Loving You

Author :

Anisaaa

Rate :

T++

Categori :

Yaoi/BL, family, lil angst, drama,

Cast :

- Lee Sungmin

- Cho Kyuhyun

- Other cast

Warning:

Don't like don't read. Ini udah kayak sinetron Indonesia muter-muter ngalor ngidul, cumin kurang cerita manusia kekuatan super atau manusia setengah hewan aja -_- siap-siap bosen ajalah. Dahituaja.


.

-oo0oo-

.


Sepuluh detik yang jahat.

Ryeowook seharusnya tidak menerima panggilan itu, apalagi menyahut dengan nada ceria juga manja. Tiga detik awal yang hening di seberang, laki-laki itu tidak pernah tahu kalau tujuh detik setelah itu dunia merah muda miliknya akan runtuh seketika. Terlahap habis oleh satu kata kejam yang tak sekalipun terkira jika kata-kata itu akan keluar dari bibir pria yang beberapa tahun ini bersamanya, di dunia merah muda yang seperti tidak ada hari esok untuk lebih bahagia dari itu.

"Kita… putus saja, ya?"

Bodoh. Nadanya memang meminta, tetapi memang apalagi yang bisa Ryeowook lakukan setelah mengecap pahit dari ucapannya. Benar-benar jahat. Sepuluh detik itu telah merenggut setidaknya separuh kebahagiaan milik Ryeowook.

.

.

EnJOY~

.

.

Benar-benar tidak ada yang bisa untuk dilakukan selain memandang ujung kakinya yang dibalut kauskaki abu-abu dan pintu kamar sahabatnya bergantian. Kejadian pahit itu telah berlalu kurang lebih dua hari, tetapi 48 jam yang sia-sia. Tak ada satupun yang bisa mengembalikan senyuman sahabatnya, bahkan Sang Idola yang langsung datang sehari setelah tragedi dengan yang Eunhyuk memohon bantuan pada kembarannya.

"Kau harus pulang" Eunhyuk berseru pelan

Sungmin mendongak, menatap sebentar wajah pucat laki-laki di depannya, tersenyum kecil dan menggeleng. Ia jelas satu juta kali lebih memilih diam tergugu di depan pintu kamar Ryeowook daripada berada di rumah. Jelas saja, baginya pulang berarti menguak masalah lain yang sengaja ia sembunyikan rapat-rapat selama beberapa hari belakangan. Ryeowook dan suaminya, sama saja. Untuk saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan untuk kedua masalah itu. Pelik urusannya.

"Kyuhyun pasti khawatir. Kau harus segera pulang" Eunhyuk kembali membujuk meskipun laki-laki di depannya masih setia duduk termangu dengan tatapan kosong dan wajah lelah yang menyedihkan.

Sungmin menggeleng lagi, membuat Eunhyuk hanya bisa menghela napas pasrah. Bukan ia tidak tahu, bukan sama sekali. Ia hanya berusaha memaklumi sahabatnya yang jelas sedang bingung sekaligus terbebani dengan dua masalah yang datang di waktu yang nyaris bersamaan. Eunhyuk hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat, berharap tidak melakukan kesalahan sekecil apapun yang dapat memperkeruh keadaan.

Eunhyuk jelas tidak bodoh untuk memahami apa yang terjadi pada hubungan sahabat-sahabatnya. Semuanya sudah tercetak jelas pada hal-hal ganjil yang tak sengaja ia dengar ataupun ia lihat secara langsung. Sejak awal hubungan Sungmin-Kyuhyun dan Ryeowook-Jongwoon memang sudah terlihat ganjil. Yang satu seperti terjebak di situasi yang dipaksakan, sedangkan yang satu lagi seperti menyimpan sebuah rahasia besar yang bahkan anjing pelacakpun tak mampu mencium jejaknya.

Rencana pertunangan bahkan pernikahan yang telah disusun rapi dan cantik oleh Ryeowook hancur berantakan, tertelan habis oleh sepuluh detik yang jahat dua hari lalu. Jika saja mereka mampu melihat dengan pandangan dan pikiran terbuka seperti Eunhyuk, hal ini jelas bukan salah Jongwoon. Sama sekali bukan salahnya. Lalu siapa? Entahlah, Eunhyuk juga tak mengerti. Namun yang pasti, bayangan itu nyata sekalipun Ryeowook mencoba menutup mata dan memanipulasi kenyataan yang dihadapinya selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Jongwoon.

Ah sudahlah, toh tragedi mengenaskan dan hari-hari yang di matanya penuh kepalsuan itu sudah berlalu, tidak mungkin terulang apalagi kembali lagi. Eunhyuk tidak bisa melakukan apa-apa selain bersabar menunggu Ryeowook keluar dari kamarnya, syukur-syukur mau diajak bicara.

Tentang pernikahan Sungmin dan Kyuhyun yang dari awal memang terasa janggal, masih banyak yang bisa dilakukan sebenarnya. Dimulai dengan saling berdamai dan berbicara satu sama lain dari hati ke hati. Namun untuk orang seperti Sungmin, akan sulit untuk melakukan keduanya. Sahabatnya yang satu itu adalah tipe orang dengan kepala yang penuh spekulasi. Ditambah lagi dengan perangai angkuhnya yang enggan memulai duluan, entah itu sekedar memulai bicara duluan apalagi soal meminta maaf.

Jujur saja, tidak satupun teman Sungmin mengerti dengan pernikahannya dengan Kyuhyun, Eunhyuk sekalipun. Kabar itu tiba-tiba saja datang, seperti peluru yang melesat ke udara lalu mengoyak sasarannya. Tidak ada yang pernah mengerti dengan jalan pikiran kedua orang tua Sungmin, bahkan Sungmin sendiri. Menghilangkan perangai kekanakan dengan jalan menikah tentu bukan cara yang tepat. Menurut Eunhyuk, itu sama saja mengeluarkan seseorang dari mulut buaya lalu memasukkannya ke dalam mulut harimau. Terlebih menyerahkan putranya pada Cho Kyuhyun? Siapa pulalah Cho Kyuhyun itu. Sahabatnya dan Kyuhyun hanya dua orang yang saling mengenal karena belajar di universitas yang sama. Sering bertemu pada acara-acara kampus, hanya saling mengetahui nama satu sama lain dan berbicara seperlunya. Lalu setelah Kyuhyun yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata lulus lebih dulu dari mereka, tidak ada satupun dari mereka yang menyebut namanya apalagi menanyakan kabarnya.

Lucunya, tiba-tiba pria itu muncul. Seperti kembali pada kehidupan mereka. Dengan balutan yang jelas bukan lagi gaya seorang mahasiswa melainkan pria kantoran dengan masa depan yang menjanjikan. Tanpa perlu dikatakan pun Eunhyuk sudah tahu bahwa sejak lama, pria itu menginginkan sahabatnya. Terlebih keadaan sudah berubah saat itu. Siapa yang akan menolak lamaran seorang seperti Cho Kyuhyun? Dan Entah bagaimana ceritanya, malam itu Sungmin berada dalam bar yang sama dengan Kyuhyun dalam kondisi yang jelas sangat menguntungkan bagi Kyuhyun. Ayah Sungmin? Jelas tidak ada yang perlu di khawatirkan, penampilan dan pembawaan dirinya yang baik karena berpengalaman dalam menangani klien-klien di kantor jelas sebuah tiket emas untuknya dalam mendapatkan Sungmin.

Lalu Sungmin bisa apa selain bisa menerima kenyataan yang mengejutkan untuknya? Ayahnya sudah jelas bukanlah lawannya dalam melakukan perdebatan ataupun negosiasi, hasilnya sudah sangat jelas. Ia akan kalah telak, bahkan sebelum lebih dari lima kata keluar dari bibirnya.

"Kau melamun" suara lirih Sungmin mengembalikan Eunhyuk ke kenyataan. Ia terkesiap, mengundang senyuman lemah di bibir sahabatnya. Senyuman pertama setelah dua hari yang terasa melelahkan. "Ponselmu bordering sejak tadi" lanjutnya.

Ah benar, sibuk berpikir hingga akhirnya malah terlempar ke lamunan masa lalu membuatnya tak sadar bahwa sudah sejak beberapa menit yang lalu ponselnya bergetar dan layarnya ikut berkedip rusuh dengan nama 'Donghae' di atasnya.

"Halo?"

"Sungmin bersamamu?" terdengar sahutan di seberang sana.

Eunhyuk merutuk dalam hati. Orang ini benar kekasihnya atau bukan sih gerutunya dalam hati. Berharap keadaannya yang menjadi awal percakapan, naas… kekasihnya malah mempertanyakan orang lain.

"Hyuk? Kau disana?"

Eunhyuk mendecak sebal. "Ck. Ya ya, dia di sini!"

"Lalu kau tidak memberitahuku?! Aku mencarinya kemana-mana selama hampir 40 jam, sayangku!" ucap Donghae dengan nada yang tak kalah sebal.

Eunhyuk mengerutkan keningnya. Sialan, orang ini minta dihajar rupanya. "Kau tidak tanya, pria sial!"

"…" Hening sejenak, Donghae sepertinya sadar bahwa ucapannya tak sengaja menyulut emosi kekasihnya. "Ah, maafkan aku. Kau tahu, aku hanya sedang lelah dan … yah kau tahu sendiri lah"

"Terserah!" balas Eunhyuk dengan nada tinggi, lalu buru-buru memutus sambungan panggilan kekasihnya.

"Kenapa?" tanya Sungmin yang bingung melihat sahabatnya yang malah berusungut-sungut kesal setelah menjawab panggilan yang ia tahu kalau itu dari Donghae, kekasihnya.

"Si bodoh itu mencarimu! Ah ini pasti suruhan Kyuhyun. Sialan! Seharusnya Donghae punya kantor sendiri saja, tidak perlu bekerja menjadi bawahan si pria sial itu!" Sungutnya.

Kyuhyun?

Uh, Eunhyuk menepuk jidatnya setelah sadar bahwa tidak seharusnya panggilan itu ia putus secara sepihak. Seharusnya ia bisa saja melakukan sesuatu, lewat kekasihnya demi memperbaiki atau setidaknya memperjelas sesuatu yang terjadi di pernikahan sahabatnya. Namu terlambat, tidak mungkin jika tiba-tiba ia langsung menelpon Donghae sekarang jika ia tidak ingin Donghae menggodanya.

Sementara itu, setelah mendengar nama Kyuhyun yang kembali disebut terlebih kali ini membawa-bawa Donghae, dahi Sungmin mengerut heran. Beberapa detik setelahnya ia baru sadar jika sejak terakhir ia bertemu dengan suaminya, ia sama sekali tidak member kabar padanya. Terlebih sekarang Sungmin tidak tahu di mana terkakhir kali ia meletakkan ponselnya.


.

-oo0oo-

.


Hebat. Kyuhyun belum pernah semahir ini dalam menyetir mobil. Kantor—Apartemen Ryeowook selama sepuluh menit, terlebih sebelumnya ia tidak pernah tahu bahwa bangunan yang ditinggali Ryeowook itu berdiri di tanah ibu kota Korea Selatan. Apalagi lantai dan nomor kamarnya, sudah jelas Kyuhyun sama sekali tidak pernah tahu sebelumnya. Ia setidaknya patut berterimakasih pada kecanggihan teknologi masa kini serta jaringan informasi Donghae yang luas. Mungkin bulan depan sebaiknya ia menaikkan gaji Donghae sebagai bayaran atas hari ini.

Sementara itu sosok mungil dengan balutan jaket kebesaran itu tengah menatap bingung pria yang kini sedang tersengal-sengal di ambang pintu kamar apartemen Ryeowook. Sungmin pikir, gedoran kasar beberapa saat yang lalu adalah ulah Donghae. Ia sama sekali tidak mengira jika Kyuhyun benar-benar datang langsung menjemputnya, di tempat yang pria itu tidak pernah tahu apalagi kenal sebelumnya.

"Kau … datang?" lirihnya pelan. Kemeja pria itu basah kuyup, bisa jadi ia tidak menggunakan lift melainkan tangga darurat.

Kyuhyun hanya mampu menangguk lalu sejurus kemudian menggenggam tangan istrinya, tak kuat namun tak juga lemah. Napasnya masih satu dua, makanya ia hanya bisa menggunakan bahasa tubuh. Berharap si mungil di depannya cukup pintar untuk mengerti ajakan pulang darinya.

"Tidak. Tidak sekarang. Maksudku, setidaknya biarkan aku di sini beberapa hari lagi. Ryeowook sendirian, ia hanya punya aku dan Eunhyuk" Sungmin melepas pelan genggaman tangan Kyuhyun meskipun pandangannya masih terkunci pada lantai marmer di bawahnya.

"A-aku …"

Hening beberapa saat. Sungmin menaikkan alisnya, menunggu. Namun tak satupun kata kembali keluar dari bibir suaminya. "Kau apa?" pancingnya.

Kyuhyun menghela napas panjang sambil memejamkan mata, "A-ku… juga sendirian, Sungmin-ah" lanjutnya pelan.

Sungmin mendengus jengah. Omong kosong! Kyuhyun sama sekali tidak sendirian. Ia jelas-jelas tengah sibuk ditemani dengan bayangan masa lalunya dengan Kibum. Sialan, mengingat nama Kibum memuat emosi Sungmin kembali tersulut. Namun ia buru-buru mengendalikannya, tak ingin memperkeruh keadaan dengan pertengkarannya dengan Kyuhyun di rumah orang.

"Kau sebaiknya pulang" ucapnya final. Baginya, kedatangan Kyuhyun sama sekali tidak bisa memperbaiki keadaan malah menambah keruh suasana.

Terlebih dengan pria di depannya yang memasang tampang bodoh juga memelas. Tetap tak beranjak barang sesentipun padahal keputusannya untuk mengusir Kyuhyun adalah telak, final.

"Aku tahu ada yang salah dengan kita. Untuk itu biarkan aku menemani Ryeowook sambil berpikir. Kau pulanglah"

Dan akhirnya kalimat itulah yang mampu membuat Kyuhyun beranjak pergi walaupun enggan. Kalimat yang sudah ia tunggu sejak kehadiran Kibum di kehidupan mereka berdua. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu Sungmin sambil berpikir tentang mereka berdua, Kyuhyun sadar itu sekarang.


.

-oo0oo-

.


"Angh…"

Tubuh polos Kibum yang terlihat mengkilat oleh keringat itu tersentak ke atas. Seseorang di belakangnya masih bersemangat untuk mengeluarmasukkan benda kebanggaannya dengan ganas sementara tangan kirinya mengankat paha kiri kekasihnya dan tangan kanan yang aktif memelintir puting kemerahan milik Kibum.

"Hhh… Masih belum menyerah, huh?" suara berat dan seksi itu menyapa telinga Kibum. Sejujurnya ia bergidik ngeri, namun hentakan nikmat di lubangnya berhasil menutupi tubuhnya yang gemetar dari suara berat kekasihnya.

"H-henti…Ah! Hentikan! Angh! Angh!"

Sialan, Siwon benar-benar tak memberinya kesempatan sedetikpun untuk bicara dengan jelas tanpa terputus-putus oleh rintihan nikmat akibat titik manisnya ditusuk berkali-kali oleh sesuatu yang gemuk dan panjang juga keras di bawah sana.

"Berhenti? Yang benar saja, Kim" sahut Siwon dengan jelas meskipun napasnya agak tersengal. Ingat, ia tengah berusaha memuaskan mereka berdua di bawah sana.

Benar-benar Choi sialan. Tidak seorangpun laki-laki berani menyentuh Kibum barang seujung kuku pun. Hanya Choi Siwon lah, salah satu member boyband ternama seantero Korea, yang berani memperlakukannya seperti ini. Dibuat tak berdaya di bawahnya dan hanya bisa mengerang pasrah menerima sentakan nikmat bertubi-tubi di lubangnya.

Tidak puas hanya mengerjai lubang dan puting, Siwon mengangkat tubuh atletis miliknya dengan penis sekeras kayu yang masih menancap mantap di lubang kekasihnya, membuat tubuhnya dan kibum kini saling berhadapan serta bibir yang turut bersentuhan walaupun bibirnya masih belum melakukan apa-apa terhadap bibir merah yang membengkak di bawahnya.

"Katakan, Kibum. Katakan kau menerimanya"

Helaan napas panas kekasihnya Kibum rasakan di sekitar wajahnya. Ia tak mampu menjawab. Jelas saja, tubuhnya dikerjai habis-habisan tanpa jeda lima menitpun selama hampir satu jam. Sejak awal ia sadar bahwa inilah resiko menjalin hubungan dengan seorang pemaksa mesum seperti Siwon. Bahkan perkara pernikahan saja, orang ini tega melakukan cara kotor seperti ini untuk mendapatkan apa yang dia mau.

"Mmph" bibirnya yang sudah membengkak parah itu dilahap habis oleh bibir joker kekasihnya.

Dari gerakannya, tidak salah lagi bahwa laki-laki tampan bak pangeran itu sudah amat lihai dalam ciuman. Yang artinya jelas bukan sekali dua kali ia berciuman. Ah jelas saja, ia juga dikenal sebagai aktor drama romantis yang di dalamnya bisa ada lebih dari lima adegan ciuman panas dengan lawan mainnya. Duh, mengingat hal ini membuat hati Kibum bagai diiris sembilu. Gerakan bibirnya melemah sementara satu dua aliran hangat mulai keluar dari ujung-ujung matanya.

Kibum bahkan tidak sadar jika kekasihnya telah melepaskan bibirnya dan menatapnya penuh tanda tanya. Jelas saja, padahal beberapa menit lalu merintih nikmat di bawahnya sambil menyebut-nyebut namanya dengan wajah minta digagahi lalu tiba-tiba menangis pilu seperti korban pemerkosaan.

"Sshh… Maafkan aku, sayang" lirihnya mencoba menenangkan padahal sendirinya dia juga bingung apa yang membuatnya meminta maaf pada sosok cantik di bawahnya yang sama-sama tak berbusana sepertinya.

Jadilah malam itu Siwon gagal mendapatkan dua hal. Pertama ia gagal mendapatkan jawaban atas lamarannya. Ini yang membuat hatinya agak terluka, setelah melakukan cara paling romantis sampai cara paling kotor (memperkosa kekasihnya walaupun pada akhirnya Kibum mengerang minta lebih) sudah dilakukannya, namun nasibnya masih digantung seperti cucian yang tak kunjung kering. Yang kedua ia gagal mendapatkan orgasme bersamaan seperti malam-malam sebelumnya. Kali ini ia orgasme sendirian, walaupun ia masih mengeluarkannya di dalam lubang kekasihnya yang tengah tertidur kelelahan setelah berusaha menggapai kenikmatannya sendirian tanpa ditemani desahan kekasihnya.

Sekedar informasi, Siwon pantang menyia-nyiakan benihnya, apalagi untuk sekedar onani di kamar mandi. Semua benihnya harus keluar di tempat yang tepat, lubang kekasihnya. Hitung-hitung sebagai latihan agar setelah mereka menikah nanti Kibum lekas hamil. Meskipun hingga sekarang laki-laki manis itu masih enggan bahkan menolak melakukan pencangkokan rahim.


.

-oo0oo-

.


Tidak ada yang tahu bagaimana ceritanya hingga kedua manusia itu kini saling duduk bersisian di depan sebuah minimarket tak jauh dari apartemen Ryeowook. Setengah jam berlalu namun tak satupun diantara mereka berani untuk membuka percakapan sekalipun cup mi instan yang dipegang keduanya sudah tidak sehangat lima belas menit lalu.

Kyuhyun berkali-kali menghela napas lelah sambil sesekali mencuri pandang bagian samping wajah istrinya yang baru ia sadari memucat. Ia juga menangkap pandangan sendu istrinya yang sejak tadi terkunci pada jalanan sepi yang diguyur tetesan air hujan yang tak juga reda. Kyuhyun tergugu, ia bahkan seperti mati rasa walapun sudah sejak tadi kaki dan tangannya membeku.

"Kemajuan."

Sontak, kepalanya menoleh ke samping. Ke arah istrinya yang baru saja bersuara pelan. Setelah setengah jam lebih sia-sia, terkikis oleh keheningan keduanya dan rintik hujan akhirnya laki-laki manis itu membuka suaranya.

Sungmin menolehkan pandangannya, memandang Kyuhyun yang juga sedang menatapnya tak mengerti. "Ya, kemajuan. Cara bicaramu sudah tidak patah-patah seperti dulu. Dan itu bagus, kau berhasil."

Kyuhyun bersumpah bahwa sekarang ia seperti berada di dalam mimpi, melihat Sungmin menatapnya terlebih tersenyum lembut untuknya. Setelah berbulan-bulan, ah… atau tahun? Entahlah, keduanya sama-sama tidak ingat kapan mereka mengucap janji suci hidup bersama di gereja. Yang jelas ini pertamakalinya Kyuhyun mendapati istrinya tersenyum lembut dan tulus untuknya, meskipun terlihat lemah. Walaupun setelahnya suasana kembali hening dan gemericik ribut tetesan hujan mengambil alih segalanya.

"Perceraian itu… kau tak serius, kan?"

Inilah yang sejak beberapa hari ini mengganggu pikiran Kyuhyun. Bukan hal yang mudah untuk bisa duduk di posisi sebagai suami dari seorang Lee Sungmin. Perlu usaha, pengorbanan, dan juga keberuntungan tak ternilai yang jelas bisa jadi hanya datang sekali seumur hidupnya.

Sementara bagi Sungmin, masalah ini sudah lama berlalu. Kyuhyun bukankah sudah paham jika ia adalah seorang remaja yang terjebak di tubuh laki-laki dewasa. Tidakkah Kyuhyun mengerti bahwa sebagian besar kata-kata yang keluar dari mulutnya itu lelucon atau emosi sesaat? Entahlah, yang jelas kehadiran Kibum telah mengambil alih semuanya. Mengambil rasa antusiasnya pada StepUp, mungkin juga kesetiaannya, serta mengambil harapan yang baru saja ia ingin tanam pada kehidupan pernikahannya.

"Kalau begitu, kita bercerai saja" lirihnya. Mengundang keterkejutan seseorang yang sejak tadi berharap-harap cemas menunggu jawaban dari pertanyaan yang selama ini menghantuinya.

Kenyataannya, semua keberuntungan juga usaha kerasnya sejauh ini malah terenggut oleh malam gerimis yang menyedihkan.

.

.

TBC

.

.


Long time no see yaa sama ff ini haha

Jujur, sebenernya sih ada niatan discontinued. Kenapa? Komen chap 10 yang jatuh bebas kemarin membuat saya sadar kalo ff ini udah gak layak dilanjutin. Ide sih banyak, cuma cara saya menyampaikan dengan kata-kata kayaknya bikin yang baca enek pingin lempar yang nulis pake sandal haha. Jadi sempat saya berpikir buat,'udahlah, stop aja yang ini' eh setelah setahun lebih dan berubah gelar dari siswa ke mahasiswa *ehh akhirnya terpikir buat nyoba lanjutin dan liat gimana hasilnya.

Akhir kata aku mau minta pendapat para pembaca sekalian, apakah ff ini bisa dilanjut? Apakah sekarang aku udah layak untuk melanjutkan kisah ini? Kasih jawaban lewat review yaa

Walaupun reviewnya cuma 'lanjut/nggak usah' itu lebih baik daripada nggak sama sekali. Aku juga reader betewe, kadang saking bagus atau jeleknya ff yang dibaca aku suka bingung mau review gimana walhasil sr deh muahahaha walaupun sekarang mah udah tobat jadi sr wkwk

Apalagi yang komennya super duper panjang udah gitu sampe capslock jebol saking antusiasnya, duhhh aku sangat menghargai ituuu :3

Dahitu aja cuap-cuapnya, ditunggu responsnya yaa