Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
Rate : M for Save.
catatan : fic ini tidak mengandung unsur gore atau pun horor yang wow banget, fic ini hanya di bubuhi humor yang semoga terkesan lucu meskipun garing XD
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
- Ghost Terror -
[chapter 06]
.
.
.
Suasana taman yang banyak di tumbuhi pepohonan dan tanaman-tanaman yang tertata rapi, sangat sejuk dan rindang, beberapa orang juga berjalan santai di sana, melirik sejenak ke arah Sakura dan membuatnya cukup malu, Naruto menggenggam tangannya, mereka terlihat sangat romantis.
"Kita mau kemana?" Tanya Sakura.
"Ikut saja, hari ini kita akan jalan-jalan dan berlibur." Ucap Naruto. Menggenggam lembut tangan Sakura.
"Uhm, baiklah." Ucap Sakura.
Mereka berjalan-jalan hingga ke pusat kota, mendatangi beberapa toko, Sakura merasa begitu senang, Naruto mengetahui banyak tempat yang bagus dan belum sempat di datanginya saat mereka masih pacaran dulu. Selesai berkeliling di pusat kota, mereka menaiki bus untuk menuju pantai yang lumayan jauh, berada di pinggir kota Konoha. Saat ini, di sana tidak terlalu ramai, hanya saat liburan musim panas akan ramai. Sakura merasa sedikit was-was saat menaiki kendaraan, Naruto selalu mencoba untuk membuatnya tenang, membuat perhatian Sakura teralihkan dengan bercerita dengannya sepanjang perjalanan.
Setengah jam berlalu, mereka tiba di pantai, kembali berjalan-jalan lagi, meskipun hanya berjalan tidak membuat kaki Sakura pegal, dia bahkan sangat menikmati setiap tempat yang di kunjunginya. Perjalanan mereka berakhir di tepi pantai, duduk di atas pasir dan memandangi laut.
"Apa kau lelah?" Tanya Naruto.
"Tidak. Ini sangat menyenangkan, sudah lama aku tidak pernah keluar sejauh ini." Ucap Sakura, wajahnya terlihat ceria. Naruto ikut senang mendapati wajah ceria istrinya itu.
"Tunggu di sini, aku akan pergi sebentar." Ucap Naruto dan bergegas pergi.
"Eh, kau mau kemana?"
"Tunggulah, aku akan segera kembali." Teriak Naruto saat dia sudah menjauh dari Sakura.
Naruto sudah sangat jauh, dia berlari menuju supermarket. Sakura kembali memandangi laut lepas di hadapannya, angin berhembus perlahan dan cuaca sedikit mendung. Melirik ke arah jam tangannya dan sudah sangat sore, matahari yg mulai terbenam sedikit tertutupi oleh awan.
"Maaf, aku harus mengantri di kasir." Ucap Naruto. Dia sudah kembali membawa kantong plastik putih.
"Apa yang kau beli?" Ucap Sakura, memegang kantongan itu dan membukanya, mendapati beberapa jenis kembang api di dalamnya.
"Bagaimana?" Ucap Naruto dan duduk di sebelah Sakura.
"Kau membeli sebanyak ini?" Ucap Sakura, memegang satu kembang api dan melihatnya.
"Iya. Kau suka?"
Sakura tersenyum melihat semua kembang api itu.
"Aku pernah mengatakan, kita akan ke pantai dan menyalakan kembang api di sana. Apa kau masih mengingatnya? Rencana itu tidak terlaksana karena-"
Sebuah tangan menutup mulut Naruto, ucapan Naruto terputus, Sakura tidak ingin mendengar apapun lagi, kejadian yang sudah setahun lebih terlewatkan, itu hanyalah masa lalu yang ingin Sakura lupakan.
"Cukup Naruto. Aku tidak ingin mendengarnya lagi." Ucap Sakura, wajah cerianya menghilang begitu saja.
"Maaf, aku minta maaf." Ucap Naruto, menarik pelan Sakura dan memeluknya. "Aku tidak akan mengucapkan apapun lagi tentang kejadian itu." Lanjutnya.
Sakura membalas pelukan Naruto. Di saat seperti ini dia sangat membutuhkan Naruto. Kesedihannya yang sudah sangat lama di pendamnya. Meskipun menyibukkan diri di cafe, Sakura akan selalu kembali mengingat semua hal itu jika memandangi foto Naruto yang berada di altar.
"Aku mencintaimu, Naruto." Ucap Sakura, mengeratkan pelukannya
"Ah, aku juga sangat mencintaimu." Ucap Naruto.
Detik berikutnya, mereka sudah mulai menyalakan beberapa kembang api. Suasana pantai menjadi sunyi di malam hari, hanya ada cahaya dari kembang api di tepi pantai. Mereka akan tertawa bersama dan kembali menyalakan kembang api yang lain. Untuk sisa kembang api lainnya, Naruto meminta Sakura untuk duduk, Naruto mengambil beberapa kembang api, menancapkannya pada pasir tepat di hadapan Sakura dan mulai menyalakannya satu persatu. Sakura kembali tersenyum melihat tingkah Naruto.
"Ini sungguh indah." Ucap Sakura.
"Aku senang kau menyukainya." Ucap Naruto, berjalan ke arah Sakura dan duduk di sebelahnya, menikmati sisa kembang api yang sebentar lagi akan habis bersamaan.
"Terima kasih untuk semuanya." Ucap Sakura dan menatap Naruto.
"Ini adalah janji dari ku, kau tidak perlu mengucapkan terima kasih atau apapun, aku adalah suamimu, sudah tugasku sebagai seorang suami untuk membahagiakan istrinya. Hehehe." Ucap Naruto dan menampakkan senyum khasnya.
"Kau tidak pernah berubah." Ucap Sakura dan tersenyum malu di hadapan Naruto, wajahnya merona dan membuat Naruto semakin gemes melihat wajah istrinya itu.
Tidak ada jarak di antara mereka. Sakura menundukkan wajahnya, malu, sudah sejak lama saat Naruto pergi meninggalkannya, Tidak ada satu pun pria yang menciumnya, kecuali Sasuke, Sakura tidak sadar jika Sasuke sudah pernah menciumnya.
"Ada apa?" Tanya Naruto, melihat Sakura menundukkan wajahnya.
Sakura menggelengkan kepalanya pelan "Tidak ada." Ucapnya.
Tangan Naruto tepat berada di dagu Sakura, mengangkatnya sedikit lebih tinggi hingga tatapan mereka bertemu.
"Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu selama ini. Asal kau tahu saja, aku tidak pernah jauh darimu, sungguh, aku selalu ada di sisimu." Ucap Naruto.
kembali Naruto menghilangkan jarak antar mereka, hingga bibir mereka bertemu satu sama lain. Sakura menutup matanya dan kembali air mata itu menuruni pipinya. Ucapan Naruto membuatnya senang sekaligus sangat sedih, selama ini Sakura selalu merasa sendirian tapi Naruto selalu ada bersamanya meskipun Sakura tidak bisa melihatnya.
Ciuman yang cukup lama hingga Naruto sedikit menuntut untuk memperdalam ciuman mereka. Sakura hanya menurutinya dan tersenyum di sela-sela ciuman mereka. Merasa kehabisan oksigen, Sakura mendorong pelan dada Naruto untuk memberinya sedikit waktu untuk menghirup udara. Naruto berusaha untuk mengendalikan dirinya, dia tidak ingin membuat Sakura merasa di paksa. Naruto tidak kembali menciumnya, beranjak dari tempatnya duduk dan menggenggam tangan Sakura.
"Sebaiknya kita ke penginapan, udara di sini akan semakin dingin." Ucap Naruto.
Sakura berdiri dan mengikuti Naruto yang terus saja menggenggam tangannya selama perjalanan. Menatap ke arah tangan yang senantiasa menggenggamnya, menatap punggung lebar dan terakhir menatap rambut hitam yang cukup mencuak kebelakang. Sakura terdiam dan senyumnya memudar. Dia benar-benar melupakan sesuatu, melupakan seseorang yang mulai mengambil hatinya, seseorang yang berusaha keras untuk membuatnya merasa tidak sendirian lagi.
Sasuke.
Terkejut, tanpa sadar Sakura menyebutkan nama Sasuke dalam hatinya. Entah mengapa ada hal yang terasa mengganjal baginya, benar jika saat ini dia bersama Naruto, tapi tubuh ini milik Sasuke. Mau sekeras apapun Naruto mencoba membuat tubuh itu seperti miliknya, tetap saja Naruto tidak bisa mengubah apapun, hanya arwahnya saja yang berada di dalamnya.
Naruto sudah memesan satu kamar di penginapan dekat pantai. Sakura tengah duduk di sisi ranjang, Naruto berlutut di hadapan Sakura, menggenggam kedua tangan Sakura dan menatapnya. Aneh, wajah Sakura tidak menampakkan keceriaan seperti tadi saat di pantai. Dia terdiam dan tatapannya entah kemana.
"Sakura." Panggil Naruto dan akhirnya mata hijau zambrut itu menatapnya. "Apa ada yang membuatmu tidak senang?"
Sakura masih terdiam dan hanya menggelengkan kepalanya, dia sudah menyadari satu hal, pria yang ada di hadapannya ini adalah Sasuke, wajahnya yang datar meskipun Naruto tersenyum, wajah itu akan tetap melekat pada Sasuke, mata onyxnya, semua hanya milik Sasuke. Hal ini tidak adil pada Sasuke. Naruto seenaknya menggunakan tubuh Sasuke. Jika mungkin hanya untuk bertemu Sakura, itu tidak masalah baginya, tapi, Naruto menggunakan tubuh Sasuke untuk menyentuhnya, ada rasa penyesalan pada Sakura.
tidak ada jawaban yang berarti dari Sakura, dia menatap Naruto tapi tatapannya seakan kosong. Naruto tidak bisa menebak apa isi pikiran Sakura. Merasa ada sedikit perubahan pada istrinya itu, Naruto sedikit menaikkan wajah dan kembali mencium Sakura, hanya menempelkan bibir dan menjauh.
"Jika ada yang membuatmu tidak senang, kau bisa mengatakannya padaku." Ucap Naruto, dia ingin tahu apa yang sedang di pikirkan Sakura.
Sakura tersadar dengan lamunannya. Menatap kembali pria itu dan masih sama, pria di hadapannya tidak akan berubah. Sikapnya adalah milik Naruto dan tubuhnya adalah milik Sasuke dan baru saja Naruto menciumnya sepintas, yang ada di pikiran Sakura adalah Sasuke yang berani-berani menciumnya.
"Dimana Sasuke?" Tanya Sakura tiba-tiba.
"Ha? Untuk apa kau menanyakannya?"
"Dimana Sasuke?" Sakura kembali mengulang ucapan yang sama. Dia merasa sangat bersalah dan egois, memang benar jika Sakura merindukan Naruto, sangat merindukannya. Hanya saja, yang di lakukan Naruto ini salah.
"Aku tidak tahu." Ucap Naruto, sejujurnya dia tidak senang jika di saat seperti ini, Sakura menyebutkan namanya.
"Naruto, dimana dia?" Sakura merasa perlu mengetahui Sasuke berada dimana.
"Aku tidak tahu! Kenapa kau harus peduli dia berada di mana!" Naruto sedikit emosi, berdiri dan mendorong Sakura hingga terbaring di atas ranjang dan menindihnya.
"Na-Naruto." Sakura sedikit takut, Naruto terlihat sangat marah.
"Aku tidak senang jika kau menyebutkan namanya."
"M-maaf, aku hanya ingin tahu dia berada dimana."
"Dan jika kau sudah tahu dia berada dimana, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku ingin kau mengembalikan tubuhnya." Ucap Sakura, dia menghindari kontak langsung dengan tatapan Naruto.
Naruto menjadi kesal, usahanya selama ini menjadi sia-sia dan tidak berarti di hadapan Sakura, jadi untuk apa dia berusaha dan Sakura tidak menghargainya, bahkan meminta untuk mengembalikan tubuh pria yang sangat ingin dia jauhkan dari istrinya.
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Ka-"
Ucapan Sakura terputus, Naruto sudah membungkam mulut Sakura dengan menciumnya, Naruto tidak ingin mendengar Sakura membelanya lagi. Sakura terkejut dan berusaha mendorong Naruto untuk menjauh, tidak ada ciuman yang lembut dan tulus, yang ada hanya paksaan dan nafsu. Naruto mencium Sakura cukup keras hingga menggigit bibirnya. Sakura sudah tidak bisa menahannya lagi, dia butuh untuk menghirup udara. Memukul-mukul bahu Naruto dengan cukup keras. Naruto melepaskan ciumannya tapi tidak menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura. Mereka sama-sama ngos-ngosan, tapi tidak menunggu lama, Naruto kembali menciumnya. Tangannya yang bebas mulai menyentuh bagian tubuh Sakura yang cukup sensitif.
"Na-Nar...u..to...!" Sakura sulit untuk mengucapkan apapun, hingga ciuman Naruto turun pada leher Sakura, menggigit leher Sakura dan membuat tanda di sana. "Ahk! Naruto, hentikan ini! Naruto!" Ucap Sakura, berusaha mendorong Naruto meskipun tidak berefek apapun. Sakura terus berusaha untuk mendorongnya, tubuhnya mulai sedikit lelah menerima sentuhan Naruto.
"Naruto, sadarlah. aku mohon, ini salah." Ucap Sakura, dia sudah sangat lelah dan menangis, berharap Naruto berhenti melakukannya.
Mendengar penolakan itu, Naruto akhirnya berhenti dan terdiam, menarik wajahnya dan menatap Sakura, tatapannya sangat terkejut melihat wajah Sakura yang cukup berantakan, bibirnya yang sudah sangat bengkak dan sedikit berdarah olehnya, air mata masih menuruni pelipisnya. Melirik ke arah cermin yang tepat berada di hadapan Naruto. Pantulan cermin itu tidak akan berbohong dengan apa yang sudah di lihat Naruto.
A-apa yang sudah ku lakukan? Aku membuat Sasuke mencoba memperkosa Sakura. Sial!
Naruto menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Sakura dan masih tetap menindihnya. Dia harus menghilangkan keinginannya untuk melakukan ini pada Sakura.
"Aku tahu kau sangat menginginkannya, tapi, kita tidak bisa melakukannya, ini sangat tidak adil pada Sasuke. Aku hanya ingin kau menyadari hal ini." Ucap Sakura dan memeluk Naruto.
"Maaf. Aku lepas kendali, maaf, aku benar-benar minta maaf." Naruto menyesali perbuatannya.
"Aku sudah sangat senang bertemu dengan mu dan jalan-jalan bersama, aku rasa sudah cukup, kau harus mengembalikannya."
Naruto mengangkat wajahnya dan menatap Sakura.
"Sayangnya aku tidak tahu cara untuk mengembalikan tubuh Sasuke." Ucap Naruto.
"Apa!"
"Uhm, aku tidak tahu caranya, semua terjadi begitu saja."
"Jadi, apa Sasuke tidak akan kembali lagi?"
"Kau khawatir padanya?"
Sakura terdiam, dia tidak ingin terlihat memberi perhatian lebih pada Sasuke. Naruto akan marah padanya.
"Tidak. Hanya saja, dia adalah pegawaiku."
"Tenanglah, aku akan membantu sebelum dia kembali."
"Baiklah."
Naruto berguling ke samping, dia tidak akan memaksakan dirinya lagi. Memilih untuk tertidur di sebelah Sakura.
.
.
.
.
.
Sasuke Pov
Rasanya seperti aku tertidur cukup lama. Membuka mataku dan menatap sekeliling ruangan. Ruangan ini, ruang tamu milik Sakura. Kenapa aku di sini- ah! Apa yang terjadi pada tubuhku? Aku melayang? Bahkan menembus tembok. Ada apa ini? Apa aku sudah mati? Ti-tidak mungkin.
"Sakura..! Sakura..! Sakura...!"
Aku berteriak sekeras mungkin, berharap Sakura bisa mendengarku, aku melayang ke arah kamar Sakura, kosong, tidak ada siapapun di kamar dan bahkan di seluruh rumah Sakura, di cafe pun sama, tidak ada siapa pun.
Mengingat kembali kejadian terakhir yang aku alami, kecelakaan, aku mengalami kecelakaan, apa aku benar-benar mati? Melayang ke arah garasi dan mendapati mobil itu hanya penyot.
Menghela napas panjang, entah apa yang harus aku lakukan sekarang, Aniki bahkan Jugo, mereka akan khawatir jika aku tidak kembali ke rumah.
Naruto, iya, orang bodoh itu mungkin bisa membantuku. Tapi, aku tidak juga menemukannya melayang-layang di rumah Sakura. Apa mungkin dia sudah berada di tempat semestinya dimana dia berada? Semua kejadian ini cukup membuatku sedikit syok, aku tidak harus berbuat apa, melayang-layang tak tentu arah di dalam ruangan. Apa rasanya seperti, Naruto? Rasanya sungguh tidak enak. Sedikit memahami keadaan Naruto saat aku di posisinya.
Kembali menutup mata, aku hanya ingin tidur selama-lamanya, entah apa yang terjadi padaku. Berharap ini hanya mimpi dan aku akan segera bangun.
.
.
.
.
.
Sudah seminggu berlalu, semua kembali seperti biasanya, cafe yang sibuk dan ramai, tapi tidak ada yang berubah, yaitu Naruto, dia masih tetap berada di tubuh Sasuke. Naruto membantu Sakura sepanjang hari di cafe, sekarang dia tinggal bersama Sakura, dia tidak ingin pulang ke rumah Sasuke, meskipun Sakura memaksanya, Naruto tidak pandai berakting sebagai Sasuke dan dia merasa sangat asing jika berada di sana. Naruto tidak menceritakan kebenaran tentang Sasuke, dia ingin Sasuke yang menceritakan semuanya sendiri.
"Akhirnya..." Ucap Naruto dan merebah dirinya di sofa. Cafe sudah tutup dan semua sudah beres.
"Terima kasih untuk kerja samanya." Ucap Sakura dan duduk di sebelah Naruto.
"Ya-ya, terima kasih juga untuk hari ini, kau sangat hebat bos ku." Ucap Naruto dan merangkul Sakura.
"Naruto." Ucap Sakura dan menepuk tangan Naruto.
"Ada apa? Aku harap ada yang memijat lenganku saat ini, terasa sangat pegal saat membawa nampan itu tiap harinya."
"Aku pikir Sasuke masih jauh lebih baik darimu." Ucap Sakura.
Naruto terdiam dan menarik lengannya dari bahu Sakura.
"Sebaiknya aku mandi dan beristirahat." Ucap Naruto dan meninggalkan Sakura begitu saja.
Sakura menghela napas, sepertinya dia salah berucap, Naruto tidak senang jika Sakura mengatakan apapun tentang Sasuke.
Sudah beberapa minggu mereka bersama, seharusnya Sakura merasa bahagia dengan hal ini, tapi dia merasa ada yang kurang atau bahkan merasa ada yang salah dari keadaan ini. Perasaannya sedikit memudar pada Naruto. Sejujurnya Sakura merindukan sikap cuek dan kehadiran Sasuke.
"Sasuke." Gumam Sakura.
Sasuke membuka matanya dan menatap ruangan itu, di sana ada Sakura yang sedang duduk dan sepertinya tengah melamun. Merasa sedikit legah, akhirnya dia bisa melihat Sakura. Sasuke melayang ke arah Sakura dan berlutut di hadapannya.
"Aku ada di sini, bos." Ucap Sasuke. Meskipun dia tahu, keadaannya akan sama seperti Naruto, Sakura tidak akan mendengar dan melihatnya.
"Sakura, sebaiknya kau mandi sebelum tidur."
Sasuke cukup terkejut mendengar suara itu, suara bariton khas miliknya, berbalik dan mendapati dirinya yang hanya berbalut handuk pada bagian bawah tubuhnya. Naruto ikut terkejut mendapati Sasuke yang tengah berlutut di hadapan Sakura. Naruto terdiam cukup lama, yang ada di pikirannya dia tidak ingin semua ini berakhir dan kembali seperti semula dimana keadaannya yang tidak jelas dan melayang-layang.
Berpura-puralah jika kau tidak melihatnya. Naruto.
"Sakura." Panggil Naruto lagi, Sakura terlihat melamun.
"I-iya."
Naruto berjalan menghampiri Sakura dan duduk di sebelahnya, mengabaikan tatapan horor Sasuke yang tengah menatapnya dengan sangat-sangat marah.
"Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Tanya Naruto.
"Tidak ada."
"Kau sangat tidak pandai berbohong Sakura, apa kau lupa, kita sudah bersama sejak lama."
"Sungguh, aku tidak sedang memikirkan apa-apa." Ucap Sakura.
"Baiklah."
"Sana, kau harus memakai bajumu." Ucap Sakura.
"Aku lebih suka seperti ini." Goda Naruto.
"Naruto, kau akan masuk angin nanti."
Naruto tersenyum dan malah memeluk Sakura.
"Aku tidak akan masuk angin jika-" Ucap Naruto terputus, Sasuke tepat berada di hadapannya yang sedang memeluk Sakura. Tatapan Sasuke begitu tajam dan sangat menusuk membuat Naruto sedikit ketakutan. "Jika...jika.., eheheh baiklah aku akan segera berpakaian." Ucap Naruto dan melepaskan pelukannya, berjalan sedikit terburu-buru dan masuk ke kamar, Sasuke mengikutinya.
"Mati aku, mati aku," Ucap Naruto seperti sebuah matra yang di ulangnya berkali-kali.
"Siapa yang mati?" Ucap Sasuke dan masih dengan tatapan yang sama.
"S-Sasuke. Ehehehe, dari mana saja kau? aku sampai mencarimu." Ucap Naruto.
"Jangan coba-coba bersikap baik di hadapanku."
"Tidak kok, aku mencarimu, sungguh, kau menghilang begitu saja."
"Dan kau menggunakan tubuhku seenaknya!" Bentak Sasuke, dia sudah cukup bersabar dan sekarang kesabarannya sudah habis.
"Aku tidak melakukan hal itu. Sungguh." Naruto membela diri.
"Sekarang kembalikan tubuhku." Ucap Sasuke.
"Caranya?" Ucap Naruto dengan tampang polosnya.
"Caranya? Apa maksudmu? Kau sendiri yang bisa mengambil tubuhku, kau juga harus mengembalikannya." Ucap Sasuke, dia cukup kesal dan saat ini ingin sekali memukul wajah Naruto.
Naruto mengabaikan Sasuke, dia sudah selesai mengenakan pakaiannya dan bersiap untuk tidur.
"Aku lelah, kita bicara nanti saja." Ucap Naruto.
"Cih, sial. Kau tidak boleh tidur begitu saja, kau harus menyelesaikan masalah ini." Ucap Sasuke.
Belum sempat Naruto berbaring, pintu kamar terbuka dan Sakura masuk, dia terlihat lebih segar setelah mandi dan menjadi pemandangan tersendiri bagi Naruto dan Sasuke, mereka sama-sama mematung dan menatap Sakura.
"A-ada apa?" Ucap Sakura, dia bingung dengan Naruto yang terdiam sambil menatapnya cukup lama.
"Tidak, heheheh, kau sangat cantik hari ini." Ceplos Naruto.
Wajah Sakura merona dan tertunduk malu menatap ke arah Naruto, berjalan melewati Naruto dan segera berbaring, dia ingin istirahat sekarang. Naruto tersenyum dan ikut berbaring di sebelah Sakura.
Mendadak wajah Naruto berubah menjadi suram, Sasuke melayang tepat di hadapannya setelah berbaring, tatapan Sasuke semakin menusuk.
"Kembalikan tubuhku atau kau ku buat tidak bisa hidup tenang." Ancam Sasuke.
Naruto menelan ludahnya yang terasa berat setelah mendengar ucapan Sasuke, melirik ke arah Sakura, dia sudah tertidur, hari ini sangat sibuk dan membuatnya cukup lelah. Bergerak ke arah Sakura dan mencium keningnya.
"Selamat tidur." Ucap Naruto.
"Sadarlah jika kau menggunakan tubuhku untuk menyentuhnya. Aku pikir kau sangat marah dan tidak suka aku menyentuh bahkan menciumnya" Singgung Sasuke.
Wajah Naruto menjadi suram, yang di katakan Sasuke memang benar. Naruto mengabaikan Sasuke dan bergegas tidur, dia tidak ingin melihat Sasuke atau pun mendengar ucapannya.
"Diamlah, aku ingin tidur." Ucap Naruto.
"Apa kau pikir aku hanya akan tinggal diam dan membiarkanmu tidur nyenyak?" Ucap Sasuke dan sudah sangat kesal di hadapan Naruto.
.
.
.
.
.
Naruto bangun dengan wajah kusut, Sasuke tidak bisa diam untuk sebentar saja, sepanjang malam Sasuke mengganggunya dan bahkan memperlihatkan wajah horornya dan membuat Naruto kaget sendiri jika membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya.
"Naruto? Kau sudah bangun?" Ucap Sakura, dia juga baru bangun dan menatap Naruto yang tengah duduk di sisi ranjang dan hanya melamun, tapi jika di lihat baik-baik, wajah Naruto sedang kesal menatap Sasuke yang melayang tepat berada di hadapannya.
"Hmm." Naruto hanya bergumam.
Naruto masih mengantuk, menatap malas ke arah Sasuke dan kembali berbaring.
"Heee? Kau tidur lagi?"
"Aku sangat ngantuk, Sakura, biarkan aku tidur sebentar." Ucap Naruto, dia tidak peduli jika Sakura memaksanya bangun, dia butuh tidur sebelum bekerja.
Merasa seperti sedang balas dendam, Sasuke memang bukan tipe menggerutu dan mengomel seperti Naruto, tapi tiap satu ucapan yang di keluarkan Sasuke, cukup membuat Naruto kesal dan mengumpat dalam hatinya berkali-kali, dia harus bersabar dan tetap santai, membuat seakan-akan tidak ada yang terjadi, Naruto harus melayani banyak pelanggan yang selalu saja menatapnya, terutama para wanita, Naruto lupa jika dia berada di dalam tubuh Sasuke. Para pelanggan itu akan selalu datang untuk sekedar di layani Sasuke.
Beberapa jam berlalu dan pekerjaan berakhir. Naruto sudah sangat lelah, lelah perasaan yang selalu saja dapat ucapan menusuk dari Sasuke dan lelah tubuh, dia harus membawa nampan, untung saja tubuh Sasuke sudah terbiasa dengan pekerjaan ini, hanya saja saat Naruto yang menggunakan tubuh Sasuke, dia akan sedikit kesulitan. Ucapannya saat mengomel pada Sasuke yang menjatuhkan gelas dan menu pesanan menjadi senjata balik padanya, dia sudah memecahkan gelas bahkan piring. Seperti sebuah karma, Sasuke akan menahan tawanya saat melihat kesalahan Naruto.
Kadang jika bosan mengganggu Naruto, Sasuke akan mengabaikannya dan sibuk memperhatikan Sakura yang ada di dapur. terkadang Sakura akan terlihat melamun saat Sasuke menatapnya. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu dan selalu saja menghela napas. Seakan-akan merasa jenuh, Sasuke hanya bisa memperhatikannya, dia akan selalu ingat, berbicara di hadapan Sakura tidak ada gunanya, dia tidak akan di dengar Sakura.
.
.
.
.
.
Sebulan berlalu.
"Bagaimana?" Tanya Itachi.
"Aku sudah menemukannya." Ucap Jugo.
"Anak itu, kenapa harus meninggalkan rumah dan tidak kembali." Ucap Itachi.
Sudah sebulan Sasuke tidak pulang tanpa ada pemberitahuan apapun. Itachi merasa ada yang aneh pada adiknya itu, membuatnya cukup sakit kepala untuk mencarinya, Sasuke bagaikan sebuah jarum yang di cari dalam tumpukan jerami, Jugo cukup sulit mencarinya, padahal tempatnya cukup dekat dengan rumah mereka. Tanpa sengaja Jugo melihat Sasuke bekerja di cafe yang pernah mereka datangi, Jugo menjelaskan mungkin motif dari kepergian Sasuke demi wanita pemilik cafe itu, Itachi tidak marah jika hal ini menyangkut seorang wanita, apalagi jika wanita itu adalah orang yang di cintai Sasuke, hanya saja cara Sasuke ini salah, menghilang dari keluarganya dan tidak mengatakan apapun pada Itachi.
Merebah diri di sofa dan memijat pelan pelipisnya, Itachi bingung harus berbuat apa, memaksa Sasuke pulang, tapi itu tidak baik untuk di lihat orang, Sasuke akan terkesan seperti anak kecil ingusan yang di paksa pulang karena terlalu lama bermain. Mereka adalah keluarga terhormat, akan menjadi aib jika Itachi melakukan hal konyol itu. Meminta dia pulang secara baik-baik, tapi bagaimana jika dia menolak. Menghela napas panjang, kemungkinan Itachi hanya akan berbicara dengannya. Dia butuh penjelasan tentang sikap adiknya itu.
Jugo dan Itachi bersiap-siap untuk mendatangi cafe Sakura. Menaiki sebuah mobil sedan. Tidak menunggu lama, mereka sudah tiba, meskipun tulisan 'close' pada cafe itu sudah terpampang, Itachi dan Jugo tetap masuk, menatap sekeliling ruangan cafe dan mendapati Sasuke yang tengah mengatur meja, dia berhenti melakukan kegiatannya dan menatap Itachi dengan tatapan yang sangat terkejut. Naruto terdiam dan terpaku, menunggu Itachi berjalan dan menghampirinya.
"Aku ingin bicara." Ucap Itachi.
Naruto hanya pasrah dan mempersilahkan Itachi untuk duduk di salah satu kursi. Sasuke yang melihat kakaknya datang, melayang ke arah Naruto dan tepat berada di sampingnya. Sakura masih sibuk di dapur dan tidak sadar jika mereka tengah berbicara di luar.
"Aku harap kau menjelaskan semua ini." Itachi tidak ingin basa-basi.
Naruto melirik ke arah Sasuke dan di tatap cuek olehnya, Sasuke tidak ingin ikut campur, semua ini kesalahan Naruto yang tidak ingin pulang ke rumahnya.
"Aku minta maaf untuk hal ini. Aku, uhm... aku hanya tidak bisa membiarkannya tinggal sendirian, aku harap Aniki mengerti." Ucap Naruto, berusaha membuat dirinya terkesan seperti Sasuke.
"Setidaknya kau bisa mengabariku tentang hal ini, aku pikir ini bukan masalah yang buruk, aku hanya tidak senang saat kau tidak pulang dan tidak mengabari apapun padaku."
"Jadi? Apa aku boleh tinggal di sini?" Ucap Naruto.
"Informasi yang ku dapat, wanita ini sudah memiliki suami, sayangnya suaminya meninggalkan saat kecelakaan dan dia-"
"Cukup!"
"Ada apa?"
"Aku sudah mengetahui semuanya, kau tidak perlu mengatakannya lagi." Ucap Naruto, wajahnya terlihat tidak senang saat Itachi menceritakan masa lalunya bersama Sakura. Sasuke terdiam, mungkin jika di posisinya sendiri, dia akan menghentikan Itachi untuk mengucapkan hal itu.
"Uhm. Jadi kau akan tetap bersamanya?" Tanya Itachi.
"Sampai kapan pun aku akan tetap bersamanya!" Tegas Sasuke.
Naruto terkejut. Sasuke yang yang mengucapkan hal itu. Dia belum sempat mengucapkan apa-apa, melirik ke arah Sasuke dan dia terlihat sangat marah. Naruto berpikir jika Sasuke sama sepertinya, tidak bisa menerima pernyataan Itachi.
"Aku akan tetap bersamanya." Ucap Naruto.
Menghela napas sejenak "Aku harap kau akan kembali ke rumah, bersamanya, aku ingin kau mengenalkannya juga padaku." Ucap Itachi. Pamit dan bergegas pergi. Itachi tahu sikap Sasuke sangat keras kepala, dia akan membiarkan Sasuke sampai dia sendiri yang akan pulang.
Sakura baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan berjalan keluar dapur, menatap ke arah pintu cafe dan dia melihat dua orang pria yang baru saja keluar, menatap ke arah Naruto yang terlihat seperti duduk termenung
"Siapa tadi?" Ucap Sakura, menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Naruto.
"Hanya pelanggan yang telat datang, aku sudah katakan kalau kami sudah tutup. Jadi mereka pulang." Ucap Naruto.
"Kenapa kau berbohong padanya?" Ucap Sasuke. Naruto terdiam "Aku pikir kau akan menjauhkan ku darinya, kau sudah mengetahui kehidupanku yang sebenarnya." Lanjut Sasuke, dia masih melayang tepat berada di sebelah Naruto.
"Ada apa, Naruto?" Tegur Sakura, mendapati Naruto tengah melamun.
"Jika aku pergi sekarang. Apa kau mau ikut bersamaku?" Ucap Naruto, tatapannya terlihat serius.
"Pergi? kemana?"
"Meninggalkan dunia ini." Ucap Naruto dan berdiri "Jika aku mengembalikan tubuh Sasuke, mungkin... aku tidak akan ada di dunia ini lagi, apa kau mau ikut bersamaku?"
"Sial! Sakura jangan dengarkan ucapannya!" Ucap Sasuke, dia tidak ingin Sakura menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk kembali bersama Naruto.
Ucapan Naruto cukup membuat Sakura dan Sasuke terkejut. Di sisi Sakura, dia tidak ingin Naruto pergi dan sisi Sasuke, dia tindak ingin Sakura mengikuti ucapan Naruto.
"Jangan pergi." Ucap Sakura, entah mengapa hal ini membuatnya sangat sedih, air matanya menuruni pipinya begitu saja, tubuhnya sudah memeluk Naruto.
Sasuke terkejut mendengar ucapan Sakura, dia tidak menginginkan Naruto pergi, bagaimana dengan dirinya? Dia sudah sangat jatuh hati pada Sakura yang masih di bayang-bayangi Naruto.
"Sakura." Ucap Naruto lembut.
"Aku tahu ini sangat egois, tapi, aku hanya ingin bersamamu lebih lama lagi. Hiks."
"Jadi, kau ingin pergi bersamaku?" Tanya Naruto. Sakura terdiam, dan detik berikutnya, dia mengangguk.
"Sakura! Kau tidak boleh pergi bersamanya! Ini salah!" Teriak Sasuke, meskipun Sakura tidak mendengarnya, dia hanya ingin meyakinkan Sakura.
Sakura melepaskan pelukannya dari Naruto, entah dari mana, sebuah pisau yang sangat tajam sedang di pegang Sakura, memberinya pada Naruto dan kembali memeluknya, Membuat tangan Naruto yang tengah memegang pisau itu tepat mengarah pada punggung Sakura yang jika di tusukkan dari belakang akan menembus jantungnya.
"Lakukan saja, aku sudah tidak peduli lagi untuk hidup." Ucap Sakura, tubuhnya sudah memeluk erat Naruto, sedang pisau itu di arahkan Naruto tepat ke arah Sakura.
"Naruto! jangan lakukan ini! kau tahu aku sangat mencintainya, apa kau pikir dengan hal seperti ini dia akan tetap bahagia, bukannya kau ingin dia tetap hidup." Ucap Sasuke, dia sendiri mulai panik melihat keadaan ini. Ucapan Naruto cukup di anggap serius oleh Sakura.
Naruto hanya terdiam dan tidak melakukan apapun. Pisau itu masih belum bergerak sama sekali.
"Aku bisa membahagiakannya, beri aku kesempatan untuk membuatnya bahagia kembali." Ucap Sasuke.
"Apa kau bisa meninggalkan Sasuke?" Ucap Naruto.
Mendengar nama Sasuke, cukup membuat Sakura terkejut, memori bersamanya terulang kembali dalam ingatan Sakura.
Sasuke?
Kembali nama itu terucap dalam hati Sakura. Mengangkat wajahnya dan melihat wajah orang yang di peluknya. Mata onyx itu, wajah serius itu, tatapan yang sungguh kelam. Serasa kekosongan menyelimuti hatinya. Dia di ambang kebingungan, di satu sisi lain Sakura sangat menghargai Naruto sebagai suaminya, di satu sisi dia sangat merindukan Sasuke. Memeluk kembali tubuh itu, dia sangat membutuhkan Sasuke saat ini.
"Maafkan aku, hiks." Sakura menangis, dia sudah tidak sanggup mengucapkan apapun pada Naruto.
Pisau yang di pegang Naruto di jatuhkan begitu saja, Naruto membalas pelukan Sakura.
"Aku juga minta maaf sudah egois padamu, aku harap kau bahagia bersamanya." Ucap Naruto.
"Naruto!" Teriak Sakura dan menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuh Sasuke dengan sangat erat, seakan-akan takut kehilangannya.
Arwah Naruto keluar dari tubuh Sasuke, melirik sejenak ke arah Sakura yang sepertinya berusaha menahan tubuh Sasuke dengan susah payah agar tidak jatuh begitu saja, dengan perlahan Sakura mendudukkan tubuh Sasuke di kursi. Dia masih menahannya agar tidak jatuh ke lantai, air matanya masih mengalir menatap tubuh Sasuke yang masih juga belum bergerak, Naruto sudah meninggalkan tubuh Sasuke.
Sasuke membuka matanya perlahan, merasa kepalanya sedang bersandar pada perut seseorang, Sakura masih menahan tubuh Sasuke.
"Sasuke! Sasuke!" Panggil Sakura, berharap dia segera sadar.
Sasuke melebarkan tatapannya dan mengangkat wajahnya, Wanita yang ada di hadapannya sedang menangis, membuatnya tidak senang, menjulurkan kedua tangannya dan menghapus air mata itu dari wajah Sakura.
"Maaf bos, aku terlambat untuk bekerja." Ucap Sasuke.
"Kau boleh memukulku, aku sudah sangat egois untuk menahan Naruto agar tidak pergi." Sakura kembali menangis.
Sasuke tidak ingin mendengar apa-apa tentang Naruto, menarik pelan Sakura dalam dekapannya dan memeluknya erat.
"Ijinkan aku untuk menggantikannya." Ucap Sasuke.
Sakura terdiam. "Maafkan aku." Sakura menangis lagi. Pilihannya untuk pergi bersama Naruto benar-benar salah. Keegoisannya menuntunnya untuk menjauh dari seseorang yang sudah sangat mencintainya. Dia seharusnya bersyukur, Sasuke masih ada untuknya, tidak kebanyakan pria akan seperti Sasuke. Dia bahkan masih menunggu jawaban Sakura. "Maaf, maaf, maaf," Hanya ucapan itu yang akan keluar dari mulutnya, dia sungguh merasa bersalah.
"Aku harap tidak ada kata 'maaf' lagi dari mu, aku tahu ini semua bukan sepenuhnya salahmu." Ucap Sasuke, berusaha untuk menenangkan Sakura. Kembali pada tubuhnya saja sudah membuatnya sangat legah.
Naruto masih melayang dan menatap mereka yang masih berpelukan, Naruto membuang mukanya, dia harus berusaha membiarkan Sakura bersama orang lain. Menurutnya Sasuke tidak buruk juga, dia merasa Sasuke adalah orang yang tepat untuk menggantikan dirinya. Meskipun sedikit tidak rela istrinya akan bersama orang lain, Naruto mengepalkan tangannya dengan sangat keras. Menghela napas dan terdiam, tidak ada hal yang ingin di katakan Naruto lagi.
Sakura mulai berhenti menangis dan merasa cukup malu untuk memperlihatkan wajahnya yang sudah sangat basah di hadapan Sasuke, menarik tubuhnya perlahan menjauh dari Sasuke dan segera berbalik membelakangi Sasuke, dia tidak ingin Sasuke melihat wajahnya sekarang.
"Terima kasih, kau sudah membuatkan bertemu kembali dengan Naruto. Aku tidak akan lupa kebaikanmu." Ucap Sakura dengan posisi yang masih sama. Dia butuh sesuatu untuk melap wajahnya dan cukup jauh dari jangkauannya.
"Uhm, tidak masalah. Hanya saja." Sasuke menggantungkan ucapannya.
"Hanya saja. Apa?"
"Aku masih menunggu sebuah jawaban darimu."
Sakura terdiam, dia lupa untuk menjawab pernyataan suka Sasuke padanya. Tatapannya sedikit gelisah menatap ke sana kemari, dia bingung harus menjawab apa.
"Aku ijinkan kau bersamanya. Kau berhak untuk bahagia kembali Sakura, aku ingin kau selalu tersenyum seperti dulu lagi." Ucap Naruto dan melayang tepat di hadapan Sakura.
Sasuke tidak ingin mengatakan apa yang di ucapkan Naruto, dia ingin Sakura sendiri yang memutuskannya. Dia masih berharap lebih untuk jawaban Sakura.
"Beri aku waktu seminggu lagi, bisa?" Ucap Sakura, dia sendiri sedikit ragu dengan ucapannya ini. Dia masih tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan setelah Naruto benar-benar pergi dan Sasuke akan menggantikan Naruto selamanya
Sasuke melangkah ke depan dan tepat berada di belakang Sakura, kedua tangannya melingkar pada kedua bahu Sakura dan memeluknya.
"Aku akan memberi waktu sebanyak apapun yang kau mau dan aku hanya perlu menunggumu untuk menjawab." Ucap Sasuke, dia sudah tidak tahan untuk merangkul Sakura, dia sangat merindukan tubuh mungil itu untuk di sentuhnya.
Rona merah mulai menghiasi wajah Sakura, jantungnya berdetak lebih cepat, dia sangat malu mendengar ucapan Sasuke, malu dan sangat senang, Sasuke adalah tipe pria yang sangat pengertian.
"Cih, dasar gombal. Jangan besar kepala, aku mengijinkanmu untuk menjaganya, kau harus bisa menjaganya dengan baik, dengar itu." Ucap Naruto.
Sasuke melirik ke arah Naruto dan mengangguk pelan, meskipun tatapan Naruto terlihat tidak senang.
.
.
"Apa kau bohong tentang tidak bisa mengembalikan tubuhku." Ucap Sasuke dan menatap tajam ke arah Naruto.
"A-apa maksudmu, aku benar-benar tidak tahu cara mengembalikannya." Ucap Naruto, dia tidak suka jika Sasuke menatapnya seperti itu, seperti ingin membunuhnya.
"Lalu, kenapa tiba-tiba kau bisa mengembalikannya!" Sasuke cukup kesal, sangat lama dia menunggu untuk kembali dan dia harus selalu melihat Naruto menggunakan tubuhnya dengan seenaknya.
"Aku tidak tahu, sungguh, itu terjadi begitu saja, sama seperti tiba-tiba aku masuk ke dalam tubuhmu. Aku juga tidak mengerti."
Sasuke terdiam dan menutup matanya, berdebat dengan Naruto hanya membuatnya sakit kepala, Sakura sudah berada di dalam rumahnya dan saat ini Sasuke dan Naruto tengah berdiri di depan cafe yang sudah tutup, sebelumnya Sasuke melirik ke sana kemari, dia tidak ingin terlihat seperti orang gila berbicara sendirian karena meminta penjelasan pada Naruto tentang tubuhnya.
"Ya sudah, aku mau pulang saja." Ucap Sasuke dan bergegas pergi.
"Iya, pulang saja sana, mengganggu orang saja." Ceplos Naruto dan mendapat tatapan Sasuke yang membuatnya merinding sendiri. "Ma-maaf"
.
Di mulai dari Sasuke yang berbicara jujur pada Sakura tentang kehidupannya yang sebenarnya, awalnya Sakura sangat marah, tapi setelah mendengar penjelasan Sasuke dengan baik, akhirnya Sakura memaafkan Sasuke. Sakura tahu, Sasuke hanya takut untuk berkata jujur, mungkin ini jauh lebih baik. Beberapa pria akan memamerkan kekayaannya untuk menggait seorang wanita, beda halnya dengan Sasuke yang memilih membuang semua kekayaan demi mendekati seorang wanita. Sakura merasa tersanjung dengan usaha Sasuke, dia tidak menyangka Sasuke akan menjatuhkan jabatannya dari seorang ketua direktur menjadi seorang pelayan, ini memang gila, tapi tidak untuk Sasuke, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan wanita yang sudah di taksirnya saat pertama kali melihatnya.
.
.
.
.
.
Tiga minggu berlalu.
"Mau pesan apa?" Ucap Sasuke dengan wajahnya seperti biasa, dingin dan terkesan cuek. Dia tidak ingin terlihat memaksakan senyumnya.
"O-omerice dan lemon tea." Ucap gadis itu, tatapanya hanya sejenak menatap buku menu dan kembali fokus menatap Sasuke yang tengah mencatat pesanannya.
"Mohon tunggu sebentar." Ucap Sasuke dan berlalu ke meja lain.
Gadis itu hanya memegang kedua pipinya dan wajahnya merona menatap pria yang bekerja sebagai pelayan itu. Sasuke sudah berpindah meja dan mulai mencatat pesanan lain, setelahnya dia akan segera membawa catatannya ke meja pesanan dan memanggil Sakura.
Cafe hari ini sangat sibuk dan cukup menguras tenaga Sakura dan Sasuke. jam sudah menunjukkan waktu untuk tutup, Sasuke mulai melap meja dan menata kursi. Sakura membaringkan kepalanya di meja. Punggungnya sedikit sakit sejak kemarin dan membuatnya susah untuk berdiri terlalu lama.
"Apa masih sakit?" Ucap Sasuke, berjalan menghampiri Sakura yang hanya mengangguk pelan. "Sebaiknya kau beristirahat untuk beberapa hari sampai punggungmu sembuh, jangan lupa besok sore kita akan ke dokter lagi." Lanjut Sasuke dan mengusap-ngusap pelan punggung Sakura.
"Apa ke dokter bisa di tunda dulu." Ucap Sakura dan mengangkat wajahnya menatap Sasuke.
"Hn? kenapa?"
"Aku belum menyiapkan apapun untuk pernikahan kita."
"Tidak perlu, kau hanya akan duduk santai di rumah, tenanglah semua akan ku urus." Ucap Sasuke.
"Apa kau lupa, kak Itachi menyuruhmu kembali menjalankan perusahaan."
"Nanti saja, aku hanya ingin membantumu terlebih dahulu."
"Terima kas-"
"Tidak, tidak, aku tidak ingin mendengar ucapan 'terima kasih'mu, kita bukan hanya sekedar pelayan dan bos. Tapi, calon pengantin pria dan wanita." Ucap Sasuke dan tersenyum tipis di hadapan Sakura. Wanita yang ada di hadapanya itu tersenyum malu setelah mendengarnya.
Setelah kejadian Naruto mengembalikan tubuh Sasuke, si pemilik tubuh memberikan waktu sesuai yang di ingin Sakura. Mereka kembali bekerja sama seperti semula dan Sasuke akan pulang ke rumah, gara-gara Naruto, dia harus tinggal di rumah Sakura dan membuat kakaknya cukup khawatir dengan Sasuke yang tidak pulang-pulang. Melihat Sasuke pulang, Itachi menjadi sangat senang dan berharap jika dia juga akan pulang bersama wanita yang selalu bersamanya sekarang. Berselang dua minggu, Sakura mulai berani membalas pernyataan Sasuke, iya, sejak pernyataan Sasuke setelah mereka pulang dari kedai ramen, Sakura mulai berpikir untuk kedepannya tentang orang lain yang akan menggantikan posisi Naruto. Dia hanya merasa tidak enak pada keluarga Naruto dan dia juga sangat menghargai Naruto sebagai suaminya meskipun mereka berpisah, kenangan bersama yang akan diingatnya kembali. Sakura menjadi bimbang dan saat Naruto muncul di dalam tubuh Sasuke, dia semakin meragukan perasaannya ke Sasuke. Sebelumnya, Sakura pernah bercerita pada ibunya dan meminta pendapat, Mebuki memberinya saran untuk berbicara baik-baik pada Kushina, bersyukur wanita berambut merah panjang itu sangat bijak dan pengertian. Dia mengijinkan Sakura untuk memiliki pria lain. Kushina kadang merasa kasihan pada Sakura yang terus-terusan hidup sendirian dan hanya memikirkan masa lalunya.
Berakhir pada Sasuke yang ingin menikahi Sakura. Dia sudah menunggu waktu ini, waktu yang tepat untuk menjadikan Sakura seseorang yang akan selalu bersamanya selamanya. Itachi setuju jika Sasuke akan menikahi Sakura, dia juga menunggu hal ini, adiknya akan bersama wanita yang di idamkannya, Itachi tidak perlu repot-repot lagi untuk mencarikan wanita lain, namun hal yang membuat Itachi marah adalah Sasuke yang berbohong padanya, perusahaan sedang di pegang Jugo dan dia kabur begitu saja, padahal Itachi ingin Sasuke berbicara jujur padanya, Itachi memberi syarat jika dia ingin bersama Sakura, dia harus kembali ke perusahaannya, awalnya Sasuke menolak, tapi akhirnya dia memilih untuk kembali bekerja dengan memberi ide lain pada Sakura.
"Aku harap cafe ini akan kau alihkan pada seseorang." Ucap Sasuke.
"Alihkan? Tapi aku ingin tetap bekerja."
"Yaa, kau tetap bisa menjadi bos dan memantau cafemu."
"Jadi apa aku harus mencari pegawai baru lagi?"
"Uhm, tentu, jika kau sudah menjadi nyonya Uchiha, kau harus tinggal bersamaku."
"Kalau seperti itu, kita batal saja, aku akan tetap bekerja." Ucap Sakura dan mencoba untuk menahan tawanya, sedikit mengganggu Sasuke cukup membuatnya terhibur.
"Apa? Tidak-tidak-tidak, kau akan tetap menjadi nyonya Uchiha." Tegas Sasuke. "Dan jangan merusaknya." Ucapnya lagi dan mencium kening Sakura.
Sakura tertawa melihat ekspresi Sasuke, dia sangat serius untuk menikahinya dan tidak ingin terjadi hal buruk dalam rencananya ini. Tawa itu hilang, Sakura memperhatikan seluruh cafe dan menghela napas, mungkin sudah saatnya seseorang akan menggantikannya di cafe, yang di katakan Sasuke itu benar, dia harus mengikuti Sasuke jika mereka sudah menikah. Cafe ini sudah memberi banyak kenangan untuk Sakura. Naruto dan dirinya yang membangun cafe ini, tapi pada akhirnya hanya Sakura yang menjalankannya, sendirian.
"Hei, jangan melamun." Tegur Sasuke.
"Ma-maaf."
"Ingat, pokoknya kita harus ke dokter."
"Iya-iya, kau ini sungguh cerewet untuk masalah ini."
"Tentu saja, kau harus di ingatkan berkali-kali. aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu." Ucap Sasuke dan tatapannya seakan takut jika hal buruk menimpa Sakura.
"Tenanglah, aku hanya sakit punggung, ini kadang terjadi, jadi-"
sebuah ciuman mendarat ke bibir Sakura, Sasuke tidak ingin mendengar ucapan santai Sakura tentang sakitnya, melihat Sakura yang kesakitan membuat Sasuke tidak tenang dan akan selalu khawatir, ciuman itu cukup lama hingga memperdalam ciuman mereka, Sasuke mencium Sakura dengan hati-hati dan tidak ingin menyakiti Sakura. Melepaskan ciuman mereka sejenak dan Sasuke mengangkat Sakura untuk duduk di pangkuannya, menatap wajah wanitanya itu lebih dekat.
"Apa kau tahu, aku sangat menjaga wanita yang ku cintai."
"Ap-apaan sih, Sasuke, nanti ada yang melihat kita." Ucap Sakura dia sudah sangat malu dengan duduk di atas pangkuan Sasuke dan berhadapan dengannya.
"Tidak ada yang melihat." Ucap Sasuke dan memeluk Sakura, mengusap kembali punggung wanitanya, berharap sakitnya akan segera hilang. Sakura merasa nyaman dan membalas pelukan Sasuke, menutup matanya dan menyembunyikan wajahnya pada perpotongan leher Sasuke. Dia membutuhkan waktu seperti ini, bersantai dan di jaga oleh Sasuke. Sakura sangat bersyukur, dia menemukan orang yang tepat dirinya, dia juga sangat mencintai Sasuke.
"Aku sangat mencintaimu." Ucap Sakura pelan, sangat pelan, hampir setengah berbisik
Sasuke masih bisa mendengarnya dan tersenyum, mencium bahu Sakura dan tetap mengusap punggungnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
4 tahun kemudian.
"Sarada hati-hati kalau berlarian." Teriak Sakura.
"Iya bu." Ucap Sarada, gadis kecil itu sangat suka sekali menjelajahi rumah dua lantai itu, meskipun tidak ada yang spesial, dia sangat suka di sana.
Hari ini Sakura mengajak Sarada kembali ke rumah dulunya yang berada di samping cafe. Rumah ini masih terawat, Sakura meminta pada Sasuke untuk mempekerjakan seseorang untuk selalu merawat rumahnya. Meskipun sekarang Sakura tinggal bersama Sasuke, setiap hari sabtu-minggu, Sakura akan kembali ke rumah itu bersama Sasuke, tapi hari ini tidak, Sasuke sedang keluar kota untuk menjalankan bisnis dan hanya Sarada yang akan menemaninya. Sakura tengah sibuk memasak makan siang. Cafenya masih berjalan dan cukup sukses, Sakura berhasil menemukan seseorang yang sangat cocok untuk menjadi koki. Seseorang yang sudah sangat menyukai masakan Sakura dan sangat hapal dengan ciri khas dari masakan Sakura.
"Permisi." Ucap seseorang dari pintu.
Sakura mematikan kompornya dan bergegas keluar. Berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Aku pikir kau akan pergi liburan." Ucap Sakura.
"Ah, tidak-tidak, aku malas, aku ingin makan sepuasnya dan tidur sepuasnya." Ucap Rin.
Sakura tersenyum menatap gadis itu, dia sudah menyelesaikan kuliahnya tapi malah tidak mencari pekerjaan lain, setelah Rin mendapat kabar cafe ini akan mencari koki baru, Rin bergegas untuk mendaftarkan diri, dia sudah berjanji akan kembali ke cafe ini.
"Baiklah, sesuai keinginanmu koki." Ucap Sakura.
"Hahaha, aku tidak sebaik dirimu. Eh, dimana Sarada?"
"Seperti biasa, dia tidak bisa diam di sini, dia akan berlari ke sana kemari dan memainkan apapun yang di dapatnya di ruangan. Jika di rumah, dia akan selalu di awasi para pelayan dan membuatnya tidak senang jika harus di jaga setiap hari dan di larang."
"Yaah, maklumlah di seusianya, dia pasti sangat ingin bermain bebas."
"Bibi Rin...!" Teriak gadis itu dari jauh. Di berlari cukup cepat dan memeluk Rin.
"Hallo Sarada, akhirnya kita ketemu lagi."
"Ayo kita bermain." Ucap Sarada, tidak sabaran dan menarik-narik lengan Rin.
"Baik-baik. Aku menyimpan tas dulu."
Sakura tersenyum melihat tingkah gadis kecilnya itu, dia sudah sangat akrab dengan Rin. Mereka masuk ke dalam, Sakura kembali sibuk memasak dan Sarada mengajak Rin bermain di ruang tamu.
"Eh, tunggu, aku ambil boneka ku dulu." Ucap Sarada dan berlari ke lantai dua.
Dia lupa menaruhnya dimana dan cukup lama mencari-carinya. Wajahnya mulai cemberut dia tidak suka jika tidak menemukan benda yang di carinya.
"Boneka itu ada di dalam lemari. Kau menyimpannya minggu lalu di sana." Ucap sebuah suara.
Sarada menoleh dan mendapati pria berambut blonde dan matanya sebiru langit. Dia tersenyum dan menunjuk lemari yang di maksudnya. Sarada masih menatapnya, sedikit bingung dengan paman itu yang tidak menyentuh lantai. Dia melayang-layang dan masih tetap tersenyum di hadapannya.
"Ada apa? Ambil lah."
Sarada berjalan menuju lemari dan membukanya. Di sana ada banyak boneka dan membuatnya terlihat senang.
"Apa boneka ku sebanyak ini?" Ucap Sarada.
"Tentu, pilihlah yang kau suka."
Sarada tersenyum dan memilih dua dari boneka yang ada tertumpuk di sana.
"Terima kasih paman!" Ucap Sarada dan berlari ke luar.
"Yoo, sama-sama." Ucap Naruto dan melambaikan tangannya.
Belum sempat Sarada menggapai tangga turun, dia kembali berlari ke dalam ruangan itu. Kosong, Sarada tidak menemukan siapapun di sana. Berpikir jika itu hanya ilusinya. Masih penasaran, dia kembali membuka lemari itu dan kosong, tidak ada boneka bertumpuk di sana lagi, tapi boneka yang di pegangnya masih ada. Dia kebingungan, kejadian ini belum bisa di pahaminya dengan baik, tidak ingin membuat Rin menunggu, Sarada kembali berlari dengan memeluk dua boneka yang sudah di pilihnya sendiri.
Hadiah kecil untukmu, Sarada...
Aku bahagia bisa melihatmu, Sakura kecil...
...
...
.
.
TAMAT
.
.
halooo...~ apa kabar? semoga kabar baik...
maafkan author jika amat sangat lama meninggalkan fic ini, why? sibuk cyiiiiiingg...~~~ banyak pekerjaan dan nggak ada waktu untuk menyelesaikan fic ini, maaf yoo, maklum lah. padahal beberapa hari yang lalu pengen di update pas ultahnya si abang Sasu, tapi nggak sempat, cuma bisa ucapan lewat page aja, =_=
oh iya, ini chapter terakhir yoo, udah tamat, sequel jangn harap, ngga ada sequel-sequel, author bilang gini biar nggak ada yang berharap lagi, Hahahhahaha... :D
akhirnya kelar..., aduh kangen dapat review nanti lagi, semoga punya ide untuk buat fic lagi...
~balas Review~
zarachan : maaf baru update.
Shuu-kun : nggak bakalan, ngapain membuat naru dan saku bahagia, hohohoho, author kan pairing sasu-saku..., nggak fantasy kok, eh sudah tamat yaa, heheh,
Tia : Hahahah, mungkin udah karatan lagi yaa nunggu saking lamanya update chapter ini, buahahahaha..., sorry XD
Niayuki : *puk-puk* yang sabar yaaa, Sasuke sudah kembali lagi
Aikaa-chan : sudah update yoo..., semoga chapter ini tidak bikin sedih lagi XD
purcchn : hahaha, pertanyaannya udah di jawab di chapter ini yaaa...
Kirara967 : syukurlah, tubuh Sasu baik-baik saja meskipun seenaknya di gunakan, hahahaha
embun(adja1) : ke hatinya author, auuoohh...~ *plakk update yoo
Han-chan : makasih sudah di review yaaa..., sebenarnya author merasa sedikit lucu dan sedikit jahil untuk merusak chara Sasu, hahahah author nikmatin nistain abang sasu, pfff tapi hanya sementara aja kok.
Hari : sudah update yaa
banyu biru : haloo..., terima kasih sudah review meskipun author sendiri bingung maksud reviewnya ini apa? teguran, kritikan atau ancaman, atau sekilas info. hahaha, tenang saja kok, ini emang sasu-saku dan juga author tidak tahu blog naru-saku itu berada entah dimana, jadi tenang aja, nggk bakalan di up di tempat yang author sendiri tidak tahu pfffffffffff XD
ucihana rin : udah di jawab di chapter ini yoo
sitieneng4 : sasu di sembunyiin di lemari author, hahahhahaa, reviewnya udah di jawab di chapter ini yaaa
Shinju Hyuuga : iya tuh Naru, ayo, move on... move on...! heheh
Mustika447 : hahahah, sudah update yaaa
Namikaze304 : aduuh, author terharu ada yang merasakan feelnya di akhir-akhir kalimat, eheheh
Nurulita as Lita-san : makasih, sudah update yaa
Ge : Next...~
Rizumu no Sakura : makasih atas reviewnya hehehe, sudah update yaaa...
okeeeeyy...~ udah semuanya..., terima kasih atas semua review dari chapter awal hingga chapter akhir..., makasih makasih..., see you next fic author lagi yaaa...
~ Sasuke_Fans ~
