, terima kasih, terima kasih Sasuke." Ucap Naruto.
.
.
.
.
.
Beberapa hari ini Sakura terlihat kurang bersemangat, kadang-kadang hanya menghela napas panjang dan sesekali akan melirik ke arah Sasuke jika dia membawa pesanan ke meja pesanan. Sasuke terlihat santai dan selalu saja datar seperti biasanya, Sakura tidak bisa membaca apa yang sedang di pikirkan pelayannya itu. Ingin menanyakan tentang di kedai, tapi Sakura tidak cukup memiliki keberanian, mengingatnya saja membuatnya sudah sangat malu.
"Bos."
"Ahk, maaf-maaf." Sakura sedikit terkejut, dia tengah melamun saat mereka sedang makan siang bersama.
"Apa ada masalah? Kau sering terlihat melamun."
"Uhm, tidak, tidak kok."
"Apa stok bahan masih ada? Atau akan berbelanja lagi minggu ini?"
"Akan aku cek nanti."
"Oh baiklah."
"Sasuke."
"Hn?"
"I-itu, uhm..." Sakura menghela napas panjang, Sasuke masih menatapnya serius. "A-aku minta maaf soal di kedai. Aku tidak bermaksud mengatakannya padamu." Ucap Sakura, wajahnya sedikit merona. Dia sudah sangat malu untuk mulai membicarakan hal ini.
"Aku sudah melupakannya." Ucap Sasuke santai.
"Tu-tunggu dulu, ini bukan seperti yang kau pikirkan." Sakura terlihat bingung ingin mengucapkannya bagaimana, dia hanya ingin menyederhanakan maksud dari ucapannya. "Aku minta maaf saat mengatakannya dengan keadaan mabuk." Ucap Sakura, kali ini dia tidak ingin malu atau gugup di hadapan Sasuke. Semua ucapannya di kedai membuatnya sakit kepala sendiri untuk memikirkannya, Sakura ingin menyelesaikan semua ini agar dia dan Sasuke tidak ada masalah di kemudian hari. "Aku hanya tidak terbiasa bersama orang lain. Bisakah kau memberi sedikit waktu untukku?" Ucap Sakura.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Naruto terlihat penasaran dengan apa yang sedang di bicarakan Sasuke dan Sakura.
"Lakukan sesukamu bos, aku tidak pernah memaksakan apapun untukmu." Ucap Sasuke. Meskipun hanya ada sedikit harapan, Sasuke akan berusaha mendapatkannya. Tinggal bagaimana dia akan mengatasi Naruto.
Sakura tersenyum malu di hadapan Sasuke, untuk pertama kalinya dia benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda jika bersama Sasuke, terasa seperti dirinya bersama Naruto. Sakura harus menjaga sikap, Sasuke adalah orang baru baginya, dia akan memahami Sasuke terlebih dahulu sebelum memikirkan hal serius bersama Sasuke, bayang-bayang akan trauma kehilangan orang yang sangat berarti masih di rasakan Sakura, dia hanya perlu waktu untuk membuka lembaran baru bersama orang lain di hatinya selain cinta pertamanya, Naruto.
.
.
.
.
.
Stok bahan hampir habis dan Sasuke akan berbelanja. Di perjalanan dia akan santai dan mungkin merasa bosan, lagi-lagi Naruto akan pergi bersamanya.
"Aku rasa jika kau tinggal akan lebih baik." Singgung Sasuke.
"Aku sudah katakan padamu, jika aku ini bosmu juga, tentu saja aku harus menemanimu, kau hanya perlu di awasi." Naruto membela diri.
Sasuke memutar bola matanya malas, benar-benar malas, rasanya ingin menendang Naruto keluar dari mobil ini. Memikirkan Naruto tidak akan membuat Sasuke merasa lebih baik. Mengalihkan pikirannya pada Sakura, siang ini dia terllihat manis saat menatapnya. Sasuke tidak sabar ingin menjadi orang yang berarti untuk Sakura.
"SASUKE! AWAS" Teriak Naruto.
Sasuke tidak bisa menghindar lagi dan sebuah mobil dari arah lain sedikit menabrak pada bagian depan kiri mobil yang di kendarainya membuat Sasuke hilang kendali dan berhenti pada pembatas jalan, kepalanya membentur pada kepala stir dan Sasuke pingsan.
"Sasuke sadarlah, wooii! Sasuke!" Teriak Naruto, mencoba menyadarkan Naruto. Menyentuh Sasuke meskipun hanya akan menembus tubuhnya. "Sasuke-" seakan terhisap oleh sesuatu, Naruto membuka matanya dan mendapati dirinya pada posisi Sasuke.
Beberapa orang berdatangan melihat keadaan mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak itu dan menanyai kondisi Sasuke, namun yang sedang di tanya hanya nyengir dan merasa dia baik-baik saja meskipun bagian depan mobil yang penyot.
Sasuke, ralat, sekarang yang ada di dalam tubuh Sasuke adalah Naruto. Dia kembali berkendara dan mengambil bahan-bahan sesuai dengan catatan. Naruto merasa sangat senang, dia bisa kembali mengambil tubuh Sasuke tanpa harus memaksa dan memohon padanya. Seperti tidak terjadi apa-apa, Naruto membuat keadaan aman dan terkendali. Sasuke tidak sadarkan diri dan menjadi kesempatannya.
Setelah semua belanjaan, Naruto pulang, sampai di depan cafe dan membunyikan klakson, Sakura keluar dari cafe dan sangat terkejut dengan bagian depan mobil yang sangat penyot.
"Sasuke, kau baik-baik saja?" Ucap Sakura, dia cukup khawatir setelah melihat mobil itu.
Sasuke terdiam dan turun dari mobil, menatap Sakura dan langsung memeluknya.
"Sa-Sasuke, apa yang terjadi? He-hei, kenapa? Apa kau terluka? Apa seseorang telah menabrakmu." Sakura merasa bingung dengan tindakan Sasuke. Berpikir jika Sasuke sedang dalam keadaan takut akibat kecelakaan kecilnya.
Sasuke masih terdiam dan masih memeluknya. Naruto sangat merindukkannya, merindukan menyentuh Sakura. Tanpa di sadari, Naruto menangis, menangis dalam pelukkannya. Tangan Sakura perlahan membalas pelukkan Sasuke dan mengusap punggungnya perlahan. Mungkin dia membutuhkan seseorang untuk menenangkannya saat ini.
Naruto melepaskan pelukkannya dan menatap Sakura, menatap dengan tatapannya penuh arti, dia sangat merindukan istrinya. Sakura merasa ibah, mengusap air mata Sasuke. Hal ini langkah untuknya, seorang pria menangis di hadapannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Sakura, dia masih terlihat cemas.
"Hmm, tidak pernah sebaik ini. Maaf, tadi ada sedikit mobil menabrak bagian depan mobil ini. Aku tidak bisa menghindarinya dan tiba-tiba sudah seperti ini, maaf." Ucap Naruto.
"Syukurlah tidak terjadi apa-apa padamu, aku sedikit khawatir saat melihat penyot yang cukup mencolok pada mobil tadi." Ucap Sakura, bersyukur jika Sasuke dalam keadaan baik-baik saja.
Mereka mulai sibuk, Naruto membantu Sakura menata bahan-bahan belanjaan. Mungkin belum saatnya, Naruto belum mengatakan pada Sakura jika dia adalah Naruto dan bukan Sasuke. Tinggal menunggu waktu yang pas dan Naruto akan mengatakan semuanya.
Semua sudah beres dan Naruto sudah sudah memarkir kembali mobil dengan rapi. Sebelum pulang, Naruto ingin mengatakan sesuatu pada Sakura dan memanggillnya sebelum pergi.
"Cafe akan tutup sabtu dan minggu, tidak ada jadwal untuk belanja lagi, aku ingin mengajakmu berlibur di penginapan dekat pantai. Apa kau mau?" Ajak Naruto.
"Tapi, minggu lalu kita baru saja jalan-jalan." Ucap Sakura. Sedikit ada penolakan, baru kali ini ada pria yang mengajaknya berlibur di tempat yang jauh dari cafe. Sejujurnya dia butuh sedikit liburan seperti ajakan Sasuke. Pantai adalah tempat yang sangat jarang untuk di datangi Sakura.
"Aku tidak keberatan, kali ini aku yang mengajakmu." Naruto meyakinkannya.
"Uhm... Akan aku kabari jika aku siap untuk pergi." Ucap Sakura, berpikir untuk mempertimbangkannya terlebih dahulu.
"Baiklah, semoga kabar yang bagus yang akan aku dengar." Ucap Naruto dan tersenyum lebar.
Sakura terdiam, mendapati Sasuke yang tidak biasanya, dia akan terkesan cuek dan dingin, namun yang di lihat Sakura adalah orang yang sangat periang dan bersemangat, terlihat seperti bukan Sasuke.
"Dah, kabari aku yaa." Ucap Naruto dan pulang.
Sakura masih terdiam dan terpaku di depan cafe, Sasuke terlihat berbeda, sangat berbeda. Sebuah senyum terukir di wajah Sakura, merasa sangat senang melihat Sasuke yang sangat bersemangat itu.
"Dia terlihat seperti Naruto." Ucap Sakura. Terkejut, Sakura menutup mulutnya dan malu sendiri. Dia sedang berusaha untuk tidak mengenang kembali Naruto. Tapi tingkah Sasuke membuatnya kembali mengingatnya.
Naruto sudah mengingat jalan rumah Sasuke, dia akan bersikap biasa saja jika tiba di rumah Sasuke. Berpikir jika akan mendatangi rumahnya, namun apa yang di pikirkan orang tuanya jika orang yang tidak di kenal mereka tiba-tiba datang dan mengakui sebagai anak mereka. Naruto terkekeh memikirkannya, ibunya mungkin akan marah besar dan memukul Sasuke.
"Dari mana saja kau?" Ucap Itachi yang sedang sibuk membaca koran di ruang tamu.
"Aku ada urusan." Ucap Naruto, berusaha terkesan cuek, dia harus bisa berakting seperti Sasuke.
"Apa urusan bersama wanita?"
"Hahahaha, kau bisa mengetahuinya, aduh... Aniki kau sangat hebat." Naruto keceplosan dan malah menjadi dirinya sendiri.
Koran sudah menghilang dari hadapan Itachi dan menatap tidak percaya dengan tingkah Sasuke yang tiba-tiba tertawa girang dengan ucapannya yang sangat percaya diri.
"Apa kau baik-baik saja.?"
Sial, aku hampir ketahuan!
Naruto terdiam beberapa saat dan kembali bersikap seperti Sasuke.
"Ahk, sudahlah aku ingin istirahat." Ucap Naruto, membuat kesan cuek ala-ala Sasuke.
Segera kabur naik ke kamar Sasuke, Naruto tidak ingin di introgasi lebih lanjut gara-gara sikapnya yang selalu bertolak belakang dengan Sasuke.
Sasuke sudah menghilang, Itachi merasa adikknya itu semakin hari semakin aneh. Memanggil Jugo dan membisikkan sesuatu padanya. Itachi ingin mengetahui hal sedang di sembunyikan adiknya itu.
.
.
.
.
.
Beberapa hari ini Naruto tidak tidur, dia akan terjaga sepanjang malam, Naruto tidak ingin rencananya bersama Sakura batal begitu saja. Saat Naruto tertidur, dia akan kembali seperti semula, Dia tidak menginginkan hal itu.
Naruto terlihat menguap beberapa kali saat mulai merapikan meja, cafe sudah tutup. Rasanya sangat lelah, Naruto ingin sekali menutup matanya, tapi setiap akan menutup mata, dia ingat akan kehilangan tubuh Sasuke lagi.
"Ada apa? Akhir-akhir ini kau terlihat mengantuk." Ucap Sakura, berjalan keluar dari dapur dan menghampiri Sasuke.
"Aku tidak pernah tidur. Eh! Ma-maksudku aku sering begadang dan tidur telat, hehehe, iya seperti itu." Ucap Naruto.
"Seharusnya kau lebih banyak istirahat dan berhentilah begadang."
"Ah, akan aku coba." Ucap Naruto, menatap lekat-lekat wajah Sakura.
Haa...~ dia selalu cantik seperti biasanya. Aku sangat mencintaimu!
"Sa-Sasuke, jangan menatapku seperti itu." Ucap Sakura. Sasuke terlalu lama menatapnya dan membuatnya sangat malu, wajah Sakura sudah merona.
"Maaf. Uhm, bagaimana kalau kali ini kau tidak usah membuat makan siang."
"Tidak usah membuat makan siang?"
"Iya, aku ingin kedai ramen langgananku dulu."
"Kau punya kedai ramen langganan?"
Ahk sial, aku lupa!
"Ma-maksudku, aku ingin ke kedai ramen yang pernah kita datangi."
"Ternyata kau masih mengingatnya, ramen di sana benar-benar enakkan?"
"Ah, sangat enak."
"Baiklah, ayo kita ke sana."
Sakura menyelesaikan tugasnya di dapur dan bergegas pergi bersama Sasuke.
Sesampainya di sana, Naruto langsung memesan ramen yang biasanya akan di pesannya. Sakura hapal dengan ramen dan toping di atasnya itu, mirip seperti pesanan Naruto. Padahal saat Sakura membawa Sasuke, dia tidak memesan ramen seperti itu. Semangkok habis, Naruto kembali memesan hingga tiga mangkok dan berhenti.
"Kau makan sangat banyak." Ucap Sakura, dia sama sekali tidak percaya jika Sasuke akan makan ramen sebanyak itu.
"Aku jarang ke sini, jika ke sini aku akan selalu memesan tiga mangkok, sayang sekali jika tidak menikmati ramen di kedai ini"
Sakura terdiam. Seseorang yang berada di hadapannya ini sangat berbeda saat mereka bertemu, semua kebiasaannya dan cara berbicaranya berubah, seperti orang yang sangat di kenal dan di hapalnya.
"Kau sangat aneh Sasuke."
"Aneh? Aku tidak aneh kok."
"Uhm, mungkin perasaanku saja."
"Jadi? Apa kau mau berlibur bersamaku?"
"Kau selalu saja memaksa, baiklah, aku ikut." Ucap Sakura dan tersenyum.
"Nah, itu adalah kabar yang bagus dan juga aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa itu? Kau bisa mengatakannya sekarang."
"Tidak, aku ingin mengatakannya nanti saja."
"Apa ini semacam rahasia?"
"Mungkin saja."
"Aku jadi penasaran."
"Nanti kau akan mengetahuinya."
Sakura menggembungkan pipinya, merasa Sasuke sedang menyembunyikan sesuatu.
Makan siang di kedai bersama berakhir, Naruto mengantar Sakura pulang. Memakan tiga porsi membuatnya cukup kenyang dan semakin merasa lelah.
Tanpa sadar Naruto hilang kesadaran dan hampir tumbang, menahan tubuhnya di pintu Sakura dan mencoba mengambil kesadarannya.
Sial! Kau tidak boleh tertidur Naruto, tidak boleh, Sasuke akan kembali.
"Sasuke! ada apa? Sasuke!" Sakura terlihat panik, mencoba membawa Sasuke masuk ke dalam rumah dan merebahkannya di sofa.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Sakura, dia mulai cemas dengan keadaan Sasuke.
"Sa-ku-ra, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku sangat ngantuk." Ucap Naruto dan matanya tertutup rapat dan tidak ada suara lain selain napasnya yang teratur, Naruto sudah tertidur.
Sakura bernapas legah, Sasuke hanya mengantuk dan tertidur. Duduk di sofa yang berhadapan dengan Sasuke. menopang dagunya dan menatap Sasuke. Wajahnya terlihat lelah, dia benar-benar butuh tidur. Sakura membiarkannya tertidur di sofa, mungkin setelah bangun dia akan pulang.
"Aku tidak tahu jika kau akan berjuang seperti ini." Ucap Sakura. Selain Naruto ada juga pria yang akan mencoba mati-matian untuk mendapatkan hatinya. "Kau sudah melakukan hal terbaik untukku, aku sangat berterima kasih, Sasuke. Aku harap, aku bisa membalas semua perasaanmu padaku." Senyum lebar menghiasi wajah Sakura. Hatinya menjadi sedikit deg-degan saat menatap Sasuke. Segera berlari ke kamarnya, Sakura butuh istirahat juga setelah pekerjaan kerasnya hari ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Naruto membuka matanya, menatap sekeliling ruangan yang sudah sangat di hapalnya, ini adalah rumahnya, akhirnya dia kembali seperti semula, menutup wajahnya dan merasakan ada yang aneh, Mencari sesuatu agar bisa bercermin, Naruto sedikit terkejut, dia masih ada di tubuh Sasuke dan tidak keluar meskipun dia sudah tertidur.
Naruto terlihat sangat senang dengan keadaan ini, Sasuke tidak kembali pada tubuhnya. Sudah sangat larut dan Naruto harus pulang, dia tidak ingin keluarga Sasuke mencarinya.
Langkahnya terhenti saat akan membuka pintu, berpikir untuk mengucapkan selamat tinggal pada Sakura, tapi sepertinya ini sudah sangat malam untuk membangunkan Sakura. Naruto memilih untuk menulis pesan di secarik kertas jika dia sudah pulang dan sangat berterima kasih. Setelah menulis pesan itu, Naruto bergegas pulang.
.
.
.
.
.
Berjalan masuk ke dapur dengan malas, merasa sedikit kehausan, Sakura mengambil gelas dan menuangkan segelas air ke dalam gelasnya. Sedikit melupakan sesuatu, berjalan dengan cepat ke arah ruang tamu, kosong, Sasuke sudah tidak ada di sana, Sakura hanya mendapatkan secarik kertas yang di simpan di atas meja.
Terima kasih untuk sofanya dan maaf aku tidak pamit saat pulang, mengganggumu saat tidur akan tidak sopan.
Dah, sampai besok...
Sebuah senyum terukir di wajah Sakura. membolak-balikkan kertas itu dan kembali memperhatikan tulisan Sasuke. Lama-lama memperhatikannya, Sakura merasa tidak asing dengan model tulisan itu, hanya satu orang yang di kenalnya akan menulis seperti ini, berjalan ke sebuah laci dan membukanya, mengambil buku dan kembali ke ruangan tamu untuk duduk di sofa, Sakura mulai membuka buku itu, buka catatan Naruto. Mencoba mencocokkan tulisan yang ada di secarik kertas.
Deg'
Deg'
Deg'
Apa mungkin ada orang yang memiliki tulisan yang sangat-sangat mirip atau orang itu adalah peniru tulisan yang handal, tapi pesan itu di tulis dengan santai dan tidak mungkin untuk hal sekecil ini Sasuke akan mengerjainya, mencoba membuat tulisan yang sangat mirip dengan tulisan Naruto. Sakura menyimpan kertas itu di dalam buku dan kembali menyimpannya di dalam laci.
Memijat pelan pelipisnya, Semacam reinkarnasi atau kemungkinan Sasuke sudah di takdirkan akan menjadi pendamping hidupnya yang baru. Seperti sebuah teka-teki dimana Sakura merasa Sasuke menyimpan beberapa rahasia yang membuat Sakura penasaran.
.
.
.
.
.
Cuaca yang cerah dan cukup terik, sudah jam 10 pagi, sesuai janji, Sakura akan datang di tempat yang di sebutkan Sasuke. Mereka janjian di sebuah taman kota. Naruto sudah menunggu beberapa menit yang lalu, dia sudah sangat tidak sabaran untuk melakukan kencan ini bersama istrinya.
Beberapa menit berlalu, masih belum tanda-tanda adanya Sakura, tidak lama kemudian, Sakura terlihat berlari dari kejauhan, dia hampir terlambat dan sedikit lama untuk bersiap-siap menemui Sasuke.
"Maaf, aku sedikit terlambat." Ucap Sakura, napasnya tidak karuan, dia berlari cukup cepat hingga sampai di taman.
"Tidak apa-apa, aku juga sedikit terlambat." Ucap Naruto dan tersenyum di hadapan Sakura, berusaha membuat Sakura tidak merasa bersalah atas keterlambatannya beberapa menit. "Sakura."
"Iya?"
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Wajah Naruto terlihat serius.
Sakura terdiam menunggu Sasuke mengucap hal yang ingin di katakannya.
"Sudah lama aku menunggu hal ini." Naruto tersenyum dan menatap Sakura. "Mungkin ini terdengar sedikit aneh dan sangat-sangat konyol." Menarik napas dan menghembuskannya, Naruto siap untuk mengatakan hal ini jika. "Aku sangat merindukanmu, Sakura. Ini aku, Naruto."
Sakura mengerutkan alisnya, dia sangat bingung dengan apa yang di ucap Sasuke "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Yaah, ini memang aneh, tapi, aku meminjam tubuh Sasuke, aku ingin bertemu denganmu, bukan, aku sangat ingin bertemu denganmu." Nada bicara Naruto terdengar sangat bersemangat.
Sakura masih tidak percaya dengan hal ini, mana mungkin Naruto yang sudah setahun lebih meninggalkannya dalam kecelakaan masih bisa menemuinya sekarang.
"jangan bercanda Sasuke. Ini tidak lucu."
"Aku tidak berbohong Sakura." Naruto menarik pelan tangan Sakura. "Tatap aku, aku tidak pernah berbohong padamu." Tegas Naruto.
Sakura tiba-tiba mengingat ucapan dan tingkah Naruto, Sasuke melakukan hal yang sama persis dengan Naruto jika ada rasa tidak percaya Sakura pada Naruto.
"He-hentikan ini Sasuke. Aku benar-benar-"
"Apa kau pernah mengatakan pada Sasuke jika kita kecelakaan di jalan menuju kota Kirigakure untuk berbulan madu?"
"T-tidak."
"Apa kau pernah mengatakan pada Sasuke jika kita bertemu pertama kalinya saat kita berada di universitas yang sama, apa kau pernah mengatakan pada Sasuke jika aku melamarmu di saat musim semi di bawah pohon Sakura? apa pernah? Pernahkah kau mengatakan padanya semua itu?"
"Tidak, aku tidak mengatakannya pada Sasuke. Tapi-"
"-Apa semua bukti itu tidak cukup?"
"Ini bukan masalah bukti Sasuke, tapi ini sangat tidak masuk akal."
"Aku bukan Sasuke, aku Naruto, Naruto Uzumaki."
Sakura terdiam, ini benar-benar aneh dan sangat tidak masuk akal. Jika Naruto berada di tubuh Sasuke, lalu, Sasuke berada dimana, berpikir kembali jika Sakura mulai mencurigai hal yang ganjil dari Sasuke beberapa hari yang lalu. Sikap Sasuke yang tiba-tiba terlihat ceria, tulisan yang sangat-sangat mirip dengan Naruto dan juga, dari makanan kesukaan Naruto yang Sasuke sama sekali tidak menyukainya, bahkan di pesan dalam jumlah porsi yang banyak.
"Percayalah, ini aku." Ucap Naruto, dia masih berusaha menyakinkan Sakura yang terlihat sangat bimbang.
Mereka saling menatap, cukup lama hingga setetes air mata menuruni pipi Sakura.
"Katakan, Apa yang membuatku marah saat kita bertemu di cafe sehari sebelum pernikahan? hanya aku dan Naruto yang mengetahui hal ini."
Naruto tersenyum dan menghapus air mata Sakura. "Aku tidak sengaja menghilangkan cincin pernikahan kita dan sudah tidak ada waktu lagi untuk memesan cincin yang sama. Kau bahkan memukulku dengan sangat keras, kau sangat menyukai desain itu dan hanya ada sepasang untuk tiap produksinya." Ucap Naruto.
Sebuah pelukan mendarat ke tubuh Naruto. Gadis itu mengakui jika pria yang ada di hadapannya ini adalah Naruto, suaminya.
"Kau bahkan masih mengingat hal konyol itu. Aku sangat merindukanmu, sangat." Ucap Sakura. Memeluk Naruto dengan sangat erat.
"Aku juga sangat merindukanmu." Naruto membalas pelukan Sakura.
Suasana yang sangat membahagiakan, Sakura merasa seperti hidup kembali, suaminya ada bersamanya meskipun dalam wujud yang berbeda. Hal ini membuatnya lupa akan Sasuke yang arwahnya entah berada di mana, Naruto masih mengambil alih tubuh Sasuke dan mengajak Sakura untuk berkencan.
.
.
TBC
.
.
telat banget updatenya gara-gara keasikan liburan dan melupakan mengetik fic ini, HAHAHAHAHAHA, maafkan author,
oh, maaf lahir batin untuk yang sedang merayakannya... ^_^ maafin author jika ada salah yang di sengaja mau pun tak di sengaja kalau lagi balas review atau buat chapter yang bikin baper, hehehehe.
.
.
.
~balas review~
zarachan : sudah update lagi yaa...~
Lotus393 : eheh, tapi chapter ini telat banget, sorry yoo.
Niayuki : update yaa..
embun(adja1) : author sendiri ngetik sambil tahan ketawa, soalnya pas mikir malah terkesan lucu, heheheh
Shinju Hyuuga : secepat kilat XD, semuanya benar, antara Sakura yang belum ikhlas dan Naruto yang juga belum ikhlas ninggalin istrinya XD, sorry yoh, updatenya kelamaan, hahahhaa,
Ucihana rin : reviewnya udah dapat jawaban dari chapter ini yaa
Shuu-kun : hoaa, ada yang nyadar dari point paling penting di chapter ini.. *jodet-jodet senang* sudah update
Nasyaila : ayo ayo... cepat taklukkan hati saku... *author ikut dukung*
yencherry : ciiee...~ jadi pacar, kapan jadi istri yaa, ehm, ehm, di tunggu next chapternya, XD
Kirara967 : sudah di jawab di chapter ini yoooo
Aikaa-chan : sudah update
ViChan : makasih, oh maaf, untuk chapter ini agak telat, hai hai, salam kenal balik
Mustika447 : hooo, gitu yaa, author penasaran, nanti deh author baca juga heheh, halah kamu sok polos tapi baca juga, hahahhaa, sudah update yaa
sitieneng4 : itachi perhatian banget yaa sampe "itu" jga di perhatiin, wkwkkwkw author ngakak pas muncul ide untuk ngetik scene itu, wkwkkwk reviewnya udah jawab di chapter ini yoo, sasu pingsan.
Tia : lanjuuuuuuttt...~ syalalalalal...~
Rizumu no Sakura : demii apaaaa...! typonya akun banget, wkwkwkk author udah edit yooo, jadi udah enak di bacanya eheheh, sankyuuu
ainirahmi26 : itachi kapan tahu? ada deeh, nggak mau kasih spoiler, hehehe, naru, dia masih belum mengikhlaskan dirinya dan masih merasa punya tanggung jawab untuk istirnya. yaa mungkin seperti itu. ahk, nggk apa2, tanya aja lagi kalau ada yang mengganjal,
see you next chapter lagi yoooo...~
